<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>CERPEN ISLAM Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/cerpen-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Jan 2020 22:47:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Umi di mana abi ? By Ridha Sriwahyuni</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/umi-di-mana-abi-ridha-sriwahyuni/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/umi-di-mana-abi-ridha-sriwahyuni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2017 02:15:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2728</guid>

					<description><![CDATA[<p>Malkah Qafishah menahan rasa sakit di perutnya. Di  penjara Al- Majdal tubuhnya yang ringkih semakin  Mlemah oleh penderitaan demi penderitaan yang ia  terima. Hanya lirih dzikir di bibirnya yang sunyi mampu  menjadi penguat hidupnya dan bayi yang telah delapan bulan  berada di rahimnya. Sudah hampir sepuluh bulan ia ditahan di  penjara itu. Ia sendiri tidak &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/umi-di-mana-abi-ridha-sriwahyuni/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Umi di mana abi ? By Ridha Sriwahyuni</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/umi-di-mana-abi-ridha-sriwahyuni/">Umi di mana abi ? By Ridha Sriwahyuni</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Malkah Qafishah menahan rasa sakit di perutnya. Di  penjara Al- Majdal tubuhnya yang ringkih semakin  Mlemah oleh penderitaan demi penderitaan yang ia  terima. Hanya lirih dzikir di bibirnya yang sunyi mampu  menjadi penguat hidupnya dan bayi yang telah delapan bulan  berada di rahimnya. Sudah hampir sepuluh bulan ia ditahan di  penjara itu.</p>
<p>Ia sendiri tidak tahu apa salahnya. Kata mereka  Malkah dituduh hendak melakukan bom bunuh diri. Ia  ditangkap oleh tentara Israel pada tengah malam di rumahnya  di kota Nablus. Di dalam penjara Malkah menerima siksaan-  siksaan yang tidak manusiawi. “ Haus…haus…air…air…” rintih Malkah. Kaki dan kedua  tangannya yang diborgol membuat Malkah yang lemah tidak  dapat berbuat apa- apa. Seorang tentara Israel membuka pintu sel. Sel yang  sangat sempit, hanya berukuran dua meter persegi, kotor,  dingin dan tidak mempunyai ventilasi.</p>
<p>Di lantai terdapat  lubang yang digunakan untuk buang air yang baunya amat  busuk. Tempat buang air itu terletak di samping tempat tidur  yang basah. Dinding sel yang berwarna bau- abu sudah rusak  sehingga untuk bersandar saja tidak bisa. Tentara itu memasang wajah sangar saat mendengar  rintihan Malkah yang kehausan. “ Kau haus, heh? “ Malkah mengangguk pelan. Tentara Israel itu mengambil sebuah gelas plastik di  pojok sel lalu mengencinginya.  “ Minum ini ! “ serunya kepada Malkah sambil  menyodorkan gelas yang berisi air kencingnya sendiri. “ Tidak! Semoga Allah melaknatmu !  “</p>
<p>“ Apa? Kau tidak mau?  “</p>
<p>“ Aku tidak mau!  “</p>
<p>“ Kalau kau tidak mau meminumnya aku akan  menendang perutmu dan aku akan menginjak- injaknya  hingga  bayimu keluar dalam keadaan hancur “ Malkah Qafishah merinding mendengar ancaman itu.  Ia teringat pada rekannya Fatimah Ghazalah yang dibantai  oleh tentara Israel saat sedang hamil. Fatimah berikut bayinya  yang masih dalam kandungan tewas seketika. Malkah tidak  ingin bayi dirahimnya tersakiti oleh tentara laknatullah.  Meskipun bayi itu tidak ia inginkan. Malkah memandang Yahudi itu dengan penuh kebencian.  Mereka adalah orang- orang yang tidak mempunyai  prikemanusiaan. Sejak tahun 1946 sampai saat ini mereka tidak  henti melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina.  Pembantaian itu bukan dilakukan pada kelompok bersenjata, tapi  pada warga sipil yang tidak berdosa.</p>
<p>Pembantaian King David di  tahun 1946, Pembantaian Baldat Al-Shaikh pada tahun1947,  Pembantaian Yehida, Pembantaian Khisas, Pembantaian Qazaza,  Pembantaian Hotel Semirami, Pembantaian di Qibya, Pembantaian  Kafr Qasem, Pembantaian Qana,dan lainnya telah membunuh ratus  ribuan warga. Tidak peduli ia wanita, anak- anak atau orang tua.  Mereka beringas seperti serigala yang selalu kelaparan. Hati  Malkah perih, teringat saat ia menyaksikan sendiri ibu dan ayahnya  dibantai di depan matanya pada pembantaian Qana tahun 1996.</p>
<p>Ketika itu umur Malkah masih delapan tahun. Tentara Israel  mematahkan leher ayahnya dengan tongkat dan menembaki  ibunya. Sementara Malkah dibawa lari oleh kakeknya sehingga  jiwanya terselamatkan. Namun pembunuhan terhadap  orangtuanya itu selalu menjadi mimpi buruk baginya yang  membuat ia murung sepanjang hari. “ Minum! “ tentara yahudi itu menempelkan mulut gelas ke  bibr Malkah. Aroma air seni yang busuk membuat Malkah mual. Ia  ingin menepis gelas itu, namun tangan dan kedua kaki Malkah yang  diborgol membuatnya tidak dapat berkutik. “ Ayo minum “ ! tentara iasrel itu memaksakan air seninya  yang telah ditampung dalam gelas masuk ke dalam mulut Malkah. “ Fuuh !“ Malkah meludahkan air seni yang masuk ke  mulutnya hingga mengenai muka tentara Israel tersebut. “ Kurang Ajar! Kubunuh kau ? “ seru tentara itu dengan  nada penuh amarah. Malkah menatap tentara itu dengan mata berapi- api. “ Bunuhlah aku! Aku tidak takut mati ! kematian lebih  baik bagiku daripada hidup dalam bulan- bulanan kalian hai  orang- orang yang terlaknat “ ! Malkah tidak gentar mendengar  ancaman tentara itu. “Bangsat ! “  si tentara  menendang perut Malkah lalu  pergi keluar sel, menutup pintu sel dengan bunyi yang sangat  keras memekakkan telinga. Malkah memejamkan mata menahan sakit dan perih  yang ia rasakan pada perutnya.  “ Allahu Akbar…” lirihnya dan sel itupun berubah gelap.</p>
<p>***</p>
<p>Malam itu Malkah Qafishah merasakan bahwa waktunya  melahirkan sudah tiba. Air ketuban telah menetes. Wajahnya  pucat menahan sakit. Malkah berteriak memanggil- manggil  tentara Israel agar segera membawanya ke rumah sakit. Awalnya  mereka tidak peduli. Malkah memohon seraya menjelaskan siapa  bayi itu sesungguhnya. Tentara Israel itupun membawa Malkah  ke rumah sakit  dengan pengawasan ketat. Mungkin ia boleh  sedikit bersyukur mendapat kesempatan melahirkan di rumah  sakit, sebab banyak rekannya yang dilarang oleh tentara Yahudi  mendapat pertolongan medis saat persalinan hingga bayi- bayi  mereka meninggal. Malkah melakukan proses persalinan dengan tangan  tetap terikat. Tak berapa lama kemudian lahir seorang bayi laki-  laki dengan selamat. Dalam keadaan yang sangat lemah itu  Malkah teringat kejadian- kejadian yang menimpanya selama di  penjara. Termasuk perihal bayinya itu hingga membuatnya tak  ingin menatap sang bayi. Namun naluri keibuannya tidak sanggup  menahan rasa cinta terhadap sesosok makhluk mungil yang  keluar dari rahimnya iru. Perasaan Malkah hancur. Didekapnya  bayi mungil itu denga penuh kasih. Cinta telah menghabiskan  segala dendamnya.</p>
<p>***</p>
<p>“ Ummi, dimana Abi? Apakah Abi dibunuh oleh tentara  Israel yang kejam itu? katakanlah Ummi…jika benar, aku akan  membalas perbuatan mereka. Aku akan membunuh Yahudi yang  terkutuk itu” Malkah menatap Hasan dengan mata berkaca- kaca. Bayi  merah yang ia lahirkan sepuluh tahun lalu itu sekarang semakin  cerdas. Ia selalu menanyakan asal- usul ayahnya.  “ Ummi…kenapa Ummi menangis? Apakah Abi masih  hidup, Ummi? Hasan ingin bertemu dengan Abi. Hasan ingin  melihat wajah Abi walau hanya sekali…” Malkah memeluk Hasan. Ia sangat menyayangi putra  satu- satunya itu. “ Ummi, apakah Abi dibunuh oleh tentara Israel itu  seperti abi teman- teman Hasan? “ Malkah masih diam. Ia mencoba menguasai perasaanya. “ Nak…” Malkah menatap Hasan dengan penuh  kelembutan. “ Jujurlah Ummi…Hasan sudah besar. Hasan berhak tahu  siapa Abi Hasan.  “</p>
<p>“ Anakku…Abimu adalah tentara Israel itu “ Hasan kaget mendengar penuturan Malkah, ibunya. “ Tidak mungkin, Ummi…tidak mungkin Abi Hasan orang  jahat itu. Ummi hanya bercanda kan? “ Malkah menangis. Hasan menghaspus air mata Malkah  dengan jari- jarinya yang mungil. “ Ummi…kenapa Ummi menangis? Maafkan Hasan kalau  kata- kata Hasan membuat Ummi sedih…Ummi jangan  menangis…” Malkah menggenggam jari- jari Hasan yang menyentuh  air matanya lalu menciumnya dengan penuh kasih. “ Nak, mungkin sudah saatnya kamu tahu. Dulu Ummi  dipenjara dengan tuduhan akan melakukan bom bunuh diri.  Disana Ummi disiksa dengan amat kejam. Tak hanya siksaan fisik,  nak…Ummi diperkosa oleh tentara Israel itu. Hingga akhirnya  Ummi hamil dan melahirkan engkau. Ayahmu adalah tentara  yang memperkosa Ummi, nak  “</p>
<p>“ Ummi…jadi aku adalah anak tentara Yahudi yang jahat  itu, Ummi? “ Malkah diam. Seharusnya bocah sekecil itu tidak perlu  tahu apa sebenarnya yang telah menimpa dirinya.  Hasan memeluk Malkah semakin erat. “ Kenapa Ummi mau merawat dan membesarkan bayi dari musuh Ummi sendiri? “ Malkah tersentak. Ia tidak menyangka Hasan akan  berkata seperti itu. “ Nak, jangan bertanya seperti itu. Kamu adalah  amanah Allah yang harus Ummi jaga. Itu adalah kewajiban  Ummi sebagai seorang ibu. “</p>
<p>“ Tapi Hasan adalah anak Israel yang telah  memperkosa Ummi. Anak musuh kita. Anak musuh agama  dan bangsa kita. Anak orang yang telah membunuh banyak  saudara kita.  “</p>
<p>“ Kamu tidak salah apa- apa nak. Kamu adalah anak  Ummi yang baik “</p>
<p>“ Terima kasih Ummi. Hasan janji akan membela  Ummi. Membela bangsa dan agama kita “</p>
<p>***</p>
<p>Tentara Israel kembali melakukan penyerangan.  Mereka membom rumah- rumah dan tempat ibadah. Mereka  menembaki dan membunuh warga sipil. Mereka beringas lagi.  Para serigala itu haus darah lagi. Pada malam yang mencekam itu Hasan selalu  berlindung di balik dekapan ibunya. Ia mendengar jelas suara  bom dan tembakan. Ia melihat kepulan asap di langit kotanya.  Sementara Malkah tidak melepaskan pelukannya pada Hasan.  Ia tahu anaknya itu sedang berada dalam ketakutan. Ia akan  melindunginya walau harus mengorbankan nyawanya sendiri.</p>
<p>Pintu rumah Malkah didobrak. Dua orang tentara  Israel berada di depan mukanya dengan menghadangkan  senjata. Hasan ketakutan. Ia bersembunyi di belakang  Malkah. Wajah Malkah pucat. Ia tahu maut sebentar lagi akan  menjemputnya. Entahlah, tanpa dosa apa- apa Yahudi itu  mulai membidikkan senjata, bersiap- siap membunuh  Malkah. “ Terkutuk kalian! Jangan bunuh Ummiku ! “  Hasan  maju dari balik tubuh Malkah. Ia berseru sambil  melemparkan batu- batu kecil ke wajah dua tentara Israel itu. “ Pergi kalian! Jangan ganggu Ummiku…” Hasan terus  melempari mereka. Rupanya ia telah lama menyediakan batu-  batu untuk menyerang tentara Israel.  “ Hasan, jangan nak…kembali kesini dekat  Ummi..mereka bisa membunuhmu  “</p>
