Majalah Remaja Islam Drise

Dekorasi paling rumit

drise-online.com D’Riser, kalo kita perhatikan masjid atau bangunan peninggalan peradaban Islam, mata kita akan dimanjakan dengan seni kaligrafi yang super keren. Bukan cuman itu, kita juga sering menemukan pola-pola geometris yang menghiasi dinding atau lantainya. Yang bikin berdecak kagum, pola-pola itu kelihatan sangat rumit bin kompleks. Wajar aja kalau orang bertanya-tanya “bagaimana cara membuatnya?” Secara, zaman dulu kan belum ada copy-paste mas bro. Lagipula banyak pola geometris itu tidak berulang (non-repetitif), jadi ga bisa di copy-paste!

Dalam geometri,

ubin-ubin berbentuk segi tiga, segi empat, dan segi enam bisa disusun rapat secara periodik untuk membuat pola yang berulang (repetitif). Tapi, pola geometris Islam juga seringkali berbentuk segi 5 atau lebih dari 6. Padahal ubin segi 5 atau lebih dari 6 seperti itu tidak bisa disusun secara periodik tanpa menghasilkan gap atau celah-celah kosong di antaranya. Itu sebabnya segi 5 disebut “simetri terlarang” (forbidden symetry).

Karena itu, awalnya para ilmuwan dan sejarawan mengira pola-pola itu digambar dan diukir manual secara langsung di atas dinding atau lantai dengan bantuan penggaris dan kompas. Suatu proses yang sangat rumit karena setiap bentuk harus digambar dengan ukuran yang tepat. Padahal, pola tersebut melingkupi area yang luas. Bisa dibayangkan berapa lama waktu dan kerja keras yang harus dilakukan oleh para pengukir pola tersebut. Tapi anehnya, pola-pola geometris itu terlihat sempurna, padahal, seandainya pola itu digambar manual, pasti akan ada beberapa garis yang agak “mencong” (tidak pas), yang bisa terdeteksi pada dinding yang luas. Kenyataannya garis mencong itu hampir tidak ada! Luar biasa!

Hal ini juga yang menggugah rasa penasaran Peter J. Lu, seorang peneliti asal universitas Harvard, ketika ia berkunjung ke Uzbekistan, tahun 2005. Lu terpukau dengan keindahan dan kerumitan pola geometris pada dinding sebuah madrasah yang dibangun pada abad 15 M di Bukhara. Lu meyakini, pasti ada teknik tertentu yang digunakan untuk membuat pola yang rumit itu. Berbagai situs ia kunjungi, ribuan foto ia teliti, Lu belum menemukan rahasianya sampai ia meneliti sebuah gulungan kuno di museum Topkapi, Turki. Gulungan itu berisi rancangan pola geometris yang sangat rumit dan tidak berulang yang dibentuk oleh garis tebal berwarna biru dan merah. Tapi, di bawahnya terlihat garis merah tipis yang memecah rancangan pola yang kompleks itu ke dalam 5 bentuk dasar. Eureka!

Lu menemukan, ternyata pola yang rumit itu tidak diukir secara manual, tapi dibuat dengan bantuan 5 ubin tertentu yang berbentuk dekagon (segi 10), heksagon (segi 6) panjang, heksagon pita, pentagon (segi 5) dan belah ketupat. Dengan menyusun ubin-ubin ini sedemikian rupa, para tukang bisa membuat pola-pola yang sangat rumit dan luas, bahkan tak berulang, dengan mengikuti beberapa aturan sederhana tanpa perlu memahami prinsip-prinsip matematika yang berada di baliknya. Apalagi kalau ubin-ubin itu sendiri juga bergambar atau bergaris, maka pola yang dibuat akan terlihat lebih kompleks. Ubin dasar ini kemudian dinamai ubin girih (girih tiles). Hebatnya, ketika model teselasi (pengubinan) secanggih ini sudah mulai diterapkan sejak abad 12 M, padahal, teori matematikanya sendiri belum “ditemukan” ilmuwan hingga ratusan tahun kemudian!

Sebelumnya, tahun 1974 Roger Penrose menemukan model pengubinan Penrose dengan 2 bentuk ubin dasar, yaitu ubin berbentuk panah dan layang-layang. Ubin Penrose ini memecahkan misteri simetri terlarang, yang membuktikan bahwa simetri segi 5 bisa disusun rapat secara aperiodik sehingga menghasilkan pola non repetitif. Kelima ubin girih yang ditemukan Lu juga sebenarnya merupakan kombinasi dari ubin-ubin Penrose, tapi dengan teknik girih, jumlah ubin bisa dikurangi sehingga lebih praktis dan tidak terlalu rumit.

Kemudian, tahun 1982 Prof. Dan Schechtman dari Technion University Israel menemukan struktur pola kuasikristal pada susunan atom-atom dalam logam, yang mengantarkannya pada hadiah Nobel. Ternyata bentuk pola kuasikristal ini

malah sudah terpampang duluan di dinding-dinding peninggalan peradaban Islam.

Beberapa peninggalan yang memiliki dekorasi pola kuasikristal yang mendekati sempurna, diantaranya komplek Darb-i Imam (1453) di Isfahan, Iran; halaman Madrasah al-’Attarin (1323) di Fez, Maroko; dan dinding makam Gunbad-I Kabud (1197) di Maragha, Iran. Dari 3.700 ubin di Darb-i Imam yang dipetakan oleh Lu dan pembimbingnya, Paul Jl. Steinhardt, ternyata hanya ditemukan 11 kecacatan kecil saja. Wow.

Diakui oleh Lu dan Steinhardt, bahwa dekorasi peninggalan peradaban Islam ini sangat matematis dan canggih, bahkan memimpin dunia di abad pertengahan. “Ini bisa jadi membuktikan bahwa matematika memiliki peran besar dalam seni Islam abad pertengahan, atau bisa jadi ini hanya metode yang digunakan para seniman untuk mempermudah dalam membangun karya mereka ….. Setidaknya ini menunjukkan pada kita bahwa peradaban yang seringkali tidak kita hargai ini ternyata jauh lebih maju dari yang kita sangka sebelumnya.”

Driser, dekorasi super rumit tapi keren yang menghiasi peninggalan budaya menjadi bukti tingginya peradaban Islam di masanya. Kejayaan Islam saat itu ditopang oleh institusi khilafah yang ngasih ruang yang luas dan gratis bagi cendekiawan muslim untuk mengekplorasi kepiawaiannya dalam mengembangkan peradaban Islam. Saatnya kita kembalikan kejayaan Islam melalui tegaknya khilafah yang mengikuti jejak kenabian. Yuk![]