<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Epik Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/category/epik-majalah-remaja-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Jun 2020 04:02:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Heka Episode 07 : Anak yang Retak</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2020 04:02:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4589</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belum pernah terjadi, Thebes didatangi oleh &#160;para Hekau sebanyak itu. Alis Bakhoum mengernyit saat menyaksikan apa yang &#160;ada di hadapannya. Dia dan rombongannya tiba juga di Thebes, ibukota negeri Mesir, tepat tiga hari sebelum Hari Raya Sed. Dia terpana dengan para Hekau yang berkeliaran di jalan-jalan. Ada yang membawa ular berbisa; ada yang mengalungkan daun &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Heka Episode 07 : Anak yang Retak</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/">Heka Episode 07 : Anak yang Retak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belum pernah terjadi, Thebes didatangi oleh &nbsp;para Hekau sebanyak itu. Alis Bakhoum mengernyit saat menyaksikan apa yang &nbsp;ada di hadapannya. Dia dan rombongannya tiba juga di Thebes, ibukota negeri Mesir, tepat tiga hari sebelum Hari Raya Sed. Dia terpana dengan para Hekau yang berkeliaran di jalan-jalan.</p>



<p>Ada yang membawa ular berbisa; ada yang mengalungkan daun telinga di lehernya; ada juga yang berkulit hitam legam tetapi bersarung sutra putih; Ada juga yang lehernya panjang dan kurus, tetapi leher ringkih itu digelantungi banyak sekali kalung manik-manik. Bermacam ragam penampilan para Hekau itu. Setiap Hekau yang melihat rombongan Bakhoum melintas, maka mereka akan berlutut dengan penuh pemujaan.</p>



<p>Mereka paham seberapa mulianya derajat Hekau yang ada di hadapan mereka, walaupun hampir semuanya belum pernah melihat Bakhoum sebelumnya. Entah bagaimana caranya, seorang Menkheperesseneb pasti akan langsung dikenali seorang Hekau, walau mereka belum pernah bertemu. Maka, pada hari itu, jalan-jalan di Thebes dipenuhi oleh para Hekau dari penjuru Mesir, dan di jalan-jalan yang dilintasi oleh rombongan Bakhoum, para ahli sihir itu berlutut di pinggirpinggir jalan.</p>



<p>Haman terheran saat memerhatikan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Sedari tadi tatapan matanya menyapu orang-orang yang sedang bersujud di tepian jalan itu. Sesekali dia melirik kepada Bakhoum yang tetap gagah dan menatap lurus ke depan, seolah orang-orang yang bersujud itu tak ada saja. Kenyataan ini lagi-lagi mendorong Haman untuk melemparkan pertanyaan yang sebenarnya masih banyak bersemayam di batinnya.</p>



<p>“Yang Mulia, ada beberapa hal yang &nbsp;hendak aku tanyakan.” Bakhoum hanya mengangguk sambil &nbsp;tetap menatap ke depan. “Jika Yang Mulia berkenan menceritakan, &nbsp;apakah alasan Yang Mulia pergi dari Thebes sepuluh tahun yang lalu?” Tentu saja Bakhoum tidak langsung menjawab. Dia tetap membatu dengan tatapan kosong ke depan.</p>



<p>Haman menjadi ragu, apakah tadi Bakhoum mendengar kata-katanya? Tetapi Haman tetap diam. Dia tidak mengulangi pertanyaannya. Jika dia mendapatkan jawaban, maka mujur baginya. Jika dia tidak mendapat jawaban apa-apa, tidak ada ruginya. Satu hal yang cukup sering disaksikan Haman adalah Bakhoum yang selalu diam, seolah membeku.</p>



<p>Kejadian itu berulang berkali-kali, hingga Haman menyadari bahwa sikap itu sudah menjadi bagian dari diri sang Menkheperesseneb. Banyak bergaul dengan setan tentunya akan mempengaruhi kondisi jiwa dan raga, itulan konsekuensi yang harus diterima seluruh Hekau. Perlahan kembali Bakhoum menoleh kepada Haman yang berkuda di sisinya. Dia selalu begitu ketika dia hendak bicara kepada Haman. “Aku dan Ramesses berbeda pendapat.”</p>



<p>&nbsp;“Maaf, Yang Mulia, berbeda pendapat?” Alis Haman mengernyit. Bakhoum mengangguk pelan. “Kami berbeda pendapat dan aku tidak bisa menerimanya.” “Kalau boleh tahu, berbeda pendapat tentang apa, Yang Mulia?” “Ramesses tidak mau mendengar katakataku tentang Asiyah.” Haman tertunduk sambil membelalak.</p>



<p>Dia tidak tahu sama sekali tentang apa alasan perginya Menkheperesseneb sepuluh tahun yang lalu. Bahkan semua orang pun tidak tahu, sebab tiba-tiba saja peristiwa itu terjadi dan alasannya hanya diketahui Ramesses. Dan sekarang, dia akan mendapatkan sebuah kehormatan besar untuk menjadi orang pertama, dari semua orang di Mesir, yang akan mengetahui alasan sebenarnya tentang menghilangnya Menkheperesseneb.</p>



<p>Bakhoum melanjutkan. “Berkali-kali sudah aku katakan padanya, Asiyah akan jadi bencana pada pemerintahan dan kekuasaannya. Tapi Ramesses tidak mau mendengar. Dia tergila-gila pada Asiyah, padahal putra Anubis berbisik bahwa Asiyah akan menyemaikan kekacauan.” “Dan ramalan itu benar-benar terjadi, Yang Mulia,” kata Haman sambil menerawang.</p>



<p>&nbsp;“Asiyahlah yang menemukan bayi itu di dalam sebuah peti di Sungai Nil, dan Asiyah pulalah yang membujuk Yang Mulia Fir&#8217;aun untuk memelihara bayi itu karena sudah sedemikian lama mereka tidak dikaruniai anak. Bayi itu pun tumbuh besar, dan sekarang dia datang hendak mengacaukan segalanya. Dialah Musa.”</p>



<p>“Sekarang aku yang diperintahkan untuk membereskan semua kekacauan ini?! Dari dulu Ramesses memang begitu, selalu aku yang tertimpa masalah karena dia.” Naik-turun pelan tubuh Bakhoum dibuaikan angin pagi. Punggung kuda yang kokoh menopangnya di atas pelana, jajaran orang-orang yang bersujud kepada Bakhoum masih sangat panjang. “Aku pun memberi peringatan kepada Ramesses tentang bayi itu,” kata Bakhoum.</p>



<p>&nbsp;“Tetapi, lagi-lagi, dia tidak mau mendengarnya. Dia seperti binatang ternak yang sedang dibawa ke tukang jagal, dan Asiyah yang menuntunnya kepada kematiannya. Lalu apa gunanya kehadiranku kalau kata-kataku tidak didengar?” Haman mengangguk pelan dan mengembuskan napas perlahan. Dia merasakan keprihatinan yang dalam. Orang-orang masih saja berjajar dalam sujud kepada Menkheperesseneb.</p>



<p>000</p>



<p>Istana Fir&#8217;aun di Thebes terangbenderang. Ratusan lilin dan obor mengusir kegelapan di sana dan menguarkan keagungan.&nbsp; Dinding-dindingnya yang kokoh dengan emas dan pualam menyempurnakan kemegahan&nbsp; seorang Fir&#8217;aun, Ramesses. Dia duduk di tas singgasananya yang mentereng di ruang &nbsp;singgasana luas.</p>



<p>&nbsp;Pada sisi kanan dan kiri singgasana itu ada budak-budak yang memegang kipas-kipas besar, mengembuskan hawa sejuk kepada Ramesses. Kipas-kipas itu bergagang panjang, terbuat dari bulu-bulu burung merak. Ramesses bertopang dagu pada lengan kursi singgasana. Memang benar bahwa dia bisa duduk dengan nyaman di sana, tetapi kenyamanan kursi singgasana itu tidak bisa menyamankan hatinya yang bergemuruh.</p>



