<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Media Watch Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/category/media-watch-majalah-remaja-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2020 06:43:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Awkarin Bukanlah Kita</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/awkarin-bukanlah-kita/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/awkarin-bukanlah-kita/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2020 06:43:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4578</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buat yang belum pernah denger istilah Awkarin, nggak usah kepo deh. Kita kasih tau aja ya. Singkatnya: &#160;doi itu gadis yang baru 18 tahun dan tibatiba populer di media sosial. Ini karena&#160; postingan foto atau videonya yang gaul: baju seksi, merokok, minum alkohol dan pacaran. Nah, yang terakhir ini yang bikin enek: gaya pacaran yang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/awkarin-bukanlah-kita/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Awkarin Bukanlah Kita</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/awkarin-bukanlah-kita/">Awkarin Bukanlah Kita</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Buat yang belum pernah denger istilah Awkarin, nggak usah kepo deh. Kita kasih tau aja ya. Singkatnya: &nbsp;doi itu gadis yang baru 18 tahun dan tibatiba populer di media sosial. Ini karena&nbsp; postingan foto atau videonya yang gaul: baju seksi, merokok, minum alkohol dan pacaran.</p>



<p>Nah, yang terakhir ini yang bikin enek: gaya pacaran yang vulgar. &nbsp;Herannya, penduduk dunia maya tergila-gila memujanya. Mungkin karena ia sangat mewakili anak muda. Di saat remaja seusianya ragu-ragu dan malu mengekspresikan kebebasannya (entah karena jaim, segen ama temen dan takut dimarahi ortu), Awkarin melakukkannya tanpa beban. Berjiwa muda dan bergaya bebas.</p>



<p>Padahal, waktu masih SMP ke sekolah nutup aurat rapi jali. Masih lugu, imut dan polos banget. Lalu bertransformasi jadi “liar” seperti sekarang. Tanpa takut dan ragu. &nbsp;Eits, tentu saja tulisan ini nggak bermaksud nge-judge si Awkarin. Udah cukup kok yang nyinyirin dia. Kita doakan aja, doi segera menemukan hidayah dan kembali polos seperti sedia kala.</p>



<p>Tulisan ini cuma mau ngingetin kamu-kamu, supaya jangan sampai terkena Awkarin effect. Apalagi sampai jadi “Awkarin-Awkarin” selanjutnya yang memenuhi sampah media sosial.</p>



<p><strong>Salah Identitas</strong></p>



<p>D&#8217;Riser, usia belasan seperti kamu, &nbsp;pastinya belum punya banyak pengalaman hidup. Masih hobi &#8216;haha-hihi&#8217; dengan mencoba berbagai identitas diri. Terkadang, kamu sengaja cari<em> role model</em> untuk mengekspresikan jati diri itu. &nbsp;Sosok idola seperti artis, mungkin “terlalu” tinggi dijangkau. Terlalu idealis untuk menjadi <em>role model</em> di dunia nyata. Terlalu cantik, terlalu kaya, terlalu populer dan terlalu sempurna.</p>



<p>Tetapi tidak demikian jika<em> role model</em> itu adalah sosok orang kebanyakan. Tak heran bila Awkarin, yang notabene berangkat dari gadis biasa kebanyakan, sontak jadi idola. &nbsp;Anak-anak muda merasa sangat bisa seperti Awkarin, karena relatif lebih “mudah”. Tinggal bergaya lebih kece dan sedikit pede. Bagi anak muda kebanyakan, Awkarin adalah dirinya. Itu sebabnya langsung dijadikan panutan.</p>



<p>&nbsp;Apalagi para fans yang rata-rata remaja SMP dan SMA itu, memang masih punya pemikiran yang labil. Buktinya, tiap postingan doi, terutama saat bersama pacarnya yang intim, langsung menghimpun ribuan like. Komentar para followernya juga mendukung, seperti:</p>



<p>&nbsp;&#8220;OMG, <em>relationship goals </em>banget!&#8221; Efek Awkarin,</p>



<p>akan semakin membeludak remaja yang bergaya bebas, eksis dan narsis dengan vulgar di media sosial. Memang masih banyak orang-orang terkenal yang lebih bejat dari dirinya yang juga menebar keburukan.</p>



<p>Tetapi, tidak boleh menutup mata bahwa dia telah terlanjur menjadi inspirasi. Sengaja atau tidak sengaja, niat atau tidak niat, sedikit atau banyak pasti ada yang menirunya. &nbsp;</p>



<p><strong>Waraslah</strong></p>



<p>Kamu, ya, kamu, jangan pernah &nbsp;bermimpi menjadi Awkarin. Benar, kamu emang remaja dan berjiwa muda. Tapi, bukan remaja gaul. Kamu adalah remaja muslim. Beda. Kalau masih terbersit dalam hatimu keinginan menjadi seperti Awkarin, itu mimpi buruk. Kamu butuh pertolongan. <em>Pertama</em>, perbaiki otakmu.</p>



<p>Pemahamanmu. Ngaji yang bener. Biar tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang sesuai Islam, mana yang bertentangan dengan Islam. Berpose seksi, mengumpat, merokok, minum alkohol dan pacaran bukanlah ajaran Islam.</p>



<p>Dosa. <em>Kedua</em>, mintalah nasihat. Orangtua jangan dimusuhi. Ayah ibu jangan dijauhi. Remaja sepertimu, membutuhkan <em>support </em>lingkungan yang baik. Orang-orang yang baik. Orang yang lebih pengalaman yang bisa mengarahkan hidupmu. Jangan sampai kelak masa mudamu jadi penyesalan. Hari ini, banyak orang dewasa yang menyesali masa suram remajanya.</p>



<p>Dulu, mereka juga labil seperti kamu. Banyak melakukan <em>trial and error. </em>Salah gaul, hura-hura, hihi-haha. Kini, sungguh tak mudah menghapus jejak-jejak &nbsp;kejahiliyahan itu. Apalagi, jika terlanjur direkam media sosial.</p>



<p>Misal, ada artis yang sudah menutup aurat, sangat menyesal karena tak mampu menghapus foto-foto pamer auratnya yang terlanjur tersebar seantero jagat. Ada istri yang sudah bahagia bersama suami tercinta, goyah rumah tangganya garagara sepotong foto mesra dengan sang mantan yang masih gentayangan. &nbsp;Maka, sungguh kamu membutuhkan nasihat dan dukungan dari orang-orang baik di sekitarmu.</p>



<p>Supaya kamu &#8216;waras&#8217; sejak muda. Supaya kamu saleh secepatnya. Kalau bisa dan harus, tak perlu mengalami masa-masa kejahiliyahan. Karena, itu cuma buang-buang tenaga. Menebar kontroversi, sharing lebay dan mempertontonkan kejahiliyahan di media sosial memperpanjang daftar dosa. Semua itu kelak akan dipertanggungjawabkan.</p>



<p>Bukan hanya di hadapan para penduduk dunia maya, apalagi guru atau orangtua, lebih dari itu Allah SWT menyaksikannya. Ingatlah! Sekali menebar keburukan, lalu ditiru, saat bertobat, mungkin saja sudah terlambat. Persis seperti memaku kayu, lalu kau cabuti lagi paku-paku itu, lubang yang menganga tak akan bisa tertutup kembali. Jadi, tak usahlah bermimpi eksis seperti Awkarin. Karena, Awkarin bukanlah kita.(*)</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/awkarin-bukanlah-kita/">Awkarin Bukanlah Kita</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/awkarin-bukanlah-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4578</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pake iman bukan POkemon</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/pake-iman-bukan-pokemon/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/pake-iman-bukan-pokemon/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2020 02:30:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4527</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tetiba dunia disibukkan para monster. Yang pemain sibuk nangkepi, yang nggak main sibuk mengingatkan &#160;bahayanya. Sebab, udah banyak korban berjatuhan. Para pejabat militer bahkan mengingatkan kemungkinan aksi intelijen di balik demam Pokemon Go. Waduh! Ini urusan games kok jadi meleber mengglobal lebay begini, ya? Ada apa sebenarnya? &#160;_ Pokemon Go memadukan peta dunia nyata dengan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/pake-iman-bukan-pokemon/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Pake iman bukan POkemon</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pake-iman-bukan-pokemon/">Pake iman bukan POkemon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tetiba dunia disibukkan para monster. Yang pemain sibuk nangkepi, yang nggak main sibuk mengingatkan &nbsp;bahayanya. Sebab, udah banyak korban berjatuhan. Para pejabat militer bahkan mengingatkan kemungkinan aksi intelijen di balik demam Pokemon Go.</p>



<p>Waduh! Ini urusan games kok jadi meleber mengglobal lebay begini, ya? Ada apa sebenarnya?</p>



<p>&nbsp;_ Pokemon Go memadukan peta dunia nyata dengan peta virtual. Pemain kudu mendatangi lokasi tertentu di dunia nyata, temukan monster yang muncul di dunia digital, tangkap, poin. Itu yang bikin beda dengan game lainnya. Serunya beda. Kepuasannya beda.</p>



<p>&nbsp;_ So, meski baru resmi diluncurkan di 3 negara, Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru, hebohnya sudah mendunia. Usernya sudah ada di mana-mana. Bikin down server Niantic yang merilisnya. Lebih heboh lagi, dilaporkan pula korban-korban berjatuhan. Gara-gara main game itu di tempat umum, ada yang jadi korban kecelakaan. Ada yang tersesat di terowongan. Ada yang dirampok, dll.</p>



<p>_ Di Indonesia, meski belum resmi diluncurkan di sini, pemainnya juga sudah bejibun. Pejabat hingga militer pun sudah mengingatkan bahayanya. Termasuk dugaan, permainan ini jadi ajang spionase untuk mencuri peta lokasi-lokasi strategis dan rahasia sebuah negara. Maka, dilarang memainkan di tempat-tempat strategis milik negara. &nbsp;</p>



