enovasi Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di RJalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, menurut Dubes AS Scot Marciel, akan menyertakan elemen budaya Indonesia termasuk motif batik. Dengan menyertakan motif batik di Gedung Kedubesnya, Amrik tentu berharap renovasi gedung bisa diterima Indonesia. Karena batik telah menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, September-Oktober 2009.
Eit, tapi ntar dulu. Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurahman mengingatkan, pemuatan motif batik itu hanyalah politik citra untuk mengaburkan makna di balik renovasi gedung. Ia menegaskan, corak, warna atau tampilan luar gedung itu tak ada hubungannya sama sekali dengan eksistensi maupun fungsi gedung. Ia memberi analog dengan fenomena pesakitan di pengadilan. Koruptor, pembunuh, dan penjahat lainnya didandani dengan baju koko, peci, kerudung bahkan cadar untuk perempuan.
“Penampilan mereka itu mengecoh publik,” jelas Yahya. Rencananya, Gedung Kedubes Amerika akan dibangun 10 tingkat, dengan luas mencapai 36.000 meter persegi atau 3,6 hektar; Menjadikannya Gedung Kedubes AS terbesar ketiga di seluruh dunia setelah Kedubes AS di Irak dan Pakistan.
Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel menjelaskan, proyek kakap ini dijadwalkan rampung dalam lima tahun. Renovasi bakal menghabiskan dana US$ 450 juta atau sektiar Rp 4,2 trilyun. “Pembangunannya akan dimulai akhir tahun ini dan dijadwalkan selesai pada 2017,” kata Marciel di Kedubes AS Jakarta, Jumat 6 Juli 2012.
Berdasarkan dokumen renovasi gedung, sejatinya yang hendak dibangun Amerika di Gedung Kedutaannya adalah sebuah pangkalan militer mini. Situs Federal Business Opportunites (fbo.gov) yang memuat Department of State 2012 Design-Build Contract for US Embassy Jakarta, Indonesia RFP SAQMMA-12-R0061 Notice of Solicitation of Submissions for Contractor Pre-Qualification, menyebutkan, Gedung Kedutaan Besar Amerika akan dilengkapi dengan fasilitas rahasia dan personil keamanan yakni markas satuan pengaman laut atau Marine Security Guard Quarters (MSGQ). Dilengkapi dengan fasilitas rahasia dan personel keamanan yang diperlukan (Secret Facility and Personnel Security Clearances Required).
Sebelumnya, Amerika membangun gedung kedubesnya yang terbesar di dunia di Baghdad, Irak. Kompleks Kedubes AS yang dibangun pada 2009 itu menempati areal seluas lebih dari 42 ha. Di dalamnya semua fasilitas AS ada dan dijaga secara khusus oleh marinir AS. Bahkan beberapa media menyebutnya sebagai miniatur Roma, ibukota Vatikan. Kompleks itu steril dan eksklusif. Gedung Kedubes AS terbesar kedua di Islamabad, Pakistan. Ia menempati areal seluas 7,2 ha. Sejak dibangun 2009, Amerika menambah 1.000 personel dari 750 personel yang sudah disiagakan di sana. Dan staf tambahan itu mencakup 350 orang marinir AS! Pejabat Amerika juga menekan Islamabad untuk mengijinkan import ratusan kendaraan tempur pengangkut pasukan milik Dyncorp -kontraktor keamanan AS. Pangkalan militer di Gedung Kedubes AS di Jakarta, akan melengkapi Navy Medical Reseach Unit 2 (Namru-2).
Sebuah Instalasi Angkatan Laut berkedok program kesehatan yang sempat ditutup Menkes Siti Fadilah Supari. Siti kemudian digantikan Menkes Endang Sri Sedyaningsih, yang program pertamanya membuka kembali Namru-2 di kompleks Kementerian Kesehatan Jl Percetakan Negara yang dikomandoi seorang kolonel angkatan laut AS.
Perluasan kedubes dan kehadiran Namru-2 akan melengkapi pangkalan militer AS di Darwin, Australia, yang beroperasi sejak akhir 2011. Saat ini ada 250 anggota marinir AS di sana. Dan jumlah itu terus bertambah hingga 2016 nanti sampai mencapai 2.500 personel. Pangkalan militer AS di Darwin ini letaknya tak jauh dari Indonesia. Bila ditarik garis dari Nusa Tenggara Timur (NTT), jaraknya hanya 800 km. Zahir Khan, mantan diplomat Indonesia, menyayangkan sikap pemerintah yang lembek dalam menghadapi kepentingan Amerika.
“Seharusnya sebagai negara yang berdaulat, kitalah yang mengatur bagaimana gedung kedutaan besar negara asing itu. Lha kalau kita yang diatur mereka, lalu di mana kedaulatan kita?” gugat Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ini usai berbicara dalam Halqoh Peradaban bertajuk “Mewaspadai Markas Militer Amerika di Jantung Ibukota” di Wisma Antara, Jakarta, Rabu (18/7/2012). Driser, perluasan kedubes Amerika di jantung ibukota pastinya mengundang bahaya. Kalo sampe kejadian, bisa-bisa negeri kita makin kehilangan kedaulatan.
Gimana enggak, masa bisa-bisanya ada pangkalan militer negara penjajah di ibukota negara yang sewaktu-waktu siap memangsa. Makanya nggak ada alasan untuk menerima perluasan kedubes amerika di Jakarta. Nggak peduli tuh bangunan mau dihias pake batik kek, para pekerjanya pake kebaya kek, atau dipenuhi hiasan warisan budaya nusantara. Karena itu semua cuman carmuk alias cari muka doang. Katakan TIDAK untuk perluasan kedubes Amerika