Majalahdrise.com – Persis tepat. Orang Jepang tidak menerima alasan untuk keterlambatan apalagi dengan dalih bahwa jam kita lebih lambat, karena pengaturan waktu di Jepang sama persis untuk seluruh wilayahnya. Di Tokyo Nodai, aku mendapat teman-teman yang juga sangat baik, baik sesama mahasiswa asing maupun mahasiswa asli Jepang. Mereka cukup ramah dan sangat toleransi dengan perbedaan. Mereka juga mengajariku bahasa Jepang dan menceritakan banyak hal tentang Jepang mulai dari budaya, makanan khas dan sebagainya.
Di akhir pekan yang tidak sibuk, mereka dengan senang hati mengajakku berlibur, mulai dari menikmati sushi dan mie ramen di pinggiran kota sampai pergi ke tempat wisata seperti Tokyo Tower, Tokyo Imperial Palace dan lainnya. Minggu ini Terumi juga berencana mengajakku ke kuil Sensoji, kuil tertua di Tokyo. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan ajakannya. “Kuil…?” tanyaku memastikan.
“Ya, jangan kira kuil hanya bangunan sejarah atau tempat ibadah saja, di sensoji selain bangunan kuilnya yang tua, disana ada banyak tempat menarik lho Rara-chan. Disana ada Ojoin (perpustakaan dan ruang sekolah), dan taman yang indah. Sebelum masuk Kannondo Hall kita juga bisa berkunjung ke Nakamise Douri (Nakamise Shopping Street) yang terletak di sepanjang Nakamise Street.” Jelas Terumi panjang lebar.
“Ada banyak souvenir dan juga makanan disana, harganya juga murah-murah. Dan yang tak kalah menariknya kita juga bisa meramal keberuntungan kita. Ramalan kuil sensoji terkenal ketepatannya lho…!” Tambah Miko meyakinkan. “Baiklah…” jawabku sambil tersenyum. Tak elok rasanya menolak kebaikan mereka.
Angin menyapa dengan lembut. Senang rasanya musim dingin telah berlalu. Baju dingin sudah tak lagi menjadi kewajiban dan aku bisa kembali dengan style pakaianku yang biasa. Hari ini kami menggunakan pakaian terbuka untuk merayakan terbebasnya dari baju dingin yang tebal dan menyesakkan itu. Aku menggunakan dress berwarna biru dengan sweater putih. Kami masuk melalui Kaminarimon, gerbang megah yang juga menjadi simbol dari Asakusa (nama lain dari Kuil Sensoji). Di bagian tengahnya terdapat lampion besar yang menjadi ciri khas dari kuil ini. Di kanan dan kiri gerbang terdapat dua patung dewa pelindung, yaitu Raijin (Dewa Petir) dan Fujin (Dewa Angin).
Setelah melewati gerbang utama, tibalah kami di Nakamise Douri. Sebuah jalan sepanjang kurang lebih 200-250 meter. Meski tidak terlalu luas, di Nakamise Douri ini terdapat sekitar 100 toko yang menjual berbagai macam barang, mulai dari aksesoris, fashion, snack, souvenir serta oleh-oleh khas Jepang lainnya. Asyik berburu aksesoris dan jajanan kami melanjutkan perjalanan. Kami memasuki Hozomon Gate yang menjadi pintu masuk Kannondo Hall .
Di sebelah kirinya ada pancuran air. Orang-orang yang datang sibuk mencuci mulut dan tangannya dengan air tersebut. “Ayo kesana…” ajak Miko. “Untuk apa..? apa kita juga harus mencuci mulut dan tangan seperti mereka..? tanyaku. “ Ya, untuk membersihkan diri.” Jawabnya. Aku hanya mengekor, melakukan apa yang mereka lakukan. Hal aneh lainnya yakni banyak orang yang berebut asap dari sebuah dupa besar. Entah untuk apa. Ditambah bau kemenyan yang menyengat. Aku sungguh tidak menyukainya. “Kemarin kamu bilang sering sakit kepala kan?” Tanya Terumi. Aku hanya mengangguk. “Mari kesana, ia menunjuk dupa besar yang mengeluarkan asap itu.”
“Apa hubungannya..?” tanyaku heran. “ Kami meyakini asap dari dupa itu dapat menyembuhkan apapun dan memberikan kesehatan, makanya orang-orang yang berkunjung ke kuil ini mengusap seluruh badannya dengan asap dari dupa itu. Aku menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak tertarik, sama sekali tidak logis, bukan?” tanyaku. Alasan yang lebih besar dari semua itu adalah menyangkut keyakinanku sebagai seorang muslim. bersambung….
di muat di majalah remaja islam drise edisi 51