Majalahdrise.com – Hal tersebut jelas bertentangan dengan akidah islam dan masuk ke dalam perkara syirik. Kuil ini begitu ramai. Lihatlah banyak orang berkumpul mulai dari anak-anak hingga orangtua. Ah, ternyata ditengah kesibukan orang Jepang mereka masih tetap menyempatkan diri untuk beribadah.
“Ah ya, beruntung sekali kita pergi ke kuil hari ini” ucap Terumi
“Ya, aku baru ingat hari ini adalah hari upacara setsubun…” tambah Miko
“Pantas saja ramai, apa itu upacara setsubun…?” tanyaku pada keduanya. “Ayo, upacara akan segera dimulai.” Miko menarikku ikut membaur ke tengah kerumunan. Di atas kuil ada seorang laki-laki menggunakan topeng bergambar aneh dengan 2 tanduk di kepalanya. Kalau aku boleh menebak mungkin itu adalah gambar setan. Entahlah. Ku lihat di sekelilingku ramai orang membawa kacang-kacangan seperti kacang kedelai. Terumi yang tadi sempat menghilang kini telah kembali, dan ia juga membawa kacang yang sama. “Ambil ini …. “ ujarnya sambil memamerkan kacang ditelapak tangannya.
Miko dengan cepat mengambilnya. Aku menggeleng “ Aku tidak menyukainya…” ujarku pada Terumi. “No, ini untuk melempar oni Rara chan” jawab Terumi sambil tersenyum “Oni..?” tanyaku bingung. “ Ya, pria bertopeng itu” ujarnya sambil menunjuk ke atas kuil. Aku semakin bingung. “Duh, apaan lagi nih..?” “Setsubun merupakan upacara yang untuk memperingati pergantian musim, seperti hari ini, pergantiaan antara musim dingin dan musim semi. Nah acara ini bertujuan untuk mengusir arwah jahat dan membawa kebaikan di musim yang baru.” Jelas Terumi. Orang-orang sibuk melempar kacang sambil membaca mantra “Oni wa soto, fuku wa uchi” (Oni ke luar, keberuntungan ke dalam) Aku menggeleng dengan tegas “ Maaf aku tidak bisa…” “Kenapa?” tanya Miko “Orang hindu, shinto juga sering mengikuti perayaan ini. Angeline yang beragama kristen pun dulu pernah ikut setsubun sekedar untuk senang-senang saja” “Berbeda dengan mereka aku seorang muslim dan agama kami tak meyakini sesembahan atau ritual seperti itu” jawabku menjelaskan. Mungkin ini salahku karena tidak dari awal memproklamirkan diri sebagai seorang muslim. “Aku tahu orang muslim tak merayakan setsubun, sepupuku yang seorang muslim pernah mengatakan hal yang sama. Ia bahkan tidak pernah lagi berkunjung ke kuil setelah memeluk islam. Gomenna Rara-chan aku tidak tahu kau seorang muslim karena kau berbeda dari mereka yang biasanya menggunakan kain penutup kepala” Ujar Miko. Aku terdiam. Kata-kata itu lebih dari cukup untuk menikamku. Miko buru-buru melanjutkan kalimatnya. “Tapi itu bukan berarti aku meragukan agamamu Rara-chan, gomenna…” Ia membungkukkan badan ketika mengucapkan frase yang terakhir itu
. ***
Miko mengetuk pintu apartemen. Aku terkejut melihat siapa yang keluar. Sesosok lelaki Jepang, dengan lesung pipi yang menawan, tapi bukan itu yang membuatku terkesima. Dia sungguh berbeda dengan lelaki Jepang kebanyakan. Ia memakai baju koko berwarna putih lengkap dengan kopiah hitam dikepalanya, khas sekali menandakan bahwa ia seorang muslim. “Mari masuk…” ujarnya ramah “ Yuka-neechan kemana? “ tanya Miko padanya. “ Sepertinya ia sedang belajar agama bersama teman-temannya, sebentar lagi juga biasanya sudah pulang “ “Ini Rara-chan temanku dari Indonesia, ia juga seorang muslim sama seperti kalian. Ia ingin berkenalan dengan Yuka dan muslim lainnya di Jepang. “ Aku menjulurkan tangan ingin bersalaman dengannya, ia hanya membalas dengan 2 tangan yang dirapatkan dan diletakkan di depan dada. Aku canggung dan salah tingkah jadinya. Ia seorang muslim yang sangat taat tentunya sehingga tidak ingin bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Ia juga duduk bersebrangan dengan kami. “Nama Jepangku Ryu, setelah masuk islam aku memutuskan untuk berganti nama menjadi Thariq. Aku lebih senang dengan nama itu, kau tentu mengenal nama itu bukan..? “ tanyanya. “ Zahra, tentu ia seorang panglima tangguh yang menaklukkan Andalusia di usia 23 tahun. Sungguh prestasi yang luarbiasa. ” “Assalamu’alaikum..” ucap seorang wanita yang baru masuk itu.
