<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>tips menulis Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/tips-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Nov 2019 23:43:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Writer isn’t Bibliomania 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2016 13:20:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1857</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Saat maen ke rumahnya yang juga  bergaya kolonial, saya dibuat takjub  menyaksikan sekian banyak koleksi bukunya  yang luar biasa, rata-ratakoleksi bukunya itu  berusia antara 60 s.d ratusan tahun! Artinya  buku-bukunya itu terbit taon 1950 ke bawah!  Bahkan, ada yang terbit sebelom taon 1800.  Waouw… harta karun, tuh! Kawan saya yang penggila buku itu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Writer isn’t Bibliomania 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/">Writer isn’t Bibliomania 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Saat maen ke rumahnya yang juga  bergaya kolonial, saya dibuat takjub  menyaksikan sekian banyak koleksi bukunya  yang luar biasa, rata-ratakoleksi bukunya itu  berusia antara 60 s.d ratusan tahun! Artinya  buku-bukunya itu terbit taon 1950 ke bawah!  Bahkan, ada yang terbit sebelom taon 1800.  Waouw… harta karun, tuh! Kawan saya yang penggila buku itu  rela ngeluarin jutaan rupiah duitnya demi  mendapatkan semua buku klasik tersebut.  Dia ngaku gemar berburu buku buluk  (sebuah istilah yang ngetrend di kalangan  para kolektor dan kurator untuk menyebut  buku lama ato jadul) itu, setelah  menggandrungi kajian teosofi yang populer  di masa pemerintahan Hindia Belanda.  Buku-buku bertema teosofi dari beragam  bahasa di bawah taon 1950, pasti dia embat  untuk dikoleksi di perpustakaan pribadinya.  Namun, saat saya bertanya apakah  dia membaca semua buku koleksiannya itu?</p>
<p>Kawan saya itu hanya menjawab  diplomatis dengan senyum dan  gelengan kepala. Dia mengaku  tak punya kemampuan untuk  membaca semua buku  berbahasa asing tadi, dia hanya  tetarik untuk berburu dan  mengoleksinya saja. Saat saya  iseng bertanya, bolehkah saya  memiliki atau membeli salah  satu buku koleksinya itu, dengan  tanggap dia menyatakan tidak  akan pernah melepas bukunya itu dengan  harga berapapun! Nah, lho?!</p>
<p>Jujur aja neh, kekaguman saya langsung  nguap begitu saja. Kawan di<a href="http://majalahdrise.my.id/habits-penulis-5-menjalin-komunitas/"> komunitas interpreter</a> sejarah ini hanya memperlakukan  buku sebatas koleksi tanpa mengambil manfaat  dari buku tersebut. Ia tidak dapat memahami  isi buku koleksiannya itu karena tidak mampu  membacanya, ia tidak mengerti bahasanya. Ia  hanya terobsesi untuk memilikinya saja. Kawan  saya ini sudah terjangkit virus bibliomania! Trus, apakah seorang penulis juga dapat  terjangkit virus bibliomania kek tadi? Hehehe…  seorang penulis yang gandrung sama buku  sebagai bagian dari habitsnya itu, sangat  mungkin terjangkit virus bibliomania ini,  ngoleksi buku tanpa tahu isinya, nyimpen  banyak buku tanpa sedikit pun membacanya!</p>
<p>Nah, bibliomania itu tak selayaknya  menghinggapi para <a href="http://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/">penulis</a> karena bagi  seorang penulis, buku adalah kawan setia  untuk menyelami ilmu dan mendalami  pengetahuan, buku bukanlah sekadar pajangan  yang hanya menghiasi rak-rak perpustakaan,  namun buku adalah amunisi paling dahsyat  yang dimiliki oleh para penulis. Catet, ya?! []</p>
