“Bu’e aku tuh ndak mau sekolah disitu” Rengekku.1
“Kenapa tho nduk? Sudah kowesekolah disitu saja! Bapak mu itu Kepala Lurah di sini… jadi kamu harus sekolah di sekolah yang bagus dan favorit” desak Ibuku.
“Tapi tempatnya kan diluar kota Bu’e!” Kata ku. “Lha kenapa memangnya? Disana kan juga ada mas Hendra yang kuliah UM, nanti Bu’e carikan Kost yang paling muahal, biar kamu tambah kerasan di Malang ya!” Ibuku tersenyum merayu. “Kenapa harus yang mahal tho Bu’e, itu buang-buang duit namanya” “Biar orang kota itu tahu kalau kamu itu bukan sembarang anak desa!”Kata Ibuku ngotot.
“Mereka itu kan selalu berfikir kalau anak desa itu pasti miskin, ndeso, katrok . lha bu’e ndak terima kalau teman-temanmu itu berfikir gitu ke kamu nduk”. “Jadi ini cuma masalah gengsi saja tho Bu’e?” Imbuhku, tapi Ibuku terdiam. “Percuma Bu’e!, aku ndak minat!”Seketika aku pergi meninggalkan ibuku di ruang tamu.
“Annisa Bu’e belum selesai bicara!” teriak Ibuku tapi tak kuhiraukan. Beliau menyusul ku dan mengatakan “Bu’e sudah terlanjur bilang kebulik-bulikmu, tetangga, ibu-ibu PKK, bu RT, bu RW, para pegawai kelurahan dan kecamatan, kalau kamu akan sekolah di Malang, lha kalau kamu ndak mau, Bu’e sama Pak’e bisa malu!” kata Ibuku panjang lebar. Setelah mengatakan itu Ibuku berlalu. Bu’e lebay!. Aku merasa bosan berhari-hari debat dengan orangtua.
Hanya karena urusan sekolah saja bisa membuat kepala ku pusing. Aku heran dengan orang tuaku kenapa mereka ngotot menginginkan ku masuk sekolah favorit di Malang. Padahal sekolah disana tidak bisa mengeluarkan juara se Jawa Timur. Masih Kalah dengan kota Blitar. Disana katanya kota pendidikan kok malah suruh bayar, disekolah SMP ku aja, banyak temen-temenku yang gak bayar spp. Gerutu ku dalam hati.
Aku memang faham keaadaan dan kedudukan keluargaku, tapi kadang aku juga risih dengan semua ini.Tapi meski aku memaksa tidakingin bersekolah di Malang, tetap saja Ibuku menyuruhku masuk sekolah di Malang. Padahal mauku adalah menjadis antri di pondok pesantren ULIL AMRI di probolinggo. Seperti saran kakaku Mas Hendra. Karena aku sangat kebingungan dengan situasi ini maka aku telepon kakakku, siapa tahu dia bisa membantuku mencari jalan keluar. Dia memang sering aku jadikan sebagai pelarian dari orang tuaku.
Aku mencaritakan semua kepada kakaku. “Lebih baik kowe sampaikan kepada Bu’e saja, kalau kau 2 ingin sekolah di sekolah yang kau minati, timbang kowe terpaksa menjalaninya” kata Kakakku. “Sudah mas tapi Bu’e ngotot, trus aku ndak diberi ijin buat milih sekolah.” Nada bicaraku berputus asa. “Pesan ku meski Bu’e udah merayu mu dengan macam-macam benda, tapi jangan sampai tergoda, bisa fatal urusannya Nis. Kuat kan imanmu Nis.
Dulu aja meski rasul ditawari harta, wanita dan tahta, beliau tetep pada pendiriannya Nis, artinya beliau lebih memntingkan iman ketimbang harta”. Aku terkaget-kaget sejak kapan Kakakkuu jadi pandai ceramah?. Apa hubungannya antara pilih sekolah dengan Rasul?. Meski aku kurang faham apa yang dikatakan, aku hanya meng iya kan sarannya saja. Meski dia mencotohkannya terlalu jauh menurutku. Sore harinya Ibuku mendekatiku “Nanti kalau kowe mau sekolah di Malang, Bu’e belikan Ha-phe baru, Bu’e beli kan laptop, trus sepdha motor baru” rayunya.
