<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>sejarah Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Mar 2016 20:35:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Kegiatan Mandi Darah Elizabeth</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/kegiatan-mandi-darah-elizabeth/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/kegiatan-mandi-darah-elizabeth/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2016 20:35:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Di aula utama, Gyorgi melihat ada mayat seorang gadis. Di dekatnya ada lagi tubuh seorang gadis yang penuh dengan luka, yang mengerikan ternyata gadis itu masih hidup. Pada ruang-ruang tahanan ditemukan lebih banyak lagi mayat gadis-gadis, diantara mereka ada yang sekarat. Yang lebih mengerikan adalah apa yang terlihat di ruang bawah tanah kastil &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/kegiatan-mandi-darah-elizabeth/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Kegiatan Mandi Darah Elizabeth</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/kegiatan-mandi-darah-elizabeth/">Kegiatan Mandi Darah Elizabeth</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Di aula utama, Gyorgi melihat ada mayat seorang gadis. Di dekatnya ada lagi tubuh seorang gadis yang penuh dengan luka, yang mengerikan ternyata gadis itu masih hidup. Pada ruang-ruang tahanan ditemukan lebih banyak lagi mayat gadis-gadis, diantara mereka ada yang sekarat. Yang lebih mengerikan adalah apa yang terlihat di ruang bawah tanah kastil Cachtice. Ada banyak gadis yang digantung dengan posisi kepala di bawah, pada tubuh mereka terlihat luka-luka menganga dengan darah yang masih menetes dan ditampung pada ember-ember besar di bawahnya. Sepertinya semua itu adalah untuk kegiatan mandi darah <a href="http://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/">Elizabeth</a>. Gyorgi memerintahkan agar bagian lantai ruang bawah tanah itu digali, dan ditemukanlah 50 mayat lagi dalam kondisi yang amat mengerikan. Kastil mimpi buruk itu pun digeledah, dan ditemukanlah sebuah buku catatan milik Elizabeth yang memuat daftar korban kekejiannya, yang mencapai angka 650 orang. Maka Gyorgi segera meringkus Elizabeth dan seluruh anteknya. Pengadilan pun digelar, walaupun amat sangat tidak adil.</p>
<p>Beberapa antek Elizabeth adalah: Dorottya Szentes (dikenal sebagai Dorko); Ilona Jo; Katarina Beneczky (perempuan tukang cuci; dan seorang kerdil bernama Janos Ujvary (dikenal sebagai Iblis atau Ficzko). Seorang anak buah Elizabeth yang bernama Erzsi Majorova berhasil melarikan diri ketika penangkapan itu terjadi, namun dia berhasil ditemukan dan kemudian ditangkap. Seluruh anak buah Elizabeth itu pun digiring ke pengadilan, dan mereka semua harus menerima seluruh dakwaan dan menanggung seluruh hukuman, sementara Elizabeth sendiri hanya dijadikan tahanan rumah. Elizabeth tidak pernah datang ke hadapan meja hijau. Ada tekanan yang cukup kuat dari raja Matthias Corvinus untuk menghadirkan Elizabeth ke pengadilan. Sepertinya dia hendak membuktikan bahwa dia berkuasa penuh atas seluruh bangsawannya dan hendak memperlihatkan bahwa keluarga Báthory yang amat berpengaruh itu tidak bisa macam-macam dengannya. Namun berbagai lobi yang dilakukan Gyorgi berhasil membuat Elizabeth tetap sebagai tahanan rumah, padahal 200 orang saksi amat memberatkannya dan amat banyak pula bukti yang memperlihatkan betapa kejinya dia. Pada serangkaian pengadilan itu terungkap lebih jauh tentang betapa jahatnya Elizabeth. Seperti nasib malang yang menimpa seorang gadis berusia 12 tahun bernama Pola.</p>
<p>Seperti dikisahkan Brenda Ralph Lewis, pengadilan pertama bagi antek-antek Elizabeth digelar pada 7 Januari 1611. Sidang ini dihadiri oleh 20 orang hakim yang diketuai oleh Theodosius Syrmiensis Szulo. Pada sidang ini dihadirkanlah berbagai bukti dan saksi yang kesemuanya memberatkan para tertuduh termasuk Elizabeth sendiri. Dihadirkanlah seorang saksi, pelayan Elizabeth, namanya Zussana. Dia berkata bahwa Elizabeth memiliki buku catatan yang merekam semua korbannya, tentang nama-nama mereka, tentang berbagai tindak penyiksaan atas mereka dan bagaimana kondisi saat mereka mati. Namun wujud buku ini tidak pernah diperlihatkan. Dalam sidang ini pula terungkap bagaimana sadisnya kematian Pola.</p>