<p>Seluruh bagian kursi singgasana itu terbuat dari emas. Besar dan megah, yang dipercantik dengan kristal-kristal dan batu berlian. Bungabunga yang indah menghias setiap sisinya, dan bunga-bunga itu diganti setiap hari oleh para&nbsp; pelayan istana.</p>



<p>&nbsp;Tetapi, sekali lagi, kemewahan itu tidak bisa menyelamatkannya dari segala kekhawatiran. Ramesses tetap bertopang dagu dalam diam. Matanya menatap kosong ke kejauhan, kepada sesuatu yang tidak kelihatan, masa depan.</p>



<p>Dia bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi setelah malam pertaruhannya dengan Musa? Dialah yang menantang Musa untuk beradu ilmu Heka, dan dia tidak bisa lari darinya. Dia mengetahui bahwa ibukotanya telah dipenuhi oleh para Hekau, tetapi tetap saja hatinya waswas. Sebuah kesadaran hinggap dalam hatinya bahwa Musa bukanlah orang sembarangan. Dalam diam itu pulalah Ramesses memperhitungkan berbagai kemungkinan.</p>



<p>Kalau ribuan penyihir yang dipanggilnya ke Thebes itu bisa mengalahkan Musa, berarti tak ada masalah. Ramesses tidak pernah peduli bagaimana caranya memenangkan sesuatu, apakah adil atau tidak adil, dia tidak pernah pertimbangkan hal itu. Yang penting dia menang. Yang jadi masalah adalah, bagaimana jadinya kalau ternyata dia kalah? Sudah pasti kemuliaannya akan hancur, dan kekalahan itu akan membuat semua orang melihat bahwa kekuatan dan kekuasaannya tak ada apa-apanya, sebab Musa seorang diri saja sanggup mengalahkannya.</p>



<p>Dan kenyataan bahwa dia akan kalah itulah yang membuatnya duduk dalam gundah di singgasananya yang mentereng. Tiba-tiba lamunan Ramesses terpecah karena seorang prajurit datang menghadap sambil bersujud kepadanya. “Yang Mulia, rombongan Haman telah datang, dan Menkheperesseneb ada bersamanya.” “Kalau begitu cepatlah bawa mereka menghadapku.”[]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/">Heka Episode 07 : Anak yang Retak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4589</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Heka Eps 06</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-06/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-06/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 May 2020 06:26:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4539</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Dia utusan!” Seolah dilahirkan oleh malam, sosok &#160;hitam itu berdiri di hadapan semua orang dengan pongah. Tak ada siapa pun yang mengenalnya, kecuali Menkheperesseneb. Rasa heran bersemayam di dalam hati, namun mulut tetap terkunci ketika peristiwa yang mistis itu terjadi: Bakhoum berhadapan dengan sosok bertudung dan berjubah hitam itu, yang kehadirannya samar-samar di tengah kegelapan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-06/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Heka Eps 06</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-06/">Heka Eps 06</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>“Dia utusan!” Seolah dilahirkan oleh malam, sosok &nbsp;hitam itu berdiri di hadapan semua orang dengan pongah. Tak ada siapa pun yang mengenalnya, kecuali Menkheperesseneb. Rasa heran bersemayam di dalam hati, namun mulut tetap terkunci ketika peristiwa yang mistis itu terjadi: Bakhoum berhadapan dengan sosok bertudung dan berjubah hitam itu, yang kehadirannya samar-samar di tengah kegelapan malam.</p>



<p>Dan seolah sudah saling mengenal, mereka membicarakan sesuatu yang tiada dimengerti seorang pun. Bakhoum mengernyitkan alisnya yang tebal, yang hampir bersambung di atas hidungnya. Hal terakhir yang disampaikan si Hitam itu tidak dia mengerti. “Utusan? Utusan siapa?” “Utusan dari Dia yang memiliki &nbsp;kekuatan amat besar, dan kau takkan sanggup menandinginya.”</p>



<p>Bakhoum terkekeh. “Kita tidak akan tahu kalau belum dicoba.” “Jangan main-main dengan Musa. Kalau kau menghadapinya, maka kehancuran bukan hanya milikmu, tetapi juga aku, dan kita semua.”</p>



<p>“Menyingkirlah!” Tatapan tajam Bakhoum seolah menembus jubah hitam itu. “Aku berlepas diri darimu, Menkheperesseneb!” <em>Ankh Dalam Heka</em> Mundurlah si Hitam, selangkah demi selangkah, semua orang memerhatikan gerakannya. Tak lama kemudian kegelapan malam mengelilinginya lalu dia tak kelihatan lagi. Bakhoum berbalik perlahan menuju kudanya, mendaki pelana dan duduk di atas punggung kuda.</p>



<p>Dia menoleh kepada Haman yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Kita akan berbelok sebentar di Hierakonpolis,” kata Bakhoum. “Untuk apa, Yang Mulia,” sahut Haman agak gugup. “Kita harus segera tiba di Thebes sebelum Hari Raya Sed. Singgah di Hierakonpolis akan menunda kita cukup lama.” “Aku harus menjemput seseorang, dan hal ini pun berhubungan erat dengan kemenangan kita melawan Musa. Jika kita mempercepat langkah kita, maka kita tidak akan terlambat! Aku yakin itu.”</p>



<p>Haman tak bisa bicara apa-apa lagi jika Menkheperesseneb sudah memutuskan sesuatu. Dia menoleh ke belakang, kepada seluruh pasukannya yang menunggu dengan jantung berdegup kencang setelah terjadinya peristiwa misterius tadi. Diayunkannya tangan kanannya untuk memerintahkan mereka segera bergerak. Rombongan pun melanjutkan perjalanan, walau malam semakin kelam.</p>



<p>“Mohon ampun, Yang Mulia, siapakah orang berpakaian hitam tadi?” Dengan berat, akhirnya Haman bertanya juga. Pandangan Bakhoum tetap terarah ke depan, sementara tubuhnya naik-turun seiring gerakan hewan tunggangannya. “Putra Anubis,” sahutnya pendek.</p>



<p>000</p>



<p>&nbsp;“Mohon ampun, Yang Mulia, apakah tujuan kita sebenarnya ke Hierakonpolis?”</p>



<p>Haman terlihat segan dan gugup setiap kali mengajukan pertanyaan kepada Bakhoum. Seakan dia takut bahwa pertanyaan itu akan menyinggung sang Menkheperesseneb, dan kalau hal itu sudah terjadi, dikutuklah dia menjadi kodok atau kutu. “Kita akan menemui seseorang,” kata Bakhoum, seperti biasa, tatapan matanya tetap lurus ke depan, sementara kedua tangannya menggenggam tali kekang kuda.</p>



<p>Dia memang benar-benar jarang bicara. Jika tidak ada yang bertanya lebih dulu, maka dia tidak akan bicara seharian. Memang menyebalkan sekali dekat-dekat dengan orang seperti ini. Tetapi itulah yang dirasakan Haman. Mau tak mau, dia harus selalu menyertai di sekitar Bakhoum, dan sikap Bakhoum yang kaku dan diam benar-benar menyiksanya.</p>



<p>Di sisi lain, dia harus benar-benar hati-hati jika hendak mengajukan pertanyaan. “Siapakah orang yang hendak kita temui ini, Yang Mulia?” Tanya Haman lagi. Bakhoum tak langsung menjawabnya, tatapannya tetap lurus ke depan dan matanya tidak berkedip. Haman melirik ke wajah Bakhoum, dan berbagai dugaan berseliweran di hatinya.</p>



<p>Dia merasa bahwa sang Menkheperesseneb sedang berada dalam keadaan <em>trans</em> karena tubuhnya diam dan kaku. “Yang Mulia&#8230;!” Panggil Haman. “Yang Mulia!” Tiba-tiba Bakhoum menoleh kepada Haman. “Kita akan ke tempat Tuthre Hasse.” “Siapakah dia, Yang Mulia?” Rasa ingin tahu di hati Haman memang besar.</p>