<p>“ Jangan takut, Ummi…aku akan membela Ummi…” Tentara itu jadi kelimpungan menghadapi serangan  Hasan. Batu- batu Hasan mengenai mata mereka sehingga  membuat mereka kepayahan. “ Kurang ajar kau bocah kecil! Mati kau ! “ seru salah  seorang tentara lalu melemparkan timah panas ke tubuh  Hasan. Sebuah peluru menembus dada Hasan. Darah  bercucuran. Tubuh kecil itu ambruk seketika. “ Hasan…anakku…” Malkah segera menghamburkan  diri pada Hasan. Lantas ia memeluk tubuh putranya yang  talah berlumuran darah. “ Ummi…jangan menangis. “</p>
<p>“Iya nak…jangan tinggalkan Ummi, nak… “</p>
<p>“ Iklhlaskan kepegian Hasan menghadap Allah. Hasan  ingin melindungi Ummi dari kekejaman mereka. Hasan tidak  rela mereka menyakiti Ummi lagi.  “</p>
<p>“ Ummi mencintaimu, anakku…” Ummi…apakah Allah mau memasukkan anak seorang  tentara israel yang jahat ke surga ? Malkah tidak dapat membendung air matanya. “ Anakku, percayalah, Allah akan memberikan pahala  syahid untukmu. Engkau telah membela Ummi dan telah  memerangi Yahudi laknatullah. Engkau akan mencium bau  surga, anakku…” Setelah itu Malkah tidak lagi merasakan desah nafas  dan detak jantung Hasan.[] ***</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/umi-di-mana-abi-ridha-sriwahyuni/">Umi di mana abi ? By Ridha Sriwahyuni</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/umi-di-mana-abi-ridha-sriwahyuni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2728</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dua cangkir kopi bagian 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi-bagian-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi-bagian-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2016 12:56:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1785</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Nuri, satu nama yang selalu hinggap bertahun-tahun di masa kecilnya, serta satu nama yang selalu terlupa bertahun-tahun sekarang.Thoriq sering bertabrak pandang dengan gadis itu, hanya saling memberi seutas senyum, berlalu, tanpa ada sepatah-katapun mengucur dari mulut. Gadis berambut cepak,yang selalu mengenakan baju terfavorit kaos bergambar batman, bersama merayap naik ke atap rumah. Segera &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi-bagian-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Dua cangkir kopi bagian 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi-bagian-2/">Dua cangkir kopi bagian 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Nuri, satu nama yang selalu hinggap bertahun-tahun di masa kecilnya, serta satu nama yang selalu terlupa bertahun-tahun sekarang.Thoriq sering bertabrak pandang dengan gadis itu, hanya saling memberi seutas senyum, berlalu, tanpa ada sepatah-katapun mengucur dari mulut. Gadis berambut cepak,yang selalu mengenakan baju terfavorit kaos bergambar batman, bersama merayap naik ke atap rumah.</p>
<p>Segera Thoriq mengambil buku catatan, lembaran yang kosong, merobeknya, meremas hingga membentuk seperti bola. Bidikan tajam.. Pluk!</p>
<p>&#8220;Yes, kena!&#8221;</p>
<p>Kaca jendela itu terbentur bola kertas yang besar, menyisakan bunyi berdebam. Siluet perempuan hadir, berdiri tegak, dalam kaca jendela dengan cahaya yang temaram. Jendela itu membuka. Wajah Nuri melongok.</p>
<p>&#8220;Hai, Nur. Lama nggak jumpa. Lama nggak ngobrol. Kamu bisa keluar sebentar, nggak? Ke depan pagar rumahmu.&#8221; Sapa Thoriq agak kikuk.</p>
<p>Nuri mengangguk.</p>
<p>Gadis cilik itu sudah besar. Tak terlihat lagi rambut cepak, terbalut jilbab yang menjulur sampai ke perut. Tak ada lagi kaos bergambar batman, terganti jaket tebal dan rok panjang sampai ke tumit, serta kaos kaki.Mata Nuri menatap ke jalan, sepi. Sedang Thoriq tak berani menatap pada gadis yang duduk mematung berjarak tiga meter dari tempat ia duduk matanya terbang ke langit. Hembusan napasnya bergelung-gelung, lautan bintang yang indah.</p>
<p>&#8220;<em>Demi langit yang mempunyai gugusan bintang</em>..&#8221;<sup>2</sup>Thoriq berucap lirih, kagum.</p>
<p>Nuri melakukan hal yang sama, menatap dan berucap ke arah langit. &#8220;<em>Dan hari yang dijanjikan</em>.&#8221;<sup>3</sup></p>
<p>Thoriq tersenyum, menyambung potongan-potongan ayat yang indah. &#8220;<em>Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan</em>..&#8221;<sup>4</sup></p>
<p>&#8220;Subhanallah,&#8221; Komentar Nuri. Mata indah itu berkaca-kaca.</p>
<p>&#8220;Baru pertama kali lihat?&#8221; Tanya Thoriq mengusap tengkuknya yang sakit, karena terlalu lama menataplangit.</p>
<p>&#8220;Iya. Antum?&#8221; Nuri melempar balik tanya.</p>
<p>&#8220;Sama sih. Oh iya, mau kopi?&#8221; Thoriq mengangkat dua cangkir kopi, yang dibawanya dari dapur.</p>
<p>&#8220;Boleh..,&#8221; Nuri mengambil secangkir, memegang telinga cangkir berwarna putih tulang. &#8220;.., jadi.. Bagaimana kabar antum?Rekan panjat atap dan lompat jendela kamar?&#8221; Tanyanya mengulum tawa.</p>
<p>Thoriq tertawa, menegak kopi. &#8220;Alhamdulillah, baik. Lebih baik. Masa-masa jahiliyah udah lewat, Ukhti.&#8221; Ia menatap lautan bintang, &#8220;Walaupun kemiskinan ilmu terus-terusan ada.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ana suka liat teman seperti ini, kok. Ciyee.. Sekarang lebih alim, ya?&#8221; Ejek Nuri, juga menegak kopi. &#8220;Ana sering lihat antum berjamaah di mesjid. Bener-bener sholat &#8216;kan? Nggak jadi agen nyolong sendal?&#8221;</p>
<p>Thoriq membelalakkan mata, &#8220;Oi! Jangan su&#8217;udzon! Tapi.. Kok anti tau? Hahaha.. Pengalaman jangan dibagi, dong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hihi. Seneng deh, kumpul-kumpul lagi.&#8221; Kata Nuri membuang pandang. &#8220;Sayangnya, kita nggak bisa sedekat dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;He-eh. Serasa reunian, walaupun rumah kita berdekatan dan sering ketemu. Cuma nggak ngobrol, lima tahun..&#8221;</p>
<p>Bintang berkedip samar, tak tampak. Semilir angin mendesah lirih.</p>
<p>&#8220;Iya, ya. Lima tahun..&#8221; Nuri mencoba mengulang kata-kata. Menancapkannya dalam hati. Lima tahun? Selama itu nggak ngobrol sama sahabat yang udah sama-sama dari lahir..</p>
<p>&#8220;Ana juga suka liat Nuri si rambut cepakdan kaos gambar batman berubah jadi seorang akhwat yang rapi menutup aurat.<em>Keep </em>istiqomah, yaa..&#8221;</p>
<p>&#8220;Doakan terus aja. Antum juga. Tetap istiqomah berjamaah di mesjid. Pahala dua puluh tujuh derajat, lumayan menambah amal di timbangan sewaktu di yaumi mizan..&#8221;</p>
<p>&#8220;Na&#8217;am, Kakak Ketua Akhwat..&#8221; Thoriq memberi hormat seperti seorang jenderal.</p>
<p>Nuri tertawa, &#8220;Siiiip deh, Kakak Ketua Umum..&#8221;</p>
<p>Mereka tertawa bersama.</p>
<p>&#8220;Apa kabar, ya? Langit sore yang dulu sering kita pandangin sama-sama. Liat matahari terbenam, terus buru-buru turun pake kesandung dan lompat ke tangga di dapur anticepat-cepat mengambil wudhu, dan lomba lari sampai ke mesjid buat sholat maghrib..&#8221; Celetuk Thoriq, setelah jeda diam sehabis tawa.</p>
<p>&#8220;Antum lupa? Genteng ana sering di ganti, karena kita yang jingkrak-jingkrak di atap rumah.&#8221; Kata Nuri membayangkan gentengnya yang kebanyakan penyok dan jadi bocor.</p>
<p>Thoriq terkekeh. &#8220;Yah, curhat lagi doi. Hmm, udah dulu, ya. Bentar lagi shubuh. Cuma kita berdua, nanti ketiganya?&#8211;&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8211;Setaannnnnn!!!&#8221;</p>
<p>Langkah mereka berhamburan, berlari ke halaman rumah masing-masing. Di depan pintu, mereka saling pandang dari kejauhan, dalam remang-remang lampu jalan.</p>
<p>&#8220;Jangan lupa <em>qiyamul lail</em>-nya.&#8221; Nuri mengingatkan, yang disambut dengan dua jempol dari Thoriq.</p>
<p>Mereka masuk ke dalam rumah, dengan dada yang berdebar.</p>
<p>&#8220;Dia makin sholehah.&#8221; Ucap Thoriq, memegang jantungnya yang berdetak lebih laju.</p>
<p>&#8220;Ngapain, Bro? Jam segini diluar.&#8221; TanyaBang Umar, mata tajam itu tak lepas dari televisi.</p>
<p>&#8220;Nyari angin segar aja, Bang.&#8221; Jawab Thoriq.</p>
<p>&#8220;Kakak nyari angin? Aku mau kentut, nih. Mau? Nggak usah lagi nyari anginnya diluar.&#8221; Suara cempreng si bungsu Jamal langsung dibekap mulut mungil itu oleh Abi.</p>
<p>&#8220;Dia makin sholeh.&#8221; Tutur <a href="http://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi/">Nuri menggelar</a> sajadah. Sedang dengkuran dua adik dan dua orang tuanya mengiringinya untuk memilinkan doa ke atas langit.</p>
<p>Keran terbuka, air deras mengalir. Sealiran dengan air yang berdesir di dadanya, Thoriq tertegun sejenak. Meluruskan niat, pembuktian cinta seorang hamba. Bukan karena satu akhwat yang membuat dada berdebar mengingatkannya sepuluh menit lalu. Aliran air keran menyentuh lantai keramik, melompat-melompat berkecipak. Thoriq mulai berwudhu.</p>
<p>Teriakan keras mengguncang rumah itu: &#8220;GOL!!!!!&#8221;</p>
<p>Dua cangkir kopi itu terlupa, masih tergeletak sunyi di pinggir jalan. Isi yang tandas.Berampas hitam. Warna seputih tulang. Angin malam membuat dua cangkir kopi berembun, seperti embun yang menyatu dengan bola mata Nuri. <strong>(*)</strong></p>
<p><em>Keterangan:</em></p>
<p><em>1:Al-Insaan ayat 26</em></p>
<p><em>2-4: Al-Buruj 1-3</em></p>
<p>di muat di majalah remaja islam drise edisi 48</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi-bagian-2/">Dua cangkir kopi bagian 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1785</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dua cangkir kopi</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2016 12:53:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1782</guid>

					<description><![CDATA[<p>By: Qatrunnada Hulwah Kepada malam, Aku tak mampu berkata banyak, Mengapa dunia tak mau terlelap? Aku ingin mengintip mimpi, Namun bunga tak mau mengajak, Bersikeras tetap mekar di luar kepala, Mengapa mata tak bisa berhenti menatap? Rembulan telah enggan, Menyuapkan dongeng sebelum kantuk, Bintang-gemintang telah menggeleng, Menyanyikan syair sebelum dengkur,   (Dan pada sebagian dari &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Dua cangkir kopi</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi/">Dua cangkir kopi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>By: Qatrunnada Hulwah</em></strong></p>
<p><em>Kepada malam,</em></p>
<p><em>Aku tak mampu berkata banyak,</em></p>
<p><em>Mengapa dunia tak mau terlelap?</em></p>
<p><em>Aku ingin mengintip mimpi,</em></p>
<p><em>Namun bunga tak mau mengajak,</em></p>
<p><em>Bersikeras tetap mekar di luar kepala,</em></p>
<p><em>Mengapa mata tak bisa berhenti menatap?</em></p>