<p><strong>Peradaban Main-main</strong></p>



<p>_ Saat ini, dunia dalam kungkungan peradaban sekuler-liberal. Peradaban ini sangat mendewakan hiburan. Entertaiment. Games. Film. Musik. Video. Bola. Media Sosial. Itu semua adalah hiburan. Dibangun sama pentingnya dengan pembangunan bidang lainnya.</p>



<p>_ Maka, produk-produk hiburan seperti game akan terus diproduksi demi merangsang hormon dopamin yang membuat para penggilanya merasa bahagia. Nah, &nbsp;Pokemon Go hanyalah salah satunya. Maka, &nbsp;sejak generasi millenium hingga hari ini, hiburan jadi ruh bagi manusia modern. Kebutuhan pokok.</p>



<p>_ Berjam-jam usia manusia habis untuk menikmati hiburan. Bermiliar rupiah peredaran uang menggelembung di dunia hiburan. Menyedot sumber daya keuangan umat dunia. Lihat saja gaya hidup kaum &nbsp;penghibur yang lebih makmur dibanding ilmuwan, misalnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;_ Pokemon Go pun tak lepas dari lingkaran setan kapitalisasi di dunia hiburan. Ujung-ujungnya uang. Perusahaan pemilik merek Pokemon Go, Nintendo dipastikan mengeruk keuntungan berlipat. Antara lain dari penjualan benda-benda yang jadi kebutuhan berburu dan mesti dibeli menggunakan uang sungguhan. Juga, rencana Nintendo untuk menciptakan iklan virtual di lokasi penangkapan Pokemon.</p>



<p>_ Di ranah <em>user </em>pun, saat ini penjualan akun Pokemon Go sudah mulai marak. Para <em>gamer maniac</em> yang sukses menangkap banyak monster, menjual akunnya kepada para pengguna game yang malas bersusah payah. Bahkan, acara di Amerika Serikat “Ripley&#8217;s Believe It or Not” siap mengganjar pemain yang berhasil menangkap Pokemon langka dengan hadiah 5.000 dolar AS atau Rp65 jutaan <em>(liputan6.com, 18/7/16)</em>.</p>



<p>&nbsp;_ Belum lagi bisnis lain yang turut terkerek seiring popularitas Pokemon Go. Sebentar lagi, stiker, kartu permainan, monopoli, sampul buku tulis, tas sekolah, kaos main atau baju tidur anak, sarung bantal-guling, boneka, bahkan mukena sekalipun, bakal bertaburan karakter Pokemon. Menjajah alam bawah sadar kita.</p>



<p>_ Well, ajaran sekuler memang berpikir bahwa hidup ini hanya main-main saja. Beruntung bisa kaya, kalau miskin ya nasib. Beruntung bisa baik, kalau jadi orang jahat, ya takdir. Beruntung bisa masuk surga, kalau masuk neraka, gimana entar. Yang penting di dunia bersenang-senang. Main-main. Ada sih yang serius, ya itu tadi, &nbsp;serius memikirkan bagaimana kesenangan ini terus berlangsung langgeng. &nbsp;</p>



<p><strong>Peradaban Serius</strong></p>



<p><strong>&nbsp;</strong>_ Tentu beda banget sama konsep peradaban yang dibangun ideologi Islam. Islam membangun masyarakat serius, tidak memainkan hidup. Sejak Rasulullah SAW diutus hingga eksinya peradaban Islam 1.300 tahun lebih, umat manusia tak pernah dimanjakan dengan permainan. Paling-paling permainan tradisional di berbagai tradisi, tempat rehat dari &nbsp;aktivitas. Tapi, tidak diorganisir dan dihebohkan hingga berujung uang.</p>



<p>&nbsp;_ Maka, pemuda dulu nggak hobi main. Hobinya belajar. Haus ilmu. Nggak ada yang menghabiskan umurnya sekadar nongrong main gaple. Apalagi main games, nonton film, dengerin musik, mantengin film, dll. Hasilnya? Pemuda saat itu tangguhtangguh. Hebat. Pintar. Saleh. Berguna buat umat.&nbsp;</p>



<p>_ Usia muda udah jadi ulama sekaligus ilmuwan. Sastrawan plus agamawan. Pengajar juga penulis. Kaya tapi dermawan. Pintar juga berakhlak. Jauh bumi dan langit dibanding remaja produk peradaban sekuler saat ini.</p>



<p>&nbsp;_ So, terlepas dari dampak negatifnya, Pokemon Go seharusnya tidak menjadi bagian penting bagi kehidupan kaum muslim. Nggak butuh permainan yang menyita waktu dan buang-buang energi. Buat apa? Manfaat positifnya apa?</p>



<p>_ Nambah pinter nggak, nambah saleh nggak. Boro-boro nambah iman, jamin surga juga nggak. Makanya, pikir-pikir dulu deh kalo mau nangkep Pokemon. Mending manfaatkan waktu buat nangkep yang jelasjelas aja deh. Surga. Dan itu bisanya pake  iman, bukan pake Pokemon. [Asri]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pake-iman-bukan-pokemon/">Pake iman bukan POkemon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/pake-iman-bukan-pokemon/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4527</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Celebriy Culture Melanda Remaja</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/celebriy-culture-melanda-remaja/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/celebriy-culture-melanda-remaja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2020 07:56:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4468</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak entertaiment menyelundup dalam gaya hidup masyarakat Indonesia, seolah tiada hari tanpa &#160;memelototi dunia artis. Dunia hiburan kian memesona remaja. Musik, film dan idola menjadi isu penting. Usianya habis demi mendapatkan kenikmatan dari panggung hiburan. Telinganya tak lepas dari lantunan &#8216;ayat-ayat&#8217; cinta penyanyi idolanya. Mulutnya basah menyenandungkan lirik lagu yang sedang hits. Matanya tak berkejap &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/celebriy-culture-melanda-remaja/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Celebriy Culture Melanda Remaja</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/celebriy-culture-melanda-remaja/">Celebriy Culture Melanda Remaja</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak entertaiment menyelundup dalam gaya hidup masyarakat Indonesia,
seolah tiada hari tanpa &nbsp;memelototi dunia
artis. Dunia hiburan kian memesona remaja. Musik, film dan idola menjadi isu
penting. Usianya habis demi mendapatkan kenikmatan dari panggung hiburan.
Telinganya tak lepas dari lantunan &#8216;ayat-ayat&#8217; cinta penyanyi idolanya. </p>



<p>Mulutnya basah menyenandungkan lirik lagu yang sedang hits.
Matanya tak berkejap sedikitpun dari adegan-adegan film kegemaran. Rela
berkorban harta demi memperkaya idola. Merogoh jutaan rupiah demi konser yang
memanggungkan sang idola dan mengoleksi pernak-perniknya. Budaya “ngartis” ini
pun kian menjadi-jadi di media sosial. Karena, kini para fans bukan saja bisa
memelototi idolanya, bahkan bisa menjelma menjadi idola itu sendiri. </p>



<p>Ya, media sosial membuka mimpi bagi siapa saja untuk
terkenal. &nbsp;Banyak yang telah sukses
terkenal berkat Youtube, Instagram, Facebook, Twitter, Path, Vlog (video blog)
dan sejenisnya. Ada yang eksis karena talentanya, tak sedikit yang karena
kenyeleneh-annya. Aksi-aksi memalukan, dan bahkan aib, diumbar demi mendongkrak&nbsp; volume followers. </p>



<p>Menaikkan popularitas. Karena, makin populer makin banyak
job. Makin kaya. Inilah <em>celebrity culture</em>, di mana popularitas dan uang
adalah tujuan. Kebahagiaan hidup. Itulah yang diimpikan remaja yang tumbuh
dalam budaya sekuler ini. Apakah ini potret generasi harapan bangsa? </p>



<p><strong>Merusak Mental </strong></p>



<p>Orientasi hidup materialistik ini &nbsp;merusak arah pandang remaja. Kepungan <em>celebrity
culture </em>lambat laun membuat kecanduan. Merasa ketinggalan informasi jika belum<em>
up date</em> info-info terkini dunia keartisan. Merasa terasing dari pergaulan
jika tak kenal nama-nama orang terkenal yang jadi perbincangan. &nbsp;Merasa tak nyambung dari obrolan jika tak
mengikuti alur film-sinetron yang kejar tayang. Maka, remaja menghabiskan waktunya
untuk mengikuti isu-isu seputar dunia hiburan saja. Minim kreativitas dan aktivitas.
</p>



<p>Efek negatifnya, pecandu dunia hiburan ini akan jauh dari
ajaran agamanya. Kian tak khusyu&#8217; dan bahkan ogah-ogahan menegakkan salat,
karena telah lelah untuk berleha-leha. Enggan melantunkan ayat-ayat suci
Alquran, karena volume telinganya sudah <em>overload</em> dengan lagu-lagu cinta.
Enggan mengkaji Islam, karena isi kepalanya sudah dijejali &#8216;kajian-kajian&#8217;
entertaiment dari berbagai media.&nbsp; &nbsp;Sementara bagi remaja yang &#8216;sukses&#8217; populer
secara instan, kerap mengidap sindrom orang terkenal. Tidak siap mental. Stres.
Depresi. </p>



<p>Mereka menyangka sangat nikmat menjadi populer. Iya,
awalnya. Banyak job dan dikejar uang. Tapi, itu harus dibayar dengan tekanan
kerja gila-gilaan. Eksploitasi tenaga dan pikiran. Dikejar-kejar penggemar, digosipkan,
dan di-bully para pembenci. &nbsp;Orang baru
ngetop ini pun dilumuri kepura-puraan. Pencitraan. Harus tampak &nbsp;a sempurna. Menjaga penampilan, fisik, dan diet
ketat. Menjaga sikap, berusaha selalu tersenyum dan tak asal bertutur kata. Pokoknya
harus menjaga <em>imaje </em>terusterusan. </p>