“hah! Benar Bu’e!” Aku meloncat kegirangan dari tempat tidur q. Ibuku mengangguk dan tersenyum. “Kowe mau tho sekolah di Malang?” Ibu q tersenyum merayu. Aku mengangguk setuju. Maaf mas tenyata saranmu kalah dengan gadget yang Bu’e yang berikan, Maaf ya rasul kalau engkau lebih memilih iman, maka aku memilih gadget. Hehehe….. Sudah sangat lama Aku mengingin kan gadget baru juga sepedha baru. Dulu aku meminta kepada bapak ku sampai merengek-rengek tidak pernah diberi. Lumayan juga bisa bergaya jadi anak kota hehehe…. Tibalah saat pengumuman. Pagi-pagi sekali Ibuku membangunkan aku.
Kulirik jam di dinding kamar ku menunjukkan pukul setengah 4 pagi. Rasa kantuk yang berat masih menggelayutiku, berat rasanya untukku menanggalkan selimutku. Apalagi ini bulan Juli, hawa dingin di desaku sangat menusuk tulang. Tapi buku menarik lenganku agar aku cepat-cepat bersiap pergi ke Malang. Pukul 09.00 pagi aku tiba di Malang, didepan pintu gerbang sekolah faforit, SMKN 4 Malang. Pertama kali aku melihat sekolah ini kesan mewah sangat terasa. Sangat mudah melukiskan sekolah ini. Tampak dari depan gerbang besar membentang.
Ruang-ruang kelas bertingkat, dan setiap kelas disediakan LCD dan screen. Di setiap sudut kelas terdapat sebuah AC. Setiap murid memiliki tempat duduknya sendiri-sendiri. Jangan dibayangkan meja kursinya terbuat dari kayu, seperti jaman baheula. Kursinya terbuat dari bahan sintetis yang tebal, kaki-kaki mejanya terbuat dari besi, begitu pula dengan kursinya. Setiap meja memiliki laci yang berfungsi sebagai loker karena memilki kunci kombinasi. Menurutku kelas di sekolah ini tidak jauh berbeda dengan kantor, infentaris kelasnya sangat modern dan nyaman. Tapi tidak ada gairah untuk ku sekolah disini. 3 “Ini satu-satunya sekolah Grafika negeri di Jawa Timur nduk, diindonesia saja Cuma ada 4 sekolah Grafika yang negri, salah satunya ya di Malang ini, pualing baik ini” kata ibuku semangat. Aku menghela nafas. “Kenapa ndak di SMA saja thobu’e?” “Sekarang itu jamannya es-em-ka” Terang bukuku.
”Yang paling banyak minatnya itu sekarang SMK, jadi kamu harus bisa masuk, apapun yang terjadi kamu harus bisa masuk sekolah favorit, mau biayanya mahal pun tak bayar nduk” Suara Ibuku terlalu keras, sehingga menarik perhatian para calon pendaftar lainnya. “Kalau aku sekolah SMK pasti ujung-ujungnya aku dididik jadi buruh bu’e!” “Hush! Ngomong apa kowe nduk”. Bantah Ibuku. 2 orang petugas mengeluarkan papan pengumunan berisi kertas pengumuman. Baru beberapa detik papan itu dipasang, lansung diserbu semua orang tua wali murid, tak terkecuali ibuku. Beliau mencoba masuk dikerumunan itu, tidak peduli yang beliau sikut adalah perempuan atau laki-laki. Yang terpenting bagi beliau adalah bisa melihat, apakah namaku masuk kedalam daftar itu apa tidak. Dari kejauhan aku memandangnya tanpa ada rasa antusias sedikit pun. Aku yang sekolah, eehh…malahbu’e yang semangat (+_+).