<p><em>Rembulan telah enggan,</em></p>
<p><em>Menyuapkan dongeng sebelum kantuk,</em></p>
<p><em>Bintang-gemintang telah menggeleng,</em></p>
<p><em>Menyanyikan syair sebelum dengkur,</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>(Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.)<sup>1</sup></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Asap </strong>obat nyamuk membumbung di udara, mencolek cuping hidung hinga terbatuk-batuk. Thoriq meletakkan secangkir kopi hangat di depan buku-buku belajarnya, ia menggaruk kepalanya gusar. Ingin tidur lagi tapi tidak bisa. Ia merindukan tidurnya tiga jam yang lalu. Dengung nyamuk yang menyebalkan. Suhu kamar yang begitu panas. Dan, yang paling meresahkan; suara ribut di ruang tengah. Ekor matanya melirik jam dinding, pukul 02.00 dini hari. Ia menghela napas. Gara-gara sepak bola dengan copa del rey, seisi rumah kecuali dirinya nongkrong di depan teveuntuk begadang.</p>
<p>Thoriq tersenyum kecut, ia tak suka dan tak ingin pura-pura suka bola. Trauma masa lalu. Beni kecil berpakaian merah putih, menendang benda bundar menampar telak pipinya. Keras. Riuh-rendah sorakan teman-teman. Thoriq kecil malu, tak bergerak. Air matanya menetes, dan tangisan adalah suatu aib bagi <a href="http://majalahdrise.my.id/cowok-fashionista/">kaum adam</a>. Itu kenangan paling buruk dalam hidupnya.</p>
<p>Pikirannya mencelat sampai kemana-mana. Tiga cangkir kopi yang telah tandas isinya, tertata rapi di meja belajarnya. Detak jam dinding bergemuruh lirih. Tentang Bu Hanum yang mengomelinya karena tugas dikumpul terlambat, tentang motornya yang manja minta didorong karena mogok, tentang mentoring bersama ikhwan-ikhwan yang membuatnya terus-terusan minder.</p>
<p>Minder? Sejak kapan perasaan itu mengungkung dirinya, serta hatinya? Pertama kali langkahnya menginjak teras mushola, bergabung dengan lingkaran para ikhwan untuk membahas semua aspek keislaman, maka saat itu ia mengambil keputusan yang cukup besar. Meninggalkan semua kesalahannya di masa putih-biru. Mana ada ikhwan suka balapan liar? Mana ada ikhwan suka ngegodain cewek-cewek seksi? Mana ada ikhwan sukagame daripada al-qur&#8217;an? Ia tercengang, suatu hari menjadi seorang ketua pelaksana sebuah seminar yang diadakan oleh Kelompok Studi Islam di sekolahnya. Mendapati dalam bayang cermin, bahwa kini ia sudah, (ehem) agak sedikit alim. Perubahan yang lumayan besar. Minder dan semangat belajar tertohok, ketika didapatinya ikhwan-ikhwan yang luar biasa dalam lingkaran taman syurga di mushola sekolah. Ada Fariz yang adzan dan tilawahnya merdu. Ada Fuad yang menyampaikan materi seperti seorang kyai yang menggebu-gebu dakwahnya. Ada Furqon yang tak pernah ketinggalan shaum senin-kamis, waktu tahajjud, waktu dhuha, dan dzikir petang-sore. Ada Rachmad yang gadhul basharnya top markotop. Dan, Thoriq.. Seorang ikhwan yang selalu dibakar semangatnya oleh Kakak murobbi mereka. Ia yang terbata-bata membaca al-qur&#8217;an, ia yang masih grogi dan tidak jelas menyampaikan materi, ia yang sering batal shaum sunnah, ia yang sering ketiduran waktu tahajjud, ia yang lebih memilih nongkrong di kantin daripada waktu dhuha di mushola, ia yang hobi main Clash of clans daripada dzikir pagi-petang, ia punya manik-manik mata yang suka curi-curi pandang kepada akhwat..</p>
<p>Thoriq terhenyak, tangan kanannya meraih secangkir kopi, lagi. Soal-soal fisika menantinya, mencengkeram erat bola matanya, menyakitkan kepala! Ia menyandarkan punggung di bangku, tubuhnya merosot, tatapan matanya terpaku pada gorden jendela. Angin malam beringsut masuk, hingga gorden jendela itu terbuka. Thoriq menyingkap gorden jendela. Dadanya sedikit bergetar, terguncang pelan. Dilihatnya sebuah jendela, ingatannya memantul dalam kenangan. Terayun-ayun, menggantung di pelupuk matanya.</p>
<p>Jendela.. Merah muda. Berjarak sepuluh meter dari jendela kamarnya. Cahaya temaram berpendar di kaca jendela kamar itu.Kenangan itu memantul-mantul dalam otaknya, menggantung dalam ingatan yang mendekam sudah lama. Jendela yang sering ia masuki di siang hari, anak nakal. Jendela yang sering ia tengok, sepulang sekolah. Bersama gadis cilik berambut cepak, memakai baju terfavorit kaos bergambar batman. Jendela yang digunakan sebagai jalan pintas, menuju tangga, merayap ke atap rumah.Berdua menatap langit sore, berceloteh menukar cerita, dan mengucapkan kalimat-kalimat harapan yang berakhir dengan kata &#8220;<em>aamiin</em>&#8220;.</p>
<p>Kenangan itu merangkak, mengerak di masing-masing kepala. Waktu terus bergerak. Langit sore yang semakin jingga, pertukaran cerita yang semakin meremaja, dan harapan-harapan yang sudah tak ingin diungkapkan lagi. Cukup di simpan dalam sudut hati. Rapat-rapat. Sampai salah satu dari mereka berhenti melompati jendela, berhenti merayap ke atap rumah, berhenti bersama. Masa putih-biru yang berbeda, memaksa mereka berpisah.Lama-kelamaan, kenangan masa kecil itu hilang. Seolah hanya bayangan mimpi saat mata terpejam sebentar. Indah.. Namun, hei, kita hidup tidak melulu di masa lalu, &#8216;kan?</p>
<p>besambung&#8230;..</p>
<p>di muat di majalah remaja islam Drise edisi 48</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi/">Dua cangkir kopi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/dua-cangkir-kopi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1782</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti eps. 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti-eps-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti-eps-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 13:41:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1582</guid>

					<description><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Pagi ini Rahmat sedang menonton tv sambil meminum susu di cangkir kecilnya sedang sang Ayah menggoreng keripik keripik yang nantinya akan di jual. Sebenarnya Rahmat sangat ingin membantu Ayahnya itu namun Ayahnya selalu melarangnya karena takut nanti Rahmat terkena pecikan minyak. “Rahmat di atas meja makan ada rantang putih, tolong antarkan ke kakek &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti-eps-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti eps. 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti-eps-2/">Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti eps. 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; <a href="http://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti/">Pagi ini</a> Rahmat sedang menonton tv sambil meminum susu di cangkir kecilnya sedang sang Ayah menggoreng keripik keripik yang nantinya akan di jual. Sebenarnya Rahmat sangat ingin membantu Ayahnya itu namun Ayahnya selalu melarangnya karena takut nanti Rahmat terkena pecikan minyak.</p>
<p>“Rahmat di atas meja makan ada rantang putih, tolong antarkan ke kakek Udin ya, kamu masih ingatkan rumah kakek di mana” teriak Ayah Rahmat dari dapur.</p>
<p>Tanpa aba aba lagi Rahmat langsung pergi, dia sangat semangat menerima perintah tesebut. Walaupun untuk membawa rantang itu dia sedikit keberatan tapi dia tidak merasa terbebani. Namun dalam perjaanan itu dia melihat ada seorang pengemis yang sudah tua terduduk dengan tangan memengangi perut Rahmat penasaran dengan nenek itu.</p>
<p>“ Nek, nenek kenapa? Kok nenek duduk disini sendirian?”</p>
<p>“Nenek tidak punya rumah dan perut nenek lapar sekali dari kemaren nenek belum makan” jawab nenek itu lirih menahan lapar.</p>
<p>Rahmat bingung harus bebuat apa, dia sama sekali tidak membawa uang, jika dia memberikan rantang yang berisi makanan ini kepada nenek lalu bagai mana dengan kakaek Udin mungkin saja beliau juga kelaparan. Tapi dia membuang semua pertanyaan yang membuatnya ragu tadi dan memberikan makanan itu pada nenek.</p>
<p>“Ini untuk nenek”</p>
<p>Nenek itu makan dengan lahapnya sampai kekenyangan dan tak lupa beliau mengucap kan terima kasih. Rahmat tersenyum bahagia karena bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan tapi bagai mana jika Ayah tahu kalau maknan itu tidak di antar ke rumah kakek Udin, bisa bisa Ayah marah. Namun Rahmat mendapatkan sebuah ide.</p>
<p>Diam-diam Rahmat masuk ke dalam rumah dan memecahkan tabungan berbentuk ayam miliknya. Namun, suara pecahan tabungan itu sampai ke dapur dan membuat Ayah Rahmat panik.</p>
<p>“Rahmat ada apa? Rahmat!” dengan tergesa beliau lari menuju kamar Rahmat</p>
<p>“Ayah!” Rahmat menunduk dan ketakutan dia merasa benar-benar bersalah telah melakukan ini.</p>
<p>“Lho kok tabungan kamu dipecah?” Ayah Rahmat bingung, kenapa tabungan yang sangat disayangi Rahmat tiba tiba bisa pecah seperti itu.</p>
<p>“Anu&#8230;”</p>
<p>“Apa?” mendekati Rahmat.</p>
<p>“Itu Ayah&#8230;.”</p>
<p>“Itu apa?”</p>
<p>“Ayah, Rahmat minta maaf karena makanan tadi tidak Rahmat antar ke kakek Udin.”</p>
<p>“Lalu kamu kasih ke siapa?”</p>
<p>“Ada nenek yang kelaparan di pinggir jalan, Rahmat kasihan dengan nenek itu Ayah. Jadi makanan itu Rahmat berikan ke nenek itu. Maafin Rahmat ya Ayah. Rahmat tidak akan melakukan hal itu lagi”</p>
<p>“Lho kok gitu. Apa yang kamu lakukan itu baik. Justru Ayah senang kamu memberikan makanan itu kepada nenek yang kamu temui di pinggir jalan tadi. Lalu kenapa kamu memecahkan tabungan kamu bukannya kamu sayang sekali dengan tabungan ini”</p>
<p>“Rahmat ingin mengganti dan membelikan makanan untuk kakek Udin jadi Rahmat memecahkan tabungannya. Ayah tidak marah kan?”</p>
<p>Ayah Rahmat mengambil uang yang berhamburan di lantai “kamu tidak perlu menggantinya dengan uang kamu. Di dapur nasi dan lauk masih banyak jadi kita bisa mengantar dan memberi kakek Udin. Ayah sudah selesai menggoreng keripik jadi kita bisa mengantar makanan itu bersama sama!”</p>
<p>“Benar Ayah?”</p>
<p>“Iya”</p>
<p>********************</p>
<p>21 tahun sudah kejadian itu berlalu namun memorinya masih tersimpan jelas. Usaha keripik singkong milik Ayahnya itu berkembang dengan pesat. Namun tak lama setelah Rahmat menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah, Ayahnya meninggal. Walaupun beliau sudah tiada, kebaikanya masih tersimpan dalam diri Rahmat dan akan diteruskan oleh anaknya itu. Cita cita kecilnya itu tidak terwujud namun tak perlu menjadi seorang pemimpin besar untuk bisa saling berbagi. Baginya menjadi seorang pemimpin untuk dirinya sendiripun sudah cukup dan yang terpenting adalah saling berbagi. Setiap dua minggu sekali dia mendatangi panti asuhan untuk berbagi apa saja yang dapat dia berikan terkadang uang atau hiburan untuk anak anak yang merindukan kasih sayang dari orang tuanya. Dia ingin anak-anak lain juga merasakan kasih sayang yang telah ayahnya berikan kepadanya.[]</p>