<p>di muat di majalah Remaja islam Drise 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/">Writer isn’t Bibliomania 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1857</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Writer isn&#8217;t Bibliomania</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2016 13:14:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[TABLOID]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1854</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; d&#8217;Riser, kali ini kita mo nerusin soal hobi  penulis, yaitu suka berkutat dengan  buku, dunia literasi dan penerbitan. Di  edisi sebelumnya, kan kita ngebahas soal  penulis sebagai seorang booklovers alias  pencinta buku. Nah, pada edisi kali ini, kita mo  ngangkat soal penulis yang terjebak jebakan  Betmen! Halah, bukan itu, ding! Maksudnya  adalah booklovers &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Writer isn&#8217;t Bibliomania</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/">Writer isn&#8217;t Bibliomania</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; d&#8217;Riser, kali ini kita mo nerusin soal hobi  penulis, yaitu suka berkutat dengan  buku, dunia literasi dan penerbitan. Di  edisi sebelumnya, kan kita ngebahas soal  penulis sebagai seorang booklovers alias  pencinta buku. Nah, pada edisi kali ini, kita mo  ngangkat soal penulis yang terjebak jebakan  Betmen! Halah, bukan itu, ding! Maksudnya  adalah booklovers yang kejebak jadi seorang  bibliomania! Awas lho, seorang penulis juga  bisa jadi seorang bibliomania. Maksudnya  gimana, neh?</p>
<p>Yok, kita jabanin bareng-bareng… Bibliomania itu sebenarnya apaan, seh?  Bibliomania itu berasal dari dua kata, yaitu  bibliotheque yang artinya perpustakaan dan  maniac yang artinya penggemar berat. Kalo  dua kosa kata itu digabung (bibliotheque  maniac) maka artinya jadi penggemar berat  perpustakaan, ya?! Nah, kalo maknanya kek  gitu, tentu sangat bagus, dunk, jika seorang  penulis itu adalah seorang bibliomania.  Seorang penulis memang kudu jadi seorang  penggemar berat buku, hobi datang ke  perpustakaan, and kegemaran kek gini sangat  berarti bagi karier <a href="http://majalahdrise.my.id/habits-penulis-5-menjalin-komunitas/">kepenulisannya kelak!</a> Namun, benarkah bibliomania itu  maknanya adalah penggemar berat  perpustakaan? Ternyata, bibliomania itu  merupakan istilah bagi para pecandu berat  buku, artinya mereka yang terkategori  bibliomania ini sangat gandrung dengan buku,  mereka tak peduli apakah buku itu mereka  baca ataukah tidak? Mereka masa bodoh,  apakah mereka ngerti isi buku ataukah tidak?  Mereka sama sekali cuek bebek dengan segala  manfaat dari buku. So, kalo gitu bibliomania itu  kek semacam virus, ya? Bisa jadi, jack!</p>
<p>Fakta empirik di dunia literasi, orang-orang yang terjangkit virus bibliomania ini  hanya terobsesi dengan buku, mereka  mendapatkan kepuasan tersendiri saat  mendapatkan buku ataupun mengoleksi  buku. Virus bibliomania ini kerap  menghinggapi para book collector, bahkan  booklovers seperti para penulis. Nah, lho!  Mo buktinya, gak? Saya punya  seorang kawan di komunitas interpreter  sejarah yang gila buku, khususnya buku-buku yang memiliki nilai historis tinggi, kek  buku-buku yang terbit di masa kolonial  Belanda.</p>
<p>di muat di majalalah remaja islam drise edisi 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/">Writer isn&#8217;t Bibliomania</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1854</post-id>	</item>
		<item>
		<title>HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 May 2016 05:29:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1553</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngelanjutin bahasan soal habits penulis yang kedua, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang senang berdiskusi. Inget, lho, penulis itu senang diskusi, bukan ngobrol ngalor ngidul, apalagi sampai ngegosip gada ujung! Seorang penulis yang baik adalah sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, lapar akan informasi, sekaligus &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/">HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngelanjutin bahasan soal <a href="http://majalahdrise.my.id/habits-penulis/">habits penulis</a> yang kedua, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang senang berdiskusi. Inget, lho, penulis itu senang diskusi, bukan ngobrol ngalor ngidul, apalagi sampai ngegosip gada ujung!</p>