Gumamku. Dalam hati aku berdo’a agar aku ti dak diterima, kalau sudah begitu aku bisa menggunakan hak pilihku untuk menentukan kemana aku akan sekolah. Aku tersenyum penuh arti… (^_^).
Tapi senyuman ku buyar seketika. Ibuku kegirangan saat mengetahui aku berhasil masuk sekolah yang kupijak ini, jadi 10 besar pula.OMG (T_T). Ya wes lah nurut 4 5 wae, lha wong aku sudah dibelikan gadget apik-apik. Dengan tinggal di kos yang lumayan mewah, motor yang mentereng, gadget yang canggih, betul kata Ibuku mereka memandang ku bukan sembarang anak desa, mereka terkaget-kaget saat aku megeluarkan gadget ku keluaran paling terbaru. Hilang sudah dibenak mereka bahwa aku anak desa yang katrok, ndeso, jadul, old school dll.
Aku fikir semua akan berjalan dengan baik tapi ternyata tidak. Mata pelajaran produktif tak bisa aku kuasai, ketika praktek aku sering dimarahi guru produktif karena kecerobohan ku. Bayang kan saja ketika guruku menyuruhku 6 memotong kertas ukuran plano menjadi ukuran A4 eh aku malah potong jadi B4, ketika guruku menyuruh ku menggambar objeck sebuah mesin pembuat film cetak, hasil gambar ku malah tak ubahnya seperti mesing pemotong roti, jauh dari objek yang dicontohkan. Dan yang paling parah 7 ketika pelajaran montage aku mendapat tugas untuk 8 membuat gambar raster aku sering mematahkan ujung jarum 9 raphido.
Bisa dibayangkan harga satu batang raphido itu mencapai angka ratusan ribu rupiah. Saat ujian akhir semester 10 aku sukses menumpah kan cairan developer . Aku sudah berusaha untuk mengikuti irama pembelajaran di sekolah ini tapi sulit bagiku. (+_+). Akhirnya nilai ku hancur lebur. Nilai raport ku banyak yang merah. Tak satu pun nilai ku yang berwarna hitam. Matilah aku (T_T). Akhirnya ibuku marah besar saat melihat deretan nilai merah diraportku. 11 “Opo iki ndug? rapot mu kok merah semua? Kobongan 12 koyo ngene , hah!” Bentak Ibuku.
Aku hanya bisa menunduk pasrah. “Semua maumu sudah Bu’e beri, tapi opo’o kowe kok 13 malah males koyo ngene ?” “Aku ndak malas Bu’e Tapi….karena aku memang ndak bisa mata pelajaraannya”. Jawabku. 14 “Wes kuwi mung alas an mu wae “. Aku hanya menunduk. Keesokannya aku bertemu dengan kakakku yang sedang menempuh kuliah di Universitas negeri Malang. Aku menceritakan semua padanya. “Aku musti Piye tho mas ?” Ucap ku lesu. Kakak kumeng hela nafas “Sekarang mas Tanya, kenapa kamu memilih sekolah itu ?” “Ya karena Bu’e sudah membelikanku sepedha motor keluar terbaru, laptop keluar terbaru dengan procecor paling canggih, Hand phone keluaran terbaru, sewakan aku kost yang mewah. Awalnya kau juga ndak mau mas. Tapi kalau aku ndak punya semua itu, nanti mereka menganggapku anak kampungan mas, jadinya aku terpaksa mau sekolah disitu mas,”. Jawabku panjang lebar.
“Astaghfirullah…. Jadi hanya karena iming-iming seperti kamu mau sekolah?”. Aku mengangguk. “Lha wong Bu’e ngotot banget mas, kalau aku nggak sekolah disitu Bu’e gak akan belikan, padahal aku punya pilihan sendiri, coba Bu’e mau membelikan sepedha,laptop, dan Hp baru tanpa syarat, jadinya kan ndak kaya’ gini, aku sekolah dengan terpaksa”. Imbuh ku “Kamu juga sih dek! Dapat iming-iming begitu kamu mau mengorbankan masa depan mu.” “Aku ini kan hanya korban dari kegengsian orang tua mas!” aku memmbela diri.
