diam – diam aku mulai mengamati Jihwon. Dari kejauhan, aku melihatnya menyamarkan diri sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan jaket. DKelihatan sangat mencolok di musim panas, Seoul. Juli ini, aku sering melihat kamarnya kosong. Terutama ketika leader meminta kami untuk makan bersama atau perayaan pesta, dia selalu pulang dan mengakhirinya lebih awal.
“Tidak biasanya dia seperti itu.” Desah Euhnyuk. “Benar, ini aneh sekali.” Lanjutku. “Mungkin dia sedang patah hati, pahamilah dia sebentar.”
Komentar Park Ju sebagai leader yang sangat perhatian. Sudah seminggu dia pulang dari wajib militer. Oh, aku belum mengenalkan siapa aku. Aku Lee Dong Ha. Kami ber Sembilan adalah boyband asal Korea yang sangat tenar. Terlebih seusai kami melakukan beberapa super Show di beberapa Negara, nama kami semakin berkibar. Dan, kini maskot kami, Jihwon mengalami sedikit gangguan jiwa. Dia sering berbicara ngelantur. Akan aku ceritakan lebih jelas lagi. Suatu malam musim dingin, dia menatap bulan itu dengan wajah kelabu. Dia menempelkan wajahnya pada kaca. “Dingin.” Katanya lirih.
Aku yang masih asyik membaca komik Kungfu Boy hanya mendesis, “Ish.., Jihwon-hyung ini sangat aneh. Memang logis kan kalau memang dingin, sekarangkan musim dingin.” “Bukan wajahku yang dingin.”
“Tapi?” “Sesuatu yang lebih dingin. Kau tahu kan? Kalau tubuh manusia itu terdiri dari banyak partikel dan molekul – molekul yang menyusun tubuh koko ini! Aaahhh… rasanya sangat hebat bukan!?” dia terus mengoceh dengan sesuatu yang tidak pernah aku ketahui. “Dan itu semua kuasa Tuhan! Aku heran bagaimana Tuhan melakukanya.” Celetuknya. Aku menoleh tajam padanya, “Tuhan? Apa maksudmu?” dia menutup mulutnya dengan dua buah jari. Lalu dia menggelengkan kepalanya pelan. Matanya menatap kosong. Ia diam.
Lalu tidur bagaikan lupa dengan ucapanya. Tidak hanya itu saja, saat ia melakuan Super Show bulan kemarin, dia menatap dingin tangannya. Dengan gesture yang sangat tepat, dia menyampaikan padaku bahwa ada pikiran yang mengganggunya. Kupikir awalnya dia sakit perut, maka aku meminta tolong pada pelayan hotel untuk membawakanya obat. Namun, saat pelayan itu membawakanya obat, dia sedikit merasakan ada yang tidak beres.
“Tuan Dong Ha, aku rasa Tuan Jihwon sedang dalam keadaan tidak enak. Dia tidur sambil memeluk selimut tebal dan menggigil.” Katanya. Namun saat aku datang ke kamar, dia bilang dia baik – baik saja. Lalu kini, aku berdiri di sini untuk mengintipnya. Dengan pakaian yang memang berantakan untuk menyamarkan keberadaanku. Jihwon masuk ke sebuah restoran selama setengah jam lalu keluar membawa sekardus makanan dengan seorang laki – laki paruh baya. Dia menaiki mobil Hyundai miliknya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Aku pun mengikutinya dengan sepeda motor. Aku memasuki daerah yang terbilang asing di mataku. Dengan helm ukuran besar milik Kyungmin, aku menerobos beberapa kerumunan kalangan anak sekolah. Hyundai itu menggok ke kanan, arah sebuah… “Apa!? Masjid?” tanyaku dalam hati terpaku. Aku sedikit heran, apa yang meracuni anak ini. Seutas tali dengan tulisan yang aneh, dan yang jelas tidak bisa di baca membuatku semakin heran.
