<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Roman Hattin Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/roman-hattin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Oct 2017 22:14:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>ROMAN HATIN EPISODE 07 (TAMAT)</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-07-tamat/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-07-tamat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2017 01:13:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[Roman Hattin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2726</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sultan Shalahuddin menempatkan pasukan panah yang  bersiaga di atas bukit-bukit kecil untuk menghujani Pasukan  Salib dengan panah. Pasukan utama di tengah, dipimpin  S langsung oleh Sultan sendiri, terdiri dari kavaleri dan infanteri.  Pasukan sayap kiri dipimpin Al-Afdal. Aku dan Phillipe di dalam  pasukan sayap kanan, dan aku menjadi komandannya. Siang makin terik di padang rumput &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-07-tamat/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">ROMAN HATIN EPISODE 07 (TAMAT)</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-07-tamat/">ROMAN HATIN EPISODE 07 (TAMAT)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sultan Shalahuddin menempatkan pasukan panah yang  bersiaga di atas bukit-bukit kecil untuk menghujani Pasukan  Salib dengan panah. Pasukan utama di tengah, dipimpin  S langsung oleh Sultan sendiri, terdiri dari kavaleri dan infanteri.  Pasukan sayap kiri dipimpin Al-Afdal. Aku dan Phillipe di dalam  pasukan sayap kanan, dan aku menjadi komandannya. Siang makin terik di padang rumput itu dan pasti akan  semakin menyiksa Pasukan Salib.</p>
<p>Sementara kami telah mengisi  penuh kantung-kantung air kami. Ketika hari sudah sampai di  tengah-tengahnya, kami lihat pasukan kafir itu datang. Ketika  mereka sudah memasuki jarak tembak, Sultan memerintahkan  pasukan panah untuk menembak. Aku melihat ribuan anak panah  berjatuhan ke arah pasukan kafir itu seperti air hujan jatuh ke bumi.  Kamilah yang menjadi awan hitam dari hujan panah kematian itu.  Pasukan salib itu berlindung di belakang tameng-tameng mereka.  Mereka berjatuhan tertusuk panah. Ada yang di mata, leher, kepala,  dan bagian tubuh mereka yang lain. Pasukan panah kafir balas  menembak kami.</p>
<p>Kami pun berlindung di balik perisai. Mereka  makin dekat. Sultan Shalahuddin mengangkat bendera hitam berukir  kalimat syahadat itu dan berteriak, “Innallaha ma&#8217;ana…….Allaaaahu  Akbarrr”. Sultan mengacungkan pedangnya dan gema takbir dari  seluruh prajurit menggelegar memenuhi angkasa menggentarkan  Pasukan Salib. Takbir, di mana-mana takbir. Aku percaya ribuan  malaikat telah turun dari langit membantu pasukan muslim, dan  orang-orang yg ingkar itu akan segera kami kalahkan. Pasukan yang dipimpin Al-Afdal maju lebih dahulu</p>
<p>.</p>
<p>“Hari ini pasukan kafir akan musnah…Allaaaahu Akbarrr.”,  pekik Al-Afdal.</p>
<p>Pasukannya maju menyerbu pasukan kafir  dari sisi kiri. Perang pecahlah sudah.! Pasukanku masih tetap bertahan di posisinya,  menunggu perintah dari Sultan. Aku melihat jumlah  Pasukan Salib begitu banyak dan tidak sebanding dengan  jumlah pasukan muslim. Mereka mengusung panji-panji  salib, dan membawa sebuah tiang salib yang sangat  besar, serta memakai pakaian perang berlambang salib  merah. Pasukan muslim tak gentar dan terus maju  menyerang. “Pasukan muslim sungguh perkasa!”, Tiba-tiba  Phillipe bicara. Aku tersenyum mendengar kata-katanya.  “Aku sudah lama merasakannya. Bahkan sebelum aku  menjadi muslim, aku selalu bertanya-tanya mengapa  pasukan muslim begitu berani. Dan sekarang aku sudah  tahu jawabannya.”.</p>
<p>“Kau bagian dari pasukan muslim sekarang. Aku  melihat kau pun bertempur dengan gagah berani!”,  kataku. “Aku belum pernah sama sekali merasakan seperti  apa yang aku rasakan sekarang.”, katanya. “Menjadi  muslim sungguh bahagia. Aku merasakan keberanian di  dalam jiwaku, lebih dari saat aku menjadi Kristen. Sebab  aku tahu aku berperang untuk sesuatu yang lebih tinggi,  lebih mulia. Sebab aku tahu apa yang aku bela adalah  benar.”. Tiba-tiba aku melihat air muka Phillipe berubah.  Dia terlihat seperti orang terkejut dan keheranan karena  memandang sesuatu yang menakjubkan. Sedetik  kemudian dia tersenyum. Matanya tertuju kepada satu  titik. Jarinya menunjuk kepada sesuatu. “Kau lihat itu,  Ahmad?”, katanya. “Itulah Kerajaan Sorga.”.</p>
<p>Aku keheranan. Aku mengikuti ke mana arah  pandangan dan telunjuknya. Yang aku lihat hanya  kecamuk pertempuran dan darah, serta karang tanduk  Hattin yang mencuat angkuh di tengah-tengahnya.  “Taman-tamannya sungguh indah.”. “Itu dia!”, katanya. Aku makin tidak mengerti apa  yang dibicarakan Phillipe. “Selalu saja perempuan itu!  Selalu saja dia! Lihatlah ke sana, Ahmad! Lihatlah!”. Aku tidak berkata apa2. Aku benar2 tidak  mengerti. Phillipe bersemangat me-nunjuk2 sesuatu yang  tidak jelas. “Mari Ahmad, kita ke sana! Ayolah kita ke sana  bersamaku!! Aku ingin segera ke sana!”, Phillipe  memaksaku untuk segera maju, dia me-narik2 tali kekang  kudaku.  “Lihatlah, pintunya penuh cahaya. Akhirnya aku  temukan Kerajaan Sorga”.</p>
<p>“Sebentar, Phillipe!”, aku menahannya,  kugenggam tangannya. “Sultan belum memerintahkan  kita maju. Sebentar!!”. “Ayolah! Aku tidak sabar lagi. Aku ingin ke sana!”,  Phillipe mencengkeram tanganku, namun matanya tak  mau lepas dari satu titik yang dia lihat. “Maafkan aku, Ahmad! Aku duluan!”, Phillipe  memacu kudanya dan melarikannya dengan cepat  meninggalkanku. dia menyongsong musuh sendirian. “Philliiiiiipe!!!”, aku berteriak memanggilnya.</p>
<p>Dia  tidak mendengarku. Dia masuk ke dalam kabut kecamuk  perang yang membubung ke angkasa. Aku tidak bisa  melihatnya lagi. Tak lama kemudian kami melihat pasukan musuh  sudah terdesak ke padang rumput Hattin. Karang tanduk  Hattin berdiri tidak peduli. Pasukan yang ditempatkan di sana  sebelumnya telah mengepung dan mulai menghancurkan  mereka. Sultan mengangkat bendera hitamnya dan aku  pekikkan, “Allaaaaahu Akbar….”. Kami maju bersama-sama  menuruni bukit dan menyerbu padang rumput yang basah  oleh darah itu. Kupimpin pasukanku memukul mundur  pasukan kafir. Kuayunkan pedangku menghantam tentara  musuh, sebagai hukuman bagi mereka sebab telah membuat  kerusakan di muka bumi.</p>
