<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>sahabat nabi Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/sahabat-nabi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Oct 2019 05:46:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Amr Ibnul Jamuh ra. Sahabat cacat bertekad kuat</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/amr-ibnul-jamuh-ra-sahabat-cacat-bertekad-kuat/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/amr-ibnul-jamuh-ra-sahabat-cacat-bertekad-kuat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2015 10:17:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bohlam Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Amr Ibnul Jamuh ra]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat nabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=782</guid>

					<description><![CDATA[<p>majalahdrise.com &#8211; Syahid di medan perang menjadi impian para sahabat Rasulullah saw. Tak terkecuali seorang Amr Ibnul Jamuh ra. Sahabat cacat bertekad kuat yang mempunyai empat orang putra. Salah satunya Mu&#8217;adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai&#8217;at &#8216;Aqabah. Keempat putranya nggak pernah ketinggalan ikut bersama Nabi saw dalam setiap peperangan serta tabah dalam &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/amr-ibnul-jamuh-ra-sahabat-cacat-bertekad-kuat/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Amr Ibnul Jamuh ra. Sahabat cacat bertekad kuat</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/amr-ibnul-jamuh-ra-sahabat-cacat-bertekad-kuat/">Amr Ibnul Jamuh ra. Sahabat cacat bertekad kuat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>majalahdrise.com</strong> &#8211; Syahid di medan perang menjadi impian para sahabat Rasulullah saw. Tak terkecuali seorang <strong>Amr Ibnul Jamuh ra. Sahabat cacat bertekad kuat</strong> yang mempunyai empat orang putra. Salah satunya Mu&#8217;adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai&#8217;at &#8216;Aqabah. Keempat putranya nggak pernah ketinggalan ikut bersama Nabi saw dalam setiap peperangan serta tabah dalam menunaikan tugas perjuangan.</p>
<p>Amr Ibnu Jamuh ra sangat berkeinginan untuk bisa syahid di jalan Allah. Namun ada yang mengganjal. Kakinya yang pincang menjadi penghadang badannya untuk ikut dalam peperangan. Pernah suatu ketika Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan peralatannya untuk turut dalam perang Badar. Namun putra-putranya memohon agar beliau mengurungkan niatnya dengan kesadaran sendiri atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang dengan alasan ketidakmampuan disebabkan cacat kakinya yang berat itu. Kemudian Rasulullah mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah. Walau merasa kecewa tapi Amr tahu itu untuk kebaikannya.</p>
<h2>Amr Ibnul Jamuh ra. Sahabat cacat bertekad kuat</h2>
<p>Tapi ketika masa perang uhud telah tiba, tekad Amr semakin tak terbendung. Udah kebelet banget pengen ngerasain syahid di medan perang seperti parasahabat lainnya. Dengan penuh keyakinan Amr menemui Nabi saw dan memohon kepadanya agar diizinkan terjun ke medan perang.</p>
<p><em>&#8220;Ya Rasulullah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama Anda. Demi Allah, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga!&#8221;</em> ungkap Amr. Rasul tak kuasa menahan tekad kuat Amr yang sangat ingin berjihad. <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Nabi_dan_Rasul">Nabi</a> saw pun akhirnya memberikan izin pada Amr untuk berperang. Betapa bahagianya Amr mendapat ijin dari Nabi. Dengan sigap, Amr segera mengambil persenjataan perangnya. Dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat sambil memohon kepada Allah: <em>&#8220;Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku!&#8221;</em></p>
<p>baca juga</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/nusaibah-binti-kaab-singa-betina/">Nusaibah binti Ka’ab ‘Singa Betina’</a></p>