<p>Seorang penulis yang baik adalah sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, lapar akan informasi, sekaligus gundah akan ketidaksinkronan antara idealita yang dia punya dengan realita yang dia hadapi.Dia selalu kebelet untuk “menuangkan” apa yang dia lihat, dia dengar dan yang dia rasakan. Oleh karena itu, dia suka berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis yang memiliki tipe pelapor, layaknya seorang reporter ataupun jurnalis investigatif. Mencari kelengkapan berita adalah mutlak dibutuhkan oleh seorang reporter ataupun wartawan demi akurasi informasi yang disampaikannya. Dia dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber ataupun berdiskusi dengan para pakar di bidangnya.</p>
<p>Di sinilah urgensitas berdiskusi bagi seorang penulis. Apalagi bagi para pemula yang masih gagap dalam bertutur dan bernarasi dalam tulisannya. Informasi berupa fakta, data dan berita, sekaligus ilmu, pengetahuan dan tsaqafah sungguh sangat dibutuhkan demi menambah bobot tulisan yang dihasilkan. Setelah kita memiliki kebiasaan membaca sebagai habits pertama bagi seorang penulis, maka kebiasaan keduanya adalah senang berdiskusi.</p>
<p>Jujur saja, Bro and Sist, membaca buku ataupun literatur klasik di perpustakaan saja gak cukup bagi seorang penulis handal. Dia masih membutuhkan pendalaman materi sekaligus pengayaan dalam detil bahasan. Coba, deh, setelah membaca buku, kamu lihat daftar referensi yang disajikan Si Penulis, maka akan kamu dapatkan sejumlah buku yang menjadi bahan tulisan Si Penulis dalam menuliskan bukunya. Terkadang juga, Si Penulis mengutip sejumlah surat kabar ataupun majalah sebagai referensinya. Bahkan, dalam beberapa buku, Si Penulis juga mencantumkan teknik wawancara dan diskusi dengan tokoh-tokoh tertentusebagai referensi tulisan.</p>
<p>Kebiasaan senang berdiskusi ini akan jadi hal positif bagi seorang penulis, dia dapat menguliti habis satu tema tertentu dengan berbagai sudut pandang. Coba, deh, kamu buktikan sendiri, datangi seorang expert pada bidang tertentu, kemudian kamu ajak diskusi pada bidang yang dikuasainya itu. Kamu juga harus sudah siap dengan sejumlah pertanyaan untuk mendetili persoalan. Saya juga sudah membuktikan habits penulis yang kedua ini dengan mengajak diskusi para expert yang umumnya bertitel doktor dan professor. Hasilnya pun, memang langsung terasa, ilmu dan pengetahuan saya jadi semakin kaya, kualitas dan ragam tulisan saya pun semakin berkelas!</p>
<p>Sebagai contoh, saya pernah berdiskusi dengan seorang miltech expert yang gape persoalan teknologi militer mutakhir, dia juga mahir menguraikan kecanggihan alutsista berbagai negara produsen war machine di seluruh dunia, khususnya Amrik dan para pesaingnya dari benua Eropa. Dia juga begitu terampil menjelaskan persoalan alutsista di Dunia Islam, khususnya di negeri Si Komo ini yang sudah jauh tertinggal.</p>
<p>Hasil dari diskusi intens itu pun, saya dapat menyajikan secara maksimal makalah berjudul <em>Membangun Kekuatan Militer Berbasis Ideologi Islam</em>, sekaligusmempresentasikan secara optimal file power point dengan tema <em>Militer dalam Islam</em>. Bahkan, saya pun mampu untuk mempresentasikan tema <em>Future War</em>, sebuah kajian perang di masa depan dengan teknologi militer paling modern yang sungguh berbeda dengan analisis perang akhir zaman atau al-Malhamah al-Kubro.</p>
