<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>cerpan islam Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/cerpan-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Jun 2016 03:01:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>SI KECIL PENIRU ULUNG Eps 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/si-kecil-peniru-ulung-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/si-kecil-peniru-ulung-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2016 03:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[cerpan islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1654</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Coba cerita sama Bu Husna, kenapa tadi Sandi marah-marah seperti itu..?” Setelah Sandi tampak tenang kucoba mengajaknya bicara. “Itu lho Bu, Raihan sudah menghancurkan mainanku..! padahal aku sudah susah payah membuatnya.” Sandi lansung mencerca Raihan sambil menunjuk-nunjuk wajahnya. baca cerita sebelumnya Pandanganku beralih pada potongan kertas origami yang tadi aku pinta untuk disusun menjadi berbagai &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/si-kecil-peniru-ulung-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">SI KECIL PENIRU ULUNG Eps 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/si-kecil-peniru-ulung-2/">SI KECIL PENIRU ULUNG Eps 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Coba cerita sama Bu Husna, kenapa tadi Sandi marah-marah seperti itu..?” Setelah Sandi tampak tenang kucoba mengajaknya bicara.</p>
<p>“Itu lho Bu, Raihan sudah menghancurkan mainanku..! padahal aku sudah susah payah membuatnya.” Sandi lansung mencerca Raihan sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/si-kecil-peniru-ulung/">baca cerita sebelumnya </a></p>
<p>Pandanganku beralih pada potongan kertas origami yang tadi aku pinta untuk disusun menjadi berbagai macam bentuk. Sandi memang tergolong anak yang kreatif. Dari potongan-potongan kecil kertas orogami yang berbentuk bangun datar (segitiga, persegi, jajar genjang, dll), dia mampu menyusunnya menjadi bentuk-bentuk yang unik. Misalnya orang  yang sedang naik kuda, orang yang sedang membawa pedang, dll. Dan kini susunan-susunan unik itu telah berserakan.</p>
<p>“Apa benar seperti itu Raihan?”, kucoba mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya.</p>
<p>“Tadi saya tidak sengaja lho Bu&#8230;”, lirih Raihan berkata sambil menahan air mata.</p>
<p>“Tadi saya buru-buru mau wudhu, karena setelah ini kan jamnya shalat <em>dhuha</em>.. saya bersegera karena khawatir keburu antre..”, dia melanjutkan. Penyesalan tampak jelas dari raut wajahnya.</p>
<p>“Bohong! Kamu sengaja, kan?! Kamu memang ingin merusak mainanku! Aku nggak mau tau, pokoknya harus diganti.” Sandi menyahut masih dengan kemarahannya.</p>
<p>“Sandi, tadi kan Raihan sudah bilang..bahwa dia tidak sengaja merusakkan mainanmu..”, aku tetap berusaha menenangkannya.</p>
<p>“Nah, sekarang Raihan minta maaf dulu kepada Sandi. Bilang apa anak Shaleh kepada Sandi?” aku beralih bicara pada Raihan.</p>
<p>“Aku minta maaf ya Sandi karenatidak sengaja telah merusak mainanmu..”, ia mengusap air matanya dan mengulurkan tangan kanannya kepada Sandi untuk meminta maaf.</p>
<p>“Tidak mau! Aku ndak mau memaafkan”, Sandi mendekap tangannya dan memalingkan wajah.</p>
