
Salman Iskandar
[Penulis Islam ideologis]
“jadilah penyeru Islam dengan menulis..!”
Menulis sudah jadi pilihan hidupnya. Sehingga tiada hari dilewatkan tanpa menulis dan membaca. Tak heran jika produktifitas Senior Editor (Supervisor Lini Remaja) Penerbit Mizan ini seolah tak terbendung. Karya tulisnya sudah banyak menghiasi etalase toko buku. Dan Alhamdulillaah, Isa dari Drise berkesempatan ngobrol dengan salah satu penulis ideologis, Salman Iskandar. Lets cekidot!
1. Menurut Bapak seberapa pentingkah menulis itu?
Penting dunk. Apalagi bagi saya pribadi yang dah berazzam bahwa menulis adalah bagian dari aktualisasi diri ato wujud gharizah baqa saya sebagai manusia. Saya mo dikenal sebagai penulis, bukan sebagai petinju, pegulat ato yang lainnya. Jadi, ketika orang lain denger nama saya, dia pasti langsung tahu bahwa Salman Iskandar adalah seorang penulis, bukan petinju, pegulat ato yang lainnya. Apalagi, saya dah ngerasain gimana asyiknya menulis, dari mulai berpayah-payah berburu referensi, bersuka ria menikmati fee ato royalty hingga digadang-gadang oleh penerbit bak selebriti.
Trus, saya juga suka inget dengan generasi Islam dulu yang begitu antusias menulis kitab hingga ngelupain kesenangan dunia. Mungkin, di antara D’Riser dah tahu Imam Bukhari yang menyibukan diri menulis hadits shahih dan menghimpunnya dalam satu kitab dengan mengabaikan keinginannya sendiri untuk menikah hingga akhirnya tinta sejarah mencatat, Imam Bukhari sampai akhir hayatnya tidak sempat menikah. Baginya, menghimpun hadits-hadits shahih yang diperuntukan bagi umat, jauh lebih penting daripada menikah yang hanya untuk kepentingan sendiri. Disinilah arti penting menulis bagi muhadits paling otoritatif ini. Keren, kan?!
2. Apakah menulis bisa kita jadikan sebagai pegangan hidup?
Jelas sangat bisa, dah banyak kok, buktinya orang-orang sukses yang hidup dari nulis. Di level dunia, ada Dan Brown, JK Rowling, Aidh al-Qarni. Bahkan, tukang ngedongeng kek Walt Disney, HC Andersen and tukang ngomik kek Stan Lee. Mereka hidup survive dari nulis buku. Nah, untuk level Indonesia ada Habiburrahman el-Shirazy, Andrea Hirata, Asma Nadia, A. Fuady, Tasaro GK. Bahkan, yang suka ngebanyol kek Raditya Dika ato Pidie Baiq, buku-buku mereka bisa nembus penjualan best seller.
Jadi, dari nulis buku, kita bisa dapet penghasilan. Nah, kalo diseriusi, pasti jadi sarana kita meraih rizki dari Allah Swt. Kalo, bahasa kerennya adalah kasbul ma’isyah. Termasuk bagi founding father negeri ini, Bung Karno sebelum jadi RI-1 menjadikan nulis sebagai upayanya menghidupi keluarga karena BK gak mo kerja di perusahaan milik pemerintah kolonial.
Bahkan, dari nulis, para penulis sukses itu gak sekadar mendapatkan pegangan hidup, tapi malah semangat menjalani kehidupan lebih baik. Mo bukti? JK Rowling saat nulis serial Harry Potter yang ngeraih predikat mega best seller di seluruh dunia itu, ia tulis saat masa depresi karena gak punya kerjaan. Ato mo bukti yang lebih keren, Aidh al-Qarni nulis La Tahzan saat di jeruji besi, Buya Hamka nulis Tafsir al-Azhar saat dibui, Bung Karno nulis Indonesia Menggugat saat mendekam di Penjara Banceuy, Sayyid Quthub nulis Fi Zhilal lil Qur’an saat di penjara juga. Nulis telah jadi sarana perjuangan bagi mereka.
3. Apakah ada hubungannya menulis dengan upaya memperbaiki kondisi remaja yang saat ini sedang carut marut?
Pasti ada. Apalagi kalo kita hubungkan dengan tabiat kita sebagai Muslim. Bukankah Imam Hasan pernah bilang, nahnu du’at qabla kulli syai’in… kami ini adalah para penyeru sebelum jadi apapun? Nah, saat kita ngaku jadi penulis maka sebelumnya, kita kudu nyadar bahwa kita ini adalah Muslim yang punya kewajiban jadi penyeru. Tentu, yang diserukan itu adalah Islam. Trus, kita juga kan dah tahu, Islam itu adalah diinulah yang diturunkan tuk ngatur hidup manusia. Jadi, saat kita tahu bahwa hidup manusia kini dah carut marut, termasuk kehidupan para remajanya maka untuk ngubah itu semua, kita menyerukan Islam sebagai solusinya.
