Di musim panas tahun 2012 ini D’RISE berkesempatan untuk melawat ke Istanbul, DTurki. Kota ini adalah kota yang bersejarah, tempat berbagai peradaban dunia pernah menjadikannya sebagai pusat pemerintahan.
Mulai dari kekaisaran Romawi Bizantium hingga Khilafah Ustmaniyah. Selama 4 hari, salah seorang staf redaksi d’rise, Sayf Muhammad Isa, ngider-ngider ke berbagai tempat menarik dan bersejarah di kota Istanbul. Yuk kita simak reportase perjalanannya. Cekidot!!! Islam Hampir Nggak Bersisa D’rise berkunjung ke istanbul pada permulaan musim panas tanggal 2 Juli 2012.
Matahari bersinar terik, tapi angin selalu bertiup kencang. Kalau kita berteduh di bawah pohon, kesejukan akan kita rasakan. Di taman-taman kota akan banyak kita temukan orang-orang yang sedang terlelap. Kota Istanbul (dalam negara turki, Istanbul adalah provinsi) sangat eksotis. Rapi dan bersih. Jalur transportasinya nyaman. Kita bisa menikmati kereta bawah tanah, ada juga jalur trem modern yang melintasi berbagai landmark bersejarah, ada juga kereta gantung bawah tanah yang menggunakan Funikular System.
Tersedia juga bis kota yang nyaman. Di Turki kita nggak bakal menemukan kenek yang mondar-mandir nagihin ongkos pada penumpang, karena di sana sudah digunakan sistem digital yang biasa disebut Akbil. Bentuknya berupa kartu yang depositnya bisa diisi ulang lewat mesin otomatis yang tersebar di berbagai stasiun dan sudut kota. Nanti setiap masuk berbagai sarana transportasi publik kita harus menempelkan kartu Akbil itu pada scanner kecil di depan yang kemudian berbunyi. Baru deh kita bisa cari tempat duduk yang nyaman.
Kalo buat turis, kartu Akbil wisata bisa didapat juga di berbagai tempat. Hanya saja kartu ini tidak bisa diisi ulang. Kalau sudah habis, tinggal dibuang saja dan beli kartu yang baru. Di tengah seluruh gemerlapnya Istanbul itu, sayangnya seolah-olah Islam sudah tidak bersisa. Padahal dulu di kota itulah pusat kekuasaan pemerintahan Islam berada. Sebagian besar penduduknya adalah muslim, namun kita akan banyak sekali menemukan perempuan-perempuan turki yang mengenakan pakaian minim. Auratnya diumbar ke mana-mana.
Apalagi pada momen musim panas seperti saat ini, perempuan seronok berkeliaran di tiap sudut. Persis kota-kota di Barat. Untungnya kita masih bisa menemukan kaum muslimah yang mau menjaga auratnya. Islam udah hampir nggak bersisa lagi. Sekularisasi yang dipelopori oleh Mustafa Kemal Pasha telah sedemikian jauh memisahkan kaum muslim di turki dari Islam. Hanya sejarah Islam yang terekam dalam tembok-tembok benteng atau museum-museum sajalah yang masih tersisa. Yuk kita telusuri. Lanjut!!! Khilafah Ustmani in Memoriam Yang selalu jadi pertanyaan di benak d’rise adalah, gimana caranya orang dulu bikin tembok, benteng, dan menara yang tinggi-tinggi, padahal teknologi masih belum maju kaya sekarang.
Perasaan itu muncul waktu d’rise melihat Galata Tower (Turki: Galata Kulesi). Menara yang ada di tepian Selat Tanduk Emas ini tingginya lebih dari 60 m. Dibuat dari batu dengan bentuk lingkaran. Puncaknya kerucut dengan tiang-tiang beranda melengkung di puncaknya. D’rise naik sampai ke puncak menara ini kemudian menyaksikan pertemuan selat tanduk emas, selat bosphorus, dan kota Kontstantinopel (sekarang Istanbul). Puncak-puncak Aya Sofia, Sultan Ahmet Camii, Yeni Camii, dan Sulaymaniye Camii juga terlihat dari sini. Kebayang banget gimana perasaan prajurit Kristen yang waktu itu memantau pergerakan kapal-kapal Sultan Mehmet al Fatih saat berupaya menaklukkan Konstantinopel.
Sekarang di bagian tengah dan di puncak Galata Tower udah dijadikan kafe. Nggak heran kalo orang-orang di abad pertengahan bener-bener takjub sama Hagia Sofia. Walaupun usianya udah ratusan tahun, D’rise pun sempet dibuat takjub waktu pertama kali memasuki bangunan yang megah ini. Dengan membeli tiket seharga 25 TL (Turkish Lira, 1 TL kurang lebih Rp. 5000,-)
D’rise bisa masuk ke dalam Aya Sofia dan mengeksplorasi bangunan itu sepuasnya. Karena sedang musim panas antriannya panjang sampai keluar pagar, dan di dalam pun ramainya minta ampun. Turis dari berbagai negara memadati Aya Sofia. Kubah yang melengkung dan tinggi, serta dihiasi berbagai ornamen yang indah langsung menyambut d’rise ketika memasuki Aya Sofia.
