<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Kabar dari Luar Negri Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/category/kabar-dari-luar-negri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Jul 2020 07:36:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Pernikahan Dua Negara</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2020 07:36:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4602</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menikah dengan Bule, Dijamin Hidup Enak? &#160; Di zaman yang “katanya” sudah maju seperti ini, masih banyak orang yang berfikir kebelakang. Contohnya masih banyak yang berfikir menikah dengan bule dijamin akan hidup enak. Kadang suka gemes sama orang yang pola pikirnya seperti itu. Dulu pernah punya pengalaman pas di Pandeglang, suami berencana membelikan boneka kodok &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Pernikahan Dua Negara</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Menikah dengan Bule, Dijamin Hidup Enak? </strong>&nbsp;</p>



<p>Di zaman yang “katanya” sudah maju seperti ini, masih banyak orang yang berfikir kebelakang. Contohnya masih banyak yang berfikir menikah dengan bule dijamin akan hidup enak. Kadang suka gemes sama orang yang pola pikirnya seperti itu.</p>



<p>Dulu pernah punya pengalaman pas di Pandeglang, suami berencana membelikan boneka kodok untuk saya, tetapi menurut saya harganya masih bisa ditawar. Si abang penjual tiba-tiba nyeletuk “beli aja neng nggak usah ditawar, kan bule mah kaya-kaya”. Rasanya ingin saya colek pakai gegep. &nbsp;</p>



<p>Bule juga sama aja seperti kita, makanannya masih karbohidrat juga. Mereka fikir setiap harinya bule mengonsumsi emas. Mentang-mentang kulit putih, mata berwarna dan rambut pirang, jadi disamakan dengan bule Amerika yang gajinya pakai dollar. <em>But he is Turkish!</em></p>



<p>Dan orang Turki bukan orang Amerika! Lagian bule Amerika juga “enggak” semuanya kaya, ada gelandangan juga kok. Ini kok mikirnya semua bule kaya raya. &nbsp;Contoh lain, kalau si bule “pulang kampung” ke Indonesia. Nah rata-rata pada rame minta oleh-oleh.</p>



<p>Ini kebiasaan orang Indonesia banget! Pas suami ke Indonesia, yang ditanyain pertama kali “bawa oleh-oleh ga?” nanya kabar duluan ngapa. Lah suami juga belinya pake morat-marit, walaupun harga oleholehnya murah tapi kalo dibeli dalam jumlah banyak yaa tetep aja jatuhnya mahal. Kadang mikir kalo saya mudik nggak akan bawain oleh-oleh sekalian. &nbsp;Ini berbeda banget sama kebiasaan orang Turki kalau tahu kita mau berpergian.</p>



<p>Orang Turki biasanya mengucapkan “<em>iyi yolculuklar</em>”, kurang lebih artinya selamat&nbsp; menikmati perjalananmu. Dan sekedar info saja, orang Turki nggak pernah loh minta oleh-oleh sama yang berpergian (terutama di keluarga saya). Duh, <em>please</em> banget jangan terus menganggap bule itu hidup dengan gelimangan harta. Beberapa oknum iseng juga suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ketika si bule tidak tahu apaapa, mereka bisa nipu seenaknya.</p>



<p>Pas suami pertamakali ke Indonesia, ada porter &nbsp;yang nawarin bawain barang, suami kasih 50 ribu tapi dia minta 100 ribu. 50 ribu aja udah kebanyakan, kalo saya tahu, saya akan minta kembali uangnya dan cukup beri dia 5000 rupiah saja.</p>



<p>Bukannya saya pelit, saya hanya tidak bisa menerima “penipuan”. Kalo orangnya jujur, diberi 100 ribu juga kita “engga” rugi. Kalo nipu, simpatinya jadi hilang. Kalau dibiarkan terus nanti jadi kebiasaan. &nbsp;Di kampung juga masih banyak orang yang punya paham seperti itu. Ada beberapa tetangga yang nyeletuk <em>“enak dong Dea nikah sama bule, pasti banyak duitnya”</em>, duh pengen rasanya saya ajak <em>selfie</em> di puncak monas deh kayanya. &nbsp;</p>



<p>Beberapa cewek Indonesia juga ada yang <em>keukueuh sumekeuh</em> ingin menikah dengan bule. Alasannya biar hidup lebih makmur. Sampai-sampai tidak peduli si bule masih muda atau sudah kakek-kakek, yang penting berduit. Saya melihatnya miris. Jadi untuk mereka, harta adalah ukuran kebahagiaan. Padahal sejatinya belum tentu banyak harta menjamin kebahagiaan seseorang. Kalau iya, <em>Robbin William</em> nggak kan milih bunuh diri buat mengakhiri hidupnya. &nbsp;</p>



<p>Stop mikir semua bule kaya raya, itu pemikiran purba banget. Bule juga manusia, mereka makan nasi sama roti kayak kita &nbsp;juga. Roti dibikin dari gandum juga kan, bukan emas. Ya memang ada kok bule yang kaya raya, tapi tidak sedikit yang hidupnya biasa-biasa saja. Jadi intinya bule sama aja seperti orang Indonesia. Yang membedakan hanya fisik dan bahasanya.</p>



<p>Tidak semua orang kulit putih hidup serba mewah, tinggalkanlah warisan penjajahan dulu. Hanya karena bangsa Eropa yang pernah menjajah &nbsp;Indonesia adalah bangsa yang berduit jadi kita menyamaratakan mereka semua dengan generasi bule masa kini. &nbsp;Yang saya rasakan menikah sama bule ya begini. Saya jadi lebih mandiri karena semua dikerjakan sendiri. Orang Indonesia masih sanggup kan menyewa asisten rumah tangga.</p>



<p>Di sini sewa asisten rumah tangga mahal banget, hanya orangorang super tajir aja yang punya asisten rumah tangga. Menurut saya orang&nbsp; Indonesia malah&nbsp; lebih banyak yang kaya raya. Banyak yang punya mobil lebih dari satu, punya rumah pribadi, kontrakan&nbsp; menyebar dimana-mana, jalan-jalan ke mall terus, barang-barang di rumah <em>branded</em>&nbsp; semua, pakaian bagus dan lainnya. &nbsp;</p>



<p><strong>Pengalaman Mengajarkan suami Bahasa Indonesia </strong>&nbsp;</p>



<p>Alkhisah suami saya mengikuti tes untuk pendidikan master di salah satu universitas terkemuka di Ankara. Jurusan yang dia ambil adalah Pendidikan Bahasa Inggris dan Pelajaran Asia. Suami mengikuti tes untuk jurusan Pelajaran Asia.</p>



<p>Dia sangat optimis bisa lolos di jurusan ini. Karena dia bercerita ke semua penguji bahwa dia punya istri orang Indonesia. Indonesia dan Malaysia adalah negara Asia yang pernah dikunjungi. Ketika penguji bertanya bahasa Asia mana yang dikuasai, dengan mantap dia bilang Bahasa Indonesia.</p>



<p>Para penguji meminta sertifikat kemampuan berberbahasa Indonesia dari suami. <em>Jrengg..deg dag dur..!</em> Suami mengiyakan membawa sertifikat tersebut. &nbsp;Suami lalu meminta saya membuatkan sertifikat tersebut sesampainya di rumah.</p>



<p>Yaelah masbro, saya mana bisa buat sertifikat begitu. Harus dari lembaga resmi dengan tanda tangan penanggung jawab resmi pula. Akhirnya saya menawarkan alternatif mengikuti tes berbahasa Indonesia di kampus saya di Bandung.</p>



<p>Mungkin bisa saja sertifikat tersebut didapatkan secara <em>online</em>, tetapi ternyata tidak bisa saudara-saudara. Sertifikat tersebut harus didapatkan dengan datang ke tempat tes &nbsp;berbahasa Indonesia di &nbsp;negara Indonesia. Informasi tersebut didapatkan dari salah satu dosen saya yang sudah dekat sekali dengan saya. Kabar baiknya, sertifikat tersebut bisa didapatkan tanpa mengikuti kursus berbahasa Indonesia di lembaga resmi. &nbsp;</p>



<p>Akhirnya demi mempersiapkan diri dalam tes tersebut, suami meminta saya untuk menjadi guru pribadinya. Hari ini saya mulai mengajari suami bahasa Indonesia, beberapa menit berlangsung sangat menarik hingga akhirnya suami menanyakan beberapa pertanyaan yang saya sulit jawab karena terlanjur lupa alias karatan kelamaan banget nggak dipelari. Makin sadar, ternyata banyak ilmu yang sudah terlupakan.</p>



<p>Hampir setahun saya tidak belajar dan hampir setahun saya tidak mengajar juga. Rasanya ya malu, jelas-jelas pertanyaan tersebut jawabannya ada di bidang yang saya geluti selama kuliah 4 tahun. &nbsp;<em>Intermezzo</em>: Setelah belajar Bahasa Indonesia selama setahun penuh (<em>yang akhirnya saya harus ikhlas kembali membuka materi kuliah selama 4 tahun</em>), suami mencoba mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia yang diadakan oleh KBRI Ankara Turki.</p>



<p>Alhamdulillah keluar sebagai  juara. Hadiahnya adalah tiket pulang pergi ke Indonesia selama 5 hari, mengikuti upacara peringatan 17 agustus di Istana Negara serta kunjungan budaya ke Jakarta dan Jogjakarta bersama pemenang dari 19 negara lainnya. Alhamdulillah. Semoga pelajaran berharga ini, jadi bahan cerita kami kelak ke anak-cucu, aamiin. [Terima Kasih kepada Kak <strong><em>Dea Audia Kursun</em></strong> atas ceritanya kepada <strong>Majalah DRISE</strong>]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4602</post-id>	</item>
		<item>
		<title>i am Pround To be A Moslem</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/i-am-pround-to-be-a-moslem/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/i-am-pround-to-be-a-moslem/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2020 04:08:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4546</guid>

