<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>fiksi-sejarah Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/fiksi-sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Mar 2016 02:40:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2016 02:40:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1412</guid>

					<description><![CDATA[<p>Episode 14 MajalahDrise.com &#8211; Semakin dekat Mutsana dan Jabal dengan apa yang mereka sangka mereka lihat, semakin jelas bahwa pandangan mereka tidak tertipu. Ada seorang lelaki yang sedang duduk di tengah-tengah gersangnya padang pasir, lelaki itu sepertinya sedang merintih kesakitan. Jarak mereka dengan lelaki itu semakin dekat, tinggal tiga puluh lima meter lagi. Tiba-tiba Jabal &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah/">Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/">Episode 14</a></p>
<p>MajalahDrise.com &#8211; Semakin dekat Mutsana dan Jabal dengan apa yang mereka sangka mereka lihat, semakin jelas bahwa pandangan mereka tidak tertipu. Ada seorang lelaki yang sedang duduk di tengah-tengah gersangnya padang pasir, lelaki itu sepertinya sedang merintih kesakitan. Jarak mereka dengan lelaki itu semakin dekat, tinggal tiga puluh lima meter lagi.</p>
<p>Tiba-tiba Jabal melambaikan tangannya sambil mengepal. Memberi tanda agar Mutsana segera menghentikan derap langkah untanya. Mutsana terkesiap dan mereka segera menarik tali kekang unta kuat-kuat hingga kedua unta itu berhenti.</p>
<p>Mutsana dan Jabal memicingkan mata mereka untuk meningkatkan daya pandang. Di tengah-tengah padang pasir yang kosong dan gersang itu ada seorang lelaki yang sedang duduk dan kelihatannya sedang merintih kesakitan. Mutsana dan Jabal berhenti dengan tetap menjaga jarak aman dari laki-laki itu, sebab mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seorang agen rahasia memang harus seperti itulah cara mereka bertindak.</p>
<p>“Ada seorang lelaki yang sepertinya sedang membutuhkan pertolongan,” kata Mutsana.</p>
<p>Sayup-sayup mulai terdengar suara lelaki itu meminta tolong. Sebelah tangannya melambai pelan kepada Mutsana dan Jabal, sebelah tangannya yang lain menopang tubuhnya.</p>
<p>“Aku meminta kita berhenti karena kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Jabal, “Kita tidak tahu siapa dia dan kondisi apa yang sedang terjadi padanya.”</p>
<p>“Dia melambai pada kita, dia meminta pertolongan kita,” kata Mutsana.</p>
<p>“Tunggu dulu,” Jabal menoleh ke sekelilingnya. Dia memerhatikan keadaan sekitarnya. Dia sapukan pandangannya kepada pasir-pasir dan gunung-gunung yang kokoh itu, seolah-olah ingin sekali mengetahui apa yang ada di balik semua itu. Salah satu tangannya melindungi matanya dari sinar matahari yang menyilaukan, matanya terpicing jauh. Namun tidak ada apa-apa, padang pasir tetaplah kosong, gunung-gunung cadasnya tetap bisu. “Aku curiga kepada orang itu. Lebih baik kita terus saja.”</p>
<p>Mutsana menggeleng sambil melipat tangan di depan dadanya. “Bagaimana mungkin kita terus saja, sementara ada orang di depan mata kita membutuhkan pertolongan kita?”</p>
<p>Jabal mendengus, dia sendiri bingung tentang apa yang mesti mereka lakukan. Salah satu sisi hatinya amat ingin menolong orang itu, tapi sisi hatinya yang sebelah lagi berkata lain, mungkin ada sebuah jebakan. “Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kita tidak tahu apa-apa tentang orang itu.”</p>
<p>“Justru karena kita belum tahu, maka kita mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya.Jika kita tetap di sini kita tidak akan mengetahui apa-apa. Lihatlah, dia membutuhkan pertolongan kita.”</p>
<p>“Aku khawatir ada jebakan yang sedang dipersiapkan untuk kita,” Jabal mengembuskan napasnya. Dia benar-benar kebingungan.</p>
<p>“Jebakan apa? Dengan menggunakan orang itu? Aku rasa tidak, orang itu pasti terjatuh dari kudanya, mungkin kakinya patah atau terluka.”</p>
<p>“Kita tidak tahu pasti tentang hal itu,” sergah Jabal.</p>
<p>“Karena itulah kita harus ke sana dan segera menolongnya,” kata Mutsana.</p>
<p>Dengan enggan akhirnya Jabal sepakat dengan komandannya. Mereka memacu unta mereka untuk menghampiri seorang lelaki di tengah-tengah padang pasir itu. Semakin mereka mendekat semakin jelaslah apa yang terjadi pada lelaki itu. Sementara Jabal tak henti menoleh ke sekelilingnya untuk memantau keadaan yang tetap saja terlihat sepi.</p>
<p>Seorang lelaki terjatuh di atas pasir, dia merintih karena kaki kanannya berlumuran darah. “Tolong aku… Tolong!”</p>
<p>Lelaki itu masih muda. Kulitnya cokelat dengan hidung bengkok dan janggut yang lebat.Pakaiannya berwarna biru, dia tidak memakai serban dan rambutnya berantakan. Keringat yang bercucuran di wajahnya menyiratkan rasa sakit yang amat sangat. Lukanya menganga di bagian betis sebelah kanan. Mutsana segera melompat dari untanya kemudian berlutut di sisi lelaki itu. Jabal masih tetap saja meneliti keadaan sekitar.</p>
<p>“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Mutsana pada lelaki itu.</p>
<p>“Aku terjatuh dari kuda… Kakiku terluka karena terbentur batu, tolong aku,” ratapnya.</p>
<p>“Jabal, tolonglah!” Kata Mutsana. “Balut lukanya.”</p>
<p>Jabal segera menyobek selendang serbannya dan berlutut kepada luka di kaki lelaki itu. Dia menyeka darah di luka itu dan kemudian terkejut. Dia curiga tentang sesuatu di luka itu. Jabal melirik dengan penuh sangka kepada lelaki itu.</p>