<p>“Dia Menkheperesseneb sebelum aku.” Ada rasa terkejut yang sunyi di hati Haman saat mendapati kata-kata Bakhoum barusan. Di dunia ini hanya boleh ada satu orang saja Menkheperesseneb, tidak boleh ada dua orang. Setiap Menkheperesseneb mesti mengangkat seorang murid dan harus benar-benar mengajarinya Heka, untuk pada akhirnya mereka berdua akan mengadu kemampuan Heka dan si murid &nbsp;harus mengalahkan gurunya.</p>



<p>Dan taruhannya adalah nyawa. “Berarti Menkheperesseneb yang sebelumnya belum mati, Yang Mulia?” “Aku mengasihaninya,” sahut Bakhoum. “Aku tahu dia berjasa besar dalam hidupku, dan kemampuannya cukup hebat, dan aku tahu suatu saat dia pasti ada gunanya. Seperti sekarang ini!” “Berarti kita menemuinya untuk memintanya bertempur bersama melawan Musa?” “Itulah rencananya.”</p>



<p>“Apakah Musa sehebat itu, hingga &nbsp;harus dihadapi oleh dua orang Menkheperesseneb?” “Sudah kubilang ini untuk jaga-jaga. Lebih baik kita benar-benar mempersiapkan diri daripada bertemu dengan kehancuran kita.” “Itu jugalah yang dikatakan oleh orang berbaju hitam malam lalu,” ada serat ketakutan di dalam suara Haman.</p>



<p>&nbsp;“Dia memperingatkan kita akan bahaya Musa.” “Tidak ada Hekau yang lebih kuat dari aku di negeri Mesir ini,” mendeliklah Bakhoum kepada Haman. “Jangan kau ragukan itu! Orang-orang yang ragu akan mendapatkan ganjarannya.”</p>



<p>&nbsp;“Ampuni aku, Yang Mulia!” Haman menunduk ketakutan. 000 Malam kembali meremang ketika rombongan prajurit Mesir itu berada di hadapan sebuah gubug di Hierakonpolis. Seluruh prajurit mengepung gubug itu, sementara Haman dan Bakhoum berdiri tegak di depan pintunya yang sederhana.</p>



<p>Pintu-pintu perlahan-lahan membuka dan menyembullah kepala seorang lelaki tua dari sela-selanya. Lelaki tua itu melangkah keluar dan berdiri dengan gagah, walaupun bungkuk, di hadapan para pria yang tegap itu. Kepalanya botak dan keriput, dan keriput di wajahnya tak kalah dalamnya. Alis, kumis, dan janggutnya sudah memutih semua, dan dia terlihat ringkih sekali.</p>



<p>Namun raut wajahnya sangat angkuh, seolah menyatakan kepada semua agar jangan sembarangan terhadapnya. “Kalian semua jangan mengasihani orang tua ini,” kata Bakhoum tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah lelaki tua itu.</p>



<p>“Dia tidak selemah kelihatannya. Dia adalah ular berbisa yang licik dan penuh muslihat. Sudah banyak orang yang mati di bawah mantranya.” “Apa yang kau inginkan, Bakhoum?” Lelaki tua itu akhirnya buka suara. “Tentu saja aku datang untuk sesuatu yang amat kau sukai, Tuthre,” sahut Bakhoum.</p>



<p>“Kau sendiri tahu, aku sudah pensiun,” Tuthre menggeleng pelan. “Selama dia masih hidup, tak ada kata pensiun bagi Menkheperesseneb.” “Aku tidak pernah lagi melakukan Heka.” “Jangan berdusta padaku.” Hubungan guru dan murid itu &nbsp;sepertinya tidak akur. Haman bergantian menatap Bakhoum dan Tuthre yang saling melemparkan perkataan.</p>



<p>Para prajurit tetap siaga di sekeliling mereka. “Kau harus ikut aku ke Thebes,” kata Bakhoum dengan angkuh. “Karena kita harus menghadapi seorang Hekau bernama Musa.” “Apa yang disampaikan putra Anubis padamu?” Seru Tuthre.</p>



<p>“Dia memberiku peringatan.” “Apa yang dia katakan?” Ulang &nbsp;Tuthre. “Dia memperingatkan aku tentang &nbsp;Musa.”</p>



<p>“Apa yang dia bilang tentang Musa?” “Musa bukanlah Hekau, tetapi &nbsp;utusan.” “Kalau putra Anubis berkata begitu, &nbsp;seharusnya jangan kauabaikan.” Bakhoum menggeleng pelan. &nbsp;“Pembicaraan ini harus dihentikan. Kau harus ikut denganku, dan kita akan beradu ilmu Heka dengan Musa.” “Kau dengar sendiri bahwa dia bukan Hekau. Dia adalah utusan.”</p>



<p>&nbsp;“Aku tidak peduli. Yang kutahu, dia memakai Heka ular dan cahaya.” Tuthre tua terkekeh, dan seolah seluruh tubuhnya yang ringkih akan runtuh karena kekehnya itu. “Ternyata ilmumu memang belum ada apa-apanya, Bakhoum. Ternyata kau belum paham apa yang disampaikan putra Anubis.”</p>



<p>&nbsp;“Aku tidak butuh hal itu! Yang &nbsp;kutahu, kau harus ikut denganku ke Thebes dan kita akan melawan Musa.” Tuhre terkekeh lagi.</p>



<p>&nbsp;“Percayalah, aku akan ikut denganmu. Tetapi dengarlah katakataku, sebagaimana kau mendengarkannya dulu saat masih berguru kepadaku.” Kesunyian yang menyusul kemudian membuat semua orang menunggu. Bahkan Bakhoum pun menatap tajam kepada Hekau tua itu dan memerhatikan.</p>



<p>“Ketahuilah ini, jika memang orang yang kausebut itu adalah utusan, maka tidak ada hekau yang bisa mengalahkan utusan. Aku memang belum pernah bertemu dengan seorang utusan, tetapi cukuplah aku percaya apa yang pernah dikatakan putra Anubis. Dia pernah berkata hal yang sama padaku, sekali.”</p>



<p>Kalimat terakhir Tuthre mengingatkan Bakhoum pada cerita Haman. Pada malam yang lalu, Haman berkata bahwa Musa melakukan segalanya itu tanpa merapalkan mantra sedikit pun. Bibirnya tidak terlihat komat-kamit, padahal semua Heka haruslah merapalkan mantra. Tuthre melanjutkan. “Kau selalu tidak sudi mempelajari sejarah, Bakhoum.</p>



<p>Kau malas belajar sejarah. Padahal untuk menjadi Hekau terkuat haruslah menggandeng sejarah. Sejarah amat penting agar kau bisa menggunakan Heka dengan tepat, agar kautahu siapa musuhmu dan tahu bagaimana cara mengalahkannya. Tetapi kau malas belajar sejarah, sehingga kau tak tahu apa-apa tentang para utusan.</p>



<p>Kau takkan pernah bisa mengukur seberapa dalam kekuatan para utusan, sebab mereka bukanlah Hekau. Keberadaan para utusan memang tidak banyak disebut di dalam kitab-kitab Heka, tetapi mereka ada. Dan kita tidak boleh mengabaikannya. Aku bersedia ikut denganmu, lebih karena rasa penasaranku tentang seperti apakah seorang utusan itu. Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bawalah aku!”</p>



<p> “Kau akan melihatnya, orang tua, siapakah yang terkuat, aku ataukah Musa!” Bakhoum menatap tajam Menkheperesseneb tua itu.[]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-06/">Heka Eps 06</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-06/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4539</post-id>	</item>
		<item>
		<title>HEKA Eps 05</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-05/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-05/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2020 06:19:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4483</guid>

