<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Writepreneur Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/category/writepreneur-majalah-remaja-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Jun 2020 05:09:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2020 05:09:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4596</guid>

					<description><![CDATA[<p>Drise jika naskah-naskahmu sering &#160;dikembaliin alias gagal total masuk ke penerbit, sedangkan kamu &#160;begitu ngebet bukumu pengen ada yang terbit, kagak ada salahnya nyoba jasa penerbit indie label alias indie publishing. Walah, apaan neh, ya? &#160;Indie publishing sebenernya kayak jasa penerbitan buku pada umumnya, tapi ga pake label alias kagak di bawah payung industri penerbitan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/">Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Drise jika naskah-naskahmu sering &nbsp;dikembaliin alias gagal total masuk ke penerbit, sedangkan kamu &nbsp;begitu ngebet bukumu pengen ada yang terbit, kagak ada salahnya nyoba jasa penerbit indie label alias indie publishing. Walah, apaan neh, ya?</p>



<p>&nbsp;Indie publishing sebenernya kayak jasa penerbitan buku pada umumnya, tapi ga pake label alias kagak di bawah payung industri penerbitan gede (perusahaan penerbitan mayor).</p>



<p>Trus juga, kamu bakal diminta ikutan berkontribusi extra dalam penerbitan bukumu itu, bisa berupa duit ataupun jasa. Pokoknya, kamu bakal dibikin ngerasa sibuk dengan bukumu yang terbit itu…secara kamu sendiri yang ngebet bukumu itu terbit, kan? Jadi, wajar dunk, ada perhatian lebih gitu lho, tapi “jadi baper”, ya?</p>



<p>Woles aja, dah! Penerbit indie beda banget sama penerbit mayor yang dimiliki oleh perusahaan penerbitan besar. Penerbit indie ga punya nama dan modal gede yang jadi magnet para penulis berlomba ngirim naskahnya.</p>



<p>Trus kalo penerbit mayor, bukubukunya juga pasti berISBN and berISSN, pegawainya aja punya spesialisasi masingmasing, ada editor, proofreader, layouter, designer cover, tim produksi, tim distribusi, tim promosi, tim marketing, etc yang semuanya bekerjasama bikin bukumu layak baca, layak terbit, layak mejeng di semua toko buku, and so pasti bikin performa penjualan bukunya terdongkrak.</p>



<p>Orangorang kreatif di penerbitan itulah yang mikir and ngerjain bukumu sampe ke para&nbsp; pembacanya. Kamu tinggal senyum aja nerima royaltynya tiap kwartal ato semester. Sedangkan penerbit indie, kamu harus ikutan kerja&#8230; eR I satu bilang, ”ayo kerja, kerja dan kerja?!” peace..</p>



<p>Selain itu, kalo bukumu diterbitkan penerbit mayor, bukumu bisa dicetak ribuan eksemplar agar dapat mensupply ratusan toko buku dalam jaringannya, bahkan bisa memasok hingga ribuan kios buku mungil di pelosok daerah karena mereka punya tim distribusi and sirkulasi yang tepercaya, plus bisa mejeng pula di website toko buku online.</p>



<p>Apalagi, kalo penerbit mayor itu bermain pula di website digitalbooks, mereka bisa jualan buku versi digitalnya. Waouw! Kalo di penerbit indie, jangan ngarep! Kecuali kalo kamu emang niat banget full kerja demi penerbitan bukumu itu, Brouw?!</p>



<p>Nah, ketauan kan, gimana kalo nerbitin buku di penerbit indie tersebut? Kamu pasti diminta untuk ikut berkontribusi. Lantaran penerbit indie modalnya kecil, minim tenaga redaksional, bahkan ga punya tim marketing yang benar-benar profesional. Mereka biasanya menerbitkan buku dengan oplag sedikit &nbsp;dan dipasarkan di komunitas terbatas pula.</p>



<p>Simpelnya, indie publishing lebih pada menyediakan jasa untuk menerbitkan naskahmu jadi buku. Mereka menerbitkan buku berdasarkan apa yang kamu pesan. Kalo kamu minta produknya lebih berkelas, tentu nilai jasanya juga akan ikutan naik.</p>



<p>Nah, disitulah kamu harus ikut berkontribusi extra, duit dan jasa! &nbsp;Tapi, kamu jangan berkecil hati dulu. D&#8217;riser tentu orang-orang cerdas and kreatif, kan? Kamu-kamu kudu tau juga, nerbitin buku di penerbit indie ada nilai positifnya juga lho.</p>



<p>Selain ngajarin kamu bekerja keras, ikut bertanggungjawab penuh sama kualitas performa bukumu, kamu juga bisa belajar mengelola penerbitan, secara kamu emang mantengin terus proses penerbitannya.</p>



<p>Kamu bisa belajar ngurus ISBN ke perpusnas, kamu bisa ikut ngitung hapepe alias harga pokok produksi, terus kalo kamu ngerasa mampu untuk ngedit, ngelayout, ngedesain, nyetak atopun ikutan ngejual bukunya&#8230;hayo jangan ragu ambil peranmu di situ biar bea produknya bisa kamu tekan and kamu bisa maenin harga jualnya di pasar. Mo contoh hebat soal indie publishing ini, ga Bro and Sist?</p>



<p>Kamu tahu Sayf Muhammad Isa, kan? Kalo ga kenal kebangetan dah, secara dia emang redaktur majalah ini juga! Nah, Bang Isa yang kondang dengan dwilogi Sabil yang diterbitin Mizan ini, mengawali karier kepenulisannya dengan menerbitkan buku secara indie label hingga penerbit mayor seperti Mizan dan Al-Fatih Press pun tertarik untuk minta tanda tangan Bang Isa agar naskahnya bisa di.re-publish sama mereka. Congrat&#8217;s!&nbsp;</p>



<p>&nbsp;<strong>Tips bekerjasama dengan indi Label</strong></p>



<p>Nah kini, saya mo berbagi tips bagi &nbsp;D&#8217;Riser, gimana kalo mo kerjasama nerbitin buku secara indie label: &nbsp;</p>



<p>1._ Kamu emang niat banget nerbitin buku, sedangkan naskahmu ga bisa diterbitin sama penerbit mayor; &nbsp;</p>



<p>2._ Pastiin juga, kamu punya modal lebih untuk itu, mulai duit, jasa atopun sdm yang bisa kamu kerahin untuk optimalisasi bukumu itu; &nbsp;</p>



<p>3._ Kamu juga kudu siap mempertanggungjawabkan performa bukumu itu, baik soal kemasan sampe pemasarannya; &nbsp;</p>



<p>4._ Siap-siap aja, jika penerbit mayor tibatiba ada yang tertarik me-republish&nbsp; atau bahkan mengakuisisi buku indie labelmu itu, bahkan bukan hanya penerbit yang tertarik, bisa jadi bukumu difilmkan oleh para sineas, why not gitu lho?; &nbsp;</p>



<p>5._ Jangan nekad nerbitin buku doang, tapi kamu juga harus punya tekad kuat buat nulis lagi, lebih kreatif and lebih produktif. Hayo, ah, nulis?!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/">Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4596</post-id>	</item>
		<item>
		<title>15 Tips Penulis Pemula</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/15-tips-penulis-pemula/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/15-tips-penulis-pemula/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2020 23:11:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4504</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biasanya penulis pemula seperti kamu dan saya kebingungan harus mulai darimana untuk  meningkatkan kemampuan menulis.  Itu merupakan permasalahan yang sepele.  Namun, jika kita bisa membuat susunan yang sistematis tentang bagaimana memulai tulisan, maka kita bisa dengan mudah menerapkannya untuk bisa mengasah kemampuan kita dalam menulis.  Oleh karena itu, berikut tips-tips menulis untuk pemula agar bisa &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/15-tips-penulis-pemula/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">15 Tips Penulis Pemula</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/15-tips-penulis-pemula/">15 Tips Penulis Pemula</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Biasanya penulis pemula seperti kamu dan saya kebingungan harus mulai darimana untuk  meningkatkan kemampuan menulis.  Itu merupakan permasalahan yang sepele.  Namun, jika kita bisa membuat susunan yang sistematis tentang bagaimana memulai tulisan, maka kita bisa dengan mudah menerapkannya untuk bisa mengasah kemampuan kita dalam menulis.  Oleh karena itu, berikut tips-tips menulis untuk pemula agar bisa kamu gunakan berlatih menulis.  </p>



<p><strong>Mulailah dengan menulis apa yang kamu lakukan. </strong>&nbsp;</p>



<p>Setiap orang pasti memiliki aktivitas keseharian yang berbedabeda. &nbsp;kamu bisa menuliskan semuanya dalam satu artikel atau memilah-milah mana kegiatan yang menarik untuk dituliskan. &nbsp;Bagi penulis pemula seperti kita, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagaimana menyajikan aktivitas kita menjadi menarik untuk diceritakan. &nbsp;Jadi,</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang pertama</em></strong></p>



<p>adalah tulislah apa yang kamu rasakan, yang kamu lihat, yang kamu dengar, yang kamu makan, dan yang kamu kerjakan menjadi sebuah cerita utuh untuk dibaca. Meskipun terlihat mudah, menuliskan pengalaman kedalam bentuk tulisan sangatlah membutuhkan kerja otak yang lumayan berat.&nbsp; Bukan menulis satu artikel saja, tetapi menuliskannya setiap hari secara teratur.&nbsp; &nbsp;Oleh karena itu,</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang kedua</em></strong> adalah disiplinlah menulis setiap hari. Untuk memudahkan kamu berlatih menulis, buatlah sebuah blog atau buku diary. Ingat, jangan menuliskan sesuatu yang terlalu panjang karena kita sebagai pemula akan merasa kesulitan untuk tetap fokus pada topik.&nbsp; &nbsp;</p>