<p>Pola adalah seorang gadis berusia 12 tahun. Antek-antek Elizabeth menculiknya dan menjebloskannya ke dalam penjara di Kastil Cachtice, tetapi dia berhasil melarikan diri. Sayangnya, Dorko dan Ilona Jo berhasil menangkapnya kembali dan menghadapkannya kepada Elizabeth yang murka. Elizabeth kemudian memerintahkan untuk memasukkan Pola ke dalam sebuah kerangkeng berbentuk bola, yang bagian dalamnya memiliki duri-duri yang runcing. Dorko dan Ilona Jo menarik bola besi berduri itu dengan tambang dan katrol sementara Pola terombang-ambing di dalamnya sembil menjerit dan merintih karena duri-duri itu mulai menusuk-nusuk tubuhnya. Di bawah, si orang kerdil Fizcko menarik talinya sehingga membuat bola itu berputar dan berayun, tubuh Pola yang malang jelas saja semakin tertusuk duri-duri dari besi dan terus teriris-iris hingga dia mati.</p>
<p>Walaupun dalam keadaan sakit, hobi Elizabeth untuk menyiksa orang tetap saja berjalan. Dia duduk di atas ranjangnya dan mengawasi Dorko yang menyeret-nyeret seorang gadis. Begitu gadis itu didekatkan kepadanya, segeralah digigitnya pipi gadis itu hingga dagingnya lepas dan darah berhamburan ke mana-mana. Belum puas, Elizabeth menggigit pundak dan payudara gadis malang itu hingga daging-dagingnya lepas dan berdarah-darah.</p>
<p>Dalam persidangan itu, Dorko dan Ilona Jo dinyatakan sebagai penyihir. Jari-jari mereka kemudian dipatahkan oleh sebuah tang yang dibakar hingga menjadi merah, kemudian mereka dibakar hidup-hidup, seperti kematian para penyihir. Fizcko dipandang hanya memiliki sedikit kesalahan, namun dia juga dieksekusi dengan dipenggal dan tubuhnya dibakar hingga menjadi abu. Erzsi Majorova pun dieksekusi, dan hanya Katarina Beneczky yang lolos dari kematian, tetapi dia harus mendekam di dalam penjara seumur hidupnya.</p>
<p>Keluarga Báthory yang berkuasa itu masih tetap saja membela Elizabeth, walaupun mereka tetap memandang bahwa Elizabeth adalah aib dan telah mencorengkan arang ke wajah keluarga. Elizabeth tetap dikurung di kamarnya sendiri di kastil Cachtice. Pintu kamarnya disegel dan hanya disisakan celah kecil untuk memasukkan makanan dan minuman. Dia hidup di sana dan tidak pernah keluar. Tiga tahun lamanya harus dijalani Elizabeth dalam keadaan terpenjara seperi itu, hingga malaikat maut datang mengunjunginya dan mencabut nyawanya. Pada 21 Agustus 1614 dia ditemukan di dalam kamarnya dalam keadaan menelungkup dengan wajah tersungkur di lantai. Rezim terornya pun berakhir.</p>
<p style="text-align: center;">TAMAT</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/kegiatan-mandi-darah-elizabeth/">Kegiatan Mandi Darah Elizabeth</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/kegiatan-mandi-darah-elizabeth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1399</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cara-Cara Penyiksaan Elizabeth</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/cara-cara-penyiksaan-elizabeth/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/cara-cara-penyiksaan-elizabeth/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2016 14:48:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1396</guid>

					<description><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Pada musim dingin, biasanya Elizabeth akan mengikat para gadis itu di batang pohon dan menelanjangi mereka. Kemudian air pun disiramkan pada tubuh para gadis itu dan mereka dibiarkan di situ hingga mati beku. Setelah musim dingin berlalu, cara-cara penyiksaan pun berubah lagi. Tubuh para gadis itu akan dilumuri madu dalam keadaan tetap terikat &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/cara-cara-penyiksaan-elizabeth/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Cara-Cara Penyiksaan Elizabeth</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cara-cara-penyiksaan-elizabeth/">Cara-Cara Penyiksaan Elizabeth</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Pada musim dingin, biasanya Elizabeth akan mengikat para gadis itu di batang pohon dan menelanjangi mereka. Kemudian air pun disiramkan pada tubuh para gadis itu dan mereka dibiarkan di situ hingga mati beku. Setelah musim dingin berlalu, cara-cara penyiksaan pun berubah lagi. Tubuh para gadis itu akan dilumuri madu dalam keadaan tetap terikat di batang pohon, kemudian burung-burung dan binatang-binatang lainnya akan datang lantas menggerogoti para gadis itu hidup-hidup. Mayat-mayat itu akan dilemparkan keluar dinding kastil dan menjadi makanan serigala.</p>
<p>Salah satu cara penyiksaan yang paling disukai Elizabeth adalah “menendang bintang.” Berlembar-lembar kertas akan dilumuri minyak dan diselipkan di sela-sela jari kaki para korban. Kertas-kertas yang sudah menempel di situ kemudian dibakar. Para korban akan menyentak-nyentak dan menendang-nendang sekuat tenaga agar kertas-kertas yang terbakar itu terlepas dari sela-sela jari kaki mereka. Namun sekuat apapun mereka melakukannya, kertas-kertas itu sudah menempel di situ, dan lidah api siap menjilat tubuh mereka kemudian mengubahnya menjadi abu.</p>
