Ramadhan begitu dirindukan! Tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. RSeperti apa ya suasana Ramadhan di mancanegara? Apa sama meriahnya seperti di Indonesia? Atau justru berselimut duka? Hmmm…Alhamdulillaah, D’Rise dapat kisah menarik dari beberapa keluarga pejuang Syari’ah dan Khilafah yang tinggal di negeri Paman Sam, negeri ginseng dan negeri matahari terbit. Kita simak yuk!
Di Busan , Korea : berpuasa di angap gila
cerita pertama datang dari Mbak Shinta Rini (29 tahun) yang tinggal di Busan, Korea Selatan. Beliau adalah seorang Ibu CRumah Tangga dengan satu anak perempuan bernama Nabila yang cantiknya nggak kalah sama Go Hye Sung (Ahn Seo Hyun) di serial drama Dream High. Penasaran bagaimana pengalaman Ramadhan beliau? Langsung aja yuk, kita intip ceritanya di bawah ini: “Suasana Ramadhan di negeri minoritas Muslim/kafir tidak seperti Ramadhan di negeri-negeri Muslim (kampung halaman). Jika tidak berada di masjid, maka tidak ada nuansa Ramadhan dan cenderung gersang. Oleh karena itu saya beserta suami dan anak, mengkhususkan berbuka puasa bersama, shalat magrib dan isya–tarawih berjama’ah di masjid Al-Fattah Busan yang biasa mengadakan kegiatan Ramadhan. Mulai dari buka puasa bersama Muslim mancanegara (Indonesia, Malaysia, Turki, Korea, Pakistan, Bangladesh, Uzbekistan, India, Arab Saudi, Mesir, Libya, dll).
Disana sengaja disediakan makanan ta’jil dan makan malam dengan gratis secara bergiliran dari kas Masjid dan donatur Muslim Arab Saudi. Kerajaan Arab Saudi rutin memberikan ta’jil kurma untuk disajikan setiap harinya. Kami biasa menjadwalkan secara bergiliran untuk menu makanan, sehingga setiap Muslim bisa mencicipi aneka makanan khas mancanegara. Untuk hal ini memang sangat seru. Karena sesuatu yang baru (pengalaman). Namun tentu saja ada tantangannya. Karena mengingat, puasa Ramadhan jatuh pada saat puncak musim panas (summer).
Dimana suhu berkisar antara 27-35 derajat celcius. Kondisi saat summer ini, memiliki waktu siang yang lebih panjang dan waktu malam yang lebih pendek. Imsak berkisar antara jam 03:30-04:00 KST, sholat shubuh 04:00KST, buka puasa/shalat maghrib berkisar antara jam 19.30 KST. Sholat Isya dan tarawih : 21:00 -22:00 KST. Dan kebayang dong, summer. Saat summer, kondisi suhu udara sangat gerah dan lembab. Musim panas banyak sering turun hujan sepanjang harinya. Namun, saat hujan kondisi udara tidak berubah menjadi sejuk dan segar, melainkan semakin gerah dan lembab. Kondisi badan saat summer, mudah haus, kurang bernafsu untuk makan karena lebih banyak ingin minum air. Metabolisme jam tidur menjadi berubah karena suasana yang panas di malam hari dan waktu malam yang pendek, membuat saya dan teman-teman sulit untuk tidur malam.
Saat summer, warga Busan terbiasa khususnya wanita banyak menggunakan pakaian dan rok mini sehingga menjadi tantangan terberat bagi Muslim yang harus berhadapan dengan kondisi tersebut. Saat summer, merupakan waktu liburan bagi warga Korea. Mereka menyukai wisata renang di pantai, camping dan berlibur. Berbagai rumah makan, diskotek, klub malam dan minimarket menyediakan acara hiburan (karaoke, menonton acara baseball bareng di TV dan minum minuman alkohol (seperti soju dan bir).
Sepanjang jalan, laki-laki dan perempuan berbagai usia minum soju di kursi yang sudah disiapkan hingga shubuh sehingga tidak heran banyak yang mabuk. Saat pagi hari sampai jam 12 siang, suasana jalan-jalan sangat sepi/lenggang, toko-toko banyak yang belum buka karena sebagian warganya mabuk di malam harinya. Bagi Muslimah, kondisi summer adalah kondisi yang sulit untuk bebas menggunakan kerudung dan jilbab karena warga Korea sering menegur/menyuruh Muslimah membuka kerudung dan jilbab. Mereka merasa gerah dengan pakaian Muslimah. Saat Muslimah bersikeras tidak membuka kerudung dan jilbab, mereka mengomel-ngomel dan mencibirnya. Anak saya sering sekali diminta untuk membuka kerudungnya dan menegur saya karena memaksa anak menggunakan baju lengan panjang yang menyusahkan anak.