<p>Dalam perang Uhud, Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan menebaskan pedangnya dengan membabi-buta kepada para tentara musuh. Di tengah-tengah pertarungan yang hiruk-pikuk itu Amr melompat dan berjingkat. Sekali lompat, pedangnya berhasil memenggal satu kepala dari anggota pasukan musuh. Ia pun semakin bersemangat melepaskan sabetan pedang di tangan kanannya sambil menengok ke sekelilingnya. Seolah-olah mengharapkan kedatangan Malaikat Izrail yang akan menemani dan mengawalnya masuk surga. Karena, ia telah memohon kepada Allah swt agar diberi syahid dan ia yakin Allah swt pasti akan mengabulkannya. Dan apa yang diharapkannya pun terjadi. Sebuah sabetan pedang dari prajurit musuh yang berkelebat memaklumkan datangnya saat keberangkatan, yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia menuju surga jannatul khuldi, surga Firdaus yang abadi!</p>
<p>Driser, kisah <strong>Amr Ibnul Jamuh ra</strong> di atas nunjukkin pada kita kalo sebuah keberhasilan bermula dari sebuah impian apakah kita ingin memperjuangkanya hingga menjadi sebuah tekad atau hanya cukup menjadi keinginan. Jika tekad sudah bulat, akan menggerakkan seluruh organ tubuh dan otak kita untuk fokus meraih impian tanpa menghiraukan kendala yang menjadi penghalang. Dengan berdoa dan tekad yang kuat, Allah pasti akan memberikan jalan keluar terbaik. Jika impian tidak tercapai dalam waktu dekat, jangan pernah berkecil hati. Tetaplah belajar, berusaha, dan selalu berpikir positif. Innallaha ma’ana.. karena bersama kita&#8230;[]</p>
<p>di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #10</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/amr-ibnul-jamuh-ra-sahabat-cacat-bertekad-kuat/">Amr Ibnul Jamuh ra. Sahabat cacat bertekad kuat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/amr-ibnul-jamuh-ra-sahabat-cacat-bertekad-kuat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">782</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berpikir Secerdas Ibnu Abbas</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/berpikir-secerdas-ibnu-abbas/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/berpikir-secerdas-ibnu-abbas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 16:06:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bohlam Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu abbas]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[pemikir cemerlang]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat nabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=159</guid>

					<description><![CDATA[<p>[DRise-#029] Di tengah-tengah para sahabat, yang dikenal sebagai generasi terbaik, paling baik pemahamannya terhadap Kitabullah, terdapat pribadi-pribadi istimewa yang dianugerahi akal fikiran yang mengagumkan.  Di antara mereka ada yang telah mencapai puncak kematangan intelektual. Mereka hadir sebagai sosok yang memiliki kecemerlangan berpikir. Salah satunya adalah Ibnu Abbas r.a., putra dari Abbas, paman sang Nabi Saw. Ibnu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/berpikir-secerdas-ibnu-abbas/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Berpikir Secerdas Ibnu Abbas</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/berpikir-secerdas-ibnu-abbas/">Berpikir Secerdas Ibnu Abbas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><strong><a href="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2013/03/Ibnu-Abbas.jpg"><img class="alignleft  wp-image-160" style="margin: 10px;" alt="Ibnu Abbas Cerdas" src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2013/03/Ibnu-Abbas.jpg?w=200" data-recalc-dims="1" /></a>[DRise-#029]</strong> Di tengah-tengah para sahabat, yang dikenal sebagai generasi terbaik, paling baik pemahamannya terhadap <i>Kitabullah</i>, terdapat pribadi-pribadi istimewa yang dianugerahi akal fikiran yang mengagumkan.  Di antara mereka ada yang telah mencapai puncak kematangan intelektual. Mereka hadir sebagai sosok yang memiliki kecemerlangan berpikir. <a title="Ibnu Abbas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Abbas" target="_blank">Salah satunya adalah Ibnu Abbas </a>r.a., putra dari Abbas, paman sang Nabi Saw.</p>
<p><span id="more-159"></span><strong>Ibnu Abbas r.a., ia adalah pribadi yang istimewa.</strong> Sejak kecil ia sudah sering bersama Rasul Saw. Ketika ia masih belia, pernah suatu saat di akhir malam ia sholat di belakang Nabi Saw. Lalu Nabi Saw menarik tangannya agar berdiri di dekatnya. Tapi setelah Nabi Saw kembali khusyuk dalam sholatnya, ia kembali mundur ke belakang. Usai sholat, Nabi Saw bertanya kepadanya, “Mengapa engkau mundur padahal aku menyuruhmu berdiri di dekatku?” “Apakah patut seseorang sholat di dekatmu, sementara engkau adalah Rasulullah yang mulia?”, jawab Ibnu Abbas r.a.</p>
