Majalah Remaja Islam Drise

Elizabeth Menjadi Seperti Apa Yang Dikenal Dunia Saat Ini

Majalahdrise.com – Seekor kuda diikat kemudian perutnya dibelah, terbayanglah bagaimana darah yang mengalir deras dan kuda yang meringkik dan meronta kesakitan. Dalam keadaan seperti itu, orang Gipsi yang jadi tersangka ini dijejalkan ke dalam perut kuda yang terbelah tadi, kemudian dijahit kembali. Dia meronta-ronta di dalam tubuh kuda itu, begitu juga kudanya. Orang-orang menonton pertunjukan mengerikan itu dan pertunjukan baru berhenti ketika orang Gipsi dan kuda yang malang itu sudah tidak bergerak lagi. Pengalaman ini mungkin saja membentuk Elizabeth menjadi seperti apa yang dikenal dunia saat ini tentang dirinya.

Ferenc juga adalah seorang lelaki yang sadis, walaupun tetap saja kesadisannya dikalahkan oleh kesadisan istrinya. Dia memiliki sifat tempramental yang kalau tersulut akan membuatnya memukul dan mencambuk secara membabibuta. Karena itulah dia dikenal sebagai “Kesatria Hitam Dari Hungaria”. Ibunya sendiri mengatakan bahwa dia memang “agak bodoh”, tetapi dunia lelaki saat itu adalah dunia kekerasan dan peperangan. Reputasi seorang bangsawan lelaki dibentuk di medan perang, bukan di bangku-bangku sekolah. Membaca, menulis, dan belajar, identik dengan perempuan atau pendeta. Terlebih lagi ketika serangan-serangan pasukan Turki Utsmani seringkali menghantam wilayah Hungaria dan Polandia, sang Kesatria Hitam menjadi amat dibutuhkan di medan perang dan menjadi amat jarang pulang (seperti “bang Toyib”).

Di tengah-tengah kerajaan Eropa abad 16 berkembang perilaku menikah dengan anggota keluarga dekat (pada beberapa kerajaan bahkan mengarah pada incest). Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian darah bangsawan mereka sekaligus untuk menjaga kendali kekuasaan. Hal ini juga dilakukan oleh orangtua Elizabeth, George Báthory dan Anna Báthory, yang sama-sama dari keluarga Báthory. Model perkawinan seperti ini sebenarnya amatlah bermasalah, karena akan menghasilkan keturunan-keturunan yang buruk, baik secara mental maupun fisik. Banyak yang menderita schizophrenia, sadomasokisme, seksualitas ganda, dan sifat sadis murni seperti yang diwarisi Elizabeth.

Elizabeth sendiri menunjukkan gejala-gejala yang mencemaskan. Pada usia empat atau lima tahun dia mengalami kejang-kejang epileptik, pada perkembangan selanjutnya kejang-kejang ini menjadi kemarahan-kemarahan yang tidak tertahankan. Elizabeth pun memiliki ketidakstabilan mental, sekali waktu dia akan bersikap dingin dan menjauh, pada kali lain dia akan bersikap meledak-ledak dan kejam.

Sebagai putri seorang bangsawan besar tentu saja Elizabeth amat dimanja. Dia akan mendapatkan segala hal yang dia mau, dan dia akan melakukan apa pun yang dikehendakinya. Segala pendidikan kedisiplinan tidak diterapkan kepadanya. Dia tumbuh menjadi wanita yang angkuh dan sombong, amat mengagumi dan terobsesi dengan kecantikannya sendiri. Kita bisa bayangkan betapa menyebalkannya jika berada di dekat perempuan seperti ini.

Seperti yang telah disebut di atas, suami Elizabeth jarang sekali berada di rumah untuk waktu yang lama. Kekosongan ini jadi semakin parah ketika diisi oleh orang-orang yang keji. Elizabeth tinggal di kastil Cachtice yang terletak tinggi di Pegunungan Carpathia, sebelah barat laut Hungaria, dan ditemani oleh Klara, bibinya yang masokis dan kejam, juga ahli mencambuk. Ada juga pelayannya yang bernama Thorko, yang memperkenalkan ilmu gaib dan ilmu meracik berbagai racun dan ramuan. Pengaruh teman memang sangat luar biasa, dan lengkaplah sudah

bersambung…….