Sultan Shalahuddin menempatkan pasukan panah yang bersiaga di atas bukit-bukit kecil untuk menghujani Pasukan Salib dengan panah. Pasukan utama di tengah, dipimpin S langsung oleh Sultan sendiri, terdiri dari kavaleri dan infanteri. Pasukan sayap kiri dipimpin Al-Afdal. Aku dan Phillipe di dalam pasukan sayap kanan, dan aku menjadi komandannya. Siang makin terik di padang rumput itu dan pasti akan semakin menyiksa Pasukan Salib.
Sementara kami telah mengisi penuh kantung-kantung air kami. Ketika hari sudah sampai di tengah-tengahnya, kami lihat pasukan kafir itu datang. Ketika mereka sudah memasuki jarak tembak, Sultan memerintahkan pasukan panah untuk menembak. Aku melihat ribuan anak panah berjatuhan ke arah pasukan kafir itu seperti air hujan jatuh ke bumi. Kamilah yang menjadi awan hitam dari hujan panah kematian itu. Pasukan salib itu berlindung di belakang tameng-tameng mereka. Mereka berjatuhan tertusuk panah. Ada yang di mata, leher, kepala, dan bagian tubuh mereka yang lain. Pasukan panah kafir balas menembak kami.
Kami pun berlindung di balik perisai. Mereka makin dekat. Sultan Shalahuddin mengangkat bendera hitam berukir kalimat syahadat itu dan berteriak, “Innallaha ma’ana…….Allaaaahu Akbarrr”. Sultan mengacungkan pedangnya dan gema takbir dari seluruh prajurit menggelegar memenuhi angkasa menggentarkan Pasukan Salib. Takbir, di mana-mana takbir. Aku percaya ribuan malaikat telah turun dari langit membantu pasukan muslim, dan orang-orang yg ingkar itu akan segera kami kalahkan. Pasukan yang dipimpin Al-Afdal maju lebih dahulu
.
“Hari ini pasukan kafir akan musnah…Allaaaahu Akbarrr.”, pekik Al-Afdal.
Pasukannya maju menyerbu pasukan kafir dari sisi kiri. Perang pecahlah sudah.! Pasukanku masih tetap bertahan di posisinya, menunggu perintah dari Sultan. Aku melihat jumlah Pasukan Salib begitu banyak dan tidak sebanding dengan jumlah pasukan muslim. Mereka mengusung panji-panji salib, dan membawa sebuah tiang salib yang sangat besar, serta memakai pakaian perang berlambang salib merah. Pasukan muslim tak gentar dan terus maju menyerang. “Pasukan muslim sungguh perkasa!”, Tiba-tiba Phillipe bicara. Aku tersenyum mendengar kata-katanya. “Aku sudah lama merasakannya. Bahkan sebelum aku menjadi muslim, aku selalu bertanya-tanya mengapa pasukan muslim begitu berani. Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya.”.
“Kau bagian dari pasukan muslim sekarang. Aku melihat kau pun bertempur dengan gagah berani!”, kataku. “Aku belum pernah sama sekali merasakan seperti apa yang aku rasakan sekarang.”, katanya. “Menjadi muslim sungguh bahagia. Aku merasakan keberanian di dalam jiwaku, lebih dari saat aku menjadi Kristen. Sebab aku tahu aku berperang untuk sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia. Sebab aku tahu apa yang aku bela adalah benar.”. Tiba-tiba aku melihat air muka Phillipe berubah. Dia terlihat seperti orang terkejut dan keheranan karena memandang sesuatu yang menakjubkan. Sedetik kemudian dia tersenyum. Matanya tertuju kepada satu titik. Jarinya menunjuk kepada sesuatu. “Kau lihat itu, Ahmad?”, katanya. “Itulah Kerajaan Sorga.”.
Aku keheranan. Aku mengikuti ke mana arah pandangan dan telunjuknya. Yang aku lihat hanya kecamuk pertempuran dan darah, serta karang tanduk Hattin yang mencuat angkuh di tengah-tengahnya. “Taman-tamannya sungguh indah.”. “Itu dia!”, katanya. Aku makin tidak mengerti apa yang dibicarakan Phillipe. “Selalu saja perempuan itu! Selalu saja dia! Lihatlah ke sana, Ahmad! Lihatlah!”. Aku tidak berkata apa2. Aku benar2 tidak mengerti. Phillipe bersemangat me-nunjuk2 sesuatu yang tidak jelas. “Mari Ahmad, kita ke sana! Ayolah kita ke sana bersamaku!! Aku ingin segera ke sana!”, Phillipe memaksaku untuk segera maju, dia me-narik2 tali kekang kudaku. “Lihatlah, pintunya penuh cahaya. Akhirnya aku temukan Kerajaan Sorga”.
“Sebentar, Phillipe!”, aku menahannya, kugenggam tangannya. “Sultan belum memerintahkan kita maju. Sebentar!!”. “Ayolah! Aku tidak sabar lagi. Aku ingin ke sana!”, Phillipe mencengkeram tanganku, namun matanya tak mau lepas dari satu titik yang dia lihat. “Maafkan aku, Ahmad! Aku duluan!”, Phillipe memacu kudanya dan melarikannya dengan cepat meninggalkanku. dia menyongsong musuh sendirian. “Philliiiiiipe!!!”, aku berteriak memanggilnya.