					<description><![CDATA[<p>Derap kaki kuda didekap selimut &#160;malam. Hanyalah malam, malam yang kelam. Kesuramannya tak &#160;tertandingi, dan Heka membuatnya lebih muram lagi. Sebuah perjalanan yang mistis ditempuh oleh prajurit Mesir, bersama Hekau terkuat, Menkheperesseneb, Bakhoum Fanoush. Haman memberi Bakhoum seekor kuda, dan di jajaran terdepan, tubuhnya naikturun pelan seiring dengan gerak punggung kuda. Haman dan Bakhoum berkuda &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-05/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">HEKA Eps 05</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-05/">HEKA Eps 05</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Derap kaki kuda didekap selimut &nbsp;malam. Hanyalah malam, malam yang kelam.
Kesuramannya tak &nbsp;tertandingi, dan Heka
membuatnya lebih muram lagi. Sebuah perjalanan yang mistis ditempuh oleh
prajurit Mesir, bersama Hekau terkuat, Menkheperesseneb, Bakhoum Fanoush. Haman
memberi Bakhoum seekor kuda, dan di jajaran terdepan, tubuhnya naikturun pelan
seiring dengan gerak punggung kuda. </p>



<p>Haman dan Bakhoum berkuda bersisian, di belakang mereka berbaris
panjang prajurit Mesir yang gagah perkasa. Malam yang dingin membalut bumi Mesir,
semilir angin membuatnya lebih memilukan lagi. Haman mengenakan sehelai mantel
bulu yang tebal dan hangat, yang menjadi lambang kesenjangan antara dia dengan
prajuritnya. </p>



<p>Mantel bulu yang menggelorakan racun iri-dengki di hati prajuritnya,
sebab di tengah malam yang dingin itu mereka bertelanjang dada. Yang mereka
kenakan hanyalah sehelai sarung putih yang panjang hingga ke lutut, yang diikat
sabuk khas prajurit Mesir. </p>



<p>Walaupun mereka memiliki otot yang tebal, dada yang bidang,
dan semangat membara, tetapi kalau terus-menerus dihantam hawa dinginnya malam
dengan bertelanjang dada, prajurit perkasa mana yang akan tahan? Menkheperesseneb
tetap diam, sediam malam. Sejak perjalanan itu dimulai, dia tidak mengeluarkan
sepatah kata pun. </p>



<p>Dia hanya menatap ke depan, dan hanyalah kedipan pelan
kelopak matanya yang menandakan bahwa dia masih di sana. Sikap diam Bakhoum
membuat Haman merasa canggung. Sekali-sekali Haman melirik kepada Bakhoum, dan
senyapnya malam membuatnya bisa mendengar embusan napas Bakhoum yang pelan. Ada
sejuta pertanyaan di benaknya tentang Menkheperesseneb itu, dan sedari tadi pertanyaan-pertanyaan
itu menggedor-gedor sanubarinya. Tiap waktu berlalu, dirinya makin tak kuat
menahan gelora, dia hendak bertanya. “Yang Mulia, udara malam sangat dingin,
silakan Yang Mulia mengenakan mantel bulu ini,” kata Haman. </p>



<p>Menawarkan mantel dirasanya menjadi awal yang baik untuk
membuka pembicaraan. Bakhoum tetap diam. Matanya tetap menatap ke depan, seolah
sama sekali tidak mendengar kata-kata Haman. Beberapa detik kemudian barulah
dia menoleh dengan misterius ke sisi kirinya, kepada Haman. Tampangnya masam,
dan dari sudut matanya yang tajam dia menatap Haman. “Aku tidak butuh mantel
itu,” suara Bakhoum pelan dan tenang. “Kau lebih membutuhkannya daripada aku.” Haman
kembali melirik kepada Bakhoum, dan kembali hatinya disesaki tanda tanya yang
baru. Dia melihat Bakhoum hanya mengenakan sehelai baju putih &nbsp;dengan lengan panjang. </p>



<p>Pakaian itu panjang hingga ke betisnya, dan sesekali semilir
angin datang, pakaian itu berkibar perlahan. Tetapi dengan pakaian setipis itu,
Bakhoum terlihat biasa-biasa saja, padahal hawa malam amatlah dingin. Penawaran
Haman tentang mantel sudah gagal, namun pembicaraan sudah terbuka dan dia akan menyusulnya
dengan pertanyaanpertanyaan di dalam hatinya. “Yang Mulia, kita harus tiba di Thebes
sebelum Hari Raya Sed,” kata Haman.</p>



<p>&nbsp;“Karena hari itulah
yang telah dijanjikan untuk menjadi hari pertempuran dengan Musa.” “Bagus
sekali, itu hari yang tepat.” Bakhoum tetap memandang lurus ke depan. Tidak
menoleh sama sekali. “Dari perhitunganku, kita akan sampai di Thebes seminggu
sebelum Hari Raya Sed, kalau perjalanan kita lancarlancar saja.” Kesunyian
malam meremang saat mereka semua terdiam. </p>



<p>Bakhoum sedikit sekali bicara, dan hal itu membuat Haman kesulitan
untuk selalu memancing pembicaraan. Masih lebih baik bicara dengan burung beo
daripada bicara dengan orang yang ogah-ogahan bicara. Tetapi tibatiba suara Bakhoum
memecah kesenyapan. “Orang seperti apa Musa?” Tanyanya, namun wajahnya tetap
terarah ke depan. </p>



<p>“Dia Hekau hebat, Yang Mulia,” sahut Haman. “Heka apa yang dipakainya?”
“Ular dan cahaya!” “Apa yang dia lemparkan?” “Tongkat!” “Mantranya kuat!” “Tidak,
Yang Mulia,” gumam Haman. “Apa maksudmu?” Kali ini Bakhoum &nbsp;menoleh kepada Haman. Sepertinya ada sesuatu
yang menarik perhatiannya. Haman menggeleng. “Musa tidak merapalkan mantra.” “Tidak
mungkin,” sergah Bakhoum. </p>



<p>“Setiap Heka pasti merapalkan mantra.” “Tapi kami tidak
melihat itu, Yang Mulia,” kata Haman. “Pada kedatangannya yang lalu, dia
meluncurkan semua Heka begitu saja. Aku sengaja memerhatikan bibirnya, tapi aku
tidak melihat bibirnya komat-kamit merapalkan mantra.” “Tidak mungkin, tidak
mungkin,” Bakhoum menggeleng pelan. “Setiap Heka pasti merapalkan mantra, dan
setiap mantra mesti diucapkan walau hanya dengan bisikan.” </p>



<p>“Tetapi itulah yang aku saksikan,” Haman memastikan. “Aku
sangat yakin, Yang Mulia, penglihatanku tidak mungkin salah. Selain aku, masih
ada banyak lagi pejabat istana yang menyaksikannya, bahkan Fir&#8217;aun sendiri.” Tiba-tiba
perjalanan mereka terhenti. Di tengah jalan muncul sosok berpakaian hitam
dengan tudung di kepalanya yang karena kehadirannya, mau tak mau, Haman harus
menghentikan langkah kudanya dan langkah seluruh pasukan. “HEI, SIAPA KAU?!!!”
Bentak Haman sambil mencabut pedangnya. </p>



<p>Tetapi Bakhoum segera mengangkat tangan kirinya untuk menghentikan
Haman. Tatapan matanya tetap tertuju kepada sosok berpakaian hitam yang menghadang
jalan mereka itu. Sementara Haman terbengong-bengong sambil melirik kepada Bakhoum.
Kesunyian kembali bangkit saat semuanya terdiam menyaksikan Menkheperesseneb
turun dari kudanya dan menghampiri sosok hitam yang menghadang itu. Ada
perasaan tenang yang aneh di hati Haman karena mendapati hadirnya Bakhoum di
tengah-tengah mereka. </p>



<p>Seorang Menkheperessebeb, Hekau terkuat, tentunya tak ada seorang
pun yang sanggup mencelakainya. Tidak pula sosok hitam di depan itu. Bakhoum
berdiri tegak di hadpan sosok hitam itu. Jarak mereka hanya dua meter, dan
sosok hitam itu menunduk dalam-dalam sehingga wajahnya tertutup tudung. Misteri
menyelimuti sosok hitam itu sebagaimana jubah hitam yang dipakainya. “Apalagi
yang kau mau?” Suara Bakhoum pelan. Sunyi-senyap benar-benar mencekam, sehingga
walaupun Bakhoum memelankan suaranya, Haman dan prajurit di barisan terdepan
tetap bisa mendengar kata-katanya dengan baik.</p>