<p>di muat di Majalah remaja Islam drise Edisi 45</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti-eps-2/">Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti eps. 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti-eps-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1582</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2016 07:52:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1581</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Di dalam kamar Rahmat sedang mengenakan sebuah topi bewarna hitam milik ayahnya. Dia mengenakannya dengan bangga dan gagah. Sebenarnya dia tidak tahu topi itu untuk pekejaan apa. “Siap grak!” perintahnya pada dirinya sendiri dan langsung saja dia membusungkan dadanya. Topi yang ia pakai hampir menutupi matanya karena topi itu terlalu besar. “Hormat grak!” &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti/">Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalahdrise.my.id">Majalahdrise.com</a> &#8211; Di dalam kamar Rahmat sedang mengenakan sebuah topi bewarna hitam milik ayahnya. Dia mengenakannya dengan bangga dan gagah. Sebenarnya dia tidak tahu topi itu untuk pekejaan apa.</p>
<p>“Siap grak!” perintahnya pada dirinya sendiri dan langsung saja dia membusungkan dadanya. Topi yang ia pakai hampir menutupi matanya karena topi itu terlalu besar.</p>
<p>“Hormat grak!” perintahnya lagi namun tak hanya dia saja yang mengikuti aba aba itu seseorang tiba tiba datang dan berdiri tepat dibelakangnya juga ikut hormat</p>
<p>“ Ayah” sahut Rahmat.</p>
<p>“Wah anak ayah gagah sekali dengan topi itu.” puji Ayahnya Rahmat pada anaknya itu.</p>
<p>“Rahmat kan ingin menjadi seorang jendral.”</p>
<p>“Oh ya?” tanya beliau. Tiba tiba Ayah Rahmat berdiri dengan tegak.</p>
<p>“Kepada jendral Rahmat hormat grak!” Beliau hormat pada anaknya itu dan sang anak pun membalasnya.</p>
<p>“Ayah itu rantang untuk siapa?” tanya Rahmat penasaran sambil menunjuk rantang berwarna putih yang berada tepat disamping kaki ayahnya.</p>
<p>“Ini untuk kakek Udin.”</p>
<p>“Siapa kakek Udin itu Ayah?”</p>
<p>“Kamu mau ikut Ayah untuk mengantarnya tidak ?”</p>
<p>“Mau!” jawab Rahmat antusias.</p>
<p>7 tahun yang lalu Ayah rahmat bekerja menjadi seorang satpam di salah satu mall ternama di kota itu namun semenjak istrinya meninggal dia berhenti dari pekerjaannya dan beralih profesi menjadi seorang penjual keripik singkong walau pun penghasilannya bisa di bilang kurang tapi dia tetap bersyukur karena ada kebahagian lain yang tidak bisa ia dapatkan saat bekerja menjadi satpam yaitu bisa besama lebih lama dengan anaknya itu.</p>
<p>Perjalanan ke rumah kakek Udin tidak terlalu jauh karena itulah mereka memutuskan untuk melakukan perjalnan hanya dengan berjaln kaki. 15 menit kemudian merekapun sampai didepan sebuah rumah yang kumuh, dinding nya ditumbuhi tanaman parasit, jendela dan pintunya pun sudh hampir lapuk.</p>
<p>“Assalamu’alaikum kakek Udin ” Ayah Rahmat memanggil sang pemilik rumah, tak lama orang itupun keluar hanya dengan menggunakan sarung berwarna coklat dan baju kaos oblong, dia tersenyum dan menyambut dengan ramah.</p>
<p>“Wa’alaikum salam eh Imam dan Rahmat, ada apa?”</p>
<p>“Karena ada sedikit rezki belebih saya dan Rahmat ingin memberi sedikit makanan kepada kakek , ini” Ayah Rahmat memberikan rantang itu dan di sambut oleh kakek Udin dengan senyum yang dari tadi tak pernh hilang dari wajahnya. Senyum itu membuat jiwanya tidak seperti kakek-kakek.</p>
<p>“Ini banyak sekali, saya jadi merepotkan” ucap beliau malu.</p>
<p>“Terimakasih ya Imam semoga dagangan nya makin laris.” tukas kakek.</p>
<p>“Terima kasih kembali, kami pulang dulu ya kek assalamu’alaikum.” Rahmat dan Ayahnya pun pulang.</p>
<p>“Ayah kasihan sekali ya kakek itu, rumahnya kumuh”</p>
<p>“Makanya kita harus selalu bersyukur atas apa yang sudah di beri Allah kepada kita caranya ya bisa seperti tadi, saling berbagi.”</p>
<p>“Ayah, Rahmat ngak mau jadi jendral Rahmat maunya jadi seperti ayah saja menjadi pedagang keripik singkong biar bisa berbagi seperti tadi” Rahmat berbicara dengan polos.</p>
<p>“Pekerjaan kamu nanti harus lebih hebat dari Ayah tetapi jadi apapun kamu nanti kamu tetap harus saing berbagi.”</p>
<p>“Iya ayah Rahmat janji.”</p>
<p>“Anak pintar” beliau memelai rambut anaknya dengan lembut.</p>
<p>“Habis ini temanin Ayah ke pasar beli singkong ya.&#8221;</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti/">Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/berbagi-serantang-nasi-luthfia-saparianti/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1581</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merah  Saga Bumi Suriah Eps. 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2016 06:22:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1451</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Ku lihat beberapa ikhwan melakukan ribath di sekitar markas, ku lihat sebagian lagi melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an yang begitu merdu dan seolah-olah tank-tank baja yang berjajar rapi disebelah mereka juga ikut merasapi bacaan yang mereka lantunkan. Aku berjalan ke lorong sebelah, maka kudapati beberapa ikhwan sedang membuat peralatan perang, salah satunya ku lihat &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Merah  Saga Bumi Suriah Eps. 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/">Merah  Saga Bumi Suriah Eps. 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Ku lihat beberapa ikhwan melakukan ribath di sekitar markas, ku lihat sebagian lagi melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an yang begitu merdu dan seolah-olah tank-tank baja yang berjajar rapi disebelah mereka juga ikut merasapi bacaan yang mereka lantunkan. Aku berjalan ke lorong sebelah, maka kudapati beberapa ikhwan sedang membuat peralatan perang, salah satunya ku lihat Hamzah seorang mahasiswa teknik sedang sibuk mendaur ulang granat-granat milik tentara Bashar Assad yang gagal meledak. Hampir setiap hari Hamzah dan timnya merakit sekitar 50 granat yang gagal meledak. Ku lihat lagi Ammar seorang remaja yang berusia 14 tahun sibuk mengotak-atik stick Ipad untuk digunakan sebagai control melempar granat. Pemandangan ini sangat kontras dengan yang ada di Indonesia, jika di Indonesia dengan keadaan yang aman saja Al-qur’an dibiarkan berdebu namun disini Al-qur’an seolah-olah menjadi bacaan wajib yang harus dibaca setiap hari. Di Indonesia banyak pemuda yang terlena dengan aktifitas dunia, namun disini banyak pemuda yang merindukan syahid di jalanNya untuk tegaknya Khilafah. Jangankan di ajak perang, pemuda Indonesia di ajak ke seminar membahas tentang Khilafah sajaterkadang masih ogah-ogahan.Maka sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan yang ada di Suriah.</p>
<p><strong>Syahid Yang Menewaskan</strong></p>
<p>Malam ini suasana begitu mencekam, berkali-kali aku mencoba memejamkan mata namun tetap tidak bisa. Militer Suriah melakukan teror dengan beberapa kali terbang di kawasan kami. Ternyata mereka mengincar jasad Syaikh Kholid, mereka mencoba memasuki desa Mughoiriyyahyang letaknya tidak jauh dari markas kami,desa yang telah lama sepi ditingggal penduduknya mengungsi dan di desa itulah kami memakamkan jasad Syaikh Kholid beserta syuhada yang lain.<em>Blaaam</em>…. Suara ledakan ranjau kembali mengguncang kawasan kami, beberapa ikhwan segera melakukan penjagaan yang ketat di markas. Markas kami terletak di bawah bukit berbatu yang kami gali dan kami bangunseperti gua namun di dalamnya sepeti sebuah rumah yang penuh dengan persenjataan serta tidak terlihat dari luar. Pasukan mujahidin merangsek sembunyi-sembunyi di tengah-tengah kegelapan malam.<em>“Allahu Akbar”&#8230;</em>terdengar pekikan takbir dari ikhwan mujahidin yang melakukan ribath, tidak jauh dari makam Syaikh Kholid. Ternyata suara granat yang meledak itu menewaskan 15 pasukan Bashar Assad yang hendak menggali makam Syaikh Kholid, namun mereka salah gali. Mereka menggali sebuah makam yang bertuliskan nama beliau, namun sebenarnya di makam itu berisi senapan milik Syaikh Kholid. Ikhwan mujahidin sengaja menaruh ranjau di makam tersebut, sebagai ganti atas meninggalnya Syaikh Kholid. Allahu Akbar… inilah syahid yang menewaskan. Walaupun sudah syahid namun nisan yang bertuliskan nama Syaikh Kholid tetap berjasa menewaskan 15 tentara musuh atas izin Allah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Merah Saga Bumi Suriah</strong></p>
<p>15 Muharram 1436 H, sebuah roket dengan kaliber 25mm menghantam kawasan kami, segera kami mempersiapkan pasukan. Begitu pula misi medis dari Indonesia yang di ketua Dr.Abu Hasan juga segera siaga membantu menyelamatkan para mujahidin yang terluka.</p>
<p>“Ihsan… Ihsan… Ihsan…segera masuk dalam barisan” teriak Zubair kepadaku.</p>
<p>“Hamzah…. Siapkan granat dan bom yang kita miliki” Zubair meneriaki kepada pasukan yang membawa granat.</p>
<p>Aku segera masuk dalam jajaran sniper mujahidin, kami maju ke depan menuju desa thirtiyyah, desa terdekat yang diserang pasukan Bashar Assad. belum juga beranjak kami dikejutkan dengan kedatangan helikopter yang mendekat, <em>&#8220;wusshhh&#8230;Blamm!!”</em> Sebuah bom birmill menghantam jalur yang akan kami lalui, hal ini membuat nafas kami tercekat sesaat. Namun kondisi ini sama sekali tidak menyurutkan semangat kami untuk terus maju.</p>
<p>Peperangan pecah dibeberapa titik di Jabal Durin, Jabal Nabi Yunus, Jabal Naubah, Ainul jauzah, dan Kifr maisyuth. Musuh bukan hanya menyusup seperti sebelum-sebelumnya tapi merangsek maju. Mereka sudah membuat perencanaan penyerbuan untuk kembali mengontrol wilayah Jabal Akrod. Pertempuran sengit berlangsung, aku pun terus maju ke depan dan bersembunyi di balik bebatuan. Ku arahkan tembakkan ke tentara musuh. Beberapa tembakan jituku mengenai dada tentara musuh, aku berlari ke depan saat Hamzah terjepit, namun <em>duaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrr</em> itu suara terakhir yang aku dengar,,, mataku berkunang-kunang, hanya hitam kelam dalam penglihatanku, nafasku tersengal, dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada diriku.</p>
<p>Saat aku tersadar aku telah tergolek di rumah sakit rahasia milik mujahidin di Lathamna Hama, para petugas medis dari Indonesia menyelamatkanku saat aku terlempar terkena granat. Kakiku kiriku putus dan aku tidak bisa bangun, aku langsung menanyakan hasil dari pertempuran di Jabal Akrod. Mereka mengembangkan senyuman, yang artinya pertempuran dimenangkan para mujahidin. Mujahidin kembali menguasai wilayah tersebut, seketika ku tanyakan kondisi sahabat-sahabatku, Zubair, Hamzah, Ammar kepada Ahmad. Ahmad adalah salah satu tim medis yang menyelamatkanku, dia menyampaikan kepadaku kalau Zubair dan Hamzah syahid di jalan Allah, adapun Ammar masih belum sadarkan diri. Ahamd juga memberikan senapan milik Zubair dan surat yang sudah kotor terkena darah kepadaku.</p>
