Majalah Remaja Islam Drise

KATAK SI PERAMAL HUJAN

Kodok (bahasa Inggris: frog) dan katak alias bangkong (b. Inggris:  toad) adalah hewan amfibia yang dikenal sebagai salah satu  Khewan yang bisa meramalkan datangnya hujan. Kodok dan katak  kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau  ketika menjelang hujan. Saat itu kodok-kodok jantan akan bersuara  nyaring untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan.  Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan  kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup  nyanyi’, (bukan berarti membentuk boyband lho!).

Beberapa katak  jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Suara  keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar  lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan.  Wokok…! Wokok…! Wokok..! Biar gak ketuker, penting deh kita bedain antara kodok dan katak.  

Kedua macam hewan ini bentuknya mirip. Kodok bertubuh pendek,  gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak  berekor (anura:a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit  halus, lembap, dengan kaki belakang yang panjang.  Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil  sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki  belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan kurang  pandai melompat jauh.

Keistimewaan katak bin kodok, sekali bertelur bisa  menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas  induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun.  Proses pembuahannya pun terjadi di luar tubuh. Kodok  jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk  erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air,  kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina  dan merangsang pengeluaran telur.

Pada saat yang  bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air,  sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si  betina. Selain sebagai peramal hujan, katak juga bisa berfungsi  sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingkat  pencemaran lingkungan pada suatu daerah bisa dilihat dari  jumlah populasi katak yang ditemukan di daerah tersebut.  Semakin sedikit, berarti lingkungan yang bersangkutan sudah  tercemar parah.  

Untuk menghadapi para pemangsanya, kodok  membela diri dengan melompat jauh, mengeluarkan lendir  dan racun dari kelenjar di kulitnya. Ada yang menghasilkan  semacam lendir pekat yang lengket, sehingga mulut  pemangsanya akan melekat erat dan susah dibuka. Bahkan  ada juga kodok beracun jika dimakan.

Seperti Dendrobates  pumilio, kodok berukuran 18–22 mm dengan kulit beracun  dari Amerika Tengah.  Segala keistimewaan katak bin kodok van bangkong,  pada hakekatnya tidak ada dengan sendirinya. Namun telah  diciptakan sejak kali pertama oleh Allah yang telah  menciptakan katak. Allah swt menegaskan: “Sesungguhnya  aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak  ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang  memegang ubun-ubunnya*. ” (QS. Huud, 11:56). So, ingat  katak, ingat keMahaBesaran Allah swt. Dan kita sudah  sepatutnya tunduk pake aturan Allah untuk ngurus  kehidupan kita. Biar selamat dunia akhirat. Amiin. [Ridwan]

SWIKEE YANG KATANYA OKE

Kodok bagi sebagian orang dianggap kotor bin jijay. Tapi di tangan koki,  bisa jadi hidangan yang katanya oke. Namanya Swike. Kalau di artikan   “swikee” berasal dari dialek Hokkian (Tionghoa) sui (air) dan ke  K (ayam), yang merupakan slang atau penghalusan untuk menyebut kodok  sebagai “ayam air”.  

Penyajian makanan ini yaitu sup, digoreng kering, atau ditumis. Swikee atau  sweekee merupakan salah satu jenis masakan Cina. Masakan yang dapat  dikelompokkan dalam jenis sup ini berbahan dasar paha kodok ijo (kodok sawah)  dengan kuah berwana coklat, berasa manis kedelei perpaduan antara taoco dan  kecap. Sebagai penyedap ditaburkan irisan bawang goreng dan seledri. Buat kita sebagai seorang muslim, pastinya gak asal caplok aja Swike yang  udah tersaji di meja makan.

Cari tahu dulu hukumnya meski air liur sudah menetes.  Dalam Islam, mayoritas pendapat madzhab mengharamkan daging kodok.  Dalam hadits riwayat Ahmad, Abu Daud dan Nasa-i, bahwa shahabat Abdur-Rahman bin Utsman berkata: Ada seorang dokter yang menyebut obat pada  Rasulullah, yang diantaranya menyebut “kodok” sebagai obat, maka Rasulullah saw  melarang untuk membunuh kodok “. Imam Ali As-Syaukani (pengarang buku ”  Nailul Authar “), setelah menyebutkan hadits tersebut lalu berkata : larangan  Rasulullah saw untuk membunuh kodok tersebut, menunjukkan HARAMNYA  MAKAN KODOK “.

dansetiap yang haram untuk dimakan, haram untuk dijadikan  sebagai OBAT. Driser, jangan mentang-mentang penikmat kuliner kita maen serobot aja  setiap jenis makanan termasuk swike. Masih banyak kok yang lebih enak dan halal  bin thoyib ketimbang makan swike. Oke?[Ridwan]