<p><strong>Tips menulis untuk pemula yang ketiga</strong> adalah menulislah dengan kata-kata yang sederhana.&nbsp; Jangan berbelit-belit. Semua itu tidak akan berguna jika kamu tidak memiliki niat untuk belajar menulis yang baik dan benar.&nbsp; &nbsp;Oleh karena itu,</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang keempat</em></strong> adalah menulislah sungguh-sungguh.&nbsp; Jangan malas dan menunda-nunda kegiatan menulis kamu.</p>



<p><strong>Bagaimana menyajikan tulisannya?</strong></p>



<p>&nbsp;Kamu tidak perlu khawatir tentang bagaimana menyajikan setiap tulisannya. &nbsp;Jika kamu melakukan keempat tips menulis sebelumnya selama 2 bulan penuh, kamu akan menemukan gaya menulis kamu sendiri.&nbsp; &nbsp;</p>



<p><strong><em>Tips menulis untuk pemula yang kelima</em></strong> adalah jangan mengikuti gaya &nbsp;bahasa orang lain.&nbsp; Gaya bahasa kamu akan tercipta dengan sendirinya jika kamu tidak meniru orang lain. Apalah arti tulisan yang bagus jika itu berisi kebohongan yang kamu sajikan demi meraih popularitas.&nbsp; &nbsp;</p>



<p><strong><em>Tips menulis untuk pemula yang keenam</em></strong> adalah tunjukan integritas kamu dengan menulis yang jujur. &nbsp;Agar pembaca merasa nyaman,</p>



<p><strong>maka</strong> <strong><em>tips menulis yang ketujuh</em></strong> adalah lakukan pembagian paragraf.&nbsp; Berlatihlah menyusun paragraf dengan baik.&nbsp; Kapan kamu menyajikan paragraf panjang dan kapan harus menyajikan paragraf pendek. Pembaca terkadang merasa bosan jika kamu menyajikan artikel seperti <em>text book. </em>&nbsp;&nbsp;</p>



<p><strong><em>Tips menulis untuk pemula yang kedelapan</em></strong> <em>a</em>dalah gunakan bahasa yang komunikatif.&nbsp; Buatlah tulisan seakan-akan kamu berhadapan dengan pembaca. Disuatu waktu, mungkin kamu terlalu bersemangat dalam menulis sehingga tanpa kamu sadari tulisan kamu keluar dari topik. &nbsp;Hal ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan oleh pemula dan memang pantas untuk dimaklumi.&nbsp; &nbsp;Meskipun demikian, saya tetap memasukannya ke dalam</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang kesembilan</em></strong> adalah Menulislah dengan spesifik berdasarkan judul yang telah kamu buat. Tulisan yang mengambang jauh dari topik akan membuat pembaca merasa tertipu dan kurang nyaman saat membaca tulisan kamu. &nbsp;Dan</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang kesepuluh</em></strong> adalah menulislah dengan informasi yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman.</p>



<p><strong>Motivasi menulis dan mengembangkan kemampuan menulis kamu</strong> Setelah kamu mampu menciptakan kebiasaan menulis yang baik, kini saatnya membaca motivasi menulis dan bagaimana mengasah tulisan kamu agar berkembang dan semakin tajam. &nbsp;</p>



<p><strong><em>Tips menulis untuk pemula yang kesebelas</em></strong> adalah biasakan mencari informasi dulu dengan membaca sebelum &nbsp;menulis.&nbsp; Informasi dan pengetahuan bisa digunakan untuk membuat kalimat jenius yang disukai pembaca. &nbsp;Biasakanlah</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang kedua belas</em></strong> yaitu menulis tanpa mengedit.&nbsp; Itu disebabkan saat menulis kamu butuh konsentrasi penuh untuk menyusun kata per kata.&nbsp; Jika kamu mampu usahakan menulis apa adanya, selesaikan tulisan dulu baru melakukan editing. Sebagian orang terkadang terlalu sulit menuangkan segala ide-ide hebat dipikiran mereka dalam bentuk tulisan karena mereka tidak tahu bagaimana caranya.&nbsp; &nbsp;</p>



<p><strong><em>Tips menulis untuk pemula yang ketiga belas</em></strong> adalah menulislah sebagaimana kamu berbicara.&nbsp; Buatlah seolah-olah kamu berbicara dengan orang lain ketika menulis sehingga tidak ada ide yang terlewat untuk dituliskan. &nbsp;Cobalah</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang keempat belas</em></strong> dengan menjawab pertanyaan apa alasan kamu menulis? Tulislah pada satu paragraf utuh tujuan kamu menulis.&nbsp; Kemudian bacalah kembali ketika kamu merasa lelah atau sedang tidak <em>mood</em> menulis.&nbsp; Ini adalah motivasi bagi kamu untuk segera bangkit dan kembali semangat. &nbsp;Dan</p>



<p><strong><em>tips menulis untuk pemula yang terakhir</em></strong> tanamkan pada pikiran kamu bahwa siapa pun bisa menulis asal mau giat berlatih.&nbsp; Menulis merupakan kemampuan yang membutuhkan kerja keras.&nbsp; Bukan sekedar bakat.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Selamat menulis! ^_^[@hafidz341, diolah dHari berbagai sumber]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/15-tips-penulis-pemula/">15 Tips Penulis Pemula</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/15-tips-penulis-pemula/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4504</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Dunia Penerbitan #4 : Promo Marketing Buku</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/mengenalkan-dunia-penerbitan-4-promo-marketing-buku/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/mengenalkan-dunia-penerbitan-4-promo-marketing-buku/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 05:07:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4444</guid>

					<description><![CDATA[<p>DRiser, jika bukumu itu termasuk produk unggulan di penerbit itu, kamu bakalan digadang-gadang ke &#160;seantero jagat buat aktif promoin sekaligus jualin bukumu itu. Kok, bisa? Bisa dunk! Gini ta&#8217; jelasin, ya? Pertama, periksa lagi surat perjanjian penerbitan yang kamu signing sebelom bukumu itu terbit. Perhatiin, deh, di salah satu point perjanjiannya (biasanya) tertulis bahwa pihak &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/mengenalkan-dunia-penerbitan-4-promo-marketing-buku/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Mengenalkan Dunia Penerbitan #4 : Promo Marketing Buku</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengenalkan-dunia-penerbitan-4-promo-marketing-buku/">Mengenalkan Dunia Penerbitan #4 : Promo Marketing Buku</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>DRiser, jika bukumu itu termasuk produk unggulan di penerbit
itu, kamu bakalan digadang-gadang ke &nbsp;seantero
jagat buat aktif promoin sekaligus jualin bukumu itu. Kok, bisa? Bisa dunk!
Gini ta&#8217; jelasin, ya? </p>



<p><em>Pertama</em>, periksa lagi surat perjanjian penerbitan
yang kamu signing sebelom bukumu itu terbit. Perhatiin, deh, di salah satu
point perjanjiannya (biasanya) tertulis bahwa pihak penerbit berhak untuk mencetak
buku diluar kesepakatan jumlah penerbitan sebanyak 50 s.d 500 exp. &nbsp;Di point itu juga diungkapkan bahwa cetakan
tersebut dimaksudkan untuk keperluan promo marketing buku yang terbit. Bahkan,
dijelaskan pula, jika pihak penerbit malah menjual produk tersebut, maka kamu
sebagai penulisnya pun berhak untuk mendapatkan royalty ato bagi hasil dari
hasil penjualan buku tersebut. </p>



<p><em>Kedua</em>, kamu berhak dapet penjelasan dari pihak
penerbit atas pertanyaan tadi. Kalo ga dikasi tau, kamu kudu nanya sama editor
yang bertanggungjawab atas bukumu itu. Kemana saja alokasi promo marketing bukumu
itu? </p>



<p>Tapi seh, biasanya mereka pasti ngasi penjelasan sebelom SPP
bukumu itu kamu tandatangani. Bukumu yang dicetak lebih itu untuk keperluan
promo marketing, seperti ngasi bukti cetak terbit sama kamu sebagai penulisnya,
sample buat pihak penerbit, pracetak and percetakan, promo buat media dan instansi,
hadiah bagi peresensi bukumu di media, door prize saat ada diskusi buku atopun
acara-acara open table lainnya. </p>



<p>Nah, itu baru sebagian &nbsp;saja agenda rutin promo marketing. Di luar itu,
kamu bisa nanya langsung sama pihak penerbitnya, kayak gemana kalo bukumu dialih
bahasakan, dipentaskan ato disinetronkan dan difilmkan? de.el.el. &nbsp;</p>



<p><em>Ketiga</em>, kamu harus mafhum juga, ada buku-buku
tertentu yang ga bisa dibiarin saja nampang di rak toko buku karena ada tipe
buku yang harus dibicarain, didiskusiin ato malah bisa dikulitin untuk mendongkrak
performa penjualannya. Kayak buku filsafat ato buku-buku daras laennya,
termasuk buku-buku bertema sejarah and buku-buku yang bikin kita berkerut
kening memeras pikiran untuk mencernanya. &nbsp;Pada beberapa jenis buku, acara &nbsp;promo marketingnya dikemas dengan model
training atopun sharing motivasi dan inspirasi. </p>