<p>&nbsp;“Bukankah aku sudah mengatakannya
padamu?” Kata Bakhoum lagi. Figur hitam itu tetap diam saja. Tak ada sepatah
kata pun yang keluar dari dirinya. Tudung hitam itu menyamarkan identitasnya.
Tetapi dari semua kalimat yang diucapkan Bakhoum, sepertinya dia telah mengenal
si Hitam itu sejak lama. </p>



<p>“Menyingkirlah dari jalanku! Jangan halangi aku!” Untuk
pertama kalinya, sosok hitam itu bersuara. Serak dan parau, seperti sebuah
suara yang sudah berkarat dan sudah lama sekali tidak ditarik keluar. &nbsp;“Jangan menyombongkan dirimu di hadapanku,
Menkheperesseneb!” Kata si Hitam. Sebuah senyum yang kelam terbit di wajah
buruk Bakhoum.</p>



<p>&nbsp;“Kau semakin berani
saja bicara. Apakah kau sudah lupa siapa dirimu? Kalau tidak ada aku, kau sudah
mati.” “Aku menyertaimu, karena Anubis memerintahkannya,” sahut sosok hitam
itu. “Karena perintah itu pulalah sampai detik ini aku masih menyertaimu. Dan kehadiranku
di sini untuk menlindungimu dan memberimu peringatan.”</p>



<p></p>



<p> “Tugasmu memang melindungi dan memberi peringatan, tetapi bukan menghalangiku. Aku akan tetap menghadapi Musa. Akulah Hekau terhebat. Jadi jangan halangi aku.” “Dengan menempuh jalan ini, kau akan jatuh pada perang yang takkan bisa kaumenangkan. Ketahuilah, Musa bukanlah Hekau.” “Kalau Musa bukan Hekau, lalu dia itu apa?” Sergah Bakhoum. “Dia utusan!” [bersambung&#8230;] </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-05/">HEKA Eps 05</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-05/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4483</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Heka Eps. 4 Anak Dalam Diri</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-4-anak-dalam-diri/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-4-anak-dalam-diri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Feb 2020 08:04:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4404</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seolah hanya malam yang suram yang &#160;mengelilingi hidup seorang Menkheperesseneb. Tak ada siang &#160;sama sekali, tak ada cahaya, tak ada canda dan bahagia, hanya misteri dan hawa muram. Dia harus selalu tersembunyi dari mata manusia, tetapi tidak di mata setan. Makhluk-makhluk terkutuk itu amat mengenal dirinya dan dia seringkali meminta bantuan kepada setan. Mereka memang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-4-anak-dalam-diri/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Heka Eps. 4 Anak Dalam Diri</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-4-anak-dalam-diri/">Heka Eps. 4 Anak Dalam Diri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seolah hanya malam yang suram yang &nbsp;mengelilingi hidup seorang Menkheperesseneb.
Tak ada siang &nbsp;sama sekali, tak ada
cahaya, tak ada canda dan bahagia, hanya misteri dan hawa muram. Dia harus
selalu tersembunyi dari mata manusia, tetapi tidak di mata setan. Makhluk-makhluk
terkutuk itu amat mengenal dirinya dan dia seringkali meminta bantuan kepada
setan. Mereka memang sudah bergandengan tangan. Seorang Menkheperesseneb memang
harus begitu, dialah penguasa Heka tertinggi di seluruh negeri Mesir. </p>



<p>Dialah orang kedua setelah Fir&#8217;aun sendiri. Menkheperesseneb
harus selalu menyertai sang raja, dan menopang tiraninya. Separuh kekuasaan seorang
Fir&#8217;aun bisa saja runtuh, jika tidak ada seorang Menkheperesseneb di sisinya. Dan
menghilangnya Menkheperesseneb adalah sebuah guncangan besar bagi Ramesses dan
seluruh Mesir. Nama aslinya Bakhoum Fanoush. Dialah Hekau terhebat yang menjadi
kepercayaan Ramesses, dia seorang Menkheperesseneb. </p>



<p>Dialah penyihir paling mahir dalam derajat yang paling
dimuliakan. Seharusnya dia selalu menyertai Ramesses, dan berdiamnya dia di
tepian Sungai Nil yang sunyi, bukanlah tanpa alasan. Bakhoum adalah seorang
lelaki yang gagah. Tubuhnya kekar dalam balutan kulit cokelat khas orang
Qibthi. Wajahnya tampan, pada awalnya, tetapi setiap ritual Heka yang &nbsp;dilakukannya sejak sekian lama selalu menuntut
pengorbanan. Maka wajahnya yang tampan tinggallah impian, yang tersisa hanyalah
mata yang membelalak besar di bawah alis yang tebal.</p>



<p>&nbsp;Hidungnya sekadar mencuat
dan bengkok dengan bulu hidung yang gondrong, melanggar garis batas di lubang
hidungnya. Bibirnya yang besar dan monyong dibingkai garis wajah yang keras berbentuk
trapesium. Tak ada sehelai pun kumis atau janggut pada wajah yang amat tidak
karuan itu, yang ada hanya bulu hidung, yang kalau tertiup semilir angin dia melambai-lambai.
Sang Hekau berdiri tegang di depan pintu gubugnya. </p>



<p>Dia menengadah ke langit malam, sementara tangannya mencekik
leher seekor anak kambing hitam kuat-kuat. Saat matanya terbeliak ke arah
bintang, cengkeraman tangannya pada leher anak kambing yang malam itu semakin
kuat, sementara tangannya yang lain menggenggam moncong anak kambing itu agar
tidak mengembik. Bibir Bakhoum mulai bergerak-gerak, merapalkan mantra yang dianggapnya
suci, sementara tangannya yang mencengkeram terlihat gemetar saking kuatnya. Leher
anak kambing yang malang itu pun patah, nyawanya telah pupus. Tetapi kemudian
Bakhoum mengangkat bangkai anak kambing itu ke wajahnya, lalu dia gigit leher
anak kambing itu dengan beringas. Seperti seekor serigala gurun yang sedang &nbsp;mencabik-cabik mangsanya. </p>



<p>Darah pun berhamburan di mana, mengucur dari lubang di leher
anak kambing itu. Bakhoum pun melangkah mundur, sambil membiarkan darah yang
mengucur itu membasahi tanah di sekitar gubugnya. Dia sedang membuat garis
darah di sekeliling gubugnya. Ritual itulah yang membuatnya tidak pernah
ditemukan selama sepuluh tahun. Asalkan dia berada di dalam lingkaran darah
itu, dia akan aman. Hanyalah orang-orang yang diinginkannya saja yang bisa
menemuinya. Namun dia tidak akan bisa menghindarkan diri dari datangnya suatu
hari yang akan membuatnya terkejut setengah mati. 000 Tak banyak kata yang
keluar dari mulut Bakhoum. </p>



<p>Seorang Menkheperesseneb memang ditakdirkan hidup di dunia
yang sunyi. Dia hampir tidak mengenali bahasa manusia lagi, hanya bahasa setan.
Ketika dia masih berada di sisi Ramesses pun dia tidak banyak bicara, tidak
pula banyak muncul di tengah orangorang, dan dia terus hidup di belakang bayang-bayang.
Dia hanya muncul ketika&nbsp; diperlukan. Bakhoum
sedang duduk bersila di hadapan perapian dalam gubugnya. </p>



<p>Kedua tangannya terletak di atas pahanya, dan pakaian putih
panjang itu masih dikenakannya. Dia menatap ke dalam api yang &nbsp;menggelora itu seakan-akan bicara dengannya.
Pendar-pendar api menari-nari di bola matanya, menyiratkan kesesatan yang
suram. Tiba-tiba dia tersenyum, dan senyum itu penuh dengan rahasia. Apakah ada
sesosok setan yang sedang bicara padanya? Tetapi tiba-tiba alisnya yang tebal melengkung
dan dahinya berkerut. Sikap itu diikuti gelengan pelan, seolah ada sesuatu yang
dikatakan setan itu yang tidak bisa diterimanya. </p>



