“Saat ini, ada 75% masyarakat Indonesia yang percaya bahwa Indonesia akan lebih baik dengan menerapkan Syari’ah. Mereka juga menyadari bahwa Khilafah adalah satu pilihan untuk menggantikan demokrasi. Para pemikir perempuan Indonesia terdiri dari kalangan remaja hingga nenek-nenek, ibu rumah tangga hingga kaum intelektual, dosen, guru beserta murid-murid mereka, akademisi, muballighoh, enterpreneur perempuan, dokter, bahkan jurnalis perempuan mendukung ide Syari’ah.” [Iffah Ainur Rochmah-Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia]
Perjuangan dalam menyerukan kebenaran Islam semakin tak Pterbendung. Sebagai buah akibat perlakuan zholim penguasa secara pemikiran mau pun fisik yang diterima oleh semua level masyarakat. Tindak diskriminasi, hak-hak yang tidak terpenuhi bahkan terampas, ‘aqidah yang tidak dapat terjaga dengan baik (itu bisa kita lihat dari kelahiran agama/sekte-sekte keblinger nan sesat dan mengancam kesucian Islam), kebobrokan moral, kotornya adab manusia, hancurnya tatanan generasi muda dan keluarga yang bersumber dari kebusukan sistem ini. Sehingga wajar jika semua merasa muak dan menuntut adanya perubahan yang dapat membawa kedamaian dan kesejahteraan.
Sore ga tashikadesu. Tuntutan perubahan di atas sangat kental terasa dalam acara Konferensi Perempuan Internasional (Sabtu; 10/03/2012) di Hotel La Palace Gammareth-Tunisia. Bertemakan “Khilafah: Model Cemerlang Bagi Hak-hak Perempuan dan Peran Politiknya”, konferensi di negeri tetangga Libya ini dihadiri oleh para politisi perempuan, penulis, akademisi, wartawan, guru, tokoh masyarakat, perwakilan organisasi perempuan dan para perempuan pencetus opini dari seluruh dunia. Terkait event konferensi perempuan international yang gede-gedean,
D’Riser pengen tahu pendapat para driser. Citra Ayu Furry, seorang aktivis dakwah kampus sekaligus berprofesi sebagai jepreter alias tukang jepret kamera DLSR coba ngasih pendapat. “Konferensi semacam ini mah nggak bisa dibayangin kayak perempuan-perempuan yang kumpul sekedar ngerumpi atau arisan. Lha yang datang ajah perempuan-perempuan yang tentu punya visi dan tujuan yang jelas. Dari seluruh penjuru dunia lagi.
Yang mereka omongan seputar kehidupan perempuan, peranannya dan bagaimana Islam memuliakan perempuan. Jadi pastinya konferensi perempuan secara internasional penting untuk menunjukkan pada dunia. Bahwa, banyak perempuan-perempuan dari berbagai belahan negeri yang telah memiliki gambaran yang jelas tentang kesempurnaan Islam memuliakan perempuan (jauh dari apa yang didapat perempuan di dunia Kapitalistik seperti saat ini). Efek setaraf internasional kayak gitu, pasti bikin AS makin kebakaran jenggot.
Makin memperlihatkan kekuatan kaum Muslim kan? Perempuan di dunia jadi tergambar tentang bagaimana Islam memiliki model yang cemerlang terkait hak-hak dan peran wanita yang sekarang ini, di dunia mana pun, isu hak-hak dan peran perempuan menjadi sesuatu yang tidak pernah selesai dibicarakan. Karena solusi-solusinya toh juga nggak berhasil memuliakan perempuan.” Lingga Faaizah (20 tahun), juga mengomentari kondisi perempuan sekarang. Katanya, “Sekarang ini banyak perempuan yang keluar jalur, alias melupakan kodratnya sebagai perempuan dan itu semua gara-gara emansipasi sehingga mereka menjadi lupa akan tugas ASLI mereka, yaitu sebagai Ibu Rumah Tangga dan pendidik bagi anak-anaknya. Bukan malah asik kerja masa bodoh deh anak mau jadi apa ntarnya, Astaghfirullahu…” Heuhm. Ya, hal itu benar.
Bahwa sekarang ini banyak sekali pertukaran peran antara lelaki dan perempuan. Namun D’Rise pikir, tidak ada satu pun wanita yang SESUNGGUHNYA ingin keluar dari fitrah (sebagai Ummun-Ibu, wa Rabbatul Bayt-Pengatur/manajer Rumah Tangga). Saat perempuan bekerja, itu karena sistem ‘memaksa’ ia bekerja; turut membantu suami yang penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba pakai uang dan mahal. Sistem Kapitalisme-Sekulerisme yang mengkondisikan perempuan untuk MEMILIKI PERAN GANDA karena ditambah tugasnya untuk mencari nafkah juga.
Dari konferensi perempuan Internasional, kita bisa dapatkan dua hal bermakna. Pertama, timbul empati yang besar. Artinya kita merasa sangat prihatin karena ternyata nasib kaum perempuan yang kita tertindas akibat ide emansipasi membuat dada terasa ngilu dan perih. Kedua, dengan belajar menyadari bahwa akar permasalahan perempuan dan umat ini karena pengabaian hukum ALLAH, sehingga haruslah timbul keinginan untuk MAU (ikut) berjuang mengembalikan kehidupan Islam Kaaffah dalam bingkai daulah.
Sebab penjamin hak-hak kita semua, jika dicari di luar sistem aturan Islam memang tidak akan ditemukan. Hanya pada sistem Islam saja yang sudah memiliki kelengkapan konsep praktis dan bisa memuaskan akal serta mendamaikan jiwa. That’s REAL! Hontou da yo! Dan pernah terjadi pada masa Kekhilafahan. Maka itu, dalam Konferensi Perempuan Internasional kemarin dibahas mengenai model cemerlang yang dimiliki Khilafah. Sehingga semakin menambah gebu kerinduan atas terwujudnya cita-cita kita semua, yakni mengembalikan diterapkannya Syari’ah dalam naungan Khilafah. Amiin. [Hikari]