<p>Wuiih…bagi-bagi ilmu sekaligus jualan buku… So, jangan
biarin bukumu manyun di toko buku ya, ntar kamu juga ikut-ikutan manyun bukumu
ga laku. Ga kuku… Ini contoh promo marketing. D&#8217;Riser tahu buku&nbsp; Api Sejarah 1 dan 2 yang ditulis oleh Prof.
Drs. H. Ahmad Mansur Suryanegara itu? Buku yang didapuk sebagai buku nasional
bestseller dan diganjar sebagai buku terbaik dalam Islamic Book Fair 2007 oleh
Ikapi Jakarta ini awalnya diragukan bisa bersaing di pasar karena gada
ceritanya buku bertema sejarah laris manis di pasar perbukuan nasional. </p>



<p>Namun, saat itu penerbit berani melempar buku tersebut ke
pasar dengan rencana promo marketing yang sudah disiapin secara mateng. Saya
yang saat itu diamanahi membidani penerbitan buku Api Sejarah ikut terlibat merumuskan
ajang promo marketingnya dengan pihak penulis, bahkan ikut seruseruan bareng penulis
roadshow ke&nbsp; berbagai kota besar di
Indonesia. Hasilnya pun, luar biasa… buku Api Sejarah 1 dan 2 tercatat sebagai
satusatunya buku sejarah di negeri ini yang laku keras dalam tempo satu bulan, sekaligus
repeat order kurang dari tiga bulan…! </p>



<p>TIPS MARKETING BUKU</p>



<p>Nah kini, saya mo berbagi tips bagi D&#8217;Riser semua agar
semakin terpacu nulis buku, sekaligus bisa tampil &nbsp;maksimal ikut promo marketing buku-bukunya: &nbsp;</p>



<p><strong>1</strong> Kamu kudu nyusun strategi promo marketing apa saja,
jika bukumu dah pasti &nbsp;terbit?! Kamu bisa
bikin review buku, resensi buku, diskusi buku, ato bahkan seminar soal tema ato
sub-tema menarik dalam bukumu; </p>



<p>&nbsp;<strong>2</strong> Pastiin
juga, tim promo marketing dari pihak penerbit punya rencana apa buat &nbsp;mempromosikan bukumu itu. Kan, bisa dipadu padankan
dengan semua rencana kamu, simbiosis mutualismo gitu, lho; &nbsp;</p>



<p><strong>3</strong> Kamu juga kudu nyiapin kawan-kawan tim kreatif yang
bisa support ajang promo &nbsp;marketing
bukumu, bisa komunitas baca ato komunitas tulis yang kamu bergiat di sana, bisa
juga teman-teman sukarelawan yang bisa kamu ajak kerjasama, pokoknya dibikin
asyiklah; &nbsp;</p>



<p><strong>4</strong> Jangan sungkan ikut ngelobi pihak-pihak laen demi
suksesnya promo marketing &nbsp;bukumu itu.
Kamu bisa pedekate sama pihak toko buku agar bisa bantu ngadain acara promo marketingnya,
pedekate pula ke pihak perpustakaan, skula, PeTe, pesantren, masjid, ato bahkan
pengelola kebon binatang, jika mo diskusi buku di sana…secara buku kamu itu bicara
dunia binatang, fabel ato berlatar dunia marga satwa misalnya; &nbsp;</p>



<p><strong>5</strong> Jangan cepet puas dengan apa yang kamu dapet dari hasil promo marketing yang  gilang gemilang, tapi teruslah menulis….[ </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengenalkan-dunia-penerbitan-4-promo-marketing-buku/">Mengenalkan Dunia Penerbitan #4 : Promo Marketing Buku</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/mengenalkan-dunia-penerbitan-4-promo-marketing-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4444</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menangkap Inspirasi Dengan Diary</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/menangkap-inspirasi-dengan-diary/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/menangkap-inspirasi-dengan-diary/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2020 04:44:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4411</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menulis adalah sebuah aktiitas intelektual yang keren banget. Saat menulis, kita tengah &#160;menuangkan apa yang ada di dalam pikiran dan hati ke dalam media tulisan agar orang-orang yang baca tulisan kita tercerahkan.Jadi ladang pahala deh. &#160;Karena penting bangetnya menulis, banyak ulama yang menghabiskan separuh umurnya untuk menulis berbagai kitab. Mereka ngerti banget bahwa menulis akan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/menangkap-inspirasi-dengan-diary/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Menangkap Inspirasi Dengan Diary</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menangkap-inspirasi-dengan-diary/">Menangkap Inspirasi Dengan Diary</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menulis adalah sebuah aktiitas intelektual yang keren
banget. Saat menulis, kita tengah &nbsp;menuangkan
apa yang ada di dalam pikiran dan hati ke dalam media tulisan agar orang-orang
yang baca tulisan kita tercerahkan.Jadi ladang pahala deh.</p>



<p>&nbsp;Karena penting
bangetnya menulis, banyak ulama yang menghabiskan separuh umurnya untuk menulis
berbagai kitab. Mereka ngerti banget bahwa menulis akan membuat ilmu menjadi
lebih bertahan lama. Ilmu akan bisa tetap dinikmati dan dimanfaatkan walaupun
para ulama itu telah wafat bertahun-tahun lalu. Karenanya buku menjadi warisan
luar biasa dari para ulama. Sekarang ini kita masih bisa memperoleh keluasan
ilmu Imam Syafi&#8217;i, itu karena beliau menulis buku. </p>



<p>Coba kalo dulu beliau cuma mengajar saja kepada
murid-muridnya, dan tidak menulis buku, tentunya ilmu beliau tidak akan bisa
dinikmati sedemikian banyak orang hingga&nbsp;
jaman sekarang ini. Karena itulah menulis buku jadi penting banget. <em>Ah
nulis buku kan susah. Tebel dan bakalan capek nulisnya. Kalo mandeg di tengah-tengah
gimana? Kalo inspirasinya mampet gimana?</em> Yang kayak gini nih yang
menghambat D&#8217;riser untuk mulai menulis buku. </p>



<p>Padahal semua keluhan itu cuma ilusi yang dihembuskan setan agar
kita nggak mau mulai menulis. Semua itu cuman ketakutan yang nggak beralasan.
Yuk kita bahas soal inspirasi. Menulis emang perlu inspirasi. Dengan kata lain,
nulis itu perlu ide, lha kalo nggak ada ide terus kita mau nulis apa?! Terus
dari mana sih kita mendapatkan inspirasi ini? Sebenernya jawabannya cukup
sederhana lho. Kehidupan ini adalah inspirasi. </p>



<p>Selama kita masih hidup maka pastilah kita akan selalu
mendapatkan banyak inspirasi untuk dituliskan. Salah satu hal yang paling luar biasa
yang diciptakan Allah Swt. adalah kehidupan ini. Allah nggak akan pernah
menciptakan hal yang sia-sia dan nggak ada gunanya, makanya kehidupan adalah
sesuatu yang amat luar biasa. Hidup setiap orang udah diciptakan Allah dengan
luar biasa, termasuk kita semua, hidup D&#8217;rises juga. </p>



<p>Dengan kata lain, lihat deh &nbsp;kehidupan kita, dari hal-hal yang paling sederhana,
perhatikan, amati, dan kita akan menemukan bahwa di sana bertaburan hal-hal
yang luar biasa yang amat layak untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebagai
awal yang baik, mulailah menulis hal-hal sederhana dalam kehidupan kita. Kita
bisa menuliskan betapa indahnya Allah membentuk wajah kita. Kita juga bisa menuliskan
orang-orang yang ada di sekitar kita: ayah, ibu, adik, kakak, dan keluarga kita
yang lainnya. Bagaimana keadaan kamar kita juga bisa dituangkan. Pergaulan
dengan temanteman di sekolah atau cara ngaja guruguru kita yang <em>killer</em> juga
bisa dituliskan. Dari sini, kita sudah mulai menulis catatan harian yang bahasa
gaulnya disebut <em>diary</em>. </p>



<p>Eit, jangan minder dulu, nulis diary bukan cuma kebiasaan
anak gaul labil yang nggak tentu arah. Nulis diary adalah sebuah kebiasaan
intelektual yang keren banget lho. Orang-orang besar dalam sejarah umat manusia
biasanya nulis diary, dan di dalam diary itulah mereka menumpahkan segala
keluh-kesah dan pemikiran mereka tentang kemajuan dan perlawanan terhadap
tirani. Diary pulalah yang akan merekam sepak terjang dan perjuangan mereka
hingga lembar-lembar terdalam. </p>



<p>Dari menulis pengalaman-pengalaman kita seharihari aja kita
udah bisa bikin berlembarlembar buku lho. Dan kebiasaan ini kemudian dijadikan
starting point untuk menulis bentuk-bentuk tulisan lainnya, yang tentu saja
bakalan lebih mudah kita kerjakan karena sudah terbiasa dari nulis diary. Eksplorasi&nbsp; inspirasi pun jadi lebih mudah karena kita
udah menempa pengalaman dari nulis diary. Ada lho orang yang catatan hariannya
diterbitkan menjadi buku, dan bahkan diary itu mengungkap fakta-fakta sejarah
dan kondisi sosial pada zaman hidup penulisnya. </p>



<p>Seperti &#8216;The Diary of Anne Frank&#8217;, catatan harian seorang
gadis remaja yang tinggal di Amsterdam pada masa Nazi Jerman menyerang Belanda.
Dari catan hariannya yang berhasil lolos dari Perang Dunia Kedua itulah kita
jadi tahu bagaimana romantika dalam persembunyian. Diary itu pula yang mengungkapkan
bagaimana orangorang pada zaman itu menyelamatkan diri dari pembantaian Nazi
Jerman. </p>



