<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>derap rantai Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/derap-rantai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Sep 2016 07:03:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>DERAP RANTAI EPISODE 20</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2016 07:03:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[MUDA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1940</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Aku akan menugaskanmu untuk  kembali lagi ke Madinah. Temui Khalifah  dengan tenang dan ceritakan kepada  beliau semua peristiwa yang kita alami.  Tetaplah ada di sisi Khalifah dan  lindungilah beliau sampai ada perintah  baru dari Khalifah kepadamu.  Rekomendasikan saja kepada Khalifah  agar menyerbu benteng terkutuk itu.” episode sebelumnya “InsyaAllah,” Jabal mengangguk  teguh. “Sementara aku &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">DERAP RANTAI EPISODE 20</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/">DERAP RANTAI EPISODE 20</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Aku akan menugaskanmu untuk  kembali lagi ke Madinah. Temui Khalifah  dengan tenang dan ceritakan kepada  beliau semua peristiwa yang kita alami.  Tetaplah ada di sisi Khalifah dan  lindungilah beliau sampai ada perintah  baru dari Khalifah kepadamu.  Rekomendasikan saja kepada Khalifah  agar menyerbu benteng terkutuk itu.”</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/">episode sebelumnya </a></p>
<p>“InsyaAllah,” Jabal mengangguk  teguh.</p>
<p>“Sementara aku akan melanjutkan  perjalanan ke Yamamah menyelesaikan misi yang telah tertunda. Semoga Allah  memberi aku kemudahan sehingga aku  bisa sampai dengan selamat dan tidak  terlalu terlambat.”</p>
<p>“Tapi bagaimana kita bisa  melaksanakan tugas? Semua hewan  tunggangan kita raib entah kemana!”  Keluh Jabal. “Kita berdoa kepada Allah,  mohonlah kemudahan dariNya,” sahut  Mutsana enteng saja.</p>
<p>Kemudian alis Mutsana berkerut,  dia mengangkat telinganya karena  mendengar sesuatu. Pelan-pelan dia  merayap menuju tepian celah, di sana dia  saksikan ada dua orang prajurit hitam  yang sedang menunggang kuda.</p>
<p>Kedua  prajurit hitam itu pasti sedang berpatroli  untuk menemukan di mana Mutsana dan  Jabal. Kaki-kaki kuda itu melangkah  pelan. Para prajurit hitam penunggangnya  sibuk mengawasi sekitar. Salah seorang  dari mereka menoleh ke celah tempat  persembunyian Mutsana dan Jabal.</p>
<p>Dia  menunjuk-nunjuk celah gelap itu  kemudian melambai pada temannya.  Mereka pun menjalankan kudanya  menghampiri celah itu. “Lihat! Saat kita membutuhkan  kendaraan, Allah mengirimkan kendaraan  untuk kita,” gumam Mutsana sambil  tersenyum tipis.</p>
<p>Jabal mengangguk pelan sambil  menyeringai, tangannya sudah  menggenggam sebongkah batu. Mutsana  pun memungut sekeping batu, lalu  menyembunyikan dirinya di dalam celah.  Mereka bersiap! Ketika waktunya telah  tepat, mereka menembakkan batu itu  kepada sasaran masing-masing Sehelai perkamen kekuningan  telah terhampar di atas telapak tangan  seorang jenderal besar. Cemerlangnya  kedua bola mata sang jenderal sedang  memerhatikan tulisan-tulisan yang  terpahat di atas perkamen itu. Alisnya  berkerut, bibirnya mengatup rapat,</p>
<p>sementara ketajaman intuisinya  berkelebat cepat menyusun rencana di  saat yang sama ketika dia baca perkamen  itu. Napasnya tenang dan degup  jantungnya meyakinkan. Jenderal besar itu  adalah Khalid bin Walid.</p>
<p>Bayang-bayang tenda menaungi  Khalid dari teriknya matahari  semenanjung Arab. Tidak ada waktu-waktu yang paling dia sukai kecuali berada  di dalam tenda di tengah-tengah derap  langkah jihad fi sabilillah. Satu malam  yang dingin di medan tempur lebih dia  sukai daripada seribu malam dalam  pelukan bidadari.</p>