<p>“Ini bukan luka terbentur batu,” kata Jabal pada Mutsana. “Ini luka sayatan pedang.”</p>
<p>Sekilas saja, terhamparlah sebaris senyum kecut di wajah lelaki itu. Tiba-tiba gemuruh menyeruak dari gunung-gunung batu di sekitarnya. seolah-olah gunung-gunung terbelah dan dari sela-selanya keluarlah pasukan berkuda yang bergerak cepat hendak mengepung Mutsana dan Jabal. Pasukan berkuda itu berpakaian hitam-hitam dan wajah mereka yang sangar menjadikan semuanya lebih mengerikan.</p>
<p>Tanpa bicara, kedua agen rahasia itu segera mengabaikan lelaki yang terluka tadi dan memacu unta-unta mereka, melarikan diri. Pecahlah sebuah kejar-kejaran yang mematikan. Seluruh pasukan berkuda berpakaian hitam itu mengacungkan pedang dan tombak. Mereka bersorak dan bersiul-siul tak tentu, dan padang pasir yang sunyi menjadi riuh.</p>
<p>Mutsana dan Jabal pun mencabut pedang mereka masing-masing. Apa pun yang terjadi, mereka bertekad untuk tetap melawan sampai akhir. Mutsana membungkuk di atas punggung untanya dengan penuh deru. Tangan kirinya menggenggam tali kekang unta, sementara tangan kanannya menyatu dengan pedang. Jabal mengguncang tali kekang untanya kuat-kuat untuk menambah kecepatan larinya. Orang-orang berpakaian hitam itu mengejar di belakang mereka.</p>
<p>Seorang prajurit hitam yang berkuda paling depan berhasil mendekati Mutsana. Dia memacu kudanya sekencang-kencangnya agar dapat menyusul kecepatan unta Mutsana. Tangan kanannya bersiap dengan tombak terhunus. Ketika posisinya sudah sejajar di sisi kiri Mutsana, prajurit hitam itu menusukkan tombaknya kepada Mutsana. Angin menderu dan pecah karena tebasan tombak. Dengan mata setajam mata elang, Mutsana mengelak dengan membungkukkan tubuhnya lebih rendah di atas punggung untanya. Dalam posisi yang sulit dan dengan susah-payah, Mutsana mengangkat pedangnya dan menebas ke tangan prajurit hitam itu. Lepaslah tangan prajurit hitam itu dan tombaknya terhempas di atas pasir. Kemudian dia terjatuh dari kudanya dan terjerembab di gurun.</p>
<p>“JANGAN SAMPAI LOLOSSS!!!” Salah seorang dari pasukan hitam itu, yang sepertinya pemimpinnya, memberikan komando.</p>
<p>Para pengejar itu semakin mendekat. Mutsana dan Jabal hampir-hampir terkejar, namun mereka tak akan pernah berhenti berjuang…</p>
<p>Bersambung</p>
<p>Follow @sayfmuhammadisa</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah/">Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1412</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai Episode 11</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-3/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-3/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2016 09:14:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1139</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Jejak di atas pasir itu dibuat oleh dua ekor unta yang ditunggangi oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza. Langit malam yang dingin dan berbintang menaungi kepala mereka yang tertutup serban tebal. Berlapis-lapis mantel membalut tubuh mereka untuk sedikit memberikan perlawanan kepada angin gurun yang dingin. Sesekali angin itu berembus, mengibarkan selendang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-3/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Episode 11</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-3/">Derap Rantai Episode 11</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>drise-online.com</strong> &#8211; Jejak di atas pasir itu dibuat oleh dua ekor unta yang ditunggangi oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza. Langit malam yang dingin dan berbintang menaungi kepala mereka yang tertutup serban tebal. Berlapis-lapis mantel membalut tubuh mereka untuk sedikit memberikan perlawanan kepada angin gurun yang dingin. Sesekali angin itu berembus, mengibarkan selendang serban mereka, membuat mereka makin merapatkan mantel tebal itu ke tubuh mereka. Walau pun keras kondisi yang mereka hadapi, mereka senang dengan semua itu. Mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang lebih senang tidur di atas pelana kuda, dan berbaring di bawah langit malam, asalkan berada di atas jalan <em>jihad fi sabilillah</em>.</p>
<p>Kelap-kelip kota Madinah yang redup telah terhampar di cakrawala mata mereka. Seolah-olah, dari kejauhan, langit malam itu adalah selimut yang amat luas, yang menutupi Madinah dan membuatnya tenggelam dalam kegelapan yang damai. Cahaya-cahaya pelita dan obor di rumah-rumah berkelap-kelip, seakan-akan gemintang bisa diraih oleh tangan manusia.</p>
<p>“Alhamdulillah, kita sebentar lagi sampai di Madinah,” kata Mutsana.</p>
<p>“Subhanallah wallahu akbar,” sahut Jabal sambil mengambil kantung air dari kulit kambing yang menggelantung di pelana untanya. Dia buka sumbatnya dan minum dari sana setelah membisikkan basmallah. Setelah rasa hausnya terobati, dia tawarkan kantung air itu kepada Mutsana.</p>
<p>“Terima kasih, aku tidak haus, untuk nanti saja,” katanya.</p>
<p>Jabal menyumbat kembali kantung air itu dan menggantungkannya di pelana unta. Tubuh mereka terombang-ambing pelan di atas pelana, seiring dengan langkah kaki unta. Angin malam berembus lagi.</p>