<p>Di negara kita, sebut saja Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Indonesia dari etnis China yang menjadi aktifis pada masa pemberontakan PKI dan peralihan dari Orde Lama menuju Orde Baru. Diary-nyayang bertajuk Catatan Harian Seorang Demonstran mengungkap berbagai kondisi sosialpolitik pada zaman itu, dan sudah lama diterbitkan. Berdasarkan diary itu pulalah sebuah film layar lebar dibuat. Dia telah menjadikan hidup dan  kehidupannya sendiri sebagai sumber  inspirasi dan kemudian menuangkannya dalam tulisan. Dari sekarang yuk kita mulai menulis. Jangan kebanyakan mikir, mulai aja nulis di buku harian. Yuk![] </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menangkap-inspirasi-dengan-diary/">Menangkap Inspirasi Dengan Diary</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/menangkap-inspirasi-dengan-diary/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4411</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Dunia Editor 3 : Melek Kerja Editor</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/mengenal-dunia-editor-3-melek-kerja-editor/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/mengenal-dunia-editor-3-melek-kerja-editor/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Feb 2020 23:27:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4351</guid>

					<description><![CDATA[<p>Driser jika kamu sudah dapet info dari penerbit bahwa naskah tulisanmu lulus seleksi sekaligus &#160;mereka siap nerbitin karya kreatifmu jadi buku, siap-siaplah jika editornya menghubungi kamu, minta ketemu secara langsung. Jika gak bisa kopdar, mungkin pake teknologi informasi via sosmed aja juga bisa mewakili. Biasanya, editor (yang diwakili managing editor and senior editor) ngajak kamu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/mengenal-dunia-editor-3-melek-kerja-editor/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Mengenal Dunia Editor 3 : Melek Kerja Editor</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengenal-dunia-editor-3-melek-kerja-editor/">Mengenal Dunia Editor 3 : Melek Kerja Editor</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Driser jika kamu sudah dapet info dari penerbit bahwa naskah
tulisanmu lulus seleksi sekaligus &nbsp;mereka
siap nerbitin karya kreatifmu jadi buku, siap-siaplah jika editornya menghubungi
kamu, minta ketemu secara langsung. Jika gak bisa kopdar, mungkin pake
teknologi informasi via sosmed aja juga bisa mewakili. </p>



<p>Biasanya, editor (yang diwakili managing editor and senior
editor) ngajak kamu <em>brainstorming</em> soal proses kreatifmu nulis naskah
buku yang akan diterbitin itu. Selain itu, Si Editor juga bakalan ngajak
diskusi, apa yang penulis inginkan dengan buku yang bakal diterbitin itu. Soal editingnya,
kemasannya sampe urusan promo marketing dan yang pasti soal itungitungan kontraprestasi
atas buku yang bakal terbit itu. </p>



<p>Apakah mau <em>plat fee, royalty</em> atau <em>semi-royalty</em>?&nbsp; Kalo sudah deal, baru deh, pihak penerbit
mengeluarkan SAN (surat akad naskah) jika <em>plat fee</em> atau SPP (surat perjanjian
penerbitan) jika disepakati dengan <em>sistem royalty</em> atau <em>semi royalty</em>.
&nbsp;Dalam perjanjian itu, biasanya juga dicantumkan
soal hak dan kewajiban yang mengikat kedua belah pihak antara penulis dengan
penerbit. FYI bagi para penulis pemula, khususnya bagi yang baru pertamakali nerbitin
buku, bagusnya ga usah ngeributin soal kontrapretasi itu. </p>



<p>ikutin saja apa maunya penerbit. Kalo kamu sudah ribet soal
ginian, alamat editor males ketemu lagi sama kamu. Tapi kalo kamu sudah punya
passion yang bagus (dengan buku-bukumu yang bestseller), kamu tentu punya <em>bargain</em>
yang bagus pula, daya tawar kamu untuk minta “lebih” dan diistimewakan pun,
pasti difasilitasi oleh penerbit. &nbsp;Selanjutnya
jika soal perjanjian ini sudah disepakati, maka Si Editor itu akan segera
menggarap naskahmu itu sesuai hasil <em>brainstorming</em> denganmu sebagai penulisnya.
</p>



<p>Hal ini penting bagi seorang editor untuk mengetahui latar
belakang kamu menulis naskah buku yang dimaksud. Istilah redaksinya adalah <em>review
book story</em>! &nbsp;Sebelum mulai mengedit
naskahmu itu, seorang editor harus memahami terlebih dahulu content dan context
dari naskah buku yang akan dieksekusinya itu. </p>



<p>Meminjam istilah pakar perbukuan nasional, Pak Bambang Trimansyah,
“seorang editor yang baik itu dia harus bisa bersetubuh dengan buku yang
dieditnya…” &nbsp;Kalo Si Editor sudah memahami
isi naskah sekaligus pesan yang hendak penulis sampaikan dalam &nbsp;bukunya itu, maka dia akan merasa nyaman dan asyik
saat mengedit naskahmu itu karena dia telah konek dengan karakter tulisanmu dan
apa yang kamu mau. </p>



<p>Perlu kamu-kamu ketahui juga, dalam mengedit naskah buku,
sedikitnya ada dua orang editor yang terlibat dalam proses editingnya, yaitu
senior editor dan junior editor. Bahkan, dalam beberapa kasus, chief editor dan
managing editor juga bisa turun tangan. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan di
meja redaksi. </p>



<p>Saat proses editing, para editor berpanduan pada teknik
editologi yang lazim di dunia penerbitan, plus dengan bahasa selingkung yang
ada di masingmasing penerbit. Mereka berbagi tugas sebagaimana <em>job desk and
skill</em> masingmasing editor. Senior editor melakukan <em>substantive editing</em>
(penyuntingan isi) dan <em>mechanical editing</em> (penyesuaian tata bahasa dan
EYD), sedangkan junior editor biasanya mengerjakan <em>mechanical editing</em>&nbsp; sekaligus <em>proofreading</em> ato
menyelaraskan&nbsp; kembali teks, khawatir ada
yang terlewat&nbsp; saat proses editing di
tangan senior editor. </p>



<p>Selain mengandalkan keterampilan dalam mengedit naskah buku,
para editor juga dilengkapi dengan “arsenal tempur” yang wajib bin kudu selalu
ada di meja redaksi, yaitu kamus; baik kamus bahasa Indonesia, kamus bahasa
asing ataupun kamus bahasa daerah. Begitupun saat teknologi telah maju
berkembang, kamus digital juga harus siap sedia sebagai amunisi bagi para
editor. Nah kini, mungkin gak, ya, seorang penulis juga bisa berprofesi ganda
jadi seorang editor? “Sangat mungkin!” itu jawaban lugas master editor di
Penerbit Mizan Pustaka, Pak Hernowo Hasim. Guru editor saya ini bilang, seorang
editor itu sebaiknya terampil menulis dan cakap bicara, karena dia juga punya
tanggung jawab untuk ikut menyuarakan dan mempromosikan buku hasil editannya ke
khalayak luas. Tuh, kan? Catat! [] </p>



<p><strong>Belajar Jadi Penulis sekaligus Editor</strong> </p>



<p>Kini, saya mo berbagi tips bagi D&#8217;Riser semua agar terampil
menulis sekaligus taktis menyunting buku: &nbsp;</p>



<ol><li>tulis sudah kelar, kalo baru bab niat mah payah dah, segera beresin dulu tulisanmu?!;  Kamu pastiin dulu naskah yang kamu  </li><li>naskahnya, terus dicek dan periksa lagi naskah tulisanmu dengan baik, baca dengan sungguh-sungguh, siapin pula alat tulis jika kamu mau ngoreksi atau nambahin ini-itu;  Kalo sudah kelar nulisnya, print out deh  </li><li>hasil baca and koreksiannya tadi ke dalam tulisanmu di layar PC, atau gadget yang biasa kamu pake nulis;  Kalo sudah ngerasa puas, silahkan input  </li><li>sudah ngerasa nyaman sama tulisanmu, ajak orang-orang terdekatmu atau orang kepercayaanmu jadi <em>first reader</em> tulisanmu, jangan lupa minta masukannya;  Baca lagi, periksa lagi, koreksi lagi. </li><li>Kalo difollow-up, tapi kalo dapet kritik, jangan menyerah… revisi lagi, nulis lagi, edit lagi…  Kalo dapet masukan konstruktif, segera  Selamat…kamu sudah belajar jadi seorang editor![]  </li></ol>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengenal-dunia-editor-3-melek-kerja-editor/">Mengenal Dunia Editor 3 : Melek Kerja Editor</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/mengenal-dunia-editor-3-melek-kerja-editor/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4351</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ngintip &#8220;daleman&#8221; Redaksi (mengenal penerbitan)</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/ngintip-daleman-redaksi-mengenal-penerbitan/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/ngintip-daleman-redaksi-mengenal-penerbitan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jan 2020 09:53:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4282</guid>