<p>Oke, deh, Bro and Sist, soal habits penulis kedua ini emang hal yang kudu dijabanin oleh para penulis. Seorang penulis yang baik, dia akan selalu merasa kekurangan ilmu. Apa yang dia dapatkan dari membaca buku, akan dia dalami dan detili lagi dengan banyak berdiskusi dengan para ahli. Tabiat positif ini akan semakin mengasah kualitas tulisannya, sekaligus mengasah keterampilannya dalam menuangkan ide, pemikiran dan pendapatnya. Bukankah, dalam berdiskusi, kita pun berbicara, bertutur, berdiplomasi, bahkan mungkin berdebat? Artinya, kebiasaansenang berdiskusi ini merupakan tabiat yang emang kudu dimiliki oleh seorang penulis. Catet, tuh?![]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><u>BOX</u></strong></p>
<p>Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu semua senang berdiskusi:</p>
<ol>
<li>Ketahui dulu, tema apa yang ingin kamu diskusikan?Kalo gak nyiapin tema, halah&#8230; alamat ngobrol ngalor ngidul, tuh!</li>
<li>Cari tahu juga, siapa tokoh yang akan kamu ajak diskusi? Gawat banget, kan kalo kamu ngajak diskusi soal gimana sakitnya sakaratul maut kepada pasien yang divonis dokter sudah tidak ada harapan tertolong?</li>
<li>Cari momen yang asyik buat diskusi, bayangin kalo kamu ngajak diskusi orang yang tengah emosional, wah bisa berabe, euy!</li>
<li>Pilihlah tempat yang nyaman saat diskusi, kamu bisa milih rumah, restoataopun tempat fave yang adem, biar diskusinya juga enak tenan.</li>
<li>Kamu harus aktif berkarya agar ada output positif dari kreativitasmu selama ini. Inget lho, ilmu tuh harus dishare pada banyak orang sebagai bagian dari amal saleh kita (ilmu yang bermanfaat). Ilmu yang kita punya, jangan hanya untuk diri sendiri, apa enaknya masturbasi intelektual? Dosa, tau!</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan tetap kreatif menulis, hobi diskusimu akan menghantarkanmu jadi penulis ahli! Inget, tuh?![]</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #44</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/">HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1553</post-id>	</item>
		<item>
		<title>HABITS PENULIS</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2016 03:01:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1484</guid>

					<description><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Salam kreatif kembali para D’Riser, dalam rubrik writepreneur kali ini, kita akan ngulik bareng soal habits penulis agar kamu semua dapat tetap kreatif dan eksis terus di dunia penuh kreativitas ini.FYI neh, habits penulis ini juga bisa disebut sebagai kebiasaan, tabiat ataupun hal yang emang kudu ada pada tiap penulis, apalagi bagi kamu-kamu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">HABITS PENULIS</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis/">HABITS PENULIS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Salam kreatif kembali para D’Riser, dalam rubrik <a href="http://majalahdrise.my.id/category/writepreneur-majalah-remaja-islam/">writepreneur</a> kali ini, kita akan ngulik bareng soal habits penulis agar kamu semua dapat tetap kreatif dan eksis terus di dunia penuh kreativitas ini.FYI neh, habits penulis ini juga bisa disebut sebagai kebiasaan, tabiat ataupun hal yang emang kudu ada pada tiap penulis, apalagi bagi kamu-kamu yang ngaku masih pemula.</p>
<p>Oke, deh, Bro and Sist, soal habits penulis ini emang hal alamiah yang bakal dialami oleh setiap penulis. Artinya, habits penulis ini didasarkan pada fakta empirik  yang lazim dilalui dan dirasakan oleh para penulis. Yuk, kita bocorin satu demi satu soal habits penulis ini; habits yang pertamabagi seorang penulis itu adalah suka membaca, habits yang kedua, dia senang berdiskusi, berikutnya, seorang penulis itu adalah sosok yanggemar meneliti, selanjutnya, penulis itu kudu mencintai bahasa, dan yang terakhir, seorang penulis itu selayaknya punya komunitas ato mampu menjalin komunitas.</p>
