<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>teroris Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/teroris/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Oct 2015 22:35:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Teror by Media</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/teror-by-media/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/teror-by-media/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2015 22:35:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=826</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Zachariah Matthews, aktivis islam di Amerika, membeberkan sejumlah trik media Barat yang terbit di Canada, dalam memproduksi citra buruk tentang Islam. Pertama, sensasi. Berita dibuat berdasarkan fakta yang tidak pernah ada, atau hanya mengandung sedikit kebenaran. Namun semakin lama dihebohkan, kisah semacam ini menjadi kehilangan substansi. Misalnya, kisah menggemparkan tentang perkosaan massal atas &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/teror-by-media/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Teror by Media</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/teror-by-media/">Teror by Media</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>drise-online.com</strong> &#8211; Zachariah Matthews, aktivis islam di Amerika, membeberkan sejumlah trik media Barat yang terbit di Canada, dalam memproduksi citra buruk tentang Islam.</p>
<p>Pertama, <strong>sensasi.</strong> Berita dibuat berdasarkan fakta yang tidak pernah ada, atau hanya mengandung sedikit kebenaran. Namun semakin lama dihebohkan, kisah semacam ini menjadi kehilangan substansi. Misalnya, kisah menggemparkan tentang perkosaan massal atas etnis China dalam kerusuhan medio Mei 1998 di Indonesia. Begitu juga drama ‘’penculikan dan penganiayaan aktivis’’ oleh Tim Mawar Kopassus. Para aktivis yang dulu <em>nyap-nyap</em> mendiskreditkan Jenderal Prabowo sampai ke Amerika, kini malah bersarang di ketiak Partai Gerindra yang dibuat Sang Jenderal.</p>
<p>Standar ganda juga sering digunakan dalam hal ini. Ketika Mujahidin Palestina menyerang Israel dengan bom, mereka disebut sebagai teroris. Tapi ketika orang Israel membantai 29 jamaah subuh di Masjid Al Khalil, Hebron, si penjagal disebut sekadar sebagai ‘’fanatik’’ atau ‘’ekstrimis’’, atau, istilah terbaru, ‘’zealot’’. Bahkan mahasiswa Yahudi pembunuh PM Yitzhak Rabin, pun tidak pernah disebut sebagai teroris.</p>
<p>Trik kedua, <strong>mengemukakan berita atau klaim dusta. </strong>Sering klaim tentang Islam tanpa disertai dukungan bukti, atau dengan bukti yang sangat lemah. Dan repotnya, pembaca awam biasanya tidak akan mempertanyakan klaim yang diajukan oleh media yang telanjur punya nama besar.</p>
<p><strong>Misrepresentasi.</strong> Kerap kali media menggunakan trik <em>pars pro toto </em>(generalisasi). Satu atau dua kasus dijadikan berita massal. Salah satu bentuknya, judul bombastis yang tidak mencerminkan isi berita.</p>
<p><strong>Pembatasan akses.</strong> Publik Muslim tidak diberi akses yang sama pada media. Betapa banyak surat pembaca mereka yang tidak dimuat media, meskipun sudah memenuhi persyaratan yang diminta. Dengan demikian, tidak saja Muslim diserang media, tapi juga bahkan tidak diberi kesempatan yang proporsional untuk membela diri.</p>