<p>Aku menusukkan pedangku ke  tubuh-tubuh kotor mereka, dan aku penggal leher-leher  sombong mereka. Tuhan yang esa akan memberi kami  kemenangan!! Aku merangsek maju, makin rapat pada tanduk  Hattin. Aku mencari Phillipe di tengah-tengah pertempuran  itu. Samar-samar aku melihat Phillipe sedang bertarung  dengan Amalric, adik Raja kafir Jerussalem, persis di sisi  tanduk Hattin yang jauh di depan, dan masih menjadi area  yang dikuasai musuh. Dia berhasil menusukkan pedangnya  ke jantung Amalric dan robohlah dia bersimbah darah.</p>
<p>Pekik  takbir membahana, dan aku lihat Reynald de Chatillon  menebasnya dari belakang hingga melukai punggungnya.  Lantas Reynald de Chatillon menendangnya sampai jatuh.  Tenggelamlah dia dalam kecamuk. Aku tak bisa melihatnya  lagi. Aku meraungkan takbir, aku maju menerjang ke  tengah-tengah musuh. Menghancurkan dan membunuh  mereka semua untuk menaati perintah Tuhan. Akan aku kejar  Reynald de Chatillon, si pembantai kafir itu. Sayang  langkahku tertahan oleh rapatnya peperangan. Kuayunkan  pedangku menusuk dan memenggal. Seorang Prajurit salib  melukai tanganku, tapi aku tak merasakannya.</p>
<p>Aku cabik  perutnya dan aku tendang kepalanya, darahnya berurai. Sultan Shalahuddin bertarung dengan perkasa. Dia  benar-benar murka kepada orang-orang kafir yang selalu  membantai kaum muslim. Perang terus berkecamuk. Guy de  Lusignant membuat barikade pertahanan di dekat tanduk  Hattin. Pasukan muslim mengepung mereka semalaman,  membuat mereka kehausan dan kelaparan dalam barisan  barikade mereka sendiri. Kucari-cari lagi Phillipe di sekitar  Tanduk Hattin, tapi tak kutemukan. Aku tidak mengerti ke  mana dia pergi, padahal aku lihat dia jatuh di sekitar situ.  Hingga fajar menyingsing kami berhasil menghancurkan  pasukan kafir sehancur-hancurnya. Sungguh sebuah  kemenangan yang luar biasa.</p>
<p>Pagi itu, begitu perang reda, aku terus mencari  Phillipe. Akhirnya aku temukan dia duduk bersandar di salah  satu sisi Tanduk Hattin. Wajahnya tertunduk kepada bumi.  Bibirnya tersenyum, sebab Tuhan telah meluluskan cita-citanya, memasuki Kerajaan Sorga yang selalu dia nyanyikan  selama ini. Dia telah syahid! Aku berlutut di sisinya. Di tangan  kirinya dia genggam Alquran bersampul putih pemberianku  yang saat itu telah berubah merah karena bersimbah  darahnya. Tangan kanannya memegang pedang dengan  kokoh sampai akhir. Aku berlutut di sisinya, menunduk  hormat dengan takzim menjunjung tinggi seorang mujahid  mulia. Betapa Tuhan menyayangimu, saudaraku. Bisik  hatiku. Kemarin malam dia baru saja masuk Islam, hari ini dia  kutemukan telah syahid sebagai seorang pahlawan Islam.  Aku cium kedua pipinya, kupeluk erat dia buat yang terakhir  kali. Aku simpan Alquran dan darahnya yang suci. Air mata  sudah tidak bisa aku tahan lagi.</p>
<p>Sultan Shalahuddin menepuk pundakku. Dia berdiri di  belakangku. “Betapa bahagianya Phillipe!”, katanya. Sultan  berlutut di sisinya. Dipeluknya Phillipe, dan diciumnya kedua  pipinya. Segera kuhapus air mataku. Aku mengubur  jenazahnya yang berbalut kemuliaan darah dan baju  perangnya di bawah bayang2 matahari pagi di Tanduk Hattin.  Aku berdoa di pusaranya! Aku berdoa kepada Tuhan, aku  harap Dia memberi aku kehidupan dan kematian yang indah  seperti dia.  Dengan tangannya sendiri, Sultan Shalahuddin  memenggal leher Reynald de Chatillon, sebagai balasan atas  kebiadaban yang sudah dia lakukan. Kemenangan ini menjadi  kemenangan besar bagi kaum muslim, sebab tak beberapa  lama kemudian Tanah Suci Jerussalem berhasil kami  taklukkan. Kami berhasil mengembalikan kesucian kota itu  dengan cahaya dan kesempurnaan Islam. Dan hari itu aku  saksikan, segala janji telah ditepati….[]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-07-tamat/">ROMAN HATIN EPISODE 07 (TAMAT)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-07-tamat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2726</post-id>	</item>
		<item>
		<title>ROMAN HATIN EPISODE 5</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-5/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-5/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2017 00:51:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[Roman Hattin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2723</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beginilah kebiasaan kami setiap malam.”, kata Ahmad. “Sebagian dari  kami sholat tahajjud dan sebagian lagi menjaga kemah. Kami bergiliran  Bmelakukannya. Semuanya itu akan diganjar pahala oleh Allah.”. “Demi tuhan aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Sungguh  pemandangan yang sangat indah.”, kataku takjub. “Sultan menjadi imam di depan sana.”, Ahmad menunjuk. “Sholatnya  sudah selesai, mari &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-5/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">ROMAN HATIN EPISODE 5</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-5/">ROMAN HATIN EPISODE 5</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beginilah kebiasaan kami setiap malam.”, kata Ahmad. “Sebagian dari  kami sholat tahajjud dan sebagian lagi menjaga kemah. Kami bergiliran  Bmelakukannya. Semuanya itu akan diganjar pahala oleh Allah.”. “Demi tuhan aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Sungguh  pemandangan yang sangat indah.”, kataku takjub. “Sultan menjadi imam di depan sana.”, Ahmad menunjuk. “Sholatnya  sudah selesai, mari aku antar kau menemui Sultan.” Ahmad mengantarku menyusuri barisan demi barisan Prajurit Saracen  yang sedang beribadah itu ke tempat paling depan untuk menemui Saladin. Aku  melihat Prajurit2 Saracen terkejut begitu melihat aku ada di depan mereka.  Apalagi aku masih mengenakan mantel salibku.</p>
