Ups, sekali-kali mellow dikit khan nggak papa ya, driser? Biar gak jadi jerawat. Puisi di atas adalah ungkapan hati bagi yang sangat merasa Ukehilangan dengan perginya bulan mulia. Yup, bulan Ramadhan ibarat seorang kekasih yang pergi meninggalkan belahan jiwanya.
Bagi yang bisa mengisi ramadhannya dengan baik dan poll, maka akan bisa menyisakan kenangan manis. Tapi buat yang keseharaian di bulan Ramadhan biasa-biasa aja sama kayak bulan yang lain, maka bisa dipastikan puasa ramadhan nggak ngaruh untuk menghadapi 11 bulan berikutnya. Nah, driser masuk kategori yang mana nih?
Driser, kalo kita coba ulik lagi perintah Allah tentang puasa dalam QS Al Baqarah 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”. Keyword alias kata kunci penting yang kudu kita ingat dari kewajiban puasa ramadhan adalah TAQWA.
Taqwa adalah kondisi ideal pada diri kita setelah menunaikan kewajiban puasa ramadhan. Nggak semuanya yang lulus puasa bakal dapat gelar takwa. Hanya mereka yang bener-bener menjadikan ramadhan sebagai kawah candradimuka alias ajang penggemblengan diri untuk menghadapi godaan sebenarnya pasca ramadhan yang layak menyandang predikat taqwa.
Yup, puasa ramadhan ibarat kepompong. Ulat yang ada dalam kepompong harus menahan lapar dan haus. Hingga tiba waktunya ulat itu keluar dari kepompong menjadi seekor kupu-kupu yang Indah. Kalo ulat itu gak tahan, terus maksa keluar dari kepompong, fatal akibatnya. Bukan menjadi kupu-kupu yang indah, tapi kupu-kupu jejadian.
Ulat bukan, kupu-kupu juga nanggung. KaWe deh! Pertanyaannya sekarang, apakah kita termasuk salah satu kupu-kupu dengan keindahan sayapnya ataukah makhluk jejadian setengah ulat setengah kupu-kupu? Coba lihat diri kita sendiri, hitung aja semenjak kita baligh sampe puasa ramadhan tahun ini, sudah berapa tahun kita puasa? Adakah perubahan yang signifikan terjadi pada diri kita dari tahun ke tahun? Adakah setiap pasca ramadhan yang dilalui, kita tambah dekat dengan Allah swt?
Yuk, koreksi diri! Menyesal Aja Nggak Cukup Ramadhan bakal kita temui lagi tahun depan. Itu juga kalo Allah swt masih ngasih kesempatan kita untuk menambang pahala di bulan mulia itu. Sayangnya kita nggak akan pernah tahu, apakah kesempatan itu bakal datang untuk kedua kalinya. Makanya dijamin nyesel banget deh kalo kita nggak bener-bener memanfaatkan ramadhan kemaren sebagai ajang memanen pahala dan mengokohkan keimanan. Karena kebaikan di bulan Ramadhan sangat berlimpah dan tak tertandingi. Rasul saw mengingatkan dalam sabdanya, “Seaindainya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan” (HR. Ibn Abi Dunya)
Tanpa menafikan rasa gembira pasca ramadhan dan bertemu dengan hari raya, tapi baiknya perasaan kita harus tawazun (seimbang). Pada saat rasa suka ria menyambut idul fitri, perjalanan Ramadhan juga patut kita instropeksi. Apa pentingnya? Puenting banget dong.
Pertama, jika kelak Allah masih memberi kesempatan kita bertemu Ramadhan lagi di tahun-tahun berikutnya, kita bisa lebih optimalkan ramadhan untuk mendulan pahala dan mengokohkan iman.
Kedua, sebagai bentuk evaluasi biar kita bisa segera manfaatkan waktu untuk lebih joss lagi mengokohkan iman pasca ramadhan. Buat modal menghadapi godaan setan di sebelas bulan berikutnya. Jangan sampe ada waktu kita terbuang percuma! Bukan apa-apa, sungguh amat sangat terbatas jatah waktu yang Allah berikan kepada diri kita. Sudah seharusnya setiap detik waktu kita jangan dibiarkan berlalu sia-sia.
Tahu nggak sih, seandainya 5 menit aja waktu kita sia-siakan misalnya, maka setahun ada 1.825 menit setara 30,42 jam waktu yang terbuang. Kalo usia kita misalnya 60 tahun, maka ada 1.825 jam atau 76 hari yang terbuang percuma. Astaghfirullah! Demikian pula yang udah ngerasa mengandalkan ibadah sholatnya ternyata itu nggak cukup.
Coba kita hitung shalat wajib 5 waktu kita, kalo rata-rata sekali shalat butuh 5 menit, maka sehari 25 menit. Kalo setahun ada 9.125 setara 152 jam atau 6,3 hari saja untuk shalat. Kalo jatah usia kita 60 tahun, maka untuk ibadah hanya memerlukan 9.125 jam, atau setara dengan 380,2 hari atau 12 bulan atau satu tahun. Padahal untuk mengobrol saja memerlukan waktu 5 tahun. Coba bandingkan dan hitung sendiri, dengan waktu tidur atau istirahat normalnya orang dewasa yang 8 jam sehari.