					<description><![CDATA[<p>Halo D&#8217;Riser dah ngerasa pede mau nerbitin buku di sebuah penerbit, jangan sungkan kamu ngirim karya &#160;terbaiknya ke penerbit tersebut. Tungguin saja, kira-kira satu sampe empat bulanan karya tulis yang kamu kirim itu pasti sudah ada jawaban dari penerbit. Apakah karyamu itu bakal diterbitkan ataukah dikembalikan. Namun, jika lebih dari setengah tahun karyamu tak adakabar, &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/ngintip-daleman-redaksi-mengenal-penerbitan/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Ngintip &#8220;daleman&#8221; Redaksi (mengenal penerbitan)</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/ngintip-daleman-redaksi-mengenal-penerbitan/">Ngintip &#8220;daleman&#8221; Redaksi (mengenal penerbitan)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Halo D&#8217;Riser dah ngerasa pede mau nerbitin buku di sebuah
penerbit, jangan sungkan kamu ngirim karya &nbsp;terbaiknya ke penerbit tersebut. Tungguin saja,
kira-kira satu sampe empat bulanan karya tulis yang kamu kirim itu pasti sudah ada
jawaban dari penerbit. Apakah karyamu itu bakal diterbitkan ataukah
dikembalikan. </p>



<p>Namun, jika lebih dari setengah tahun karyamu tak adakabar,
tanyain saja langsung ke bagian redaksinya.&nbsp;
Siapa tahu masih dalam proses antri atau malah karyamu ga lulus seleksi
alias gagal terbit! Cape deh! </p>



<p>Oh ya, kalo kamu udah ngirim karya terbaikmu ke penerbit,
tetep tenang ya. Jangan grasa-grusu nanyain karyanya itu diterima atau tidak?
Kapan terbit jadi buku? Atau pertanyaan sejenis itu. Biasanya yang suka rese
nanya ini-itu adalah para pemula. Tahu nggak, pertanyaannya model interogasi
kayak gitu, bikin illfeel awak redaksi penerbit, lho, khususnya para editor. Emangnya
para editor cuma ngurusin karya kamu doang? </p>



<p>Jujur saja nih, saat saya jadi managing editor di Mizan,
nyaris tiap hari &nbsp;&nbsp;saya nerima 20 naskah kiriman para penulis di
meja redaksi. Jadi, itungin deh, berapa naskah buku yang harus saya seleksi
setiap bulannya? Sedangkan dalam sebulan, saya “hanya” bertanggungjawab untuk
meluluskan 6-8 naskah untuk diterbitkan jadi buku! Jadi, kalian kudu rada
empati sama para editor, ya?! </p>



<p>Oke D&#8217;Riser, daleman redaksi yang ada di penerbitan itu di
antaranya adalah: chief editor (manager publishing), managing editor
(penanggung jawab (pj) lini penerbitan), senior editor, editor, junior
editor/copy editor/proofreader. </p>



<p>Nah, para editor itu dilengkapi sama seorang sekretaris
redaksi. Setiap naskah buku yang masuk ke redaksi penerbit, selalu dicatat
detilnya mulai tanggal masuk redaksi, judul naskah, tema naskah, nama penulis,
alamat penulis, hingga deadline respon redaksi kepada penulis. Selanjutnya,
naskah tadi &nbsp;diberikan kepada chief
editor untuk diperiksa dan didistribusikan ke masing-masing managing editor
yang menanggungjawabi lini penerbitan sesuai tema yang diusung penulis.&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Nah, sejak tiba di meja managing editor inilah, setiap naskah
mulai diperiksa dan diseleksi kelayakan terbitnya oleh awak redaksi, khususnya
oleh managing editor dan senior editor. Jika menurut mereka, naskah yang masuk
itu bagus maka naskah tersebut langsung &nbsp;masuk
waiting list untuk diperiksa lagi oleh chief editor soal kelayakan terbitnya. </p>



<p>Apabila chief editor juga bilang oke maka naskah yang
dimaksud akan dibawa oleh chief editor dan managing editor ke sidang redaksi.&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Dalam sidang redaksi inilah, naskah-naskah yang lolos
seleksi itu didiskusikan kembali oleh redaksional penerbitan dengan pihak
manajemen, mulai dari direktur (chief executive officer), finance control
manager, dan promotion and marketing manager. </p>



<p>Jika para pemangku kebijakan penerbitan itu samasama setuju
maka naskah buku tersebut akan segera dieksekusi untuk diterbitkan, sekaligus dipastikan
juga kapan waktu penerbitan, promo sekaligus pemasarannya?&nbsp; Namun sebaliknya, jika salah seorang pejabat
itu angkat tangan maka dipastikan naskah buku tersebut gagal terbit. Kok bisa?
Iya dunk, masa para editor di redaksi keukeuh nerbitin naskah tersebut tanpa
dukungan keuangan dari fincon, atau maksa kudu terbit sedangkan manajer promosi
&amp; marketingnya ogahogahan promo en masarin bukunya? Gawat kan, alamat
jeblok performa penjualannya, tuh!&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Oke, D&#8217;Riser di edisi berikutnya, kita akan ngebahas gimana
redaksi penerbitan dalam ngelola naskah-naskah layak terbit, ya? tunggu aja di
edisi D&#8217;Rise yang akan datang. Ciyus, lho! [] </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/ngintip-daleman-redaksi-mengenal-penerbitan/">Ngintip &#8220;daleman&#8221; Redaksi (mengenal penerbitan)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/ngintip-daleman-redaksi-mengenal-penerbitan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4282</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menumpas Mitos Write&#8217;s Blok! Nentuin Judul Tulisan</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/menumpas-mitos-writes-blok-nentuin-judul-tulisan/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/menumpas-mitos-writes-blok-nentuin-judul-tulisan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Oct 2019 10:03:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4136</guid>

					<description><![CDATA[<p>Driser sebagaimana janji di edisi sebelumnya, kali ini, kita mo nerusin jurus ampuh menumpas virus write&#8217;s &#160;block. Pada dua edisi sebelumnya, kita dah ngebahas tahapan sebelum nulis. Nah, dalam edisi D&#8217;Rise kali ini, kita mo ngupas tuntas tahapan saat kita nulis, biar kita nyaman nerusin tulisan, sekaligus agar write&#8217;s block gak jadi alasan kita gak &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/menumpas-mitos-writes-blok-nentuin-judul-tulisan/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Menumpas Mitos Write&#8217;s Blok! Nentuin Judul Tulisan</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menumpas-mitos-writes-blok-nentuin-judul-tulisan/">Menumpas Mitos Write&#8217;s Blok! Nentuin Judul Tulisan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Driser sebagaimana janji di edisi sebelumnya, kali ini, kita
mo nerusin jurus ampuh menumpas virus write&#8217;s &nbsp;block. Pada dua edisi sebelumnya, kita dah ngebahas
tahapan sebelum nulis. Nah, dalam edisi D&#8217;Rise kali ini, kita mo ngupas tuntas tahapan
saat kita nulis, biar kita nyaman nerusin tulisan, sekaligus agar write&#8217;s block
gak jadi alasan kita gak merampungkan tulisan. &nbsp;</p>



<p>Secara teori, tahapan saat kita nulis, dimulai&nbsp; dengan: pertama, menentukan judul; kedua,
mengawali paragraf; ketiga, pembahasan, and yang terakhir, keempat, adalah
kandungan isi. Dalam menentukan judul, orang bilang gampang-gampang susah. Tapi
kalo kita dah &nbsp;14 biasa nulis, nentuin
judul bukan perkara yang &nbsp;sulit, mengalir
aja, bisa dirangkai saat &nbsp;kita mulai nulis,
saat tulisan dah kelar, atau bahkan saat kita punya &nbsp;ide nulis pun, kita dah bisa bikin judul yang menarik.
</p>



<p>Malah, sebagian penulis beken, dah mengantongi judul-judul
keren sebelum mereka menuliskannya. Mo contoh? &nbsp;Kang Abik alias Habiburrahman elShirazy yang beken
melalui novel Ayat-Ayat&nbsp; Cinta ngaku bahwa
judul novel religiusnya&nbsp; itu sudah ia
kantongi sejak kuliah di Kairo,&nbsp; Mesir, jauh
sebelum ia menuliskan&nbsp; naskahnya. </p>



<p>Lulusan Universitas al-Azhar,&nbsp; Mesir ini juga bilang bahwa judul novelnya&nbsp; itu sama sekali gak terinspirasi dari judul novel
kontroversialnya Salman Rushdie, The&nbsp; Satanic
Verses alias Ayat-Ayat Setan. Namun, Kang Abik ngaku bahwa judul tersebut&nbsp; terinspirasi dari ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang&nbsp; berbicara tentang cinta. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image is-resized"><img src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalah-drise-nentuin-judul.jpg?resize=465%2C212" alt="" class="wp-image-4137" width="465" height="212" srcset="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalah-drise-nentuin-judul.jpg?w=818&amp;ssl=1 818w, https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalah-drise-nentuin-judul.jpg?resize=300%2C138&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalah-drise-nentuin-judul.jpg?resize=768%2C352&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalah-drise-nentuin-judul.jpg?resize=600%2C275&amp;ssl=1 600w" sizes="(max-width: 465px) 100vw, 465px" data-recalc-dims="1" /></figure>



<p>Kalo kita ngerasa nentuin judul masih jadi kendala, jangan
ambil pusing, pending aja dulu sambil kita ngelanjutin tulisan sampe tuntas.
Kalo dah kelar, pasti deh, ada something special yang membuat kita pede milih
sekaligus nentuin judul yang ngepas dengan tulisan kita. Mo bukti? Dulu medio
taon 2002an, saya ngerasa terganggu dengan euforia anakanak muda Muslim yang gandrung
ama Si Muka Jaring dari Amrik. </p>