<p>Kekuasaan keluarga Báthory amatlah besar, dan hal itulah yang membuat kekejian yang dilakukan Elizabeth bertahan hingga bertahun-tahun. Tidak ada seorang pun yang berani mengusiknya walaupun peristiwa ini amatlah besar. Puluhan hingga ratusan gadis perawan menghilang secara misterius, banyak mayat dalam kondisi mengerikan ditemukan di sekitar kastil, berembus teror-teror mencekam di pedesaan sekitar kastil, dan beredarnya ancaman-ancaman, menjadi hal-hal yang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sedang terjadi sesuatu yang mengerikan di dalam kastil. Sayangnya, tidak ada yang berani bicara, apalagi bertindak. Para petani yang kehilangan anak-anak gadis mereka hanya bisa menangis pilu di rumah mereka tanpa bisa berbuat atau menuntut apa-apa. Mereka takut dengan dendam keluarga Báthory. Para bangsawan lainnya dan pihak yang berwenang pun mengabaikan semua ini.</p>
<p>Tiga puluh tahun berlalu dalam teror dan kengerian pada tahun 1609. Tidak ada yang berani membongkar kekejian Elizabeth, dan kenyataan pahit ini membuat Elizabeth memusnahkan satu generasi gadis perawan di wilayah sekitar kastilnya. Dia sudah kehabisan persediaan perawan untuk diperas darahnya. Maka mau tidak mau, Elizabeth memperluas jangkauan. Dia membuat semacam “sekolah kepribadian” bagi para gadis bangsawan muda, dan di sanalah akan diajarkan bagaimana mestinya bersikap seperti seorang bangsawan. Berdatanganlah gadis-gadis muda ke kastilnya, dan mereka pun hilang satu demi satu. Di titik inilah kekejian Elizabeth sampai pada akhirnya.</p>
<p>Ketika Elizabeth mengambil korban dari kalangan petani mungkin orang-orang mengabaikannya, tetapi tidak begitu ketika dia mengambil korban dari kalangan bangsawan. Seorang pendeta di wilayah sekitar kastil Cachtice bernama Istvan Magyari tak bisa menahan diri lagi untuk melaporkan berbagai temuannya tentang kengerian yang terjadi di kastil itu. Dia segera menghubungi otoritas setempat, yang pada awalnya mengacuhkan berbagai pengaduan yang mereka terima. Ketika yang tewas itu adalah gadis-gadis petani, mereka mengabaikannya, tetapi ketika yang tewas adalah gadis-gadis keturunan bangsawan, hal ini tak bisa lagi mereka diamkan.</p>
<p>Bertahun-tahun lamanya, anggota keluarga Báthory yang mengetahui kekejian Elizabeth menyembunyikan semuanya untuk mempertahankan kehormatan kebangsawanan mereka, tapi sekarang semuanya itu tidak bisa lagi. Laporan-laporan pendeta Magyari terus tersebar hingga akhirnya sampai juga di telinga Raja Hungaria, Matthias Corvinus. Maka sang raja memerintahkan seorang bangsawannya untuk memeriksa apa yang sedang terjadi di kastil Cachtice.</p>
<p>Bangsawan itu adalah Count Gyorgi Thurzo yang bergelar Lord Palatine of Hungary. Gyorgi sudah mengetahui kekejian yang dilakukan oleh Elizabeth ketika dia memimpin sebuah pasukan ke kastil Cachtice. Gyorgi adalah sepupu Elizabeth dan bahkan dia melindungi tindakan-tindakan keji Elizabeth. Namun, ketika dia datang ke kastil Cachtice pada 29 Desember 1610, matanya terbelalak, dan dia sadar bahwa kejahatan sepupunya itu lebih parah dari apa yang dia bayangkan.</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/kegiatan-mandi-darah-elizabeth/">bersambung&#8230;&#8230;&#8230;..</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cara-cara-penyiksaan-elizabeth/">Cara-Cara Penyiksaan Elizabeth</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/cara-cara-penyiksaan-elizabeth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1396</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Elizabeth Menjadi Seperti Apa Yang Dikenal Dunia Saat Ini</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2016 14:40:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1389</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Seekor kuda diikat kemudian perutnya dibelah, terbayanglah bagaimana darah yang mengalir deras dan kuda yang meringkik dan meronta kesakitan. Dalam keadaan seperti itu, orang Gipsi yang jadi tersangka ini dijejalkan ke dalam perut kuda yang terbelah tadi, kemudian dijahit kembali. Dia meronta-ronta di dalam tubuh kuda itu, begitu juga kudanya. Orang-orang menonton pertunjukan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Elizabeth Menjadi Seperti Apa Yang Dikenal Dunia Saat Ini</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/">Elizabeth Menjadi Seperti Apa Yang Dikenal Dunia Saat Ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Seekor kuda diikat kemudian perutnya dibelah, terbayanglah bagaimana darah yang mengalir deras dan kuda yang meringkik dan meronta kesakitan. Dalam keadaan seperti itu, orang Gipsi yang jadi tersangka ini dijejalkan ke dalam perut kuda yang terbelah tadi, kemudian dijahit kembali. Dia meronta-ronta di dalam tubuh kuda itu, begitu juga kudanya. Orang-orang menonton pertunjukan mengerikan itu dan pertunjukan baru berhenti ketika orang Gipsi dan kuda yang malang itu sudah tidak bergerak lagi. Pengalaman ini mungkin saja membentuk Elizabeth menjadi seperti apa yang dikenal dunia saat ini tentang dirinya.</p>