<p>Tak bisa tampil apa adanya. Tak&nbsp; bisa menjadi diri sendiri. Bagi yang tak
kuat, larilah ke halhal negatif. Obat-obatan terlarang kerap&nbsp; dianggap bisa mendongrak rasa percaya diri. Tak
heran bila dunia keartisan ditengarai&nbsp; dekat
dengan narkoba. Ada juga yang memilih melarikan diri dengan pesta-pesta di dunia
gemerlap yang menyedot habis kekayaannya. Juga, melakukan kekonyolankekonyolan yang
kontraproduktif bagi eksistensinya. Bunuh diri misalnya. &nbsp;</p>



<p><strong>Pelemahan SDM </strong></p>



<p>Serangan budaya selebritas adalah &nbsp;ancaman bahaya bagi generasi bangsa yang gencar
dilakukan untuk melemahkan SDM umat muslim. Remaja yang terkungkung racun <em>celebrity
culture, </em>hanya menjadi manusia rendah kualitasnya. </p>



<p>Bagaimana mereka bisa serius membina diri menjadi sumber
daya manusia (SDM) unggul, jika hanya fokus pada kesenangan individual? &nbsp;Padahal, pembangunan sebuah masyarakat sangat
tergantung pada SDMnya yang tidak dilahirkan dengan kualitas prima begitu saja.
</p>



<p>SDM dibentuk dari hasil <em>treatment </em>manusia itu
sendiri. SDM yang harus digembleng, dibina, dididik, diarahkan dan dibentuk
menjadi manusia-manusia terbaik. Manusia yang kelak mampu menjalankan sistem
terbaik. </p>



<p><strong>Pejuang Islam </strong></p>



<p>Kamu, ya, kamu, jangan sampai &nbsp;teracuni budaya ngartis ini. Kalian adalah calon
pemimpin dambaan umat. Penerus penegak peradaban mulia, yakni peradaban Islam.
Bebaskan diri dari penghambaan terhadap budaya selebritas. Bersihkan nilainilai
materialistik yang mengganggu konsentrasi dalam pembinaan. &nbsp;Gembleng menjadi pejuang Islam, bukan pejuang
sekulerisme. </p>



<p>Jadilah generasi berkualitas seperti generasi di masa Rasulullah, para sahabat, tabiin dan tabiut. Memang, saat ini tak mudah melahirkan generasi berkualitas sekaliber sahabat itu. Mengapa? Karena sistemnya masih sekuler. Itulah mengapa generasi muda saat ini wajib menjadi pejuang untuk meruntuhkan sistem sekuler dan mengganti dengan sistem Islam. Yuk merapat!(*) </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/celebriy-culture-melanda-remaja/">Celebriy Culture Melanda Remaja</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/celebriy-culture-melanda-remaja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4468</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Aku Tandai Kau, Nepotisme!</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/aku-tandai-kau-nepotisme/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/aku-tandai-kau-nepotisme/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Feb 2020 06:56:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4387</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku tandai kau, ya! Kalimat itu lagi happening banget di kalangan netizen. Itu ucapan siswi berinisial SD &#160;pada polwan yang menghentikan mobilnya saat konvoi kendaraan pasca Ujian Nasional. Itu loh, remaja asal Medan yang ngakungaku anak jenderal, padahal bukan. Gara-gara kelakuannya, SD langsung di-bully netizen. Akibatnya vatal. &#160;Dara cantik itu shock dan bahkan ayahnya meninggal &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/aku-tandai-kau-nepotisme/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Aku Tandai Kau, Nepotisme!</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/aku-tandai-kau-nepotisme/">Aku Tandai Kau, Nepotisme!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Aku tandai kau, ya! Kalimat itu lagi happening banget di
kalangan netizen. Itu ucapan siswi berinisial SD &nbsp;pada polwan yang menghentikan mobilnya saat
konvoi kendaraan pasca Ujian Nasional. Itu loh, remaja asal Medan yang
ngakungaku anak jenderal, padahal bukan. Gara-gara kelakuannya, SD langsung di-bully
netizen. Akibatnya vatal. &nbsp;Dara cantik itu
shock dan bahkan ayahnya meninggal karena serangan jantung. Terlepas itu memang
qodho, diduga sang ayah tak tahan dengan berita di media yang terus memojokkan
putrinya. Tragis. Tanpa bermaksud ikut mem-bully, banyak pelajaran dari kasus
ini. Pertama, pentingnya menaati peraturan apapun agar berujung pada kebaikan.
Kedua, pentingnya menjaga perilaku dan etika di manapun berada. Ketiga, betapa
mengakarnya budaya nepotisme hingga menginveksi otak remaja.&nbsp; &nbsp;&nbsp;</p>



<p><strong>Taat Aturan&nbsp; </strong></p>



<p>Perilaku remaja yang biasa &nbsp;merayakan berakhirnya UN dengan hurahura, sudah
banyak dikupas. Misal, merayakan di jalan raya dengan konvoi&nbsp; kendaraan yang mengganggu pengguna jalan lain.
Padahal, siapapun wajib menaati aturan berlalulintas. Ini memang kita sesalkan.
Ingat, di manapun kita berada, harus selalu disiplin menerapkan aturan. Selama aturan
itu tidak bertentangan dengan perintah dan larang Allah SWT, mengapa harus
dilanggar? </p>



<p>Tertib dalam berkendaraan, sabar dalam antrean, &nbsp;menaati rambu-rambu lalu lintas, dan mengikuti
prosedur dalam segala urusan, pasti akan membawa kebaikan. &nbsp;Jangan coba-coba melanggar. &nbsp;Selain berpotensi membahayakan diri, juga membahayakan
orang lain. Kita tidak perlu takut berhadapan dengan siapapun asal melakukan
tindakan yang benar. Apalagi “cuma” berhadapan dengan polisi. Selama kita tertib
mengikuti aturan, tidak perlu gentar. Sehingga, tidak pada tempatnya jika ada aparat
yang berusaha menegakkan ketertiban, malah jadi tumpahan kemarahan. Yang salah siapa,
yang marah siapa! &nbsp;&nbsp;</p>



<p><strong>&#8216;Paparazi&#8217; Malaikat&nbsp;
</strong></p>



<p>Pelajaran selanjutnya adalah, sebagai &nbsp;muslim, kita musti menjaga perilaku. Ingat, saat
ini banyak paparazi di sekitar kita. Hampir semua orang mengantongi smartphone
di saku atau tasnya. Mereka tanpa perlu menjadi wartawan, sewaktu-waktu siap
melaporkan peristiwa on the spot. Memotret candid, menghasilkan liputan amatir
di media sosial yang berpotensi <em>booming.</em> Tanpa izin. &nbsp;Jadi, waspadalah. Selalu hati-hati di ruang
publik. Kita memang bukan siapa-siapa, tapi salah sedikit saja, bisa jadi
“artis” dadakan. Mendadak terkenal. &nbsp;Mendadak
di-bully. Karena, yang paling gampang <em>booming</em> itu adalah jika perilaku
minus yang tersorot kamera. Jangan sampai, deh! Lebih dari itu, kita musti
ingat, “kamera” malaikat selalu on setiap saat. </p>



<p>Merekam dan mencatat seluruh aksi kita tanpa jeda. Real. Tak
bisa diedit, apalagi dihapus. Itulah yang kelak jadi pertanggungjawaban kita di
hadapan-Nya. Tanpa bisa mengelak.&nbsp; Nah, waskat
inilah yang mustinya mendorong kita untuk selalu <em>on the track</em>. Nggak
iseng, nggak usil. Selalu mengendalikan emosi. Menjaga akhlak, sopan santun dan
etika. Menjaga aurat. Menjaga kehormatan diri dan keluarga. Jangan sampai ulah
kita membawa efek buruk bagi orang tua yang kita sayangi. Jadi, terapkan waskat
alias pengawasan melekat. Ingat selalu pengawasan dari para malaikat, agar
tidak terjerumus berbuat maksiat. Hanya dengan itu seluruh aktivitas kita akan
bermanfaat. &nbsp;</p>



<p><strong>Cermin Nepotisme </strong></p>



<p>Kasus SD juga jadi cermin buat para &nbsp;orangtua dan penguasa di negeri sekuler ini. Sistem
demokrasi yang diterapkan, mengajarkan nepotisme yang begitu mendarah daging.
Sampai-sampai ditiru remaja. Ya, nepotisme alias perkoncoan atau perkoneksian.
Fasilitas terbaik, kemudahan dan layanan prioritas akan diberikan kepada orang
ngetop, orang penting, pejabat tinggi dan orang kaya; tentu beserta anak cucu tujuh
turunannya. Asal ada rekomendasi atau ketebelece, urusan beres. Apalagi ditambah
pelicin, lebih cepet lagi beresnya. &nbsp;Misal,
kalau kamu anak gubernur, pasti diprioritaskan masuk sekolah terbaik. Dipercepat
urusan administrasinya. Tidak diharuskan antre. Kalau melanggar nggak dihukum.
Kalau berbuat salah dimaklumi. </p>