<p>“Ihsan… saat perang tengah berkecamuk, tiba-tiba Zubair datang kepadaku dan berpesan untuk memberikan surat ini kepada ibunya, kamu diminta untuk memberikannya jika kamu masih hidup dan Zubair berpesan agar aku memberikan senapan miliknya, jika ia lebih dulu syahid mendahului teman-temannya.” tegas Ahmad kepadaku.</p>
<p>“Bagaimana kondisi Zubair, kenapa ia bisa terbunuh?” tanyaku penuh tanya, karena setauku Zubair sangat ahli dalam menembak dan bersembunyi di balik semak-semak.</p>
<p>“Musuh mencoba menguasai Jabal Akrod, seluruh mujahidin mengeluarkan segala upaya untuk mempertahankan wilayah ini, Zubair dan pasukannya maju ke depan dengan kendaraan tank anti baja, mereka mampu memukul mundul tentara musuh sampai tentara Bashar Assad menemui kekalahan, namun tubuh Zubair penuh dengan tembakan. Allah terlalu sayang kepada Zubair dan beberapa mujahidin yang lain termasuk Hamzah, sehingga mereka dipanggil lebih dulu dari pada kita untuk menemui RabbNya. Kemenangan kali ini harus di tebus dengan jiwa-jiwa mujahidin yang darahnya membuat bumi Suriah berwarna merah saga dan menyebarkan aroma wangi penduduk surga yang menusuk jiwa” Sambung Ahmad dengan air mata yang menetes.</p>
<p>Tak terasa aku juga meneteskan air mata, penuh haru namun bercampur gembira. Aku yakin Zubair, Hamzah dan mujahidin-mujahidin yang lain telah berbahagia dengan syahidnya,aku iri dengan mereka yang telah lebih dulu syahid menghadap Rabbnya. Wahai Zubair tidaklah ku ucapkan selamat tinggal untukmu, melainkan sampai bertemu di SurgaNya. Aku bangga kepadamu wahai sahabat-sahabatku, di saat pemuda-pemuda yang lain sibuk akan urusan dunia, kalian menyibukkan diri dengan urusan akhirat. Sungguh tegarnya jiwa kalian yang menetang kedholiman dan peluru-peluru yang dzolim menembus dada kalian. Tapi dengan tegar kalian persembahakan jiwa raga untuk kejayaan revolusi ini. Jiwa kalian berdiri diatas kebenaran, sinaran aqidah telah menuntun kalian untuk bangkit menentang kedholiman. Alangkah sucinya ruh kalian yang telah diangkat malaikat menemui Sang Pencipta Alam. Wahai sahabat-sahabatku sekali lagi tidaklah ku ucapkan selamat tinggal namun selamat berjumpa di tempat yang penuh kebahagiaan, tunggu aku akan menyusul langkah kalian.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, aku dan beberapa ikhwan mujahidin memberikan surat Zubair kepada ibunya, namun tidak ada raut kesedihan dalam wajah beliau. Justru beliau tersenyum walau sesekali meneteskan air mata, ya air mata kebahagiaan karena putranya menemui syahid di jalan membela islam. Sejenak aku langsung teringat dengan ibuku, akankah ibuku siap jika aku syahid dalam revolusi ini? Akankah ibuku juga tersenyum mengembang seperti senyum ibu Zubair? Akankah ibuku bangga akan syahid yang aku rindukan?. Aku hanya berharap ibu dan bapakku ikhlas akan langkahku dalam perjuangan ini. Andaikata gelar sarjana tidak bisa aku berikan untuk mereka, maka cukuplah gelar syahid yang aku persembahkan sebagai tanda baktiku kepada mereka berdua.Dan biarlah darahku menggores bumi Suriah dengan warna merah saga.[<em>Oleh: </em><em>Ana Al-izzah]</em></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/">Merah  Saga Bumi Suriah Eps. 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1451</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merah  Saga Bumi Suriah</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2016 06:21:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1450</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia. “Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Merah  Saga Bumi Suriah</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/">Merah  Saga Bumi Suriah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia.</p>
<p><em>“Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu selalu melantunkan do’a untukmu, kami semua menunggumu”, </em>kata-kata Ibuku dalam mimpi tadi malam mengiang ditelingaku.</p>
<p>Aku mencoba menepis rinduku walau sebenarnya aku memang sangat rindu dengan orang tuaku. Semenjak 4 tahun keberadaanku di Suriah, aku belum pernah pulang ke Indonesia. Masih ku ingat awal kali keberangkatanku ke Suriah untuk meneruskan pendidikan dengan bantuan beasiswa dari pondok pesantrenku, aku optimis untuk mendalami ilmu Syariah. Entah kenapa aku lebih memilih Universitas Damaskus, daripada Universitas Al-Azhar yang ada di Kairo, Mesir. Ada keinginan yang tersimpan dalam hati sejak masih berada di pesantren untuk menelusuri jejak peradaban islam yang gemilang di bumi Suriah.</p>
<p>Perlahan aku mencoba membuka mushaf al-qur’an yang terselip disaku bajuku, mataku menetes saat membaca surat At-Taubah ayat 111, yang dalam surat tersebut Allah berfirman, “<em>Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Aquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.</em></p>
<p>Ku resapi pelan-pelan ayat ini, maka apakah aku hendak lari dari perjuangan revolusi di Suriah hanya karena rindu kepada keluarga, ah… begitu hinanya jika aku lari dari revolusi ini. Ya revolusi yang berawal sejak kondisi arab spring tahun 2011 dan pernah bergejolak di tahun 2012-2013. Revolusi yang menjadi perbincangan masyarakat dunia, namun seolah di tahun 2014 masyarakat tidak begitu membicarakannya lagi padahal di Suriah revolusi ini belum berakhir, syariah belum diterapkan sempurna, khilafah belum tegak namun seolah masyrakat dunia terlupa dengan kondisi ini. Kondisi di Suriah adalah sebuah revolusi bukan sekedar reformasi seperti di Mesir, Tunisia, Libya yang kondisinya hanya berakhir dengan ganti rezim saja. Rakyat Suriah menginginkan penerapan Syariah dalam bingkai Khilafah, bukan sekedar ganti rezim untuk urusan pemerintahan. Hal ini terbukti dengan meluasnya tuntutan dan perjuangan rakyat Suriah yang meneriakkan <em>al-ummah turid khilafah islamiyah </em>yang berdengung di kota-kota yang ada di Suriah. Jika di Suriah kondisinya belum stabil, bom-bom masih sering berjatuhan maka di Indonesia ramai dengan carut marut pemerintah baru yang sebenarnya hanya ganti rezim tidak akan membawa perubahan yang lebih baik. BBM kabarnya mau dinaikkan, tata kelola laut diserahkan kepada asing, dan MEA segera akan terlaksana, sungguh yang terjadi di Indonesia adalah perang pemikiran yang juga jauh berbahaya namun masyarakatnya kurang menyadarinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertempuran Di Jabal Akrod</strong></p>
<p><em>Blaaar…</em> sebuah roket jatuh di jabal Akrod tidak jauh dari markas mujahidin. Seketika buyarlah semua kerinduanku tentang keluarga dan Indonesia. Tanah tempat berpijak pun tergoncang sesaat, aku segera berdiri dan ku lihat asap hitam mengepul di udara.</p>
<p>“Ihsan…. Ihsan&#8230; Ihsan, segera kumpul di ruang tengah, rezim Bashar Assad masuk menyerang pertahanan garis depan mujahidin,” teriak Zubair kepadaku.</p>
<p>Zubair adalah seorang pemuda asli Suriah, lewat dialah aku bergabung dengan salah satu gerakan dakwah yang ada di Suriah yang konsisten menyeru penerapan Syariah dan penegakkan Khilafah. Aku yang bernama lengkap Muhammad Ihsan mengenal Zubair di kampus saat dia dan teman-temannyamembagikan undangan seminar yang membahas Syariah dan pentingnya Khilafah.</p>
<p>Segera ku langkahkan kakiku ke ruang tengah, disana syeikh Yusuf Abdullah telah mengomando para mujahidin untuk segera mengambil posisi.</p>
<p>“<em>Wahai pemuda Islam, sungguh kematian akan menghampiri kalian baik cepat atau lambat. Maka jangan sia-siakan kesempatan kalian semua sebelum ajal tiba, jadilah penjaga Islam yang terpercaya. Sungguh perang masih berkecamuk, segera bebaskan negeri ini dari kedholiman. Syariah islam harus di terapkan, Khilafah harus segera di tegakkan. Bersihkan diri kalian semua dari perbuatan dosa karena sesungguhnya yang aku khawatirkan adalah bukanlah Allah tidak mau menolong kita, namun dosa-dosa kita yang menghambat kejayaan akan perjuangan ini. Maka bila hari ini adalah hari terindah dalam hidup kalian, sungguh syahid adalah jawabannya. Jangan gentar akan kekuatan musuh, karena sesungguhnya musuh yang terbesar adalah ketakutan kalian untuk berjuang meninggikan kalimah Allah. Sungguh diri kalian telah di beli Allah dengan SurgaNya, jangan lepas dari perjuangan yang suci ini. Kalian lari atau tetap pada pejuangan ini maka Khilafah pasti tetap akan berdiri, karena Khilafah merupakan janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar terhadap janjiNya.” </em></p>
<p>Kata-kata SyaikhYusuf Abdullah menancap kuat dalam benakku. Rinduku kepada tanah kelahiran kupendam dalam-dalam. Ada perkara yang lebih penting yang harus segera di tunaikan. Dan sungguh hina apabila menyerah dan meniggalkan perjuangan yang suci ini.</p>
<p>Aku segera berlari mengambil senapan AK47, Zubair pun berlari memimpin pasukan. Dia bak singa padang pasir yang tidak takut akan dentuman peluru, tidak mundur karena ganasnya roket rezim Bashar Assad, dan tidak gentar bila maut harus menjemput. Pesawat tempur rezim nushoiriyyah melakukan terror di wilayah kami, terbang bolak-balik lebih 10 kali dan menembakan 4 buah rudal pada tempat ribath mujahidin garis depan. Di susul dengan rentetan senapan yang terdengar di beberapa tempat.</p>
<p>&#8220;Wahai singa-singa Allah teruslah berjuang, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah akan menolong hambaNya yang memperjuangkan agamanya!&#8221; seru Syaikh Yusuf Abdullah mengobarkan semangat diantara kami.</p>
<p>Kami terus merangsek maju kedepan, mencoba melawan sniper-sniper Bashar Assad dan serangan semakin membuncah di garis pertahanan depan. Perang benar-benar semakin pada puncaknya, <em>duaar… duaar… duaar</em> tembakan terdengar bersahut-sahutan hingga akhirnya salah seorang komandan dari tentara nushoiriyyah rezim Bashar Assad harus terpelanting dan <em>buuuuk</em>…., jatuh tersungkur oleh tembakan Zubair yang tepat mengenai jantung komandan tersebut. Musuh terpukul mundur dan kemenangan berada di tangan para mujahidin.</p>
