Majalah Remaja Islam Drise

Ayo Bersatulah!

majalahdrise.com – Upacara pembukaan SEA Games 2011 pada 11 November yang lalu berlangsung dengan megah. Selain dihiasi parade kembang api dan tatanan lighting serta efek komputer yang sangat luar biasa, ajang olahraga terbesar di Asia Tenggara itu juga diramaikan oleh para artis papan atas dari dalam dan luar negeri. Nggak heran, konon, dana yang dikucurkan pemerintah untuk event ini mencapai trilyunan  rupiah! Ck ck ck.

Pemerintah rela ngerogoh kocek sampe triliyunan rupiah lantaran event Sea Games 2011 menjadi obat paling tokcer untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan persatuan bangsa indonesia. Tak heran jika jutaan rakyat indonesia pun larut dalam euforia ajang dua tahunan ini. Padahal dibalik megahnya pelaksanaan Sea Games 2011 ternyata terdapat seabreg udang busuk. Yang paling mencolok yaitu kasus korupsi dan sengketa tanah wisma atlet yang belum jelas ujungnya bagaimana. Sejumlah warga yang tanahnya “disita”untuk pembangunan wisma atlet ternyata belum menerima kompensasi sama sekali. Wajar kalau sebagian warga cemas jika di masa mendatang akan ada proyek lainnya, sebab bukan mustahil itu akan terkait dengan lahan mereka. “Mudahan ke depan tidak ada lagi event seperti ini, event yang juga diikuti pembangunan, sebab takutnya tanah kami pula yang akan dipersoalkan,” kata Marni, warga Palembang yang memanfaatkan event SEA Games XXVI buat berdagang t-shirt.

Seusai acara bergengsi tersebut, cerita selanjutnya pun mudah ditebak. Nasionalisme kembali menyusut, kehidupan rakyat pun nggak banyak berubah. Biar kata negeri Titus Bonai dkk meraih juara umum dengan seabrek medali, kenyataannya yang miskin tetep miskin, yang sengsara tetep sengsara. Hal ini karena nasionalisme merupakan ikatan yang lemah, yang akan muncul hanya bila ada rangsangan emosional. Kalau rangsangan itu hilang, lenyap jugalah rasa nasionalisme itu. Klo bener cinta tanah air, mestinya melek bin nyadar juga dengan perampokan kekayaan emas yang berlimpah di freeport oleh investor asing!

Ini berbeda dengan Islam, yang menawarkan ikatan aqidah yang ideologis. Tak seperti ikatan nasionalisme yang temporal dan sempit, ikatan ideologi Islam akan tetap membara tanpa mempedulikan waktu, tempat, maupun suku bangsa. Ikatan aqidah inilah yang harusnya dipegang oleh setiap muslim, bukan nasionalisme yang gampang karatan. Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya perumpamaan kaum muslimin, adalah seperti satu tubuh, jika ada bagian tubuhnya yang sakit, maka seluruh jasadnya turut merasakan.”(HR. Ahmad). Makanya mulai sekarang ganti sloganmu dengan: “Muslim bersatu tak bisa dikalahkan!” []

di muat di amjalah drise edisi 17