<p>“Tidak mungkin ada yang bisa mengalahkan aku,” gumamnya
pelan. “Siapakah hekau di Mesir ini yang lebih kuat dari aku?” Keheningan
kembali merajalela, yang ada hanya retih-retih di perapian. Tampang Bakhoum
makin tidak enak dilihat, raut yang penuh tanda tanya tadi kini telah berubah menjadi
air wajah yang kesal dan tidak terima. Tiba-tiba Bakhoum bangkit dengan gusar
dan menjungkirbalikkan meja di dekatnya. Meja itu penuh dengan barangbarang dan
benda-benda sihir. Gubug yang sudah berantakan itu kini menjadi makin porak-poranda.
</p>



<p>“TIDAK ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARIKU!!!” Pekik Bakhoum.
“TIDAK ADA!!!” Telunjuk Bakhoum teracung lurus kepada perapian, padahal dia
hanya sendirian di dalam gubug itu. Jika tidak ada &nbsp;orang di sana, maka kata-katanya ditujukan
kepada setan. Dan &nbsp;setan itu, mungkin
saja, hadir di perapian. &nbsp;“AKAN AKU
MUSNAHKAN DIA!” Bakhoum berkacak pinggang. “AKAN AKU BUNUH DIA DENGAN HEKA
TERKUAT. AKU TIDAK PEDULI SIAPA PUN DIA!!!” Meletuplah perapian itu, seolah ada
seseorang yang meniupnya. Namun Bakhoum tidak gentar, dia tetapi berdiri gagah
di depan perapian. Lagi-lagi dia menuding-nuding kobaran api. </p>



<p>“JANGAN PERNAH KAU HALANGI AKU!!! TUGASMU ADALAH MENDUKUNG AKU
SEPENUHNYA! SAMPAIKAN KEPADA ANUBIS BAHWA AKU BERTEKUK LUTUT PADANYA, MEMOHON PERLINDUNGANNYA!”
Kesunyian pun meremang, merayapi permukaan kembali. Bakhoum terdiam, detak kayu
bakar yang dimakan api seakan kalimat-kalimat setan. Air wajah Bakhoum makin
kecut, tiba-tiba dia membelalak dan suaranya mengguntur memenuhi ruangan itu. </p>



<p>“TIDAKKAH KAU BISA BERHENTI?!!! JANGAN TAHAN AKU LAGI! TIDAK
ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARI AKU!” Entah apa yang sebenarnya terjadi antara
Bakhoum dan perapian itu, tetapi tiba-tiba sebuah senyum terkembang dari bibirnya
yang hitam dan keras, dan terdengar pintu gubug itu digedor dari luar. Bakhoum
menoleh ke arah pintu dan menghampirinya. Tangannya terarah kepada gagang pintu
dan dibukanya. </p>



<p>Tepat di ambang pintu ada sekelompok prajurit berkuda yang
menatap tajam kepada Bakhoum. Ahli heka itu berdiri gagah di hadapan mereka
seolah mengetahui siapa mereka semua. Turunlah salah seorang dari mereka dari
kudanya dan menghadap Bakhoum. “Akhirnya kami berhasil menemukan Anda, Yang
Mulia Menkheperesseneb,” </p>



<p>“Bagaimana kabarmu, Haman?” Tanya Bakhoum. “Kami berjuang
mati-matian untuk menemukan Anda, dan kami bersusahpayah melakukannya. Leher
kami taruhannya jika tidak menemukan Anda.” Haman berlutut di hadapan Bakhoum
dan semua prajurit turun dari kudanya, kemudian melakukan hal yang sama.” &nbsp;“Ada orang yang datang mengacau di Thebes?”
Kata Bakhoum. “Benar, Yang Mulia,” sahut Haman.</p>



<p>&nbsp;“Namanya Musa.” “Benar,
Yang Mulia.” Rasa kagum &nbsp;kembali bersemi
di dalam hati Haman. Dia belum sama sekali menyampaikan apa tujuan kedatangan
mereka, tetapi Bakhoum sudah tahu. Menkheperesseneb memang luar biasa. “Aku
cukup penasaran, kalian bisa menemukan aku, tetapi kalian tidak perlu mengatakannya
kepadaku,” Bakhoum mengangkat tangan kirinya, dan semua orang menyaksikan apa
yang dia lakukan. </p>



<p>Tangan kanan Bakhoum pun terangkat, diarahkannya ke dadanya
dan ditekannya di sana. Mendadak pecah suara jeritan yang muram dari
tengah-tengah prajurit Mesir itu. Semuanya terlonjak kaget. Suara jerit itu
kemudian silih berganti dengan suara muntah yang mengerikan, seakan seisi perut
keluar dari kerongkongan. Keluarlah seseorang yang melangkah tergopoh-gopoh dan
membungkuk sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Di depan barisan prajurit,
orang itu ambruk dengan memuntahkan darah. Bukan cuma darah, tetapi juga
berbagai hal menjijikkan lainnya, isi perutnya, berikut cacing-cacing dan
belatung. </p>



<p>Dan orang itu tak asing lagi. “Yang&#8230; Mulia&#8230; aaaahhkkk!” “Aku
percaya padamu, Ramzi, tapi &nbsp;kau
mengkhianatiku. Inilah ganjaran untukmu.” Haman terbelalak melihat apa yang terjadi
pada Ramzi Yassa. “Dialah orang yang memberitahu keberadaan Anda!” “Aku tahu!”
Sahut Bakhoum sambil mendelik kepada Haman. Dan jawaban pendek itu menancapkan
kengerian di hati Haman, bahwa lelaki di hadapannya adalah Hekau terbesar yang
pernah dimiliki Mesir. </p>



<p><em>Pastilah Musa takkan kuat melawan Hekau terhebat ini!</em>
Tetapi bahkan setan pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.
Takkan ada yang menyangka, keputusan apa yang akan diambil oleh Hekau terbesar
itu.[] </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-4-anak-dalam-diri/">Heka Eps. 4 Anak Dalam Diri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-4-anak-dalam-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4404</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Heka Eps 03 Ank Dalam Api</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-03-ank-dalam-api/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-03-ank-dalam-api/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Feb 2020 09:51:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4345</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lelaki berpakaian putih yang basah &#160;kuyup itu berdiri di hadapan perapian yang hangat dan terang, tepat di &#160;hadapan lelaki bertampang merengut. Sang Hekau tegak membelakangi tamunya. Jelas saja pakaian basah yang membalut tubuhnya mendaratkan dingin pada kulitnya, namun pancaran hangat dari perapian sedikit mengobati rasa dingin itu. Kedua tangannya yang kokoh terangkat pelan-pelan, tatapan matanya &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-03-ank-dalam-api/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Heka Eps 03 Ank Dalam Api</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-03-ank-dalam-api/">Heka Eps 03 Ank Dalam Api</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lelaki berpakaian putih yang basah &nbsp;kuyup itu berdiri di hadapan perapian yang
hangat dan terang, tepat di &nbsp;hadapan
lelaki bertampang merengut. Sang Hekau tegak membelakangi tamunya. Jelas saja
pakaian basah yang membalut tubuhnya mendaratkan dingin pada kulitnya, namun pancaran
hangat dari perapian sedikit mengobati rasa dingin itu. </p>



<p>Kedua tangannya yang kokoh terangkat pelan-pelan, tatapan matanya
terpaku dengan khidmat kepada Patung Amun yang dipandangnya suci itu. Berbagai
tali dan serabut yang bergelantungan di langit-langit membuat suasana semakin
seram. Lelaki bertampang merengut sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi
tak lama lagi. Simbol-simbol Heka dari akar, batang, dan dedaunan menguarkan
kemisteriusan. </p>