Dia tidak mendengarku. Dia masuk ke dalam kabut kecamuk perang yang membubung ke angkasa. Aku tidak bisa melihatnya lagi. Tak lama kemudian kami melihat pasukan musuh sudah terdesak ke padang rumput Hattin. Karang tanduk Hattin berdiri tidak peduli. Pasukan yang ditempatkan di sana sebelumnya telah mengepung dan mulai menghancurkan mereka. Sultan mengangkat bendera hitamnya dan aku pekikkan, “Allaaaaahu Akbar….”. Kami maju bersama-sama menuruni bukit dan menyerbu padang rumput yang basah oleh darah itu. Kupimpin pasukanku memukul mundur pasukan kafir. Kuayunkan pedangku menghantam tentara musuh, sebagai hukuman bagi mereka sebab telah membuat kerusakan di muka bumi.
Aku menusukkan pedangku ke tubuh-tubuh kotor mereka, dan aku penggal leher-leher sombong mereka. Tuhan yang esa akan memberi kami kemenangan!! Aku merangsek maju, makin rapat pada tanduk Hattin. Aku mencari Phillipe di tengah-tengah pertempuran itu. Samar-samar aku melihat Phillipe sedang bertarung dengan Amalric, adik Raja kafir Jerussalem, persis di sisi tanduk Hattin yang jauh di depan, dan masih menjadi area yang dikuasai musuh. Dia berhasil menusukkan pedangnya ke jantung Amalric dan robohlah dia bersimbah darah.
Pekik takbir membahana, dan aku lihat Reynald de Chatillon menebasnya dari belakang hingga melukai punggungnya. Lantas Reynald de Chatillon menendangnya sampai jatuh. Tenggelamlah dia dalam kecamuk. Aku tak bisa melihatnya lagi. Aku meraungkan takbir, aku maju menerjang ke tengah-tengah musuh. Menghancurkan dan membunuh mereka semua untuk menaati perintah Tuhan. Akan aku kejar Reynald de Chatillon, si pembantai kafir itu. Sayang langkahku tertahan oleh rapatnya peperangan. Kuayunkan pedangku menusuk dan memenggal. Seorang Prajurit salib melukai tanganku, tapi aku tak merasakannya.
Aku cabik perutnya dan aku tendang kepalanya, darahnya berurai. Sultan Shalahuddin bertarung dengan perkasa. Dia benar-benar murka kepada orang-orang kafir yang selalu membantai kaum muslim. Perang terus berkecamuk. Guy de Lusignant membuat barikade pertahanan di dekat tanduk Hattin. Pasukan muslim mengepung mereka semalaman, membuat mereka kehausan dan kelaparan dalam barisan barikade mereka sendiri. Kucari-cari lagi Phillipe di sekitar Tanduk Hattin, tapi tak kutemukan. Aku tidak mengerti ke mana dia pergi, padahal aku lihat dia jatuh di sekitar situ. Hingga fajar menyingsing kami berhasil menghancurkan pasukan kafir sehancur-hancurnya. Sungguh sebuah kemenangan yang luar biasa.
Pagi itu, begitu perang reda, aku terus mencari Phillipe. Akhirnya aku temukan dia duduk bersandar di salah satu sisi Tanduk Hattin. Wajahnya tertunduk kepada bumi. Bibirnya tersenyum, sebab Tuhan telah meluluskan cita-citanya, memasuki Kerajaan Sorga yang selalu dia nyanyikan selama ini. Dia telah syahid! Aku berlutut di sisinya. Di tangan kirinya dia genggam Alquran bersampul putih pemberianku yang saat itu telah berubah merah karena bersimbah darahnya. Tangan kanannya memegang pedang dengan kokoh sampai akhir. Aku berlutut di sisinya, menunduk hormat dengan takzim menjunjung tinggi seorang mujahid mulia. Betapa Tuhan menyayangimu, saudaraku. Bisik hatiku. Kemarin malam dia baru saja masuk Islam, hari ini dia kutemukan telah syahid sebagai seorang pahlawan Islam. Aku cium kedua pipinya, kupeluk erat dia buat yang terakhir kali. Aku simpan Alquran dan darahnya yang suci. Air mata sudah tidak bisa aku tahan lagi.
Sultan Shalahuddin menepuk pundakku. Dia berdiri di belakangku. “Betapa bahagianya Phillipe!”, katanya. Sultan berlutut di sisinya. Dipeluknya Phillipe, dan diciumnya kedua pipinya. Segera kuhapus air mataku. Aku mengubur jenazahnya yang berbalut kemuliaan darah dan baju perangnya di bawah bayang2 matahari pagi di Tanduk Hattin. Aku berdoa di pusaranya! Aku berdoa kepada Tuhan, aku harap Dia memberi aku kehidupan dan kematian yang indah seperti dia. Dengan tangannya sendiri, Sultan Shalahuddin memenggal leher Reynald de Chatillon, sebagai balasan atas kebiadaban yang sudah dia lakukan. Kemenangan ini menjadi kemenangan besar bagi kaum muslim, sebab tak beberapa lama kemudian Tanah Suci Jerussalem berhasil kami taklukkan. Kami berhasil mengembalikan kesucian kota itu dengan cahaya dan kesempurnaan Islam. Dan hari itu aku saksikan, segala janji telah ditepati….[]