<p>Gitu seterusnya. Pokoknya segala urusan dipermudah. Bahkan,
sekadar mencatut nama orang penting saja, kalau bisa bikin keder aparat, urusan
bakal selamat. &nbsp;Kondisi itu bertolak
belakang banget dengan rakyat jelata kebanyakan. Contoh, kalo penghina lambang
negara orang biasa atau aktivis dakwah, langsung deh jeblosin ke penjara.
Dianggap makar. Giliran yang menghina lambang negara artis, eh, malah diangkat
jadi duta lambang negara itu.&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Tampaknya, sikap nepotisme itulah yang menjalar deras di
dalam tubuh SD. Entah siapa yang menurunkannya, tentu kontribusi dari sistem
demokrasi ini juga. Karena, sikap nepotisme kayak gitu bukan hanya monopoli SD,
bukan? Banyak orang yang melakukannya. SD bisa jadi hanya terinspirasi
orang-orang dewasa di sekitarnya yang secara langsung maupun tidak telah mengajarkannya.
</p>



<p>&nbsp;Jadi, orang-orang
dewasa, memang harus berkaca. Ini salah mereka juga. Salah menerapkan
nepotisme. Salah menerapkan demokrasi. Jadi, kita tandai saja sistem salah ini
dan buang rame-rame. Supaya nggak ada lagi SD-SD lainnya yang berbuat khilaf.Catet![asri
</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/aku-tandai-kau-nepotisme/">Aku Tandai Kau, Nepotisme!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/aku-tandai-kau-nepotisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4387</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hai Z, Masa Depan di Tanganmu</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/hai-z-masa-depan-di-tanganmu/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/hai-z-masa-depan-di-tanganmu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Feb 2020 04:02:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4348</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kamu lahir antara 1995 sampai 2010? Pasti &#160;hobi internetan, chatting, dan eksis di &#160;media sosial. Cenderung menyukai &#160;hal-hal berbau multimedia, gambar, foto dan video. Suka &#160;yang serba instan dan kurang menghargai &#160;proses. Kalianlah generasi Z. Apaan tuh? &#160; Sejak muncul Teori Generasi, kita dikenalkan istilah Generasi X, Y dan Z. Lengkapnya, menurut Generation &#160;Theory ini, &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/hai-z-masa-depan-di-tanganmu/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Hai Z, Masa Depan di Tanganmu</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/hai-z-masa-depan-di-tanganmu/">Hai Z, Masa Depan di Tanganmu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Kamu lahir antara 1995 sampai 2010? Pasti &nbsp;hobi internetan, chatting, dan eksis di &nbsp;media sosial. Cenderung menyukai &nbsp;hal-hal berbau multimedia, gambar, foto dan
video. Suka &nbsp;yang serba instan dan kurang
menghargai &nbsp;proses. Kalianlah generasi Z.
Apaan tuh? &nbsp;</strong></p>



<p>Sejak muncul Teori Generasi, kita dikenalkan istilah
Generasi X, Y dan Z. Lengkapnya, menurut Generation &nbsp;Theory ini, ada 5 generasi yang lahir setelah perang
dunia kedua dengan ciri masingmasing. Pertama, Baby Boomer (lahir 1946–1964). Generasi
yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak saudara,&nbsp; banyak keturunan. Tipenya adaptif, mudah menerima
dan menyesuaikan diri. Ini generasi yang cenderung menunjung tinggi nilai-nilai
kebaikan dan etika. Kedua, Generasi X (lahir 19651980). </p>



<p>Waktu itu baru mulai adanya personal computer (PC), video
games, tv kabel, dan internet. MTV dan video games sangat digemari. Mulailah
muncul tingkah negatif seperti tidak hormat pada orang tua, maniak musik punk,
dan kenal ganja. </p>



<p>Ketiga, Generasi Y (lahir 19811994). Disebut juga generasi millenium.
Mulai pakai teknologi komunikasi&nbsp; instan seperti
email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti Facebook dan Twitter.&nbsp; Mereka juga suka main game online. Keempat, Generasi
Z (lahir 19952010). Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet.
Yup,&nbsp; inilah generasi kalian. </p>



<p>Generasi yang nggak bisa lepas dari internet. Maunya selalu <em>connect</em>.
Sejak kecil udah kenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih. Generasi
digital yang mahir dan keranjingan ama teknologi informasi dan berbagai
aplikasi. &nbsp;Sangat hobi dan eksis di dunia
maya. Facebook, Twitter, Instagram atau chatroom. Melalui media ini mereka
bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan. </p>



<p>Cenderung terbiasa melakukan aktivitas dalam satu waktu
secara bersamaan. Sambil chatting pake ponsel, browsing dengan laptop, dan
denger musik pakai headset. Pokoknya penginnya serba cepat dan instan. Pastinya
ini secara nggak langsung berpengaruh pada kepribadian. Cenderung kurang dalam
berkomunikasi secara verbal, egosentris dan individualis, nggak sabaran, dan
nggak menghargai proses. Kalian begitu, nggak? </p>



<p><strong>Ingat Dunia Nyata </strong></p>



<p>Nah, udah pasti karakter Generasi &nbsp;Z seperti di atas, beda banget sama orangtua
kamu yang merupakan Generasi X atau Y. Makanya, kamu musti pinter-pinter menyamakan
persepsi sama orangtua. Jangan segan komunikasi sama mereka. </p>



<p>Kalau ortu ngajak bicara, jangan dianggap nggak penting.
Bagaimanapun, ortu kamu beda karakter dan sangat mengkhawatirkan perkembangan
dirimu. Sebab, tantangan mengasuh, menjaga dan membesarkanmu saat ini lebih
berat. Jauh lebih berat dibanding saat mereka seusia kamu. </p>



<p>Sebagai generasi Z, kamu kudu tetep eksis di dunia nyata.
Jangan terlampau menurutkan nafsu internetanmu yang selalu menggebu. Soalnya
internetan itu emang bikin lupa waktu. Ada foto, film, video dan segala
keasyikan dan hiburan di sana. Jadi, kalo lagi asyik chatting, tetap kudu
pasang telinga kalau-kalau ortu membutuhkanmu. &nbsp;</p>



<p>Kamu juga musti punya etika. Sekarang banyak orang dipenjara
gara-gara nggak ngerti cara bijak memanfaatkan media sosial. Atau karena saking
bablasnya, malah menjadi fitnah dan membawa nama buruk orangtua. Misal, ada ABG
yang posting foto-foto seksi dan bahkan porno. Na&#8217;udzubillahi min zalik. &nbsp;</p>



<p><strong>Generasi Islam </strong></p>



<p>Jangan lupa, kamu-kamu adalah &nbsp;generasi Islam. Generasi masa depan umat. Ciri-cirinya,
rata-rata kamu punya namanama islami. Betul, kan? Coba cek daftar absen di
kelasmu. Pasti kau temukan namanama dengan minimal tiga kata islami di sana (ini
identik dengan nama orang-orang&nbsp; Arab yang
umumnya tiga kata). </p>



<p>&nbsp;_ Nah, kenapa kamu
diberi nama islami? Karena masa depan Islam di pundak kalian. Sepuluh, 20 atau
30 tahun mendatang, kamu-kamulah yang akan duduk sebagai pemimpin di segala bidang.
Jadi dosen, kepala sekolah, pemimpin perusahaan, ahli IT, desainer, chef,
sastrawan, penulis, produser, kepala proyek, kontraktor, pejabat pemerintahan,
hakim dan sebagainya. </p>



<p>_ So, di tangan generasi kalianlah &nbsp;masa depan Islam. Kelahiran kalian ke dunia ini
bukan untuk mengabdi pada peradaban Barat atau Timur yang tidak Islami. Kalian disiapkan
Allah SWT melalui tangan orangtua dan para pendidik, bukan untuk melanggengkan
sistem sekuler kapitalisme yang ada saat ini. Bukan pula untuk menghambakan
diri pada budaya China, Korea, Jepang, dll. _ Maka, persiapkanlah diri kalian supaya
menjadi pribadi Islam kafah. </p>



<p>So, nggak usah merasa minder jika kalian memupuk diri dengan
segala hal-hal yang berbau Islam saat ini. Ngaji, baca kitab-kitab fikih,
hafalan Alquran, belajar Bahasa Arab, bahkan berdakwah sesuai kemampuan. Kelihatannya
nggak keren di masa sekarang, dibanding remaja-remaja umumnya yang hidupnya
santai dan menggilai budaya pop seperti musik, film dan konten-konten Barat atau
Timur. Tapi, justru itulah kelebihan kalian. Itu berarti kalian punya visi jauh
ke depan. </p>



<p>Karena kalianlah perubah peradaban. _ Iya, dong! Kan malu
menyandang nama islami, tapi kelakuan jauh dari nilai-nilai islam. Sebab, nama
itu adalah doa. Ortu kalian mendoakan agar kalian menjadi pribadi-pribadi yang
saleh dan salehah. Generasi yang kelak menjadi pengabdi dan pengendali
peradaban Islam. Kalau tidak menyiapkan diri dari sekarang, kapan lagi?(*) </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/hai-z-masa-depan-di-tanganmu/">Hai Z, Masa Depan di Tanganmu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/hai-z-masa-depan-di-tanganmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4348</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Haters, Jarimu harimau mu!</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/haters-jarimu-harimau-mu/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/haters-jarimu-harimau-mu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jan 2020 07:19:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4279</guid>