<p>“Assalamu&#8217;alaikum, Sultan!”, kata Ahmad. Akhirnya sampailah aku di  hadapan Saladin. Dia duduk bersila di atas sebuah karpet yang berumbai di tiap  sisinya. Di belakangnya ribuan prajurit Saracen dalam posisi yang sama,  menghadap ke arah yang sama. Aku melihat ada kecurigaan di mata mereka  saat memandangku. “Wa&#8217;alaikumussalam.!”, sahut Saladin. “Silakan duduk wahai Ahmad!”.  Suara Saladin berat, namun lembut. Ada kerinduan dalam hatiku untuk selalu  mendengar suaranya saat membaca bacaan ketika beribadah tadi. Sungguh  syahdu dan damai di telingaku. Air muka Saladin sungguh tenang dan  bercahaya. Aku berdiri di belakang Ahmad. Saladin  melihatku namun dia tersenyum, tak ada raut  kecurigaan di wajahnya padahal salib besar warna  merah darah terpampang di mantelku yang  menandakan bahwa aku adalah musuhnya. Janggutnya  hitam dan matanya tajam cemerlang. Dia sangat tegap  dan perkasa untuk pria seusianya.</p>
<p>Aku sering melihat  dia bertempur dengan gagah yang membuatnya terlihat  lebih muda daripada usianya yang sebenarnya. Dia  memakai sorban putih yang diselendangkan di salah  satu bahunya. Pedangnya siaga di sisinya. Ahmad duduk di hadapan Saladin. Dia menuntun  tanganku untuk duduk di sebelahnya. Duduklah aku di  hadapan ribuan tentara Saracen, yang membuat  jantungku berdegub lebih kencang. “Sultan, doa Sultan telah dikabulkan Allah.”, kata  Ahmad. “Inilah dia laki2 yang telah menolongku itu,  Sultan. Dia datang sendiri untuk menemuimu.”. Saladin tersenyum padaku. Aku gemetar. “Siapa  namamu?”, tanyanya.</p>
<p>“Namaku Phillipe, Yang Mulia Paduka Sultan.”. “Cukup panggil aku Sultan saja!”, pinta Saladin.  “Dan aku memintamu melepas mantel salib itu, karena  hanya musuh kami yang memakainya. Sementara kau  kami terima bukan sebagai musuh.” “Terima kasih, Sultan”, aku segera melepas mantel  salib merahku dan menghempaskannya jauh2. “Aku mengucapkan terima kasih, karena kau telah  begitu baik mau menolong dan membela prajuritku.”,  Saladin menepuk-nepuk bahu Ahmad. “Aku hanya melaksanakan perintah Tuhan Yesus  kepadaku. Aku ke sini ingin menemuimu, aku ingin  membicarakan sesuatu yang selalu mengganggu  hidupku.”.</p>
<p>“Jika aku cukup berilmu untuk menjawab, maka  aku akan menjawabnya!”. “Aku ingin tahu yang sebenarnya tentang apa itu  Islam dan siapa Muhammad. Kitab seperti apa Al-Quran  itu. Aku ingin tahu yang sebenarnya. Sebab apa yang  aku tahu selama ini adalah doktrin Gereja dan semua  pandangan mereka itu buruk. Tolong beri tahu aku yang  sebenarnya.”. Saladin tersenyum, begitu juga Ahmad. Di  hadapan ribuan tentara Saracen, Saladin memberi tahu  aku tentang Islam. Menceritakan padaku siapa  Muhammad, dan membuka kitab Al-Quran bersama-sama.</p>
<p>Tak tanggung2, Saladin juga membuka Alkitab di  hadapanku. Tak kusangka Saladin tahu banyak hal  tentang Alkitab dan Kristen. Aku tak pernah membaca  dan mempelajari Alkitab secara langsung, dan dalam  penjelasan Saladin kupahami dan kulihat benar2 buku  seperti apakah Alkitab itu. Sungguh aku puas dan  bahagia. Aku puas dan serasa melambung ke langit  ketujuh. Jelas sudah di hadapan mataku mana yang  benar dan mana yang salah. Saladin memberi aku bukti.  Mengajakku merenung dan berpikir dengan akal yang  jernih. Aku sungguh kagum kepadanya.  Intelektualitasnya luar biasa. Aku bersyukur. Dan malam  yang panjang itu, padang  rumput Acre yang gelap itu,  serta ribuan prajurit Saracen itu menjadi saksiku. “Kami adalah muslim.”, kata Saladin. “Penyembah  Tuhan yang satu, pengikut Rasulullah Muhammad yang  memurnikan agama Rasul2 terdahulu yang sudah  banyak diselewengkan orang. Jadi jangan sebut kami  Saracen, karena kami bukan Saracen.”. “Sultan…”, aku bulatkan tekad dan keberanianku keputusan seumur hidupku akan kubuat malam ini. “Aku ingin  menjadi muslim.”. Seketika meledaklah puji2an kepada Tuhan. Suara2 penuh suka  dan kegembiraan memenuhi padang rumput di Acre. “Aku mohon ajari aku.”, aku melihat sorak sorai dan tawa gembira.  Ribuan pasukan muslim melompat dan bersyukur.</p>
<p>Mereka mencium  dan memeluk satu sama lain seakan-akan mereka adalah saudara  kandung. Aku tersenyum.!! Saladin tetap tenang duduk bersila. Dia mengangkat tangan  kanannya dan ribuan tentara muslim itu dengan otomatis diam dan  kembali dalam posisi semula. Malam kembali menjadi hening, yang  terdengar hanya desau angin. “Allah Maha pemberi petunjuk”, Saladin begitu tenang dan aku  benar2 merasakan kemuliaan terpancar dari matanya. “Sekali kau  masuk Islam tak pantas kau kembali lagi mengingkarinya. Apakah kau  benar2 meyakini pilihanmu?”.</p>
<p>“Demi Tuhan yang esa, karena pelajaran dari Sultan-lah sehingga  sekarang aku memilih menjadi muslim. Karena Sultan telah mengajari  aku dengan bukti2 yang membuat aku puas. Semua pertanyaan di  dalam jiwaku terjawab sudah.”, Ahmad memperhatikan aku bicara.  “Aku meyakini Islam dengan segenap hatiku. Aku ingin menyembah  Allah yang esa dengan benar. Allah yang sama yang disembah oleh  Yesus dan Rasul Muhammad.”.</p>
<p>Bulan penuh bercahaya kuning emas. Segalanya hening, seakan-akan mendengarkan apa yang akan aku ikrarkan. “Aku bersumpah akan aku peluk Islam sampai matiku. Karena aku  tahu itulah yang benar.”. Saladin tersenyum. Dia berdiri menghadap ke arah dia beribadah.  Seluruh prajurit muslim mengikutinya. Ahmad pun melaksanakannya.  Aku duduk diam tidak mengerti. Bersama-sama mereka bersujud. Aku  bergegas mengikuti apa yang mereka lakukan walaupun aku tidak  mengerti. Tak lama mereka kembali ke posisi semula. “Apa yang tadi kita lakukan, Sultan?”, tanyaku. “Kita melakukan sujud syukur. Setiap seorang muslim  mendapatkan nikmat dalam hidupnya dari Allah, Rasulullah  Muhammad mengajarkan kita untuk bersujud kepadaNya. Dan  kehadiranmu malam ini adalah sebuah nikmat yang sangat agung bagi  kami!”. Aku bahagia. Ribuan Pasukan Muslim bersujud karena  mensyukuri kehadiranku. “Apa yang harus kulakukan, Sultan?”, aku mendesak. “Aku benar2  ingin menjadi muslim.”. Saladin tersenyum kepada Ahmad.</p>