<p>Khalid bin Walid, terlahir  untuk menjadi Pedang Allah yang selalu  terhunus. Tubuh yang besar, kuat, dan kokoh  dianugerahkan Allah untuk Khalid. Sejak  kecil, medan perang telah menjadi  tempatnya bermain. Dia dididik dengan  kecintaan kepada bangsanya melebihi apa  pun, yang ketika dia masuk Islam,  sentimen kufur itu digantinya dengan  kecintaan kepada Islam. Untuk Islam, dia  rela mengorbankan apa pun yang  dimilikinya. Berbagai jenis senjata piawai  dia mainkan. Sasarannya jarang sekali  meleset ketika dia memanah.</p>
<p>Tombak  yang dilemparnya jarang sekali lari dari  tujuan. Dan kemampuannya memainkan  pedang membuatnya hampir tak  terkalahkan. Setiap kali mata pedang itu  diayunkan, dia selalu menjadi pemenang.</p>
<p>Di dalam tenda, Khalid tidak  sendirian. Dia duduk bersila berhadap- hadapan dengan Mutsana bin Harits.  Perkamen itu masih terselip di antara  jemarinya dan tatapan matanya masih  tertuju ke sana, sementara derap jihad  telah menari-nari di hadapannya.</p>
<p>“Subhanallah walhamdulillah,”  gumam Khalid dengan suaranya yang  berat ketika dia mengakhiri bacaannya. Suara itulah yang sering kali  menyemangati kaum muslim di medan  perang. Suara itu pula yang telah menjadi  halilintar yang menyambar hati pasukan  musuh. Allah telah menyisipkan rasa takut  di sanubari tentara kafir setiap kali Khalid  membuka suaranya.</p>
<p>Mutsana  memerhatikan Khalid dengan saksama.  Hatinya berdebar-debar menunggu  perintah dari jenderal yang telah lama  dikenalnya itu.</p>
<p>“Kau tahu, Mutsana,” tanya Khalid,  “surat ini adalah salah satu hal yang paling  aku tunggu-tunggu dalam hidupku. Di  dalamnya terkandung perintah dari  Khalifah untuk menaklukkan Persia.  Artinya, sebentar lagi, kita akan  mewujudkan janji Rasulullah tentang  kemenangan melawan Persia. Singgasana  Persia akan tercabik-cabik, sebagaimana  kaisar mereka dahulu mencabik-cabik  surat dakwah Rasulullah shallahu &#8216;alayhi  wasallam. Subhanallah walhamdulillah.” “Insya Allah, semoga Allah  memberikan kemudahan,” kata Mutsana.</p>
<p>di muat di majalah remaja islam drise edisi 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/">DERAP RANTAI EPISODE 20</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1940</post-id>	</item>
		<item>
		<title>DERAP RANTAI EPISODE 20</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2016 06:52:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1937</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Matahari menjadi raja di puncak langit. Bersinar terang  menyilaukan. Langit yang biru  bersih tak memeluk sejumput awan pun,  sehingga cahaya matahari benar-benar  menyengat. Kedua agen rahasia Khilafah  Islamiyah, Mutsana bin Harits dan Jabal  bin Abdul&#8217;uzza, terbaring di tepian sebuah  sungai. edisi sebelumnya 19 Tepat di depan sebuah mulut gua.  Mereka terbatuk-batuk dan  memuntahkan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">DERAP RANTAI EPISODE 20</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/">DERAP RANTAI EPISODE 20</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Matahari menjadi raja di puncak langit. Bersinar terang  menyilaukan. Langit yang biru  bersih tak memeluk sejumput awan pun,  sehingga cahaya matahari benar-benar  menyengat. Kedua agen rahasia Khilafah  Islamiyah, Mutsana bin Harits dan Jabal  bin Abdul&#8217;uzza, terbaring di tepian sebuah  sungai.</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-19/">edisi sebelumnya</a> 19</p>
<p>Tepat di depan sebuah mulut gua.  Mereka terbatuk-batuk dan  memuntahkan sedikit air yang memenuhi  paru-paru mereka. Mutsana terbaring telungkup  dengan napas terengah-engah. Tubuhnya  basah kuyup dan dengan berat dia  berusaha mengangkat tubuhnya hingga  terduduk. Jabal mengambang di sisi  sungai yang tak jauh dari Mutsana. Dia  segera tersadar dan cepat-cepat berenang  menghampiri Mutsana dengan susah-payah. Jabal terbatuk beberapa kali dan  meludah ke sebelah kiri.</p>
<p>“Ternyata sungainya berujung di  sini,” kata Jabal. Suaranya terputus-putus.</p>
<p>“Kita harus bergegas,” timpal  Mutsana.</p>