<p>Ferenc juga adalah seorang lelaki yang sadis, walaupun tetap saja kesadisannya dikalahkan oleh kesadisan istrinya. Dia memiliki sifat tempramental yang kalau tersulut akan membuatnya memukul dan mencambuk secara membabibuta. Karena itulah dia dikenal sebagai “Kesatria Hitam Dari Hungaria”. Ibunya sendiri mengatakan bahwa dia memang “agak bodoh”, tetapi dunia lelaki saat itu adalah dunia kekerasan dan peperangan. Reputasi seorang bangsawan lelaki dibentuk di medan perang, bukan di bangku-bangku sekolah. Membaca, menulis, dan belajar, identik dengan perempuan atau pendeta. Terlebih lagi ketika serangan-serangan pasukan Turki Utsmani seringkali menghantam wilayah Hungaria dan Polandia, sang Kesatria Hitam menjadi amat dibutuhkan di medan perang dan menjadi amat jarang pulang (seperti “bang Toyib”).</p>
<p>Di tengah-tengah kerajaan Eropa abad 16 berkembang perilaku menikah dengan anggota keluarga dekat (pada beberapa kerajaan bahkan mengarah pada incest). Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian darah bangsawan mereka sekaligus untuk menjaga kendali kekuasaan. Hal ini juga dilakukan oleh orangtua Elizabeth, George Báthory dan Anna Báthory, yang sama-sama dari keluarga Báthory. Model perkawinan seperti ini sebenarnya amatlah bermasalah, karena akan menghasilkan keturunan-keturunan yang buruk, baik secara mental maupun fisik. Banyak yang menderita schizophrenia, sadomasokisme, seksualitas ganda, dan sifat sadis murni seperti yang diwarisi Elizabeth.</p>
<p>Elizabeth sendiri menunjukkan gejala-gejala yang mencemaskan. Pada usia empat atau lima tahun dia mengalami kejang-kejang epileptik, pada perkembangan selanjutnya kejang-kejang ini menjadi kemarahan-kemarahan yang tidak tertahankan. Elizabeth pun memiliki ketidakstabilan mental, sekali waktu dia akan bersikap dingin dan menjauh, pada kali lain dia akan bersikap meledak-ledak dan kejam.</p>
<p>Sebagai putri seorang bangsawan besar tentu saja Elizabeth amat dimanja. Dia akan mendapatkan segala hal yang dia mau, dan dia akan melakukan apa pun yang dikehendakinya. Segala pendidikan kedisiplinan tidak diterapkan kepadanya. Dia tumbuh menjadi wanita yang angkuh dan sombong, amat mengagumi dan terobsesi dengan kecantikannya sendiri. Kita bisa bayangkan betapa menyebalkannya jika berada di dekat perempuan seperti ini.</p>
<p>Seperti yang telah disebut di atas, suami Elizabeth jarang sekali berada di rumah untuk waktu yang lama. Kekosongan ini jadi semakin parah ketika diisi oleh orang-orang yang keji. Elizabeth tinggal di kastil Cachtice yang terletak tinggi di Pegunungan Carpathia, sebelah barat laut Hungaria, dan ditemani oleh Klara, bibinya yang masokis dan kejam, juga ahli mencambuk. Ada juga pelayannya yang bernama Thorko, yang memperkenalkan ilmu gaib dan ilmu meracik berbagai racun dan ramuan. Pengaruh teman memang sangat luar biasa, dan lengkaplah sudah</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/elizabeth-begitu-memuja-kecantikannya/">bersambung&#8230;&#8230;.</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/">Elizabeth Menjadi Seperti Apa Yang Dikenal Dunia Saat Ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1389</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Waduh ada cewe yang Mandi Darah</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/waduh-ada-cewe-yang-mandi-darah/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/waduh-ada-cewe-yang-mandi-darah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2016 14:31:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1386</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul di atas memang bukanlah sekadar kiasan. Dahulu pernah ada seorang wanita yang benar-benar mandi dengan darah. Dalam kisah ini, akan kita lihat betapa lihai setan memperdaya dan membisiki kesesatan kepada hati dan pikiran manusia. Tersebutlah seorang perempuan bangsawan, Countess Elizabeth Báthory de Ecsed, dinobatkan sebagai wanita pembunuh paling produktif (most prolific female murderer) karena &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/waduh-ada-cewe-yang-mandi-darah/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Waduh ada cewe yang Mandi Darah</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/waduh-ada-cewe-yang-mandi-darah/">Waduh ada cewe yang Mandi Darah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas memang bukanlah sekadar kiasan. Dahulu pernah ada seorang wanita yang benar-benar mandi dengan darah. Dalam kisah ini, akan kita lihat betapa lihai setan memperdaya dan membisiki kesesatan kepada hati dan pikiran manusia.</p>
