Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: “Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar…”.
Itu sebabnya, kalo Virus Merah Jambu udah menginfeksi hati kita, perasaannya kok inget terus sama si dia. Pengennya ketemu dan deketan terus. Sehari nggak ketemu rasanya 24 jam, seminggu nggak ketemu rasanya 7 hari, sebulan Januari nggak ketemu rasanya 31 hari. Hehehe…. Sebagian dari kita mungkin kabur memaknai cinta, sehingga gelap mata. Saking cintanya, nggak bisa lihat kekurangan pasangan atau kesalahan apa yang dilakukan.
Dunia serasa milik berdua. Padahal bertiga sama setan. Dikiranya mengekpresikan cinta, nggak tahunya malah mengumbar syahwat. Awalnya jalan bareng, main bareng, nonton bareng, makan bareng, sampai tidur bareng. Ih ngeri! Berawal dari pacaran yang menjadi ajang baku syahwat, berakhir dengan perilaku maksiat. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010 menunjukkan, 51 persen remaja di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek telah berhubungan seks pranikah. “Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan,” kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai memberikan sambutan pada acara grand final Kontes Rap memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Ahad (liputan6.com, 28/11/2012).
Maraknya gaya hidup seks bebas juga bisa dilihat dari data remaja yang hilang kesuciannya. Data BKKBN tahun 2010, 54 persen remaja di Surabaya, Jawa Timur sudah kehilangan kegadisan. Pun demikian juga di kota-kota lain, seperti di Medan 2 persen dan di Bandung angkanya mencapai 47 persen. Ketika remaji hilang kegadisannya lalu hamil diluar nikah, masa depannya seolah hancur. Bingung bin sutris menghadapi keluarga, lingkungan, teman sebaya, atau sekolah. Apalagi pacar yang katanya cinta banget, nggak mau bertanggung jawab. Banyak alasan dilontarkan untuk jaga jarak lalu menghilang ditelan bumi. Dalam tekanan mental, remaji mudah tergoda ambil jalan pintas.
Aborsi bagi yang tidak menginginkan jabang bayi lalu menjual diri karena ngerasa sudah tidak suci. Parah tenan iki! “Dari 2,5 jutaan pelaku aborsi, 1 – 1,5 juta di antaranya adalah remaja.” kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012). Sementara data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2008-2009, menyebutkan dari 40 ribu sampai 70 ribu pekerja seks komersial (PSK) di Indonesia, sekitar 30 persen dilakoni anak-anak di bawah umur yakni berusia di bawah 18 tahun.
Waduh! “Wah kalo gitu dilarang dong mengekspresikan cinta?” Enelan..? Miapa..? nggak segitunya kalee. Cinta itu anugerah. Jadinya harus disyukuri, bukan dihindari. Sehebat apapun manusia, gak bisa menghindar dari rasa ingin dicintai dan mencintai. Sudah fitrahnya bagian dari naluri melestarikan jenis (gharizatun nau’). Hanya saja perlu diingat, cinta bisa jadi berkah atau berbuah masalah. Tergantung bagaimana kita mensikapinya.
Cinta yang dibalut dengan hukum syara akan bernilai berkah. Sebaliknya, cinta yang diekspresikan dengan aturan selain hukum Islam seperti pacaran, cuman jadi sumber masalah. Gaya hidup sekuler kapitalis telah menggiring remaja untuk mempersempit makna cinta. Ketika cinta diobrolin, nggak jauh dari soal pacar, gebetan, atau seluk-beluk kasmaran. Padahal Allah swt. menciptakan rasa cinta dalam diri manusia nggak cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang lagi mabuk asmara.
Tapi bisa juga berupa cinta ortu kepada anaknya, kakak kepada adiknya, dan pastinya suami kepada isterinya. Kalo bukan karena cinta, nggak akan mungkin seorang bapak bekerja banting tulang, peras keringat untuk menghidupi keluarganya. Pergi pagi pulang petang pala pening pantat pegel penghasilan pas-pasan. Dia rela jadi tukang becak atau jadi pemulung tanpa malu asalkan dapat fulus dengan jalan halal supaya bisa menyambung hidup keluarganya. Malah nggak sedikit yang saking cinta pada keluarganya, menghalalkan segala cara agar anak istrinya tetep bisa makan atau malah hidup dalam kemewahan.