					<description><![CDATA[<p>pofesi baru di dunia maya: haters. Ya, berbekal jari-jemari, kebencian begitu mudah &#160;merebak di kalangan netizen. Caci maki, tuduhan keji hingga fitnah jadi menu sehari-hari. Biasanya yang jadi sasaran adalah para seleb di dunia maya. Artis, selebgram, pejabat publik, ustad ngetop dan pesohor lainnya. Terbaru, Deddy Corbuzier sampai harus menangkap haters yang bikin rusuh di &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/haters-jarimu-harimau-mu/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Haters, Jarimu harimau mu!</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/haters-jarimu-harimau-mu/">Haters, Jarimu harimau mu!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>pofesi baru di dunia maya: haters. Ya, berbekal jari-jemari,
kebencian begitu mudah &nbsp;merebak di
kalangan netizen. Caci maki, tuduhan keji hingga fitnah jadi menu sehari-hari.
Biasanya yang jadi sasaran adalah para seleb di dunia maya. Artis, selebgram,
pejabat publik, ustad ngetop dan pesohor lainnya. Terbaru, Deddy Corbuzier sampai
harus menangkap <em>haters </em>yang bikin rusuh di lapaknya. Pelaku seorang pegawai
bank bernama Antho asal Jambi. Haters ini menuding Deddy dan artis Chika
Jessica dengan fitnah berbau SARA (tribunnews.com, 9/2/16). &nbsp;</p>



<p>Rupanya, orang seperti Antho ini banyak gentayangan. Heran
ya, sempetsempetnya mereka ngabisin waktu dan energi untuk menebar kebencian. Kurang&nbsp; kerjaan. Berlindung di balik kebebasan&nbsp; berpendapat, seenak perutnya nyetatus atau komentar
miring. Kalau pepatah bilang mulutmu harimaumu, kini jarimu harimaumu. Apapun
hasil ketikan burukmu, kelak akan menerkam dirimu. Panen karma. Catet! </p>



<p><strong>Hate Speech </strong></p>



<p>Jadi haters, berarti siap dipenjara. &nbsp;Sebab di negara kita, berlaku UU Nomor 11 Tahun
2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Di situ ada ancaman enam tahun
penjara bagi yang terbukti bikin rusuh di dunia maya. Lalu ada pasal 16 UU
Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dengan
pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau &nbsp;denda maksimal Rp500 juta. Hujatan kebencian
berbau SARA, bisa kena batunya. Ditambah lagi UU Nomor 7 Tahun 2012 tentang
Penanganan Konflik Sosial, dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 2013 tentang Teknis Penanganan Konflik Sosial. </p>



<p>Di situ ada pasal <em>hate speech </em>yang jadi alat menciduk
para haters ini biar kapok. Bayangkan aja, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti
mengatakan, saat ini ada 180.000 akun media sosial yang diduga menyebar
kebencian yang tengah diselidiki. Wow! Udah ada UU kok nggak bikin jera.
Hatihati ya, D&#8217;Riser.&nbsp; </p>



<p><strong>Cermin Moral </strong>&nbsp;</p>



<p>Membudayanya <em>bullying </em>dan ujaran kebencian di dunia
maya, menunjukkan gagalnya demokrasi. Khususnya turunan dari doktrin hak asasi
manusia (HAM) yang begitu didewakan, yakni kebebasan berpendapat. Sampai-sampai
pendapat buruk dan fitnah pun boleh eksis. Ya, menurut HAM ini, orang bebas
berpendapat apa aja, asal nggak mengganggu orang lain. </p>



<p>Nyatanya kebablasan. &nbsp;Selain
itu, budaya caci maki dan sumpah serapah di internet juga potret rendahnya
etika masyarakat modern. Makin melek teknologi, seharusnya dibarengi dengan
ketinggian akhlak. Nyatanya tidak. &nbsp;Padahal
para <em>haters </em>itu, jika ditilik pendidikannya, juga bukan orang bodoh. Buktinya
melek internet. Tapi, pintar saja tanpa etika, jadinya rendahan. Inilah bumerang
dalam sistem liberal yang mendewakan HAM. &nbsp;</p>



<p>Emang, ada yang ngeles, sejatinya para pesohor itu
sendirilah yang memicu kebencian. Tindak tanduk mereka emang layak dibenci.
Makanya, jangan salahkan <em>haters</em>. Misalnya ada pesohor yang suka komentar
nyeleneh, akhirnya dikecam. Ada yang suka pamer harta, akhirnya difitnah. Ada
yang dituduh penghancur rumah tangga, akhirnya disumpah-serapahi. Ada yang
sombongnya nggak ketulungan, jadinya dibenci tujuh turunan. &nbsp;</p>



<p>Puas? Dapat apa setelah mencacimaki? Nothing. Ulah buruk
para pesohor itu <em>toh </em>juga nggak berubah. Biarkan saja. Kelak, akan mendapat
ganjaran sendiri. Entah di dunia atau di akhirat. Ngapain ikut-ikutan ngurusi. Hanya
menambah ketenaran atas ulah minus mereka.&nbsp;
Mencaci orang, nggak akan menyelesaikan masalah. Juga, nggak bikin hidup
si pencaci lebih baik. Toh para pencaci itu tak lebih baik daripada yang
dicaci. Bahkan bisa jadi lebih buruk. Atau, minimal sama. Bercerminlah! </p>



<p><strong>Benci pada Tempatnya </strong></p>



<p>Kebencian dan kemarahan kita, &nbsp;harus proporsional. Pas pada tempatnya. Misal,
kita benci kemunkaran yang merajalela, termasuk yang dilakukan orang terkenal.
Tapi, dilarang nge<em>-bully</em> person itu seenaknya. Pastinya kita nggak boleh
jadi<em> haters. </em>&nbsp;Apalagi sebagai
muslim, segala perilaku, ucapan, ide dan gagasan kita musti terikat pada hukum
syara&#8217;. Ide kebebasan itu hanya ilusi. Nggak ada. Bebas sebebasbebasnya hanya
merusak. </p>



<p>Ya, manusia itu emang nggak bebas. Termasuk dalam berpendapat.
Musti dibatasi. &nbsp;Hanya pendapat yang baik
dan benar saja yang boleh eksis. Yang sesuai tuntunan wahyu Allah SWT. Jemari
ini pun nggak bebas ngetik. Tulisan sependek apapun pasti tercatat di buku
malaikat. Musti dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta kelak. &nbsp;Nasihat, ide, masukan, kritik dan saran harus
membangun. Inspiratif dan solutif. </p>



<p>Disampaikan dengan kalimat yang baik dan konstruktif. Jadi
kalo kamu nggak bisa bikin pencerahan, mending diam. Tahan jari. Nggak usah
kegatelan nge-<em>bully </em>jika nggak sependapat dengan orang. Kita ingin, &nbsp;para netizen adalah orang-orang yang &nbsp;santun, cerdas, dan berakhlak mulia. Kita juga
pingin, para pesohor itu &nbsp;hanyalah
orang-orang baik yang menebarkan aura positif bagi masyarakat. Mereka yang mampu
memperbaiki jiwa-jiwa manusia digital yang kian kotor oleh debu-debu &nbsp;teknologi.</p>



<p>&nbsp;Makanya, untuk
mencegah supaya nggak terinspirasi jadi <em>haters</em>, pilih-pilih kalo mau
mem-<em>follow </em>pesohor ya, D&#8217;Riser. Ikuti sosok yang ngasih inspirasi
kebaikan. Pasti hanya hal-hal positif aja yang dia dibagikan. Jadi nggak merangsang
kedengkian. &nbsp;So, mulai sekarang, putus hubungan
deh sama para inspirator kebencian. Yakin deh, kalo pesohorpesohor minus itu
nggak punya <em>followers</em>, eh&#8230;<em>haters,</em> ntar mati gaya sendiri. Yakin.(*)
</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/haters-jarimu-harimau-mu/">Haters, Jarimu harimau mu!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/haters-jarimu-harimau-mu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4279</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Le Quenelle</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/le-quenelle/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/le-quenelle/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Sep 2019 06:51:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3840</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gool pada menit ke 40 bintang kesebelasan West Bromwich Albion, Nicolas Anelka, mencetak gol &#160;pertama ke gawang West Ham United di Stadion Upton Park-London, Sabtu (28/12/2013). &#160; Usai membuat gol, Anelka berlari ke sisi kanan gawang lawan. Kemudian ia melipat tangan kiri&#160; ke arah dada kanan, sedangkan tangan kanan lurus ke depan agak ke bawah. &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/le-quenelle/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Le Quenelle</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/le-quenelle/">Le Quenelle</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Gool pada menit ke 40 bintang kesebelasan West Bromwich
Albion, Nicolas Anelka, mencetak gol &nbsp;pertama
ke gawang West Ham United di Stadion Upton Park-London, Sabtu (28/12/2013). &nbsp;</p>



<p>Usai membuat gol, Anelka berlari ke sisi kanan gawang lawan.
Kemudian ia melipat tangan kiri&nbsp; ke arah
dada kanan, sedangkan tangan kanan lurus ke depan agak ke bawah. Itulah
ekspresi yang disebut <em>Le Quenelle</em>. Akibat selebrasi pada laga yang berakhir
imbang 3-3 tersebut, Anelka menuai kecaman. Prestasinya mencetak dua gol
seperti terlupakan. </p>



<p>Nah lho! Aksi Nicolas Anelka membuat marah komunitas Yahudi.
Telebih, selebrasi dilakukan di markas West Brom, Stadion Boleyn Ground, milik
orang Yahudi. Kongres Yahudi Eropa pun meminta polisi untuk menangkap Anelka
dan memberinya hukuman. </p>



<p>Nicolas terancam hukuman tak boleh main di lima laga di Liga
Primer Inggris. &nbsp;Seperti dilansir <em>Dailymail</em>,
Nicolas Anelka akan jadi pemain West Bromwich pertama yang mendapat sanksi dari
Football Association Inggris. Mantan pemain tim nasional Prancis itu dituduh
bersikap rasis. </p>



<p>Sebab, dia dikira melakukan gerakan hormat Nazi yang
dibalik. Nicolas Anelka dituduh anti-semit. Padahal, begitu banyak pesepakbola
Eropa yang selama ini &nbsp;&#8221;anti-semit&#8221;
karena mereka pro- Palestina. Misalnya dalam laga Sevilla kontra Devortivo La
Coruna di ajang Copa Del Rey (8/1/2009), usai membuat gol, striker asal Mali
Frederic Kanoute membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan
&#8220;Palestine&#8221;. Saat itu, warga Gaza memang tengah digempur &nbsp;arsenal Zionis Israel. </p>