<p>“Tempat ini sebenarnya masih  terletak tak terlalu jauh dari benteng.” Mutsana memaksakan tubuhnya  agar bangkit berdiri. Dia kemudian  membantu Jabal dan memapahnya.  Kondisi Jabal memang belum pulih benar.  Mutsana melingkarkan lengan Jabal ke  pundaknya, bersama-sama mereka keluar  dari sungai menuju ke tepi sebuah bukit  karang. Mutsana membawa Jabal sedikit  mendaki ke atas bukit karang yang banyak  memiliki celah itu, dan membuat  persembunyian di sana. Jabal disandarkan  di dalam sebuah celah yang terlindung.  Mutsana mengambil tempat di sisi Jabal.  Mereka telah tersembunyi di balik celah</p>
<p>“Subhanallah walhamdulillah,”  dada Jabal masih naik-turun cepat.  Namun napasnya sudah mulai tenang.</p>
<p>“Aku tidak membayangkan masih bisa  lolos dari tempat yang mengerikan itu.”</p>
<p>“Semuanya berkat pertolongan  Allah subhanahu wata&#8217;ala,</p>
<p>” gumam  Mutsana sambil menelan ludah. Dia juga  sedang berusaha menstabilkan napasnya. “Alhamdulillah. Tapi aku juga ingin  mengucapkan terima kasih karena telah  menyelamatkan aku.” “Memang sudah tugas seorang  komandan untuk memerhatikan  anakbuahnya,”</p>
<p>sahut Mutsana sambil  tersenyum lebar. Kebahagiaan di dalam  hatinya terasa tak terkira, sebab jerih dan  perjuangannya tak sia-sia. Dia berhasil  menyelamatkan rekannya.</p>
<p>“Terima kasih banyak. Bagaimana  caranya bisa masuk ke dalam benteng?”  kata Jabal lagi. “Allahlah penolong yang paling  baik.”</p>
<p>“Tapi kita tidak boleh terlalu cepat  bersantai,” kata Jabal.</p>
<p>“Misi kita pastilah  belum kita tuntaskan.” Mutsana merogoh saku celananya  yang basah kuyup. Dia mengeluarkan  sebuah tabung dengan tangan kanannya.</p>
<p>“Surat Khalifah masih aman di sini.” “Alhamdulillah kalau begitu,”  gumam Jabal.</p>
<p>“Karena ada berbagai kekacauan  ini sekarang aku akan sampai beberapa  perubahan rencana,</p>
<p>” kata Mutsana sambil  memasukkan lagi tabung berisi surat  penting itu ke tempat yang aman.  “Perhatikan ini baik-baik!” Jabal duduk tegak dengan  menopangkan lengannya.</p>
<p>Dia menatap  mata komandannya dengan penuh  perhatian. Mutsana menunduk sejenak,  hendak menyusun kata-kata.</p>
<p>“Aku khawatir Khalifah Abu Bakar  ada dalam bahaya. Jelas sekali bahwa  lelaki yang terluka kakinya di tengah  gurun itu dengan sengaja hendak  menjebak kita. Tidak ada yang tahu misi  kita dan kepergian kita ke Yamamah,  berarti ada mata-mata mereka di  Madinah, bahkan mungkin dia ahlush  sufah. Aku curiga pada ahlush sufah yang  mengantarkan minuman kepada kita saat  kita datang melapor kepada Khalifah  kemarin.</p>
<p>di muat di majalah remaja islam drise edisi 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/">DERAP RANTAI EPISODE 20</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1937</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai Episode 13</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2016 01:43:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1278</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Langit biru dan sendu, sang matahari masih malu-malu di sudut situ. Dua ekor unta sedang berjalan menapak padang pasir yang masih dingin di daratan Arabia. Yang menungganginya adalah dua orang agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits, dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka baru saja keluar dari kota Madinah selepas solat subuh. Khalifah Abu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Episode 13</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/">Derap Rantai Episode 13</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Langit biru dan sendu, sang matahari masih malu-malu di sudut situ. Dua ekor unta sedang berjalan menapak padang pasir yang masih dingin di daratan Arabia. Yang menungganginya adalah dua orang agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits, dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka baru saja keluar dari kota Madinah selepas solat subuh. Khalifah Abu Bakar Shiddiq memerintahkan kepada mereka untuk keluar dari Madinah menuju arah Yamamah. Misi apa lagi yang telah mereka terima?</p>