<p><strong>Stereotype.</strong> Salah satu stigma ideologis ditemukan dalam <em>genre</em> serial film teve bahwa ‘’orang Arab adalah teroris’’. Pesan pada pemirsa tentang siapa yang pahlawan dan siapa penjahat, di film semacam itu, sangat vulgar. Hanya ada satu gambaran bengis, ketika pemirsa menyaksikan Muslim fanatik meledakkan Gedung Putih dan membantai rakyat Amerika dalam film ‘’Under Siege’’. Hal yang sama pada film ‘‘Terrorist on Trial’’ dimana Ajami, seorang Arab Palestina, ceritanya ditangkap oleh sebuah kesatuan elite militer Amerika dan diekstradisi ke AS dengan tuduhan membunuh wanita dan anak-anak AS di luar negeri. Dalam kesaksiannya di pengadilan, Ajami menyatakan memiliki senjata nuklir yang digunakannya untuk membunuhi wanita dan anak-anak AS. ‘’Kami akan meledakkan nuklir ke arah mereka di rumah masing-masing seperti halnya yang di seberang lautan. Hidup Palestina!’’ kata Ajami penuh hero.</p>
<p><strong>Pengendalian reporter.</strong> Robert Fisk, koresponden pada media massa London <em>The Independent</em>, menulis bahwa ‘’Para editor Amerika punya kebiasaan membuang reporter mereka jika mereka mulai memahami secara objektif situasi daerah liputannya’’.</p>
<p>Dinding kantor <em>Newsweek</em> setiap hari dihiasi cover mingguan mereka. Cover itu sebagian besar mencitrakan Islam dengan kekerasan. Dengan cara ini, reporter yunior dicuci otaknya agar membenarkan kebijakan redaksional yang anti-Islam.</p>
<p>Jubir HTI, Ismail Yusanto, mengingatkan, paparan media yang intensif dan masif mengenai terorisme versi polisi, berbahaya bagi kesadaran publik. ‘’Kebohongan yang diulang-ulang media, lama-lama akan dianggap sebagai kebenaran,’’ Ismail mengutip sebuah adagium.</p>
<p>Driser, jelas banget kalo media massa jadi senjata efektif untuk ngotak-ngotak cara kita berpikir dan berbuat. Kalo nggak jeli, kita bisa kebawa opini sesat media massa barat yang doyan menyudutkan ajaran Islam dan kaum Muslimin. Makanya, Drise tetep eksis untuk jagain remaja en remaji muslim dari pemikiran dan budaya sekuler barat yang sesat dan menyesatkan. So, ajak deh sohib-sohib driser biar pada ikutan baca drise dan ikut tercerahkan. Okeh?![]</p>
<p>di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #12</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/teror-by-media/">Teror by Media</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/teror-by-media/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">826</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Remaja Maroko: Saya Bukan Teroris!</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/remaja-maroko-saya-bukan-teroris/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/remaja-maroko-saya-bukan-teroris/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Apr 2013 13:30:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[bom boston]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja maroko]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=236</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seorang siswa SMA kelahiran Maroko secara keliru diidentifikasi sebagai tersangka bom Boston yang menewaskan tiga orang dan mencederai 180 orang lainnya pada Senin (15/4) lalu. Foto diri remaja berumur 17 tahun yang bernama Sulahaddin Barhoum itu terpampang di halaman depan sebuah surat kabar utama AS. Remaja Maroko itu diberitakan sebagai orang yang sedang diidentifikasi para &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/remaja-maroko-saya-bukan-teroris/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Remaja Maroko: Saya Bukan Teroris!</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/remaja-maroko-saya-bukan-teroris/">Remaja Maroko: Saya Bukan Teroris!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2013/04/barhoum.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-238" alt="Remaja maroko" src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2013/04/barhoum-300x150.jpg?resize=300%2C150" width="300" height="150" data-recalc-dims="1" /></a>Seorang siswa SMA kelahiran Maroko secara keliru diidentifikasi sebagai tersangka bom Boston yang menewaskan tiga orang dan mencederai 180 orang lainnya pada Senin (15/4) lalu. Foto diri remaja berumur 17 tahun yang bernama Sulahaddin Barhoum itu terpampang di halaman depan sebuah surat kabar utama AS. Remaja Maroko itu diberitakan sebagai orang yang sedang diidentifikasi para penegak hukum sehubungan dengan ledakan bom kembar di Maraton Boston.</p>