<p>Gara-gara selebrasi itu, wasit mengkartu kuning Kanoute.
Federasi Sepak Bola Spanyol (REF) juga mendendanya 3000 euro atau sekitar Rp 45
juta. Tapi, Kanoute sudah siap mengambil resiko. ”Itu sesuatu yang saya rasa
harus saya lakukan. Setiap orang seharusnya merasa bertanggung jawab saat menyaksikan
ada suatu situasi yang sangat tidak adil itu. Saya merasa 100 persen bertanggung
jawab atas apa yang saya lakukan dan saya tidak takut atas sanksi itu,” tuturnya
kepada televisi swasta <em>Telecinco</em>. </p>



<p>Sikap membela Palestina juga ditunjukkan banyak pemain dan
ex bintang lapangan hijau non-Muslim seperti Eric Cantona (ex Manchaster
United), Maradona (Argentina), Pep Guardiola (pelatih Bayern Munchen), dan
Christiano Ronaldo (Real Madrid). Pep Guardiola, sewaktu masih mengasuh
Barcelona, menyatakan hukuman terhadap Frederic Kanoute tadi, tidak sepantasnya
diberikan. </p>



<p>Sebab, sikap Kanoute mewakili aspirasi kemanusiaan
universal. &nbsp;Christiano Ronaldo, bintang
asal Portugal, memberikan sepatu emasnya kepada lembaga amal klubnya dalam
rangka membantu anak-anak Palestina. </p>



<p>Dalam lelang, sepatu emas itu laku 1,4 juta euro. Sebelumnya,
saat masih di <em>Manchester United</em>, Inggris, dalam sebuah acara Ronaldo
sengaja mengenakan <em>kafiyeh </em>Palestina. Akibatnya, ia dikecam habis oleh kekuatan
lobi-lobi Zionis. Media massa Inggris menyebut aksi Ronaldo itu sebagai bentuk
kepedulian dan solidaritasnya terhadap krisis Palestina dan warga Jalur Gaza. &nbsp;</p>



<p>&#8220;Rasialisme, hak asasi manusia, dan hukum internasional
tentang pelanggaran tindak kekerasan setiap hari muncul di negara tersebut. Ini
saat yang tepat mengakhiri kekebalan hukum Israel dan memaksa untuk melakukan
standardisasi kesamaan hak, keadilan, dan menghormati hukum internasional yang
juga telah dilaksanakan oleh negara lainnya,&#8221; tulis Eric The King, sebutan
Cantona, dalam suratnya kepada Presiden UEFA Michel Platini guna memprotes
keputusan UEFA yang menjadikan Israel tuan rumah Euro U-21 tahun 2013. </p>



<p>&#8220;Kami, para pesepakbola Eropa, mengungkapkan rasa
solidaritas kami untuk rakyat Gaza, yang hidup di bawah ancaman perang dengan
harga diri dan kebebasan mereka sebagai manusia telah dikesampingkan,&#8221;
tulis Kanoute di situs <em>blog</em>-nya, Jumat (30/11/2012) menyoal penunjukan
itu. Soal <em>Le Quenelle</em> sendiri, tergantung penafsiran siapa. </p>



<p><em>Le Quenelle</em>, arti harfiahnya &#8216;pangsit ikan&#8217;.
Sedangkan menurut Kamus Arti Nama Anak, Quenelle menunjukkan karakter:
&#8216;pemimpin yang kuat. menarik. penuh semangat, mudah beradaptasi. tidak
dibuat-buat dan unik. penuh gairah. memiliki kemampuan berbicara yang baik.
sering bepergian. menyukai petualangan dan hiburan.&#8217; Kaum Yahudi mengklaim
ekspresi yang dipopulerkan komedian Prancis Dieudonne Mbala Mbala itu sebagai
simbol jawaban salam Nazi yang anti-semit. Namun menurut referensi sejarah, <em>Le
Quenelle</em> justru mirip dengan gerakan <em>The Sign of Hidden Hand</em> atau <em>The
Sign of Devil&#8217;s Claw</em>, yang merupakan bagian dari politik simbol gerakan
Zionis Freemasonry. </p>



<p>Penzaliman terhadap Nicolas Anelka, menunjukkan kuatnya cengkeraman
pengaruh (proxy) Yahudi terhadap Eropa hingga ke lapangan hijau. Tapi, seperti pernah
dikatakan Mahathir Mohammad, <em>proxy</em> Yahudi bisa dikalahkan asalkan ada kemauan
dan kekuatan sebuah negara. </p>



<p>Yup, tingkah Yahudi yang menguasai dunia udah saatnya dapat
lawan yang seimbang. Dan hanya Islam dengan kekuatan negara dalam bingkai
Daulah Khilafah Islamiyah yang bakal menundukkan kecongkakan Yahudi. Saatnya
umat bersatu dan bergerak mengembalikan kejayaan Islam![] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/le-quenelle/">Le Quenelle</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/le-quenelle/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3840</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pengasong Kondom Asing</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/pengasong-kondom-asing-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/pengasong-kondom-asing-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jul 2019 22:26:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Turut menghebohkan Peringatan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember, Kementrian &#160;Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Komite Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan perusahaan sponsor menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN), 1-7 Desember 2013. Namun belum genap sepekan berjalan, kampanye kondomisasi berdalih safe-sex itu dihentikan setelah menuai gelombang protes dari berbagai pihak. Saat menemui pendemo dari Front Pembela Islam, Staf &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/pengasong-kondom-asing-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Pengasong Kondom Asing</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pengasong-kondom-asing-2/">Pengasong Kondom Asing</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Turut menghebohkan Peringatan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember,
Kementrian &nbsp;Kesehatan (Kemenkes) RI
bersama Komite Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan perusahaan sponsor
menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN), 1-7 Desember 2013. </p>



<p>Namun belum genap sepekan berjalan, kampanye kondomisasi
berdalih <em>safe-sex</em> itu dihentikan setelah menuai gelombang protes dari
berbagai pihak. Saat menemui pendemo dari Front Pembela Islam, Staf Khusus
Bidang Politik Kebijakan Kesehatan Kemenkes, Bambang Sulistomo, mengatakan,
&#8220;Pekan Kondom Nasional ini bukanlah kegiatan dari Kementerian Kesehatan
melainkan dari pihak swasta. Kemarin sudah dihentikan,&#8221; ujar Bambang lewat
pengeras suara di hadapan laskar FPI. </p>



<p>Ia juga membantah ada pembagian kondom pada pelajar dan pemuda
seperti yang dituduhkan FPI. Pembagian kondom hanya pada pria yang beresiko
tinggi di pelabuhan, terminal dan lokalisasi. Namun, tidak butuh IQ
tinggi-tinggi untuk menilai pernyataan Kemenkes itu sebagai sekadar cuci
tangan. </p>



<p>Sebab, PKN sudah menjadi program pemerintah sejak 2009. PKN
2013 pun sudah dipublikasikan oleh Kemenkes sejak sebulan sebelumnya. Kondomisasi,
termasuk lewat PKN, merupakan strategi penanggulangan HIV/AIDS yang diadopsi dari
UNAIDS dan WHO sejak 1994. Programnya antara lain: kondomisasi dan pembagian
jarum suntik steril. Kondomisasi dikampanyekan sebagai sarana <em>safe-sex</em>
(seks yang aman) dengan <em>dual protection</em> yakni melindungi dari kehamilan
tak diinginkan sekaligus dari infeksi &nbsp;menular
seksual termasuk HIV/AIDS. </p>



<p>Kampanye kondom juga dilakukan dengan membagi-bagikan kondom
secara gratis di tengah-tengah masyarakat seperti mal-mal dan supermarket.
Bahkan sempat juga digulirkan Program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom.
Cukup &nbsp;dengan memasukkan 3 koin lima
ratus perak, maka akan keluar 3 boks kondom dengan 3 rasa. &nbsp;</p>



<p>PKN di Amerika dimulai tahun 1978, menyasar mahasiswa
University of California, Berkeley, Amerika. Dalam kurun 1980-1990, barulah PKN
menyebar ke acara kampus lokal di universitas, sekolah tinggi, organisasi AIDS,
dan organisasi keluarga berencana dan apotek . </p>



<p>Tapi, PKN Amerika mendapatkan penolakan luas. Misalnya pada
1995, Christian Ministries mensponsori serangkaian iklan di berbagai
kampus-kampus untuk mendorong pernikahan sebagai satu-satunya cara yang tepat
untuk seks sehat. Misalnya iklan berbunyi: “Cinta atau Lateks?”, dan “Siapa
butuh kondom jika Anda memiliki komitmen?” dibagikan untuk melawan kegiatan PKN
ini. </p>



<p>Seperti dikutip Prof Dadang Hawari (2006), H Jaffe (1995)
dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (USCDC: United State Center of
Diseases Control), menyebutkan, evaluasi PKN yang dilakukan pada 1995 amat
mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS malah menjadi
peringkat nomor 1 di AS, menggeser penyakit jantung dan kanker. Kemenkes bisa
saja berkilah PKN tidak bagi-bagi kondom. </p>



<p>Tapi faktanya, di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan,
DKT yang memproduksi kondom Sutra dan Fiesta menyediakan board bertulisakan
AIDS berukuran 3&#215;2 meter yang dirangkai dari kotak-kotak kondom. Pengunjung
yang berminat dipersilakan untuk mengambil kotak-kotak kondom tersebut. </p>