<p>“Seperti biasa,” kata Mutsana, “Kita sudah keluar dari Madinah, kita harus membuka surat Khalifah.”</p>
<p>“Baiklah,” gumam Jabal.</p>
<p>Mereka dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus, yang ketika itu sang gurun pasir masih ramah karena hari masih pagi. Langit sudah cukup terang dan berwarna biru tapi matahari belum keluar dari balik cakrawala. Namun tak perlu menunggu waktu lama, hanya dalam beberapa jam saja, padang pasir itu akan menjadi ganas. Gunung-gunung cadas yang diam membisu tegak di kiri-kanan jalan. Batu-batu dan kerikil menjadi penghias mata, menggantikan rerumputan. Hampir tak ada yang hidup di padang pasir itu, kecuali binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan yang sudah tercipta untuk hidup di sana.</p>
<p>“Ayo kita menepi,” kata Mutsana.</p>
<p>Dia dan Jabal berbelok sejenak ke tepi jalan, mendekat pada sebuah gunung karang yang tertutup oleh pasir. Ada bagian yang kasar pada permukaan gunung karang itu, sebagian halus karena terkikis angin semenjak waktu yang tidak bisa diduga-duga. Mereka turun dari unta masing-masing dan mengikatkannya ke sebatang pohon kurma kering yang merana di dekat gunung karang itu, mereka mencari tempat yang agak tersembunyi. Kehati-hatian dan kewaspadaan harus selalu ada di setiap langkah mereka.</p>
<p>Setelah duduk bersandar pada batu karang, Mutsana mengeluarkan surat dari Khalifah. Dibukanya amplop pembungkus surat itu, yang bagian tutupnya disegel lilin berwarna merah dengan stempel Khilafah Islamiyah tercetak di atasnya. Stempel itu adalah cincin Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang di atasnya terukir lafaz “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Setelah Rasulullah wafat, cincin stempel kenegaraan itu kemudian dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq.</p>
<p>Sepucuk surat yang lebih kecil melompat keluar, persis seperti misi mereka sebelumnya. Jabal memungut surat itu yang terjatuh di dekatnya dan mengangkatnya di depan dadanya.</p>
<p>“Ada surat kecil lagi,” gumamnya.</p>
<p>Mutsana memerhatikan surat itu dan berdeham. Entah apa maksud dari dehamnya itu. Dia kembali beralih kepada surat yang besar.</p>
<p>“Baiklah, akan kubacakan,” kata Mutsana, sambil memerhatikan surat yang sudah terhampar di hadapannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p>Kepada Saudaraku,</p>
<p>Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza,</p>
<p>Pergilah kalian ke Yamamah dalam waktu dua hari. Temuilah komandan kita, Khalid bin Walid, yang telah selesai betugas memberantas Musailamah al Kadzab, kemudian serahkan surat kecil yang aku lampirkan di surat kalian.</p>
<p>Surat kecil itu amat penting untuk segera berada di tangan Khalid, sebab itulah yang menentukan dimulainya futuhat pertama kita ke Persia. Semoga Allah selalu bersama kalian, insya Allah. Bakarlah surat ini, setelah kalian memahami isinya.</p>
<p>Saudaramu,</p>
<p>Khalifaturasulillah</p>
<p>Abu Bakar</p>
<p>Wassalamuaialaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sepertinya misi kali ini cukup mudah,” kata Jabal, “Hanya mengantarkan surat.”</p>
<p>“Sesuatu yang kelihatan mudah tidak akan menjadi mudah jika Allah berkehendak menyulitkannya, begitu juga sebaliknya,” kata Mutsana. “Intinya, kita hanya bisa bergantung kepada Allah subhanahu wata’ala agar mempermudah misi kita. Memohon kemudahan dariNya adalah hal yang amat penting.”</p>
<p>Mereka menengadahkan tangan ke langit, memohon pertolongan kepada Allah yang kepadaNya bergantung segala sesuatu. Tidaklah makhluk memiliki kuasa apa-apa, kecuali apa yang dikehendaki Allah saja.</p>
<p>“<em>Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wala quwwata illabillah</em>,” seru Mutsana, “Semoga Allah memberikan kemudahan serta keselamatan bagi kita semua. Sebab tanpa hal itu kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan misi kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita.”</p>