<p>Lantas Ahmad mengantarkan  aku ke sebuah kemah. Dia memintaku membasuh wajah dan tubuhku  dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang lebih bersih dan  harum, berwarna putih. Tak lama aku kembali lagi ke padang rumput  itu. Ahmad mengiringi aku. Aku berlutut. Dadaku bergemuruh! Saladin membacakan  kepadaku sebuah kalimat suci yang wajib dibaca semua orang yang  akan menjadi muslim. Dia mengajarkanku maknanya. Juga sumpah  agung dan suci yang ada di balik tiap susunan kata2nya, sehingga aku  benar2 memahaminya. Aku menyaksikan bahwa tidak pernah ada  tuhan lain, selain Allah yang esa, pencipta langit dan bumi beserta  segala isinya.</p>
<p>Dan Rasulullah Muhammad adalah benar2 utusanNya,  yang telah teguh menjalankan amanat agungNya dan janjinya. Dengan  mantap dan teguh aku mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang akan  membuat hidupku berbeda selama-lamanya. Aku bersumpah seumur  hidupku untuk selalu menaatiNya dengan segenap kemampuanku dan  menjauhi semua laranganNya. Akan kuserahkan segala yang aku punya  untuk menegakkan agamaNya. Aku bersumpah.!! Aku merasakan  tubuhku telah suci, segala najis telah luruh dari kulitku. Dan lepaslah  sudah segala gemuruh di dadaku.  Guruh kegembiraan pecah memenuhi malam, keluar dari ribuan  tentara muslim saat menyaksikan aku masuk Islam. Saladin berdiri, dia  menyuruhku bangkit, dan dia menggenggam tanganku. “Ada persaudaraan yang lebih kuat daripada persaudaraan karena  darah.”, Saladin berkata kepadaku. “Persaudaraan itu adalah  persaudaraan dalam iman. Kau lihat, semua prajurit  muslim di sini dan semua orang muslim di seluruh dunia  adalah saudaramu. Mereka akan menjaga dan membelamu,  seperti satu tubuh.</p>
<p>Aku pun adalah saudaramu. Bersama-sama kita akan menegakkan agama Allah di muka bumi ini dan  menghancurkan kezaliman orang2 kafir.”. Saladin mencium kedua pipiku seperti mencium anak  kandungnya, dia memeluk aku erat sekali, seakan tak ingin  melepaskanku. Ahmad memelukku dan menepuk-nepuk  bahuku. Seluruh prajurit muslim melompat kegirangan. Puja-puji kepada Tuhan naik ke angkasa, mengantarkan aku  kembali pulang kepada Tuhan yang esa. Malam itu sungguh  menggembirakan aku. Aku bermimpi berlari di sebuah taman  yang sangat indah.</p>
<p>Di sisiku ada seorang perempuan yang  sangat cantik, namun tidak aku kenal. Sungguh semuanya  begitu baru. Aku bersyukur kepada Tuhan yang esa. Tidak pernah ada  kebahagiaan hidupku, tidak pernah ada ketenangan di  dalamnya, kecuali setelah aku memeluk Islam. Aku akan bela  keyakinanku ini apapun yang terjadi. Aku merasa telah terlahir  kembali. Dan di sinilah, di sisi karang tanduk Hattin, aku tegak kepada  langit, setelah Tuhan memberi aku kehidupan sebagai  manusia yang sesungguhnya, kuakhiri risalahku. Sebab di  sana, di hadapan pelupuk mataku, kulihat Kerajaan Sorga di  tengah2 gemuruh derap musuh2 Tuhan. Dan aku tidak sabar  untuk segera memasukinya…… (bersambung)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-5/">ROMAN HATIN EPISODE 5</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-5/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2723</post-id>	</item>
		<item>
		<title>ROMAN HATIN EPS. 4</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-eps-4/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-eps-4/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Oct 2017 23:50:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[Roman Hattin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2721</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat matahari sudah datang, gelap  terusirlah. Ketika ilmu tiba,  Skebodohan lenyap. Apabila  kebenaran sudah sampai, kesalahan tak  mungkin bertahan lagi. Aku bersumpah  akan mencari kebenaran dan hidup di  atasnya. Aku pacu kudaku, berlari  menembus hawa yang dingin. Pedang  tersemat di pinggangku. Mantel salib  merahku masih membalut tubuhku,  berkibar-kibar dilalui angin. Kurapatkan  dia, berlindung dari dingin. &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-eps-4/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">ROMAN HATIN EPS. 4</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-eps-4/">ROMAN HATIN EPS. 4</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saat matahari sudah datang, gelap  terusirlah. Ketika ilmu tiba,  Skebodohan lenyap. Apabila  kebenaran sudah sampai, kesalahan tak  mungkin bertahan lagi. Aku bersumpah  akan mencari kebenaran dan hidup di  atasnya. Aku pacu kudaku, berlari  menembus hawa yang dingin. Pedang  tersemat di pinggangku. Mantel salib  merahku masih membalut tubuhku,  berkibar-kibar dilalui angin. Kurapatkan  dia, berlindung dari dingin.</p>
<p>Aku terus pacu  kudaku, tak peduli malam mencekam. Aku  akan ke Acre, akan aku cari Saladin. Aku  ingin bicara dengannya! Aku ingin  menemukan jawaban dari semua  kegalauanku.! Beberapa hari kemudian derap  langkah berdebu kudaku mendekati Acre.  Dari atas sisi bukit aku melihat kemah2  orang Saracen. Ada ribuan pasukan Saladin  sedang beristirahat.</p>
<p>Aku tunggu sampai  malam menjelang, di pinggir hutan dekat  sana. Aku bersandar pada sebuah pohon  besar dan terlena dalam keteduhannya.  Kelelahan benar2 menggerayangi tubuhku.  Saat aku bangun, malam telah gelap.  Namun bulan purnama begitu elok di  angkasa, sehingga mataku tidak terlalu  sesat. Kutunggangi kudaku, dia berjalan  perlahan menuruni bukit mendekati  perkemahan Saracen. Seorang prajurit  melihatku. Dia memberitahu temannya  dan menyiagakan diri mereka  menghadapiku. Mereka mencabut pedang  mereka. Salah seorang dari mereka  berteriak memanggil beberapa orang  teman mereka yang lain.</p>
<p>Kusadari sebuah  keanehan, perkemahan itu terlalu sepi  untuk sebuah perkemahan ribuan pasukan  yang akan berperang dalam beberapa hari  ke depan. Kemana semua orang? Apakah  mereka tidak takut akan serangan  mendadak dari musuh atas kemah  mereka? Yang kulihat sedang berjaga  hanyalah beberapa orang prajurit saja,  yang tersebar di beberapa titik di kemah  itu. Kudaku terus melangkah perlahan  mendekati kemah itu. Beberapa orang  prajurit berlari mendekatiku dan  mengepungku sambil menghunus pedang  dan tombak. Mereka menodongku. Aku  tidak heran mengapa mereka bersikap  seperti itu, sebab mereka melihat mantel  salib merahku yang sangat mencolok.</p>