<p>Namun, DKT mengatakan kegiatan ini bukan untuk menganjurkan
seks bebas. &#8220;Ini bukan media penyebaran seks bebas. Karena kalau kondom
nggak ada apakah seks bebas akan berkhenti juga? Kan enggak,&#8221; kata Todd
Callahan, <em>Country Manager</em> DKT Indonesia dalam peluncuran PKN di Citos,
Jakarta Selatan, Minggu (1/12/2013). </p>



<p>Ini juga pernyataan bohong, karena pesan kampanye
kondomisasi adalah “Silakan melakukan hubungan seks bebas dengan siapa saja,
asal memakai kondom.” &nbsp;Di Amerika
Serikat, PKN biasanya digeber pada momentum seperti Hari Valentine. Akibatnya,
kampanye kondom justru semakin meningkatkan pergaulan seks bebas. </p>



<p>Hal ini diungkapkan Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga
penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California.
Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas
di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar
wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998). Efektivitas
kondom sebagai alat pencegah penularan HIV/AIDS pun sudah banyak terbantahkan. </p>



<p>Seperti dikemukakan Prof Dadang Hawari (2002), efektivitas kondom
diragukan (Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima, 1993); HIV masih dapat menembus
kondom (Penelitian Carey [1992] dari Division of Pshysical Sciences, Rockville,
Maryland, USA); Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang
terbuat &nbsp;dari bahan latex) terdapat
pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam
keadaan &nbsp;meregang lebar pori-pori
tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. </p>



<p>Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus
pori-pori kondom (Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai,
Thailand (1995).&nbsp; Maka, jika para remaja
percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin
lainnya, berarti mereka telah tersesatkan (V Cline, profesor psikologi dan
Universitas Utah, AS, 1995). Akhirnya, terang-benderang bahwa PKN tak lebih
dari program pengasongan kondom impor. Data bisnis menunjukkan, setiap tahun
Indonesia membutuhkan 190 juta kondom. </p>



<p>Negeri ini sudah memiliki pabrik kondom di Banjaran Bandung
yang dikelola BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia. Pabrik kondom terbesar di
Asia Tenggara itu mampu memproduksi sekitar 129 juta kondom pertahun. Anehnya, kondom
<em>Artika</em> dengan 5 varian keluaran RNI hanya menguasai pangsa pasar 2%.
Sedang 98% pasar kondom dikuasai oleh merek asing seperti <em>Durex, Fiesta, </em>dan<em>
Sutra</em>. </p>



<p>Driser, sudah jelas gimana bobroknya negara kita dengan
program kondom nasional. Menteri kesehatan yang berotak mesum itu jadi dalang
dibalik kampanye pemerintah untuk mensponsori gaya hidup hewan, seks bebas.
Nggak bisa dipungkiri lagi kalo aturan kapitalis yang dipake pemerintah buat
ngatur rakyatnya, aktif memfasilitasi kemaksiatan merajalela. </p>



<p>Akibatnya kesengsaraan dan musibah akan terus mendera.
Satu-satunya cara menghentikan wabah virus HIV/AIDS yang menular via seks bebas
adalah diterapkannya syariah Islam oleh negara. Agar pelaku seks bebas kapok dengan
hukuman rajam atau jilid. Masih percaya ama aturan kapitalis yang bikin rakyat
sengsara? Apa kata dunia![] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pengasong-kondom-asing-2/">Pengasong Kondom Asing</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/pengasong-kondom-asing-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3780</post-id>	</item>
		<item>
		<title>HIJRAH Solusi &#8220;REFOTNASI&#8221;</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/hijrah-solusi-refotnasi/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/hijrah-solusi-refotnasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2018 13:43:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3715</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada Mei 2008 atau sepuluh tahun usia Orde Reformasi, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengemukakan hasil jajak pendapatnya tentang presiden Indonesia yang paling disukai publik. Nah lo, ternyata Soeharto kepala negara paling difavoritkan. Padahal, salah satu dari enam butir tuntutan Reformasi adalah: Pengadilan mantan Presiden Soeharto dan kroninya. Tiga tahun kemudian, atau 13 tahun usia Era &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/hijrah-solusi-refotnasi/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">HIJRAH Solusi &#8220;REFOTNASI&#8221;</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/hijrah-solusi-refotnasi/">HIJRAH Solusi &#8220;REFOTNASI&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada Mei 2008 atau sepuluh tahun usia Orde Reformasi, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengemukakan hasil jajak pendapatnya tentang presiden Indonesia yang paling disukai publik. Nah lo, ternyata Soeharto kepala negara paling difavoritkan. Padahal, salah satu dari enam butir tuntutan Reformasi adalah: Pengadilan mantan Presiden Soeharto dan kroninya.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, atau 13 tahun usia Era Reformasi, polling serupa dilakukan lembaga survei nasional Indo Barometer. Pada 15 Mei 2011, Direktur Indobarometer M Qodari merilis hasil jajak pendapat tersebut. Eh, lagi-lagi favoritnya Pak Harto! Menurut sebagian besar responden, Soeharto presiden yang paling disukai masyarakat Indonesia.</p>
<p>Dia juga presiden yang dianggap paling berhasil dibanding Presiden SBY, Soekarno, Megawati Soekarnoputri, BJ Habibie, maupun Presiden Abdurrahman Wahid. Salah satu keunggulan Pak Harto, di jaman pemerintahannya terwujud swasembada pangan. Harga beras stabil. Tidak ada namanya orang antri membeli beras karena kelangkaan dan kemahalan. Sebaliknya, di jaman Reformasi saat ini, rakyat malah &#8221; refot-nasi&#8221;.</p>
<p>Lewat Bulog, pemerintah menjual beras miskin (raskin) untuk rakyat dhuafa. Namun, menurut Komite Ekonomi Nasional (KEN), hanya sekitar 75% rakyat miskin Indonesia yang kebagian raskin. &#8220;Orang miskin yang menikmati raskin hanya 75%. Raskin biasanya dibagi dengan sistem pemerataan, bukan khusus untuk warga miskin,&#8221; ungkap Sekretaris KEN, DR Aviliani, di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (22/1/2013).</p>
<p>KEN mengungkapkan, tahun 2013 jumlah rakyat miskin mencapai 29 juta orang, dan yang hampir miskin 70 juta orang. Di tengah pertumbuhan ekonomi 6% yang dibanggabanggakan pemerintah, warga nyaris miskin itu kenaikan pendapatannya cuma 2%. Sedang inflasi sembako mencapai 4- 5%. Dengan demikian, sesungguhnya kalau mau jujur, jumlah rakyat miskin Indonesia mencapai 99 juta orang. Menurut Badan Pusat Statistik, beras merupakan alokasi belanja terbesar kedua keluarga miskin. Besarannya mencapai lebih 20% atau seperlima penghasilan. Walhasil, kalau harga beras naik, makin sengsaralah orang miskin. Itulah salah satu, eh, salah dua, bukti kegagalan Reformasi. Mau ngomong apa lagi coba?</p>
<p>Sebagian agenda reformasi TNI memang positif, seperti depolitisasi militer dan penegakan hukum atas pelanggaran yang dilakukan oknum militer seperti dalam kasus DOM (Daerah Operasi Militer) Aceh. Tapi, di sisi lain, ia ditumpangi agenda asing yang merugikan kedaulatan nasional. Reformasi TNI/Polri membuat TNI (Tentara Nasional Indonesia) bagaikan lame duck. Bukan bebek goreng Haji Slamet nan yummy tea, tapi bebek lumpuh alias gempor. Akibatnya, teroris merajalela di Papua seolah tak ada tentara kita di sana. Belum lama ini, enak saja pesawat Amerika numpang mendarat di Aceh, tanpa mendapat sanksi apa-apa.</p>
<p>Sebaliknya, Polri di bawah komando langsung Presiden, dinilai menjadi alat kekuasaan sebagaimana KPK dan Kejagung. Polri juga &#8221;makmur&#8221; dengan guyuran dolar dalam gendang lagu &#8221;war on terror&#8221; melalui proyek-proyek terorisme dari Amerika atau Australia. Otonomi Daerah membuat resources daerah dihabiskan untuk proses politik bernama pilkada. Pesta demokrasi ini menyuburkan materialisme, money politic, narsisisme, dan konflik horisontal yang setiap hari beritanya memenuhi layar televisi. Konstitusi (UUD 45) sudah sangat diamandemen.</p>
<p>Tapi orientasinya liberal, sehingga lahirlah darinya UU yang mengobral Indonesia seperti UU Sumberdaya Air, UU Listrik, UU Migas, UU BHP (sudah dibatalkan), UU Penanaman Modal, dan sebagainya. Demikianlah, &#8221;Reformasi gagal,&#8221; kata Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah, kepada pers di gedung DPR, Jakarta, 21 Mei 2007.</p>
<p>Mantan Ketua MPR Amien Rais, di sela-sela peluncuran bukunya &#8221;Selamatkan Indonesia&#8221; di Jakarta, 13 Mei 2008, juga menyebut selama 10 tahun reformasi bergulir, seperti tiada arti. Kata mantan ajudan Pak Harto, Jendral Wiranto: &#8221;Reformasi gagal menghadirkan Indonesia yang lebih baik.&#8221; Mengapa Reformasi kok jadi refot-nasi? Setidaknya 3 hal pokok penyebab gagalnya agenda reformasi. Pertama, keenam agenda tidak menyentuh akar permasalahan, sehingga kurang tepatnya perumusan solusi krisis bangsa.</p>
<p>Kedua, keenam agenda mengambang atau terlalu umum. Agenda yang mirip blank-cheque akhirnya dimanfaatkan sebagai alat permainan isu dan manajemen konflik oleh petualang politik dan penguasa. Ketiga, gerakan reformasi bersifat tidak-ideologis. Seperti namanya, reformasi, gerakan hanya bersifat kosmetika atau tambal sulam atas kebobrokan sistem danrejim yang sudah bobrok dan karatan. Banyak aktivis pergerakan mahasiswa yang kini jadi pejabat atau penguasa hedonis. Syukurlah, mahasiswa secara umum tidak terjebak dalam politik survei lembaga semacam LSI dan Indo Barometer.</p>
<p>Aspirasi Soehartois dari hasil jajak pendapat LSI tadi, mendapat kontra-aspirasi dari mahasiswa mainstream. Ketua Umum Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia, M Danial Nafis, pada penutupan Kongres I GMPI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 3 Maret 2007, mengungkap hasil survey yang sangat penting dan fenomenal. Survei oleh aktivis gerakan nasionalis pada 2006 itu menyebutkan, sebanyak 80% mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara. 15,5% lainnya memilih aliran sosialisme dengan berbagai varian sebagai acuan hidup. Dan hanya 4,5% yang masih setia dengan Pancasila.</p>
<p>Itu bukan penelitian pesanan. Ia mewakili suara nasional mahasiswa Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian internasional. Survei terbaru PEW seperti yang dilansir http://www.pewforum.org/ (30/4/13) menunjukkan kecenderungan umat untuk untuk menjadikan Syariah Islam sebagai hukum resmi di negeri-negeri Islam. Di Asia terdapat prosentase sangat tinggi penduduk yang mendukung syariah Islam: Pakistan (84%), Bangladesh (82%), Afghanistan (99%), Indonesia (72%) , Malaysia (86%).</p>
<p>Demikian pula di Timur Tengah dan Afrika, prosentase yang mendukung syariah : Irak (91%), Palestina (89%), Maroko (83%), Mesir (74%), Yordania (71%), Niger (86%), Djibouti (82%), DR Kongo (74%) dan Nigeria (71%). Sementara 10 negara lain yang di survey menunjukkan lebih dari 50 % penduduknya menginginkan syariah Islam. Karena itu, Bapak Tokoh Reformasi M Amien Rais, pada peringatan 1 Muharram di Padang tahun 2010 mengajak Bangsa Indonesia untuk hijrah. What is the meaning of hijrah? Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Hijrah dalam as-Sunnah secara mutlak dimaknai: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr alIslâm karena ingin mempelajari dan mengamalkan Islam.</p>
<p>&nbsp;Jadi, hijrah sejati adalah meninggalkan apa saja yang dilarang Allah SWT, termasuk meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr alIslâm. Mengutip para fukaha, Taqiyuddin An-Nabhani dalam Kitab Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276, mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam. Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim.</p>
<p>Berhubung saat ini Darul Islam belum ada, maka agenda utama yang harus diupayakan oleh umat Islam adalah tegaknya pemerintahan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Jika khilafah sudah tegak, tidak hanya jadi solusi refotnasi. Tapi juga solusi untuk refot-refot lainnya yang menjadi masalah dalam segala bidang kehidupan. Hijrah to khilafah, solusi semua masalah![]</p>