<p>“Sandi, anak yang pemaaf.. tadi kan Raihan sudah bilang bahwa dia tidak sengaja.. dia juga sudah minta maaf kepada Sandi kan..? kenapa Sandi tidak memafkan? Allah SWT saja mau lho mengampuni kesalahan-kesalahan hambanya yang berbuat salah.. kecuali dosa syirik, yakni orang yang mempersekutukan Allah. Kira-kira antara Sandi dengan Allah, lebih agung yang mana ya&#8230;?</p>
<p>“Lebih agung Allah Bu..”, dia menyahut. Kali ini dengan suara agak pelan.</p>
<p>“Nah, berarti kalau Allah Yang Maha Agung saja mau memaafkan hambanya yang bersalah, kira-kira Mas Sandi yang hanya sebagai manusia biasa seharusnya bagaimana ya?” aku berusaha mengajaknya berpikir supaya dia mau memaafkan temannya.</p>
<p>Tapi tak disangka, dia justru mengerucutkan bibir dan kembali memalingkan wajahnya.</p>
<p>“Mas Sandi.. kita itu sebagai manusia.. pasti pernah berbuat salah. Rasulullah saja yang seorang Nabi juga pernah kok berbuat salah.. masih ingatkan kisahnya Rasulullah yang mengabaikan Abdullah ibnu Ummi Maktum dalam surat ‘abasa? Padahal Abdullah waktu itu ingin belajar tentang Islam, tapi Rasulullah waktu itu justru bermuka masam. Lalu Allah menegur beliau dalam surat ‘Abasa. Yang kemarin ibu ceritakan itu lho.. nah, nabi saja pernah salah kok. Apalagi kita.. mas Sandi, Bu Husna, juga Mas Raihan. Pasti banyak sekali kesalahannya..entah disengaja atau tidak.. tapi setelah kita tahu kesalahan, kita wajib beristighfar dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Kita semua kan muslim.. <em>almuslimu akhul muslim. </em>Muslim yang satu bersaudara dengan muslim yang lain.”, terangku.</p>
<p>“Nah, Sandi seorang muslim kan? Maka sudah selayaknya saling memafkan saudaranya yang berbuat salah.”, aku kembali merajuk.</p>
<p>“Ndak mau!” dengan tegas dia menjawab. Yaa Allah.. begitu sulitnya anak ini memaafkan orang lain.</p>
<p>“Mas Sandi.. kenapa Mas Sandi belum bisa memaafkan Raihan?” kuajukan pertanyaan pada Sandi dengan pelan.</p>
<p>“Kok enak sekali lho Bu dimaafkan? Lha saya waktu berbuat salah kemarin, sama ibuku kok ndak dimaafkan..?”, dia justru balik tanya. Aku tersentak.</p>
<p>“Memangnya Sandi salah apa sampai ibu tidak mau memaafkan?” aku mencoba mengorek informasi dari Sandi.</p>
<p>“Kemarin itu saya mecahkan piring di rumah.. padahal saya ndak sengaja.. saya sudah minta maaf.. tapi ibu tidak mau memaafkan..”, Sandi berkisah dengan wajah sendu.</p>
<p><em>Laa haula wa laa quwwata illa billah</em>. Seketika saya merinding mendengar jawaban Sandi.</p>
<p><em>Yaa Rabbiy</em>..Begitu pintarnya anak meniru apa yang dia <em>ihsas</em> (indera). Dan tak bisa dipungkiri, orang yang paling dekat yang mereka, yang sehari-hari bertemu, dan menghabiskan waktu bersama mereka adalah orang tua mereka.. mereka benar-benar belajar dari apa yang dia lihat pada orang tuanya.. maka sungguh sangat miris jika orang tua sampai salah menanamkan karakter pada diri anak. Karena sangat mungkin karakter itu akan menjadi sifat/watak dia hingga dia dewasa.</p>
<p>“Sandi.. coba Bu Husna tanya, tadi sebelum berangkat, Sandi dibuatkan sarapan apa tidak sama Ibu?”</p>
<p>“Iya, dibuatkan sarapan.” Jawabnya.</p>
<p>“Tadi siapa yang ngantar Sandi ke sekolah?” tanyaku lagi.</p>
<p>“Ibu.” Dia menjawab dengan polos.</p>
<p>“Kalau yang nyetrikakan bajunya Sandi..siapa?”</p>
<p>“Ibu juga” jawabnya lagi.</p>
<p>“Tadi ibu ikut membangunkan Sandi untuk shalat subuh apa tidak?”</p>
