bisnis sepakbola. Sebuah bisnis yang bikin air liur para pemilik modal Bmenetes…tes..tes. Sepakbola bukan sekedar permainan si kulit bundar, tapi juga aliran fulus yang mengucur tiada henti.
Bayangin aja kalo driser jadi salah satu pemilik klub terkaya di dunia seperti Real Madrir dengan total pemasukan 401,4 juta euro (sekitar Rp 5,107 triliun), FC Barcelona dengan total pemasukan: 365,9 juta euro (Rp 4,657 T), atau Manchester United dengan Total pemasukan: 327,0 juta euro (Rp 4,160 T).
Di bawah ketiga klub ini masih ada Bayer Munich, Arsenal, Chelsea, Liverpool, Juventus, Inter Milan, dan AC Milan sesuai data 10 klub terkaya di dunia tahun 2011 versi laporan Deloitte dan dikutip Reuters. Bukan cuman klubnya yang berlimpah uang, para pemainnya juga kebanjiran fulus sehingga beberapa dari mereka dinobatkan sebagai 5 pemain terkaya di dunia tahun 2011-2012.
Mereka adalah David Beckham (Rp. 229.944.000.000,-), Ricardo Kaka (Rp. 234.234.000.000,-), Wayne Rooney (Rp. 250.536.000.000,-), Christiano Ronaldo (Rp. 332.904.000.000,-), Lionel Messi (Rp. 375.804.000.000,-). (http://beritama.com/pemain-sepakbola-terkaya/). Nggak usah melongo kaya sapi ompong ngebaca data fantastis di atas. Ketika sepakbola sudah jadi komoditi bisnis, penghasilan para pemain dan klub bukan cuman dari atas lapangan rumput.
Tapi justru puluhan unit bisnis yang berporos pada setiap laga mereka. Mulai dari jualan hak siar, jual beli pemain, iklan produk, tiket masuk pertandingan, merchandise, jersey (kostum pemain), sponsorship, hingga pengelolaan stadion yang bisa dijadikan obyek wisata. Layaknya sebuah industri, klub sepakbola selaku ‘pabrik’ perlu dana operasional yang nggak sedikit untuk jalanin unit bisnisnya. Selain dari investor, sumber dana operasional klub sepakbola diperoleh dari pinjaman hutang. Nggak heran kalo klub-klub sepakbola elite juga menorehkan prestasi sebagai penunggak utang tertinggi. Survei terhadap rekening klub top di Spanyol mengungkapkan sebuah kisah tentang utang yang dapat melumpuhkan dan tunggakan pajak.
Real Madrid telah mengumpulkan utang 589 juta euro (772 juta dolar Amerika, Rp 7,08 triliun) dan 578 juta euro (Rp 7,01 triliun) untuk Barcelona. Bahkan klub-klub elit Spanyol berutang 752 juta euro (Rp 9,12 triliun) kepada petugas pajak. Sementara di negeri spagheti, total utang klub-klub Italia kini mencapai 2,6 miliar euro. Sementara UEFA (Union of European Football Associations) mengeluarkan laporan tentang kesehatan keuangan klub sepakbola Eropa.
Disebutkan dalam rilisnya, ternyata klub di Liga Premier Inggris adalah pemilik utang terbesar total utang klub di seluruh Eropa. Bahkan disebutkan, 56 persen dari keseluruhan utang klub seluruh Eropa berada di Liga Premier. OMG….! Driser,ternyata dibalik gemerlap pesona sepakbola dunia menyimpan banyak cerita. Kompetisi LA Liga, Liga Calcio, atau Premiere League sepakbola di dunia ini sebagian besar dibiayai utang yang mencekik. Satu-satunya harapan bagi klub untuk tetap eksis di dunia si kulit bundar, adalah loyalitas para pendukungnya. Karena dari kantong merekalah sebagian sumber penghasilan klub dan para pemain diperoleh.
Laporan dari Forbes.com seperti dikutip dari goal.com menyebutkan: “Basis fans Manchester United dari 330 juta juga membantu mereka menjadi klub paling bernilai di berbagai cabang olahraga. Mereka bahkan unggul US$385 juta dari tim Major League Baseball, New York Yankees, dan Dallas Cowboys dari National Football League”. Disadari atau nggak, nilai para bola mania di mata pemilik klub pada akhirnya tak lebih dari sekedar aset bisnis yang siap diporotin.
Kompetisi sepakbola secara periodik berusaha menciptakan fanatisme akut dalam benak komunitas hoolygan, bobotoh, viking, bonex mania, aremania atau jak mania agar siap menyerap tiket pertandingan, produk merchandise, hingga atribut dari masing-masing klub. Bagi umat Islam, tentu saja sikaf fanatisme ini akan memasung produktifitas mereka untuk kebangkitan Islam. Nggak heran kalo dalam daulah Islam, permainan yang melalaikan (lahwun munadzlomun) seperti Piala Eropa, Piala Dunia, Piala Champion, hingga benih pertandingan Liga sepakbola nggak bakal dapat tempat untuk berkembang biak. Hanya masyarakat jahiliyah yang membiarkan dan memelihara ide nasionalisme merajalela di tengah-tengah mereka. Seperti di negara-negara eropa.[341]