<p>Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Berkali-kali para mujahidin meneriakkan takbir, tanda kemenangan di pihak mujahidin. Namun kemenangan kali ini harus di tebus dengan meninggalnya Syaikh Kholid yang ahli dalam mengatur strategi perang. Kami semua berduka atas meninggalnya Syaikh Kholid, kami merasa kehilangan. Namun terlihat di wajahnya senyum yang mengembang tanda sebuah kebahagiaan. Syaikh Kholid adalah salah satu daftar orang yang sangat dicari oleh rezim Bashar Assad. Rezim laknatullah itu mengincar Syaikh Kholid karena beliau dirasa sangat berbahaya bagi mereka. Masa lalu Syaikh kholid sebelum revolusi ini pecah, beliau adalah seorang anggota militer Suriah. Tahun 2012 Syaikh Kholid membelot dari pemerintahan dholim Bashar Assad dan memilih bergabung dengan para mujahidin.Hal ini sangat dikhawatirkan oleh rezim Bashar Assad karenaSyaikh Kholid sangat mengetahuisecara persis tentang kondisi militer Bashar Assad. Kami membuat 2 kuburan untuk Syaikh Kholid, kuburan yang pertama adalah kuburan tanpa nisan yang benar-benar kami mengubur Syaikh Kholid dikuburan tersebut. Kuburan kedua adalah kuburan dengan nisan bertuliskan nama beliau, yang sebenarnya itu bukanlah jasad Syaikh Kholid melainkan senapan yang biasa beliau pakai di beberapa pertempuran.</p>
<p>11 Muharram 1436 H, aku berbincang dengan Zubair membahas pertempuran yang baru saja pecah dan merusak beberapa bagian desa Mughoiriyyah.</p>
<p>“Ihsan… apa kau tau mengapa mereka menyerang Jabal Akrod?” Tanya Zubair kepadaku.</p>
<p>“Aku kira mereka hendak menguasai Jabal Akrod karena mereka punya misi hendak mengontrol Allepo.” Jawabku Singkat</p>
<p>“Ya kamu tepat, mereka hendak mengusai Jabal Akrod karena wilayah ini sangat strategis untuk menghubungkan Lattakia dan Allepo, sehingga mereka dengan mudah akan dapat memasok logistik, senjata, dan lainnya.” Tegas Zubair kepadaku.</p>
<p>“Zubair bagaimana kondisi keluargamu sekarang, apa ibumu sudah ridho dengan kepergian kakakmu…?” Tanyaku dengan penuh penasaran.</p>
<p>“Alhamdulillah bapakku telah syahid mendahuluiku, adapun kakakku insyaAllah syahid juga walau jasadnya belum ditemukan sejak hilangnya beliau dari jajaran mujahidin setelah perang pecah di Allepo 2013, dan ibuku sangat ridho dengan kepergian satu persatu keluargaku. Ibuku berharap aku dapat mengikuti jejak mereka berdua dengan tetap berpegang teguh di jalan Allah sampai revolusi ini menemui kejayaannya. Masih ku ingat masa kecilku, kakakku selalu sabar membimbingku untuk mengajakku mengahafal Al-Qur’an di masjid di dekat rumah, kami berdua juga bermain bersama ditemani suburnya buah apricot dan anggur yang tumbuh di halaman rumah kami. Dari kecil aku selalu bersama dengan kakakku, maka harapanku aku dapat menyusul syahid dan bisa berkumpul dengan kakakku di SurgaNya…aamiin” jawab Zubair sambil menunduk.</p>
<p>“Aamiin… semoga Allah mengabulkan do’amu wahai sahabatku,” aku menyambung cerita Zubair.</p>
<p>“Ihsan, jika aku syahid lebih dulu maka bawalah senapanku sehingga kau tetap merasa aku ada disampingmu dan sampaikan surat ini kepada ibuku, surat ini aku taruh di saku bajuku maka jika aku syahid lebih dulu tolong liat saku bajuku” pinta Zubair kepadaku.</p>
<p>“<em>gleeeek</em>…. InsyaAllah” jawabku singkat. Aku tercengang dengan permintaan Zubair dan aku menganggukkan kepala tanda aku menyetujui permintaannya.</p>
<p>Kami berdua pun larut untuk mengatur strategi pertahanan, Zubair adalah seorang sniper yang handal, lewat dialah aku belajar menembak. Setiap hari kami berlatih perang, untung saja ketika aku mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, aku sudah belajar bela diri sehingga cukup menjadi bekal untuk berjihad disini. <a href="http://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/"> lanjut</a>&#8230;&#8230;.[<em>Oleh: </em><em>Ana Al-izzah]</em></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/">Merah  Saga Bumi Suriah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1450</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2016 07:55:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1239</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Majalengka memasuki musim hujan. Cakrawala memuntahkan airnya di tengah petala langit. Awan hitam terbalut kabut yang sangat pekat. Hembusan angin terus menusuk-nusuk kulit disertai guntur yang putih-mengilat. Suasana semakin bergemuruh, membuncah hamparan khatulistiwa. Menambah dingin udara yang semakin tinggi dari detik ke detik. Serasa hidup berada di dataran kutub yang suhu kedinginannya kurang dari &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/">Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Majalengka memasuki musim hujan. Cakrawala memuntahkan airnya di tengah petala langit. Awan hitam terbalut kabut yang sangat pekat. Hembusan angin terus menusuk-nusuk kulit disertai guntur yang putih-mengilat.</p>
<p>Suasana semakin bergemuruh, membuncah hamparan khatulistiwa. Menambah dingin udara yang semakin tinggi dari detik ke detik. Serasa hidup berada di dataran kutub yang suhu kedinginannya kurang dari 0 derajat <em>celcius.</em></p>
<p>Di dekat jendela kamarnya, Haura masih termangu memandangi lekat-lekat rinai hujan yang terus-menerus menghujami genting rumahnya. Keras, mengalir, membasahi rerumputan yang terhampar di depan beranda rumahnya.</p>
<p>Dari jendela kamarnya, Ia pun menyaksikan sihir itu. Di matanya, Majalengka malam itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi kegundahan dan carut-marut saja.</p>
<p>Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana musim hujan yang membuat Majalengka malam itu begitu penuh kebimbangan. Bukan semata-mata sihir rembulan malam yang membuat Majalengka begitu hitam. Pekat. Menakutkan. Bukan semata-mata rinai hujan yang bening yang membuat Majalengka begitu dingin. Menggigil.</p>
<p>Akan tetapi, lebih dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya tampak menggamangkan adalah karena musim hujan sedang bertandang di hatinya. Hujan kesedihan sedang berguyur deras di sana. Bunga bunga harap di hatinya sedang terkatup tak memekarkan indahnya. Layu.</p>
<p>Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah semua teman yang ada di sekolahnya senantiasa menjauhi dan memberi jarak dengannya.Karena Haura seorang perempuan yang pendek lagi buta.Ia sedih kenapa semua temanyang ada di sekolahnya,hanya memandangnya dari segi fisik tanpa melihat dari segi potensi yang dimilikinya.</p>
<p>Memori ingatannya berputar kembali ke suatu peristiwa, ketika Ia mengungkapkan cita-citanya di depan kelas, bahwa Ia ingin menjadi seorang dosen dan penulis buku yang mendunia. Lantas teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan mengolok-oloknya. Tanpa ampun.</p>
<p><em> “Haha, dasar pemimpi ulung! Mustahil itu terjadi! Dasar perempuan buta. Perempuan pendek!”</em></p>
<p>Setetes, dua tetes, air matanya kian mengalir, menganak sungai.</p>
<p><em>“Aku akan buktikan pada kalian. Aku bisa meraih mimpiku itu. Dan Aku pun akan buktikan. Bahwa cacatku adalah kelebihanku!”</em> desisnya begitu yakin.</p>
<p><em>“Nak, ada apa denganmu? kok meneteskan air mata?”</em>ucap ibunya menempelkan tangannya di atas pundak Haura. Sontak Haura kaget bukan main.</p>
<p><em>“Oh ibu, mengangetkan saja. Kirain siapa?” </em>kaget Haura lekas menyeka air matanya.</p>
<p><em>“Nak , ibu sudah tahu masalah yang menimpamu saat ini,” </em>kata ibunya mengawali percakapan.Haura hanya mengangguk dengan lelehan air mata mengalir dari sudut matanya.</p>
<p>Ibunya tersedu lantas mengayunkan telunjuknya untuk membasuh air mata anaknya yang sedari tadi terus mengalir.</p>
<p><em>“Nak, dengarkan dan camkan nasehat dari Ibu ini. Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian kitakepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara agar kita bisa ke luar dari kegelapan hidup.”</em></p>
<p>Lagi-lagi Haura hanya manggut-manggut saja. Tanpa ada kata yang ikut mengiringi. Ibunya hanya tersenyum melihatnya.</p>
<p><em>“Nak, Seringkali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita. </em></p>
<p><em>Ibu yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.”</em>pungkas ibunya kembali tersenyum.</p>
<p>Haura bergeming sesaat.Ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya. <em>Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.</em></p>
<p><em>“Nak, bolehkah ibu mengajukkan sebuah cerita padamu?”</em>ungkap ibunya memotong lirihan Haura.</p>
<p><em>“Dengan senang hati bu. Boleh,”</em>jawab Haura menerbitkan sebuah senyuman.</p>
<p><em>“Baiklah. Dengarkan baik-baik ya. Terus Kau ambil dan simpulkan sendirihikmah yang terkandung dalam cerita yang akan ibu ceritakan. Setuju?” </em></p>
<p><em>“Setuju!”</em>timpal Haura sangat antusias. Karena Ia sudah tahu, ketika Ibunya bercerita, pasti ceritanya itu berbobot dan dapat menyengat semangat hidupnya.</p>
<p>Ibunya merapihkan posisi duduknya, yang Ia rasa kurang nyaman.</p>
<p>“Alkisah. . . Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua.</p>
<p><em>“Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut,” </em>ujar si perempuan.</p>
<p><em>“Apakah suamimu sudah pulang?”</em>si lelaki berjanggut malah balik bertanya.</p>
<p><em>“Belum, dia sedang keluar,”</em>balas si perempuan mengernyit.</p>
<p><em>“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali.”</em></p>
<p>Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istrimenceritakan semuakejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian yang diceritakan si istri, lalu ia berkata pada istrinya,</p>
<p><em>&#8220;Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.”</em></p>
<p>Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka yang sedari tadi tengahmenunggu, untuk masuk ke dalam.</p>
<p><em>“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,”</em>kata laki-laki itu hampir bersamaan.</p>
<p><em>&#8220;Lho, kenapa</em>?” tanya perempuan itu keheranan.</p>
<p>Salah seorang laki-laki itu berkata,<em> “Nama dia Kekayaan,&#8221;</em>katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya<em>, </em></p>
<p><em>“dan yang ini bernama Kesuksesan,”</em>sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya,</p>
<p><em>“sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu!?”</em></p>
<p>Perempuan itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran.</p>
<p><em>“Oh&#8230;menyenangkansekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”</em></p>
<p>Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya,<em> “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita.”</em></p>
<p>Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.</p>
<p><em>&#8220;Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.”</em></p>
<p>Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka.</p>
<p><em>&#8220;Baiklah, ajak masuk si Cinta itu ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.” </em>seru sang ayah.</p>
<p>Perempuan itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 laki-laki itu.</p>