<p>Dengan tenang aku mengangkat tangan  tanda menyerah. “Aku tidak bermaksud jahat!”,  kataku pada mereka. Kupaksa diriku  setenang mungkin. “Aku ingin bertemu  dengan Saladin. Aku ingin bicara  dengannya!”. Mereka tetap tidak mengurangi  kewaspadaan dan tetap mengacungkan  senjata mereka kepadaku. Salah seorang  dari mereka berbisik kepada temannya. “Orang kafir selalu berdusta.”. “Aku sudah perintahkan yang lain menyisir  daerah ini. Mungkin dia membawa  teman.”, kata yang lain. “Aku tidak bermaksud jahat!!”, aku  mengulangi. “Aku bukan mata2 atau  apapun. Aku juga bukan utusan siapapun.  Aku datang ke sini atas kemauanku  sendiri.”.</p>
<p>Kulemparkan pedangku dan jatuh  berdentang di hadapan mereka. Tanganku  tetap kuangkat ke udara dan aku turun dari  kudaku. “Sekarang aku tidak bersenjata!”,  kataku meyakinkan mereka. Apa yang aku  lakukan ternyata tidak membuat orang2  Saracen itu melonggarkan  kewaspadaannya. Kagum aku dengan  ketaatan Prajurit Saracen itu kepada  pemimpin mereka. Sering aku lihat Tentara  Kristus lari dari medan perang karena  ketakutan. Sementara sering pula kulihat  jumlah Pasukan Saracen jauh lebih sedikit  daripada Pasukan Kristus, namun mereka  tetap sabar dan maju berperang dengan  gagah berani seperti singa terluka. Seorang prajurit menyergapku dan  mengikat tanganku ke belakang, dia  langsung mengawalku menuju sebuah  kurungan kayu beroda. “Bawa aku pada Saladin. Aku  mohon!! Aku hanya ingin bicara  dengannya.”, aku memberontak, namun  mereka mengunci tanganku sehingga aku  tak bisa bergerak. Todongan senjata  mereka tak mereka turunkan. “Pengkhianat seperti kau tak akan pernah  bertemu Sultan.”, kata salah seorang  prajurit. “Orang kafir tak bisa dipercaya.”. “Bawa aku pada Saladin.”, aku meronta-ronta dan berteriak-teriak.</p>
<p>“Mana  Saladin!”.</p>
<p>“Diam kau!!”, hardik mereka. Mereka  mengeratkan kuncian pada bahu dan  tanganku, sehingga aku sama sekali tidak  bisa bergerak. Mereka juga membekap  mulutku dengan kain. Mereka  memasukkan aku ke dalam kurungan kayu  itu. Beberapa orang dari mereka  berdatangan karena teriakanku menarik  perhatian mereka. Aku melihat salah  seorang dari mereka sepertinya tak asing.  Ternyata Pria itu adalah pemuda pemimpin  rombongan Saracen yang pernah kutolong  dahulu.</p>
<p>Dia tersenyum padaku dan  langsung mengenali aku. “Cepat keluarkan dia.”, perintahnya. “Dia  tidak berniat jahat. Akulah yang  menjaminnya”. “Tapi Komandan, dia orang kafir!”, Prajurit  Saracen itu mempertanyakan perintah Pria  yang kutahu adalah pemimpin rombongan  Saracen, yang rombongannya dibantai  Prajurit Kristus dulu, yang ternyata adalah  seorang komandan pasukan Saracen. “Sudah kubilang, akulah jaminan laki2 itu.”,  katanya. “Aku yang akan mengawasinya  dengan ketat. Sekarang keluarkan dia!”. Merasa tak berguna untuk  berdebat, Prajurit itu mengeluarkan aku  dari kurungan. Membuka bekapan kain di  mulutku dan ikatan tanganku. “Terima kasih!”, kataku. Kugosok-gosok  tanganku sebab nyeri. “Ternyata kau  seorang Komandan”. “Aku juga berterima kasih kepadamu,  karena sudah menolongku dulu.”, sahut  Pria itu. “Kita belum saling berkenalan,  namaku Ahmad.”. “Namaku Phillipe. Aku dari Prancis”. “Sungguh Allah Maha kuasa!”, kata Ahmad.  “Akhirnya Dia mengabulkan doa Sultan.  Sekarang kau ada di sini!”. “Apa maksudmu?”, aku heran dengan apa  yang dikatakannya. Apakah Saladin  mendoakanku? “Setelah aku selamat karena  pertolonganmu, aku menghadap Sultan  dan kuceritakan semua yang terjadi.!”,  Ahmad menceritakan.</p>
<p>Dia mengajakku  duduk di dekat sebuah api unggun yang  menebarkan kehangatan pada sekitarnya.  “Kulihat Sultan murka, dan Beliau  bersumpah Beliau sendirilah yang akan  menghukum Reynald atas perbuatannya,  sebab melanggar perjanjian, membantai,  dan menginjak-injak kehormatan Islam.  Untuk itu jugalah kami di sini malam ini!”.</p>
<p>Aku mendengarkan ceritanya  dengan seksama. Memang aku akui bahwa  aku sendiri tidak menyukai apa yang  banyak dilakukan tentara Kristus dan para  pemimpin mereka. “Aku juga menceritakan  tentangmu, dan Sultan sangat gembira.  Beliau mendoakanmu agar bahagia di  dunia dan akhirat, dan beliau ingin sekali  bertemu denganmu.”, Ahmad tersenyum  padaku. “Dan kau lihat, Allah telah  mengabulkan doa Sultan, sekarang kau ada  di sini.</p>
<p>Akan aku antarkan kau kepada  Sultan. Mari!”. Ahmad mengajakku. Kami bangkit  meninggalkan api unggun itu dan berjalan.  Aku mengikuti Ahmad. Aku tak tahu  kemana dia akan membawaku. “Kalau boleh kutahu.”, kataku. “Kenapa  perkemahan pasukanmu sangat sepi?  Kemana semua orang?”. Ahmad tersenyum. “Kau akan tahu  sebentar lagi.”. Kami terus berjalan  menyusuri  kemah2 kosong  yang diterangi liukan  kobaran api pada obor. Hingga  sampailah kami pada kemah yang paling  ujung. Di belakangnya, di balik sebuah  gundukan tanah, pada permukaan rumput  di sebuah dataran di Acre, kulihat sebuah  pemandangan yang menakjubkan yang  seumur hidupku belum pernah aku lihat.  Apa yang aku lihat kemudian menjawab  pertanyaanku, tentang mengapa kaum  Saracen selalu menang dalam tiap  pertempuran walaupun jumlah mereka  sedikit. Mengapa mereka begitu gigih dan  kuat.!! Di sana, di sebuah dataran luas  berumput itu kulihat ribuan prajurit  Saracen sedang berbaris bersujud di  tengah2 angin dingin dan cahaya remang  obor yang ditancapkan di sekitarnya.  Mereka bersujud kepada Tuhan mereka  dalam sepi dan heningnya malam.</p>
<p>Kulihat  paling depan Saladin memimpin mereka  dalam ibadah itu. Setiap Saladin berdiri,  ribuan prajurit mengikutinya, sungguh  sebuah ketaatan yang belum pernah aku  lihat. Saladin membaca sebuah bacaan  yang begitu merdu dan membuat hatiku  rawan saat mendengarnya. Mungkin itulah  bacaan Al-Quran, kitab suci orang2  Saracen. Kulihat beberapa prajurit  menangis tersedu-sedu memohon  ampunan dari Tuhan. Mereka semua  seperti rahib yang berdiri dan bersujud  demi cinta pada Tuhannya dan menangisi  dosa2 mereka pada malam hari. Dan  mereka berubah menjadi prajurit2 tangguh  yang tidak pernah kenal takut pada siang  hari.</p>