<p>Tersebutlah seorang perempuan bangsawan, Countess Elizabeth Báthory de Ecsed, dinobatkan sebagai wanita pembunuh paling produktif (most prolific female murderer) karena aksi pembunuhan dan penyiksaan yang dia lakukan antara tahun 1585 hingga 1610, oleh Guinness Book of World Record. Sepertinya Guinness memang tidak main-main ketika menyematkan gelar itu kepadanya, dan kita akan segera mengetahuinya.</p>
<p>Ensiklopedia Britannica mencatat, Elizabeth Báthory dilahirkan pada 7 Agustus 1560 di <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Ny%C3%ADrb%C3%A1tor">Nyírbátor</a>, Hungaria, dan menjalani masa kanak-kanaknya di Kastil Ecsed. Ayahnya adalah George Báthory dari cabang keluarga Ecsed, saudara dari Andrew Bonaventura Báthory yang menjabat sebagai Voivode Transylvania. Ibunya adalah Anna Báthory, putri dari Stefan (atau Stephen) Báthory, juga salah seorang Voivode Transylvania dari cabang keluarga Somlyó. Dari sisi ibunya, Elizabeth adalah keponakan Stefan Báthory, Raja Hungaria, Polandia, dan Lithuania, sekaligus Pangeran Transylvania. Terlahir dari keluarga seperti ini, membuat Elizabeth menikmati kekayaan berlimpah, terkenal, terpelajar, menikmati hidup yang amat nyaman, sekaligus manja. Sebuah model kehidupan yang bukan hanya menghasilkan kebaikan, tetapi juga banyak keburukan.</p>
<h3>Brenda Ralph Lewis dalam A Dark History</h3>
<p>Tentunya Elizabeth tumbuh dalam perawatan fisik yang baik. Dia semakin dewasa dengan kecantikan di atas rata-rata, dan seperti yang dijelaskan oleh Brenda Ralph Lewis dalam A Dark History: Kings ang Queens of Europe, “Elizabeth adalah tangkapan yang hebat untuk suami yang ambisius, dan sejumlah pelamar telah menunjukkan ketertarikan mereka ketika Elizabeth muncul dalam ‘pasar calon pengantin wanita’ pada tahun 1570.”</p>
<p>Lelaki beruntung itu bernama Ferenc Nadasdy, seorang bangsawan yang derajatnya lebih rendah daripada keluarga Báthory. Karena bagi Ferenc pernikahan dengan Elizabeth adalah untuk meningkatkan derajatnya, maka dia membiarkan istrinya tetap memakai nama Báthory ketimbang Nasasdy. Bangga sekali bisa mendapatkan seorang istri cantik dari keluarga Báthory. Pernikahan mereka diselenggarakan pada 8 Mei 1575, ketika itu Ferenc berusia 25 tahun dan Elizabeth berusia 14 tahun. Ada satu persamaan penting dari mereka berdua: sama-sama sadis.</p>
<p>Pada abad 16, kaum Gipsi dipandang sebagai bangsa setengah manusia yang bisa diperlakukan sewenang-wenang, bahkan bisa ditembak seketika seperti memukul kecoak dengan sandal. Ketika masih kanak-kanak, Elizabeth pernah menyaksikan eksekusi atas seorang kaum Gipsi ini yang amat kejam. Orang Gipsi yang malang ini dituduh berkhianat dan hukuman bagi perbuatan itu (walau baru sekadar tuduhan) adalah kematian. Hanya saja bukan kematian itu sendiri yang mengerikan, tetapi bagaimana caranya.</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/elizabeth-menjadi-seperti-apa-yang-dikenal-dunia-saat-ini/">bersambung,,,</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/waduh-ada-cewe-yang-mandi-darah/">Waduh ada cewe yang Mandi Darah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/waduh-ada-cewe-yang-mandi-darah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1386</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cut Nyak Dien: Ratu Perang</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/cut-nyak-dien-ratu-perang/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/cut-nyak-dien-ratu-perang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2016 01:48:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Cut Nyak Dien]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Perang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1349</guid>