<p>Saat itu, karakter&nbsp; superhero
besutan duo Yahudi, Stanley&nbsp; Lieber Martin
dan Steve Ditko itu tengah&nbsp; merajai tangga
box office di seantero jagat.&nbsp; Beuh, jagoan
rekaan itu bener-bener telah&nbsp; menghipnotis
imajinasi anak-anak muda Muslim hingga mereka lupa bahwa&nbsp; sesungguhnya mereka punya para jawara&nbsp; dan jagoan Muslim (yang bener-bener nyata,&nbsp; asli bukan rekaan) yang bisa jadi teladan&nbsp; sekaligus kebanggaan mereka! </p>



<p>Saya pun terinspirasi untuk nulis buku soal bahaya Si Muka
Jaring dari pusat Globo Capitalism itu. Bahkan, saat itu saya dah nentuin
judulnya, yaitu Membunuh Si &nbsp;Muka Jaring!
Namun, karena saat itu saya belum dapat reference yang akurat soal SpiderMan, akhirnya
proyek untuk &#8216;membunuh&#8217;nya&nbsp; pun terpaksa saya
endapkan dulu. </p>



<p>Saya baru bener-bener menuliskan proyek ini taon 2007, setelah
Si Muka Jaring makin menggurita di Negeri Si Komo ini dengan live action-nya yang&nbsp; ketiga dalam pita seluloid. Akhirnya, tidak
lebih dari tiga pekan, saya berhasil merampungkan satu buku yang (akhirnya)
saya beri judul, Aku Ingin Membunuh Spider-Man. Namun, dalam proses penerbitannya,
naskah buku ini pun diberi title, Spider-Man I&#8217;ll Kill U! oleh pihak penerbit. </p>



<p>Alasan pergantian judulnya itu demi mendongkrak sisi
komersil buku tersebut, terbukti selama karier kepenulisan saya, buku inilah
yang paling sering didiskusikan sekaligus diperdebatkan di banyak forum disbuk
dan kepenulisan. Nah tuh, untuk nentuin judul tulisan itu, kita ga harus
buru-buru kan, terpenting kita dah punya ide, tema dan referensi yang cukup maka
segeralah menulis. Kalo judulnya dah ada, makin mantep tuh. Kalo pun belum
dapet judul, pasti deh abis tulisan dah kelar, judul pun pasti ngikut. </p>



<p>Oya, dalam nentuin judul yang keren sekaligus menarik, kita
harus rajin membuka kamus, baik kamus bahasa Indonesia, bahasa daerah ataupun
bahasa asing. </p>



<p>Di dalam kamus, kita pasti bakal nemuin kosa kata, frase,
idiom ataupun istilah yang klop dengan ide ataupun tema tulisan kita. Contoh,
dulu saya pernah nulis soal perjuangan seorang pemuda bernama Khairuddin saat
pemerintahan Turki &nbsp;Modern memberangus
sisa-sisa pendukung &nbsp;kekhalifahan
Utsmani. </p>



<p>Setelah buka-buka kamus, saya mendapat kosa kata yang
menarik &nbsp;untuk judul kisah tadi. Saya pun
menuliskan judul Sebait Elegi Khairuddin. Judul tersebut tentu lebih menarik,
dibandingkan dengan judul Sepenggal Kisah Sedih Khairuddin, ya?&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Selain itu, dalam memilih kata atau kalimat dengan diksi
yang bagus untuk judul tulisan kita, selayaknya kita membuka bukubuku antologi puisi
para penyair, seperti karya Jalaluddin el-Rumi, Mohammad Iqbal, Kahlil Gibran, termasuk
juga Chairil Anwar,&nbsp; Taufiq Ismail, W.S. Rendra,
bahkan Sapardi&nbsp; Djoko Damono, etc. Pasti,
deh, kita nemuin&nbsp; diksi ato pilihan kata yang
wonderfull! Gak&nbsp; percaya? Buktiiin aja sendiri!
</p>



<p>So, kalo kita dah mulai nulis, soal judul tulisan jangan
jadi kendala kita gak nerusin tulisan. Pokoknya nulis aja dulu, terlepas kita
sudah punya judul ataupun belum, sudah ada judul pasti ataupun judul sementara,
kita nulis aja terus agar kita gak terserang virus write&#8217;s block! &nbsp;</p>



<p>Oke, D&#8217;Riser, di edisi berikutnya kita lanjut lagi dengan
pembahasan yang lebih seru, soal tahapan berikutnya setelah nentuin judul
tulisan, yaitu mengawali paragraf atau istilah kerennya leading&#8230;, tentu masih
dengan tema besar menumpas mitos write&#8217;s block. Cegat di D&#8217;Rise berikutnya,
ya?&nbsp; ^_^&nbsp;&nbsp;
[] </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menumpas-mitos-writes-blok-nentuin-judul-tulisan/">Menumpas Mitos Write&#8217;s Blok! Nentuin Judul Tulisan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/menumpas-mitos-writes-blok-nentuin-judul-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4136</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengupas Mitos write’s block bagian 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block-bagian-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block-bagian-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Oct 2019 04:46:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah remaja islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4049</guid>