					<description><![CDATA[<p>London &#38; Ramadan Mubarak Gambar-gambar ini bukan foto di &#160;Ramayana Department Store. Ini foto dari beberapa Hypermart di London, seperti Supermarket ASDA dan Sainsbury, yang udah sejak awal Mei pasang plang &#8220;Ramadhan Mubarak&#8221;. Nggak jauh-jauh yang dipromokan juga mirip-mirip ala Indonesia. Sebut saja, Sirup ABC ala Londoners, minyak goreng, sembako, dan lainnya. Nggak ketinggalan NHS &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/i-am-pround-to-be-a-moslem/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">i am Pround To be A Moslem</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/i-am-pround-to-be-a-moslem/">i am Pround To be A Moslem</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>London &amp; Ramadan Mubarak</strong></p>



<p>Gambar-gambar ini bukan foto di &nbsp;<em>Ramayana Department Store</em>. Ini foto dari beberapa <em>Hypermart</em> di London, seperti Supermarket ASDA dan Sainsbury, yang udah sejak awal Mei pasang plang &#8220;Ramadhan Mubarak&#8221;.</p>



<p>Nggak jauh-jauh yang dipromokan juga mirip-mirip ala Indonesia. Sebut saja, Sirup ABC ala Londoners, minyak goreng, sembako, dan lainnya. Nggak ketinggalan NHS (Departemen Kesehatan-nya Inggris) memanfaatkan momentum Ramadan untuk kampanye stop rokok dengan menempel poster-poster Ramadan di toko-toko. Warning, Budaya kita mulai dicuri bule Gan!!! Hehe. Untung mereka nggak doyan pasang mercon. Hayo selamatkan Ramadan sampai hari terakhir. Marhaban Yaa Ramadan.</p>



<p><strong>Inferiority Complex</strong></p>



<p>Cerita hari ini rada sedih. Saya &nbsp;ditugaskan buat jaga satu <em>stand</em> Indonesia di dekat <em>icon</em> utama kota london, yaitu <em>London Bridge</em>. Para pemilik <em>stand</em> pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Pas sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat asem begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, &#8220;Mas ikhwan ya?&#8221;.</p>



<p>Hah, emangnya kenapa pikir saya. Lalu nggak berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti <em>shift</em> dengan saya mengajak bicara. &#8220;Mas, bapak itu maunya <em>stand</em> dijaga perempuan&#8221;. <em>Okeylah</em>, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan &nbsp;kawan lain. Pas sudah cari-cari, eh ternyata &nbsp;nggak ada yang bisa diajak tukeran. Baliklah saya ke pemilik <em>stand</em> dan saya sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan &#8220;cold blood&#8221; dia bilang, &#8220;Ya udah saya sendiri aja, Mas&#8221;.</p>



<p>Saya perhatikan gerak-geriknya, lho kok rada melambai!!! Pahamlah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang &nbsp;macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita nggak usah heran.&nbsp; Lebih menyedihkankan lagi, buat <em>transport</em> ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah).</p>



<p>Kok iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat-buat. Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik <em>stand</em> kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya. Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita-wanita bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam-jam ketimbang nyamperin penjaga dari kalangan mahasiswa yang seksi-seksi. <em>Subhanallah</em>.</p>



<p>Saya heran, tapi tidak terlalu heran. Orang-orang asli Inggris sangat ramah, jauh lebih <em>welcome</em> dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indonesia, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama shalat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu-waktu apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.</p>



<p>Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk &nbsp;bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi nggak perlu nyiapin menu buat saya. Diluar dugaan, <em>staff</em> kampus tersebut membalas bahwa dia tahu lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim. &nbsp;</p>



<p>Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, melulu isinya arca dan patung Bali.</p>



<p>Sampai-sampai seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, &#8220;Zico, negaramu ini betulan negara muslim???&#8221;. Saya jawab, Ya. &nbsp;&#8220;Kenapa ada patung-patun dewa ini di embassy kamu?&#8221; sahutnya. &nbsp;Saya terdiam nggak bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali.</p>



<p>Dan patung-patung itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut. Silakan <em>survey</em>, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya &nbsp;menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang di rumahnya menyimpan Al-Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?&nbsp; Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip-mirip juga nasibnya dengan KBRI Berlin.</p>



<p>Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji. &nbsp;Inferiority complex. Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!! Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan. Mohon maaf bangsaku. Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar.</p>



<p>Nggak malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini nggak canggung sehari-hari bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalu lintas dan lainnya. Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas.</p>



<p>Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat 5 mesjid ke segala arah penjurunya. Restoranrestoran ayam &#8220;KFC&#8221; India dan dan toko&nbsp; daging halal bertebaran. Mereka nggak canggung pasang tulisan ayat Al-Quran&nbsp; selebar plang Toko. Kadang gede-gede ditulis kalimat syahadat persis didepan pintu kaca restoran.</p>



<p>Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, <em>Murattal</em> disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar-pasar Indonesia? Buat shalat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba satu jam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat di dalam mesjid. Kalo nggak, pasti saya salat di halaman mesjid, padahal mesjidnya 3 tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.</p>



<p>Sembari memperhatikan tingkah &nbsp;bangsa kita di pameran ini, tiba-tiba saya disampiri seorang security. &#8220;Are you an Indonesian?&#8221;.. &#8220;Are you an Imaam here&#8221;. &#8220;No, I am just visitor&#8221;. Hah, justru, sang sekuriti dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. &#8220;Where are you come from&#8221;, tanyaku. &#8220;I was born here, but my parents came from Bangladesh&#8221;. Saya katakan dalam bahasa Bangladesh &#8220;Vallo Achi (Apa kabarmu?)&#8221;. &nbsp;</p>



<p>Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun nggak kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi nggak kagok sama krisis identitas. &nbsp;&#8220;Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana2, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh&#8221;. &nbsp;&#8220;Sialan!!!&#8221; pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget. &nbsp;</p>



<p>&#8220;Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh&#8221;, ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo. Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari-tari, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indonesia, seorang turis mendekati saya, &#8220;Are you Indonesian?&#8221;.</p>



<p>&nbsp;&#8220;Yes&#8221;, I said. &#8220;Apakah acara seperti ini rutin diadakan &nbsp;setiap bulan?&#8221;, tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, &#8220;Where are you come from&#8221;. Dijawab, &#8220;Saudi!&#8221;. Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini. &nbsp;&#8220;Ah, takallamta bi lughatil arabiyah ( Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)&#8221;. &#8220;Naam&#8221;. &#8220;Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?&#8221;, tanyaku.</p>



<p>&#8220;Aiwah&#8221;, katanya. Benar saja dia terlihat senang ada orang &nbsp;Indonesia bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam-macam. Untung dia pakai bahasa Arab asli.</p>



<p>Umumnya kawan-kawan kami dulu orangorang Arab Maroko dan Aljazair bicara&nbsp; dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain. &nbsp;&#8220;Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?&#8221;, katanya Saya balas, &#8220;Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains&#8221;. Dalam hati gue mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius lain yang harus <em>kick ass</em> dari Indonesia, ato nggak kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya mo coba eksis di jalur artis.</p>



<p>&#8220;Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?&#8221;, katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London. Orang seperti kamu harusnya &nbsp;ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Nggak lama beliau pun pamit. Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri, &nbsp;&#8220;Brother, will you again tomorrow?&#8221;.</p>



<p> &#8220;I will, Insha Allah&#8221;. Dan beliau pun  nampak senang. Saya habiskan sisa hari berdua istri  melihat-lihat London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah. Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/i-am-pround-to-be-a-moslem/">i am Pround To be A Moslem</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/i-am-pround-to-be-a-moslem/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4546</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Membumikan Al Quran Ala Pakistan</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/membumikan-al-quran-ala-pakistan/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/membumikan-al-quran-ala-pakistan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2020 03:34:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4414</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langit selalu sama.&#160; Ia menampung siapa pun untuk dinaungi dan menggantungkan harapan. Hari ini aku &#160;menitipkan harapan yang tinggi kepada ilahi robbi dan memulai hidup baru di sini, negeri seribu cahaya. Sebagai seorang pemuda yang haus ilmu dan pengalaman, Pakistan bukan pilihan paling ideal, tapi tidak juga buruk. Namun sesuatu yang menakjubkan hadir di sini. &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/membumikan-al-quran-ala-pakistan/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Membumikan Al Quran Ala Pakistan</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membumikan-al-quran-ala-pakistan/">Membumikan Al Quran Ala Pakistan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Langit selalu sama.&nbsp;
Ia menampung siapa pun untuk dinaungi dan menggantungkan harapan. Hari
ini aku &nbsp;menitipkan harapan yang tinggi
kepada ilahi robbi dan memulai hidup baru di sini, negeri seribu cahaya.
Sebagai seorang pemuda yang haus ilmu dan pengalaman, Pakistan bukan pilihan
paling ideal, tapi tidak juga buruk. </p>



<p>Namun sesuatu yang menakjubkan hadir di sini. &nbsp;Aku menginjakkan kaki di Pakistan tepatnya
kota Islamabad guna melanjutkan studiku di bidang Islamic Banking &amp; Finance
di International Islamic University Islamabad. Sejak bulan Juli 2013 lalu aku
mengawali hidup di negeri orang, yang kini sudah semester 6 dalam perkuliahan. </p>



<p>Pakistan tentu tidak seluas Indonesia, tapi bukan berarti perilaku
dan budayanya homogen. Berbagai peristiwa politik, aneka budaya, pendekatan bahasa,
memberi efek kejut bagiku pada awalnya. Namun aku cepat beradaptasi. Sesekali
aku menghabiskan waktu melaksanakan hobi di bidang olahraga maupun travelling. </p>



<p>Hobi yang satu ini banyak juga manfaatnya. Salah satunya memudahkanku
bergaul, berbaur dan mengenal bangsa-bangsa. Nilai-nilai keislaman di Pakistan
memang kental. Suatu kali aku bersafar yang akhirnya membuatku hilir dari satu
bagian distrik ke distrik berikutnya. Sebagai seorang pendatang dari Indonesia
yang &#8216;apa adanya&#8217;pemandangan unik di Pakistan ini menggelitik spiritualitasku. </p>