Bagi pekerja dan mahasiswa, sering mendapat pertanyaan mengapa tidak makan dan minum sebulan penuh saat summer ini? Ada beberapa yang menghargai kondisi ini, namun ada beberapa yang mencibir dan menganggap kami (Muslim) adalah orang gila. Mereka berpikir kalau Muslim tidak makan dan minum bisa meninggal. Jika saya merindukan makanan ta’jil khas Ramadhan di Indonesia, saya harus membeli bahan-bahan seperti pisang kepok, pete, bawang merah, kangkung, buncis, dan lain-lain di Asia Mart Sasang. Asia Mart adalah sebuah toko yang khusus menjual bahan-bahan makanan dan bumbu khas Negara Asia dan Timur Tengah (Indonesia, Vietnam, Filipina, India, Pakistan, Turki, Arab Saudi, dll). Saya harus menempuh waktu 2 jam perjalanan menggunakan subway (kereta cepat). Bahan-bahan di Asia Mart harganya cukup mahal bagi mahasiswa seperti saya, misal seikat kangkung = 24 ribu rupiah, pisang kepok 1 kg = 56 ribu rupiah, bawang merah 24 ribu rupiah, dll).
Untuk membeli daging ayam, sapi dan kambing tidak bisa membeli di toko Korea, karena tidak halal (Daging tidak halal di toko Korea, karena sebagian besar penyembelih bukan Muslim dan sebagian besar warga Korea menganut Atheisme sehingga menyembelihnya bukan dengan tata cara Islami). Biasanya kami membeli di Asia Mart Sasang dan toko daging di masjid dengan harga yang cukup mahal jika dibandingkan dengan toko Korea. Daging ayam 1 ekor = 40 ribu rupiah, daging sapi 1 kg = 127.500 rupiah, bebek 1 ekor = 127.500 rupiah. Daging-daging tersebut tidak ada yang fresh seperti di Indonesia, karena semuanya dalam kondisi dingin/disimpan di freezer. Jadi kurang sehat.”
Di Utah Us : Puasa 17-18 jam!
cerita kedua dituturkan Mbak Kiki (Ummu Khalil), 31 tahun yang kini tengah tinggal di Utah, USA menemani suami studi S3 PhD. CKatanya, “Kalau ditanya, beda puasa di kampung halaman dengan disini, cukup besar perbedaannya. Pertama dari sisi waktu, kebetulan sejak dua tahun lalu puasanya jatuh di musim panas alias summer yang waktu siangnya lebih lama dari malamnya. Walhasil Muslim disini berpuasa selama 17-18 jam (sahur jam 4 lewat, dan berbuka sekitar jam 9 lewat). Untuk orang dewasa, sejauh ini tidak ada masalah meski cuaca kadang sangat panas, ditambah lingkungan yang tidak mendukung alias banyak orang yang tidak berpuasa karena mayoritas di tempat saya tinggal memang non Muslim.
Namun terasa sekali perjuangan memotivasi anak untuk berpuasa. Selain waktunya yang panjang, anak kerap kali tidak tahan godaan ketika masuk jam makan siang, dimana teman-teman sekelasnya makan dengan lahapnya sementara anak kita tengah menjalankan ibadah puasa. Selain dari sisi waktu, adalah pengkondisian, dalam arti nuansa Ramadhannya, kita yang menciptakan sendiri. Misalnya mensetting suara adzan untuk shalat lima waktu, mendengarkan murattal meski dengan volume kecil (kebetulan saya tinggal di apartement, dengan tetangga kanan-kiri dan bawah, dengan kondisi rumah yang berdempetan satu dengan yang lain), dan mengadakan ifthar bersama brother dan sister dari berbagai negara, yang diselenggarakan setiap minggu di Masjid (Islamic Center).
Kondisi masyarakat juga menjadi salah satu yang membedakan puasa di sini dengan di Indonesia, masyarakat yang mayoritas non Muslim tentu saja menjadi keunikan tersendiri. Kerap kali ketika saya keluar rumah, dalam kondisi berpuasa di siang yang terik, orang-orang ] bule dengan asyiknya menyeruput minuman dingin nan segar, atau tengah menggigit kentang goreng yang renyah. Buat saya dan orang dewasa lainnya yang tengah berpuasa, ini bukanlah masalah, namun kadang muncul rasa kasihan ketika si kecil yang menyaksikannya.