					<description><![CDATA[<p>sebelumnya kita bahas Mengupas Mitos write’s block bagian 1 bisa cek tulisanya sekarang kita lanjut So, apa seh tahapan sebelum nulis itu? Neh, saya kasi bocoronnya, ya&#8230;. Jujur aja, teori ini didasarkan pada fakta  empirik yang lazim dialami oleh para penulis, termasuk Dan Brown ataupun J.K. Rowling sekalipun! Pertama, menentukan ide; Kedua, menyiapkan referensi atau &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block-bagian-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Mengupas Mitos write’s block bagian 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block-bagian-2/">Mengupas Mitos write’s block bagian 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>sebelumnya kita bahas Mengupas Mitos write’s block <a href="http://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block/">bagian 1</a> bisa cek tulisanya sekarang kita lanjut</p>
<p>So, apa seh tahapan sebelum nulis itu? Neh, saya kasi bocoronnya, ya&#8230;. Jujur aja, teori ini didasarkan pada fakta  empirik yang lazim dialami oleh para penulis, termasuk Dan Brown ataupun J.K. Rowling sekalipun!</p>
<p>Pertama, menentukan ide; Kedua, menyiapkan referensi atau sumber bacaan; Ketiga, menentukan arah atau tujuan; Keempat, menentukan media yang akan dituju; Kelima, menentukan khalayak sasaran yang akan dituju via tulisan yang kita bikin. Soal ide tulisan, dah gak zaman kalo ada orang ngaku gak punya ide, apalagi kalo penulis ngaku gak punya ide tulisan. Wah, dia pasti boong abis. Kok bisa?</p>
<p>Iya atuh, karena setiap orang yang masih mampu berpikir dengan baik, maka dia punya banyak info yang bisa dia komunikasikan pada orang laen, baik secara lisan maupun lewat tulisan.  Selama pancainderanya masih ada yang berfungsi maka dia punya banyak hal yang bisa dia share pada banyak orang.  14 Artinya, apa yang masih bisa kita liat, kita denger, kita rasakan, semua itu merupakan amunisi ide yang dapet kita ledakkan kapan pun kita mau! Ide paling unik, antik sekaligus orisinil adalah pengalaman hidup kita sendiri.</p>
<p>Pengalaman itulah yang bisa kita ceritakan pada orang laen lewat lisan atopun tulisan.  Sebagai contoh, liat tuh, Aries Nugraha yang sukses dengan sinetron Bajaj Bajuri-nya. Doi sukses berat dengan komedi situasi yang tayang di tv swasta nasional itu berkat naskah skenarionya yang kocak, koclak plus konyol. Om Aries ngaku bahwa ide sinetronnya itu berasal dari pengalaman dia sendiri dan keluarganya.</p>
<p>Doi ngaku bahwa Si Bajuri itu, ya refresentasi Om Aries sendiri. Bagi Aries Nugraha, pengalaman adalah gudang ide yang gakan abis dieksplorasi.     Nah, lho, masih ngaku gak punya ide? Awas, jangan boong, lo! Lanjut, ah. Kalo ide udah dapet, kita kudu nyiapin reference, maroji&#8217; ato sumber bacaan! Bahasa kerennya adalah sumber  literatur berupa setumpuk buku dan kitab-kitab klasik. Bila perlu semua koleksi buku kita keluarin semuanya.</p>
<p>Sebagai contoh, kalo kita mo nulis soal politik ekonomi Islam vis a vis politik ekonomi sekular, maka kita gak sekadar nyiapin kitab Nizhom Iqthishodi fil Islam-nya Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail atau Iqthishoduna-nya Muhammad Bakr ash-Shadr. Tapi juga, buku klasiknya Adam Smith, The Wealth of Nations dan sekaligus antitesanya, Das Kapital-nya Karl Heinz Marx. Pokoknya, top markotoplah! Kalo kita masih ngerasa kurang reference, gada salahnya  kita menyambangi perpustakaan atau surfing di situs-situs internet, penyedia layanan pdf buku-buku yang kita buru.</p>
<p>Asyik, lho, kita bisa milih yang gratisan ato kalo punya modal lebih, gada salahnya ngambil yang berbayar, dijamin this book isn&#8217;t corrupt alias bukunya lengkap dengan akurasi tinggi! Selain itu, untuk mengeksplor ide tulisan, jika sangat dibutuhkan, kita juga bisa sowan sama para pakar di bidang ilmunya.</p>
<p>Contoh kalo mo nulis soal sejarah Islam di Indonesia, sowan aja sama Prof. Drs. H. Ahmad Mansur Suryanegara di Bandung, ato kalo mo ngangkat tema sejarah nasional Indonesia, gada salahnya datang ke LIPI Pusat di Jakarta, kita bisa silah fikriyah sama Prof. Dr. Taufik Abdullah atau Prof. Dr. Asvi Warman Adam. Wah…kita ketemu sama para sejarawan beken, tuh! Kalo reference, maroji&#8217; ama sumber bacaan dah lengkap, yakin, deh, kita gakan mengalami write&#8217;s block yang dikhawatirkan para pemula itu! Lha, iyalah, namanya juga dah lengkap.</p>
<p>Jadi, nulisnya pasti lancar! Niat dah ada, ide dah dapet, reference pun dah bejibun. Lanjuuut… Berikutnya, kita nentuin arah ato tujuan dari karya kreatif tulisan kita. Mo diapain dan digimanain tulisan kita bergantung pada tujuan dari tulisan kita itu. Kalo kita mo nulis opini, ya pasti kita harus beropini sebaik mungkin, dari mulai menyajikan fakta, data, berita sekaligus analisa dengan argumentasi yang meyakinkan serta didukung dengan sumber literatur dan quote para pakar di bidangnya. Dijamin, deh, tulisan kita ini bobotnya luar biasa!  Selain itu, tulisan opini gak hanya beropini tanpa ada reason.</p>
<p>Maksudnya adalah kita ngarep bahwa opini kita dapet membuka wawasan intelektual para pembacanya, open mind, mengedukasi plus mencerahkan, sekaligus tulisan opini kita mengajak para pembaca untuk ngikut apa yang kita tuju. Kita ngajak orang lain untuk berubah, ngajak para pembaca untuk punya perspektif dan paradigma yang sama dengan kita.</p>
<p>Tentu, bahasa yang dipake dalam beropini itu ga hanya deskripsi dan argumentasi. Namun juga, persuasi. Di sinilah pentingnya kita mengarahkan tujuan dalam tulisan kita. Kalo menentukan arah dan tujuan dari tulisan kita ini bermasalah, beuh! write&#8217;s block sudah menanti kapan pun kita menulis! Jadi, pastikan dulu, ya mo diapain dan digimanain, tulisan yang kita buat itu.   Berikutnya, soal menentukan media  yang akan dituju.</p>
<p>Hal ini juga penting diperhatikan, mengingat tulisan kita kan pengen dipublikasikan dan dibaca banyak orang. Artinya, kalo kita mo nulis opini tentang Islam, maka tulisan kita, ya dikirim ke media Islam dunk, jangan kita kirim ke media nonMuslim, ato kalo kita nulis soal bahaya pemikiran sepilis (sekularisme, pluraisme &amp; liberalisme), eh, kita malah posting di medianya orang-orang begituan.</p>
<p>Wah&#8230;, ntar Jaka Sembung bawa golok, dunk! Ups! Terakhir, kita juga kudu memperhitungkan plus menentukan siapa yang jadi para pembaca tulisan kita. Kalo bahasa marketingnya adalah ada segmentasi pasar yang dibidik gitu, lho! Kita nulis kan, untuk dibaca.</p>
<p>Jadi, siapa yang akan baca tulisan kita kudu diperhatiin juga, layaknya seorang da&#8217;i kepada mad&#8217;unya, seperti pengajar kepada anak didiknya, bak juru kampanye kepada konstituennya, sebagaimana seorang komunikator kepada komunikannya. Itulah, komunikasi yang efektif dan tepat sasaran! Kalo kita gagap nentuin sapa para pembaca tulisan kita itu, pasti deh, write&#8217;s block akan menghinggapi proses penulisannya. Gak mau, begitu, kan?</p>
<p>Jadi, buruan tentuin dulu, sapa yang bakal jadi pembaca tulisan kita. Kalo dah jadi professional book writer, kita malah sudah berhitung, sapa saja yang jadi pembaca setia kita, bahkan kita bisa bikin klub pembaca karya-karya kita. Keren abis!</p>
<p>Ntar, dalam edisi D&#8217;Rise berikutnya, masih nyambung sama tahapan saat kita nulis, ya, agar write&#8217;s block gak jadi alasan kita gak merampungkan tulisan. Intinya, kalo kita emang niat jadi penulis, write&#8217;s block emang hanyalah sebuah mitos belaka. Saya gak mengada-ada karena kalo kita dah punya azzam yang kuat jadi penulis, Allah Swt pasti memudahkan jalannya. Fatawakal&#8217;alallah&#8230;.Keep Write![]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block-bagian-2/">Mengupas Mitos write’s block bagian 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4049</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengupas Mitos write&#8217;s block bagian 1</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2019 10:20:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam proses kreatif menulis adakalanya seorang penulis mengalami &#160;write&#8217;s block atau sebuah kondisi di mana ia seperti kehabisan energi untuk menulis, idenya lumpuh, kreativitasnya menguap, bahkan hilang sama sekali. Apa yang sesungguhnya terjadi? Terus, gimana cara efektif sekaligus asyik biar kita bisa jalan terus menulis kreatif, sekaligus menumpas mitos write&#8217;s block ini? Cekidot! Bagi seorang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Mengupas Mitos write&#8217;s block bagian 1</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block/">Mengupas Mitos write&#8217;s block bagian 1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam proses kreatif menulis adakalanya seorang penulis
mengalami &nbsp;<em>write&#8217;s block</em> atau
sebuah kondisi di mana ia seperti kehabisan energi untuk menulis, idenya
lumpuh, kreativitasnya menguap, bahkan hilang sama sekali. </p>



<p>Apa yang sesungguhnya terjadi? Terus, gimana cara efektif
sekaligus asyik biar kita bisa jalan terus menulis kreatif, sekaligus menumpas
mitos <em>write&#8217;s block</em> ini? <em>Cekidot</em>! </p>



<p>Bagi seorang pemula yang masih gagap dalam menulis, bisa
jadi ia sering mengalami apa yang dinamakan write&#8217;s block ini. </p>



<p>Namun, bagi seorang profesional, write&#8217;s block ini hanyalah mitos
yang terlalu dibesar-besarkan. FYI saya pernah nanya kepada beberapa penulis
profesional soal <em>write&#8217;s block</em> dalam proses kreatif mereka. </p>



<p>Ternyata, mereka bilang, &nbsp;“Write&#8217;s block? No way!”. Justru, mereka balik
memotivasi saya dengan <em>quote-quote</em> yang asyik punya, <em>for example</em>,
“menulis itu gampang!” kata M. Zainal Mutaqien, seorang praktisi media
nasional. </p>



<p>“Menulis (fiksi) itu mudah.” cetus Asma Nadia, penulis buku-buku
remaja &amp; muslimah <em>national bestseller</em>. Bahkan, “menulis (skenario) itu
lebih mudah.” timpal Gola Gong, seorang penulis naskah skenario beberapa tv
swasta nasional. </p>



<p>Jadi, langkah pertama untuk menumpas mitos <em>write&#8217;s block</em>
itu ada pada niat kita sendiri, kita serius <em>gak</em>, <em>seh</em>, jadi
penulis? Trus, <em>ngapain</em> kita nulis? Buat apa/siapa kita nulis? Nah, lho?!
</p>



<p><em>So</em>, <em>kalo</em> kita <em>dah</em> serius <em>pengen</em> jadi
penulis berarti niat kita <em>dah</em> mantep alias <em>dah</em> siap lahir batin
mendapat &nbsp;predikat sebagai penulis atau
bahkan <em>professional writer</em>. Wah keren, kan, tuh? Artinya proses kreatif
menulis kita dihargai orang dengan sejumlah nominal tertentu. <em>Mo</em> contoh
yang keren punya, liat <em>aja</em> Ali Akbar Navis, seorang penulis dari ranah
minang, <em>doi</em> <em>emang</em> mantep milih opsi hidup jadi penulis. </p>



<p>Saking semangatnya nulis, A.A. Navis <em>ngaku</em> bahwa
lebih dari 99 kali naskahnya ditolak sama penerbit alias <em>gak</em> satupun naskahnya
yang dipublikasikan! Pertanyaannya kini, apakah <em>doi</em> patah arang <em>ngelanjutin</em>
profesi jadi penulis? </p>



<p>Ternyata, <em>kagak</em>! A.A. Navis terus berkarya, dan
hasilnya… ia diganjar sebagai penulis terbaik nasional <em>taon</em> 1997 oleh
Dewan Kesenian Jakarta berkat karyanya, <em>Robohnya Surau Kami</em>. Jempol,
kan, tuh! Nah, <em>kalo</em> niat kita <em>dah</em> mantep jadi penulis, jangan
ragu tinggal <em>action</em> yang <em>kudu</em> <em>dijabanin</em>! Di sini,
kita-kita <em>kudu</em> <em>tau</em>, apa <em>aja</em> yang <em>kudu</em> <em>disiapin</em>
<em>kalo</em> <em>mo</em> nulis. </p>



<p>Artinya <em>gak</em> cukup siap sedia kertas <em>ama</em> pulpen
doang, kan? &nbsp;Teori mudahnya adalah, <em>kalo</em>
kita <em>mo</em> nulis ada <em>guidence</em>nya <em>gitu</em>, lho. Maksudnya ada
tahapan demi tahapan &nbsp;yang pasti kita
lalui <em>kalo</em> nulis. Secara garis besar, biasa dibagi dua, yaitu tahapan
sebelum menulis <em>en</em> tahapan saat menulis. <em>Kalo</em> dua tahapan ini &nbsp;terkendala. </p>



<p>Pasti deh, alamat <em>write&#8217;s block</em> bakal kita alami
alias mentok di &nbsp;tengah jalan! <em>Gak</em>
asyik banget kan, kalo semangat nulis kita pun, tibatiba&nbsp; menguap! <em>So</em>, apa <em>seh</em> tahapan
sebelum nulis &nbsp;itu? <em>Neh</em>, saya <em>kasi</em>
bocoronnya, ya dikit aja. Soalnya terbatas spacenya. </p>