<p>Bagaimana hati tidak senang, pikiran tenang, sebab banyak
distrik di Pakistan lekat dengan Al-Qur&#8217;an. Masjid atau surau mereka ramai dengan
para penghafal al-Quran. Baik yang masih kecil, berumur muda, dewasa, juga
lansia. Kalau pemandangan seperti ini, bisa dibilang langka di Indonesia.
Kecuali kita menyengajakan diri datang ke Pesantren atau saat Ramadhan tiba.
Sedangkan di sini, membaca dan menghafal Al-Qur&#8217;an itu sudah seperti kebutuhan,
seolah makan dan minumnya kehidupan. &nbsp;</p>



<p>Rahasianya terletak pada pembiasaan keluarga muslim di
rumah- rumah yang berlanjut kepada habits sosial. &nbsp;Bisa dibilang, orang tua malu jika anaknya tidak
pandai mengaji, tidak berangkat ke surau, seolah itu aib. </p>



<p>Bedakan dengan budaya Indonesia yang tentu masih jauh dari gambaran
ini. Bukannya tidak bangga jadi orang Indonesia, tapi kita sudah sepatutnya iri
dengan kebaikan orang lain, apalagi jika &nbsp;sudah sampai kepada tatanan komunitas. Wah
kayaknya keren ya kalau Indonesia menyalakan gerakan cinta Al-Qur&#8217;an seperti
ini. </p>



<p>Beberapa waktu yg lalu saya mengunjungi salah satu tempat
dimana anak-anak menghafal qur&#8217;an saya pun berkesempatan untuk sedikit sharing
dengan mereka dan gurunya. Mereka mulai menghafal al-quran pada umur 5-15
tahun. Program dimulai dengan membaca huruf hijaiyah-qur&#8217;an- dan start mulai
menghafal. Untuk program tahfiz maksimal 2 tahun sudah selesai 30 juz. </p>



<p>Di sini mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Semengara
gurunya tidak ada persyaratan yang harus dia penuhi asalkan sang anak siap dan
ingin bersungguh sungguh menghafal dan mengaplikasikannya di kehidupan
seharihari, dengan kegiatan yang full seharian untuk menghafal quran mulai
subuh hingga isya. </p>



<p>Satu lagi yang aku sukai dari karakteristik orang sini ialah
kebiasaan mereka dalam memuliakan tamu. Tanpa memandang warna kulit, kasta
sosial, maka tamu yang berhadir dijamu seperti raja layaknya saudara dekat
mereka sendiri. </p>



<p>Makan dan minum yang enak, yang kadang mereka pun jarang
menikmatinya. Sematamata ingin tamunya senang dan kerasan.&nbsp; Sehingga persaudaraan akan tumbuh dengan sendirinya.
Keramah-tamahan itu tentu tidak sekedar basa basi melainkan terlihat nyata. &nbsp;Itu juga yang membuatku rindu dengan tempat
ini. &nbsp;</p>



<p>Bukan berarti, Pakistan sepi dari masalah ya. Pergolakan
politik, kesenjangan sosial, termasuk migrasi rakyat Afghanistan ke Pakistan
tentu menjadi sorotan tersendiri. Isu Sunni-Syiah juga kerap menjadi perbincangan.
Pergolakan politik Pakistan yang turun naik terkait pemerintahan, namun lebih
banyak menyangkut kepada keamanan, perihal terorisme. &nbsp;Sudah wajar di sini apabila suatu saat datang
informasi dari KBRI Islamabad untuk tidak pergi ke suatu tempat atas informasi
intelejen Pakistan bahwa tempat tersebut akan terjadi penyerangan dari berbagai
kelompok dengan berbagai ideologi, seperti Taliban Pakistan yang bermarkas di North
Waziristan. </p>



<p>Tidak selesai sampai di situ, masalah <em>refugee</em> Afghanistan
menambah tingginya tingkat kesenjangan sosial di Pakistan dikarenakan mereka
tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Konflik Sunni-Syiah yang kerap terjadi
ketika hari 10 Muharram dan Hari maulid nabi Muhammad SAW sering memicu insiden
tembak menembak ataupun <em>bomb blast </em>yang&nbsp;
tidak dapat terhindari. Saya berkeyakinan bahwa Ilmu bisa di timba
darimanapun asalnya dan ajal akan menjemput dimanapun kita berada entah di daerah
yang aman maupun daerah yg bergejolak konflik seperti di Pakistan. </p>



<p>Namun justru ini menjadi tantangan kami semua untuk semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta dan semoga apapun tantangan yg sedang saya hadapi di sini menjadi pelajaran dan memudahkan jalan kedepannya untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Aamin ya Rabbal&#8217;alamiin. <strong>[Seperti yang dituturkan Aldila Putra Ramadhan kepada Redaksi/Alga Biru]</strong>  </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membumikan-al-quran-ala-pakistan/">Membumikan Al Quran Ala Pakistan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/membumikan-al-quran-ala-pakistan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4414</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menggapai Asa di Negri seribu Menara</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/menggapai-asa-di-negri-seribu-menara/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/menggapai-asa-di-negri-seribu-menara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Feb 2020 03:04:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4354</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hai, perkenalakan namaku Assa Dullah Rouf, biasa disapa Assa atau di kuliah teman-teman asing sering &#160;menyapa dengan Asad yang berarti singa. Aku seorang putra asli Minangkabau yang kini sedang merantau ke negeri seribu menara guna meneruskan pendidikannya di jurusan Tafsir dan Ilmu Tafsir, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Perjalanan ini dimulai 10 Oktober 2012, kali &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/menggapai-asa-di-negri-seribu-menara/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Menggapai Asa di Negri seribu Menara</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menggapai-asa-di-negri-seribu-menara/">Menggapai Asa di Negri seribu Menara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hai, perkenalakan namaku Assa Dullah Rouf, biasa disapa Assa
atau di kuliah teman-teman asing sering &nbsp;menyapa
dengan Asad yang berarti singa. Aku seorang putra asli Minangkabau yang kini
sedang merantau ke negeri seribu menara guna meneruskan pendidikannya di
jurusan Tafsir dan Ilmu Tafsir, Fakultas <em>Ushuluddin</em> Universitas Al-Azhar
Kairo. </p>



<p>Perjalanan ini dimulai 10 Oktober 2012, kali pertama aku
menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan Piramid dan Spinx ini. &nbsp;Sebelum beranjak jauh, temanteman pasti ingin
tahu bagaimana kisahku bisa sampai ke Negeri yang terkenal di Indonesia lewat tulisan
kang Abik lewat&nbsp; novel Ayat-ayat
Cintanya. </p>



<p>Tak ayal, salah satu penyemangatku juga karena&nbsp; menonton filem AAC tersebut, tidak tanggung-tanggung
aku pun membeli buku novel tersebut walau sudah kelar&nbsp; menontonnya. Untuk beberapa lama aku tersihir
oleh negara yang terkenal dengan pesona kecantikan sang ratu Cleopatra. Di
setiap senti dinding kamarku di pondok dipenuhi oleh coretan-coretan. </p>



<p>Salah satunya berisi coretan dan gambargambar Universitas
Al-Azhar, Kairo. Walau&nbsp; bisa disebut
pemalas di waktu &#8216;aliyah, tetapi aku selalu mengusahakan hadir mata pembelajaran
ilmu alat (<em>nahwu </em>dan <em>shorof)</em>&nbsp;
dan Tafsir, karena tiga mata pembelajaran&nbsp; ini yang sangat kuminati dan kucintai, inilah
akhirnya yang membuatku sampai ke&nbsp; negeri
impian, kiblatnya keilmuan, Al-Azhar Asy-Syariif. </p>



<p>Sungguh tak mudah, aku menjalani serangkaian tes. Tes
pertama oleh departemen agama dan tes kedua oleh delegasi utusan Al-Azhar
Kairo. Tes pertama dapat diikuti di daerah-daerah yang sudah ditunjuk oleh
Depag (Departemen Agama), dan setelah lulus tes pertama dilanjutkan dengan tes
kedua langsung di ibukota Jakarta. </p>



<p>Dengan modal pas-pasan (keilmuan) dan berusaha semaksimal mungkin,
akhirnya <em>Alhamdulillah</em> berkat rahmat Allah Ta&#8217;ala, dari seribuan calon peserta
se-Indonesia yang tes aku dinyatakan lulus tahap pertama, dan waktu itu aku tes
di kota Jambi. Kemudian &nbsp;perjalanan
dilanjutkan ke Jakarta, bermodal menginap di tempat tante temanku satu sekolah
yang juga ikut tes, kami berdua yang mengikuti ujian dari pagi hingga mangrib
menjelang akhirnya bisa keluar dengan hati lapang, karena tes tahap terakhir
telah kami jalani dalam keadaan sehat. </p>



<p>Setelah lebih dua minggu berlalu, akhirnya pengumuman
kelulusan tahap duapun keluar dan namaku terpampang jelas di halaman akhir, ya
itu namaku, sujud syukur tunduk aku pada-Mu ya Allah. Persiapanpun dimulai,
setelah mencari dana bantuan sana-sini saatnyalah untuk meninggalkan ranah
Minang tercinta. </p>



<p>Dengan lepasan tangis ibu ketika melepas anak sulung
pertamanya untuk pergi merantau ke negeri yang hanya dikenalnya melalui cerita
mulut ke mulut. Sedih, pasti, setiap anak yang ikut pergi bersamaku merasakan
hal yang serupa. Namun disitulah yang namanya pengorbanan, disaat kita sudah
fokus untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan mengorbankan hal-hal yang dapat
menghalangi dari tercapainya tujuan tersebut. </p>



<p>Sesampai di Mesir, aku mengalami <em>shock culture</em> dikarenakan
banyaknya perbedaanperbedaan yang aku rasakan di saat awalawal di Mesir. Salah satunya
tentu di saat &nbsp;aku mulai memasuki dunia perkuliahan
di Al-azhar. Aku dapati dikta-diktat tebal permata kuliahnya –ditulis dalam
Bahasa Arab- yang harus kulahap dalam beberapa bulan sebelum memasuki UAS. </p>