<p><em>“Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silakan masuk!Anda menjadi tamu kita malam ini.”</em></p>
<p>Si Cinta bangkit, dan berjalanmenuju beranda rumah.Ternyata, kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepadasi Kekayaan dan si Kesuksesan.</p>
<p><em>“Maaf, Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kalian berdua ikut juga?”</em></p>
<p>Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan.</p>
<p><em>&#8220;Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. </em></p>
<p><em>Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Sebenarnya kami bisu, dan hanya si cinta yang bisa bercakap. </em></p>
<p><em>Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”</em></p>
<p><em>“Dan itulah ceritanya. Semoga engkau dapat tersadar dan mata hatimu dapat terbuka. Silakan engkau sendiri nak, yang menyimpulkannya!”</em></p>
<p>Air mata Haura kembali berderai, setelah mendengarkan cerita dari ibunya. Ia sekarang tersadar, bahwa Kekayaan dan Kesuksesan bukanlahfaktor determinan dalam hidup ini. Melainkan cinta-lah yang harus ada dalam setiap perbuatan yang akan Ia lakukan.</p>
<p>Justru keduanya akan berbanding lurus dengan rasa cintanya pada sesama dan utamanya, rasa cintanya pada Dia yang Maha menghembuskan rasa Cinta, pada setiap hati Hamba-hamba-Nya yang beriman lagi mulia.</p>
<p><em>“Nak, sadarlah! bahwa engkau-lah berlian di hati ibu. Engkau-lah segalanya buat Ibu. Jangan dengarkan dan acuhlah! terhadap celotehan orang-orang pengecut yang sukanya menggembosi semangat hiduporang! Singkaplah tirai dogma itu nak! Kamu bisa! Ibu yakin itu!”</em>ucap Ibunya meletup-letup bak motivator.</p>
<p>Semangat Haura pun seketika tersengat. Aliran darahnyaseketika mendidih. Berlian itu tersadar akan potensi yang dimilikinya. Dan tidak dimiliki orang lain. Ia tidak akan lagi mengkhianati, mengerdilkandan mempercundangi potensi yang ada. Akhirnya, Ia kembalitersenyum penuh keyakinan. Menatap dunia.</p>
<p>Sejurus kemudian, Ia peluk ibunya begitu erat. Air matanya Ia sembunyikan dibalik bahu perempuan yang terkuat se-jagat raya. Ibu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><u>EPILOG</u></strong></p>
<p><strong><u> </u></strong></p>
<p><strong>UNTUK BERLIAN YANG TERTUTUP!</strong></p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Memandangmu sungguh menggetarkan mataku. Karena dirimu begitu teguh memegang prinsip hidup yang teramat fundamental.</p>
<p>Walau raga selalu tercaci, engkau balas dengan senyuman tulus penuh arti.</p>
<p>Walau petir ancaman menghujam jantungmu, engkau payungi dengan kesabaran tiada semu.</p>
<p>Walau kegagalan bertubi menghantam diri, engkau bersikeras bahwa kegagalan itu bukanlah akhir, namun awal dari kesuksesan diri.</p>
<p>Walau sumpah serapah memenuhi pundak, engkau bersihkan dengan ikhlas tanpa harus diri menyalak.</p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Aku tak tahu kata apa yang layak aku sematkan padamu. Karena dirimu bak cahaya di atas ribuan kaca yang menyilau.</p>
<p>Aku tak tahu bait apa yang bisa menggambarkan tentangmu. Karena dirimu sukar tergambar oleh tinta dan kain kanvas di dunia ini.</p>
<p>Aku pun belum bisa bersenandung mengisahkanmu. Karena dirimu adalah bait-bait liar dan irama-irama misteri yang terus mengalunkan melodi-melodi ketegaran.</p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Hari ini! Menit ini! Dan detik ini juga! engkau harus berani menyingkap tirai dogma yang terus meng-stagnankan hidupmu. Agar kilaumu dapat terlihat dan nantinya membawa manfaat. Agar diri tak lagi dicaci laksana makhluk kerdil yang ternista diri. Agar diri tak lagi dipandang rendah bak sebongkah sampah! Musnah!</p>
<p>Aku tahu. Memulai itu memanglah sulit. Tapi lebih sulit jikalau diri tak mau memulai. Mulailah sekarang juga! Tak apa, meskipun dengan langkah gontai dan merangkak. Mulailah berbenah dari hal yang dianggap kecil, karena suatu yang besar berawal dari yang kecil.</p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Sibukkan diri dengan perkara yang menjanjikan. Agar kilaumu menjadi sapaan pengetahuan. Agar prestasi yang didambakan terasa mudah untuk didapatkan.</p>
<p>Ayunkan langkahmu. Singkapkan silaumu. Berjalanlah dengan kedua malaikat yang senantiasa hadir menemani langkahmu. Ajaklah mereka untuk bersenandung penuh optimis. Bersahabatlah dengan mereka. Rangkul-lah mereka. Dan bisik-kan pada mereka.</p>
<p>MALAIKAT. AKU BUKAN LAGI BERLIAN YANG TERTUTUP. <em>TRAP!</em> DAN INILAH AKU. BERLIAN YANG PENUH KEMENANGAN.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kelar deh. Ploooong banget euy. Suer.J</p>
<p>O ya maaf ya baru di share sekarang, soalnya kemarin malem lagi disibukkan buat Liqo Syawal bersama Tokoh dan Ulama 1435 H.</p>
<p>Semoga temen-temen enggak pada manyun.J</p>
<p>di muat di Majalah Remaja islam Drise Edisi #41</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/">Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1239</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Download Buletin Drise anti Vidi</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/download-buletin-drise-anti-vidi/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/download-buletin-drise-anti-vidi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2016 03:58:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bukamata]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[ANAK]]></category>
		<category><![CDATA[BACAAN]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[GAUL]]></category>
		<category><![CDATA[HTTP://MajalahDrise.Com]]></category>
		<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[MUDA]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[ONLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SMAR]]></category>
		<category><![CDATA[TABLOID]]></category>
		<category><![CDATA[TRENDI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1226</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/download-buletin-drise-anti-vidi/">Download Buletin Drise anti Vidi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2016/02/Promo-buletin-drise-anti-vidi.jpg?w=600" alt="" px" data-recalc-dims="1" /></p>
<h2 style="text-align: center;">Hadang Vidi, Lindungi Generasi!</h2>
<p>Perayaan Valentine Day alias ViDi paling banyak dinanti di bulan kedua ini. Remaja en remaji sibuk kasak-kusuk cari hadiah untuk sang pujaan hati. Dari sekedar coklat, bunga, boneka cupid, sampe alat kontrasepsi. Hii&#8230;.ngeri!</p>
<p>Kita nggak bisa berdiam diri. Apalagi cuman jadi penonton sambil sibuk mengomentari. Ayo ambil langkah nyata agar perayaan Vidi nggak ada lagi dalam kamus hidup remaja en remaji. Gempur dengan opini yang menginspirasi. Agar generasi terjaga dari pemikiran liberal dan budaya sesat yang dibenci.</p>
<p>Drise, sebagai majalah remaja Islam peduli dengan kondisi anak muda masa kini. Terutama mereka yang terpapar ide-ide hedonis yang salah satunya berwujud perayaan Vidi. Kami sudah siapkan sebuah buletin anti Vidi untuk dikonsumsi remaja en remaji. Sudah siap cetak dalam bentuk setengah halaman F4 bertajuk HEDONISME VALENTINES DAY!</p>
<p>Kami sudah siapkan dua format file bentuk CDR versi X3 jika akan diedit dan format PDF siap cetak. Kami berharap, buletin ini bisa menjadi ladang pahala kita bersama dengan menyebarkannya edisi cetaknya secara langsung atau sekedar membagikan infonya. Mari hadang vidi dan lindungi generasi! [@Hafidz341]</p>
<p>Link Download format CDR &gt;&gt; <br />Link Download format PDF &gt;&gt; </p>
<p>Jika buletin ini bermanfaat, silakan share informasinya.</p>


<figure class="wp-block-image"><img src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2016/02/BULETIN-DRISE-TENTANG-VALENTINE.jpg?w=660" alt="" data-recalc-dims="1"/></figure>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/download-buletin-drise-anti-vidi/">Download Buletin Drise anti Vidi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/download-buletin-drise-anti-vidi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1226</post-id>	</item>
		<item>
		<title>“The world is ours”</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/the-world-is-ours/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/the-world-is-ours/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2015 10:48:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1014</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Denting bel tanda sekolah usai, berdentang. Serasa di penjara, ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap siswa. Dibeberapa kelas malah terdengar teriakan-teriakan riang dan tawa lepas seolah melepas beban berat untuk hari ini. Sebentar kemudian, anak-anak telah berhamburan keluar kelas. Oji dan Lulu baru saja usai membereskan buku dan bersiap-siap keluar ruangan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/the-world-is-ours/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">“The world is ours”</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/the-world-is-ours/">“The world is ours”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>drise-online.com</strong> &#8211; Denting bel tanda sekolah usai, berdentang. Serasa di penjara, ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap siswa. Dibeberapa kelas malah terdengar teriakan-teriakan riang dan tawa lepas seolah melepas beban berat untuk hari ini. Sebentar kemudian, anak-anak telah berhamburan keluar kelas.</p>
<p>Oji dan Lulu baru saja usai membereskan buku dan bersiap-siap keluar ruangan ketika Rajib yang belakangan dipanggil Ajibonk, si lelaki tulang lunak yang kerjaannya ngupdate fashion untuk remaja putri dan….ah, si Ajibonk maju kedepan kelas dengan gaya gemulai sambil memegang secarik kertas dengan lengan ditekuk dan ditopang lengan sebelahnya.</p>
<p>“hey hey hey”, Ia menyapu ruang kelas dengan tatapan genitnya. Rambutnya yang mengikuti gaya rambut anak korea dikibas-kibaskannya kesamping. Gayanya yang gemulai mampu mengundang senyum teman-teman sekelasnya. Oji memberengut</p>
<p>“hey hey hey…hey Rajib Singh! Itu kertas apaan? Baca aja cepat”, Oji berkata gusar. Ia bisa menebak, jika Ajibonk datang, alamat kekacauanakan terjadi.</p>
<p>“ihhh, nama eike bukan Rajib Singh, Oji. Rajib. Tapi, akika lebih suka dipanggil ajibonk. Lebih ajib,gitu lhoks”, tangan kanannya yang masih memegang kertas melambai dengan gemulai</p>
<p>“halah…udah, baca cepet!”, Oji makin gusar. Pengen cepat-cepat pulang.</p>