<p>Nah, di edisi D’Rise kali ini, kita mo ngulik habits yang pertama, yaitu seorang penulis itu sosok yang suka membaca. Bahkan, sebenarnya seorang penulis itu harus punya kebiasaan membaca yang baik karena ia emang butuh sumber energi, berupa ilmu agar dapat berbagi melalui karya dengan para pembacanya.</p>
<p>Seorang penulis adalah pembaca yang baik, dia adalah seorang penikmat buku yang paling lahap, bahkan rakus! Mo contoh, kenal Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail, kan? Dia itu seorang ulama kondang dari Bayt al-Maqdis, Palestina, seorang doktor dari Universitas al-Azhar, Kairo Mesir, sekaligus pernah menjadi qadhi ato hakim di mahkamah syari’ah al-Quds. Sepanjang hidupnya, dia menulis banyak kitab yang kini jadi maroji’ utama para aktivis partai politik yang didirikannya. Kitab-kitab yang ditulisnya itu telah menjadi guidence para pejuang syari’ah wal khilafah di seluruh dunia. Sebelum wafatnya, dia telah membaca ribuan kitab klasik para ulama, bahkan membaca ribuan buku para pemikir asing untuk dikritisi dan dibongkar kesesatannya.</p>
<p>Para penulis kaliber dunialainnya pun adalah seorang pembaca yang hebat, bahkan mereka secara khusus menyediakan waktu tertentu, hanya untuk membaca, seperti Agatha Christie, penulis novel-novel thiller-horror, yang tidak boleh diusik, apalagi diganggu saat ia sedang membaca. Kebiasaan membaca seperti ini juga ternyata biasa dilakukan para tokoh dan pemikir, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir dan para tokoh bangsa lainnya.Saat mereka diasingkan oleh pemerintah kolonial pun, barang bawaan paling banyak yang merekabawa, ternyatabuku!</p>
<p>Mereka yang keranjingan baca seperti itu, tentu memiliki output yang hebat juga, Bung Karno adalah seorang public speaker yang luar biasa, setiap kali Si Bung berpidato, ribuan rakyat menyemut di sekelilingnya, jutaan lainnya mendengarkannya via radio. Bahkan, kaset-kaset pidatonya bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bukan hanya itu, Si Bung juga adalah sosok penulis yang hebat, karya-karyanya terhimpun dalam buku Dibawah Bendera Revolusi yang kini harganya ditaksir gila-gilaan oleh para kolektor!</p>
<p>Saya juga adalah seorang maniak baca, nyaris setiap waktu luang yang saya punya, saya pake buat baca! Kalo saya bepergian kemana aja, jauh atopun dekat, saya suka bawa buku. Jujur aja, saya ngerasa lebih pede kalo saya megang buku atopun nyakuin buku di tas. Saya ngerasa punya peluru dan mesiu untuk diledakkan kapan pun saya mau, baik secara lisan maupun tertulis! Membaca buku seolah telah jadi kebutuhan asasi bagi saya. Saking antusias dan ngebetnya pada aktivitas membaca buku ini, tiap kali ngisi training atopun pengajian, saya dengan bangga memperkenalkan diri sebagai predator buku alias pemangsa buku yang paling rakus. Saking ngebetnya pada aktivitas baca ini, saya pernah ngabisin ribuan halaman buku hanya dalam semalam!</p>
<p>Oke, Bro and Sist, kali ini saya mo berbagi tips, biar kamu semua-mua suka membaca sebagai bagian dari habits penulis: 1.ketahui ambak-nya (apa manfaatnya bagi aku)? Hayo dengan baca, apa manfaatnya? Walah pasti seabreg-abreg, tuh, manfaatnya! 2.ketahui interest-mu dimana? Kamu suka and tertarik sama apaan, cari deh buku yang ngomongin soal yang kamu suka itu. 3.ketahuilah penulis, penerjemah, penyunting dan penerbit fave kamu. Kalo dah kesengsem, wah alamat kamu bakal jadi pembaca setianya. 4.aktif berkarya agar kamu terus berpacu lebih baik, kamu pasti butuh energi dan nutrisi dengan membaca. 5.ketemu sama orang-orang yang gila baca kek saya, ntar saya tularin virus gila bacanya. ^_^  b</p>