<p>“Iya, ibu yang membangunkan saya”, dia kembali menjawab.</p>
<p>“Nah, Mas Sandi.. Bu Husna yakin, sebenarnya ibu sudah memaafkan Mas Sandi.. buktinya Ibu lah yang sudah bangunkan Mas Sandi, membuatkan sarapan, nyetrikakan baju, ngantar ke sekolah.. ibu pasti sudah memafkan kesalahan mas Sandi.. Ibu sayang sama Mas Sandi..Makanya, ibu tidak bilang bahwa beliau sudah memaafkan Mas Sandi. mungkin Ibu ingin memberi pelajaran kepada mas Sandi supaya besok lebih berhati-hati lagi.. sehingga tidak memecahkan piring lagi. ” pelan-pelan kupahamkan sambil kuusap kepalanya.</p>
<p>“Sekarang Mas Sandi mau ya memaafkan Raihan..?”, aku memastikan Sandi telah merubah sikapnya yang sulit memaafkan tadi.</p>
<p>“Iya Bu saya maafkan.” Jawabnya dengan ringan..</p>
<p>“<em>alhamdulillah</em>..”.</p>
<p>Hff&#8230; aku menghela napas lega.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini di tepi jalan, di trotoar dekat Bundaran Sekartaji, kembali kusaksikan peristiwa yang nyaris mirip dengan kisah Sandi..  Selesai mengenakan mantel, aku segera meninggalkan tempat itu. <em>Bismillah,</em> ku gas pelan-pelan, menerjang guyuran hujan.</p>
<p>Yaa Allah, sangat mungkin orang setengah baya ini, dulunya adalah Sandi-Sandi kecil yang tak terpahamkan dengan pendidikan yang benar. Dia belajar dari apa yang dia <em>ihsas</em>. Dan orang-orang di sekitarnya memperlihatkan suatu teladan yang kurang tepat, kemudian membentuk karakter hingga ia dewasa seperti sekarang.</p>
<p>Hari ini kudapatkan pelajaran berharga. Di sekitar kita ada anak-anak yang melihat kita. Di sekitar kita ada peniru ulung yang mengamati setiap gerak-gerik kita. Di sekitar kita ada generasi umat yang mencontoh kita.. tidak peduli yang dia lihat dan dia tiru suatu kebenaran ataukah suatu kekeliruan..</p>
<p>Merekalah pemimpin masa depan. Sungguh dosa investasi jika kita memberikan kontribusi keburukan bagi karakter-karakter mereka di masa mendatang. <em>Na’udzubillah min dzalik.</em></p>
<p><em>“rabbanaa hablana min azwajinaa wadzurriyatina qurrota a’yun, waja’alna lilmuttaqiina imaama”. Aamiin </em></p>
<p><em>Oleh: Kholila Djauhary</em></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/si-kecil-peniru-ulung-2/">SI KECIL PENIRU ULUNG Eps 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/si-kecil-peniru-ulung-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1654</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2016 06:27:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[cerpan islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1163</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Namanya juga Bogor, kota hujan. Meski prakiraan cuaca di tipi bilang kalo hari ini cerah, nyantanya siang ini air langit tetap tumpah membasahi tanah Bogor. Brrrr, dingiiin! Imam memarkirkan motornya di samping rumah. Basah kuyup. Ia baru pulang sekolah. Tadinya sih, mau neduh. Tapi kepalang basah, ya, mandi saja sekalian. “Umiiii, Mamsky hujan-hujanan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/">Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Namanya juga Bogor, kota hujan. Meski prakiraan cuaca di tipi bilang kalo hari ini cerah, nyantanya siang ini air langit tetap tumpah membasahi tanah Bogor.</p>
<p>Brrrr, dingiiin! Imam memarkirkan motornya di samping rumah. Basah kuyup. Ia baru pulang sekolah. Tadinya sih, mau neduh. Tapi kepalang basah, ya, mandi saja sekalian.</p>