<p>Saat-saat yang bisa dibilang traumatik dikarenakan aku
memang tidak tahu menahu pada awalnya bagaimana sistem pendidikan yang ada di
Universitas Al-Azhar saat itu. Lagi-lagi berkat rahmat Allah Ta&#8217;ala, akupun
bisa naik ke tingkat dua. Dinamakan “tingkat” karena di universitas Al-Azhar
hanya mengenal istilah tingkat bukan semester, ya semacam kita waktu di sekolah
dulu. Jadi ketika kamu gagal disatu tingkat, maka kamu terpaksa untuk mengulang
di tingkat tersebut selama setahun kedepan, dan diujikan dengan mata
perkuliahan yang mana kamu gagal di tahun sebelumnya. </p>



<p>Di Al-Azhar aku mengenal istilah Al-azhar <em>jami&#8217; wa
jami&#8217;atan. </em>Al-Azhar itu adalah masjid dan kampus. Bermakna bahwa menuntut
ilmu tidak bisa dicukupi di perkuliahan saja dan hendaknya ditambah dengan
mengaji (di Mesir istilahnya <em>talaqqi) </em>di masjid Al-Azhar dengan para <em>masyayikh</em>
yang mumpuni di bidangnya. </p>



<p>Tempat untuk mengaji atau <em>talaqqi</em> tidak hanya di
masjid Al-Azhar, ada beberapa <em>medhiyafah</em> yang memberikan tempat untuk
menimba ilmu yang juga tidak jauh dari Mesjid Al-Azhar. Singkatnya dunia kampus
memberikan kita &nbsp;“kunci” untuk membuka
gerbang keilmuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah masjid Al-Azhar
Asy-Syariif itu sendiri. Yang membuat hal berbeda antara menuntut ilmu di Mesir
dan Indonesia adalah <em>dzauq </em>atau hawa keilmuannya. </p>



<p>Saat di Mesir, sangat memungkinkan untuk langsung belajar &nbsp;kepada Doktor-doktor di bidang agama &nbsp;yang sudah ternama di dunia. Semesta keilmuan
bertebar disana sini. Pilihannya sederhana, apakah ingin malas-malasan atau
bersungguh-sungguh. Berbicara masalah bersungguhsungguh atau malas lebih enak
kalau kita membicarakan sistem perkuliahan yang ada di universitas Al-Azhar itu
sendiri. Di kampus Al-Azhar kita tidak akan mendapatkan istilah “absensi”, jadi
mau hadir atau tidak ke kuliah tidak ada masalah. </p>



<p>Abis solat subuh lanjut tidur dan tidak kuliah, boleh, asal
nanti sewaktu UAS&nbsp; harus wajib datang
kalau tidak ingin <em>rasib</em>&nbsp; alias gagal
dan mengulang kembali di tahun ajaran berikutnya. Disinilah kita dapat melihat perbedaan
yang besar dengan sistem perkuliahan di Indonesia yang lebih ketat dalam
pengabsenannya, beberapa&nbsp; kali alpha maka
bisa dipastikan kamu akan mengulang di semester berikutnya. Inilah uniknya
kampus Al-Azhar di mataku. </p>



<p>Seorang mahasiswa dinilai dari hasil ujiannya, yang dianggap
paling representatif. Maukah kita akrab dengan dosen ataupun nggak, tidak akan mempengaruhi
hasil ujian akhir yang kita lalui. Semua tergantung pribadi mahasiswanya, siapa
yang rajin berhasil dan siapa yang malas akan menuai kegagalan. Semua ini tentu
tidak terlepas dari pertolongan Allah Ta&#8217;ala. </p>



<p>Ketika kita melihat bagaimana ketatnya pengawasan ujian di
Al-Azhar, ketat sekali. Mau ke kamar mandi aja kamu dikawali. Bicara dikit,
noleh dikit ditegur, ditambah waktu yang juga cuma dua jam dengan soal yang
beranak-pinak yang pada akhirnya membuat keringat dingin keluar nggak
ketolongan. </p>



<p>Disaat-saat <em>imtihan </em>atau &nbsp;ujian inilah seluruh jiwa-jiwa mahasiswa &nbsp;Indonesia di Mesir atau masisir menjadi sangat
dekat dengan Sang Maha Penolong. Kehidupan masisir tidak hanya sebatas di
perkuliahan dan <em>talaqqi </em>saja, banyak juga masisir diantaranya yang bekerja
dan ada juga yang sibuk menjadi aktivis di berbagai macam organisasi. </p>



<p>Untuk bekerja kita akan mendapati masisir yang bekerja di
sebuah warung makan, menjadi agen travel, <em>tour guide¸</em>bimbingan belajar dan
bahkan bekerja di vila-vila mewah. &nbsp;Apapun
kegiatannya, tugas utamanya tetaplah sukses studi. Kamu akan mendapatkan apa
yang kamu pikirkan. Ketika memikirkan sukses kuliah maka itu yang didapat,
ketika memikirkan sukses bisnis, sukses organisasi dan lainnya maka itu yang
didapat. </p>



<p>Di Mesir kaidah fokus dan <em>balance</em> dalam setiap
pekerjaan menjadi kunci sukses untuk bisa berhasil di rantau orang. Semoga
kisah ini bermanfaat. Salam kangen untuk Indonesia! <strong>[Kontributor : Assa
Dullah Rouf/Mesir]</strong> </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menggapai-asa-di-negri-seribu-menara/">Menggapai Asa di Negri seribu Menara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/menggapai-asa-di-negri-seribu-menara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4354</post-id>	</item>
		<item>
		<title>CERITA DARI CHINA : dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma?</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/cerita-dari-china-dui-bu-qi-wo-yao-li-bai-yi-xia-ke-yi-ma/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/cerita-dari-china-dui-bu-qi-wo-yao-li-bai-yi-xia-ke-yi-ma/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jan 2020 05:48:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4290</guid>

					<description><![CDATA[<p>by jony karikno mahasiswa wuxi institute of tchnology- china 17 September 2015. Kaki ini menginjakan di tanah tirai bambu untuk pertama kalinya. Tidak pernah  terpikir sebelumnya bisa belajar ke luar negeri apalagi sampai ke negeri China yang sekarang lebih sering disebut Tiongkok. Sebelumnya, hanya bisa melihat kehidupan, pendidikan ataupun kebudayaan negeri Panda ini dari layar &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/cerita-dari-china-dui-bu-qi-wo-yao-li-bai-yi-xia-ke-yi-ma/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">CERITA DARI CHINA : dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma?</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cerita-dari-china-dui-bu-qi-wo-yao-li-bai-yi-xia-ke-yi-ma/">CERITA DARI CHINA : dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>by jony karikno mahasiswa wuxi institute of tchnology- china</p>



<p>17 September 2015. Kaki ini menginjakan di tanah tirai bambu untuk pertama kalinya. Tidak pernah  terpikir sebelumnya bisa belajar ke luar negeri apalagi sampai ke negeri China yang sekarang lebih sering disebut Tiongkok. Sebelumnya, hanya bisa melihat kehidupan, pendidikan ataupun kebudayaan negeri Panda ini dari layar kotak kecil, televisi ataupun laptop. Tapi sekarang malah nyata berada di di tanah kelahiran Wong Fei Hung. Alhamdulillaah…! </p>



<p><strong>Kehidupan Masyarakat China </strong></p>



<p>Hal paling mencolok banget di China itu &nbsp;yang namanya agama menjadi hal yang tabu. Cuma
sedikit saja kayaknya yang mempunyai agama di china. Bahkan salah satu temen
asli china, panggil aja Chong malah ingin masuk neraka “I want go to Hell.!!”. Haduuhh&#8230;Mereka
lebih takut sama atasan dibandingkan dengan Tuhan. Ya karena menganggap
atasanlah yang memberi gaji. Uang dan kesenangan yang berbentuk materi itulah
yang di kejar-kejar oleh mayoritas penduduk China sampai kapan pun. </p>



<p>Tolak ukur kebahagiaan bersifat materi demi memenuhi
pemuasan nafsu semata. Sehingga menjadi hal yang lumrah ketika kehidupan begitu
bebas. Saking bebasnya, masyarakatnya pun cuek banget dengan yang lain.
Terutama dalam urusan pergaulan dengan lawan jenis aduuhhh&#8230;.aduuhh..kayaknya
lebih ngeri dibandingkan dengan Indonesia walau jangan dibilang Indonesia sudah
baik. </p>



<p>Aktivitas (maaf) ciuman di jalan, di kampus bahkan di halte
bus pun sudah biasa dan tak &nbsp;ada rasa
malu kayaknya. Sama halnya dengan fashion. Saat di kampus kalau untuk pemuda
sepertinya relatif normal. Namun untuk yang pemudi kadang sampai &#8216;horor&#8217;. Hots
pant pun tak segan digunakan dalam area kampus. Judi, di negeri kita
kegiatannya disembunyikan dan dilakukan di tempat tertutup. </p>



<p>Di sini, judi ibarat rutinitas biasa yang tak mengenal
tempat bahkan seperti sebuah kebudayaan. Baik di tempat wisata, perempatan atau
dipinggir jalan kayak difasilitasi walau sederhana berupa kursi 4, meja, dan
kartu. </p>



<p><strong>Tantangan Muslim Di China </strong></p>



<p>Tantangan terbesar sebagai seorang &nbsp;muslim minoritas di negeri Sakura ini adalah &nbsp;ketaatan pada aturan agama . Jika dikampus ku
sih tak begitu parah pertentangannya terhadap islam. Yaa masih pahamlah kalau kita
ada sebuah kewajiban agama dan ada toleransi melakukan ibadah terlebih sholat jum&#8217;at
yang hanya se minggu sekali. &nbsp;</p>