					<description><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Wanita yang seolah terbuat dari baja ini hidup sekitar 140 tahun yang lalu, amat jauh jaraknya dengan zaman kita sekarang. Namanya pun mungkin hampir saja dilupakan oleh generasi kita, dan kalau pun ada yang masih ingat, tak lebih sekadar karena ada nama jalan yang mengambil namanya. Padahal ketika namanya disebut, saat itulah akan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/cut-nyak-dien-ratu-perang/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Cut Nyak Dien: Ratu Perang</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cut-nyak-dien-ratu-perang/">Cut Nyak Dien: Ratu Perang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Wanita yang seolah terbuat dari baja ini hidup sekitar 140 tahun yang lalu, amat jauh jaraknya dengan zaman kita sekarang. Namanya pun mungkin hampir saja dilupakan oleh generasi kita, dan kalau pun ada yang masih ingat, tak lebih sekadar karena ada nama jalan yang mengambil namanya. Padahal ketika namanya disebut, saat itulah akan tergambar tentang kegigihan dan perjuangan. Dialah sosok pejuang yang begitu ditakuti penjajah Belanda semasa dia masih hidup, dan namanya dikenang ketika dia sudah tiada. Dialah Cut Nyak Dien: Ratu Perang. Dan tulisan yang amat sederhana ini hendak mengisahkan kembali kegigihan dan perjuangannya yang mengagumkan.</p>
<p>Pada Maret 1873, Belanda mengumumkan perang secara resmi kepada <a href="http://majalahdrise.my.id/mawar-perang-perang-sabil/">Aceh</a> (saat itu masih berbentuk kesultanan). Deklarasi perang yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, ini disusul oleh datangnya balatentara Belanda sebanyak 3000 prajurit. Di bawah kepemimpinan Jenderal Johann Harmenn Rudolf Kohler, Belanda membombardir Aceh, namun Muslim Aceh menolak menyerah. Dengan semangat jihad berkobar di dalam dada, mereka melawan dengan persenjataan yang mereka miliki. Belanda gagal menguasai Aceh setelah Kohler tertembak di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, dan seluruh kekuatan militer Belanda ditarik mundur ke Batavia.</p>
<p>Pada November tahun itu juga, Belanda kembali mengirimkan ekspedisi militer kedua ke Aceh. Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak, dan persenjataan yang jauh lebih lengkap, Belanda menyerbu Aceh. Di bawah kepemimpinan seorang Jenderal tua, Jan van Swieten, Belanda akhirnya berhasil merebut istana Sultan Aceh, Darud Dunya, dan merebut Banda Aceh.</p>
<p>Belanda mengira bahwa dengan dikuasainya Banda Aceh dan istana sultan berarti seluruh Aceh secara otomatis sudah ditaklukkan, padahal tidak. Sultan Mahmud Shah yang melarikan diri pada akhirnya wafat dan dikebumikan di Longbata. Setelah ini, dimulailah Perang Aceh yang bertahan hingga puluhan tahun.</p>
<h2>Cut Nyak Dien: Ratu Perang</h2>
<p>Seperti dikutip dari <em>De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch Indie van 1811 tot 1894</em> karya G.B. Hooijer, di dalam pengantar penerjemah untuk buku <em>Atjeh</em> karya H.C. Zentgraff, terdapat gambaran tentang betapa gigihnya Muslim Aceh berperang: “Tidak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya. Oleh sebab itu, perang Belanda di Aceh akan tetap menjadi sumber pelajaran bagi pasukan kita. Dan karena itu pula saya menganggap tepat sekali jika jilid III atau terakhir sejarah perang (Belanda di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan guna menguraikan peperangan di Aceh.” Perang Aceh, sebuah perang besar yang melibatkan Cut Nyak Dien di dalamnya.</p>
<h2>Biografi Cut Nyak Dien</h2>
<p>Cut Nyak Dien dilahirkan pada 1848 atau 1858 di Lampadang, wilayah Enam Mukim, di Banda Aceh. Dia adalah putri dari Teuku Nanta Seutia, Uleebalang Enam Mukim. Dididik dengan wawasan Islam yang kental semenjak kecil membuat Cut Nyak Dien mencintai agamanya dan negerinya sebagaimana diajarkan Islam. Ini pulalah yang membuatnya benci setengah mati kepada Belanda. Dia adalah wanita yang amat berpengaruh, dan sedemikian besarnya pengaruhnya sampai-sampai Belanda menyadarinya. Inilah yang dicatat oleh koran Bataviaasche Handelsblad yang terbit di Batavia sekitar tahun 1894: “<em>Zoo, staat Teuku Umar de man van het oogenblik in Groot Atjeh, geheel onder den invloed van zijn Tjut Nya’ Din</em>,” (demikianlah, Teuku Umar, orang paling penting dewasa ini di Aceh Besar, sepenuhnya berada di bawah pengaruh istrinya, Cut Nyak Dien) (Mohammad Said, hal. 247. 1965).</p>
<p>Mohammad Said juga menyatakan bahwa Belanda seringkali menyebut “<em>Shruck</em>” (bajingan) kepada Teuku Umar karena pengkhianatannya, tetapi mereka tidak pernah menyebut demikian kepada Cut Nyak Dien. Padahal sudah banyak nyawa prajurit Belanda yang melayang karena strategi-strateginya. C. van der Pol pun berkomentar tentang Cut Nyak Dien: “&#8230;<em>een der merkwaardigeste vrouwen in Nederland Indie</em>,” (salah seorang wanita yang paling menakjubkan di Hindia Belanda).</p>