<p>“Umiiii, Mamsky hujan-hujanan tuuuuh!” teriak Dian, adik Imam yang berusia tujuh tahun, laporan pada Umi yang lagi sibuk menanggulangi titik-titik kebocoran di rumah. Menadahinya dengan baskom.</p>
<p>“Heh! Mamsky, Mamsky!” Imam melotot sambil mengigil di depan pintu. Sumpah! Imam sebel banget. Gara-gara adik perempuan satu-satunya itu keranjingan nonton GGS, Dian memanggilnya Mamsky. “Ambilin anduk!” perintahnya pada Dian.</p>
<p>“Dian, gera ambilin anduk buat Aa Imam,” ucap umi.</p>
<p>Dian manyun, <em>kok Umi nggak marahin A Imam?</em>Tapi, kalau udah Umi yang ngomong, terpaksa deh, nurut.Umi tersenyum simpul melihat tingkah anaknya.</p>
<p>***</p>
<p class="hide-if-no-js"><a id="set-post-thumbnail" class="thickbox" title="Set featured image" href="http://majalahdrise.my.id/wp-admin/media-upload.php?post_id=1163&amp;type=image&amp;TB_iframe=1"><img class="attachment-266x266 aligncenter" src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2016/01/Finding-Hikmah-on-Dakwah-Trip-drise-online.com--300x192.jpg?resize=304%2C194" alt="Finding Hikmah on Dakwah Trip - drise-online.com" width="304" height="194" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Pukul 13.30 WBR (Waktu Bogor Raya). Langit masih menurunkan berkahnya. Selesai membersihkan diri dan sholat Dzuhur, Imam menginvestigasi dapur. Hmm, dinginnya hujan di luar, paling pas dikombinasikan dengan mie instant rasa soto pake telor <em>plus</em> cabe. Dilanjutkan dengan <em>sleepinghandsome</em> bersama seperangkat alat tidur dibayar tuuunai. Eh &#8230;.</p>
<p>***</p>
<p>“Mam! Banguuun!”</p>
<p>“Siaga! Ada penyerangaan! Invasi ruang privaaat!” mendengar teriakan yang lumayan menyakitkan telinganya, Imam refleks berdiri memasang kuda-kuda. Mengira ada penyerangan sungguhan.</p>
<p><em>Buk!</em>Imam tersuruk. Serangan tak terduga datang dari arah belakang. Hebatnya, ia sama sekali tidak merasakan sakit–soalnya senjata yang digunakan cuma bantal guling kesayangannya-. Sedetik kemudian Imam menoleh untuk mencaritahu siapa pelaku penyerangan yang berani-beraninya mengganggu <em>sleeping handsome</em>nya &#8230;.</p>
<p>“Aduuuh Rif! Ngapain sih antum teriak-teriak! Nggak bisa pake cara halus banguninnya?!” Imam bersungut-sungut kesal begitu tahu pelakunya adalah Arif, teman sekelasnya, satu pengajian juga, dan yang Imam syukuriadalah mereka nggak tetanggaan. He &#8230;.</p>
<p>“Cara halus?! Asal antum tahu, ana udah dua puluh menit bangunin antum! Dari cara halus sampe yang sedikit nggak halus!” sahut Arif sebal.</p>
<p>Imam menguap, beranjak malas duduk di sebelah Arif. “Terus, antum ngapain ganggu tidur suci ana, heh?”</p>
<p>“Tidur suci? Tidur beruang yang kayak gitu mah!” sembur Arif, “antum lupa ya, sore ini kita kan ada rapat buat dauroh bulan depan. Makanya ana kesini, soalnya ana udah <em>feeling</em> antum bakalan lupa. Beneran kan <em>feeling</em> ana,” Arif menghentikan khotbahnya. Curiga. Ia segera menoleh ke sebelah.</p>
<p>“Yee, sare deui! Banguun!” Arif menyenggol lengan Imam. Membuat Imam akhirnya tersadar.</p>
<p>“Antum udah melakukan pelanggaran sore ini, menginvasi ruang privat ana tanpa izin,” Imam mengoceh. Antara sadar dan tidak sadar.</p>
<p>“Haha, mana ada invasi minta izin dulu!” Arif tertawa</p>
<p>“Ya udah, antum aja yang berangkat. Nanti hasilnya kasih tahu ana,” ucapnya lagi.</p>
