Majalah Remaja Islam Drise

KABAR DARI LUAR : BERPUASA DI HAKODATE, JEPANG 2

majalahdrise.com – Hari-hari berlalu, setiap malam,  hanya bisa menikmati tarawih bersama  suami dan anak-anak saja. Bertadaruspun  kadang hanya dengan anak-anak. Sebab  suami yang sedang menjalani studi s3nya,  hampir tak punya jam kerja tetap. Kadang  hingga larut malam atau menjelang sahur,  suami baru tiba di rumah, karena harus  berjibaku dengan olahan data dan tugas-tugas yang tak berhenti mengalir.  Terasa sepi memang.

Apalagi tak  terdengar suara adzan, kecuali dari mp3 dan  Hp saja. Tapi tetap disyukuri, setidaknya,  ibadah ini masih tetap bisa dijalani dengan  sempurna dan aman. Di belahan bumi yang  lain, saudara-saudara muslim lainnya  mungkin harus bertarawih di bawah guyuran  roket dan bom. Summer di hakodate juga lekat dengan  event Hanabi atau pesta kembang api.  Momen ini memang menjadi perayaan yang  banyak dinantikan warga Hakodate.

Saya  sendiri yang seumur-umur belum pernah  menyaksikan pesta kembang api, kecuali  kembang api mainan anak saya, secara langsung, tak melewatkan kesempatan itu  untuk turut menyaksikan bersama keluarga  dan teman-teman Indonesia lainnya.  Di Hakodate, ada satu lokasi yang  dijadikan tempat perhelatan event ini, yaitu  Hakodate Bay (hakodate port).

Dan serunya  Hanabi saat itu bertepatan dengan bulan  puasa. Lokasi Hanabi cukup jauh dari tempat  tinggal kami, sehingga untuk menuju ke sana  kami harus menggunakan sepeda sebagai  transportasi mewah bagi para mahasiswa di  sini. Dengan membonceng satu orang anak,  masing-masing kami mengayuh sepeda  menyeberangi jembatan yang menanjak  dalam kondisi perut kosong. Wah, sebuah  perjuangan yang melelahkan tapi seru.

Saat  salah satu dari kami berhenti kelelahan,  anak-anak akan berteriak ‘ganbatte,  ganbatte!’ hahahaha. Tapi senangnya,  akhirnya event itu tetap bisa kami nikmati  sambil menyantap menu berbuka, kami  ditemani siraman bunga api yang indah dan  angin sepoi-sepoi. Pengalaman yang tak  terlupakan! Mengajarkan berpuasa untuk anak-anak saat itupun bukan perkara  mudah.

Anak-anak masih aktif  bersekolah, dan perjalanan  menuju sekolah yang harus  ditempuh dengan berjalan kaki  serta cukup jauh, membuat saya  ketar-ketir kalau mereka akan  terkena dehidrasi. Apalagi saat  udara sangat panas. Perlengkapan  perang yang harus mereka  bawapun sangatbanyak.  Randoseru (tas sekolah) yang  lumayan berat, ditambah tas  bentou dan suitou (botol minum), membuat saya kadang khawatir.  Karenanya saya belum berani mematok  target puasa penuh buat mereka. Baru  sebatas latihan puasa (puasa setengah hari).  Saatkyuushoku (makan siang) di sekolah,  mereka berbuka dan melanjutkan puasanya  kembali sampai maghrib.

Tentu saja,  adakalanya anak-anak tergoda untuk  berbuka  kembali saat pulang sekolah  sebelum maghrib menjelang. Hauslah,  panaslah, laparlah, terutama saat waktu  makan oyatsu (camilan) setiap jam 3 sore  yang dulu di luar bulan puasa rutin mereka  tagih.  Kadang saya tak sampai hati mencegah  mereka berbuka, hingga sesekali saya iyakan  saja kalau mereka merengek meminta  camilan sebelum waktu berbuka tiba.

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49