<p><em>Pertama</em>, menentukan ide; <em>Kedua</em>, menyiapkan
referensi atau sumber bacaan; <em>Ketiga</em>, menentukan arah atau tujuan; <em>Keempat</em>,
menentukan media yang akan dituju; <em>Kelima</em>, menentukan khalayak sasaran
yang akan dituju via tulisan yang kita bikin. </p>



<p>Pengen lebih jelas, nantikan D&#8217;Rise edisi berikutnya. Hehehe&#8230;
Jujur <em>aja</em>, teori ini didasarkan pada fakta empirik yang lazim dialami oleh
para penulis, termasuk Dan Brown ataupun J.K. Rowling sekalipun! Jadi, jangan
sampe ketinggalan lanjutan jurus jitu menumpas mental block writer&#8217;s biar kita
bisa jadi penulis handal. Don&#8217;t miss it![] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block/">Mengupas Mitos write&#8217;s block bagian 1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/mengupas-mitos-writes-block/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3820</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Asyiknya Menulis</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/asyiknya-menulis-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/asyiknya-menulis-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Jun 2019 22:41:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3766</guid>

					<description><![CDATA[<p>By Salman Ikandar Bagi sebagian orang, menulis adalah aktivitas yang merepotkan, menyusahkan, bahkan,  memberatkan. Mereka beralasan bahwa menulis membutuhkan ide, tema, metode, karakter, teori, bahkan alat-alat tulis yang harus setia setiap saat. Ada yang bilang bahwa aktivitas menulis membutuhkan keterampilan khusus yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan aktivitas mendengar, membaca atau bicara. Komentar lain juga &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/asyiknya-menulis-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Asyiknya Menulis</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/asyiknya-menulis-2/">Asyiknya Menulis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>By Salman Ikandar</p>



<p>Bagi sebagian orang, menulis adalah aktivitas yang merepotkan, menyusahkan, bahkan,  memberatkan. Mereka beralasan bahwa menulis membutuhkan ide, tema, metode, karakter, teori, bahkan alat-alat tulis yang harus setia setiap saat. Ada yang bilang bahwa aktivitas menulis membutuhkan keterampilan khusus yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan aktivitas mendengar, membaca atau bicara. Komentar lain juga ikut nimbrung, bahwa menulis memberatkan karena seorang penulis <em>kudu</em> cerdas alias berilmu. </p>



<p>Nah, soal cerdas inilah yang jadi masalah karena <em>gak</em>
semua orang suka belajar, doyan baca, hobi diskusi <em>ato</em> &nbsp;demen meneliti. Sesungguh nya menulis bukanlah
perkara yang sulit, repot ataupun berat karena semua orang yang ”normal”
dibekali kemampuan &nbsp;untuk menulis, selama
dia mampu berpikir dengan baik. Menulis layaknya ”berbicara”, menyampaikan
pesan, gagasan, ilmu ataupun pengetahuan kita kepada orang lain, melalui media.
Menulis adalah menyampaikan pesan secara tidak langsung. Jadi, selama kita mampu
berpikir dan berbicara maka sesungguhnya kita mampu untuk menulis! </p>



<p>Bahkan, <em>kalo</em> <em>mo</em> jujur, sebagian besar di antara
para pembaca <em>D&#8217;Rise</em>, tentu pernah menulis, paling <em>gak</em>, nulis
pe-er, nulis surat cinta, nulis catatan harian <em>ato</em> <em>diary</em>. Ayo ngaku!
Bagi seorang Mukmin, menulis adalah karakteristik yang tak terpisahkan dari
dirinya. Pada masa kenabian, para shahabat nabi berlomba untuk menghapal dan
menulis <em>alwahyu</em> ataupun <em>al-hadits</em> dari nabi saw.&nbsp; Hingga pada masa berikutnya, menulis telah&nbsp; menjadi tradisi intelektual bagi kaum Muslim.
Hingga lahir kalangan intelektual Muslim dari rahim peradaban Islam, seperti
Imam Hasan al-Bashri, Imam Ja&#8217;far ash-Shodiq, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin
Anas, Imam Muhammad bin Idris, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Ghozali, Imam
Bukhori, etc.&nbsp; Keren! </p>



<p>Nah, kita mengenal dan <em>ngeh</em> sama keilmuan mereka yang
mumpuni itu, dari karya-karya kreatif yang mereka wariskan untuk generasi kita
saat ini. Melalui buku yang mereka tulis, kita dapat belajar Islam. Inilah yang
dikatakan nabi sebagai ilmu bermanfaat yang amal kebaikannnya terus mengalir, sekalipun
jasad telah lama dikebumikan. Ilmu yang jadi garansi memasuki surga-Nya. Nah, kalo
kita Mo jadi ahli surga, ikuti jejak mereka. Menulis! &nbsp;</p>



<p>Trus, kalo kita mo serius menggeluti dunia kepenulisan ini,
gak sekadar bentuk aktualisasi diri. Aktivitas kepenulisan juga menawarkan
prestasi dunia bagi para aktivisnya. Seorang penulis yang karyanya pernah
dipublikasikan, tentu dia dapet duit dari karya kreatifnya yang dibaca orang. Bahkan,
dia bakal digadang-gadang oleh penerbitnya bak selebriti. <em>Mo</em> contoh kongkret?
Liat <em>aja</em> para penulis beken di negeri Si Komo ini, ada Kang Abik, Mbak Asma,
Bunda Helvy, Mas Tasaro, Anwar Fuady, Andrea Hirata, Agnes Davognar atau bahkan
yang sudah <em>ngepop</em> duluan <em>kek</em> Dewi&nbsp;
Lestari ama Raditya Dika. &nbsp;</p>



<p>Karya-karya mereka <em>gak</em> hanya nampang di toko buku,
diburu para penggemarnya, dibicarakan dalam banyak <em>event</em> tapi juga
diangkat ke layar sinetron atau bahkan layar lebar. Asyik banget, kan? Saya
sendiri telah merasakan bagaimana melalui aktivitas menulis, saya dapat
melepaskan beban <em>stressing</em> ataupun kepenatan dalam menjalani kehidupan.
Asyik banget. Ya, menulis seperti mengeluarkan unek-unek, meluapkan angan,
meluahkan asa, atau bahkan sekadar curahan hati dan jiwa dalam berkontemplasi. &nbsp;</p>



<p>Kita dapat melihat pada fakta sejarah, banyak para pejuang
yang tetap konsisten dan penuh energi dalam memperjuangkan ide dan ideologinya
melalui buku-buku yang mereka &nbsp;tulis. Ada
Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail dari al-Quds, Palestina yang konsisten berjuang untuk
membangun kembali peradaban Islam dengan banyak menulis kitab islam ideologis, sekaligus
dalam upayanya membesarkan partai yang didirikannya. </p>



<p>Di negeri ini, kita pun dapat memetik pelajaran dari para
pendiri bangsa, seperti Tan Malaka yang menulis booklet <em>Naar de Republiek
Indonesia</em> atau Menuju Republik Indonesia pada 1925, Soekarno yang menulis risalah
<em>Mentjapai Indonesia Merdeka</em> pada 1928 atau Mohammad Hatta yang menulis pledoi
<em>Indonesia Vrije</em> atau Indonesia Merdeka pada 1933. Para pendiri bangsa
ini memiliki visi yang sama yaitu kemerdekaan bangsanya dari semua bentuk
penjajahan. &nbsp;</p>



<p>Tokoh-tokoh yang disebutkan tadi telah menjadikan aktivitas
menulis sebagai sarana perjuangan dalam meraih apa yang mereka cita-citakan.
Mereka merasa tetap “hidup” dan “dihidupkan” dengan karya-karya yang mereka
tulis hingga melampaui zaman. Buktinya, kita yang hidup di zaman <em>high-tech android</em>
ini dapat mengenal mereka, kan?&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Selain itu, aktivitas menulis juga dapat menyembuhkan lho.
Tuh liat, J.K. Rowling adalah buktinya! Saat dia nulis buku fenomenalnya yang
menyabet megabestseller di seluruh dunia, Harry Potter itu, J.K. Rowling tengah
mengalami depresi karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Selama sekian lama, J.K.
Rowling menghabiskan waktunya di salah satu kedai kopi di pinggiran kota
London, Inggris untuk melepaskan beban psikisnya hingga suatu ketika ia
mendapatkan ide liar, menulis kisah fiksi imajinasi yang merambah rayah dunia
sihir. </p>



<p>Hasilnya, kini, kekayaan materinya diperkirakan melampaui
kekayaan Ratu Elizabeth II sekalipun! Menulis tidak hanya mengasyikan bagi J.K.
Rowling, namun juga sekaligus jadi <em>psiko ventilasi</em> alias jalan keluar
bagi masalah mentalnya yang sedang <em>down</em>! Menulis telah menyembuhkan
jiwanya yang tertekan. Nggak percaya? Coba aja <em>Kalo</em> kita lagi suntuk <em>ato</em>
tengah sumpek, ayolah&#8230; menulis?! Dijamin lega, deh?!&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;<em>So</em>,
menulis itu bukanlah sesuatu yang menyulitkan apalagi memberatkan. Tetapi, aktivitas
yang menyenangkan, mengasyikan, sekaligus menyembuhkan! Ayo kita menulis?![] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/asyiknya-menulis-2/">Asyiknya Menulis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/asyiknya-menulis-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3766</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