Huuuu…yang kedua mah kebangetan! Demikian pula ibu kita. Cintanya nggak mengenal kadaluarsa. Selalu on terus walau anak sudah berkeluarga. Coba perhatikan Ibu hamil, selama sembilan bulan dia rela bersusah payah mengandung anaknya. Seperti itulah Ibu saat mengandung kita. Abis gitu, harus menyusui sampe dua tahun, mengganti Cinta Kita Memang Beda popok kalo pas kita ngompol, atau menyuapi ketika makan. Coba kalo ortu nggak cinta sama kita, mungkin begitu lahir kita dibungkus tas kresek dimasukan tong sampah atau dibuang di selokan. Iih..naudzubillah min dzalik! Cinta kepada manusia di luar hubungan keluarga juga bisa bemakna kasih sayang terhadap saudara seakidah yang disetarakan dengan keimanan.
Seperti ditegaskan dalam hadis Mutafaq ‘alaih. Nabi saw. ia bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Jadi nggak alasan bagi seorang muslim cuek bebek dengan kondisi Muslim Palestina yang terus dizhalimi bangsa kera Yahudi. Atau adem ayem aja ketika warga Ibukota dan daerah lain ditimpa bencana. Cinta bagi remaja muslim yang sholeh-sholehah bin unyu-unyu, memang beda. Nggak sesempit yang dimaknai orang sekuler kapitalis yang menuhankan hawa nafsu.
Dan yang bikin beda, cinta pada lawan jenis, cinta dalam hubungan keluarga, dan cinta terhadap saudara seakidah, semuanya dibalut dalam ikatan cinta Allah dan RasulNya. Sehingga tetap terjaga kemuliaannya. Baik rasa cintanya maupun pengidapnya. Poll! Karena cinta dalam Islam seluas samudera, kita mesti belajar menentukan skala prioritas. Bisa memilah dan memilih mana yang pertama dan mana yang berikutnya. Biar ekspresi cinta kita nggak salah kaprah terus jadi masalah. Berabe khan? Prioritas pertama dan utama, cinta kita berikan pada Yang Maha Kuasa. Eits, ini bukan cuman lips service alias formalitas belaka yang dipakai untuk mengisi timeline sosial media. Demi meraih banyak follower atau menampung banjir jempoler. Tapi bener-bener keliatan dalam dunia nyata.
Nggak usah bingung bagaimana mewujudkannya. Allah Swt sudah menunjukkan caranya dalam Al-Quran. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al Imron: 31) Ibnu Katsir Rohimahullah –berkenaan dengan ayat di atas- berkata: “ayat ini menghakimi orang yang mengaku mencintai Allah, setiap orang yang mengaku mencintai Allah tapi tidak di atas jalan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia Prioritas Cinta Kita telah dusta dengan pengakuannya, sampai mereka mengikuti Muhammad dan agama Nabawi dalam semua perkataan dan keadaannya”.
Yup, cinta kepada Allah ditunjukkan dengan mengikuti dan mengutamakan apa yang dicontohkan Rasul saw. Bukan cuman dalam perkara ibadah, tapi semua yang berkaitan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya. Mulai dari berkeluarga hingga membangun usaha. Menurut al-Zujaj: “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw”.
Sehingga seorang hamba akan bersegera memenuhi seruan-Nya. Meski harus ditukar dengan cintanya pada anak-istri, keluarga, atau harta benda.” Dari semua cinta yang kita miliki, pastikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menempati daftar utama dalam kehidupan kita. Yang lainnya; cinta harta, kendaraan, jabatan, status sosial, tempat tinggal, perusahaan, barang dagangan, bahkan cinta kita kepada keluarga, dan suami atau istri (bagi yang udah merit he..he..) harus rela untuk ‘dikesampingkan’. Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)
Driser, cinta pada Allah dan Rasul-Nya berarti menjadikan hukum syara sebagai standar perbuatan kita. Sebelum berbuat, cari tahu dulu boleh nggak dalam Islam. Ada nggak tuntunannya dari Rasul. Kalo ternyata nggak boleh dan tak ada contohnya, kita mesti ridho untuk meninggalkannya. Meski perbuatan itu umum di tengah masyarakat atau malah jadi tren di dunia remaja, kaya pacaran. Kalo kita tetep ngotot ngelakuin, jadinya kaya data di awal tulisan ini yang bikin bulu kuduk gak kebagian tempat duduk (maksudnya berdiri :D).
Biar tahu mana perbuatan yang boleh dan nggak dalam Islam, kuncinya kita mesti ngaji. Bukan sekedar baca quran, tapi dibarengi dengan mengenal Islam lebih dalam. Selain bisa menjaga perilaku kita, ngaji juga menguatkan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Boleh aja cinta pada lawan jenis, asal siap merit. Kalo belum siap, simpan dalam hati aja ala secret admirer-nya Laluna. Karena cinta kita memang beda, berarti siap bergabung dengan komunitas Remaja Anti Pacaran (RAP). Yuk![LBR]