Pilar-pilar yang tebal berjajar di bagian pinggirnya dengan bingkai-bingkai melengkung. Bangunan besar yang awalnya adalah sebuah gereja ini dihiasi mozaik-mozaik Kristen. Seperti mozaik Hodegetria di bagian depan, mozaik Yesus dan beberapa kaisar Bizantium. Setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmet al Fatih, ditambahkanlah kaligrafi ”Allah” dan ”Muhammad” dengan bentuk lingkaran di bagian depan. Ketika masuk ke dalam ruangan ini, d’rise memang merasakan hawa yang khusyuk dan khidmat, sebab dulu di ruangan inilah kaisar-kaisar Bizantium dinobatkan dan berbagai misa Kristen Ortodoks dilaksanakan. Ketika al Fatih mengepung Konstantinopel, banyak umat Kristen yang berlindung di dalam Aya Sofia.
D’rise geleng-geleng kepala waktu menyaksikan Rumeli Hisar. Benteng yang dibangun oleh Sultan Mehmet al Fatih pada tahun 1452 ini emang super gede, dan letaknya persis di tepian selat Bhosporus yang biru airnya. Saat ini ada jalan raya yang membentang di hadapan Rumeli Hisar. Benteng besar ini teletak di wilayah Bebek, agak jauh dari pusat kota Istanbul, jadi nggak banyak turis yang mengunjunginya. Merinding banget waktu d’rise melintasi gerbang Rumeli Hisar dan masuk ke bagian dalamnya. Kebayang banget ketika dulu sekitar 5000 orang pekerja bahu membahu membangun benteng besar ini hanya dalam waktu sekitar 4 bulan dalam upaya menaklukkan Konstantinopel. Sementara orang-orang Bizantium hanya bisa menyaksikannya dengan gentar.
Di bagian dalamnya ada semacam teater berbentuk lingkaran. Tempat duduknya disusun berundak-undak seperti stadion. Tempat ini dulu digunakan al Fatih untuk memberi pengarahan dan mengecash semangat komandan-komandannya. D’rise terus naik sampai ke tembok-tembok dan menara-menara Rumeli Hisar. Dari sana terlihatlah selat bhosporus dan jembatan Fetih Sultan Mehmet yang membentang melintasi selat legendaris itu.
Di seberang selat bhosporus, di bagian Asia, terlihat juga Anadolu Hisar berhadap-hadapan dengan Rumeli Hisar. Kedua benteng inilah yang digunakan al Fatih untuk memotong selat dan memutus suplai bantuan bagi Konstantinopel menjelang penaklukan. Untuk menelusuri jejak gemilang militer Khilafah Ustmaniyah, d’rise berkunjung ke Askeri Muze (Museum Militer) yang terletak di kawasan Taksim. Sebuah meriam besar segera menyambut d’rise ketika memasuki areal museum ini. Bagitu ada di dalam, berbagai peninggalan militer Khilafah Ustmaniyah segera mengepung d’rise. Berbagai senjata baik pedang, belati, meriam, senapan laras panjang maupun pendek, baju zirah, dan banyak lagi, dipamerkan di sana.
Yang unik adalah, ternyata rencong Aceh dan keris dari abad pertengahan juga dipamerkan di sana. Hal ini semakin menguatkan bahwa negeri kita adalah bagian dari Khilafah Islamiyah dahulu. Berbagai lukisan perang dan lukisan seluruh sultan Ustmani dari awal sampai Sultan yang terakhir dipajang di museum ini. Tergambar sekali betapa agungnya angkatan perang kaum muslim dahulu. D’rise juga menyaksikan konser Mehter, brigade musik perang pertama di dunia. Konser ini digelar di Askeri Muze. Dulu ketika pasukan kaum muslim berjihad, brigade mehter ini memainkan musik-musik yang menggelorakan semangat jihad, mereka juga memuji Allah dan bersolawat kepada Rasulullah saw dalam lagu-lagu mereka. Keren banget! Tembok Theodosius yang menjadi saksi bisu penaklukan agung yang dilakukan oleh Sultan Mehmet al Fatih masih tegak sampai sekarang.
Waktu berdiri di hadapan Gerbang Charisius, tempat al Fatih masuk Konstantinopel setelah penaklukan, ada rasa deg deg ser. Kebayang banget betapa berat dan sulitnya penaklukan itu karena harus menghadapi benteng dan tembok yang super tebal dan tinggi. Apalagi ada parit yang lebar dan dalam di depan tembok yang makin mempersulit upaya penaklukan (sekarang paritnya udah nggak ada).
Di beberapa tempat, d’rise melihat beberapa bagian menara tembok yang hancur karena dulu digempur oleh meriam-meriam al Fatih. Pantesan selama ribuan tahun konstantinopel nggak pernah berhasil dibobol karena dilindungi tembok setinggi dan setebel itu. Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmet al Fatih memperlihatkan pada kita bahwa bisyarah Rasul saw adalah benar. Subhanallah! Sayangnya, Islam seolah-olah nggak keliatan lagi. Semua keagungan itu dikesankan sebagai keagungan bangsa Turki.
Padahal bangsa Turki nggak pernah meraih semua keagungan itu kalau bukan karena ideologi Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Yuk, terus belajar dan bergerak untuk mengembalikan keagungan kaum muslim dalam naungan Islam dan Khilafah Islamiyah. (Sayf)