<p>Berbeda dengan salah satu sahabat indonesia lainnya yang
mengambil universitas di daerah Nanjing sekitar 2 jam lebih perjalanannya
menggunakan kereta. Ketika mau izin meninggalkan kelas dengan alasan ingin
melakukan sholat jum&#8217;at, di tolak mentah-metah. <em>Xue sheng : Dui bu qi, wo
yao li bai yi xia, ke yi ma ?</em> ( Murid : Maaf, saya mau ibadah dulu, bolehkah.?
) <em>Lao shi : Ni men zai zher yao xuexi, bu shi yao li bai.</em> (Dosen :
Kalian datang kesini itu untuk belajar, bukan ibadah) </p>



<p>Krikkk&#8230;.kriikkk&#8230;..suasana kelas menjadi hening&#8230; Selain
tantangan dari pihak kampus, ada tantangan yang lain dalam hal makanan. Di
sini, babi dan&nbsp; minuman beralkohol itu dijual
bebas. Sehingga bagi yang muslim agak kesulitan untuk memperoleh makanan halal.
&nbsp;Untuk melakukan sholat berjamaah khususnya
sholat jum&#8217;atan sangat berbeda kondisinya dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia,
hampir setiap RW ada satu mushola atau masjid (walau tak semua tempat begitu
tapi mayoritas). </p>



<p>Di sini, satu kota biasanya hanya ada satu masjid yang berada
di tengah kota. Itu pun hanya digunakan ketika sholat jum&#8217;at. Masjid ini
merupakan satu-satunya masjid (setahu saya) yang ada di kota Wuxi, Jiangsu,
China. </p>



<p>Tempat dimana berkumpulnya umat muslim untuk sholat berjamaah.
&nbsp;Bila bulan Ramadhan tiba, diskriminasi dan
pelarangan menjalankan ibadah puasa maupun sholat tarawih akan dilakukan pihak pemerintah.
Secara adminitratif dipersulit seperti jika mau sholat tarawih harus mendaftar
kepada pihak pemerintah untuk mendapatkan kartu identitas melakukan ibadah. &nbsp;</p>



<p>Selain itu, ada kebijakan memberikan makanan kepada semua
pekerja jika memang seorang muslim tersebut bekerja di pabrik ataupun lembaga
pemerintah, dan diharuskan memakannya atau tidak pemotongan gaji. Sama halnya
dengan anakanak sekolah dasar atau menengah, pemerintah melarang menjalankan
ibadah puasa dengan dalih menjaga kesehatan&nbsp;
padahal hanya akal-akalan saja. Pesan saya untuk driser, “gantungkan cita-cita
yang tinggi dan bersemangatlah dalam mengejarnya walau harus keluar negeri
sekalipun. Tujuannya, bukan sekedar bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga bermanfaat
bagi umat islam dan dakwah.” </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cerita-dari-china-dui-bu-qi-wo-yao-li-bai-yi-xia-ke-yi-ma/">CERITA DARI CHINA : dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/cerita-dari-china-dui-bu-qi-wo-yao-li-bai-yi-xia-ke-yi-ma/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4290</post-id>	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Wajah Plastik&#8217; Orang Korea</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/wajah-plastik-orang-korea/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/wajah-plastik-orang-korea/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Oct 2019 22:09:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4066</guid>

					<description><![CDATA[<p>tak terasa sudah memasuki tahun keempat kehadiranku dan keluargakecilku di Korea Selatan Aku menemani suamiku yang melanjutkan studi doctoral (S3) di kota Busan, sebuah kota metropolitan yang letaknya sekitar 5 jam dari Ibukota Seoul. Meski jarak Busan &#8211; Seoul cukup jauh tetapi kebudayaan dan gaya hidup penduduk Busan tidak jauh berbeda dengan penduduk Seoul. Bisa &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/wajah-plastik-orang-korea/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">&#8216;Wajah Plastik&#8217; Orang Korea</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/wajah-plastik-orang-korea/">&#8216;Wajah Plastik&#8217; Orang Korea</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>tak terasa sudah memasuki tahun keempat kehadiranku dan keluargakecilku di Korea Selatan Aku menemani suamiku yang melanjutkan studi doctoral (S3) di kota Busan, sebuah kota metropolitan yang letaknya sekitar 5 jam dari Ibukota Seoul.</p>
<p>Meski jarak Busan &#8211; Seoul cukup jauh tetapi kebudayaan dan gaya hidup penduduk Busan tidak jauh berbeda dengan penduduk Seoul. Bisa dibilang kalau negara Korea Selatan adalah negara yang paling homogen setelah Korea Utara. Para penduduknya memiliki karakter yang khas yaitu mereka tidak ingin tampil berbeda dengan orang lain.</p>
<p>Pokoknya orang selalu ingin sama dengan orang lain. Ketika media Korea Selatan memuji artis Jang Geun Seok sebagai pria terganteng dan artis Kim Hyo Jin sebagai artis tercantik maka semua orang berbondong datang ke klinik kecantikan untuk mengubah wajahnya seperti dua artis tersebut. Wajar jika wajah orang Korea Selatan bisa dibilang “mirip semua” &#8216;cetakan wajah&#8217; yang ada di klinik operasi sama dengan artis-artis idolanya.</p>
<p>Kebanyakan orang Korea Selatan memandang bahwa operasi plastik itu sahsah saja. Mereka sudah tidak segan-segan  lagi melakukan operasi plastik untuk  mengubah dan menyempurnakan bentuk  tubuhnya sesuai keinginan hatinya. Klinik operasi plastik menjamur dimana-mana.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4067" src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalahdrise.com-wajah-plastik-orang-korea.jpg?resize=660%2C247" alt="" width="660" height="247" srcset="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalahdrise.com-wajah-plastik-orang-korea.jpg?w=1030&amp;ssl=1 1030w, https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalahdrise.com-wajah-plastik-orang-korea.jpg?resize=300%2C112&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalahdrise.com-wajah-plastik-orang-korea.jpg?resize=768%2C287&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalahdrise.com-wajah-plastik-orang-korea.jpg?resize=1024%2C383&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2019/10/majalahdrise.com-wajah-plastik-orang-korea.jpg?resize=600%2C224&amp;ssl=1 600w" sizes="(max-width: 660px) 100vw, 660px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Di daerah Gangnam yang terkenal dengan klinik operasi plastik terbaik di Korea, sangat  mudah menemui klinik yang tersebar di daerah itu. Sekitar 500 klinik operasi plastik  yang besar dan kecil ada disana. Kota kecil  dan pedesaan juga tak luput dari keberadaan  klinik operasi plastik. Aku sendiri sempat  kaget ketika pertama kali datang ke Korea  dimana banyak kutemui iklan klinik operasi  plastik yang tersebar di tempat umum, baik di transportasi, iklan layanan masyarakat,  iklan di surat kabar, iklan televisi dan di rumah sakit.</p>
<p>Aku yang selama ini menganggap bahwa operasi plastik adalah sebuah upaya penipuan diri dan tentu saja  berdosa di dalam Islam sangat membenci keberadaan operasi plastik yang ada di kota Busan. Menurut pendapatku, orang yang melalukan operasi plastik sebenarnya memiliki kepribadian yang rapuh, tidak mensyukuri anugrah Allah dan memandang rendah dirinya sendiri.  Operasi plastik di Korea Selatan dianggap sebagai mekanisme survival mereka.</p>
<p>Artinya  seseorang sangat menggantungkan operasi plastik sebagai cara agar mereka bisa tetap bertahan hidup dan eksis di dunia. Seseorang dikatakan bahagia jika dia sudah melakukan operasi plastik dan jika kita berusaha tampil apa adanya saja, maka kita akan tersingkir dari kultur sosial. Miris tapi ini nyata terjadi. Sungguh menyedihkan ketika seorang teman atau kerabat yang kita kenal hanya memandang kebaikan dan kesuksesan hidup dari tampang yang dimiliki. Bisa dikatakan kalau warga Korea sendiri sangat rasis terhadap rasnya sendiri.</p>
<p>Mereka memiliki penilaian subjektif yang tidak bisa ditawar dan dinegosiasikan.  Kabarnya seseorang yang melamar pekerjaan akan menghabiskan uang yang banyak untuk melakukan operasi plastik agar penampilan mereka cantik, langsing dan menarik. Keahlian dan prestasi bukanlah alasan kuat diterimanya mereka di tempat kerja.</p>
<p>Makin cantik dan ganteng, maka dia berpeluang besar untuk diterima. Inilah yang mendorong para orang tua untuk memberikan hadiah operasi plastik saat anaknya libur panjang sekolah, dimana mereka bisa menjalani operasi plastik dan pemulihannya selama liburan.</p>
<p>Saat anakanak lulus SMA, orang tua juga segera  mengantar anaknya pergi ke klinik kecantikan  untuk mengubah penampilannya agar lebih  menarik.</p>
<p>Operasi paling dasar yang dilakukan anak-anak SMA adalah membuat lipatan mata agar mata terlihat besar dan kelopak mata terbentuk. Saat melihat anak-anak SMP, aku sering melihat wajah yang masih alami dan bentuk wajah yang masih kotak, dan tubuh yang sedikit gempal.</p>
<p>Namun buatku itu terlihat lebih cantik dan sehat. Ada satu pola pikir yang cukup “menonjol” di Korea Selatan yaitu, sesorang akan memandang orang lain dari penampilan luarnya saja. Pepatah “Don&#8217;t judge a book by its cover ” tidak berlaku disini. Mereka mengaku bisa menilai baik buruk seseorang hanya dengan melihat penampilannya saja.</p>
<p>Ini sangat menarik karena selama ini kita beranggapan kalau kita sulit menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Penampilan luar sangatlah menipu. Seseorang yang sederhana dan tidak cantik bukan berarti dia orang yang buruk akhlaqnya.</p>
<p>Kita sering menilai kalau kecantikan wajah yang tidak dibarengi inner beauty (kecantikan jiwa) maka bukanlah apaapa. Seseorang yang memiliki akhlaq mulia dan perilaku yang baik tentu lebih baik kepribadiannya.  Red: Ikuti Cerita seru &#8216;Berjilbab di Negeri Ginseng&#8217;di edisi berikutnya. Jangan sampai ketinggalan ya!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/wajah-plastik-orang-korea/">&#8216;Wajah Plastik&#8217; Orang Korea</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/wajah-plastik-orang-korea/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4066</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Valentine day di Negeri Fir&#8217;aun</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/valentine-day-di-negeri-firaun/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/valentine-day-di-negeri-firaun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2019 17:56:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3831</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabut dingin tiba-tiba menyelimuti seluruh penjuru langit kairo Bayangkan selama 112 tahun terakhir, Valentine day di Negeri Fir&#8217;aun baru kali ini Mesir diselimuti salju yang turun di beberapa kota, seperti di Nasr City dan pengunungan Sinai. Musim dingin di Mesir dimulai dengan aktivitas sekolah. Jalanan seantero Mesir dihiasi hilir mudik pelajar yang sibuk mencari angkutan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/valentine-day-di-negeri-firaun/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Valentine day di Negeri Fir&#8217;aun</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/valentine-day-di-negeri-firaun/">Valentine day di Negeri Fir&#8217;aun</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kabut dingin tiba-tiba menyelimuti seluruh penjuru langit kairo Bayangkan selama 112 tahun terakhir, <strong>Valentine day di Negeri Fir&#8217;aun</strong> baru kali ini Mesir diselimuti salju yang turun di beberapa kota, seperti di Nasr City dan pengunungan Sinai. </p>