<p>“Letakkan persembahannya,” kata Sang Hekau tanpa menoleh
sedikit pun. Lelaki bertampang merengut dengan tampang masih merengut, segera melaksanakan
perintah Sang Hekau. Dia tidak punya pilihan lain. Dia segera bangkit dan
meraih senampan sesajian, kemudian diletakkannya nampan yang penuh itu di atas lantai
tanah, tepat di belakang Sang Hekau. Lelaki bertampang merengut duduk bersila
di hadapan sesajian itu. </p>



<p>Heka bukan saja mengerikan dan aneh, tetapi juga
menjijikkan. Sebuah nampan dari tanah liat berukuran sedang memuat bendabenda yang
tidak masuk akal. Seekor kepala&nbsp; kambing tertata
di sana dan ditata dengan amat anggun. Pada tepian kepala kambing itu, pasir
dari gurun Mesir mengelilingi. Bukan cuma itu, di bagian depan moncong kambing
yang malang itu ada bangkai kadal berwarna hitam pekat. Tak ada warna lain pada
bangkai kadal itu. </p>



<p>Di sekitarnya ditaburi bunga-bunga yang langka dan sulit ditemukan
di Mesir, hingga memenuhi seluruh nampan. Di dalam rumah yang diterangi cahaya remang
itu memang sulit terlihat, tetapi ada beberapa benda kecil yang juga amat
penting di atas nampan. Ada empat batang paku besi yang juga berwarna hitam
tepat di bagian atas kepala kambing. </p>



<p>Beberapa helai bunga menutupi batang-batang paku itu hingga keberadaannya
makin tersamarkan. Sang Hekau pun perlahan membalikkan tubuhnya menghadap
sesajian itu, juga berhadapan dengan lelaki bertampang merengut. Kedua
tangannya masih terangkat ke atas dan perlahan dia duduk bersila di situ, di
depan sesajian dan tamunya. </p>



<p>Saat dia telah benar-benar bersila, kedua tangannya turun
perlahan dan diletakkannya di atas lututnya. Beberapa butir tetesan air masih
jatuh dari ujung-ujung rambutnya yang panjang sebahu, perapian di belakang
tubuhnya cukup menghangatkan. Mata Sang Hekau menatap tajam kepada kepala
kambing di hadapannya lalu meniup-niup pelan sambil merapalkan mantra. </p>



<p>Dia mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti, membuat
lelaki bertampang merengut semakin merengut. “Sebutkan lagi namamu!” Perintah Sang
Hekau. “Ramzi Yassa!” Sahut si lelaki bertampang merengut. Wajahnya jadi sedikit
lebih cerah ketika dia menyebutkan namanya. “Nyatakan siapa musuhmu!” “Abdemelek
Acheri!” </p>



<p>“Nyatakan dosa-dosa musuhmu!” “Dia menghinaku di depan orang
&nbsp;banyak,” bola mata Ramzi seolah dibakar oleh
dendam. Ingatannya menjalar, menapaki peristiwa kelam di masa lalu. “Kesalahanku
tak seberapa, hanya tak sengaja menjatuhkan sebutir telur, tetapi dia
menistakan aku di hadapan semua orang, dia menamparku hingga hidungku berdarah.
</p>



<p>Tubuhku diinjak-injak tanpa ampun, kepalaku dipijaknya
hingga wajahku terbenam di pasir. Semua orang menertawakan aku. Abdemelek harus
mendapat ganjarannya, dia harus mati dengan mengerikan.” Mata hitam dan tajam
sang Hekau menatap Ramzi dengan menyeramkan. Tiba-tiba kedua mata itu terbalik,
menyisakan hanya bagian putihnya. </p>



<p>Ramzi mengernyitkan alisnya dan hatinya diselimuti
kengerian. Dia kembali bertanyatanya apa yang akan terjadi. Tubuh sang Hekau bergetar,
tapi perlahan getarangetaran itu semakin keras dan berubah menjadi guncangan.
Ramzi kebingungan,&nbsp; dia tidak mengerti
apa yang harus dia lakukan. Mata putih sang Hekau membelalak dan wajahnya
menengadah pada langit malam. Mulutnya menganga lebar, mengeluarkan suara serak
seperti lembu yang disembelih, sementara&nbsp;
tubuhnya terus berguncang. Tiba-tiba dia terdiam! </p>



<p>Guncanganguncangan itu berhenti. Kepala sang Hekau terkulai jatuh
ke dadanya dengan lemas, tubuhnya membungkuk walau dia masih dalam posisi
bersila. Ramzi tercengang,&nbsp; hampir-hampir
dia kabur dari rumah itu karena ketakutan, dia sudah mengambil ancang-ancang untuk
melarikan diri. Tetapi&nbsp; dia urungkan
niatnya ketika melihat gelora&nbsp; tubuh sang
Hekau yang sudah mereda. Pelan-pelan sang Hekau mengangkat wajahnya dan
menegakkan kepalanya. &nbsp;Matanya yang
tadinya sangat menyeramkan sudah kembali seperti semula, hitam. Dia memandang
Ramzi dengan lebih lembut dan alis tebalnya berhenti berkerut. </p>



<p>Lalu dengan penuh makna diapun menunduk, menatap sesajian
yang mengerikan di hadapannya. Dia memberi tanda kepada Ramzi, untuk juga
menatap senampan sesajian itu. Dengan anggun, tangan sang Hekau tergerak kepada
sesajian itu, mengambil helaian-helaian mahkota bunga, dan meletakkannya di
telapak tangannya. Ramzi mengerti isyarat itu dan dia pun memandang dengan
segan kepada nampan. Terungkaplah keanehan di sana, di atas kepala kambing yang
tadinya terhampar empat batang paku hitam yang tajam, kini sudah tiada lagi. </p>



<p>Paku-paku itu sudah menghilang. “Amun telah mengabarkan
kepadaku, Abdemelek Acheri sudah mati,” bisik sang Hekau sambil merentangkan
kedua tangannya seolah-olah hendak memeluk seorang saudara. Sebaris senyum
seram terhampar di wajahnya. “Perutnya terbelah, darahnya membuncah, apakah itu
kurang mengerikan?” Ramzi melongo menatap sang Hekau lalu mengangguk pelan,
berbisik, “Dendamku sudah terbalas. </p>



<p>Aku akan mengetahui apa yang terjadi padanya.” Bersujudlah
Ramzi kepada sang Hekau, seolah bersujud kepada Tuhan. Saat dia duduk kembali,
dia berkata, “Aku bersyukur atas semua bantuan ini.” &nbsp;Ramzi kembali duduk bersila sambil menghadap
sang Hekau, saat itulah matanya menangkap suatu imaji yang membuat alisnya
kembali mengernyit. </p>



<p>Ada sebuah simbol aneh yang terpahat di dada sang Hekau.
Simbol itu terlihat samarsamar di balik jubah putihnya yang basah kuyup, menyembul
sedikit ke permukaan. Ramzi tahu betul simbol macam apa itu, &nbsp;dan tidak seorang pun di Mesir yang &nbsp;memiliki simbol itu kecuali dia seorang Menkheperesseneb.
Simbol itu adalah Ankh. <em>To be continued&#8230;</em> </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-03-ank-dalam-api/">Heka Eps 03 Ank Dalam Api</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-03-ank-dalam-api/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4345</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Heka Eps. 01</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-01/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-01/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jan 2020 03:26:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4275</guid>

					<description><![CDATA[<p>kegelapan malam kembali merajai &#160;dunia. Memang waktu silih berganti, namun keindahan malam tiada &#160;terperi. Hawa dingin menjadi sedemikian pilu ketika setan-setan keluar dari sarangnya dan bergentayangan di muka bumi. Manusia hidup pada dua sisi wajah malam, pada keelokan dan ketenangannya, yang di sana manusia merasakan kebahagiaan, dan pada kesuraman dan kengerian, yang di sana manusia &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-01/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Heka Eps. 01</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-01/">Heka Eps. 01</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>kegelapan malam kembali merajai &nbsp;dunia. Memang waktu silih berganti, namun
keindahan malam tiada &nbsp;terperi. Hawa
dingin menjadi sedemikian pilu ketika setan-setan keluar dari sarangnya dan
bergentayangan di muka bumi. Manusia hidup pada dua sisi wajah malam, pada
keelokan dan ketenangannya, yang di sana manusia merasakan kebahagiaan, dan
pada kesuraman dan kengerian, yang di sana manusia berlindung darinya. </p>