Seorang anak – anak menegurku, “Ah, maaf Pak. Kau menghalangi jalan.” “Maaf, ini ada acara apa?” tanyaku. Dia menoleh dengan tatapan heran, “Lho, masa’ Anda belum tau? Ini perayaan ulang tahun Panti Asuhan As-Syifa’. Kalau kau mau, kau bisa masuk. Kelihatanya teman Anda ada di dalam.” Tak salah lagi, itu pasti Jihwon. Namun, aku tidak berani masuk, karena perayaan itu berlangsung sangat lancar. Hingga aku menunggunya di sebuah tempat yang bisa ia lihat.
Dua jam lebih aku menunggu Jihwon. Hingga aku dihubungi oleh Kyungmin, karena helmnya aku bawa, “Maaf! Maafkan aku, apa? Kencan!? Serius!? Baiklah, aku akan mengantarnya.” Lalu leader Park Ju yang mengomel, “Kau kemana saja? Lihat jam berapa sekarang? Apakah kau lupa ada latihan koreografer sekarang? Mana Jihwon? Katanya kau mau menjemputnya…bla…bla…bla” begitulah, dia mengoceh hingga telingaku panas, sesekali aku hanya angkat bicara dengan kata, “Maaf.” Sesosok manusia secara tiba – tiba hadir di hadapan ku. Aku berseru kaget, “Waaaaa!!??” hingga terjengkal ke belakang, betapa terkejutnya aku ternyata itu adalah Jihwon. “Kau…ngapain di sini?”.
Aku berdiri, diam, geram, dan meninggalkanya. Seluruh kujur tubuhku ingin menghantamnya dengan helm Kyungmin. Dia menahanku, “Baiklah! Maaf – maaf! Aku akan menceritakanya! Maaf!” “I don’t need you say sorry to me! Go away from me! Go away from us!” bentakku. Dia menahanku lebih lama. “Okay! I will go! But give me time..” pintanya. Aku mendekatkan wajahku, “Bukan aku yang memutuskan, tapi leader yang memutuskan.” Kataku, lalu menghentakan kaki mantap, menjauhinya. Malamnya, aku, Kyungmin, Park Ju, Oung So, Eng So, Muwon, Likyuk, Jihwon, Euhnyuk, duduk terpaku.
Kata – kata Jihwon masih mengunci mulutnya. Bahkan pertanyaan dari kami semua masih membuatnya terdiam. Hingga leader berkata bijak, “Baiklah, aku tahu, mungkin kau tertekan, tapi cobalah bicara sesuatu pada kami. Aku yakin, kami bisa menerima walau itu sangat mengecewakan.” Dia menundukkan wajahnya dalam – dalam. “Aku tidak bermaksud mengecawakan kalian.. aku hanya melakukan apa yang aku percayai. Saat beberapa bulan yang lalu, yaitu saat aku menggigil di hotel ketika kita sedang konser, aku mulai menyadari bahwa beberapa pemikiran yang menjamur…” “Saat kau bicara padaku soal tubuh dan kuasa Tuhan?” kataku tidak sabaran, Euhnyuk menahanku.
“Aku mau, kalian tahu sesuatu, bahwa mungkin kalian akan marah padaku, kalian akan menghukumku, bahkan mungkin orang tuaku akan mengusirku, dan membuatku menjadi seorang pengemis! Tapi… mungkin kalimat inilah yang akan membuat kalian ke dalam jalan yang benar.” Ocehnya. Kami saling tatap. Likyuk mendesis, “Aigo… jangan mendramatisir lah, cepat lontarkan…” “Islam agama yang benar!” serunya sambil berdiri,
“Aku menahan jawaban ini selama 2 minggu agar suatu saat, bakat misionarisku beralih menjadi dakwah yang baik. Kalian tahu sendiri, ketika kalian berpesta pora, aku menyendiri dan mencoba untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang sebenarnya. Inilah agama yang benar, tolong hargai itu. Andai kalian tahu apa yang aku rasakan! Otak serasa berat dan bingung arah mana. Untuk apa hidup tanpa Tuhan? Dan aku mencari – carinya selama beberapa bulan ini dan menyimpan perasaan bimbang itu sendiri.” “Omong kosong!” bentak Eng So, “Tidak semudah itu kau mempercayakan hal itu!” “Percayalah!” jawab Jihwon, “Berfikirlah, ini untuk kehidupan kita sesudah kematian..”