<p>Musim dingin di Mesir dimulai dengan aktivitas sekolah.
Jalanan seantero Mesir dihiasi hilir mudik pelajar yang sibuk mencari angkutan Yap,
sekolah di Mesir memang tidak seperti di Indonesia. Sistem liburannya disesuaikan
dengan musim. Menjelang musim dingin aktivitas sekolah dimulai dan di akhiri
menjelang musim panas. </p>



<p>Pokoknya kalau masalah liburan sekolah, pelajar Mesir bakalan puas merasakan panjangnya harihari tanpa kegiatan sekolah di musim panas.  Tak hanya musim liburannya yang berbeda. Tapi juga pergaulan pelajar di beberapa sekolah seperti terlihat di Kotomiyah, sebuah perkampungan yang jauh dari nuansa hiruk pikuknya perkotaan. Seorang pelajar perempuan dan laki-laki dipisahkan sekolahnya. Jadi gak ada istilahnya bercampur baur antara laki-laki dan perempuan karena sekolahnya disesuaikan dengan jenis kelamin.  </p>



<h2>Valentine day di Negeri Fir&#8217;aun</h2>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul>


<p>Satu hal yang menarik kalo ngomongin sekolahan di mesir
adalah soal seragam sekolah. Di sini pelajar dibebaskan modelnya pakaiannya,
ada yang gak pake krudung, berkrudung tapi pake celana atau rok, ada yang pake
jilbab plus niqobnya asalkan jangan pake rok mini. &nbsp;Berbicara masalah sekolahan rasanya kurang
lengkap kalau gak ngomongin kultur remaja, di Mesir khususnya di Kotomiyah, jarang
banget orang memperlihatkan aurat kakinya ataupun rambutnya. </p>



<p>Tapi pakaiannya ngepress berat, ketat-ketat gitu. Belum
kalau ditambah warna baju yang bikin mata mencolok ngeliatnya, ngejreng banget
seperti merah cabe, kuning, ampe warna hijau tua. &nbsp;Para pelajar jarang terlihat, berkerumun
dengan lain jenis. </p>



<p>Pagi-pagi aktivitas di mulai mereka berjalan menuju sekolahan
sambil tengah asyik berbincangbincang dan mereka adalah 100 % perempuan. Begitu
pun remaja lelaki mereka&nbsp; terhanyut dengan
canda-tawa yang begitu renyah terdengar sesekali jejaka tersebut&nbsp; menendang-dendang kaki seolah-seolah mereka tengah
membicarakan dunia bola. &nbsp;Kalo gitu,
apakah ada remaja yang doyan pacaran? Teteup! Hanya saja sesekali terlihat, itu
pun ngobrol sambil jalan bareng. Masih jaga jarak ceritanya. </p>



<p>Walau tetep aja nggak boleh. Itu keadaan di pedesaan ya. Kalau
di perkotaan, muda-mudi berjamaah pacarannya alias bertebaran apalagi kalau ke tempat
rekreasi mereka pada mojokmojokan. Banyak virus kebarat-baratan yang&nbsp; sedikit demi sedikit diadaptasi oleh kaum&nbsp; muslimin, tak terkecuali remaja muslim di Mesir.&nbsp; Padahal budaya islam di Mesir kentara
sepanjang sendi perkotaan. Misalnya hampir di setiap sudut jalan kita akan
sering bertemu dengan wanita bercadar, morotal Qur&#8217;an membahana, di taksi, bus,
café, lantunan ayat suci. </p>



<p>Orang Mesir terbiasa membawa mushaf Qur&#8217;an dan membacanya disela
waktu senggang. Ramai banget deh. Tapi yah gitu deh itu semuanya cuman jadi budaya.
Nggak otomatis membentuk perilaku islami generai mudanya. Karena kalau kita
lihat tingkah pola anak remaja Mesir ada banyak dari mereka yang terkena virus
Valentine Day. &nbsp;</p>



<p>Untungnya kali ini bertemu dengan seorang remaja yang mau
berbagi cerita seputar kebiasaan Valentine Day remaja Mesir. Sebut saja Asmaa
Essam seorang pelajar SMP yang baru berumur 14 tahun, anak ke tiga dari empat
bersaudara. </p>



<p>Kerennya, Asma sedikit bisa berbahasa Indonesia, karena Asma
mempunyai ketertarikan terhadap Indonesia, mulai dari orang Indonesia yang
katanya baik-baik (*benerin peci*), doi seneng makanan Indonesia dari Risoles
ampe Baso. Berikut petikan obrolannya, </p>



<p><em>“Asma kamu tahu Valentine Day gak.”? “ Iyah aku tahu,
tapi kenapa ukhti tanyakan Valentine Day bukanya haram hukumnya,” </em>Waw
menarik sekali jawaban si Asma, bikin penasaraan ternyata Asma salah satu
remaja Mesir yang anti Valentine Day. <em>“ Oh begitu yah bagaimana dengan
temantemanmu, apakah mereka merayakannya?.”</em></p>



<p><em>&nbsp;“ Mereka (teman-temanya)
banyak yang merayakannya, begitu pula di remaja di Mesir mereka merayakanya.”</em></p>



<p><em>&nbsp;“ Memangnya seperti
apa sih tradisi Valentine Day ala Mesir?” “ Mereka mendapatkan kado spesial,”</em></p>



<p><em>&nbsp;“Seperti apa
bentuk pemberian kadonya?”</em> </p>



<p><em>“ Mereka mendapat kado istimewa seperti Parfum, boneka
Tedy Bears, kue yang aromanya begitu enak, mereka akan menghadiahkannya kepada
orang yang dicintainya, semuanya serba pink dan unggu, atau seikat bunga</em> <em>dan
pakaian. &nbsp;“ Terus kamu kenapa tidak
seperti mereka yang mereyakanya?.”</em></p>



<p><em>&nbsp;“ Karena Islam
melarangnya dan tidak menganjurkannya, apalagi Valentine Day adalah sesuatu
yang datangnya bukan dari Islam, jangan kita mengambil sesuatu yang bukan dari
ajaran Islam, walaupun hanya sekedar beriinovasi namun sesat, dan setiap kesalahan
yang disadari adalah dosa. Rosululloh Saw bersabda </em>&nbsp;</p>



<p><em>“ Subhanalloh Asma, syukron atas ceritanya.”</em></p>



<p><em>&nbsp;“ Asma boleh tahu
cita-cita kamu apa?”</em></p>



<p><em>&nbsp;“ Saya ingin pergi
ke Indonesia, tolong doakan semoga impian saya terkabul.”</em></p>



<p><em>&nbsp;“ Amin.”</em> </p>



<p>Driser, Subhanalloh ya ternyata diantara remaja mesir yang
gaul ada juga sosok Asmaa yang pemikirannya tak terkontaminasi virus barat.
Asmaa mempunyai pendirian yang kuat ditengahtengah budaya barat yang senantiasa
tiasa menggerus identitas kaum muslim khususnya remaja en remaji. Virus hedonis
yang dipasarkan musuh Islam via eurofia&nbsp; perayaan
Valentine Day nggak cuman di negeri si Komo. Di negeri Firáun juga.&nbsp; Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua segala
dosa kemaksiatan. Say NO to&nbsp; Valentine Day![]
</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/valentine-day-di-negeri-firaun/">Valentine day di Negeri Fir&#8217;aun</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/valentine-day-di-negeri-firaun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3831</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hallowen Tahun ini</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/hallowen-tahun-ini/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/hallowen-tahun-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Jul 2019 20:32:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3794</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari itu Kamis 31 Oktober. Jam di dinding menunjukkan waktu sekitar pukul enam petang. Di luar rumah &#160;udara dingin dan lembab khas musim gugur. Kami sekeluarga sedang mengobrol saat pintu depan diketuk. “Ingat, ya,” suami yang bersiap salat Isya&#8217; mengingatkan, “Nggak usah dibuka pintunya.” “Kalo ngintip lewat jendela aja gimana?” tanya saya. &#160;“Nggak boleh!” tegas &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/hallowen-tahun-ini/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Hallowen Tahun ini</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/hallowen-tahun-ini/">Hallowen Tahun ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari itu Kamis 31 Oktober. Jam di dinding menunjukkan waktu
sekitar pukul enam petang. Di luar rumah &nbsp;udara dingin dan lembab khas musim gugur. Kami
sekeluarga sedang mengobrol saat pintu depan diketuk. “Ingat, ya,” suami yang
bersiap salat Isya&#8217; mengingatkan, “Nggak usah dibuka pintunya.” “Kalo ngintip lewat
jendela aja gimana?” tanya saya. &nbsp;“Nggak
boleh!” tegas suami lagi. “Peraturannya, kalau tidak merayakan, tidak boleh
membukakan pintu. </p>