Tuh, kira-kira sebanding nggak? Bukan berarti nggak boleh tidur atau istirahat. Pastinya kita butuh untuk istirahat, tidur, ngobrol, nonton, dan sebagainya. Tapi sekali lagi baiknya, kita tawazun (seimbang) dalam mengatur waktu harian kita. So, kalo kita udah nyesel ditinggal ramadhan, maka jangan biarkan 11 bulan berikutnya ikut menyesal. Ayo manfaatkan waktu, untuk meningkatkan kualias hidupmu! Ready To Fight Allah berfirman: ” Jika engkau telah selesai melakukan sesuatu maka kerjakanlah yang lain” (QS. Al Insyirah 8).
Ibarat seorang petarung, setelah selesai satu pertandingan, maka dia harus siap bertemu dengan pertandingan selanjutnya. Ramadhan memang telah berlalu, tapi di depan masih ada ‘pertarungan’ atau ‘pertandingan’ lain yang harus siap kita hadapi. Bahkan bisa dibilang, pertandingan pasca ramadhan ini lebih dahsyat. Kenapa gitu? Iya, kalo pas ramadhan kita mau sholat banyak temannya, mau puasa ada barengannya, mau sanlat nggak sedikit yang ikut, mau tilawah dapat suasananya, tapi beda banget, pemandangan kayak gitu, sulit ditemui selain Ramadhan.
Itulah konsekuensi hidup di lingkungan sekular, ketika agama dan ketaatan seakan hanya diperlukan di mesjid, keshalihan seakan hanya pas ramadhan saja. Selepas ramadhan, selesai pula ketaatan, keshalihan itu. Hemm, ironis memang. Semua kembali ke alam sekulernya masing-masing.
Nah, buat yang nggak mau rugi dari sisi waktu dan usia, serta ingin berkomitmen menjaga semangat ramadhan agar selalu menyala setiap bulannya selepas ramadhan, maka lakukan tiga langkah berikut. Pertama, jika kita sudah ngeh bahwa hidup ini selalu berhadap-hadapan dengan resiko, termasuk hidup di alam sekular seperti saat ini, maka yang kita butuhkan sekarang adalah menyiapkan tameng alias tembok untuk melindungi diri agar tidak terkena virus sekular.
Tameng itu apa? Tentunya aqidah Islam yang merupakan pondasi sekaligus kontrol dari setiap aktivitas kita. Kita kudu fighting spirit mencari tahu seperti apa aqidah Islam yang shahih, yang bisa menjadi pelindung keislaman kita. Kedua, setelah tameng itu kita dapatkan, berikutnya kita butuh sikap istiqomah untuk memegang tameng pelindung itu.
Sementara untuk bisa teguh memegang tameng tersebut, hanya bisa didapatkan kalo kita berada dalam ‘iklim’ yang konstan. Maka berteman dengan siapa itu sangat menentukan naik-turunnya semangat kita memegang tameng tadi.
Pilihlah teman yang baik, jika kita ingin menjadi orang baik. Pilih teman yang shalih, jika kita ingin menjadi orang shalih. Pilih teman yang istimewa, jika kita ingin menjadi orang istimewa. Ketiga, kita tidak boleh menyerah menyaksikan betapa sekularnya lingkungan sekitar kita, tapi justru jika kita ingin istiqomah memegang tameng tadi, maka kita harus merubah lingkungan sekitar kita agar kita berasa ‘nyaman’. Sehingga mulai dari lingkup keluarga, masyarakat dan negara yang sekarang kita huni, harus kita ubah (baca: dakwahi). Berani mencoba? [LBR]
Agar semangat Ramadhan tetap menyala pasca ramadhan, maka jadikan aktivitas pilihan selama ramadhan kemarin, sebagai rutinitas (habits). Caranya?
- Jika Ramadhan, kita sudah dilatih puasa, maka jangan tinggalkan kebiasaan itu dengan tetap puasa sunnah. Seperti Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa tengah bulan. Dan yang terdekat, puasa enam hari di bulan Syawal. Don’t Miss It!
- Jika Ramadhan, kita rajin ke tarawih dan mampu bangun malam untuk qiyamul lail, maka jangan sia-siakan semangat itu. Tetaplah sedikit demi sedikit jadikan sholat sunnah seperti tahajud, taubat, hajat, dhuha sebagai daily acitivity.
- Jika Ramadhan, bacaan qur’an kita jadi sering, maka komitmenkan setelah ramadhan untuk terus menjaganya dengan misalnya mentarget 1 hari 1 ayat 1 hafalan. Syukur bisa bersamaan dengan tafsirnya.
- Jika Ramadhan, aktivitas dakwah kita kenceng, agar Ramadhan tahun depan lebih kenceng, maka setelah ramadhan kali ini, kita harus meningkatkan kapasitas, 1% per 1 hari. Jika ramadhan ini hanya mengisi kajian dalam skup kecil, maka tahun depan kita harus berani berdiri di podium untuk menyampaikan ceramah. Oke? Dicoba ya. Tetep semangat! [LBR]