<p>“idihhh, sabar dikit nape? eh, denger baik-baik ya. Eike bacain. Ini pengumuman khusus untuk yang update trending topic dunia ”, Ia menjeda kalimatnya. Memandang kawan-kawannya dengan tatapan genit. Melirik Oji dan Lulu dengan tatapansinis. Beberapa orang yang tak sabar segera berlalu. Yang lainnya juga sudah tak begitu tertarik. Melihat hal tersebut, Rajib buru-buru meralat.</p>
<p>“hey hey hey…perhatian perhatian. Tolong dengerin eike duong…jadi gini lho, pengumuman ini terkait jadwalnonton bareng worldcup 2014!”, Rajib berteriak semangat diikuti wajah cerah yang lainnya.</p>
<p>OjidanLulu saling tatap. “kirain apaan”, Oji nyeletuk.</p>
<p>“emang nape? klo ga suka bola, ya gak usah denger. Sirik aja deh. Urusin tuh Rohis kalianyang…” belum tuntas perkataan Rajib, Oji beringasan memotong kata-kata Rajib</p>
<p>“eh, lu..gue agak aneh juga ada ya cowok gemulai tapi suka bola? Ikut-ikutan untuk eksistensi doing? Biar dibilang gaul? Semuanya denger, Gue bukannya ngelarang nonton bola. Olahraga mah boleh-boleh aja. Gue hanya ngingetin, jangan sampai pada melalaikan kewajiban yang lain karena ikut-ikutan gila bola. Apalagi di bulan ramadhan. Banyak yang lebih bermakna untuk dilakukan dibanding ngabisin waktu buat nonton bola. Bela-belain begadang Cuma buat nunggu bola. Ga mau bela-belain begadang, buat ngabisin malam dengan nyembah Allah.Dan catet ya,catet Ajibonk, gue ga pernah sirik sama acara-acara gituan”, Ojimenuntaskan kalimatnya dan segera berlalu. BersamaLulu yang melangkah keluar di ikuti suara riuh redam teman sekelas yang ramai mengerubuti Rajib.</p>
<p>………………….</p>
<p>“Ji, Neymar tu keren banget ya?”, Lulu seperti mendesis berbicara di samping Oji.</p>
<p>“lu suka bola, Ul?”, Oji menghentikan langkahnya sembari memandang Lulu yang juga balik menatapnya</p>
<p>“nontonbola kan boleh aja, Ji. Yang penting ga melalaikan kewajiban”, sahut Lulu.</p>
<p>“iya sih tapi… kita juga harus mampu nunjukin pribadi yang khas Ul. Kata mas Hadi, meski sesuatu itu boleh, tapi jika berkaitan dengan konspirasi, tetap kita harus jelasin ke teman-teman, Ul. Lu kan tau sepakbola itu bikin orang melalaikan banyak hal.Malah ada yang sampai kejebak pada permainan judi. Judi dibulan ramadhan lagi”, Oji menjelaskan panjang kali lebar. Lulu hanya manggut-manggut.</p>
<p>“world cup sejak kapan sih, Ul?”, Oji bertanya tanpa melihat lawan bicaranya. Keduanya berjalan menyusuri trotoar meninggalkan sekolah mereka. Lulu yang sedang sibuk dengan ponselnya tak begitu menghiraukan pertanyaan Oji.</p>
<p>“Ul??”, Oji mengulang pertanyaannya. Kali ini tangannya sengaja menjambak rambut Lulu yang dibentuk seperti Mohawk tiarap. Ia baru sadar, ada sedikit perubahan pada gaya rambut sahabatnya.</p>
<p>“aihhh, Ji, jangan maen jambak-jambak gitu dooong”, Lulu memprotes sembari menata ulang rambutnyayang baru saja di obrak abrik Oji.</p>
<p>“eh, gaya rambut lu baru cuy!”, tangan Oji kembali bergerak, buru-buru Lulu menepisnya.</p>
<p>“iya dong. Lu tau? Ni gaya rambut Neymar hehehe”, jawab Lulu dengan wajah meringis. Tangan kanannya sibuk mengusap rambutnya kearah depan. Seperti ayam jago kesiram air.</p>
<p>Oji mengerutkan jidat. Kedua keningnya nyaris bertemu.”Neymar?Neymar? Rambut lu kayak ayam jago keluar dari salon, Ul”, Oji senyam senyum memandang Lulu yang cemberut. Ia segera meraih pundak sahabatnya. Menepuknya lalu berkata ”lu demam Ul?”</p>
<p>“demam? Gue sehat-sehat aja”, ia meraba tengkuknya sendiri</p>
<p>“demam sepakbola”,sahut Oji</p>
<p>“oalaaah…kalau sebagai olahraga sih gue suka-suka aja, Ji. Tapi gue ga sampai galau lho ya kalau Neymar kalah”</p>
<p>“iya, tapi kalau udah sampai ikut-ikutan gaya gitu juga, hati-hati, Ul, ntar kelupaan”. Tambah Oji</p>
<p>“ya, galah…”</p>
<p>‘eh, temenin gue di warung Mang Udin yah. Mau beli pesenan emak buat buka puasa ntar”</p>
<p>“oqeylah klo begitu, Bro”</p>
<p>Keduanya tertawa lepas dan sekali lagi, Oji mengobrak abrik rambut Lulu.</p>
<p>………………………..</p>
<p>Oji memasuki gang kecil yang biasa Ia lewati. Sebentar lagi waktu ashar tiba.Beberapa anak terlihat semangat menggiring bola dengan suara riuh. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah yang tak begitu luas untuk bermain. Tak jauh dari situ, sekelompok laki-laki tengah mendiskusikan piala dunia dengan tak kalahsemangatnya. Di tengah-tengah mereka terdapat kertas yang berisi jadwal piala dunia dari group A hingga group H. dari tiga besar, hingga final (hapal banget). Kertas lainnya yang juga berisi jadwal pertandingan piala dunia telah ditempel pada dinding papan pos kamling.</p>
<p>“finalnya kapan, Li?”, Tanya Pak Ilham</p>
<p>“13 Juli, Pak. di Estadio do Maracana, Rio de Janeiro”sahut Ali seperti meracau merapalkan huruf yang terpampang pada jadwal pertandingan</p>
<p>“tau ga, menurut Ronaldo, Brasil akan mampu menjuarai Piala Dunia. Selain karena ini dihelat di kandang sendiri, Pemain andalannya itu lho yang keren. Si Neymar”, sahut Pak eman.</p>
<p>“wah, kalau saya tetap megang spanyol, Mas. Bertaburan bintang. Dari gelandang,bek, ampe penyerang hehe”, Mas Karno si tukang siomay yang lagi cuti selama ramadhan ikut nimbrung.</p>
<p>“kalau gue, yakin jerman yang menang, Bro”, Rio anak Pak RT melengkapi arisan para lelaki di siang menjelang sore. Hingga adzan ashar terdengar, pembahasan sepakbola belum berhenti juga.Oji hanya geleng-geleng kepala. Dimana-mana, trending topic dunia saat ini satu, BOLA. Seperti kata Ajibonk.</p>
<p>……………..</p>
<p>The world is ours, lagu piala dunia ala David correydan Millane Fernandez mengalun menghentak ruangan kelas. Yang muter jelas,Rajib and the gank. Beberapa siswa ikut bersenandung.</p>
<p><em>Run like you&#8217;re born to fly<br />
Live like you&#8217;ll never die<br />
Beranilah bermimpi<br />
Menggapai semua cita</p>
<p>We are drawn by the rhythms<br />
That beat through our hearts<br />
Saat kita bersama<br />
Tunjukkan semangatmu</em></p>
<p>Pada jam istrahat ini, kebanyakan siswa memilih menghabiskan waktu di ruang kelas atau menghabiskan waktu istrahat di taman sekolah. Oji dan Lulu sendiri terlihat sibuk mendiskusikan beberapa rangkaian kegiatan Rohis selama ramadhan ini. Di sudut sana, Rajib dan beberapa anak terlihat ramai. Oji hanya sesekali memandang mereka dengan tatapan sinis.</p>
<p>“eh, Ji.woles aja kali.ga usah panas gitu”</p>
<p>“bête gue liatnya,Ul. Pada curcol aja tuh kerjanya”</p>
<p>“ya, tapi kata mas Hadi, kita jangan terpancing, Ji. Makin ngelunjak klo digituin mah. Tetep dengan kata-kata ahsan”, Lulu senyam senyum berusaha arif. Oji hanya mendengus.</p>
<p>“eh, jadi gimana? besok kita harus memastikan lagi ke Pak Kamarudin. Ya sekedar mengingatkan gitu, agar beliau ga lupa membuka kegiatan rohis kita lusa”, Oji beralih ke pembahasan agenda Rohis</p>
<p>“iya. Panitia lainnya juga kemarin udah rapat. Masing-masing divisi udah merampungkan persiapannya. Tinggal besok, kita ke Pak Kepsek”</p>
<p>“siip. Alhamdulillah, semoga kegiatan kita sukses ya, Ul”, Oji menatap sahabatnya dengan wajah sumringah. Sebagai ketua panitia, ia merasa sangat bertanggung jawab atas kesuksesan kegiatan tersebut.</p>
<p>Di sudut lain, Rajib beraksi. Ia menirukan gerakan samba yang diikuti tawa riuh siswa lainnya..Mereka menyemangati Rajib yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya hingga tiba-tiba, bukkk! Kaki Rajib tak sengaja terantuk kaki meja, tubuhnya terjerembab menghantam kursi. Beberapa teman datang membantu Rajib untuk bangkit. Oji dan Lulu ikut mengerubungi Rajib yang telah didudukkan disebuah kursi. Ia meringis. Pelipisnya lebam. Detik selanjutnya, Ia menangis layaknya anak kecil.</p>
<p>………………….</p>
<p>Pak Kamarudin, wakil kepala sekolah Oji menyetujui permintaan Rohis untuk membuka rangkaian kegiatan Rohis dibulan ramadhan. Rencananya esok hari,sebagai pembukaan, Rohis akan membuat seminar bertajuk ramadhan, tonggak perubahan. Wajah Oji dan Lulu tampak cerah. Keduanya tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Ga pake lama, keduanya segera beranjak di ikuti Pak Kepsek nan baik hati. Tiba di pintu, Oji danLulu sekali lagi menyalami lelaki setengah baya itu</p>
<p>“makasih banyak, Pak. Semoga kegiatan Rohis ini bisa sukses”</p>
<p>“sayado’akan, kegiatan kalian sukses. Semoga banyak siswasiswi yang mengikutiacara ini. Saya justru salut dengan kalian”, kata Pak Kepsek sambil menepuk pundak Oji.Setengah membungkuk keduanya akhirnya meninggalkan ruang Kepsek.</p>
<p>………….</p>
<p>Pagi di hari ahad. Seluruh panitia Rohis terlihat sibuk menyiapkan keperluan acara. Mas Hadi, yangakan tampil sebagai pembicara pun sudah standby di TKP sejak pukul delapan. Yang paling cemas jelas Oji. Ketar ketir tiap melirik jam dan beralih ke deretan kursi peserta yang baru beberapa saja terisi. Hatinya ciut. Lulu sesekali menenangkan sahabatnya.</p>
<p>“nyantai aja, Ji. Memperjuangkan kebenaran tuga gampang”</p>
<p>“gue tau, Ul. Teman-teman tuga datang pasti karena nonton Bola. Tu,yang putrinya udah lumayan”, Oji berkata sepertimemelas. Lulu hanya tersenyum. Oji mengarahkan pandangannya kepada Mas Hadi yang sedang sibuk berbincang-bincang dengan Pak Kamaruddin. Ia melangkah mendekati keduanya,memohon izin untuk memulai acara.</p>
<p>Tepat pukul 09.00, acara segera dimulai. Sambutan Pak Kepsek sungguh membangkitkan kesadaran Oji. Bahwa memperjuangkan kebenaran itu sulit. Bahwa mengajak manusia ke jalankebenaran itu ga sepi dari ujian termasuk susahnya mengajak ummat untuk menghadiri majlis ilmu. Oji menunduk, membenarkan perkataan Kepsek. “Ah, harusnya gue ga boleh apatis”, batinnya. Terlebih materi yang dikemas menarik oleh Mas Hadi. Peserta dibuat antusias karena materi yang sensitive dengan keseharian mereka. Tentang sekolah, life style, fashion hingga football yang sengaja diciptakan untuk memalingkan kaum Muslimin. Bahwa kaum muda saat ini adalah generasi plagiat. Bahwa remaja saat inilebih tertarik dengan kebudayaan barat. Bahwa seluruh upaya barat, berhasil memalingkan kaum muda. Oji seperti teriris. Lulu ga bisa berkata apa-apa. Betapa mirisnya kondisi kaum muslimin. Betapa pedihnya Rasulullah jika menyaksikan ummatnya.</p>
<p>Di luar sana, ratusan bahkan ribuan manusia sedang terlena dengan sepakbola. Menyela kekhusyuan ramadhan. Bulan yang senantiasa dirindukan. The world is ourstak sepenuhnya salah namun akan lebih benar jikadifahami, bahwa dunia kita adalah milik Allah. Bumi ini milik Allah. Manusia hanya numpang. Tolong, fahami kewajiban jika status kitahanya “numpang”.Bukan pemilik. <strong><em>[Juanmartin]</em></strong></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/the-world-is-ours/">“The world is ours”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/the-world-is-ours/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1014</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