<p>“Ana juga nggak berangkat kalo antum nggak berangkat,” gumam Arif sejurus kemudian berdehem. “Gimana? Nggak enak kan diinvasi? Saudara-saudara kita di Palestina lebih parah. Dari dulu sampe sekarang diinvasi sama Zionis Yahudi, ribuan nyawa syahid, tapi mereka lebih kuat dari kita. Keloyalan mereka pada Islam udah nggak perlu kita raguin lagi. Lha kita? Ngakunya sih pengemban dakwah &#8230;..”</p>
<p>“Pengemban dakwah juga manusia, Rif,” Imam buru-buru memotong kalimat Arif. Kalo nggak, satu jam lagi khotbahnya baru selesai.</p>
<p>Sahabatnya ini, memang paling bisa bikin Imam mati kutu. Imam tahulah maksud Arif. <em>Masa kita yang keadaannya jauh lebih baik, ngaku sebagai pengemban dakwah, malah lalai sama amanah dan dakwah</em>. Tapi, ia setuju dengan Arif. Jadi malu, barusan malas-malasan. Padahal merapatkan agenda dakwah kan juga penting. Ingat kata sahabat, kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir.</p>
<p>Tanpa banyak omong, Imam beranjak mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. Mau mandi, siap-siap sebelum Arif khotbah lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Motor matic yang ditunggangi Imam dan Arif membelah jalan yang padat merayap serta bonus genangan air. Membuat ujung celana mereka, mau nggak mau, ikutan basah. Lagi asyik-asyiknya melaju, tiba-tiba Imam merasa ada yang nggak beres dengan motornya. Imam menepi.</p>
<p>“Kok berhenti, Mam?” Arif bertanya.</p>
<p>“Liatin ban belakang dong, Rif.”</p>
<p>Arif langsung melaksanakan intruksi Imam, melongok ban belakang. “Waaah, kempes, Mam! Bocor ini sih kayaknya!”</p>
<p>“Ya Allah &#8230;,” desis Imam.</p>
<p>Keduanya langsung celingukan cari-cari tukang tambal ban. Arif tersadar, “Di sini sih nggak ada tambal ban. Kayaknya di depan ada.”</p>
<p>Imam menghela napas, “ya udah, ana ke tambal ban dulu. Antum tunggu di sini, ya? Atau sambil jalan aja pelan-pelan. Sekalian telepon Ustadz, kita telat.”</p>
<p>“Ya udah, ana tunggu di sini,” Arif menyetujui.</p>
<p>Satu kali. Dua kali. Tiga kali. “Eeh, kenapa lagi nih motor, kok nggak mau nyala?” Imam kebingungan berkali-kali men-starter motornya tapi nggak nyala-nyala.</p>
<p>“Ya Allah &#8230;,” desis Arif. “Bensinnya ada nggak?”</p>
<p>“Hehe, iya Rif, bensinnya udah di garis <em>end</em>,” Imam nyengir sambil garuk-garuk kepala.</p>
<p>“Astaghfirullah! Ini sih udah jatuh tertimpa tangga pula!” Arif menarik napas-sambil nahan emosi juga-, dasar Imam! Adaaa aja yang lupa.“Pom bensin juga masih di depaaan, Imam!”</p>
<p>Sabar. Sabar. Namanya juga manusia, punya kekurangan dan kelebihan. Gitu-gitu, Imam sahabatnya yang paling solid. Dengan motornya, Imam siap nganterin kemana aja. Gak itung-itungan, apalagi buat dakwah.</p>
<p>“Nah, berarti Allah lagi kasih kesempatan buat kita olahraga Masbro!”</p>
<p>“Olahraga, alesan wae!”</p>
<p>“Stay woles, Masbro!Ini tanda kalo Allah mencintai kita,” Imam masih nyengir. Santai menghadapi Arif yang napasnya udah kembang-kempis nahan emosi. “<em>Innallaha ma&#8217;ashobirin</em> &#8230;,” tambah Imam. Kalau tadi Arif sudah mengingatkan Imam, sekarang gantian Imam yang mengingatkan Arif.</p>
<p>Arif menghela napas. Ikut nyengir juga. <em>That’s right</em>, saat Allah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan mengujinya. Dan Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersabar. Hidup ini kan, emang buat diuji. Apa lagi mereka sedang dalam perjalanan untuk dakwah. Harus ekstra sabarnya. Dakwah memang butuh pengorbanan.</p>