<p>Dadaku gemetar melihat semuanya  ini. Sebab apa yang aku lihat pada diri  Prajurit Kristus sungguh sangat berbeda.  Mereka senang mabuk2an, dan kerap  membawa perempuan ke dalam benteng  untuk memuaskan nafsu rendah mereka.  Mereka bukan Tentara Kristus bagiku, tapi  tentara Iblis. Apa yang mereka lakukan tak  pernah diajarkan Tuhan Yesus. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-eps-4/">ROMAN HATIN EPS. 4</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-eps-4/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2721</post-id>	</item>
		<item>
		<title>ROMAN HATIN EPISODE 3</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-3/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-3/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Oct 2017 21:50:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[Roman Hattin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2719</guid>

					<description><![CDATA[<p>Halilintar seperti menyambarku.  Apakah kata2nya benar? Aku diam  Hterpaku memandang mata pria itu.  Aku ingin tahu apa yang ada di balik  hatinya. Aku ingin kebenaran.! “Dahulu Bani Saljuk memang  melarang sebuah parade Misa orang  Kristen yang membawa pedang dan sering  membuat kerusuhan di tengah2  keramaian. Bahkan jatuh korban karena  parade Misa itu. Bani Saljuk melarangnya &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-3/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">ROMAN HATIN EPISODE 3</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-3/">ROMAN HATIN EPISODE 3</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Halilintar seperti menyambarku.  Apakah kata2nya benar? Aku diam  Hterpaku memandang mata pria itu.  Aku ingin tahu apa yang ada di balik  hatinya. Aku ingin kebenaran.! “Dahulu Bani Saljuk memang  melarang sebuah parade Misa orang  Kristen yang membawa pedang dan sering  membuat kerusuhan di tengah2  keramaian. Bahkan jatuh korban karena  parade Misa itu.</p>
<p>Bani Saljuk melarangnya  karena untuk menjaga ketertiban bersama  dan toleransi! Ibadah seharusnya  membawa kedamaian, bukan korban!”. Ada dorongan yang aneh dalam  hatiku untuk mempercayainya. Namun  sebisik suara berhembus di hatiku, pria di  hadapanku itu kaum Saracen. Orang  barbar yang tidak beradab, heretis, dan  suka membunuh.</p>
<p>Segala pandangan dan  citra buruk yang ditanamkan kepadaku  oleh Paus, Raja2, Baron2, dan siapapun  orang Kristen begitu mempengaruhi aku.  Namun saat aku menginjakkan tapak  kakiku di tanah suci, aku lihat sendiri  mereka bukan bangsa barbar dan tidak  beradab seperti yang selama ini  digambarkan.</p>
<p>Bangunan2 mereka kokoh  dan indah. Tata kotanya juga indah,  walaupun kulihat keindahan itu sudah  hilang karena tanah suci sudah dikuasai  orang Kristen hampir seratus tahun, aku  tahu cara hidup mereka jauh dari  kebersihan dan kebaikan. Di tanah suci  kutemukan berbagai benda2 berguna yang  belum pernah kutemukan sama sekali di  Eropa.</p>
<p>Kutemukan buku2 yang memuat  berbagai ilmu pengetahuan berharga, yang  semuanya itu kutahu dibuat oleh orang2  Saracen yang selalu digambarkan buruk,  barbar, dan tidak beradab oleh orang  Kristen Eropa. Semuanya membelalakkan  mataku. “Kami tidak pernah membantai orang  Kristen, atau memaksa mereka keluar dari  Kristen!”, Pria itu menceritakan semuanya  dengan semangat. “Tuhan Yesus-lah yang telah  memerintahkan kami untuk menggelar  perang suci ini!”, kataku. “Karena kami  harus menguasai kota ini dan  menyelamatkan umat Kristus yang  tersesat.”.</p>
<p>“Paus atau Yesus yang  memerintahkan perang ini?”, tanya Pria  itu.</p>
<p>“Karena benarlah apa yang kau  katakan tempo hari: Yesus memerintahkan  welas asih dan mustahil memerintahkan  pembantaian seperti ini.”. Keningku mengkerut, aku berpikir keras  mencerna kata2 Pria itu. Aku ingin memahaminya. “Kami sangat mencintai Yesus!”, katanya.</p>
<p>“Tapi bukan sebagai Tuhan, melainkan sebagai  Rasul utusan Tuhan. Sama dengan Rasulullah  Muhammad!”. Kerutan di keningku makin dalam, sebab aku  berpikir keras. “Yesus tidak pernah mengangkat dirinya  menjadi Tuhan! Dia memerintahkan untuk  menyembah Tuhan yang Esa, yang menciptakan  langit dan bumi. Rahib2 Kristen-lah yang telah  mengubah ayat2 Injil, dan mereka bekerja sama  dengan Kaisar Konstantin kemudian mengangkat  Yesus menjadi Tuhan, dan menciptakan Kristen!”.</p>
<p>Aku terkejut pada pria itu. Begitu luas  pengetahuannya tentang agama Kristen, padahal  dia orang Saracen. Sementara apa yang  diceritakannya tak pernah kudengar keluar dari  mulut Uskup ataupun Paus. Alkitab terlalu suci  bagi orang2 rendahan seperti aku, dan hanya  orang suci seperti uskup atau Paus-lah yang boleh  menyampaikan kandungan Alkitab kepada kami. “Di dalam Injil, Yesus mengabarkan bahwa  akan lahir seorang Rasul setelah dirinya, dari  bangsa Arab.”, Pria itu meneruskan.</p>
<p>“Dan dia  memerintahkan semua pengikutnya untuk  menaati Rasul itu setelah dia dibangkitkan. Yesus  mengajarkan untuk menyembah Tuhan yang Esa,  Rasulullah Muhammad pun mengajarkan untuk  menyembah Tuhan yang Esa dan menolak  anggapan bahwa Tuhan memiliki anak seperti apa  yang diyakini orang Kristen, sebab Yesus tak  pernah mengajarkannya. Menjadi muslim dan  mengikuti perintah Rasulullah Muhammad  sebenarnya adalah perintah dari Yesus sendiri.”. Kepalaku pening mendengar semua  penjelasan Pria itu.</p>
<p>Otakku seakan meloncat-loncat. Perutku mual! Aku benar2 tidak mengerti  kenapa semuanya jadi begini. Kutopang keningku  dengan tanganku. “Itulah yang sebenarnya!”. Pria itu tersenyum  kepadaku. Senyum yang tulus.!! “Aku tidak memaksamu untuk mempercayai  aku!”, lanjutnya. “Semuanya terserah kepadamu.  Kewajibanku adalah mengajakmu: Marilah masuk  Islam, marilah kembali menyembah Tuhan yang  esa, Allah Subhanahu wata&#8217;ala. Hanya Dia  satu2nya. Dia tidak beranak, dan tidak  diperanakkan. Dia esa adanya.”.</p>
<p>“Kau cepatlah pergi dari sini.”, kataku.</p>
<p>“Aku  takut cepat atau lambat tempat persembunyian  ini bisa diketahui, dan itu akan mengancam  jiwamu. Cepatlah pergi sekarang juga. Kau telah  sembuh. Aku buatkan bekal sedikit untukmu, dan  ambillah uang ini!”.</p>