<p>Setelah membakar surat sebagaimana perintah dan mengamankan surat kecil di dalam saku celana, Mutsana dan Jabal melompat ke punggung unta mereka masing-masing, kemudian memacunya selagi hari masih pagi.</p>
<p>Terhamparlah jejak cepat kaki unta di atas butiran-butiran pasir. Angin dingin berembus lagi seiring dengan melatanya ular-ular dan kadal-kadal. Mutsana dan Jabal menggenggam erat tali kekang unta-unta itu untuk mengendalikan pacunya. Mereka sedang berada dalam sebuah misi penting.</p>
<p>Matahari pun terbit dan membuat bayang-bayang menghitam panjang. Dari balik gunung-gunung karang dia muncul dengan gagah dan berwibawa. Seakan-akan dia sajalah yang ditunggu oleh seluruh makhluk selaksa alam. Dia memancarkan energi kepada semesta sejak dahulu kala.</p>
<p>Satu jam telah berlalu sejak Mutsana dan Jabal meninggalkan Madinah. Pelita matahari semakin terik dan mengalirkan bulir-bulir keringat di wajah mereka. Fatamorgana makin mengambang dan apa yang terlihat di depan seolah-olah hanya khayalan. Mereka mengatur kecepatan pacu unta-unta mereka agar mereka bisa selalu bersisian, hingga tiba-tiba mata Mutsana menangkap sebuah bayangan.</p>
<p>Jauh di depan sana, di antara fatamorgana, dia melihat ada seseorang. Hatinya bertanya-tanya apakah yang sedang dia saksikan adalah kenyataan atau khayalan. Dia berteriak kepada Jabal untuk mengalahkan deru angin.</p>
<p>“Ada orang di depan! Kau melihatnya??”</p>
<p>“Aku melihatnya,” seru Jabal. Ternyata dia pun melihat apa yang dilihat Mutsana. “Tapi kita belum tahu apa yang kita lihat itu benar atau tidak.”</p>
<p>Mereka memacu unta-unta mereka agar berlari semakin cepat. Dan semakin dekat mereka dengan apa yang mereka lihat, kian nyata bahwa apa yang mereka lihat bukanlah tipuan fatamorgana.</p>
<p>Bersambung…</p>
<p>di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/">Derap Rantai Episode 13</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1278</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai  Episode 10</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2015 01:32:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1072</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “Memangnya ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana. “Seperti apa yang tadi sudah aku ceritakan,” ujar Aswad, “Aku dan timku telah berhasil membangun fasilitas rahasia yang membentang di seluruh kota ini. Kami membangun terowongan-terowongan rahasia dan pintu-pintu rahasia yang tersambung ke berbagai bagian dari kota ini. Pintu rahasia yang kalian lihat di gang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai  Episode 10</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/">Derap Rantai  Episode 10</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “Memangnya ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.</p>
<p>“Seperti apa yang tadi sudah aku ceritakan,” ujar Aswad, “Aku dan timku telah berhasil membangun fasilitas rahasia yang membentang di seluruh kota ini. Kami membangun terowongan-terowongan rahasia dan pintu-pintu rahasia yang tersambung ke berbagai bagian dari kota ini. Pintu rahasia yang kalian lihat di gang tadi adalah salah satunya, dan ada pintu rahasia juga di rumah hantu itu yang dihubungkan langsung dengan tempat ini melalui terowongan. Rumah ini menjadi pusat operasi kami dan di sini pulalah pintu-pintu rahasia itu terhubung dengan pintu-pintu rahasia yang lain lewat terowongan bawah tanah. Jadi jalan pulang kalian tidak akan terlalu sulit seperti ketika kalian datang.”</p>
<p>“<em>Alhamdulillah wallahu akbar</em>,” Jabal memuji Tuhan.</p>
<p>“Dan segala hal yang terkait dengan seluruh fasilitas rahasia yang kami bangun ini sudah terlampir di dalam peta yang kalian bawa di dalam dokumen itu,” tambah Aswad.</p>
<p>“Baiklah, kalau begitu kami akan segera berangkat sekarang juga,” ujar Mutsana. “Semakin cepat kami berangkat semakin baik. Kalau kami terlalu lama berada di sini, khawatir akan berakibat buruk.”</p>
