drise-online.com – Driser, beruntung banget orangtua kita muslim. Kita jadi kecipratan sebagai anak menjadi muslim. Sayangnya, islam warisan yang kita anut sering bikin manja diri untuk mengenal islam lebih dalam. Minimal menemukan jawaban, kenapa saya menjadi muslim. Kalo masih bingung, buku ini pas banget untuk bantu kamu temukan jawabannya. Cekidot!
Salvation bukan buku yang membahas cinta dan romansa. Bukan juga perjuangan seorang aktivis yang terlibat cinta segitiga. Apalagi buku yang mengupas bagaimana mendapatkan istri yang cantik jelita.Buku ini justru mengupas Konsep Keselamatan (salvation).
Konsep keselamatan pada dasarnya adalah konsekuensi logis dari konsep teologi ketuhanan. Semua agama memberikan hak eksklusif kepada pemeluknya. Yakni hak eksklusif atas keselamatan. Seperti Kristen dengan doktrin “tidak ada keselamatan di luar gereja (extra ecclesiam nulla salus)”. Dalam Hindu konsep keselamatan ini dikenal dengan istilah “moksha”, yakni menyatunya ruh dengan Brahma setelah proses reinkarnasi yang berulangkali. Sedangkan di dalam agama Budha dikenal dengan istilah “nirvana”, yakni pencerahan rohani setelah terbebas dari penderitaan.
Semua agama telah menuntut pemeluknya untuk mengakui secara penuh akan keabsolutan doktrinnya. Kenyataan ini tentunya berseberangan dengan apa yang dihembuskan paham pluralisme. Sehingga patutlah bagi seorang muslim hanya mengakui keabsolutan doktrin agamanya semata. Meyakini keyakinan dan keselamatan agama lain sama saja dengan mencemplungkan keimanannya sendiri dalam kenistaan. Sebab perkara keselamatan adalah perkara iman dan kufur. Bahasan inilah yang dikupas dalam bagian pertama buku ini.
Begitulah konsep keimanan yang dipahami oleh generasi pertama umat ini. Sehingga kita menyaksikan dalam catatan sejarah Islam mampu berdiri kokoh sebagai agama yang mapan. Dengan itu pula muslimin mampu membangun peradaban yang berwibawa. Celakanya, perjalanan panjang filsafat barat pada abad pertengahan telah melahirkan satu bentuk ideologi yang menghantam ideologi muslimin, yakni Sekularisme.
“Tuhan telah mati”, kata Nietzsche. Dan kata itu pula yang diamini oleh sebagian muslimin. Sehingga mereka lebih gemar mengikuti kata-kata manusia ketimbang firman Tuhan. Dan terjadilah proses sekularisasi yang menghantam ajaran-ajaran Islam yang telah mapan. Tak hanya itu, sekularisasi juga menghilangkan wibawa agama dari politik. Alhasil, agama tak bersisa sedikit pun kecuali di masjid-masjid dan rumah. Kalau urusan negara? Tentu saja mereka lebih suka pakai konsep trias politikanya Montesquieu. Dan pembahasan ini diurai secara rinci dalam bagian ketiga dari buku ini.
So, buku ini lebih merinci lagi terkait apa itu Islam. Sekali lagi Penulis meracik dengan sedemikian rupa agar buku ini bisa menarik untuk dibaca dengan bahasa yang lebih segar dalam mengartikan keimanan dan kekufuran itu sendiri. Pastikan kamu cicipi hidangan inspirasi dari buku ini biar keimanan kamu tambah josh!
Judul : Salvation
Penulis : Kusnady Ar Razi
Penerbit : KUTLAH – media –
ISBN : 978-602-19276-9-4
Hlm : x + 190 ; 12 x 17,5
Genre : pemikiran
Harga : Rp. 30.000,-
di muat di Majalah Remaja Islam Edisi #39