<p>“Kalau Khalifah masih terjaga, kita akan segera melapor kepada Khalifah,” instruksi Mutsana. “Tapi jika Khalifah sudah tidur, kita akan menuju masjid dan menginap di sana. Besok barulah kita melapor kepada Khalifah.”</p>
<p>“Siap! Tapi kurasa Khalifah belum tidur karena masih sore,” ujar Jabal. Senyum tipis terkembang di wajahnya.</p>
<p>Padahal puncak malam sedang tinggi-tingginya, tapi Jabal berkata ‘masih sore’. Hal itu karena Jabal mengerti benar bahwa Khalifah Abu Bakar Shiddiq pasti akan selalu menjadi orang terakhir yang tidur setiap malam. Dia tidak akan tidur sebelum memastikan rakyatnya bisa tidur dengan aman. Aman dari kelaparan karena tidak punya makanan, aman dari kedinginan karena tidak punya pakaian dan tempat bernaung, aman dari rasa sakit, dan aman dari rasa takut.</p>
<p>Mutsana mengangguk sambil mengangkat sebelah alisnya, “Yah, mungkin saja.”</p>
<p>Sampailah mereka di pinggir kota Madinah. Pada pintu masuk kota ada sebuah pos jaga, tempat beberapa orang prajurit menjalankan tugasnya mengamankan kota. Ketika mereka melihat ada dua orang penunggang unta yang datang, mereka segera bersiap dengan tombak dan pedang mereka. Kewaspadaan memang harus selalu mereka lakukan.</p>
<p>“Assalamualaikum,” kata Mutsana sambil melambaikan tangan kanannya kepada para prajurit jaga.</p>
<p>Jabal membuka selendang serban yang dia jadikan cadar untuk menutup wajahnya agar para prajurit bisa mengenalinya.</p>
<p>“Wa’alaikumussalam,” sahut salah seorang prajurit jaga. Dia memerhatikan wajah dua orang yang datang itu dengan bantuan cahaya obor yang ada di tangan kanannya. “Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza! Baru pulang dari sebuah misi?”</p>
<p>“Benar, saudaraku,” sahut Mutsana. “Kami hendak menemui Khalifah untuk melapor.”</p>
<p>“Prosedurnya, saudaraku, baru kami akan mengijinkan kalian masuk.”</p>
<p>Mutsana dan Jabal memeriksa tas kain yang terselempang di bahu mereka masing-masing. Mereka mengeluarkan sehelai gulungan perkamen yang terbuat dari kulit kambing. Mereka membuka gulungan itu kemudian menunjukkannya kepada prajurit jaga. Dalam keremangan malam itu para prajurit jaga memeriksa gulungan milik Mutsana dan Jabal. Cahaya obor jadi penerangan.</p>
<p>“Baiklah, silakan masuk, hati-hatilah, ini sudah malam, jika kalian tidak bertemu dengan Khalifah, teruslah menuju ke masjid, menginaplah di sana,” kata salah seorang prajurit jaga.</p>
<p>“Terima kasih, rencana kami memang begitu,” sahut Jabal.</p>
<p>Mereka menerima kembali gulungan perkamen mereka dan menyimpannya lagi baik-baik di tempat semula. Mereka tahu betul bahwa sebagai agen rahasia Khilafah Islamiyah, gulungan itu adalah salah satu hal yang amat penting. Gulungan itu adalah semacam tanda pengenal.</p>
<p>Kota Madinah telah sunyi dan sepi. Mungkin hampir seluruh penduduk kota telah larut dalam tidurnya. Mutsana dan Jabal membiarkan unta mereka berjalan saja melintasi kota. Mereka hendak langsung saja menuju kediaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq.</p>
<p>Sampailah mereka di rumah sederhana milik Khalifah Abu Bakar Shiddiq yang terletak di tengah-tengah kota Madinah. Rumah yang di kala siang hari itu selalu ramai dengan rakyat yang mengadukan permasalahan mereka, kini telah sepi. Yang terlihat oleh Mutsana dan Jabal di rumah itu hanyalah seorang pelayana Khalifah Abu Bakar, Sa’ad bin Ghazwah.</p>
<p>“Khalifah Abu Bakar sedang tidak di rumah,” katanya. “Setiap malam beliau keluar untuk berkeliling kota Madinah.”</p>
<p>“Benar kan, sudah kuduga!” ujar Jabal.</p>
<p>“Dengan siapa?” Tanya Mutsana.</p>
<p>“Dengan Ibnul Khathab.”</p>
<p>“Berdua saja?” Tanya Mutsana lagi.</p>
<p>Sa’ad mengangguk.</p>
<p>“Seperti itulah Khalifah kaum muslim,” ujar Mutsana. “Keliling Madinah hendak mengetahui kondisi rakyat, tapi berdua saja! Bagaimana kalau ada yang berniat jahat?”</p>
<p>“Memang seharusnya bagaimana?” Kata Jabal asal saja sambil menaikkan sebelah alisnya.</p>
<p>“Setidaknya pakai pengawalan, agar kalau ada kemungkinan buruk bisa segera diantisipasi.”</p>
<p>“Begitulah jalan berpikir agen rahasia!” Jabal tergelak sendiri dengan kata-katanya.</p>
<p>Pelayan Khalifah yang bernama Sa’ad itu ikut angkat bicara. “Khalifah ingin agar tindakannya setiap malam ini tidak banyak diketahui orang. Jadi beliau memutuskan bahwa berdua saja cukup.”</p>
<p>“Tenang saja, semoga Allah selalu melindungi Khalifah,” kata Jabal. “Kalau begitu sekarang sudah waktunya kita berangkat ke masjid, sepertinya kita tidak akan bisa menemui Khalifah malam ini. Bagaimana?”</p>
<p>“Baiklah, kalau begitu kami berangkat,” kata Mutsana sambil beralih kepada pria pelayan Khalifah itu.</p>
<p>Setelah bertukar salam mereka kembali menunggangi unta mereka dan berjalan menuju masjid. Malam semakin larut dan angin semakin dingin. Gelap kian pekat ketika semua makhluk telah kembali ke peraduannya.</p>
<p>Masjid Nabawi di kota Madinah adalah seperti pusat kota. Orang-orang beribadah di sana mencari ketenangan dan kebahagiaan sejati kepada Allah <em>azza wajalla</em>. Namun masjid itu bukan hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga hampir untuk segala hal. Pengumpulan dan pembagian zakat dilakukan di sana, angkatan bersenjata dikumpulkan di sana, pengadilan dijalankan di sana, rakyat pun mengadukan masalah yang mereka hadapi di sana, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan. Di sekitar masjid Nabawi pun dibangun rumah singgah, yang biasa disebut <em>shuffah</em>.</p>