<p>“Ya, kecepatan dan ketepatan memang sangat penting. Tapi ada baiknya kalian memasok makanan dan perbekalan dahulu dari sini untuk keperluan di jalan. Kalian pasti kelaparan. Nanti, ketika malam sudah datang, barulah kalian berangkat, aku akan memandu kalian sampai keluar tembok kota.”</p>
<p>Mutsana dan Jabal saling pandang, ide apalagi yang lebih baik dari ini? Mereka pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Aswad.</p>
<p>“Semoga Allah melindungi anda dan seluruh tim anda. Terima kasih banyak.” Kata Mutsana.</p>
<p>000</p>
<p>“Karena orang-orang di kota ini percaya bahwa reruntuhan ini berhantu, maka tempat ini menjadi titik yang aman untuk bersembunyi,” kata Aswad. “Tidak akan ada orang yang berani mendekati tempat ini, bahkan sekadar berpikir pun tidak.” Dia memimpin Mutsana dan Jabal keluar dari sebuah lubang yang ada di sebuah kamar di tengah-tengah reruntuhan Rumah Kematian.</p>
<p>Lubang itu ditutup oleh batu berbentuk persegi berukuran dua meter kali dua meter, yang berbaur dengan lempeng-lempeng keramik yang sudah tidak beraturan lagi di sekitarnya, menjadi semacam pintu tingkap. Pintu itu jadi tersamarkan dan tidak akan ada orang yang tahu.</p>
<p>“Kami bersembunyi persis di sini ketika kami datang semalam,” ujar Jabal. Dia terlihat takjub sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya. “Kalau saja kami tahu, lebih baik kami lewat sini.”</p>
<p>“Lebih baik jangan berkata begitu, apa yang sudah terjadi semuanya sudah ketentuan Allah, dan pasti ada hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang lalu,” kata Aswad. “Rasul melarang kita untuk berkata ‘kalau saja begini, kalau saja begitu.’”</p>
<p>“Astaghfirullah,” gumam Jabal. “Semoga Allah mengampuni kekhilafanku.”</p>
<p>“Di bagian dalam sana ada pintu lagi untuk menuju keluar. Terowongan ini akan tembus di sebuah lubang di lembah sebelah barat, dan kalau sudah sampai di sana artinya tembok kota sudah kalian lintasi.”</p>
<p>Aswad memandu Mutsana dan Jabal memasuki bagian tengah reruntuhan itu dan menyingkap ada sebuah pintu rahasia lagi di lantai. Aswad membukakan pintu itu di tengah kegelapan untuk kedua rekannya.</p>
<p>“Masuklah melalui pintu ini, ikuti terus jalur terowongannya, nanti kalian akan tiba di lembah bagian barat, insya Allah,” katanya.</p>
<p>“Sekali lagi terima kasih banyak,” kata Mutsana, dia menjabat tangan Aswad dan memeluknya.</p>
<p>“Anda adalah seorang mukmin yang amat baik,” giliran Jabal yang menjabat tangan Aswad dan memeluknya. “Semoga Allah selalu meberkahi anda, insya Allah.”</p>
<p>“Semoga kalian berdua selamat sampai di Madinah, Allah akan melindungi kalian berdua, insya Allah. Di luar sini kita tidak boleh menyalakan lilin. Setelah berada di dalam barulah kalian menyalakan lilin,” kata Aswad. “Selamat bertugas.”</p>
<p>Setelah berbalas salam, Mutsana dan Jabal memasuki lubang yang gelap itu sementara Aswad menutupkan pintunya. Lilin pun mereka nyalakan seperti diperintahkan Aswad, dan mereka telusuri terowongan itu.</p>
<p>Tinggi dan lebar terowongan itu masing-masing hanya dua meter, cukup sempit. Bagian tepi dan atapnya disangga oleh balok-balok kayu yang tebal agar terowongan yang beralas dan beratap tanah itu tidak runtuh. Mulut Mutsana dan Jabal terkatup diam, mereka tidak bicara apa-apa sepanjang perjalanan. Sementara hati mereka tetap menggumamkan zikir kepada Allah <em>azza wajalla</em>.</p>
<p>Perjalanan melintasi terowongan itu terasa panjang, walau pun datar-datar saja. Mereka merasa bahwa mereka sedang melintasi sebagian kota Ubullah dan denyut aktifitas kota itu ada di atas mereka. Setelah kira-kira setengah jam berjalan, mereka melihat cahaya redup di depan mereka.</p>
<p>“Itu ujung terowongan,” kata Mutsana, dia berjalan di depan. Sementara Jabal mengikuti di belakangnya.</p>
<p>Cahaya redup bintang gemintang menerobos masuk dari celah. Pintu keluar itu tertutup sebongkah batu besar.</p>
<p>“Pintunya tertutup,” kata Jabal. “Bagaimana mungkin Aswad menuntun kita pada jalan buntu seperti ini?”</p>