<p><span id="more-236"></span>Tentu saja remaja maroko itu terkejut saat menemukan dirinya dijadikan terduga pelaku. Ia pun bergegas ke kantor polisi untuk memulihkan namanya, setelah foto dirinya dan seorang laki-laki lainnya, yang diyakini pelatihnya, terpampang di halaman depan harian New York Post dengan judul, &#8220;PRIA BERTAS: FBI sedang mencari kedua orang ini yang terekam di Boston Marathon.&#8221;</p>
<p>Para penyilidik pun menegaskan, mereka berdua, dia dan pelatihnya yang tidak disebutkan namanya, tidak terkait dengan ledakan itu.</p>
<p>Barhoum menahan air matanya saat menceritakan bagaimana ia meminta polisi untuk membantunya memulihkan namanya. Ia mencengkeram segenggam medali berpita putih biru, dan merah yang diraihnya dari lomba lari saat ia mengatakan kepada MailOnline tentang ketakutannya karena telah difitnah.</p>
<p>Barhoum, yang empat tahun lalu pindah ke AS bersama keluarganya, mengatakan, &#8220;Pada Rabu larut malam teman-teman mulai menelepon dan mengirim e-mail ke saya, mereka mengatakan foto saya ada di internet, bahwa saya adalah tersangka bom Boston. Saya takut, saya tidak pernah berada dalam kesulitan dan saya takut akan keamanan saya,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Pada pukul 01.30 saya menelepon seorang teman untuk mengantar saya ke polisi negara bagian. Saya berjalan di lobi dan mengatakan kepada mereka saya pikir saya yang dicari FBI. Saya membawa surat-surat saya dan saya memberi mereka nomor jaminan sosial saya sehingga mereka bisa memeriksa saya. Mereka bahkan tidak membawa saya ke sebuah ruangan khusus. Mereka melakukan sejumlah panggilan telepon, kemudian berkata saya boleh pulang.&#8221;</p>
<p>Ia melanjutkan, &#8220;Saya ada di sana sekitar 25 menit tapi saya sangat takut. Foto saya ada di internet dan saya khawatir bahwa seseorang, seorang gila, mungkin mengejar saya dan keluarga saya. Saya punya dua adik, berusia tiga dan tujuh, dan seorang saudara usia 15 tahun. Kami tidak punya perlindungan.&#8221;</p>
<p>Barhoum dan pelatihnya terekam kamera keamanan berjalan di dekat garis finis lomba lari maraton pada Senin itu sebelum bom meledak. Pelatih itu, yang berusia pertengahan tiga puluhan, mengenakan topi baseball putih dan jaket hitam. Barhoum mengenakan kaus biru. Keduanya membawa ransel saat berjalan untuk mendapatkan posisi menonton yang terbaik. &#8220;Kami berada di sana untuk menonton pelari tercepat,&#8221; kata Barhoum, yang mewakili sekolahnya dan South Boston di lomba lari.</p>
<p>&#8220;Kami terus bergerak untuk mencoba dan mendapatkan posisi yang lebih baik. Ini pertama kalinya saya benar-benar melihat maraton, biasanya saya menonton di TV. Kami berencana untuk berlari di maraton New York November mendatang dan saya ingin melihat perlombaan Boston secara langsung. Saat pelari tercepat melintasi garis finis kami berusaha untuk menemukan tempat yang bagus karena lokasi itu penuh sesak. Kami berdiri dekat Dunkin Donuts, kemudian kami pindah ke dekat toko lain, beberapa tenda dan, saya pikir, sebuah stasiun pemadam kebakaran. Kami meninggalkan tempat itu setelah pelari tercepat berlalu, saya pikir itu sekitar dua jam sebelum bom meledak. Kemudian saya pulang, pas di kereta bawah tanah, ibu saya berusaha menelepon saya untuk memastikan saya baik-baik saja karena bom baru saja meldak,&#8221; tuturnya kepada MailOnline.</p>