<p>Kalo kamu sudah mulai keranjingan baca, ayo lanjut berkarya dengan menulis, ya?! Jangan kek temen saya sesama penulis yang sama-sama maniak baca, diangaku masuk toilet pun, dia sempat-sempatnya bawa buku, koran ato majalah buat dibaca. Walah gawat kalo gitu, mah! Ok, di edisi depan, kita lanjut dengan habits penulis berikutnya?! []</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #43</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis/">HABITS PENULIS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1484</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2016 00:26:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[MUDA]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1419</guid>

					<description><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Menulis adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karya-karya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/">Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. <a href="http://majalahdrise.my.id/salman-iskandar-penulis/">Menulis</a> adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karya-karya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita bisa memulai sebuah tulisan, jika tanpa konsistensi, kesabaran, dan ketekunan, maka tulisan itu tidak akan bisa kita tuntaskan. Padahal penulis yang baik itu bukan hanya bisa memulai sebuah tulisan, tetapi juga mesti bisa mengakhirinya. Tulisan ini ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana proses terbentuknya sebuah karya.</p>
<p>Hal yang paling pertama harus dilakukan seorang penulis adalah memunculkan ide cerita yang hendak ia tulis. Proses ini harus terjadi, jika tidak, proses-proses selanjutnya tidak akan pernah ada. Seorang penulis mesti tahu apa yang hendak ia tulis. Cukup banyak orang yang bertanya bagaimana caranya agar seorang penulis selalu memiliki ide-ide tulisan yang segar dan unik? Sebagian lainnya merasa pusing tentang apa yang mesti mereka tuliskan. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, selama ada kehidupan pasti akan selalu ada kisah yang menarik untuk dituliskan.Sesederhana apa pun kisah itu, pasti ia akan selalu memiliki daya tarik. Ide-ide cerita itu akan selalu ada di sekitar kita, dan kita bisa mengambilnya dari mana saja.</p>
<p>Ketika ide cerita itu sudah muncul di benak kita, berupa gambaran global dari kisah yang akan kita garap, langkah selanjutnya adalah menuangkan ide besar itu dalam bentuk kerangka dasar. Kerangka dasar inilah yang berperan besar untuk menentukan seperti apa tulisan yang akan kita buat. Kerangka pula yang akan memandu kita dalam menuangkan isi pikiran kita berupa tulisan sejak awal hingga selesai.</p>
<p>Sumber-sumber kepustakaan tentunya amat penting dan amat kita butuhkan. Langkah selanjutnya setelah kerangka dasar terbentuk adalah berburu berbagai referensi yang berhubungan dengan tulisan yang akan kita garap. Sumber-sumber rujukan ini bisa dalam berbagai bentuk, umumnya berupa buku, artikel, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Jika diperlukan, bisa pula diburu informasi dengan cara mewawancarai narasumber. Sumber rujukan lainnya bisa pula didapat dari melakukan riset atau penelitian. Setelah berbagai data yang kita perlukan berhasil dihimpun, langkah selanjutnya adalah mempelajari berbagai data tersebut. Langkah ini tentu saja akan memperkaya wawasan tentang tema yang sedang digarap. Di sanalah relevansinya sebuah pepatah: “Untuk menulis, maka haruslah membaca.”</p>
<p>Setelah semua proses di atas kita jalankan dengan baik, saatnya kita meramu kata-kata dan dirangkaikan dengan berbagai data yang sudah kita olah dan pelajari. Dengan menjadikan kerangka dasar tersebut sebagai panduan, maka tentu saja akan lebih memudahkan kita menuangkan berbagai ide dalam benak kita. Seluruh tahapan ini dari awal sampai dengan akhrinya haruslah dijalankan dengan sabar, tekun, dan konsisten. Sebagaimana sudah disebutkan tadi, tanpa kesabaran, ketekunan, dan konsistensi, maka karya yang sedang digarap ini tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Apa yang sudah kita kerahkan sedari awal tentunya akan sia-sia belaka. Menghasilkan sebuah karya mirip sekali dengan seorang ibu yang sedang mengandung janin di dalam rahimnya. Dia harus menjaganya dengan baik dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus menggenapkan waktu persemayaman janin itu di dalam rahimnya. Ia harus menjalankan semua itu dengan sabar, tekun, dan konsisten, kelak ketika waktunya sudah tiba, karya itu akan lahir dan membawa barokah, kebahagiaan, dan manfaat bagi semua. Insya Allah.