<p>Salah satu fungsi shuffah adalah untuk menampung para musafir yang singgah di kota Madinah. Mereka dibolehkan untuk menginap di shuffah dan segala kebutuhan mereka akan dilayani sebaik-baiknya. Mutsana dan Jabal berencana untuk menghabiskan malam dengan menginap di shuffah.</p>
<p>Masjid Nabawi sudah di depan mata, puja-puji kembali dipersembahkan kepada Allah dari hati Mutsana dan Jabal. Mereka hendak melepas lelah sejenak di masjid dengan melaksanakan solat sunnah dua rakaat, setelah itu merebahkan badan barang sejenak melepas penat. Namun perhatian mereka tercuri, karena mereka melihat ada yang datang ke masjid dari arah lain. Ada dua orang yang masing-masing menunggangi seekor unta sedang mendekat ke masjid Nabawi.</p>
<p>Mutsana dan Jabal serta dua orang penunggang unta itu tiba bersamaan di depan masjid. Mereka saling tersenyum satu sama lain setelah mereka saling mengenali. Ternyata dua orang yang datang dari arah lain tadi adalah Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khathab.</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-3/">Derap Rantai Episode 11</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-3/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1139</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai  Episode 10</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2015 01:32:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1072</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “Memangnya ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana. “Seperti apa yang tadi sudah aku ceritakan,” ujar Aswad, “Aku dan timku telah berhasil membangun fasilitas rahasia yang membentang di seluruh kota ini. Kami membangun terowongan-terowongan rahasia dan pintu-pintu rahasia yang tersambung ke berbagai bagian dari kota ini. Pintu rahasia yang kalian lihat di gang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai  Episode 10</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/">Derap Rantai  Episode 10</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “Memangnya ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.</p>
<p>“Seperti apa yang tadi sudah aku ceritakan,” ujar Aswad, “Aku dan timku telah berhasil membangun fasilitas rahasia yang membentang di seluruh kota ini. Kami membangun terowongan-terowongan rahasia dan pintu-pintu rahasia yang tersambung ke berbagai bagian dari kota ini. Pintu rahasia yang kalian lihat di gang tadi adalah salah satunya, dan ada pintu rahasia juga di rumah hantu itu yang dihubungkan langsung dengan tempat ini melalui terowongan. Rumah ini menjadi pusat operasi kami dan di sini pulalah pintu-pintu rahasia itu terhubung dengan pintu-pintu rahasia yang lain lewat terowongan bawah tanah. Jadi jalan pulang kalian tidak akan terlalu sulit seperti ketika kalian datang.”</p>
<p>“<em>Alhamdulillah wallahu akbar</em>,” Jabal memuji Tuhan.</p>
<p>“Dan segala hal yang terkait dengan seluruh fasilitas rahasia yang kami bangun ini sudah terlampir di dalam peta yang kalian bawa di dalam dokumen itu,” tambah Aswad.</p>
<p>“Baiklah, kalau begitu kami akan segera berangkat sekarang juga,” ujar Mutsana. “Semakin cepat kami berangkat semakin baik. Kalau kami terlalu lama berada di sini, khawatir akan berakibat buruk.”</p>
<p>“Ya, kecepatan dan ketepatan memang sangat penting. Tapi ada baiknya kalian memasok makanan dan perbekalan dahulu dari sini untuk keperluan di jalan. Kalian pasti kelaparan. Nanti, ketika malam sudah datang, barulah kalian berangkat, aku akan memandu kalian sampai keluar tembok kota.”</p>
<p>Mutsana dan Jabal saling pandang, ide apalagi yang lebih baik dari ini? Mereka pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Aswad.</p>
<p>“Semoga Allah melindungi anda dan seluruh tim anda. Terima kasih banyak.” Kata Mutsana.</p>
<p>000</p>
<p>“Karena orang-orang di kota ini percaya bahwa reruntuhan ini berhantu, maka tempat ini menjadi titik yang aman untuk bersembunyi,” kata Aswad. “Tidak akan ada orang yang berani mendekati tempat ini, bahkan sekadar berpikir pun tidak.” Dia memimpin Mutsana dan Jabal keluar dari sebuah lubang yang ada di sebuah kamar di tengah-tengah reruntuhan Rumah Kematian.</p>
<p>Lubang itu ditutup oleh batu berbentuk persegi berukuran dua meter kali dua meter, yang berbaur dengan lempeng-lempeng keramik yang sudah tidak beraturan lagi di sekitarnya, menjadi semacam pintu tingkap. Pintu itu jadi tersamarkan dan tidak akan ada orang yang tahu.</p>
<p>“Kami bersembunyi persis di sini ketika kami datang semalam,” ujar Jabal. Dia terlihat takjub sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya. “Kalau saja kami tahu, lebih baik kami lewat sini.”</p>
<p>“Lebih baik jangan berkata begitu, apa yang sudah terjadi semuanya sudah ketentuan Allah, dan pasti ada hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang lalu,” kata Aswad. “Rasul melarang kita untuk berkata ‘kalau saja begini, kalau saja begitu.’”</p>
<p>“Astaghfirullah,” gumam Jabal. “Semoga Allah mengampuni kekhilafanku.”</p>
<p>“Di bagian dalam sana ada pintu lagi untuk menuju keluar. Terowongan ini akan tembus di sebuah lubang di lembah sebelah barat, dan kalau sudah sampai di sana artinya tembok kota sudah kalian lintasi.”</p>
