Halilintar seperti menyambarku. Apakah kata2nya benar? Aku diam Hterpaku memandang mata pria itu. Aku ingin tahu apa yang ada di balik hatinya. Aku ingin kebenaran.! “Dahulu Bani Saljuk memang melarang sebuah parade Misa orang Kristen yang membawa pedang dan sering membuat kerusuhan di tengah2 keramaian. Bahkan jatuh korban karena parade Misa itu.
Bani Saljuk melarangnya karena untuk menjaga ketertiban bersama dan toleransi! Ibadah seharusnya membawa kedamaian, bukan korban!”. Ada dorongan yang aneh dalam hatiku untuk mempercayainya. Namun sebisik suara berhembus di hatiku, pria di hadapanku itu kaum Saracen. Orang barbar yang tidak beradab, heretis, dan suka membunuh.
Segala pandangan dan citra buruk yang ditanamkan kepadaku oleh Paus, Raja2, Baron2, dan siapapun orang Kristen begitu mempengaruhi aku. Namun saat aku menginjakkan tapak kakiku di tanah suci, aku lihat sendiri mereka bukan bangsa barbar dan tidak beradab seperti yang selama ini digambarkan.
Bangunan2 mereka kokoh dan indah. Tata kotanya juga indah, walaupun kulihat keindahan itu sudah hilang karena tanah suci sudah dikuasai orang Kristen hampir seratus tahun, aku tahu cara hidup mereka jauh dari kebersihan dan kebaikan. Di tanah suci kutemukan berbagai benda2 berguna yang belum pernah kutemukan sama sekali di Eropa.
Kutemukan buku2 yang memuat berbagai ilmu pengetahuan berharga, yang semuanya itu kutahu dibuat oleh orang2 Saracen yang selalu digambarkan buruk, barbar, dan tidak beradab oleh orang Kristen Eropa. Semuanya membelalakkan mataku. “Kami tidak pernah membantai orang Kristen, atau memaksa mereka keluar dari Kristen!”, Pria itu menceritakan semuanya dengan semangat. “Tuhan Yesus-lah yang telah memerintahkan kami untuk menggelar perang suci ini!”, kataku. “Karena kami harus menguasai kota ini dan menyelamatkan umat Kristus yang tersesat.”.
“Paus atau Yesus yang memerintahkan perang ini?”, tanya Pria itu.
“Karena benarlah apa yang kau katakan tempo hari: Yesus memerintahkan welas asih dan mustahil memerintahkan pembantaian seperti ini.”. Keningku mengkerut, aku berpikir keras mencerna kata2 Pria itu. Aku ingin memahaminya. “Kami sangat mencintai Yesus!”, katanya.
“Tapi bukan sebagai Tuhan, melainkan sebagai Rasul utusan Tuhan. Sama dengan Rasulullah Muhammad!”. Kerutan di keningku makin dalam, sebab aku berpikir keras. “Yesus tidak pernah mengangkat dirinya menjadi Tuhan! Dia memerintahkan untuk menyembah Tuhan yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi. Rahib2 Kristen-lah yang telah mengubah ayat2 Injil, dan mereka bekerja sama dengan Kaisar Konstantin kemudian mengangkat Yesus menjadi Tuhan, dan menciptakan Kristen!”.
Aku terkejut pada pria itu. Begitu luas pengetahuannya tentang agama Kristen, padahal dia orang Saracen. Sementara apa yang diceritakannya tak pernah kudengar keluar dari mulut Uskup ataupun Paus. Alkitab terlalu suci bagi orang2 rendahan seperti aku, dan hanya orang suci seperti uskup atau Paus-lah yang boleh menyampaikan kandungan Alkitab kepada kami. “Di dalam Injil, Yesus mengabarkan bahwa akan lahir seorang Rasul setelah dirinya, dari bangsa Arab.”, Pria itu meneruskan.
“Dan dia memerintahkan semua pengikutnya untuk menaati Rasul itu setelah dia dibangkitkan. Yesus mengajarkan untuk menyembah Tuhan yang Esa, Rasulullah Muhammad pun mengajarkan untuk menyembah Tuhan yang Esa dan menolak anggapan bahwa Tuhan memiliki anak seperti apa yang diyakini orang Kristen, sebab Yesus tak pernah mengajarkannya. Menjadi muslim dan mengikuti perintah Rasulullah Muhammad sebenarnya adalah perintah dari Yesus sendiri.”. Kepalaku pening mendengar semua penjelasan Pria itu.
Otakku seakan meloncat-loncat. Perutku mual! Aku benar2 tidak mengerti kenapa semuanya jadi begini. Kutopang keningku dengan tanganku. “Itulah yang sebenarnya!”. Pria itu tersenyum kepadaku. Senyum yang tulus.!! “Aku tidak memaksamu untuk mempercayai aku!”, lanjutnya. “Semuanya terserah kepadamu. Kewajibanku adalah mengajakmu: Marilah masuk Islam, marilah kembali menyembah Tuhan yang esa, Allah Subhanahu wata’ala. Hanya Dia satu2nya. Dia tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Dia esa adanya.”.