<p>“Jangan su’uzhon dulu, mungkin saja Ini sekadar kamuflase,” ujar Mutsana. “Kita coba geser saja.”</p>
<p>Mutsana dan Jabal meletakkan lilin mereka di lantai terowongan. Mereka mengerahkan tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tanpa diduga, batu besar itu bergerak dengan mudah, mereka hanya perlu mengerahkan sedikit tenaga. Mereka segera keluar dari terowongan itu, membentanglah langit malam yang ditaburi bintang-bintang di hadapan mereka. Udara segar segera memenuhi paru-paru mereka setelah mereka merasakan betapa tipisnya udara di dalam terowongan.</p>
<p>Mereka kembali menggeser batu besar itu ke tempatnya semula, agar lubang rahasia itu tetap tersembunyi. Mutsana menengadah ke langit malam, dia tahu, Allah dzat yang tidak pernah tidur sedang menyaksikannya mengemban amanah, dia naikkan kedua belah tangannya. Jabal mengikuti apa yang dilakukan komandannya itu.</p>
<p>“Ya Allah, ya Robbi, tidaklah segala sesuatu terjadi melainkan karena kuasa dan kehendakMu! Terima kasih karena telah memberikan keberhasilan pada kami dalam menjalankan misi ini. Mohon selalu berkahi langkah kami, tetapkan kami di atas jalan yang lurus. <em>Subhanallah walhamdulillah</em>.”</p>
<p>Kedua agen rahasia itu segera merendahkan tubuh mereka, kemudian tersungkur di atas tanah, bersujud kepada Tuhan seru sekalian alam. [@sayfmuhammadisa]</p>
<p>Bersambung…</p>
<p>di  muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #39</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/">Derap Rantai  Episode 10</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1072</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai Episode 9</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2015 17:53:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=993</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “AKU ADALAH agen rahasia yang telah ditanam di wilayah Persia ini sejak Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam masih hidup,” Aswad memulai ceritanya. “Jadi misi rahasiaku diberikan langsung oleh Rasulullah sendiri. Aku  ditugaskan untuk meneliti dan mengumpulkan informasi apapun yang berkaitan tentang pemerintah Persia di kota ini. Selain itu, aku diperintahkan untuk membangun sel dan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Episode 9</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/">Derap Rantai Episode 9</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “AKU ADALAH agen rahasia yang telah ditanam di wilayah Persia ini sejak Rasulullah <em>shalallahu ‘alayhi wasallam</em> masih hidup,” Aswad memulai ceritanya. “Jadi misi rahasiaku diberikan langsung oleh Rasulullah sendiri. Aku  ditugaskan untuk meneliti dan mengumpulkan informasi apapun yang berkaitan tentang pemerintah Persia di kota ini. Selain itu, aku diperintahkan untuk membangun sel dan jaringan serta fasilitas rahasia ini. Ternyata Rasulullah memang sudah merencanakan untuk mem-futuhat Persia lewat Ubullah ini. Aku harus terus memertahankan posisiku sampai datang instruksi selanjutnya, dan itulah kalian.”</p>
<p>“<em>Shollu ‘ala Rasulillah</em>, semoga Allah melimpahkan rahmat dan barokahnya kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam,” Mutsana memanjatkan solawat untuk Rasulullah. “Kekaisaran Persia memang batu sandungan yang amat besar untuk tersebarnya Islam, karena itu kita harus berupaya sekuat tenaga dalam menyingkirkan batu sandungan ini dengan jihad fi sabilillah.”</p>
<p>Aswad mengangkat tangannya dan berdoa, kemudian mengusapkannya ke wajahnya. “Selama pelaksanaan tugas rahasia ini aku diperintahkan untuk menyamar menjadi pedagang kain. Panghasilannya lumayan juga, dan bisa dijadikan sebagai penopang hidup sekaligus pendukung untuk menjalankan misi. Anggota timku yang lain ada yang menjadi tukang kayu, tukang batu, sampai pegawai administrasi Persia. Tapi sebagian besar adalah pedagang kain.”</p>
<p>“Jumlah tim anda ada berapa orang?” Tanya Mutsana.</p>
<p>“Tujuh puluh orang.”</p>