<p>Kalau membukakan pintu, harus ngasih permen.” Satu jam
setelahnya, kami berdua sudah berada di ASDA, toko swalayan terdekat. Berbelanja
kebutuhan pokok. Sebagian pelayan dan pembeli mengenakan kostum vampir atau
drakula berbagai model, berdandan bak setan merah bertanduk dengan garpu
trisula di tangan, bajak laut, dan banyak lagi.Tak lupa make up menyesuaikan kostum.
“Beli <em>pumpkin, </em>ya, Yah?” </p>



<p>saya memasukkan labu ke keranjang belanjaan. Sepanjang
perjalanan pulang, berkalikali kami berpapasan dengan rombongan&nbsp; penyihir perempuan, baik anak-anak, remaja,&nbsp; juga dewasa. Maksudnya perempuan-perempuan &nbsp;berkostum hitam, bertopi tinggi hitam, lengkap
&nbsp;dengan tongkat sihir atau sapu terbang.
Juga &#8216;mayat hidup&#8217; berbusana putih dan make up &#8216;berdarah-darah&#8217;. Kostum hantu,
tengkorak berjalan dan jubah hitam plus topeng <em>ghost face </em>seperti di
film Scream, lebih banyak diminati laki-laki. &nbsp;</p>



<p>Di halaman-halaman rumah, terpasang buah-buah <em>pumpkin</em>
(labu) hias. Labu-labu itu dikeruk isinya, lantas diukir menyerupai wajah hantu
dan dipasangi lilin di dalamnya seperti lampion. Biasa disebut <em>jack-o-lantern</em>.
Anak-anak dan remaja berkostum itu mengetuk pintu-pintu rumah. Bila sang empunya
rumah membukakan pintu, mereka berseru, “TRICK OR TREAT?”. Sesuai tradisi, pemilik
rumah lantas memberikan permenpermen kepada mereka. Menurut Wikipedia, perayaan
Halloween berasal dari festival Samhain (dari bahasa Irlandia Kuno samain) yang
dirayakan bangsa Galia Kelt (Gaels dan Celt) di Eropa untuk merayakan panen. </p>



<p>Orang Galia Kelt yang menyembah berhala dan dewa-dewi menggunakan
kesempatan festival untuk menyembelih hewan ternak dan menimbun makanan untuk
persiapan musim dingin. Mereka percaya bahwa pada 31 Oktober, pembatas dunia
orang mati dan &nbsp;hidup terbuka. Orang&nbsp; mati membahayakan orang hidup dengan membawa
penyakit dan merusak hasil panen. Mereka menyalakan api unggun untuk membakar
tulang-tulang dari hewan yang mereka sembelih dan berpurapura sebagai arwah jahat
untuk berusaha berdamai dengan mereka. Karenanya hingga&nbsp; kini, simbol-simbol Halloween dekat dengan&nbsp; kematian, keajaiban, monster, dan karakter&nbsp; menyeramkan yang sering dikaitkan dengan&nbsp; setan dan iblis dalam kebudayaan Barat.&nbsp; </p>



<p>Misalnya penyihir, kelelawar, burung hantu,&nbsp; burungcgagak, burung bangkai, rumah hantu,&nbsp; kucing hitam, laba-laba, goblin, zombie,&nbsp; mumi, tengkorak, dan manusia serigala. Meski belakangan
karakter film horor klasik seperti drakula atau monster Frankenstein juga&nbsp; banyak dipakai. Sementara labu <em>jack-o-lantern&nbsp; </em>menggambarkan keadaan alam Eropa di musim
gugur. Dari sinimuncul warna hitam&nbsp; dan oranye
yang dianggap sebagai warna&nbsp; tradisional Halloween.
Ketika bangsa Romawi menaklukkan Galia, penganut Kristen berusaha mengubah tradisi
penyembahan berhala ini menjadi bernuansa Kristen. </p>



<p>Paus Gregorius III dan Paus Gregorius IV memindahkan
perayaan All Saints&#8217; Day (Hari Raya Semua Orang Kudus) yang sebelumnya jatuh
pada 13 Mei ke tanggal 1 November. Dari kata All Saints&#8217; Day, lahir kata All
Hallows&#8217; Even (eve/even berarti petang/malam) yang kemudian menjadi Halloween. Melihat
sejarah lahirnya Halloween, rasanya wajar bila muslim tidak ikut merayakannya.
Mbak Dian Neilson, ibu tiga &nbsp;remaja putra
yang tinggal di London, mengemukakan pendapatnya, “Memang amat disayangkan
masih saja ada ibu (muslim) yang ikut-ikut meramaikan Halloween, dengan alasan
sekedar <em>for fun. For fun </em>ini kalau tidak dihentikan menjadi suatu kebiasaan
untuk anak-anak. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak pernah meramaikan acara
beginian dari semenjak saya tinggal di UK (United Kingdom). Kalau mereka ketok pintu
atau pencet-pencet bel, saya tidak pernah bukakan, apalagi sampai memberikan <em>sweet
</em>(permen). </p>



<p>Saya cuekin saja.” Pada dasarnya, Islam telah melarang kaum
muslim merayakan hari perayaan orang kafir, baik musyrik (penyembah berhala) maupun
ahlul kitab (Nasrani/KristendanYahudi). Larangan ini mencakup aktivitas;
mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat
perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Ini
didasarkan pada ayat, <em>“Dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang
mengerjakan perbuatanperbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan
menjaga kehormatan dirinya.”</em>&nbsp; (QS Al
Furqan [25]: 72). </p>