“Kau cepatlah pergi dari sini.”, kataku.
“Aku takut cepat atau lambat tempat persembunyian ini bisa diketahui, dan itu akan mengancam jiwamu. Cepatlah pergi sekarang juga. Kau telah sembuh. Aku buatkan bekal sedikit untukmu, dan ambillah uang ini!”.
“Terima kasih!”, katanya.
“Aku berdoa kepada Allah, semoga Dia memberikan kepadamu kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat!”.
“Bergegaslah!!”. Pemuda yang tidak pernah kuketahui namanya itu berlalu. Dia meninggalkan sesuatu dalam benakku yang sepenuhnya baru. Aku tidak tahu apa yang kurasakan, sedih atau gembira! Aku tidak tahu. Sore itu aku pulang ke benteng! Malam naik dengan kegalauan dan kegelisahan di hatiku. Aku bingung tentang segala makna kebenaran. Tentang Tuhan. Segala pembicaraanku dengan pemuda itu membawaku pada sebuah alam berpikir yang lain.
Sebuah alam berpikir yang lebih luas dan bebas, keluar dari semua penjara doktrin yang diajarkan Paus dan Gereja. Sungguh sebuah dunia yang baru, yang aku belum pernah memasukinya. Aku menyadari satu hal, bahwa aku harus lebih banyak berpikir, menggunakan akalku untuk mencari mana yang benar. Tidak boleh lagi ada ketundukan buta kepada Paus atau Gereja. Atau kepada siapapun sebelum aku benar2 memikirkannya dan benar2 menyadari bahwa hal itu benar. Ini semua membuatku tidak terlalu menaruh hormat lagi pada khotbah2 pendeta. Semuanya tak berharga kalau hanya dusta belaka. Aku jadi tidak suka dengan kawan2ku sesama prajurit Kristus. Di mataku justru mereka lebih buas dan bejat, perilaku dan bahasa mereka lebih menyebalkan daripada orang2 Saracen. Semenjak itu aku bersumpah untuk terus belajar dan mencari kebenaran.
[[]]
Malam itu seluruh prajurit Kristus berbaris di padang rumput. Reynald de Chatillon mengumumkan bahwa Saladin sudah menduduki Acre, dan besok hari kami akan bergabung dengan tentara pimpinan Raja Guy de Lusignant di Jerussalem dan akan bersama-sama menghadapi Saladin di Acre. Kami harus mempersiapkan diri untuk berperang. “Kenapa kita membantai orang2 Saracen?”, tanyaku. Saat itu aku sedang menggosok pedangku bersama George. “Apa masalahmu, Phillipe??”, George keheranan. “Sepertinya kau selalu saja mempersoalkan apa yang selama ini diperintahkan pada kita. Apakah kau tidak suka dengan perintah tuhan?”.
“Aku hanya ingin yang benar. Aku hanya tidak ingin kita menjadi gerombolan penjahat. Sebab apapun alasannya pembantaian yang selama ini kita lakukan tetap tak bisa kuterima.”.
“Kau kenapa, Phillipe?”, nada George makin tinggi. “Kau ingin menentang perintah tuhan Yesus?”.
“Tuhan Yesus memerintahkan kita mengasihi manusia. Dia tidak mungkin menyuruh kita membantai dan memporak-porandakan seperti sekarang, siapapun itu!”.
“Mereka Saracen!”, tukas George. “Mereka kaum sesat yang tidak percaya Kerajaan Sorga dan tidak mempercayai tuhan Yesus!”.
“Mereka atau kita yang sesat?”, sahutku. George kesal. “Mereka membunuh umat Kristus dan membuat kesengsaraan.”.
“Kita membantai lebih banyak dari mereka!”, tak tahu kenapa kulayani semua perkataan George. Kumasukkan pedangku ke dalam sarungnya. “Apa kau ingin berkhianat?”, George marah dan mencabut pedangnya, menciptakan kegaduhan dan mengundang perhatian prajurit yang lain. “Pengkhianat seperti kau harus mati!”. Aku berdiri dengan tenang dan mendekati George. Kucabut lagi pedangku dan kutatap matanya. “Aku tidak peduli lagi pada semua ini! Akan kucari kebenaran yang sesungguhnya!”. George melotot kepadaku. Nafasnya memburu! Tangannya teguh menggenggam gagang pedang. Kami bersahabat dan sama2 berasal dari Chatillon.
Prajurit yang lain mulai berdatangan mengerumuni kami. Aku berlari meraih tali kekang kudaku kaluar benteng. Pedangku kugenggam dengan mantap. Kupacu kudaku sekencang-kencangnya. Akan aku kejar kebenaran itu, dan kudapatkan di mana pun dia berada. Itulah sumpahku kepada diriku sendiri. Dan ketika semuanya telah kupilih, berbahagialah aku dengan semua pilihanku itu, ketika kutahu itu semua adalah kebenaran. Kebenaran yang sungguh manis kurasakan. Kularikan kudaku menuju Acre malam itu. Akan aku cari Saladin… Bersambung