<p>“Subhanallah,” gumam Jabal. “Semoga Allah menambahkan barokahNya kepada anda dan tim anda.”</p>
<p>Mutsana memeriksa saku celananya. Dibukanya ikatan tali yang mengamankan isinya, kemudian mengeluarkan sepucuk surat kecil.</p>
<p>“Kami diamanahkan untuk menyerahkan surat ini kepada anda. Allah menyaksikan bahwa sekarang amanah telah kami tunaikan,” kata Mutsana.</p>
<p>Aswad menerima surat kecil itu dalam kedua belah tangannya. Sudah lama sekali masanya sejak dia menerima surat misinya yang pertama kali. “Terima kasih banyak. Semoga Allah memberkahi kalian.” Aswad membuka surat itu dan membacanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Assalamu’alaikum</p>
<p>Kepada saudaraku, Aswad bin Asadi</p>
<p>Aku telah mengutus dua orang saudara kita, yakni Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza ke Ubullah untuk menemuimu. Serahkanlah seluruh laporan temuanmu kepada mereka. Nanti merekalah yang akan membawanya kembali kepadaku.</p>
<p>Misi selanjutnya untukmu dan timmu adalah, lumpuhkan seluruh fasilitas pemerintahan dan militer Persia di Ubullah. Kita akan melakukan futuhat ke Persia.</p>
<p>Saudaramu</p>
<p>Abu Bakar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa anda akan menyerahkan sesuatu setelah membaca surat itu,” kata Mutsana. “Kami ditugaskan untuk membawa sesuatu itu kepada Khalifah.”</p>
<p>“Benar,” Aswad mengangguk. “Aku harus menyerahkan seluruh laporan kepada kalian, dan kalian harus mengantarkannya kepada Khalifah Abu Bakar. Semuanya sudah aku siapkan. Silakan ikut aku.”</p>
<p>Aswad memimpin mereka memasuki ruangan bagi tengah. Di dalam ruangan itu sudah ada dipan-dipan yang empuk dan meja-meja yang terletak di atasnya buah-buahan. Ruangan itu terlindungi dari pandangan luar.</p>
<p>“Silakan duduk dengan lebih nyaman, sementara aku mengambilkan seluruh laporanku,” kata Aswad sambil melayangkan lengannya.</p>
<p>“Terima kasih,” kata Mutsana.</p>
<p>Mereka segera mengempaskan tubuh mereka di atas dipan, lelah sekali rasanya. Namun rasa lelah apakah yang paling nikmat kalau bukan rasa lelah dalam mengemban amanah dari Khalifah kaum muslim. Energi mereka telah terkuras, semalaman mereka tidak tidur, ditambah lagi mereka harus dikejar-kejar seperti pencuri ayam. Jabal segera mengambil sebutir anggur hijau yang ada di atas meja, setelah membisikkan basmallah, dia menjejalkan anggur itu ke dalam mulutnya. Dia benar-benar kelaparan, sudah seharian itu mereka tidak makan.</p>
<p>Tak lama kemudian Aswad muncul lagi di ruangan itu dengan membawa setumpuk tebal perkamen berwarna cokelat. Dia letakkan tumpukan perkamen itu di atas meja kemudian dibungkusnya dengan sebuah tas dari kulit.</p>
<p>“Ini semua adalah dokumen laporan yang lengkap untuk Khalifah Abu Bakar Shiddiq,” katanya. “Dokumen ini harus kalian bawa kepada Khalifah.”</p>
<p>“Insya Allah,” kata Mutsana.</p>
<p>“Oya, bagaimana cara kalian masuk ke kota ini? Lewat gerbang utama?” Tanya Aswad.</p>
<p>“Kami tidak lewat gerbang utama. Tidak mungkin lewat sana,” kata Jabal.</p>
<p>“Benar, pemeriksaannya ketat sekali, dan kami tidak punya surat izin masuk,” tambah Mutsana.</p>
<p>“Memang sulit sekali mendapatkan surat izin masuk itu,” kata Aswad, “salah satu syaratnya adalah tidak boleh beragama Islam. Pemerintah Persia memang benci sekali kepada Islam. Jadi kalau begitu kalian lewat mana?”</p>
<p>“Kami mendaki tembok kota di sebelah barat, dan bersembunyi di Rumah Kematian,” kata Jabal. “Pasti anda tahu, rumah hantu yang ada di sebelah barat kota.”</p>
<p>Aswad tergelak, “Ooh, Rumah Kematian, ya semua orang yang tinggal di kota ini pasti tahu rumah itu. sebenarnya kalau kalian tahu sesuatu tentang rumah itu, kalian tidak harus repot-repot menghadapi kekacauan seperti yang baru saja kalian alami!”</p>
<p>“Ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.</p>
<p>Bersambung</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/">Derap Rantai Episode 9</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">993</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