<p>Aswad memandu Mutsana dan Jabal memasuki bagian tengah reruntuhan itu dan menyingkap ada sebuah pintu rahasia lagi di lantai. Aswad membukakan pintu itu di tengah kegelapan untuk kedua rekannya.</p>
<p>“Masuklah melalui pintu ini, ikuti terus jalur terowongannya, nanti kalian akan tiba di lembah bagian barat, insya Allah,” katanya.</p>
<p>“Sekali lagi terima kasih banyak,” kata Mutsana, dia menjabat tangan Aswad dan memeluknya.</p>
<p>“Anda adalah seorang mukmin yang amat baik,” giliran Jabal yang menjabat tangan Aswad dan memeluknya. “Semoga Allah selalu meberkahi anda, insya Allah.”</p>
<p>“Semoga kalian berdua selamat sampai di Madinah, Allah akan melindungi kalian berdua, insya Allah. Di luar sini kita tidak boleh menyalakan lilin. Setelah berada di dalam barulah kalian menyalakan lilin,” kata Aswad. “Selamat bertugas.”</p>
<p>Setelah berbalas salam, Mutsana dan Jabal memasuki lubang yang gelap itu sementara Aswad menutupkan pintunya. Lilin pun mereka nyalakan seperti diperintahkan Aswad, dan mereka telusuri terowongan itu.</p>
<p>Tinggi dan lebar terowongan itu masing-masing hanya dua meter, cukup sempit. Bagian tepi dan atapnya disangga oleh balok-balok kayu yang tebal agar terowongan yang beralas dan beratap tanah itu tidak runtuh. Mulut Mutsana dan Jabal terkatup diam, mereka tidak bicara apa-apa sepanjang perjalanan. Sementara hati mereka tetap menggumamkan zikir kepada Allah <em>azza wajalla</em>.</p>
<p>Perjalanan melintasi terowongan itu terasa panjang, walau pun datar-datar saja. Mereka merasa bahwa mereka sedang melintasi sebagian kota Ubullah dan denyut aktifitas kota itu ada di atas mereka. Setelah kira-kira setengah jam berjalan, mereka melihat cahaya redup di depan mereka.</p>
<p>“Itu ujung terowongan,” kata Mutsana, dia berjalan di depan. Sementara Jabal mengikuti di belakangnya.</p>
<p>Cahaya redup bintang gemintang menerobos masuk dari celah. Pintu keluar itu tertutup sebongkah batu besar.</p>
<p>“Pintunya tertutup,” kata Jabal. “Bagaimana mungkin Aswad menuntun kita pada jalan buntu seperti ini?”</p>
<p>“Jangan su’uzhon dulu, mungkin saja Ini sekadar kamuflase,” ujar Mutsana. “Kita coba geser saja.”</p>
<p>Mutsana dan Jabal meletakkan lilin mereka di lantai terowongan. Mereka mengerahkan tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tanpa diduga, batu besar itu bergerak dengan mudah, mereka hanya perlu mengerahkan sedikit tenaga. Mereka segera keluar dari terowongan itu, membentanglah langit malam yang ditaburi bintang-bintang di hadapan mereka. Udara segar segera memenuhi paru-paru mereka setelah mereka merasakan betapa tipisnya udara di dalam terowongan.</p>
<p>Mereka kembali menggeser batu besar itu ke tempatnya semula, agar lubang rahasia itu tetap tersembunyi. Mutsana menengadah ke langit malam, dia tahu, Allah dzat yang tidak pernah tidur sedang menyaksikannya mengemban amanah, dia naikkan kedua belah tangannya. Jabal mengikuti apa yang dilakukan komandannya itu.</p>
<p>“Ya Allah, ya Robbi, tidaklah segala sesuatu terjadi melainkan karena kuasa dan kehendakMu! Terima kasih karena telah memberikan keberhasilan pada kami dalam menjalankan misi ini. Mohon selalu berkahi langkah kami, tetapkan kami di atas jalan yang lurus. <em>Subhanallah walhamdulillah</em>.”</p>
<p>Kedua agen rahasia itu segera merendahkan tubuh mereka, kemudian tersungkur di atas tanah, bersujud kepada Tuhan seru sekalian alam. [@sayfmuhammadisa]</p>
<p>Bersambung…</p>
<p>di  muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #39</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/">Derap Rantai  Episode 10</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-10/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1072</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai Episode 9</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2015 17:53:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=993</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “AKU ADALAH agen rahasia yang telah ditanam di wilayah Persia ini sejak Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam masih hidup,” Aswad memulai ceritanya. “Jadi misi rahasiaku diberikan langsung oleh Rasulullah sendiri. Aku  ditugaskan untuk meneliti dan mengumpulkan informasi apapun yang berkaitan tentang pemerintah Persia di kota ini. Selain itu, aku diperintahkan untuk membangun sel dan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Episode 9</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/">Derap Rantai Episode 9</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; “AKU ADALAH agen rahasia yang telah ditanam di wilayah Persia ini sejak Rasulullah <em>shalallahu ‘alayhi wasallam</em> masih hidup,” Aswad memulai ceritanya. “Jadi misi rahasiaku diberikan langsung oleh Rasulullah sendiri. Aku  ditugaskan untuk meneliti dan mengumpulkan informasi apapun yang berkaitan tentang pemerintah Persia di kota ini. Selain itu, aku diperintahkan untuk membangun sel dan jaringan serta fasilitas rahasia ini. Ternyata Rasulullah memang sudah merencanakan untuk mem-futuhat Persia lewat Ubullah ini. Aku harus terus memertahankan posisiku sampai datang instruksi selanjutnya, dan itulah kalian.”</p>