<p>Remaja Maroko yang tinggal Massachusetts itu mengatakan, awalnya ia ingin ikut berlari di maraton itu tetapi ketika tidak bisa, ia memutuskan untuk jadi penonton saja.</p>
<p>Di harian New York Post, wajahnya dan pelatihnya dilingkari merah. Lokasinya tepat saat mereka berdiri di antara penonton di dekat garis finis.</p>
<p>Kepada ABC News Barhoum mengatakan, ketika melihat fotonya di halaman depan dan kemudian beredar di media sosial, ia merasakan &#8220;perasaan terburuk yang saya mungkin saya bisa rasakan &#8230; Saya baru 17 tahun. Ke mana pun saya pergi, saya tidak mau melihat orang lain karena ketika mereka melihat saya, mereka akan mengatakan, &#8216;Oh, kamu yang melakukan itu, bagaimana bisa kamu lakukan itu? Mengapa kamu melakukan itu? Begitu banyak orang yang kamu bunuh, seorang anak delapan tahun. Kamu melukai orang-orang. Keluarga mereka akan merasa begitu menderita dengan apa yang kamu lakukan.&#8221;</p>
<p>Saudaranya mengatakan, ibu mereka sangat marah dengan terpampangnya wajah Barhoum. Ibunya itu awalnya takut bahwa anaknya memang telah melakukan sesuatu yang salah.</p>
<p>Laporan The New York Post mengatakan, foto kedua orang itu diedarkan para penyelidik &#8220;dalam upaya untuk mengidentifikasi individu yang disorot di dalamnya&#8221;. Laporan itu melanjutkan, &#8220;Sementara itu, para pejabat telah mengidentifikasi dua terduga pelaku yang tertangkap video surveillance yang diambil sesaat sebelum ledakan bom, kata sejumlah sumber penegak hukum kepada Post&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak segera jelas apakah pria dalam foto para penegakan hukum merupakan orang-orang yang sama dalam video surveillance.&#8221;</p>
<p>Laporan itu kemudian diperbarui dengan menyertakan link ke laporan lain yang mengatakan para penyelidik telah memulihkan nama dua orang itu. &#8220;Pihak berwenang menegaskan tidak satu pun dari mereka punya informasi atau peran dalam serangan pada hari Senin di Boston Marathon,&#8221; kata laporan itu.</p>
<p>Kamis malam waktu AS, FBI merilis foto-foto dan rekaman CCTV dari dua pria yang berbeda yang diidentifikasi berpotensi jadi tersangka dalam pemboman 15 April itu. Salah satu dari pria itu terrekam menaruh tas hitam di dekat salah satu situs ledakan.</p>
<p>Editor New York Post, Col Allan, membela keputusan surat kabarnya menerbitkan laporan itu ketika ditanya oleh The Huffington Post. &#8220;Kami mempertahankan laporan kami. Foto itu di-email ke lembaga penegak hukum kemarin sore untuk mencari informasi tentang orang-orang itu, seperti diberitakan dalam laporan kami. Kami tidak mengidentifikasi mereka sebagai tersangka,&#8221; katanya.</p>
<p>Gawker melaporkan bahwa ketika foto Barhoum dan orang kedua itu mulai beredar, para pengguna Reddit dengan cepat mengidentifikasi salah satu dari mereka sebagai &#8220;anak Amerika asal Maroko, pemain sepak bola SMA lokal dan pelari &#8230; yang bekerja di Subway dan suka How High dan The Hunger Games.&#8221; Para pengguna Reddit juga menemukan halaman Facebook-nya.</p>
<p>Sumber :Sydney Morning Herald<br />
Editor :Egidius Patnistik<br />
<a href="http://internasional.kompas.com/read/2013/04/19/13282252/Remaja.Asal.Maroko.Saya.Bukan.Teroris" target="_blank">SUMBER</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/remaja-maroko-saya-bukan-teroris/">Remaja Maroko: Saya Bukan Teroris!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/remaja-maroko-saya-bukan-teroris/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">236</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