<p>Dari Sahabat Anas RA, ketika Rasulullah SAW datang ke
Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan, beliau pun
bersabda, <em>“Sungguh Allah Swt telah mengganti dua hari itu dengan dua hari
yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fithri.” </em>(HR.
Abu Dawud dan An Nasa&#8217;i dengan sanad yang shahih). Yuk, bangga menjadi muslim.
Di mana pun kita berada.[] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/hallowen-tahun-ini/">Hallowen Tahun ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/hallowen-tahun-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3794</post-id>	</item>
		<item>
		<title>RAMADHAN TAK TERLUPAKAN DI BERLIN</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/ramadhan-tak-terlupakan-di-berlin/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/ramadhan-tak-terlupakan-di-berlin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Mar 2017 07:47:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2404</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211;  masih ingat sahabat drise yang berbagi kisahnya di negeri Panser Jerman, berikut kisahnya yang lain saat Ramadhan tiba di musim panas. Bukan cuma suhu udara yang memanggan, tapi juga lamanya waktu siang. Ketika pertama kali tiba di Jerman (sekitar tahun 2011), aku berpuasa 18 jam (fajar-maghrib) dengan suhu 29°-35°C. Tahun 2012 adalah puncaknya &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/ramadhan-tak-terlupakan-di-berlin/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">RAMADHAN TAK TERLUPAKAN DI BERLIN</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/ramadhan-tak-terlupakan-di-berlin/">RAMADHAN TAK TERLUPAKAN DI BERLIN</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211;  masih ingat sahabat drise yang berbagi kisahnya di negeri Panser Jerman, berikut kisahnya yang lain saat Ramadhan tiba di musim panas. Bukan cuma suhu udara yang memanggan, tapi juga lamanya waktu siang. Ketika pertama kali tiba di Jerman (sekitar tahun 2011), aku berpuasa 18 jam (fajar-maghrib) dengan suhu 29°-35°C. Tahun 2012 adalah puncaknya musim panas di jerman. Jadi masyarakat muslim d Jerman harus berpuasa 19 jam.</p>
<p>Godaan dan penggugur pahala puasa bukan melihat dan membayangkan makanan, tapi melihat (mau tak mau, pasti kelihatan) cewek-cewek perpakaian minim &amp; tipis dimana-mana. Alasannya, pada suhu diatas 27° orang-orang sini sudah merasa panas dan gerah. Apalagi ketika akhirnya mencapai suhu di atas 30°, kontan setengah tubuh mereka telanjang terpampang, baik laki-laki maupun perempuan. Ya, yang laki-laki juga sama saja, mereka memakai celana pendek dengan T-shirt seadanya bahkan tak jarang membuka dada di jalan-jalan.</p>
<p>Dulu pas liburan <em>summer </em>semester di <em>Studienkolleg </em>tepat di bulan Ramadhan, aku mendapat jatah libur hampir 2 bulan. Aku memanfaatkan momen ini untuk <em>nyambi </em>bekerja selaku operasional (DJ) radio masjid Al-Falah Berlin yang telah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu. Tak sekedar tempat ritual ibadah semata, bahkan sejak didirikannya, masjid ini merupakan pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah bagi masyarakat muslim Indonesia Berlin dan sekitarnya. Masjid Al Falah sendiri di bawah naungan <strong>IWKZ e.V</strong>. (<em>Indonesisches Weisheits- &amp; Kulturzentrum artinya pusat pengetahuan dan kebudayaan Indonesia</em>). Ada kebanggan tersendiri sebab radio Al-Falah kala perdana mengudara di Jerman dan dapat didengar seluruh penjuru dunia termasuk di indonesia.</p>
<p>Tugasku selaku DJ yakni memberi prolog sekaligus memandu untuk diteruskan kepada pemateri atau ustadz yang tengah memberi tausiyahnya di mesjid Al-Falah. Setidaknya dalam sehari minimal 2 kali mengudara (sebelum maghrib dan setelah subuh) dengan durasi 2 – 3 jam sekali. Ya Allah, jika tidak teringat aku hanya hamba sahaya yang harus berjibaku menggapai ridha-Mu dalam rentang waktu, pastilah aku tinggalkan semua ini. Hidup bergulir mengukir kisah, dan kisah Ramadhanku di musim ini tak berhenti sampai disitu. Aku lanjut bekerja sebagai <em>cleaning room </em>di hotel bintang 4 terhitung jam 7 pagi hingga jam 16.30 petang bahkan lebih larut. Kerja saat puasa apalagi menahan haus dan lapar selama 18 jam itu rasanya ahhh….. lelahnya.</p>
<p>Ah Tuhanku, bolehkah aku berkeluh kesah? Sebab diri ini hanya setumpuk raga yang diselami jiwa, yang di dadanya berharap <em>lillah </em>di kala lelah. Selepas pulang kerja, pastinya capek, dan tambah <em>ngos-ngosan </em>karena harus melihat pemandangan <em>summer </em>yang &#8216;panas&#8217; di segala tempat seperti stasiun kereta, tram, dan halte yang bertaburan aurat. Begitu sampai rumah (kala itu aku numpang di rumah seorang kawan), aku bergegas mandi agar tidak terlambat ke masjid Al Falah. Sekedar informasi, waktu maghrib di Berlin yakni sekitar 21.30 CET (<em>Central Eropa Time</em>) dan isya jam 22.45 CET. Bayangkan, kalau di Indonesia, jam segitu nyaris menuju tengah malam. Shalat tawarih dan tersisa sekitar 2 jam saja untuk istirahat lalu bergegas bangun sahur 03.00 CET. Ruarrrr biasa!</p>
<p>Dengan jadwal sepadat ini, kadang kala aku mencuri-curi waktu selepas nge-DJ kajian subuh untuk istiharat &#8216;tidur ayam&#8217; sekiranya 1 jam saja. Periode bulan Ramadhan di masjid Al Falah dipenuhi nuansa ibadah. Suasana jauh lebih hidup dari hari biasa. Pengurus masjid Al Falah mengundang ustadz asli Indonesia untuk mengajar dan mengisi kajian Ramadhan. Tokoh yang diundang selalu berbeda setiap tahunnya. Maka diundanglah ustadz Hartanto Saryono pendiri Rumah Tahfidz (rumah tajwid) Indonesia. Disanalah kami diajarkan memperbaiki bacaan yang turun temurun sejak kecil, ternyata masih jauh dari kesempurnaan. Malu rasanya, rupanya bacaanku selama ini banyak yang masih belepotan. Hehe. Pada hari minggu biasanya ada TPA untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di sekitar Berlin (kisaran umu 5-12 tahun).</p>
<p>Tersebab seorang pendidiknya yang harus mudik ke Indonesia, akhirnya tugas mulia itu jatuh ke pundakku yang sebenarnya belum ada apa-apanya dalam perkara agama. Senang, riang dan bernuansa spirit, itulah yang kentara kurasakan. Memoriku berlabuh, teringat pesan orang tua dan upaya mereka menanamkan perkara <em>kalamullah </em>ini. Teringat pula pesan baginda Rasulullah, yakni</p>
<p>“<em>Orang yg paling utama di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an &amp; mengajarkannya. Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”</em></p>
<p><em> </em>Aku merasakan kehangatan <em>ukhuwah islamiah </em>di tempat ini, sesuatu yang dulu tak terbayangkan di benakku. Ramadhan yang begitu berkesan dan semoga hanya kebaikanlah yang datang bersamanya. Momen Idul Fitri saatnya aku kembali pulang ke Dessau (Kota kecil yang terkenal dengan arsitek dan <em>Bauhaus </em>yg didirikan oleh <strong>Walter Gropius </strong>1925-1926).</p>
<p>Di tempat itulah aku melanjutkan misi di <em>Studienkolleg</em>, melanjutkan studi. Perjalanan ini ialah sekumpulan ikhtiar dari seseorang yang bercita-cita tinggi sampai ke akherat. Berharap lebih dari masa yang sebentar, berlatih mandiri memantaskan diri. Dengan elok berusaha berdiri di atas kaki sendiri, bukan hendak mangangkat tinggi dagu ini. <strong>[Seperti yang dikisahkan Muhammad Ikhsan kepada Redaktur/Alga Biru]</strong></p>
<p>Di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 53</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/ramadhan-tak-terlupakan-di-berlin/">RAMADHAN TAK TERLUPAKAN DI BERLIN</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/ramadhan-tak-terlupakan-di-berlin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2404</post-id>	</item>
		<item>
		<title>TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI PANSER</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-panser/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-panser/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2016 06:28:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2241</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Jika ada kemauan, selalu ada pintu yang  membawa kita pada jawaban kehidupan.  Episode hidupku, tidak ada yang mampu  menerkanya, termasuk diriku sendiri. Apa  yang terjadi padaku, ialah episode yang  sepantasnya aku syukuri, sebab tak semua  mungkin mendapat kesempatan ini.  Kala itu, aku hanyalah anak yang baru  saja melepas masa-masa remaja dan  memasuki usia &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-panser/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI PANSER</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-panser/">TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI PANSER</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Jika ada kemauan, selalu ada pintu yang  membawa kita pada jawaban kehidupan.  Episode hidupku, tidak ada yang mampu  menerkanya, termasuk diriku sendiri. Apa  yang terjadi padaku, ialah episode yang  sepantasnya aku syukuri, sebab tak semua  mungkin mendapat kesempatan ini.  Kala itu, aku hanyalah anak yang baru  saja melepas masa-masa remaja dan  memasuki usia dua puluh. Awal mula, aku  terdaftar sebagai mahasiswa UPI Padang,  jurusan teknik informatika. Bahkan, bukan  sekedar terdaftar, aku sudah mengabdi  pada jurusan itu selama 2 semester.</p>
<p>Semua  itu kini hanya tinggal cerita ketika teman  sepupunya banyak cerita, yang ujung-ujungnya menawariku berangkat ke Jerman  untuk studi. Siapa sih yang ngga kenal Jerman  yang terkenal baik dari sisi budaya,  kemajuan IPTEK, dan pendidikannya.  Pikiranku mengawang ke negara yang dulu  dipimpim oleh sang dictator Hitler yang  melegenda. Dalam hatiku, andai aku bisa lanjut kuliah disana ya, mungkin entar deh  pas S2 aja. Masa mau di dalam negeri terus.</p>
<p>Sesekali mahasiswa perlu tantangan keluar  negeri, mencari ilmu ke negeri orang. Aku dan sepupuku ini mendapat  tawaran dari Euro Management yang tau  cara mengurus dokumen serta persyaratan  jika mau kuliah disana. Wah, jiwaku  semakin tertantang dengan potensi disana.  Apalagi sepupuku pun tak kalah  antusiasnya. Akhirnya, orangtuaku  menyuruh berpikir matang-matang  mengenai keputusan penting iini.  Jangan sampai ada penyesalan jika  aku menolaknya, jangan sampai  pula ada keterpaksaan jika harus  melepas apa yang ada.</p>
<p>Entah,  makin hari hatiku terpaut pada  negera eropa itu. Aku pun mantap  pergi ke Jerman, perkuliahan yang  lama aku tinggalkan. Syarat pertama yang harus  aku kantongi tentu saja perihal  bahasa. Hidup di Jerman akan sulit  bahkan terbuang kalau tidak tau  bahasa setempat. Perjalanan ini  aku awali dengan kursus 4 bulan Alhamdulillah sertifikan bahasa Jerman  level B1 berhasil aku kantongi. Sebelum  benar-benar menjadi anak didiknya, Jerman  ingin meyakinkan para pendatang asing  tidak ada kendala bahasa selama  perkuliahan.</p>
<p>Untuk itulah para calon  mahasiswa dibekali (alias diseleksi) di  Studentkolleg maksimal 4 semeester. Jadi,  maksimal duat tahun, harus cas-cis-cus  bahasa orang Jerman seolah-olah anak  kampung halamannya sendiri. Aku pun bergiat dalam ujian pertama  ini, dan Alhamdulillah lulus studentkolleg.  Udara Jerman dengan segar dapat kuhirup.  Hidup di negeri orang harusnya pintar-pintar menempatkan diri. Apalagi Negara  ini terkenal dengan kedisiplinannya dan  tantangan budaya. Beradaptasi tanpa  kehilangan jati diri, bahkan tujuan pelajar  datang kesini pastilan untuk menaikan level  alias kualitas kehidupan. Beraneka rupa nasib para pendatang  asing yang aku lihat. Ada muslimah asal  Indonesia, yang dulunya berjilbab, pas  sampe sini malah dibuka.</p>
<p>Sebaliknya, ada  yang tadinya tampil seksi, begitu hidup  disini malah bertaubat. Ada juga yang  sudah berhijab, tapi genitnya minta ampun.  Hehe. Itulah kehidupan, setiap pilihan pasti  mengandung konsekuensi, makin  menunjukkan,siapa dirimu sebenarnya. Di  musim kemarin, Amerika Serikat telah  mengesahkan pernikahan sesame jenis,  dan tidak lagi memasukkan LGBT sebagai  “kelainan”. Adalah pemandangan biasa aku  melihat pasangan lesbi dan homo  bermesraan di tempat umum. Risih? Pasti.  Astaghfirullah… Ada satu kejadian lucu dan  memalukan yang sampai sekarang masih terekam dalam ingatan.</p>
<p>Kala itu di  siang hari menjelang tengah hari  di hari jumat. Mesjid berada di  tengah kota dan harus melewati  pusat perbelanjaan, yang artinya  padat banget. Karena terburu-buru, aku lewati saja trotoar lebar  yang tampak lengang. Sebagian  orang ada juga yang lewat di  trotar itu, aku merasa tak masalah  di awalnya. Jerman oh Jerman,  tetap saja kedisiplinan umum  harus diterapkan. Walhasil, bukannya  sampai dengan cepat di tujuan, aku malah  kena tilang.</p>
<p>Apalagi polisinya perempuan,  minta ampun deh, ngomel-ngomel panjang.  Lumayan, uang denda sebessar 15 Euro  melayang. Masih banyak cerita seru dan juga  haru di tempat ini. Jerman memberiku  banyak warna, tinggal aku yang memilih  warna macam apa yang akan kujalani.  Apakah kepada jalan kebaikan, ataukah  sebaliknya. “Berdiri di atas kaki sendiri,  berjalan dengan pedoman”, begitulah  motto hidupku menjalani segalanya.  [Seperti yang dituturkan Ikhsan kepada  redaktur/Alga Biru]</p>
<p>Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-panser/">TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI PANSER</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-panser/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2241</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