“Trus tujuan mu untuk sekolah itu apa?”. Tanyanya lagi “Ya biar dapat nilai, trus dapat ijazah, trus juga cari ilmu“ Jawabku.” “Kalau kamu sekolah dengan tujuan selain mencari ilmu, bisa-bisa kowe menghalal kan segala cara, tapi kalau niatnya karena ibadah, insya Allah akan mendapat pahala!”Jelasny a Panjang lebar. “Menuntut ilmu itu ibadah dek, Rasullullah saja memerintahkan kita untuk menuntut ilmu meski harus pergi ketempat yang jauh sekalipun” Meski tak benar2 paham dengan yg dikatakannya, aq mengangguk saja. Entah sejak kapan masku jd sangat religious “Tapi aku bener2 gak bisa mengikuti pelajaran disekolah itu mas”.
Rengekku “Kalau koe pindah sekolah menurut ku itu ndak menyelesaikan masalah, malah itu jalan yang berputus asa. Sekarang begini saja Nisa, lebih baik kamu ndak perlu pindah sekolah, yang mesti koe lakukan adalah memperbaiki nilai-nilaimu yang jelek. Mas yakin kok Nisa pasti bisa mengikuti pelajaran di sekolah, ”. Kakakku mengacak-ngacak rambutku. Dengan wajah yang muram aku sangat pasrah dengan keaadaan ku sekarang, rasanya maju kena’ mundur kena’, kalau pindah sekolah otomatis aku harus turun kelas satu, gak pindah nilai ku hancur. “Koe harus hadapi, maju dan Insya Allah pasti menang, Mas Hendra tahu caranya bagaimana, biar koe bisa semangat sekolah ”. Meski aku agak sedikit tidak percaya, tapi kata-kata kakakku membuat ku sangat lega. Memang kakakku ini orang yang tepat untuk aku dijadikan pelarian hehehe….. (^_^)
Di masa-masa liburan semesterku, kakakku mengajakku ke tempat kajian-kajia Islam yang bertemakan remaja. Aku fikir tempat pengajian itu hanya untuk ibu-ibu atau mbah-mbah yang sudah sepuh, tapi ternyata kakakku memiliki kelompok dan teman-teman yang sangat concern didunia remaja. Jika mereka mengadakn kajian Islam temanya sangat menarik contohnya saja DIARY ANAK SEKOLAH, WARNA WARNI KEHIDUPAN REMAJA, KRISPI (Kajian Remaja Islam Penuh Inspirasi) dll. Acara dan materinya sangat ispiratif sekali, kakak-kakak yang member kajian sangat mengerti masalah dikalangan remaja. Dari kajian-kajian itu aku menyadari bahwa Islam memang the way of right, dan tidak seharusnya aku berputus asa karena masalah ku.
Saat semester kedua Alhamdulillah aku menjadi lebih semangat lagi. Aku meminta pada Bu’e untuk kos ditempat yang lebih sederhanan saja, karena kesan mewah membuatku terlihat sombong. Sedikit demi sedikit nilai ku merangkak naik. Aku juga melatih keterampilan ku saat praktek disekolah. Endingnya Aku mulai disiplin untuk mempelajari Islam secara Kaaaffah (^_^)[] Catatan kaki 1. Kamu 2. Dari pada yang telah melewati proses montage 3. Sekolah Teknik Percetakan dan Penerbitan 4. Ya sudah lah nurut saja. 5. Bagus-bagus 6. Ukuran kertas yang belum Dipotong 7. Pelajaran Mengatur halaman cetak 8. Teknik menggambar dengan motif dot atau titik 9. . Alat untuk menggambar dg motif dot atau titik, biasanya jg dipakai untuk menghilangkan bercak Putih pd film 10.. Cairan untuk memunculkan image pada plat cetak 11. Apa ini nak ? 12. Rapot mu kok kebakaran seperti ini 13. Tapi kenapa kamu malas 14. Sudah itu hanya alasanmu saja