“Kemana harga diriku untuk masuk agama itu! Aku tidak bisa, maaf.” Oung So angkat bicara dengan cepat, memang dia yang paling sensitive. Leader kami bertindak cepat, dia tidak ingin ada perpecahan di antara boyband, semua nya disarankan untuk kembali ke kamar. Termasuk aku. “Bagaimana dengan Jihwon?” bisikku pada Park Ju. Dia hanya memasang tenang layaknya kakak yang baik, “Biar aku yang urus. Tidurlah.” Aku tidak bisa tidur, lalu mengendap – endap turun ke tangga. Bukan karena alasan lain, karena aku sangat penasaran dengan Park Ju.
Sebenarnya, di ruangan tempat kami tadi berbicara, ada tembusan dari bawah, yaitu tempat penyimpanan alat – alat kebersihan. Dan suaranya pasti kedengaran. Betapa terkejutnya aku, ternyata tidak hanya aku saja, melainkan teman – teman lain juga melakukan hal yang sama. “Eng So!?” teriakku berbisik.
Eng So dan Euhnyuk buru – buru menutup mulutku. Yang lainya juga melakukan reaksi yang sama. Ditelingaku yang tidak bermasalah, aku mendengar suara derap langkah resah dari Park Ju, tidak biasanya dia seperti itu. “Aku tidak menyalahkanmu.” Katanya. Kami pun merapat, dan mendengarkanya. Semoga aku tidak berdosa, begitulah pikirku.
“Kau sudah besar, dan aku bukan siapa – siapamu. Apapun itu, aku tidak berhak untuk mengatur mu atau mengarahkanmu. Semua tergantung padamu. Sekecil apapun itu kau percaya, aku mengharagainya. Semarah apapun kau, aku selalu menenangkanya. Karena kau tahu, aku sangat menyayangi kalian semua.” “Aku juga. Maka dari itu…” “Tapi maafkan aku, Won.” Langkah kaki itu berhenti. “Aku sudah mengerti apa yang akan kau ucapkan. Beruntun dari sorot matamu dan bahasa tubuhmu sudah menjelaskan secara detail padaku.
Dan keputusan, bagaimanapun juga ada di tanganku. Mungkin kau harus kehilangan karir hingga di sini.” Kami tersentak. Hingga Kyungmin menangis di pundak Muwon. Aku merapatkan tubuhku dengan Euhnyuk. Kami tegang. “Aku terima apa keputusan itu.” Jawab Jihwon bijak. “Aku juga terima kehilangan saudara ku, yaitu mereka dan kau. Tapi bukan maksud buruk kau kan Park Ju-hyung? Kau hanya tidak ingin ada perpecahan. Setidaknya, penyampaian yang masih aku simpan di dalam hati, di sudut kerongkongan ini, aku yakin, ketika kalian mendengarkanya, kalian termasuk orang yang beruntung.” Ucap Jihwon penuh keyakinan.
“Jangan buat aku kecewa bicara baik denganmu, Won.” Suara cengiran terdengar, sepertinya itu milik Jihwon. “Yah.. aku akan bersabar menanti kesempatan bicara. Alaikum. Aku pergi dulu.” Langkah kaki Jihwon terdengar. Deritan pintu sekarat juga berbuyi nyaring di suasana sepi. Esok pagi, aku bangun lebih siang. Kelihatanya hari ini manajer tidak memberikan kami agenda. Saat aku bangun, seperti biasa, aku membangunkan Jihwon dengan gitar dan nyanyian parau. Saat aku mengambil gitar, ternyata ada Muwon yang telah berada di ambang pintu.