Ia sungguh anggun dengan gamis birunya bermotif bunga sakura, ditambah balutan kain kerudung yang menutupi rambut hingga dadanya. Ah, aku kalah telak dari mereka. Meski baru mengenal islam tapi mereka begitu taat, sedangkan aku terlahir sebagai seorang muslim dengan orangtua muslim dan tinggal di negara muslim tapi justru jauh dari islam itu sendiri. Miko pamit pulang karena ada janji dengan senpai. Thariq juga pamit ke kamar, meninggalkan aku dan Hanifah. Aku berbincang banyak hal dengannya. Aku begitu tertarik dengan cerita dan pengetahuan keislamannya.
Ia benar-benar seorang muslimah yang taat dan lurus, persis seperti namanya. Ia juga mengajakku untuk bergabung dengan komunitas muslimah Jepang untuk mendalami islam dan menjalin silaturrahmi. 4 April 2015 di Musim Semi yang hangat.. Awal april adalah momen yang tepat untuk melihat bunga sakura yang mekar (orang jepang biasa menyebutnya sebagai tradisi Hanami). Kami berkumpul di bawah salah satu pohon sakura yang rindang. Menikmati keindahan mankai (bunga sakura telah bermekaran seluruhnya) sambil berbincang-bincang mengenai islam dan menikmati makanan . Aku bersyukur, bukan hanya karena akhirnya aku bisa menikmati Hanami dan menikmati hangatnya musim semi seperti impianku sejak dulu. Kehangatan yang sesungguhnya yakni berkumpul denga saudari-saudari seiman-ku.
Perasaanku serasa sesak dengan sakura yang bermekaran. Bahkan apa yang ku rasakan ini lebih indah dari mankai sekalipun. Perasaan bersyukur karena hari ini akhirnya ku putuskan untuk berhijab. Sebuah keharusan yang harusnya telah aku tunaikan sejak dulu. Aku mendapat banyak pencerahan dari Hanifah. Ia mengajarkanku apa makna sebenarnya dari kehidupan, yakni untuk senantiasa beribadah kepada Allah, menjadikan segala aktivitas kita bernilai ibadah dengan meniatkan semuanya karena Allah dan menjalankan seluruh aktivitas kita berdasarkan pedoman Al-Qur’an dan sunnah, termasuk dalam hal berpakaian yakni dengan menutup aurat secara sempurna atau berhijab.
Menggunakan jilbab (gamis) sebagaimana perintah Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan mengenakan kerudung hingga menutupi dada sebagaimana dalam surat An-Nur ayat 31. Awalnya aku berdalih dengan alasan belum siap dan belum mendapat hidayah, sambil tersenyum ia menjelaskan “Banyak dari kita yang hanya mengharapkan hidayah tauqify, padahal ada hidayah yang lebih besar dan lebih dekat denga kita yakni hidayah khalqiyah dan hidayah irsyad wal bayan. “
“Hidayah tauqify yakni hidayah yang Allah turunkan dengan dibukakannya pintu hati kita sehingga tertunjuki pada sebuah kebenaran, tidak semua orang mendapat hidayah jenis ini. Sedangkan hidayah khalqiyah atau hidayah penciptaan yang Allah berikan kepada seluruh insan berupa akal yang dengannya kita dapat berpikir untuk mencari kebenaran. Adapun hidayah irsyad wal bayan yakni berupa Al-Qur’an dan Sunnah yang berisi nasihat dan penjelasan tentang seluruh dimensi kehidupan kita. Nah, masihkah ada alasan untuk kita menolak syari’at Allah sedangkan Allah telah menghadiahkan hidayah tersebut kepada kita? Dan sebagai mahluk yang diciptakan-Nya bukankah sudah sepantasnya kita bertaqwa kepadanya dengan senantiasa beribadah kepada-Nya dan menjalankn seluruh perintah-Nya.”
Aku tersenyum mengenang kalimat hikmahnya itu. Sejak itu aku memutuskan untuk segera berhijab dan berusaha melaksanakan islam secara kaffah. Bagiku hijab adalah sebuah kewajiban sekaligus identitasku sebagai seorang muslim ditengah ras kulit putih ini. Ah, sungguh hanami tahun ini begitu indah rasanya. []
di muat di majalah remaja islam drise eddisi 51