<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/hijrah-solusi-refotnasi/">HIJRAH Solusi &#8220;REFOTNASI&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/hijrah-solusi-refotnasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3715</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Astung</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/astung/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/astung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2018 06:08:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Media Watch]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3666</guid>

					<description><![CDATA[<p>Garuda Pancasila Aku lelah mendukungmu Sejak Proklamasi Selalu berkorban untukmu Pancasila dasarnya apa Rakyat adil makmurnya kapan Pribadi bangsaku Tidak maju&#8230;maju&#8230;tidak maju&#8230;maju Tidak maju&#8230;maju Eit, jangan main tuduh &#8221;makar&#8221; dengan pencantuman puisi di atas. Syair plesetan lagu &#8221;Garuda Pancasila&#8221; itu &#8216;kan karya mendiang Harry Roesli, yang dia nyanyikan dalam peringatan HUT RI ke-56 di kediaman &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/astung/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Astung</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/astung/">Astung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Garuda Pancasila Aku lelah mendukungmu Sejak Proklamasi Selalu berkorban untukmu Pancasila dasarnya apa Rakyat adil makmurnya kapan Pribadi bangsaku Tidak maju&#8230;maju&#8230;tidak maju&#8230;maju Tidak maju&#8230;maju</p>
<p>Eit, jangan main tuduh &#8221;makar&#8221; dengan pencantuman puisi di atas. Syair plesetan lagu &#8221;Garuda Pancasila&#8221; itu &#8216;kan karya mendiang Harry Roesli, yang dia nyanyikan dalam peringatan HUT RI ke-56 di kediaman mantan Presiden RI Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, 17 Agustus 2001.</p>
<p>Bahwa kandungan syair Kang Harry mencerminkan kenyataan, apa boleh buat. Umat Islam memang sudah &#8221;lelah&#8221; dipaksa mendukung Pancasila. Ketika Orde Baru baru saja memegang tampuk kekuasaan pada 1967, umat Islam sangat berharap rezim ini akan mengakomodasi aspirasi Islam. Harapan ini tidak berlebihan, mengingat sebelumnya umat Islam dan TNI bahu-membahu dalam melawan makar komunis di Indonesia. Namun, asa itu pupus.</p>
<p>Rezim Orba bahkan mulai menindas aspirasi politik dan ideologi Islam. Islam dianggap sebagai ancaman bagi program politik dan pembangunan ala Orde Baru, yang ternyata mengikuti skenario &#8216;pembangunanisme&#8217; IMF. Stabilitas nasional – termasuk stabilitas ideologi – dijadikan prioritas. Pancasila, bukan saja dijadikan sebagai dasar negara, tetapi kemudian dikembangkan sebagai &#8216;pandangan hidup&#8217; dan &#8216;pedoman moral&#8217; bangsa.</p>
<p>Menebalkan kediktatorannya, penguasa Orba kemudian menjadikan Pancasila sebagai Asas Tunggal (astung). Pada 1983, terbitlah Undang-undang asas tunggal untuk partai-partai yang mewajibkan semua partai politik berasaskan Pancasila. Hal itu dikukuhkan melalui Ketetapan MPR No. 11/1983, yang dituangkan dalam UU Nomor 3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya serta UU Nomor 8 tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan Terpaksa, secara berturut-turut sejumlah ormas Islam menyesuaikan diri dengan kehendak rejim. Muhammadiyah melakukannya melalui muktamar ke-41 di Surakarta tahun 1985, dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam kongresnya di Padang pada tahun 1987.</p>
<p>Tahun 1988 merupakan deadline bagi seluruh organisasi sosial dan politik untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal. PII (Pelajar Islam Indonesia) tetap menolak Pancasila sebagai astung. Akibatnya, kegiatan PII dibekukan oleh Menteri Dalam Negeri masa itu, Soepardjo Rustam. Eh, belakangan, melalui RUU Ormas pengganti Undang Undang Nomor 8 Tahun 1985, Pancasila hendak di-astung-kan lagi. Tapi dalam hal ini, yang wajib taat hanyalah ormas yang bukan bagian dari partai politik.</p>
<p>Itulah bagian dari 11 titik kritis RUU Ormas yang ditolak Ormas Keagamaan Tingkat Pusat yang tergabung dalam Koalisi Akbar Masyarakat Sipil Indonesia (KAMSI) di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat, Kamis (28/2. Pernyataan KAMSI disuarakan sekitar 50 pimpinan Ormas Keagamaan. Saat yang sama, 46 lembaga daerah juga menyatakan menolak RUU Ormas. Tak cukup di atas kertas, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) gigih menempuh ikhtiar lobby ke DPR dan para tokoh, penggalangan opini publik, sampai demo besar secara nasional.</p>
<p>Hasilnya, alhamdulillah. Naskah terakhir RUU Ormas pada Selasa (9/4), menunjukkan DPR tak lagi diskriminatif. Dalam draft RUU Ormas terbaru, pasal asas ormas disamakan dengan ketentuan untuk partai politik. Menurut Ismail Yusanto, Jubir HTI, dengan perubahan pasal asas ini, beban ormas Islam seperti HTI sudah sangat berkurang. Meski pun masih ada beberapa poin yang belum diakomodasi dalam RUU terbaru. Ia menambahkan, perubahan pasal asas sudah sangat mengurangi tensi ketegangan dari masyarakat, terutama ormas Islam. Kalau draf itu disepakati DPR berarti langkah DPR sangat bagus. Artinya DPR memperhatikan keberadaan ormas Islam. Bahkan, DPR juga sudah mengakomodasi pasal penting lain tentang pengakuan bagi ormas yang sudah memiliki badan hukum. Dengan pengakuan Staatsblad 1870 Nomor 64 berarti ormas yang lahir sebelum Indonesia merdeka juga diakui dan tidak perlu mendaftar lagi.</p>
<p>HTI juga mengapresiasi proses hukum pembubaran ormas. Dalam draf terakhir, proses hukum dapat dilakukan sampai pengadilan tingkat tertinggi bahkan kasasi. Penguasa tak bisa semena-mena membubarkan ormas. Driser, meski RUU Ormas ditunda pengesahannya bukan berarti perjuangan sudah selesai. Umat Islam tetap harus waspada, karena titik kritis RUU Ormas yang tengah digodok oleh DPR adalah isinya. Kalo ditunda, sebulan, setengah bulan bahkan setahun tapi isinya gak berubah, sama aja bo&#8217;ong. Boleh jadi penundaan disyahkannya RUU Ormas hanya untuk meredam keributan dari kekuatan gabungan ormas yang bersuara lantang menolak pengesahannya. Kalo udah adem, suasananya dingin, tahu-tahu udah jadi UU. Waspadalah..waspadalah..waspadalah![]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/astung/">Astung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/astung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3666</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
