Setiap orang tidak akan tahan hidup sendiri. Pasti selalu mencari sahabat untuk menemani, berkawan berbagi Ssuka duka. Bukan sahabat namanya, jika saat senang dia ada, saat sedih dia menghindar. Alasan sibuk, pusing, bukan nolongin malah nambah galau. Persahabatan itu kadang mengingat kita dengan hal-hal yang aneh. Misal : cemburu kalau kita seru-seruan dengan yang lain. Ehh… giliran bersama, kita sering diacuhkan bin disia-siakan.
Sebel ? Pasti! Sahabat imitasi, ngakunya sahabat tapi sebenarnya tidak benar-benar mengasihi. Ia tidak berteman dengan hati dan keikhlasan, melainkan ada kepentingan suatu hal. Begitu kepentingan itu hilang, maka lenyaplah persahabatan selama ini. Bukan sahabat namanya, jika kita berbuat salah, dia cuma diam bahkan mungkin menggunjing di belakang kita. Aduuhh… itu sih mirissss! Persahabatan merupakan perlambang ikatan cinta dan kasih antar insan di dunia.
Apalagi antar sesama kaum muslimin dalam jalinan ukhwah islamyah (persaudaraan islam). Resapilah! “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Imam Muslim) Sejatinya, jika ada teman kita yang sedang merasakan kesusahan, niscaya turut merasakannya. Laksana satu tubuh!
Kalau gigi sakit, pasti tangan mencari obat dan pertolongan untuk gigi yang lagi kesakitan. Jika rasa bersaudara ini sudah hilang, jangan-jangan kita sudah tertular penyakit E.G.P alias Emang Gue Pikirin! Penyakit egois bin individualis yang hidupnya habis buat mikirin diri sendiri. Ukhwah islamyah tidak terpisah jarak maupun waktu. Apalagi jaman serba online seperti sekarang. Masih banyak saudara sesama muslim yang kelaparan, sedang kita kekenyangan.
Pernahkah kita memikirkan mereka? Saudara kita di Rohingya dibantai, sadarkah kita kesulitan mereka? Mungkin yang mereka minta dari kita tidak banyak. Hanya kepeduliaan dan doa. Masyaallah… jangan-jangan kita tidak pernah atau sering lupa mendoakan mereka? Kalau doa aja lupa, apalagi memperjuangkan nasib mereka. Boro-boro kaleeee ?! Mudah-mudahan ini jadi pengingat buat Alga dan kita semua. Oya satu lagi, mohon doakan (juga perjuangkan!) agar Khilafah Islamyah tegak di muka bumi. Ehhh… buat apa?? Supaya persaudaraan muslim di seluruh dunia tidak lagi tersekat negara. Yup! Cukup satu negara: Hidup NKRI ! (Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah). [Alga Biru]
Yuk, kita simak beberapa proses yang menguatkan ukhwah islamyah :
- Ta’aruf (Saling Mengenal) : Antar kita saling mengenal dan bertemu fisik, juga bertukar pikiran. Melalui proses ini kita akan mengetahui emosi, karakter dan sudut pandang orang yang kita kenal. Boleh deh tukar HP, tanya alamat, akun FB dan lainnya.
- Tafahum (Saling Memahami) : Seiring waktu dan pertemuan, kita mulai memahami kekurangan maupun kelebihan teman. Sehingga kita mengetahui bagaimana harus memperlakukan satu sama lain
- Ta’awun (Saling Menolong) : Ketika kita sudah memahami keadaan orang lain, tumbuh keinginan untuk membantu. Action! Lebih dari sekedar merasakan. Dari simpati muncul empati.
- Takaful (Saling Menanggung) : Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Barangsiapa meringankan beban saudaranya, niscaya Allah Swt meringankan bebannya di akhirat. Luar biasa!
- Itsar (Mendahulukan orang lain) : yup! Atau yang lebih dikenal dengan ‘altruisme’. Sifat memuliakan sahabat ini kerap kita jumpai dalam pertalian antara Rasul Saw dengan para sahabat.
Dalam suatu riwayat, Abu Bakar rela menahan sakit digigit ular demi menjaga tidur lelap Rasulullah Saw yang tengah kelelahan. Nah, sahabat,… sudah dimanakah derajat kita ?! Wallahu’alam [Alga Biru/diolah dari berbagai sumber]