<p>“<em>Shollu ‘ala Rasulillah</em>, semoga Allah melimpahkan rahmat dan barokahnya kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam,” Mutsana memanjatkan solawat untuk Rasulullah. “Kekaisaran Persia memang batu sandungan yang amat besar untuk tersebarnya Islam, karena itu kita harus berupaya sekuat tenaga dalam menyingkirkan batu sandungan ini dengan jihad fi sabilillah.”</p>
<p>Aswad mengangkat tangannya dan berdoa, kemudian mengusapkannya ke wajahnya. “Selama pelaksanaan tugas rahasia ini aku diperintahkan untuk menyamar menjadi pedagang kain. Panghasilannya lumayan juga, dan bisa dijadikan sebagai penopang hidup sekaligus pendukung untuk menjalankan misi. Anggota timku yang lain ada yang menjadi tukang kayu, tukang batu, sampai pegawai administrasi Persia. Tapi sebagian besar adalah pedagang kain.”</p>
<p>“Jumlah tim anda ada berapa orang?” Tanya Mutsana.</p>
<p>“Tujuh puluh orang.”</p>
<p>“Subhanallah,” gumam Jabal. “Semoga Allah menambahkan barokahNya kepada anda dan tim anda.”</p>
<p>Mutsana memeriksa saku celananya. Dibukanya ikatan tali yang mengamankan isinya, kemudian mengeluarkan sepucuk surat kecil.</p>
<p>“Kami diamanahkan untuk menyerahkan surat ini kepada anda. Allah menyaksikan bahwa sekarang amanah telah kami tunaikan,” kata Mutsana.</p>
<p>Aswad menerima surat kecil itu dalam kedua belah tangannya. Sudah lama sekali masanya sejak dia menerima surat misinya yang pertama kali. “Terima kasih banyak. Semoga Allah memberkahi kalian.” Aswad membuka surat itu dan membacanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Assalamu’alaikum</p>
<p>Kepada saudaraku, Aswad bin Asadi</p>
<p>Aku telah mengutus dua orang saudara kita, yakni Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza ke Ubullah untuk menemuimu. Serahkanlah seluruh laporan temuanmu kepada mereka. Nanti merekalah yang akan membawanya kembali kepadaku.</p>
<p>Misi selanjutnya untukmu dan timmu adalah, lumpuhkan seluruh fasilitas pemerintahan dan militer Persia di Ubullah. Kita akan melakukan futuhat ke Persia.</p>
<p>Saudaramu</p>
<p>Abu Bakar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa anda akan menyerahkan sesuatu setelah membaca surat itu,” kata Mutsana. “Kami ditugaskan untuk membawa sesuatu itu kepada Khalifah.”</p>
<p>“Benar,” Aswad mengangguk. “Aku harus menyerahkan seluruh laporan kepada kalian, dan kalian harus mengantarkannya kepada Khalifah Abu Bakar. Semuanya sudah aku siapkan. Silakan ikut aku.”</p>
<p>Aswad memimpin mereka memasuki ruangan bagi tengah. Di dalam ruangan itu sudah ada dipan-dipan yang empuk dan meja-meja yang terletak di atasnya buah-buahan. Ruangan itu terlindungi dari pandangan luar.</p>
<p>“Silakan duduk dengan lebih nyaman, sementara aku mengambilkan seluruh laporanku,” kata Aswad sambil melayangkan lengannya.</p>
<p>“Terima kasih,” kata Mutsana.</p>
<p>Mereka segera mengempaskan tubuh mereka di atas dipan, lelah sekali rasanya. Namun rasa lelah apakah yang paling nikmat kalau bukan rasa lelah dalam mengemban amanah dari Khalifah kaum muslim. Energi mereka telah terkuras, semalaman mereka tidak tidur, ditambah lagi mereka harus dikejar-kejar seperti pencuri ayam. Jabal segera mengambil sebutir anggur hijau yang ada di atas meja, setelah membisikkan basmallah, dia menjejalkan anggur itu ke dalam mulutnya. Dia benar-benar kelaparan, sudah seharian itu mereka tidak makan.</p>
<p>Tak lama kemudian Aswad muncul lagi di ruangan itu dengan membawa setumpuk tebal perkamen berwarna cokelat. Dia letakkan tumpukan perkamen itu di atas meja kemudian dibungkusnya dengan sebuah tas dari kulit.</p>
<p>“Ini semua adalah dokumen laporan yang lengkap untuk Khalifah Abu Bakar Shiddiq,” katanya. “Dokumen ini harus kalian bawa kepada Khalifah.”</p>
<p>“Insya Allah,” kata Mutsana.</p>
<p>“Oya, bagaimana cara kalian masuk ke kota ini? Lewat gerbang utama?” Tanya Aswad.</p>
<p>“Kami tidak lewat gerbang utama. Tidak mungkin lewat sana,” kata Jabal.</p>
<p>“Benar, pemeriksaannya ketat sekali, dan kami tidak punya surat izin masuk,” tambah Mutsana.</p>
<p>“Memang sulit sekali mendapatkan surat izin masuk itu,” kata Aswad, “salah satu syaratnya adalah tidak boleh beragama Islam. Pemerintah Persia memang benci sekali kepada Islam. Jadi kalau begitu kalian lewat mana?”</p>
<p>“Kami mendaki tembok kota di sebelah barat, dan bersembunyi di Rumah Kematian,” kata Jabal. “Pasti anda tahu, rumah hantu yang ada di sebelah barat kota.”</p>
<p>Aswad tergelak, “Ooh, Rumah Kematian, ya semua orang yang tinggal di kota ini pasti tahu rumah itu. sebenarnya kalau kalian tahu sesuatu tentang rumah itu, kalian tidak harus repot-repot menghadapi kekacauan seperti yang baru saja kalian alami!”</p>
<p>“Ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.</p>
<p>Bersambung</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/">Derap Rantai Episode 9</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-9/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">993</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2015 13:52:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=939</guid>