Dan sejauh ini saya menyerahkan kepada si kecil untuk menentukan waktu berbukanya, tanpa menghilangkan makna syar’i dan hakikat dari puasa Ramadhan. Jadi intinya, berpuasa di LN, terutama di tempat saya saat ini tinggal, tentu saja lebih berat dan penuh tantangan. Namun bagi saya, hal ini tidak menjadi masalah besar. Justru melalui puasa Ramadhan ini, selalu saya jadikan momentum untuk mengenalkan sekaligus menjelaskan hakikat puasa dan ibadah di bulan yang mulia ini, terutama kepada native American, yang tentunya membutuhkan penjelasan detail tidak hanya tentang Islam, tapi ibadah dan hukum-hukum lainnya.”
Di Jepang anak-anak tidak boleh puasa
di Jepang, Mbak Titin Yuri (38 tahun) punya cerita sedih, menegangkan sekaligus lucu (nano nano banget ya, hehe) saat Dmenjalankan ibadah Ramadhan di negeri Hyde-Laruku ini. Mbak Titin mengisahkan, bahwa dirinya sekeluarga pernah disidang oleh pihak sekolah anak-anaknya karena dianggap terlalu keras dalam mendidik anak (memaksa anak-anak untuk tidak makan). Tsuchihashi Elementary School, Tokyo, tempat anak-anak Mbak Titin bersekolah, mempersoalkan anak-anaknya yang ditemukan tidak membawa Bento (bekal khas Jepang) ke sekolah.
Anak-anaknya kena marah Sensei di sekolah karena dipikirnya mereka menyiksa diri mereka sendiri. Summer adalah hal yang paling dipedulikan oleh orang-orang Jepang. Karena tingkat kematian orang tua sangat tinggi saat summer. Maka itu, ketika mereka mendapati ada anak-anak yang menahan diri untuk tidak makan dan minum, mereka menganggap itu bukanlah hal yang baik. Saat summer, semua warga dikerahkan untuk makan makanan yang sehat dan memiliki nutrisi yang baik agar kesehatan tetap terjaga. Di sidang sekolah, Mbak Titin beserta suami ditanya, “Mengapa mendidik anak terlalu keras untuk melakukan puasa saat summer?!
Orang tua saja banyak yang meninggal bagaimana dengan anak-anak?!” Tetapi dengan tenangnya suami Mbak Titin menjelaskan, bahwa mereka sebagai orang tua tidak pernah memaksa Shafa (11 tahun), Althof (10 tahun), dan Kautsar (8 tahun) untuk berpuasa. Karena memang dalam Islam anak-anak yang belum baligh belum diwajibkan untuk berpuasa, namun sebagai orang tua mereka wajib mengajarkan dan melatihnya dari kecil. Itulah idealisme. Disampaikan pula bahwa anak-anak berpuasa atas kehendak mereka sendiri. Tidak dengan paksaan. Abu Althof berkata, “Jika anak-anak mau berbuka, kami pun mempersilahkannya.” Begitu alot sidang hari itu terjadi. Tentu sangat menguji kesabaran sekali. Mana cuaca lagi panas-panasnya saat itu,
D’Rise sih bisa banget ngebayangin. Tetapi Mbak Titin, suami beserta anak-anaknya tetap kalem. Selang beberapa waktu, diantara ketegangan yang menyelimuti, salah satu Sensei di ruangan itu pun membujuk Althof (kebetulan saat itu, Althof yang dihampiri Sensei) untuk berbuka dan makan saja. Tetapi Subhanallahu, Althof bersikeras, “Nggak mau!!! Aku mau puasa!!!” Semua Sensei disana pun sampai heran sekaligus takjub. Kenapa bisa sampai seperti itu? Dan Sensei yang membujuk Althof pun hanya bisa speechless dan berkomentar, “Sugooooi…….!!!”
Jadi begitulah D’Riser. Jangan dipikir puasa adalah sesuatu hal yang memberatkan. Kita belum atau tidak mengalami hal-hal yang menantang keimanan seperti halnya kisah Mbak Shinta, Mbak Kiki dan Mbak Titin bukan? Nggak ada summer di Indonesia. Nggak ada kentang goreng dan minum-minuman segar secara bebas terlihat di siang hari, dan nggak ada juga hujatan tentang pakaian hijab kita serta sidang-sidang yang menghujat idealisme kita sebagai seorang Muslim. Disini kita masih bisa berpuasa, shalat dan bertadarrus dengan nyaman.
Tidur pun masih bisa panjang dan nyenyak. Tak ada tekanan sama sekali. Jadi sangat aneh sekali rasanya, jika kita tidak bisa optimal dengan kondisi dan suasana yang lebih mending dari saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya. Berpikirlah sedikit lebih mendalam akan kesulitan saudara-saudara se’aqidah kita yang lain. Jangan biarkan Ramadhan kita kali ini hanya lewat begitu saja tanpa ada arti dan efek apa pun. Selamat ber’azzam, selamat berjuang, demi meraih predikat taqwa yang sebenar-benarnya. ALLAHU AKBAR! [Hikari]