<p>Bekas Residen Belanda Jongejans menulis tentang Cut Nyak Dien: “Sebagai istri-istri dari banyak pemimpin pejuang, Cut Nya’ Din lebih sangat fanatik lagi dari suaminya, dalam hal tidak mengenal takluk. Segala kisah tentang dia serupa ceritanya, terutama bagaimana Nya’ Din senantiasa mendorong dan menggosok suaminya supaya tetap jihad memerangi Belanda. Satu diantara sebab utama maka Umar balik lagi ke pangkuan perjuangan Aceh adalah karena Cut Nya’ Din. Dia menemani Umar ke mana saja, turut merasa pahit pedih perjuangan dan terus mengingatkan bahwa meski bagaimanapun tak bolehlah menyerah. Bahkan sejak Umar wafat, ruh suaminya memberi dorongan kepadanya untuk terus tabah menderita, menyambut kelanjutan pahit perjuangan bersama-sama dengan pengikutnya. Begitulah, masuk dan keluar desa, masuk dan keluar belantara, naik dan turun gunung, dia pun semakin uzur dan rabun, namun dia terus memimpin pengikutnya, diburu dan memburu, tiada waktu mengasoh dari menjaga terhindar dari sergapnya patroli Belanda.”</p>
<p>Lebih jauh lagi, Jongejans berkata: “Maar nog was haat wil niet gebroken.” Yang artinya “namun bencinya tidaklah padam.” Kemudian Jongejans menyimpulkan: &#8220;Zij is slechts eene in de rij der vrouwen,” (Hanya dia seoranglah satu-satunya dari antara kaum wanita).</p>
<h2>Cut Nyak Dien :  janda Teuku Umar yang ulet</h2>
<p>Pengaruh Cut Nyak Dien yang amat besar dijelaskan lebih lanjut oleh C. van der Pol: “Apa yang mereka lakukan adalah pada pokoknya karya Cut Nyak Dien sendiri. Serangan-serangan klewang yang hebat-hebat yang dialami oleh Belanda umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas instruksi Cut Nyak Dien sendiri. Lebih lagi, di kemudian hari apa yang dikerjakannya terutama di Aceh Besar betul-betul menurut petunjuknya.”</p>
<p>Dalam Kolonial Verslag 1905, nama Cut Nyak Dien pun diabadikan sebagai janda Teuku Umar yang ulet. “Cut Nya’ Din, die energieke weduwe van Teuku Umar, werkte ons vooral in Boven Meulaboh krachtig tegen,” (Cut Nyak Dien, janda Teuku Umar yang enerjik itu merintangi kita dengan hebat terutama di Meulaboh Hulu). Betapa enerjiknya Cut Nyak Dien terlihat pada sebuah laporan resmi Belanda. Sebuah pertempuran pecah pada 30 September 1902 antara pasukan Komandan Scheepers melawan pasukan Sultan Aceh di Pameue, dan Cut Nyak Dien turut bertempur di sana.</p>
<p>Sudah banyak tokoh besar militer Belanda yang mati-matian menangkap Cut Nyak Dien, tetapi tetap saja tidak berhasil. Mereka adalah van Heutsz, van Daalen, van der Maaten, Veltman, H. Colijn, Christoffel, dan masih banyak lagi yang lainnya. Cut Nyak Dien tidak akan bisa ditangkap kecuali oleh pengkhianatan bangsanya sendiri.</p>
<p>Mungkin sedikit sekali yang mengetahui bahwa Cut Nyak Dien dengan Teungku Cik di Tiro punya hubungan besan. Anak lelaki Teungku Cik di Tiro yang bernama Teungku Cik Mahyed menikah dengan anak perempuan Cut Nyak Dien, yang bernama Cut Gambang. Pasangan pejuang ini mewarisi kegigihan orangtua mereka. Cut Gambang selalu menyertai ke manapun suaminya berjuang hingga akhir itu datang di tahun 1910. Zentgraff, seorang wartawan dan mantan prajurit Belanda, mengisahkan sekelumit tentang Cut Gambang dalam sebuah karyanya, <em>Atjeh</em>.</p>
<p>“Seperti telah diceritakan, pada tahun 1909 dimulailah pengejaran-pengejaran terhadap anggota-anggota terakhir keluarga ulama Tiro (keturunan Teungku Cik di Tiro) yang terkenal di gunung-gunung di sekitar Tangse. Schmidt (seorang komandan Marsose) telah mengetahui jejak-jejak mereka itu dan mengikutinya seperti seekor anjing buruan. Akhri tahun 1910 hampir-hampir saja ia dapat menangkap pasukan lawan; ia menyerbu ke tempat-tempat persembunyian mereka. Teungku Mahyed di Tiro dapat melepaskan dirinya, ini artinya penundaan hidupnya untuk beberapa hari lagi, tetapi istrinya jatuh ke tangan kita dalam keadaan luka parah.</p>
<p>Ketika pasukan selesai melakukan pembersihan di daerah itu barulah diketahui kehadiran wanita itu. Ia berseluar dan berbaju hitam, badannya tegap, berumur kira-kira tiga puluh tahun. Ia tertidur telentang dengan luka-luka akibat tembakan di perutnya. Juga dalam penderitaan ini ia menampakkan wajahnya yang gagah berani. Walau bagaimanapun sakit yang dideritanya, namun ia tidak mengerang dan tanpa bersuara ia menanti akhir hidupnya.</p>
<p>Schmidt mendekatinya dengan membawa air minum, dan secara sopan ia bertanya dalam bahasa Aceh apakah ia tidak ingin dibalut lukanya. Dengan membuang mukanya wanita itu menghardik: ‘Bek kamat kee, kaphe budok’ (jangan kau sentuh aku kafir kusta). Ia lebih menyukai kematian daripada hidup di tangan seorang kafir.”</p>
<p>Tentang Cut Nyak Dien, Zentgraff menggambarkan dengan lebih dramatis lagi. “Sesudah Teuku Umar tewas, wanita itu lebih suka hidup bertualang di hutan-hutan daripada menyerah kalah kepada musuhnya; ia telah bertahan demikian rupa, walaupun jumlah pengikutnya semakin mengecil. Ia menjadi tua, matanya buta, namun semua itu tidak menjadi penghalang untuk mematahkan semangatnya. Ia menderita kepalaran di hutan-hutan, sementara patroli Marsose memburunya dari satu tempat ke tempat pesembunyian lainnya. Pernah terjadi, bahwa sampai berminggu-minggu lamanya ia tak pernah merasakan sesuap nasi dan harus makan umbut pisang liar. Lebih kurang enam tahun lamanya ia bertahan dalam keadaan demikian. Pada masa jayanya ia berdiri di samping sederet nama-nama wanita paling hebat di daerahnya. Karenanya orang dapat membayangkan berapa besar pengorbanan yang telah diberikannya untuk kepentingan bangsanya.”</p>