<p>“Bismillaah &#8230;,” gumam keduanya.</p>
<p>Imam memimpin di posisi depan. Sementara Arif mendorong dari belakang.</p>
<p>“Semangaat! Allahuakbar!” seru Imam sambil mengangkat tangan kanannya.</p>
<p>“Mam, antum udah minum obat belum sih?”</p>
<p>“Udah, ana kan minum obat antum tadi,” sahut Imam, lagi-lagi dengan gayanya yang santai. “Ayo, Rif, semangaat! Allahu akbar!”</p>
<p>“Harus, ya, nyemangetinnya begitu?” Arif bergidik. Jadi khawatir beneran sama Imam.</p>
<p>***</p>
<p>Alhamdulillaah, dua puluh menit kemudian akhirnya Imam dan Arif menemukan solusi atas dua masalahnya. Allah mempertemukan mereka dengan pom bensin dan tukang tambal ban yang berdampingan. Saking semangatnya, habis ngisi bensin, mereka langsung lari ke tukang tambal ban. Eh, dasar Imam!Kok, yang lari orangnya aja? Motornya &#8230;.</p>
<p>“Assalamu’alaikum Ustadz&#8230;,” Imam mengucap salam. Sambil menunggu ban ditambal, Imam menelepon Ustadz. Mau ngabarin. “Iya Ustadz, afwan, kita lagi dapet bonus nih. Ban bocor, bensin habis // Oh, kitu? Alhamdulillaah // Ya, syukron, Tadz // Wa’alaikumsalam.”</p>
<p>“Antum kenapa? Jangan bikin ana khawatir dong, dari tadi nyengiir aja,” tanya Arif sambil merapatkan jaketnya. Menghalau dinginnya angin sore kota Bogor.</p>
<p>Imam malah nyengir lebar, “setelah kesulitan ada dua kemudahan. Janji Allah emang nggak pernah salah ya, Rif? Barusan Allah kasih kita pom bensin sama tukang tambal ban deketan. Sekarang, Allah mudahkan kita dengan agenda rapatnya diundur habis Maghrib. Jadi, kita nggak telat. Soalnya, yang lain juga kejebak macet.”</p>
<p>Arif mengerlingkan mata, “itu kata Ustadz?”</p>
<p>“Kata tukang bensin, tadi. Ya, kata Ustadz lah, Rif!”</p>
<p>“Alhamdulillaah &#8230;,” ucap Arif, “bener yang antum bilang. Janji Allah selalu benar. Setelah kesulitan ada dua kemudahan, semua umat Islam percaya sama janji Allah yang ini. Seharusnya, semua umat Islam juga percaya dengan janji kemenangan Islam. Kan, sama-sama janji Allah,” tambahnya.</p>
<p>“Jang, rebes bannya!” seru si Mamang tambal ban separuh baya.</p>
<p>“Alhamdulillah, baraha, Mang?” tanya Imam sambil merogoh sakunya.</p>
<p>“Tilu puluh ribu.”</p>
<p>“Hah?! Tilu puluh?!” Imam dan Arif <em>shock</em> mendengarnya. Nggak salah?!</p>
<p>“Hehehe, heureuy! Delapan rebu.”</p>
<p>Hh, Imam dan Arif menghembuskan napas lega. “Ah, si Mamang, seenaknya wae naikin harga. Untung teu jantungan urang,” ujar Imam sambil menyerahkan empat lembar uang dua ribuan.</p>
<p>“Ah, da’ pemerintah juga seenaknya naikin harga BBM,” sahut si Mamang, “nyesel euy, milih yang polkadot. Sama wae. Nggak mikirin rakyat kecil.”</p>
<p>Arif dan Imam mengerutkan dahi. <em>Polkadot? Ari si Mamang milih naon?</em></p>
<p>“Emang nggak akan ada bedanya, Mang. Soalnya cuma beda orang aja, peraturan yang diterapin mah sama &#8230;,” Arif mencoba menjelaskan.</p>
<p>“Teuing. Sekarang mah, Mamang nggak mau mikirin pemerintah. Kajen jadi urusan orang-orang atas. Yang penting mah, Mamang masih bisa nyari makan buat anak-istri,” Mamang menyela tidak peduli.</p>