“Jangan lakukan, nanti Kyungmin menangis.” Ucapnya dingin, “Taruh gitar itu, dan kita sarapan.” “Dia…sudah pergi?” “Sudah, dan memberikan bingkisan ulang tahun padamu. Nih!” dia melemparkanya padaku. Hadiah sekepalan tangan ini dibungkus dengan warna biru laut. Tulisan manis tanganya terlihat dengan kertas lipat potongan yang tidak rapi. “Happy Birthday, Have Nice Day. Alaikum.” Begitu tulisanya. Aku merobek perlahan, sebuah buku kecil berwarna kuning.
Tulisanya adalah, “Who are our God?” Sejak saat itu, aku tidak bisa memisahkan tangan dari buku itu. Isi buku itu sangat bagus dan menarik. Terfikirlah di benakku sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Buku itu menceritakan tentang siapakah Tuhan dengan sosok yang sebenarnya. Aku juga baru berfikir, bahwa sosok Tuhan yang selama ini dibicarakan oleh pastor hanya doktrin, hingga aku tidak memikirkan siapakah sosok Tuhan yang sebenarnya. Sedikit demi sedikit aku bertanya – Tanya, tapi tidak ada yang mampu menjawab dengan jawaban yang tepat. Hingga minggu ini, aku masih bingung. Sekarang, aku sampai pada bab yang mengena, “Christmast, Doktrin or Really Happened.”
Bab ini benar – benar membuat aku harus membakar komik KungFu Boy. Benar – benar menarik! Justru tentang kelahiran sesosok Juru Selamat yang tidak jelas pun dijelaskan di sini. Aku diam – diam menghubungi Jihwon. Karena aku tidak bisa browsing di internet. “Jadi, kau sudah membacanya?” tanyanya sambil melihatku, tersenyum sumringah. “I…iya.” Jawabku, sungkan. “Jangan sungkan, aku akan membantumu.” Katanya. “Tapi, aku minta maaf atas perkataanku waktu itu.” Ucapku memainkan jari, kulihat matanya yang kuyu, “Kau habis nangis?” Lirikannya melesat ke arahku, “eee… I..iya, kemarin, ha…hanya anu, cu..cuman kelilipan…sudahlah, ayo kita ke tempat sumber ilmu.” Dia berdiri. Aku tidak melihat adanya mobil Hyundainya. “Kemana mobilmu?” “Aigo… orang tuaku menariknya, mereka memberi pelajaran untukku, begitu katanya. Tapi aku rasa tidak. Ayo, kita naik mobil Park Eun.” Ajaknya. Aku mengenakan jaketku, supaya tidak ada yang melihatku. Kabar berhentinya Jihwon dengan sedikit bumbu media massa membuat aku muak untuk bicara di hadapan kamera.
“Park Eun? Siapa itu?” ocehku, “Ayah, perkenalkan, ini Dong Ha. Dong Ha, perkenalkan, ini ayah angkatku.” Katanya sambil memperkenalkan kami. Pak Park Eun pun tersenyum dan berjabat tangan denganku Sebuah perpustakaan besar nan gagah bertuliskan “Al – Hidayah” menyambut kami pukul makan siang. Namun lapar tidak menyergapku, karena aku dan Jihwon asyik dengan sebuah buku yang menakjubkan karya Harun Yahya. Menurutku, nama itu aneh di telingaku, tapi menurut Jihwon, itu nama yang bagus.
“Harun itu nama nabi. Dan Yahya juga nama nabi. Keduanya nama nabi yang disandingkan sebagai symbol untuk membela kebenaran dan menghapus segala kemungkaran.” Jelasnya. Aku sangat beruntung, mulai mengenali sebuah cahaya. Dan aku menyebut hari itu, “light in Korea.” Sudah seminggu aku mengenalinya, kini cinta itu telah bersemi. Dan kupeluk keyakinan itu dengan Jihwon sebagai seniorku. Untuk sementara ini, aku disarankan oleh Jihwon untuk menyembunyikanya. Hingga tiba saatnya, armada itu telah siap.. []