<p>“Terima kasih!”, katanya.</p>
<p>“Aku berdoa kepada  Allah, semoga Dia memberikan kepadamu  kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat!”.</p>
<p>“Bergegaslah!!”. Pemuda yang tidak pernah kuketahui namanya itu berlalu. Dia meninggalkan  sesuatu dalam benakku yang sepenuhnya baru. Aku tidak tahu apa yang kurasakan, sedih  atau gembira! Aku tidak tahu. Sore itu aku pulang ke benteng! Malam naik dengan kegalauan dan kegelisahan di hatiku. Aku bingung tentang  segala makna kebenaran. Tentang Tuhan. Segala pembicaraanku dengan pemuda itu  membawaku pada sebuah alam berpikir yang lain.</p>
<p>Sebuah alam berpikir yang lebih luas  dan bebas, keluar dari semua penjara doktrin yang diajarkan Paus dan Gereja. Sungguh  sebuah dunia yang baru, yang aku belum pernah memasukinya. Aku menyadari satu hal,  bahwa aku harus lebih banyak berpikir, menggunakan akalku untuk mencari mana yang  benar. Tidak boleh lagi ada ketundukan buta kepada Paus atau Gereja. Atau kepada  siapapun sebelum aku benar2 memikirkannya dan benar2 menyadari bahwa hal itu  benar. Ini semua membuatku tidak terlalu menaruh hormat lagi pada khotbah2 pendeta.  Semuanya tak berharga kalau hanya dusta belaka. Aku jadi tidak suka dengan kawan2ku  sesama prajurit Kristus. Di mataku justru mereka lebih buas dan bejat, perilaku dan  bahasa mereka lebih menyebalkan daripada orang2 Saracen. Semenjak itu aku  bersumpah untuk terus belajar dan mencari kebenaran.</p>
<p>[[]]</p>
<p>Malam itu seluruh prajurit Kristus berbaris di padang rumput. Reynald de Chatillon  mengumumkan bahwa Saladin sudah menduduki Acre, dan besok hari kami akan  bergabung dengan tentara pimpinan Raja Guy de Lusignant di Jerussalem dan akan  bersama-sama menghadapi Saladin di Acre. Kami harus mempersiapkan diri untuk  berperang. “Kenapa kita membantai orang2 Saracen?”, tanyaku. Saat itu aku sedang menggosok  pedangku bersama George.  “Apa masalahmu, Phillipe??”, George keheranan. “Sepertinya kau selalu saja  mempersoalkan apa yang selama ini diperintahkan pada kita. Apakah kau tidak suka  dengan perintah tuhan?”.</p>
<p>“Aku hanya ingin yang benar. Aku hanya tidak ingin kita menjadi gerombolan  penjahat. Sebab apapun alasannya pembantaian yang selama ini kita lakukan tetap tak  bisa kuterima.”.</p>
<p>“Kau kenapa, Phillipe?”, nada George makin tinggi. “Kau ingin menentang perintah  tuhan Yesus?”.</p>
<p>“Tuhan Yesus memerintahkan kita mengasihi manusia. Dia tidak mungkin menyuruh  kita membantai dan memporak-porandakan seperti sekarang, siapapun itu!”.</p>
<p>“Mereka Saracen!”, tukas George. “Mereka kaum sesat yang tidak percaya Kerajaan  Sorga dan tidak mempercayai tuhan Yesus!”.</p>
<p>“Mereka atau kita yang sesat?”, sahutku. George kesal. “Mereka membunuh umat Kristus dan membuat kesengsaraan.”.</p>
<p>“Kita membantai lebih banyak dari mereka!”, tak tahu kenapa kulayani semua  perkataan George. Kumasukkan pedangku ke dalam sarungnya. “Apa kau ingin berkhianat?”, George marah dan mencabut pedangnya, menciptakan  kegaduhan dan mengundang perhatian prajurit yang lain. “Pengkhianat seperti kau harus  mati!”. Aku berdiri dengan tenang dan mendekati George. Kucabut lagi pedangku dan  kutatap matanya. “Aku tidak peduli lagi pada semua ini! Akan kucari kebenaran yang  sesungguhnya!”. George melotot kepadaku. Nafasnya memburu! Tangannya teguh  menggenggam gagang pedang. Kami bersahabat dan sama2 berasal dari Chatillon.</p>
<p>Prajurit yang lain mulai berdatangan mengerumuni kami. Aku berlari meraih tali  kekang kudaku kaluar benteng. Pedangku kugenggam dengan mantap. Kupacu kudaku  sekencang-kencangnya. Akan aku kejar kebenaran itu, dan kudapatkan di mana pun dia  berada. Itulah sumpahku kepada diriku sendiri. Dan ketika semuanya telah kupilih, berbahagialah aku dengan semua pilihanku itu,  ketika kutahu itu semua adalah kebenaran. Kebenaran yang sungguh manis kurasakan.  Kularikan kudaku menuju Acre malam itu. Akan aku cari Saladin… Bersambung</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-3/">ROMAN HATIN EPISODE 3</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/roman-hatin-episode-3/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2719</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Roman Hattin</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/roman-hattin/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/roman-hattin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2015 12:41:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Roman Hattin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=793</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kisah kecamuk perang Hattin yang menentukan direbutnya kembali Palestina oleh Shalahuddin al Ayubi. [Djenderal 4 Arwah] drise-online.com &#8211; Aku ingin melayani tuhan Yesus Kristus. Hal itulah yang membuatku berada di sini hari ini. Di sisi Karang Tanduk Hittin. Aku tegak kepada langit, setelah Tuhan sendiri memberi aku kehidupan sebagai manusia yang sesungguhnya. Namaku Phillipe. Aku &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/roman-hattin/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Roman Hattin</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hattin/">Roman Hattin</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah kecamuk perang Hattin yang menentukan</p>
<p>direbutnya kembali Palestina oleh Shalahuddin al Ayubi.</p>
<p>[Djenderal 4 Arwah]</p>
<p><strong>drise-online.com</strong> &#8211; Aku ingin melayani tuhan Yesus Kristus. Hal itulah yang membuatku berada di sini hari ini. Di sisi Karang Tanduk Hittin. Aku tegak kepada langit, setelah Tuhan sendiri memberi aku kehidupan sebagai manusia yang sesungguhnya.</p>
