Majalahdrise.com – Salah satu hal yang ane syukuri pada hari Idul Adha kemarin adalah bertepatan dengan tanggal merah (sabtu & minggu), sehingga ane sebagai pekerja magang di negeri samurai ini bisa melaksanakan shalat sunnah berjama’ah bersama kaum muslimin lainnya.Alhamdulillah. Soalnya kalau hari kerja, kemungkinan besar sih nggak akan diizinkan oleh perusahaan tempat kita bekerja.
Tapi selain dari itu, ane sebagai orang Islam yang tinggal di Jepang sini cukup bersyukur, sebab untuk masalah ibadah kami aman-aman saja. Jepang memang memberi kebebasan kami untuk beribadah. Hanya saja memang agak ribet dari segi fasilitas, seperti tempat wudhu yang sulit ditemui selain di masjid, yang itupun jumlahnya terbatas, nggak seperti di Indonesia, yang di setiap gang ada masjidnya. Kalau ane terpaksa harus wudhu di tempat umum, ane tunggu dulu sampai sepi nggak ada orang, terus ngumpet-ngumpet wudhu di tempat cuci muka (n_n;). Atau kalau ane lagi sama temen, kami gantian jaga kalau-kalau ada orang Jepang yang masuk. Kan bisa dibayangin kalau ada orang Jepang liat kita naikin kaki ke wastafel, pasti si orang jepangnyaakan keheranan sambil bilang “orang yang aneh…”.
Satu lagi yang ribet, yaitu masalah makanan. Di sini makanan halal susaah banget. Kalau beli makanan di sini harus diteliti benar komposisinya. Makanya biar aman ane sering beli makanan halal secara online. Biar ga repot ane beli sekaligus untuk sebulan, dan dimasak sendiri. Makan di luar cuma sesekali saja.
Tokoro de (by the way bus way), ane tinggal di Kumamoto, di daerah perkampungan yang ada perkebunan di sekitarnya. Agak lumayan jauh juga dari tempat tinggal ke perumahan. Tetangga pun nggak ada. Tapi ada seorang pak tua tukang kebun, yang kalau lagi panen jeruk dia suka datang ke rumah bawa jeruk sampe sekardus besar. Kalau hari libur ane biasa kerja tambahan di tempatnya. Dia tinggal dengan neneknya, seekor anjing dan seekor kucing. Walaupun sudah agak berumur tapi dia nggak punya istri, apalagi anak.
Umumnya orang Jepang ramah, tapi gak sedikit juga sih yang cuek bebek. Tapi yang bikin ane salut tuh di sini orang-orangnya disiplin, dan sadar akan lingkungan. Semua tempat di negeri ini bersih,nggak ada sampah berserakan di jalan. Mereka juga biasa memisah sampah yang bisa didaur ulang dan yang nggak, di rumah-rumah mereka sendiri. Selain itu mereka juga taat dengan hukum, jarang terjadi pencurian. Mungkin karena secara materi mereka sudah sejahtera kali ya.
Nilai minusnya, orang Jepang nggak mau punya banyak anak. Makanya disini orang tua lebih banyak dari anak mudanya. Kalo kerja suka marah-marah. Mereka gila kerja, seolah-olah uang dan kekayaan itu segala-galanya. Pergaulan disini juga bebas banget. Majalah porno dijual bebas, bahkan di rumah sakit juga ada, buat bacaan pasiennya. Paraahh..
Mayoritas dari mereka juga nggak beragama dan nggak peduli dengan aga
Jum’at sore sepulang kerja ane bareng teman-teman dari Indonesia berangkat menuju Masjid Kumamoto karena kami berencana untuk menginap di sana. Perjalanan dari tempat kami ke masjid lamanya sekitar 1 jam, naik kereta yang dilanjut dengan bis. Selain kami ada sekitar 30 orang lain yang menginap di masjid yang juga berfungsi sebagai Islamic Center ini.
Seperti biasa, sejak malam hari dan pagi-pagi sebelum shalat dimulai kami mengumandangkan takbir, bersama dengan sekitar 200 jama’ah lainnya. Penyumbang jumlah jamaah terbanyak adalah kami dari Indonesia, kemudian ada juga orang Pakistan, Bangladesh, Mesir, Malaysia, dan beberapa orang pribumi. Diimami oleh saudara kita dari Pakistan, kami melaksanakan shalat sunnah, dilanjut dengan makan-makan. Polisi yang berjaga-jaga pun nggak ketinggalan dijamu untuk ikut menyantap hidangan. Berbeda dengan di tanah air yang biasanya ada acara potong hewan kurban, kami nggak bisa melaksanakan sunnah tersebut karena nggak boleh motong hewan di lapangan.
Walaupun perayaan Lebaran di sini sangat sederhana, tapi buat ane pribadi Idul Adha kemarin sangat berkesan. Mungkin karena kami di sini benar-benar minoritas di negeri yang asing ini, ketika kami bisa berkumpul dan bersilaturahim, rasa persaudaraan dengan yang seiman pun benar-benar terasa lebih kuat.
Alhamdulillah, sekarang ini Jepang mulai membuka diri terhadap Islam dan orang Muslim. Hampir di setiap kota sudah ada masjid dan halal food. Mereka juga cukup respect terhadap orang Islam, bahkan mereka juga mengadakan demonstrasi terkait masalah Palestina dan Syria. Mudah-mudahan keterbukaan itu makin mengundang ketertarikan orang asli Jepang terhadap Islam, sehingga ke depannya bisa lebih banyak lagi orang Jepang asli yang memeluk Islam. []
thanks to
[Rahmat Al Fatih dari Kumamoto, Jepang]
dimuat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41