Majalah Remaja Islam Drise

Dongkrak Semangat Belajarmu!

Majalahdrise.com – Keutamaan menuntut ilmu tak hanya memberikan pahala bagi si empunya. Tapi juga jalan kebaikan yang nggak ada habisnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [HR Bukhari dan Muslim dari Muawwiyah radhiyallahu anhu]

Belajar nggak sekedar datang sekolah, duduk, dengerin guru ngoceh, terus pulang ke rumah. Cuman ngisi absen kehadiran. Sayang banget. Padahal, cuman dengan belajar hidupa kita penuh arti. Hanya dengan belajar, kita punya cara untuk atasi masalah yang menghampiri. Sebaliknya, kalo kita ogah-ogahan belajar baik di sekolah atau dalam keseharian, hidup kita bakal jalan di tempat. Tahu-tahu ajal mendekat, sementara tak banyak bekal yang kita siapkan untuk kehidupan akhirat. Rugi!

Wajar kalo para ulama, begitu ngotot untuk urusan nuntut ilmu. Berikut beberapa kisahnya yang bisa kita petik hikmahnya.

 MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah bercerita : “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya karena mengajari saya. Saya mendengar darinya (guru) hadits atau pelajaran, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis diatasnya. Apabila sudah penuh tulisanya, saya menaruhnya didalam guci/botol besar yang sudah tua.” [Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/98), Ibnu Abdil Baar]

 HAMID AL-ISFIRAYAINI

Salim Ar-Razy Rahimahullah menceritakan bahwa Syaikh Hamid al-Isfirayaini Rahimahullah pada awalnya adalah seorang satpam disebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu ditempat jaganya karena terlalu fakir dan tidak mampu membeli minyak untuk lampunya. Beliau makan dari gaji nya. [Thabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (4/61), As-Subki]

 ABU HATIM AR-RAZI

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah berkata : “Saya tinggal di Bashrah selama delapan bulan pada tahun 241 H. Didalam hati saya ingin tinggal selama setahun (agar bisa berlajar ilmu lagi), tetapi saya kehabisan nafkah. Maka saya menjual pakaian-pakaian saya sedikit demi sedikit, sampai saya betul-betul tidak memiliki nafkah lagi.” [Al-Jarh wa Ta’dil (hal 363), Ibnu Abi Hatim]

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah juga bercerita : “Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan tidak pernah merasakan kuah makanan (karena sibuk untuk belajar sehingga tidak ada waktu untuk memasak makanan yang berkuah). Siang hari kami berkeliling ke para Masyaikh (guru) dan malam hari kami gunakan untuk menulis dan mengoreksi catatan kami. “Ilmu itu tidak akan bisa diraih dengan badan yang santai.” [Al-Jarh wa Ta’dil (1/5), Ibnu Abi Hatim]

 IBNU JARIR ATH-THABARY

Abu Muhammad  Al-Firghani Rahimahullah berkata : “Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah melakukan perjalan (rihlah untuk menuntut ilmu) ketika usianya baru dua belas tahun. Ayahnya mengizinkan nya untuk pergi selama hidupnya, dia (ayahnya) mengirimkan sesuatu sebagai bekal untuk belajar. Ibnu Jarir bercerita : “(Pernah) terjadi keterlambatan (kiriman) nafkah dari orangtua saya, sehingga saya terpaksa merobek kedua kantong jubah saya dan menjualnya  (untuk biaya belajar).” [Tadzkiratul Huffazh (3/711), Adz-Dzahabi]

 AL-BUKHARI

Imam Al-Bukhari Rahimahullah bercerita : “Saya menemui Adam bin Abi Iyyas Rahimahullah di Asqalan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan. Saya tidak menceritakan nya kepada seorangpun. Dihari ketiga saya didatangi seseorang yang saya tidak kenal dan memberiku bungkusan yang didalamnya berisi dinar. Ia berkata : “Nafkahlanlah untuk dirimu sendiri.” [Tabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (2/227), As-Subki]

 MALIK

Ibnu Qashim Rahimahullah berkata : “Karena fakirnya, Imam Malik Rahimahullah berupaya menuntut ilmu hingga menghabiskan atap rumahnya, kayunya dijual. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala membukakan dunia dan memberi nya rezki. Imam Malik berkata : “Ilmu tidak akan bisa diraih, hingga merasakan nikmatnya kefakiran karena nya.” [Tartibul Madarik (1/130), Qadhi Iyadh]

 

Driser, saat ini kita jauh lebih beruntung dengan berbagai kemudahan untuk mendapatkan ilmu. Sayang banget, kalo keseharian kita habiskan dengan kegiatan yang minim manfaat malah cenderung maksiat. Ayo dongkrak semangat belajar seperti para ulama di atas. Ilmu yang kita dapat selagi muda, akan banyak memberikan kebaikan saat kita lanjut usia. #YukNgaji sampai nanti sampai mati. Hamasah! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47