<p>Seperti diceritakan oleh Zentgraff dan Muhammad Said, penangkapan Cut Nyak Dien terjadi dengan amat dramatis dan menyedihkan. Pada September 1905, pasukan Letnan Vastenou telah berhasil memergoki Cut Nyak Dien di suatu persembunyian yang disebut Jambo di Boer Berawan (Pameue). Pasukan Cut Nyak Dien melawan dengan hebat, tapi karena menghadapi jumlah pasukan yang jauh lebih besar, pasukan Cut Nyak Dien terpaksa mengundurkan diri. Ada lima orang lelaki yang tewas dan seorang wanita dari pasukan Cut Nyak Dien. Karena menyangka bahwa wanita yang tewas itu adalah Cut Nyak Dien sendiri, maka Vastenou melapor telah menewaskan Cut Nyak Dien.</p>
<p>Sebulan kemudian barulah ketahuan bahwa wanita yang tewas itu bukanlah Cut Nyak Dien, melainkan wanita yang sengaja dijadikan mirip dengan Cut Nyak Dien untuk melindungi tokoh besar itu. Tak lama kemudian, seorang pejuang Aceh mantan pengawal Teuku Umar yang kemudian menjadi pengawal <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien">Cut Nyak Dien</a>, bernama Pang Laot, tiba-tiba muncul di sebuah bivak Belanda. Bivak itu dipimpin oleh Letnan van Vuuren. Pang Laot memberitahu bahwa kedatangannya bukan untuk menyerah. Kalau dia diserang maka dia akan melawan walau harus tewas. Dia mengatakan bahwa kedatangannya hendak menyerahkan Cut Nyak Dien kepada Belanda dengan syarat Belanda bersikap baik kepadanya.</p>
<p>Segeralah van Vuuren membawa Pang Laot kepada atasannya, Kapten Veltman. Pang Laot akan memandu pasukan Belanda untuk mencari Cut Nyak Dien di Pameue. Tanggal 23 Oktober 1905, Veltman menggerakkan pasukannya sebanyak 6 brigade (satu brigade sebanyak 20 bayonet). Dua hari berjalan barulah sampai di sebuah Jambo yang diduga oleh Pang Laot masih mungkin untuk menyergap Cut Nyak Dien di situ. Ternyata pasukan Belanda malah menemukan orang lain di situ, Panglima Habib Panjang, yang memang diperintahkan Cut Nyak Dien untuk bersiaga di daerah itu. Habib Panjang menyiapkan serangan dengan tergesa-gesa karena terlanjur ketahuan, pertempuran yang tidak seimbang pun terjadi dan saat itulah Habib Panjang tewas.</p>
<p>Perjalanan pun dilanjutkan, pasukan Belanda bersama Pang Laot melintasi hutan-hutan daerah Beutong yang liar dan dalam. Perjalanan ini amatlah berat karena rimba sangat rapat dan setelah tiga hari, barulah mereka tiba di Beutong. Pasukan Veltman tidak berhasil mencapai Jambo persembunyian Cut Nyak Dien, bekas jalan kaki tidak ada, semua jejak sudah dihilangkan, mereka seolah masuk rimba belantara yang tidak pernah dipijak umat manusia. Pang Laot pun bantu mencari kesana-kemari namun tidak menemukan apa-apa. Diputuskanlah untuk dengan sabar menunggu saja sampai beberapa hari sekuat perbekalan.</p>
<p>Pada 7 November 1905, tiba-tiba Pang Laot datang ke bivak pasukan Belanda bersama seorang anak kecil yang ternyata disuruh untuk mencari makanan. Setelah dibujuk dan diancam, anak itu akhirnya membeberkan tempat persembunyian Cut Nyak Dien. Setelah melakukan persiapan pasukan, Veltman memimpin menembus hutan untuk memburu Cut Nyak Dien. Pada salah satu sudut hutan, akhirnya Ratu Perang itu ditemukan hanya berdua dengan putrinya, Cut Gambang. Ketika sergapan itu datang, Cut Nyak Dien segera pasang badan dan mendorong putrinya agar segera melarikan diri. Karena sasaran sergapan itu adalah Cut Nyak Dien, maka Cut Gambang tidak dikejar.</p>
<p>Mati-matian Cut Nyak Dien melawan dengan rencong di tangan. Prajurit Belanda hanya menyaksikan Cut Nyak Dien mengibaskan rencongnya menerjang angin. Tiba-tiba Pang Laot melompat dan menerjang Cut Nyak Dien hingga rencong itu terlepas dari tangannya. Cut Nyak Dien menyumpah serapah atas pengkhianatan itu. Ketika ditemukan Belanda, kondisi Cut Nyak Dien memang amat memprihatinkan, tubuhnya lemah dan kurus. Cut Nyak Dien ditandu dan harus menempuh perjalanan beberapa hari untuk keluar dari hutan hingga tiba di Meulaboh. Pada tahun 1907 beliau dibuang ke Sumedang dan wafat di sana.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cut-nyak-dien-ratu-perang/">Cut Nyak Dien: Ratu Perang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/cut-nyak-dien-ratu-perang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1349</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
