Isu kenaikan BBM selalu menyedot perhatian publik. Baik pemerintah apalagi masyarakat. Pemerintah Iselalu bilang kalo stok BBM kita terbatas, makanya mesti pandai-pandai ngatur distribusinya. Kita gak bakal ngomongin lebih jauh soal isu kenaikan BBM.
Tapi penting buat kita tahu perihal neneknya BBM alias Minyak Bumi. BBM alias bahan bakar minyak adalah hasil dari pengolahan minyak bumi. Minyak Bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam ini adalah cairan kental, berwarna coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi. Di tempat pengilangan, minyak mentah dipisah-pisahkan berdasarkan titik didihnya sehingga menghasilkan berbagai macam bahan bakar, mulai dari bensin dan minyak tanah sampai aspal dan berbagai reagen kimia yang dibutuhkan untuk membuat plastik dan obat-obatan.
Adapun Proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga tingkat, yaitu:
- Pembentukan sendiri, terdiri dari: pengumpulan zat organik dalam sedimen; pengawetan zat organik dalam sedimen; transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
- Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam lapisan sedimen terperangkap.
- Akumulasi tetes minyak yang tersebar dalam lapisan sedimen hingga berkumpil menjadi akumulasi komersial. Minyak Bumi digunakan untuk memproduksi berbagai macam barang dan material yang dibutuhkan manusia.
Dengan banyaknya manfaat yang di hasilkan dari minyak bumi, menjadikan emas hitam ini sebagai rebutan banyak pihak. Terutama negara-negara maju yang sangat berkepentingan untuk memajukan industri negaranya dengan menjajah negara-negara penghasil minyak bumi seperti di Timur Tengah. Para investor asing juga ikut berburu hak pengelolaan minyak bumi di negara-negara berkembang seperti di negeri kita.
Fakta yang tak kalah menariknya tetang minyak Bumi, ternyata Minyak Bumi bukan berasal dari fosil. Baru-baru ini, para peneliti dari Royal Institute of Technology di Stockholm, Swedia telah berhasil membuktikan bahwa fosil-fosil dari hewan dan tumbuhan tidak lagi diperlukan untuk menghasilkan minyak mentah. Temuan ini begitu revolusioner karena sangatlah berarti, di satu sisi akan memudahkan menemukan sumber-sumber energi, di sisi lain sumber energi ini dapat ditemukan di seluruh dunia. “Dengan menggunakan penelitian ini, bahkan kami dapat mengatakan di mana minyak bumi dapat ditemukan di Swedia,” kata Vladimir Kutcherov, profesor yang memimpin riset ini.
Fakta ini menghancurkan hipotesis dari tahun 1757 oleh Mikhailo V. Lomonosov, seorang cendekiawan besar Rusia, yang mengatakan bahwa Minyak Bumi berasal dari fosil. padahal National Geographic, memprediksi jumlah minyak mentah yang tersisa di bumi diprediksi sekitar 1,2 triliun barrel. Berdasarkan gambaran konsumsi saat ini, berarti perkiraan 1,2 triliun barrel minyak bumi akan habis dalam tempo 44 tahun.
Tapi kalau bukan dari fosil ya, bisa lebih banyak lagi cadangannya. Driser, kelangkaan minyak bumi yang selama ini digembar-gemborkan boleh jadi sebuah propaganda untuk menekan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sehingga pemerintah dengan berlindung dibalik kelangkaan minyak bumi tega-teganya mengorbankan rakyatnya dengan kenaikan harga BBM demi mensukseskan agenda privatisasi SDA dalam negeri. Padahal Menurut kabar dari KOMPAS bahwa energi di Abad 21 ini bukan hanya minyak bumi tapi rare earths atau logam tanah jarang (LTJ). Logam Tanah Jarang (LTJ )adalah mineral yang dibutuhkan untuk membuat berbagai benda berteknologi tinggi di dunia. Makanya dalam Islam, Minyak Bumi termasuk salah satu kekayaan alam yang harus dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kebutuhan rakyat.
Bukan diprivatisasi. Itulah wujud nyata mensukuri nikmat atas karunia Dari Allah itu berupa minyak bumi dan bahan baku lainya. Jika penguasa negara yang berjalan sekarang nggak tobat-tobat dalam mengelola SDA dalam negeri, alamat nestapa tiada akhir. Hanya dengan Islam, negara mulis, rakyat sejahtera, kekayaan alam terjaga! [Ridwan]