<p>Nabi Saw kagum dan takjub dengan <em>jawaban Ibnu Abbas r.a</em>. Lalu dengan tulus Nabi Saw berdo’a kepada Allah, “<i>Ya Allah, berilah ia pemahaman yang dalam tentang agama dan ajarilah ia takwil</i>”. Bila Nabi Saw telah berdo’a meminta kebaikan untuk seorang hamba, adakah yang lebih membahagiakan dari pada hal itu? Aduhai, sungguh beruntung Ibnu Abbas r.a.</p>
<p>Setelah do’a Sang Nabi terucap, seakan-akan setelah hari itu kecerdasan hanyalah milik Ibnu Abbas. Ia menjadi ukuran kecerdasan di antara anak-anak seusianya. Tidak, lebih dari itu. Orang-orang dewasa pun menjadikan ia sebagai <i>marja’</i> (rujukan). Pernah suatu ketika, ‘Umar bin Khaththab r.a. mengajak Ibnu Abbas r.a. ke sebuah majelis yang dihadiri orang-orang dewasa. “Mengapa anak kecil ini engkau bawa kemari wahai umar?”, kata salah seorang di dalam majelis tersebut. Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Umar malah menyampaikan firman Allah,  “<i>Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat</i>.” (QS. An Nashr: 1-3). “Bagaimana penafsiran ayat ini menurut kalian?”, tanya Umar.</p>
<p>Di antara mereka ada yang menjawab, “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan bertaubat kepada-Nya, ketika kita diberi pertolongan dan kemenangan”. Sebagian lagi menjawab, “Kami tidak tahu”. Lalu Umar melirik Ibnu Abbas sambil bertanya, “Beginikah penafsiranmu tentang ayat ini?” “Tidak”, jawab Ibnu Abbas. &#8220;Surat tersebut adalah pertanda wafatnya Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</i> sudah dekat. Allah memberitahunya dengan ayatnya: &#8220;Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan&#8217;, itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu (Muhammad), karenanya &#8220;Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat”, tutur Ibnu Abbas. &#8220;<i>Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang engkau ketahui</i>&#8220;, kata Umar.”</p>
<p>Umar tahu betul <span style="text-decoration: underline;">kecerdasan Ibnu Abbas</span>. Itulah sebabnya ia perlihatkan kecemerlangan berpikir Ibnu Abbas di hadapan orang-orang dewasa. Ibnu Abbas r.a. tumbuh menjadi pribadi yang istimewa. Ia bisa menangkap isyarat-isyarat makna Al-Qur’an, ia mengerti berkenaan tentang apa suatu ayat diturunkan, dan ia sangat paham penunjukan makna dalam bahasa Al-Qur’an. Seperti pengakuan Ubaidullah bin Utbah suatu saat. Ia pernah bertutur tentang Ibnu Abbas r.a., “Tidak ada yang tahu syair dan bahasa Arab, tafsir Al-Qur’an, hisab dan faraidh kecuali Ibnu Abbas.”</p>
<p>***</p>
<p>Ketika pemberontakan Khawarij pecah di Haruriyah, Ibnu Abbas r.a. meminta izin kepada Ali r.a. untuk pergi menemui kaum Khawarij dan mengajak mereka berdialog. Setelah Ali r.a. mengizinkannya, maka berangkatlah Ibnu Abbas. Ia sampai di Haruriyah tepat tengah hari, saat dimana mereka sedang tidur siang.</p>
<p>Sesaat kemudian, orang-orang Khawarij bungkam. Mereka menemukan kebenaran dalam setiap argumen Ibnu Abbas r.a. Ia berpikir dengan sangat brilian. Sedikit sekali sahabat Nabi Saw secemerlang Ibnu Abbas r.a. 4000 orang-orang Khawarij bertaubat. Mereka kembali kepada kebenaran setelah berhadapan dengan sepupu Sang Nabi tersebut.</p>
<p>Ibnu Abbas telah mengajari kepada kita bagaimana seharusnya seorang mukmin berpikir, memupuk pemahaman, dan menyampaikan argumentasi. Pernah suatu ketika ia ditanya cara mendapatkan ilmu. Dengan begitu meyakinkan beliau menjawab, “Dengan lidah yang banyak tanya dan hati yang banyak paham”. Sederhana memang. Tetapi itulah kuncinya. Kecemerlangan berpikir dan hebatnya argumentasi tidak datang dengan sendirinya, ia harus diusahakan. Kematangan intelektual pun tidak lahir dengan begitu saja, ia didapat setelah berlelah-lelah dalam menuntut ilmu. So, kalo pengen pinter bin cerdas, tirulah Ibnu Abbas. Nggak gampang bete kalo lagi belajar dan nggak pernah bosan untuk menyampaikan. Semangat! <i>[disadur dari tulisan Kusnady Ar-Razi]</i></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/berpikir-secerdas-ibnu-abbas/">Berpikir Secerdas Ibnu Abbas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/berpikir-secerdas-ibnu-abbas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