					<description><![CDATA[<p>Episode 8 drise-online.com &#8211; Sudah hampir dipastikan bahwa Mutsana dan Jabal akan tertangkap, namun Allah berkehendak lain. Tiba-tiba, pada dinding batu gang itu, di sisi sebelah kanan, muncullah pria kurus berwajah kutil, seolah-olah tadi dia bersembunyi di balik udara yang tipis. Ternyata ada sebuah pintu rahasia di dinding batu itu yang warnanya amat serupa dengan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-2/">Derap Rantai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Episode 8</p>
<p><strong>drise-online.com</strong> &#8211; Sudah hampir dipastikan bahwa Mutsana dan Jabal akan tertangkap, namun Allah berkehendak lain. Tiba-tiba, pada dinding batu gang itu, di sisi sebelah kanan, muncullah pria kurus berwajah kutil, seolah-olah tadi dia bersembunyi di balik udara yang tipis. Ternyata ada sebuah pintu rahasia di dinding batu itu yang warnanya amat serupa dengan bagian-bagian dinding yang lain, sehingga tersamarkan. Pria itu melongok dari balik pintu, kemudian melambaikan tangannya, memanggil Mutsana dan Jabal.</p>
<p>Seperti mendapatkan oase di tengah-tengah gurun pasir, Mutsana dan Jabal bergegas menghampiri pintu itu kemudian memasukinya. Pria berkutil buru-buru menutup pintu itu di belakang mereka. Sampailah mereka di sebuah ruangan yang gelap, cahaya matahari hanya menerobos dari sela-sela di bagian atap. Pria berkutil memimpin mereka keluar dari ruangan itu melalui sebuah pintu batu yang tersambung pada bagian belakang sebuah rumah. Kini mereka berada di sebuah dapur. Jantung mereka berdegup kencang, apakah mereka benar-benar telah selamat?</p>
<p>“Kalian sembunyilah di sana, di sudut ruangan ini, aku akan keluar melihat keadaan,” kata Pria berkutil.</p>
<p>Mutsana dan Jabal tak punya pilihan lain, mereka menurut saja pada perintah pria itu yang segera menghilang dari pandangan menuju keluar.</p>
<p>“Apakah dia Aswad?” Tanya Jabal, dia merapatkan punggungnya ke dinding, napasnya masih menderu.</p>
<p>“Semoga saja,” sahut Mutsana.</p>
<p>Tak lama kemudian pria itu kembali, dia terlihat lebih tenang, sepertinya bahaya telah berlalu. Dia menghampiri Mutsana dan Jabal dengan membawa dua gelas air yang menyejukkan.</p>
<p>“Bangunlah, keadaan sudah aman,” kata pria itu sambil menyerahkan gelasnya. “Silakan duduk!”</p>
<p>Dengan segelas air di tangan masing-masing, Mutsana dan Jabal duduk di kursi yang terletak di dapur itu. Setelah membisikkan nama Tuhan, mereka meminum air itu dengan rasa syukur yang berlipat-lipat. Pria itu memerhatikan gerak-gerik Mutsana dan Jabal dengan saksama, terbitlah senyum tipis di wajahnya yang buruk. Sebuah senyuman tulus yang selalu dia perlihatkan ketika dia melayani pelanggannya. Dan bukan cuma itu, tapi juga kepada semua orang.</p>
<p>“Alhamdulillahhh,” Jabal mengembuskan napasnya dengan lega setelah dia meneguk air segelas itu.</p>
<p>“Apakah anda bernama Aswad bin Asadi?” Sepertinya Mutsana sudah tidak sabar, dia langsung mengajukan pertanyaan kepada pria yang ada di hadapannya.</p>
<p>“Akhirnya kalian datang juga, sudah bertahun-tahun aku menunggu kalian. Aku Aswad bin Asadi,” sahut pria itu. Dia kembali tersenyum kepada Mutsana dan Jabal.</p>
<p>Ada sebuah ketenangan dan kesejukan di balik senyum Aswad. Dia melahirkan senyumnya itu dari hati dan imannya. Bahwa seorang muslim mestilah selalu memperlihatkan wajah yang berseri-seri kepada saudaranya, seperti itulah yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shalallahu ‘alayhi wasallam</em>. Dia memang buruk rupa, tapi terpancar ketampanan dari sisi yang lain, dari jiwanya. Dan hal itu hanya bisa terjadi pada orang-orang yang selalu dekat dengan Tuhannya, serta selalu bangun di keheningan malam untuk menyatakan kepada semesta bahwa dia hanyalah hamba bagi Yang Mahapencipta.</p>
<p>“Terimakasih banyak telah menolong kami. Semoga Allah membalas kemuliaan hati anda. Kami amat bersyukur pada akhirnya Allah memertemukan kami dengan anda.”</p>
<p>“Untuk sementara ini keadaan kalian aman, tapi tidak untuk seterusnya, karena prajurit Persia mengadakan razia di mana-mana sebab mereka tahu bahwa kalian belum keluar dari kota.” Kata Aswad.</p>
<p>“Kami mohon bantuan anda, semoga Allah menambah barokah untuk anda,” tambah Mutsana.</p>
<p>“Sebetulnya tadi kami sudah melihat anda, tapi kami ditipu oleh seorang anak kecil yang menunjukkan bahwa Aswad bin Asadi adalah seorang pria bertubuh gemuk,” Jabal berkisah. “Dia langsung saja meneriaki kami sebagai muslim dan terjadilah kekacauan itu.”</p>
<p>“Sepertinya ciri-ciri yang kalian dapat tentang aku hanya pada wajahku, dan tanpa kalian duga, ada satu orang lagi pedagang kain yang wajahnya sejenis dengan wajahku,” Aswad tersenyum simpul sambil meraih kursi untuknya sendiri. “Tidak heran kalau lelaki itu meneriaki kalian sebagai muslim, dia adalah sainganku dalam perdagangan, dan dia sangat membenciku. Namanya Kourosh, dia sudah lama curiga bahwa aku adalah seorang orang Islam. Sebenarnya sebelum dia datang ke pasar ini, tidaklah sulit untuk menemukan aku, saudagar kain yang wajahnya kutilan adalah Aswad bin Asadi, hampir semua orang tahu itu. Ditambah lagi kalian bertanya kepada orang yang salah.”</p>
<p>“Sekali lagi,” kata Mutsana, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menolong kami.”</p>