<p>Namaku Phillipe. Aku hanya seorang petani miskin dari Chatillon yang berharap memasuki Kerajaan Sorga. Setiap hari aku berdoa dan menjalani Pengakuan. Tidak ada lagi kedamaian dan keadilan kurasakan. Tetangga-tetanggaku dan termasuk aku menderita karena pajak tinggi. Penjualan hasil panen tidak berguna karena harga sangat murah. Maka aku sambut seruan Uskup Rene yang datang ke rumahku membawa pesan dari Paus Agung. Tuhan telah memerintahkan prajurit-prajurit Kristus untuk mempertahankan Tanah Suci dari tangan Saracen yang barbar itu. Sebab mereka membunuhi dan mengganggu Misa umat Kristus. Tuhan telah menjanjikan pengampunan, Kerajaan Sorga dan harta yang melimpah bagi mereka yang mau menjadi Prajurit Kristus. Sungguh manis janji tuhan kepada Paus yang disampaikan Uskupnya kepadaku.</p>
<p>Kutinggalkan ayah dan ibuku. Aku bergabung dengan pasukan yang dipimpin Reynald de Chatillon. Kami berangkat ke Palestina untuk bergabung dengan Raja Baldwin yang memimpin Takhta Suci Jerussalem. Menjaga tanah suci tempat kelahiran tuhan Yesus yang telah direbut oleh Godfroi de Boullion dari tangan kaum Saracen. Dan lebih dari segalanya yang aku mau adalah Kerajaan Sorga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[[]]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku sedang berpatroli di sekitar Karak pagi itu. Tak jauh dari tempatku berpatroli, Benteng Karak berdiri kokoh. Di sisinya bukit batu dan hamparan padang rumput hijau. Langit masih biru, matahari belum datang untuk mewarnai dengan kuas emasnya. Aku berpatroli bersama sebuah grup sebanyak sepuluh personil. Derap langkah kuda-kuda kami menerbangkan debu yang dingin dan berat oleh embun. Kami berkeliling di sekitar daerah itu, dan mengamankannya dari intaian dan serangan musuh.</p>
<p>Beberapa ratus meter jaraknya di depan kami, terlihat sebuah rombongan sedang melintas. George, sang Komandan grup patroli, tersenyum dan memerintahkan kami untuk memacu kuda menghadang kafilah itu. Begitu banyak ketidakmengertian lagi-lagi menyeruak di kepalaku.</p>
<p>Sebelum kami memacu kuda kami untuk mencegat rombongan itu, aku arahkan kudaku ke hadapan George.</p>
<p>“Apa yang akan kita lakukan, Komandan?”, tanyaku dengan gusar. “Kita terikat perjanjian dengan Saladin..!”</p>
<p>“Tugas suci kita, tentu saja!”, sahutnya sambil tersenyum padaku, seakan tidak terjadi apa2. “Sekarang pergi hadang mereka, itu perintah.!”.</p>
<p>Kami menghadang kafilah itu. Mereka terdiri dari wanita, dan orang tua yang kebanyakan dari mereka berpakaian putih-putih. Jumlah mereka sekitar lima puluh orang, dan tak berdaya.</p>
<p>“Berhenti!!”, raung salah seorang prajurit. George mencabut pedangnya dan mengacungkannya ke arah kafilah itu dari atas kudanya. Seluruh kawan-kawanku mengepung kafilah itu dan mencabut pedang mereka. “Serahkan apapun yang berharga yang kalian punya, lemparkan ke sana.”.</p>
<p>Ketakutan menjalar di dalam hati mereka. Walau mereka lebih banyak dari kami, tetap saja mereka tidak sebanding dengan kami karena kami bersenjata. Rombongan itu setahuku adalah rombongan ibadah yang sedang berangkat ke tanah suci orang-orang Saracen di Jazirah, dan sering mengambil rute ini dalam perjalanan mereka.</p>
<p>“Kami hanya rombongan haji.!”, kata seorang pemuda di antara mereka yang kurasa adalah pemimpin rombongan itu. Seorang perempuan berkerudung hitam dan sangat cantik merapat ketakutan di punggung pemuda itu. “Kami tidak bersenjata dan tidak bawa banyak barang berharga!”.</p>
<p>“Kalau bicara lagi kutebas lehermu!!”, George mengancam. Dirapatkannya ujung pedangnya yang tajam ke leher pria itu dari atas kudanya. “Lakukan!!!”.</p>
<p>“Kalian terikat perjanjian dengan sultan Shalahuddin.!!”, tukas pria itu.</p>
<p>“Cepat lakukan!!”, ujung pedang George menggores leher pria itu.</p>
<p>Para penodong yang celakanya adalah teman-temanku itu makin rapat mengepung rombongan dan mengancam setiap orang dengan senjata mereka.</p>
<p>“Kami turuti keinginanmu, tapi setelah itu biarkan kami pergi!”, mereka semua mengumpulkan keping emas dan perak yang mereka punya, kawan-kawanku tersenyum sinis melihatnya.</p>
<p>Tiba-tiba datanglah beberapa orang berkuda dari arah benteng. Mereka adalah Reynald de Chatillon dan dua orang pengawalnya. Demi melihat Reynald de Chatillon yang sangar itu kurasakan ketakutan makin merasuk ke dalam hati rombongan orang-orang Saracen. Dia berhenti di hadapan kami.</p>
<p>“Ada apa ini??”, dengan berteriak Reynald de Chatillon mengacungkan telunjuknya kepada kami.</p>
<p>“Kami sedang memungut pajak jalan, Yang Mulia!!”, sahut George.</p>
<p>Seperti orang gila, Reynald de Chatillon tertawa terbahak-bahak tak tentu sebab. Kudanya berjalan, dia mendekati George lantas menepuk-nepuk bahunya.</p>
<p>Aku memacu kudaku bergegas mendekati Reynald de Chatillon. “Maaf Yang Mulia, kita terikat perjanjian dengan Saladin tentang semua ini!”.</p>
<p>“Tuhan telah memberi kita hak suci untuk mengambil segala yang mereka punya.”, kata Reynald de Chatillon terkekeh. “Ya, segalanya! Maka persetan dengan segala perjanjian!”.</p>
<p>Reynald de Chatillon tertawa terbahak-bahak keras sekali kemudian pergi begitu saja bersama dua orang pengawalnya. Kami semua tertawa, kecuali aku.</p>
<p>“Phillipe…!!”, teriak George. “Bawa uang itu.”.</p>
<p>Aku langsung turun dari kuda dan melaksanakan perintahnya. Kumasukkan keping emas dan perak itu ke dalam sebuah kantong kulit dan cepat-cepat menyingkir. George turun dari kudanya. Pedangnya masih teracung ke leher pemuda itu, si perempuan ketakutan di belakangnya. Tak kusangka, George menarik perempuan itu ke arahnya.</p>
<p>“Jaanggaaaannn!!!!”, teriak Pria Pemimpin rombongan Saracen itu. Perempuan itu menjerit. Pria itu hendak membela si perempuan namun George menusukkan pedangnya ke perut pria itu dan mencabutnya lagi. Darah terpancar ke tanah, pemuda itu tersungkur. George menyeret perempuan itu, dan merobek pakaiannya dengan pedang lantas memperkosanya di hadapan semua orang. Perempuan itu menjerit, meratap, menangis tak berdaya kepada Tuhannya. [bersambung..]</p>
<p>Di Muat Di <a href="https://www.facebook.com/MajalahRemajaIslamDRise">Majalah Remaja Islam Drise</a> Edisi #11</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/roman-hattin/">Roman Hattin</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/roman-hattin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">793</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