<p>Glek! Ini bukan pertama kalinya Imam dan Arif mendengar orang mengeluhkan pemerintah yang pada faktanya tidak juga pro rakyat. Mereka bosan dengan janji-janji manis sang penguasa yang manisnya kayak gulali. Sekali emut, langsung hilang.Parahnya, bukannya mencari solusi. Mereka malah memilih menjadi apatis. Cuek bebek dengan kondisi yang ada. Dan akhirnya bikin mereka jadi individualis. Cuma mikirin diri sendiri.</p>
<p>Ini dia pe-er besar para pengemban dakwah. Menyadarkan umat Islam tentang kebobrokan sistem yang ada, Kapitalisme beserta anak-cucunya (Demokrasi, Sekulerisme, dll). Dan menyadarkan mereka akan kewajiban untuk terikat pada ajaran Islam kaaffah. Menyeluruh. Nggak setengah-setengah. Yang hanya bisa diterapkan dengan Khilafah. Tapi, Karena yang akan kita ubah adalah umat. Jadi, pe-er besar ini nggak bisa kalau hanya dipikul per orang. Supaya bisa mengubahnya, kita harus bergabung bersama jamaah dakwah yang benar-benar memperjuangkan Islam kaaffah.</p>
<p>Imam dan Arif amat bersyukur telah menemukan kelompok tersebut.</p>
<p>“Muhun, Mang, pamit dulu. Besok kita mampir lagi, lanjutin ngobrolnya,” ujar Arif.</p>
<p>Berhubung sudah hampir setengah enam, mereka harus pamit. Agenda dakwah selanjutnya menunggu. Tak lupa mereka menyalami si Mamang. Tanpa banyak bicara, Imam segera memutar kunci. Ditariknya rem. Ditekannya strater. Dan, ngeeeng &#8230; kali ini tanpa hambatan.</p>
<p>***</p>
<p>Alhamdulillah. Dua puluh enam menit, lima belas detik kemudian Imam dan Arif sampai di rumah Ustadz, tempat rapat digelar. Yang lain juga sudah datang. Lengkap. Hanya satu orang yang tidak datang karena sakit.</p>
<p><em>Gimana tadi? Katanya kehabisan bensin? Bannya juga bocor? Bukannya telepon saya, biar saya dorongin pake kaki. Jadi, kalian gak usah dorong</em>. Tiba-tiba Imam dan Arif dihujani pertanyaan. Karena perjalanan mereka yang paling dramatis di antara yang lain. Hampir-hampir mereka mau buat konferensi pers untuk mengklarifikasi.Tapi, berhubung adzan Maghrib sudah mengumandang. Mereka urungkan niat itu.</p>
<p>Usai shalat berjamaah, rapat pun dimulai.Adalah sekitar dua jam mereka duduk membuat lingkaran. Bertukar pikiran sambil sesekali diselingin gurauan. Saling memberi masukan. Hingga akhirnya didapati sebuah kesepakatan.</p>
<p>“Alhamdulillah, jadi sepakat ya, ikhwan fillah, dengan susunan acara dan panitia yang kita tentukan hari ini. Semoga Allah memudahkan urusan kita.Dan semoga nashrullah semakin dekat. <em>Jazakumullah Khoiron Katsiran</em> untuk antum semua yang sudah bersedia datang, meski dihadapi dengan berbagai hambatan.Kehadiran satu dari kalian adalah penguat bagi semua. Semoga itu menjadi tiket untuk kita masuk syurga &#8230;.”</p>
<p>Seketika suara, “amiiin,” terucap dari semua yang hadir. Imam dan Arif yang paling khusyuk mengucapkannya.Dalam hati terus merapalkan kalimat pujian serta mohon ampunan pada-Nya. Seketika menyadari betapa pentingnya kehadiran mereka dalam rapat ini.Imam menyesal tadi sempat malas-malasan saat dibangunkan Arif. Begitu pula dengan Arif yang menyesal sempat menggerutu dalam hati saat perjalanannya diuji. Kelak, mereka akan melakukannya lebih baik. Karena dakwah memang butuh pengorbanan, kesabaran dan kebersamaan.</p>
<p>***</p>
<p><em>Oleh : Maswha Faizah</em></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #40</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/">Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1163</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