[]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/">Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1419</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2015 13:50:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1059</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8211; D’Riser, pada edisi D’Rise kali ini, kita mo ngebahas tahapan saat menulis poin yang ketiga, yaitu “pembahasan”, sekaligus nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block. Dalam proses kreatif menulis, kita harus mampu membangun tubuh yang dinamis, tulisan yang kita bikin itu koheren dan kohesif. Maksudnya adalah adanya keterpaduan makna, sekaligus adanya kesatuan bentuk tulisan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image"><img src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2015/12/Screenshot_34.jpg?w=660" alt="" data-recalc-dims="1"/></figure>


<p><em>&#8211; D’Riser, </em>pada edisi<a href="http://majalahdrise.my.id/"> <em>D’Rise</em></a> kali ini, kita <em>mo</em> <em>ngebahas</em> tahapan saat menulis poin yang ketiga, yaitu “pembahasan”, sekaligus <em>nerusin</em> jurus ampuh menumpas virus <em>write’s block</em>.</p>
<p>Dalam proses kreatif menulis, kita harus mampu membangun tubuh yang dinamis, tulisan yang kita bikin itu koheren dan kohesif. Maksudnya adalah adanya keterpaduan makna, sekaligus adanya kesatuan bentuk tulisan yang kita bangun.</p>
<p><em>Gak</em> lucu, kan, <em>kalo</em> tulisan kita <em>gak</em> nyambung? Misalnya <em>kek</em> <em>gini</em>, niatnya bikin tulisan artikel bergaya deskriptif, <em>eh</em> saat kita nulis, kita malah keasyikan sendiri bernarasi panjang lebar. Akhirnya, tulisan kita mewujud jadi artikel naratif, malah bisa jadi <em>feature</em> atau yang lebih parah, jadinya kisahan faksi atau bahkan tulisan fiksi. Kacau, kan?</p>
<p>Selain itu, demi membangun tubuh yang dinamis dalam proses kreatif menulis, kita pun harus benar-benar memahami persoalan yang kita ajukan dalam tulisan dengan pembahasan yang kita kedepankan. Mulai persoalan keseharian maupun persoalan keumatan dan kebangsaan sampai pada pembahasan yang sistematis dan sistemis. Walah…, bahasanya ideologis <em>bangeud</em>, <em>ye</em>? Gapapa <em>ding</em>, kita kan <em>mo</em> jadi seorang yang totalitas dalam berkarya sebagai wujud aktualisasi Muslim <em>kaffah</em>.</p>
<p>Nah, soal <em>ngebangun</em> tubuh tulisan yang dinamis itu, dimulai dari maksud kita bikin tulisan. Jenis tulisan apa dulu yang <em>mo</em> kita bikin. Artinya, kita <em>mo</em> nulis artikel, berita, <em>feature</em>, fiksi atau faksi?</p>
<p><em>Kalo</em> jenis tulisan, <em>dah</em> <em>clear</em>, lanjut deh ke <em>outline</em>, kita bikin kerangka tulisan agar kita punya panduan yang terarah dalam menulis. Bikin <em>outline</em> <em>kek</em> <em>gini</em> penting banget, lho, bagi para pemula karena akan membuat kamu-kamu terhindar dari <em>write’s block</em> yang sering jadi alasan kamu <em>gak</em> <em>nerusin </em>tulisan bahkan parahnya,<em> gak nuntasin</em> tulisan!</p>
<p>Makanya penting banget kita bikin <em>outline</em>, khususnya bagi para <em>new comer</em> dalam jagat kepenulisan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena faktanya banyak di antara para pemula itu yang begitu bersemangat nulis hingga mereka terjebak dengan bahasa lanturan. Tulisannya <em>ngelantur</em> kemana-mana, boros kosa kata dengan kalimat yang <em>gak</em> efektif. Nah, lho, jadi dalam menulis jangan modal semangat doang, ya?</p>
