Renungkanlah
Wahai Pengusaha
Bukan harta yang diharapkan Dien kita
Tapi ketaatan kita sepenuhnya pada Islam!
Rasulullah saw. bersabda: “Semua umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapa yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dia itu enggan.” (HR. Bukhari)
drise-online.com – Hidup emang nggak bisa lepas dari yang namanya produk bisnis. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua menggunakan perangkat yang dihasilkan bisnis. Dari yang sederhana, hingga yang paling canggih sekalipun. Pendek kata, bisnis selalu menyertai hidup dan kehidupan kita. Sampai disini, tak ada yang perlu dikritisi. Semua biasa saja.
Namun, ketika bisnis terkait dengan AMAL PERBUATAN dan dengan SESUATU YANG DIMANFAATKAN (Barang/Jasa), disinilah kita wajib buat mengkritisinya. “Apakah kedua hal itu mampu membawa kita pada keamanan bagi perjalanan di akhirat nanti, atau tidak?” Coz, bisnis pasti akan merefleksi hanya pada 2 opsi saja. 1) Manfaat yang semu, atau 2) Manfaat yang hakiki.
Yeap! Ini penting banget!
Sejalan dengan visi dan misi hidup kita sebagai Muslim terbaik, kini saatnya mengkritisi bisnis kita untuk memastikan agar dengannya kita selamat dan bahagia di dunia. Kita juga mesti memastikan agar bisnis kita menjadi salah satu wasilah (sarana) kita menuju kehidupan bahagia di akhirat kelak.
Emang nggak gampang kelihatannya. Coz, realitanya sekarang kita hidup di dalam sistem hidup yang kapitalistik sekuler (sistem hidup yang telah mencampakkan aturan syariah sedemikian kejinya). Tapi, sebagai hambaNya yang mengaku beriman, maka tentu kita tidak ingin menjadi kategori Muslim yang kacau! Yang hanya menjadikan bisnis kita ladang penghasil uang tapi tak mendapatkan ridhaNya lantaran dalam berbisnis kita masih berhukum pada hukum selain Islam. Seperti berakad keliru dalam menjalin kerjasama berbisnis, salah dalam menerapkan aspek investasi, dlsb.
So, buat D’RISEr yang emang hobi berbisnis mesti memastikan kalo BISNISNYA SESUAI SYARIAH yow?! Coz, patut direnungkan pernyataan Imam Malik: “Siapa yang tidak mempelajari hukum-hukum jual beli niscaya ia memakan riba, suka atau enggan.”
Yes! Syariah udah menetapkan sejumlah hukum terkait bisnis kita. Bisnis kita terkait dengan amal perbuatan, maka bisnis kita harus jelas aspek hukumnya. Kaidah Ushul menyatakan; “Hukum asal perbuatan adalah terikat dengan Hukum Syara’.” Menjadi seorang pengusaha adalah sebuah jalan hidup yang sudah kita pilih. Namun, ketika kita tahu, bahwa dalam hidup ini haruslah semuanya dipersembahkan dalam rangka ketaatan kita pada ALLAH Swt., coz kita pun menyadari segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di hadapan ALLAH Swt., maka menjadi hal yang urgent untuk memegang Hukum Syara’ dalam sepanjang perjalanan bisnis kita. Hmm! [Taste from the best book: “Pokok-Pokok Panduan Syariah dalam Bisnis”-Komunitas Pengusaha Rindu Syariah]
Perbandingan Karakter Bisnis Islami vs Bisnis Non Islami (Konvensional)
Bisnis memang kegiatan untuk mencari keuntungan. Tapi sebagai seorang muslim, kegiatan bisnis tentu saja bukan cari untung semata. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seorang muslim, termasuk bisnis harus senantiasa di dalam koridor syara’. Inilah yang membedakan bisnis Islami dengan bisnis konvensional. Untuk lebih lengkapnya, yu kita simak tabel di bawah ini.
| Islami | Karakter Bisnis | Non Islami |
| Nilai-nilai transendental
Dunia-Akhirat |
Asas Motivasi | Sekulerisme (Nilai-nilai material)
Dunia |
| Profit & Benefit
(non materi/qimah), Pertumbuhan, Keberlangsungan, Keberkahan |
Orientasi | Profit,
Pertumbuhan, Keberlangsungan |
| Tinggi,
Bisnis adalah bagian dari ibadah |
Etos Kerja | Tinggi,
Bisnis adalah kebutuhan duniawi |
| Maju & Produktif,
Konsekuensi keimanan & manifestasi kemusliman |
Sikap Mental | Maju & Produktif sekaligus konsumtif,
Konsekuensi aktualisasi diri |
| Cakap & ahli di bidangnya,
Konsekuensi dari kewajiban seorang Muslim |
Keahlian | Cakap & ahli di bidangnya,
Konsekuensi dari motivasi reward & punishment |
| Terpercaya & bertanggung jawab,
Tujuan tidak menghalalkan segala cara |
Amanah | Tergantung kemauan individu (pemilik capital),
Tujuan menghalalkan segala cara |
| Halal | Modal | Halal & haram |
| Sesuai dengan akad kerjanya | SDM | Sesuai dengan akad kerjanya atau sesuai keinginan pemilik modal |
| Halal | Sumberdaya | Halal & haram |
| Visi & misi organisasi
Terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia |
Manajemen Strategik | Visi & misi organisasi ditetapkan berdasarkanpada kepentingan material belaka |
| Jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran,
Mengedeoankan produktivitas dalam koridor syariah |
Manajemen Operasi | Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran,
Mengedepankan produktivitas dalam koridor manfaat |
| Jaminan halal bagi setiap masukan, proses, & keluaran keuangan | Manajemen Keuangan | Tidak ada jaminan halal bagi stiap masukan, proses & keluaran keuangan |
| Pemasaran dalam koridor jaminan halal | Manajemen Pemasaran | Pemasaran menghalalkan segala cara |
| SDM professioanal & berkepribadian Islam,
SDM adalah pengelola bisnis, SDM bertanggung jawab pada diri, majikan, & ALLAH Swt |
Manajemen SDM | SDM professioanal,
SDM adalah factor produksi, SDM bertanggung jawab pada diri & majikan |
Sumber: Yusanto, M. Ismail dan M.K Widjajakususma (2002)
Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#9