So, kalo kita mo jadi penulis maka jadilah penyeru Islam. Ringkasnya begini, jadilah penyeru Islam dengan menulis. Tuh, nyambung kan? Kondisi remaja kini yang dah jauh dari Islam dapat kita perbaiki dengan mengajak mereka memahami Islam dengan benar melalui tulisan yang kita buat. Istilahnya, berdakwah melalui tulisan.
4. Menurut Bapak bagaimana kondisi dakwah saat ini di dunia tulis menulis?
Saya kira sudah cukup lumayanlah, saya lihat nyaris tiap hari, ada saja para penulis baru ato penulis muda yang berkarya di media massa. Di antara mereka pun dah ada yang berani mengusung ide-ide Islam sebagai arus utamanya. Bahkan, kalo kita mo jujur, setiap jama’ah dakwah ato juga komunitas Muslim, kini dah punya media opini yang dikelola secara profesional. Ini bisa jadi salah satu parameter seberapa gebyar dakwah Islam telah diterima masyarakat. Namun, kalo bicara soal dakwah Islam ideologis, saya kira kita harus lebih berpacu lagi. Masih banyak PR yang harus kita benahi lagi.
5. Apa yang memotivasi Bapak utk terus menulis? Apa rahasia Bapak sehingga bisa terus eksis menulis?
Rahasianya, ya? Saya telah jatuh cinta. Maksudnya gini, gak dibayar pun, saya dah suka nulis, apalagi dibayar secara profesional. Jadi, emang karena saya dah mencintai aktivitas nulis ini hingga bisa terus eksis sampe kini. Apalagi saya juga doyan baca sejak kecil, jadi saya butuh sarana penyalurannya, yaitu dengan nulis. Fakta juga membuktikan bahwa para penulis adalah mereka yang terkategori maniak buku ato pembaca buku yang paling lahap. Saya sendiri, tiap pekan selalu saja dapet buku-buku baru, makanya tempat-tempat favorit saya adalah toko buku, book fair, lapak buku bekas dan perpustakaan!
Terus, pada banyak forum kepenulisan, saya juga sering ditanya soal beginian, apa motif saya hingga mo jadi penulis? Saya bilang, motif saya ada tiga; cinta, aktualisasi diri dan kasbul ma’isyah. Hehehe… di awal tadi dah dibilang juga, kan?
6. Apa pesan2 Bapak untuk pembaca D’Rise?
Hehehe… kek mo segera mati aja, ada pesan-pesan ato wasiat segala. Pesan apaan, ya? Ah ya, D’Riser ini kan mayoritas para remaja, kan, ya? Kalo gitu, saya pengen ngutip pernyataannya Imam Muhammad Abu Hamid al-Ghazali yang bilang bahwa jihadnya anak-anak muda itu adalah membaca dan menulis. Nah, anggap saja baca dan nulis di sini sebagai medan perang ato arena pertempuran bagi para D’Riser. Dengan semangat muda kalian maka berikanlah yang terbaik untuk Islam dan umatnya demi memenangkan peperangan menghabisi kekufuran dan kemungkaran. Hehehe… jadi inget quote-nya penulis The Cronicles of Draculesty dan Sabil, deh… Menulis adalah berjuang! Hayo ah, kita berjuang dan berperang melalui tulisan. Tuh, D Rise dah siap nampung karya kreatif kalian?!
C U R I C U L U M V I T A E
Nama : Salman Iskandar.
Pendidikan : Fakultas Sastra Unpad, 1995.
Oganisasi :
– Kadiv Pembinaan Kaderisasi & PSDM FLP Jabar.
– Pembina API Islam.
Pengalaman :
– Senior Editor (Supervisor Lini Remaja) Penerbit Mizan.
– Managing Editor (Division Head Production & Development) Penerbit Salamadani-Grafindo.
Bookgrafi :
– Sudah menulis lebih dari 60 buku, di antaranya adalah Impian Terindah, 99 Tokoh Muslim Dunia, 100 Kisah Islami, Spider-Man I Will Kill You!, 99 Rukhshah dalam Shalat, Misteri Sofia: Istri Nabi dari Putri Yahudi, 55 Tokoh Muslim Indonesia, dll.
– Beberapa bukunya sudah diterbitkan dalam bahasa Melayu di Malaysia.
Diterbitkan Offline dalam Drise #19 Februari 2012