<p>Walah&#8230;, kita <em>dah</em> masuk ke area bahasa dalam pembahasan, ya?</p>
<p>Oke deh, sebelumnya kita <em>mo</em> <em>nanya</em>, neh, <em>Bro and Sist D’Riser</em>, pernah baca <em>ato</em> sekadar <em>liat-liat</em> majalah mingguan berita (MBM) <em>TEMPO</em>, kan? Tuh, majalah yang digawangi Goenawan Mohamad itu punya <em>tagline</em> atau slogan yang mereka usung sejak awal penerbitannya sebagai pemantik minat baca para penggemarnya, <em>tagline</em>nya <em>kek gini</em>, <em>enak dibaca dan perlu</em>.</p>
<p>MBM <em>TEMPO</em> sepertinya <em>pengen</em> <em>ngikut</em> kesuksesan <em>the weekly newsmagazine TIME</em> di Amrik sana yang jadi barometer pemberitaan, <em>gak</em> hanya di dunia Barat, tapi juga jadi rujukan media berita seluruh dunia. Coba, liat <em>tagline TIME</em> ini, <em>there’s never been a better</em>.</p>
<p>Terlepas dari ide maupun ideologi yang diusung kedua majalah berita tersebut, tapi <em>tagline</em> dua majalah yang katanya mengusung model jurnalisme investigatif itu keren-keren, ya?</p>
<p>Kalo diperhatikan, karakter tulisan mereka, baik itu artikel, berita, <em>feature</em>, <em>etc</em> yang <em>nampil</em> di majalahnya itu, <em>emang</em> enak dibaca, bahasanya lugas, bernas dan kaya. Oya, maksud “kaya” di sini adalah kaya dalam menyajikan fakta dan data, sekaligus “kaya” dalam bahasa. <em>Kalo</em> “kaya” dalam analisa. Wah, nanti dulu, soal analisa, kan,  bergantung sepenuhnya pada ideologi yang mereka usung. Jadi, cukuplah kita terkesan dengan kekayaan fakta, data dan bahasa yang mereka punya.</p>
<p>Coba, deh, kamu baca <em>Catatan Pinggir</em>nya Mas Goen di majalah <em>TEMPO</em> atau yang sudah dibukukan oleh Penerbit Gramedia sebanyak 6 jilid. Simak dan perhatikan cara Mas Goen memulai hingga mengakhiri tulisannya, dia menulisnya dengan bahasa yang kaya, Dewan Redaksi Majalah <em>TEMPO</em> ini menulis dengan energi, setiap kalimatnya penuh dengan muatan informasi.</p>
<p>Di sini, kita <em>mo</em> <em>ngebuka</em> soal kekayaan berbahasa ini karena dalam membangun tubuh yang dinamis, seorang penulis yang baik tentu akan memerhatikan kualitas dari bahasa yang ia <em>pake</em>, sekaligus dengan kalimat yang efektif alias tepat sasaran.</p>
<p>Bahasa yang ia <em>pake</em> akan menyesuaikan dengan khalayak pembacanya, bahasa yang tepat sasaran dan tepat guna, tepat kepada yang dituju dan berdampak langsung pada perubahan sikap maupun karakter pembacanya.</p>
<p><em>Kalo</em> kita nulis untuk remaja maka bahasa yang kita <em>pake</em> pun, ya bahasa keseharian mereka, <em>dunk</em>! Kita harus tahu dunia mereka untuk menyelami kebiasaan, tabi’at dan kehidupan anak-anak muda kekinian, termasuk soal gaya berbahasa mereka yang kata penyanyi <em>en</em> psikolog, Tika Bisono <em>mah</em>, bahasa yang dinamis, sering berubah sesuai zamannya, <em>funky</em>&#8230; bahkan, terkesan <em>slank</em> alias seenaknya.</p>
<p>Melalui pemahaman terhadap dunia remaja dengan karakter bahasanya yang <em><a href="https://www.facebook.com/MajalahRemajaIslamDRise">funky</a></em> dan <em>slank</em> tadi, tentu akan memudahkan kita untuk menyapa mereka dengan bahasanya sendiri, bahasa yang mereka fahami. Di sinilah misi <em><a href="https://www.facebook.com/MajalahRemajaIslamDRise">da’wah</a> bi lisani qaumih</em> sudah terpenuhi, menyampaikan dakwah dengan bahasa yang dimengerti kaumnya.</p>
<p>Nah, itulah maksud dari pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. <em>Kalo</em> untuk pembahasan yang sistemis, <em>gimana</em>? Cegat di edisi <em>D’Rise</em> berikutnya, ya&#8230;.[]</p>
<p>Di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi #38</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1059</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