<p>“Itu sudah kewajibanku. Aku sudah mengetahui kedatangan kalian ketika kudengar kekacauan itu di kejauhan. Ketika orang-orang berteriak sedang mengejar dua orang muslim, aku langsung bergerak. Sebenarnya aku dan timku yang menuntun kalian hingga kalian bisa berada di sini. Jika kalian hendak belok ke tempat yang salah, pasti akan ada anggota timku yang menghalangi jalan kalian agar kalian belok ke jalur yang benar, terus begitu sampai kalian tiba di gang tempat kalian bertemu denganku tadi.”</p>
<p>Mutsana menatap Aswad dengan serius, sementara Jabal melongo. Mereka terpesona dengan semua hal yang dikatakan Aswad.</p>
<p>“Sebenarnya aku kagum sekali dengan pintu rahasia tadi,” kata Jabal sambil mengangkat tangannya. “Aku sempat berpikir bahwa anda bisa terbang, atau bisa menghilang. Sebab jalan itu buntu, tapi anda tak ada di mana pun.”</p>
<p>“Pintu itu cuma salah satu dari pintu rahasia yang telah berhasil kami bangun,” kata Aswad.</p>
<p>“Sepertinya obrolan akan menjadi lebih panjang,” kata Mutsana sambil tersenyum simpul. “Aku rasa anda harus juga menceritakan misi anda kepada kami.”</p>
<p>Aswad menggumam, “Untuk beberapa menit ke depan keadaan masih relatif aman, insya Allah. Jadi kurasa kita bisa berbagi cerita.”</p>
<p>Bersambung,,,,,</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-2/">Derap Rantai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">939</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2015 09:25:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[@sayfghazi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi-sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=901</guid>

					<description><![CDATA[<p>Episode 7 drise-online.com &#8211; “Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai/">Derap Rantai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Episode 7</p>
<p><strong>drise-online.com</strong> &#8211; “Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.</p>
<p>“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.</p>
<p>“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.</p>
<p>Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.</p>
<p>“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”</p>
<p>Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.</p>
<p>“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”</p>
<p>Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.</p>
<p>“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.</p>
<p>“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”</p>
<p>“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”</p>
<p>“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.</p>
<p>“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.</p>
<p>Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.</p>
<h2>“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”</h2>
<p>Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.</p>
<p>Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.</p>
<p>Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.</p>
<p>“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.</p>
<p>Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.</p>
<p>Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.</p>
<p>Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.</p>
<p>Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan <em>kalimatullah</em>. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.</p>
<p>Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…</p>
<p>Bersambung</p>
<p>Follow</p>
<p>Episode 7</p>
<p>“Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.</p>
<p>“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.</p>
<p>“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.</p>
<p>Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.</p>
<p>“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”</p>
<p>Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.</p>
<p>“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”</p>
<p>Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.</p>
<p>“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.</p>
<p>“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”</p>
<p>“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”</p>
<p>“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.</p>
<p>“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.</p>
<p>Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.</p>
<p>“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”</p>
<p>Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.</p>
<p>Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.</p>
<p>Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.</p>
<p>“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.</p>
<p>Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.</p>
<p>Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.</p>
<p>Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.</p>
<p>Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan <em>kalimatullah</em>. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.</p>
<p>Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…</p>
<p>Bersambung</p>
<p>Follow <a class="ProfileHeaderCard-screennameLink u-linkComplex js-nav" href="https://twitter.com/sayfghazi">@<span class="u-linkComplex-target">sayfghazi</span></a></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai/">Derap Rantai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">901</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