<p>Betapa tenang dan nyamannya malam itu menyelubungi bumi
Mesir, namun di dalamnya terselip hitam yang mencekam, dan kematian. Ada
seorang lelaki berwajah senang yang amat dihormati di Mesir. Dia seorang pedagang
besar yang tinggal di Thebes, namanya Abdamelek Acheri. Perawakannya akan
mendeklarasikan kepada siapa saja bahwa dia adalah seorang saudagar besar. Abdamelek
berbadan besar dan gendut. Kepalanya botak, tak ada rambut sehelai pun di sana.
Bahkan tak ada alis dan bulu mata sejumput pun pada wajahnya. Kulitnya putih,
bagi orang-orang Qibthi dia amat putih. </p>



<p>Matanya yang sipit membuat dia terlihat seperti orang Cina
dan bukan orang Qibthi. Dia begitu baik kepada keluarganya, hanya saja tak ada
yang tahu, malam itu ada dendam yang mengambang di udara hendak merenggut
nyawanya. Sebuah jamuan makan sedang digelar di kediaman Abdemelek yang &nbsp;megah. Ada meja panjang di ruang makan yang
sudah penuh dengan hidangan. Berbagai masakan sudah tersedia, dikelilingi oleh
seluruh keluarganya. Abdemelek sendiri dengan sumringah duduk di ujung meja,
dan setelah beramahtamah sejenak dengan anak-anaknya yang masih belia,
perjamuan makan itu pun dimulailah. </p>



<p>Semuanya makan dengan lahap, irisan-irisan dagingnya
menggugah selera, dan helaian-helaian sayur-mayurnya membangkitkan rasa lapar. Semuanya
sibuk mengunyah, menyuap, memotong, dan mengiris. Mereka tenggelam dalam
hindangan yang enak-enak, sementara ada banyak orang di Mesir yang hampir mati
kelaparan. Jurang antara yang kaya dan miskin menganga lebar dan hampir tidak
bisa lagi diseberangi. Abdemelek menyuap daging panggang itu dengan tangan
kirinya. Tanpa mengenal adab dan kesopanan, dia makan dengan tangan kirinya. </p>



<p>Dia tersenyum saja sedari tadi sambil memandang seluruh anggota
keluarganya yang mengelilingi meja, kemudian menyuapkan lagi irisan daging
panggang itu ke mulutnya, hingga dia merasa ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.
Napas Abdemelek seketika terputus, seolah ada bongkahan batu sebesar kepalan
tangan yang menyumbat tenggorokannya. Dia ambruk dari kursinya &nbsp;dan terjengkang ke belakang. </p>



<p>Tubuhnya menggelepar hebat karena paru-parunya mencari-cari
udara. Matanya membelalak lebar dan memperlihatkan dengan jelas pembuluh darah
di mata itu terpecah, membuat matanya merah suram. Semua orang terperanjat,
geger. Dengan amat tergesa dan terburuburu, semua anggota keluar Abdemelek di meja
makan itu melompat dan berhamburan ke sekitar Abdemelek yang sedang sekarat. </p>



<p>Tubuh tambun itu terus saja menggelepar seperti seekor ayam
yang meregang nyawa. Mulutnya menganga lebar sekali, seakan hendak menelan sepuruh
kepalanya yang botak. Tak ada orang yang berani menyentuhnya, melihat Abdemelek
seperti melihat kematian. Tibatiba terjadilah sesuatu yang lebih aneh lagi. </p>



<p>Perut Abdemelek yang sudah buncit terlihat semakin buncit.
Perut itu terus mengembang, membesar, dan membesar, seolah ada sesuatu yang
hendak mendesak keluar. Semua orang bergidig ngeri. Tibatiba perut Abdemelek
meletus, dengan memuncratkan darah ke segala arah. Tak&nbsp; ada seorang pun yang menyangka hal itu akan terjadi,
hanyalah percikan darah&nbsp; merah yang
melumuri wajah-wajah mereka&nbsp; yang penuh
tanda tanya suram. </p>



<p>Tubuh Andemelek pun terdiam dan kaku. Perutnya meletus,
menyisakan lubang besar menganga yang berwana merah, darah berlumuran di
mana-mana, dan semua mata menyaksikan ada paku-paku besi berkarat di perut
Abdemelek. Seakanakan setiap jantung di dalam ruangan itu berhenti berdetak karena
ditikam tanda tanya. Semua mata membelalak lebar dan dicekam kengerian. Suara ratap
yang muram pun terdengar! </p>



<p>“Heka&#8230; Heka&#8230;” “Ini Heka!” “Abdemelek kena Heka&#8230;” “Heka&#8230;!”
Namun sekeras apapun mereka &nbsp;meratap,
Abdemelek sudah tidak bisa mendengar. </p>



<p>000</p>



<p>Pada tempat yang jauh, jauh dari Thebes, di sebuah desa
bernama Meroe di &nbsp;pedalaman Nubia dan di
tepi Sungai Nil, sebuah peristiwa yang hitam terjadi. Malam membelai permukaan
Sungai Nil yang agung, yang untuk membuatnya terus mengalir, nyawa dan darah
mesti selalu dikorbankan. Terkadang ada pengorbanan hasil panen, kadang hewan
ternak, dan bahkan kadang gadis perawan. Ada sebuah rumah yang tegak di tepi
Sungai Nil. Rumah itu amat sederhana dan tenggelam dalam kegelapan malam. </p>



<p>Tak ada penerangan sama sekali di bagian luar gubug itu,
hanya cahaya bulan yang keperakan. Tetapi dari sela-sela jendelanya terlihat
pucuk-pucuk cahaya, yang menandakan ada kehidupan di dalam sana. Di bagian atap
rumah itu ada sebuah cerobong asap sederhana yang dilumuri jelaga. Asap tipis
mengepul dari sana dan segera menyatu dengan keremangan malam. Pada bagian
dalam rumah itu hadirlah seorang lelaki bertampang merengut. </p>



<p>Dia duduk di atas sebuah dipan sederhana. Dia menatap kobaran
api yang meretih-retih, tepat di hadapannya. Ada dua pintu di rumah itu, pintu belakang
yang menghadapi ke Sungai Nil, dan pintu depan. Rumah itu mungil, namun padat
dan sesak. Barang-barang yang sebagian besarnya tak masuk akal dan mengerikan
memenuhi rumah itu. Seluruh bagian lantainya dilapisi tikar dari jerami, dan
bagian rumah itu yang paling melegakan adalah perapian batu di dinding. Perapian
yang hitam itu menebarkan kehangatan pada malam yang dingin. </p>



<p>Tepat di hadapan perapian itu ada sebuah dipan yang rapat ke
dinding di seberang ruangan. Di sanalah lelaki bertampang merengut itu duduk.
Hanya ada satu ruangan di dalam rumah itu, tak ada lagi kamar atau yang semacamnya.
Di seluruh dindingnya tertempel rak-rak buku kumal yang dipenuhi buku-buku
tebal dan berat. Bukubuku itu disusun dengan sembarangan,&nbsp; sekadar ditumpuk, dan debu-debu tebal sudah menghuni
permukaannya entah sejak kapan. </p>



<p>Meja-meja dan rak-rak pun berjajar di tepi ruangan, yang di
atasnya tersimpan berbagai gerabah dari tanah liat. Semua gerabah kecil itu
tidak tertutup dan &nbsp;isinya menyembul
keluar. Beberapa di antaranya berisi daun-daun misterius, ada juga benda-benda
kenyal yang tak jelas. Tumpukan-tumpukan kulit yang kering pun tersedia di atas
meja. </p>



<p>Semua bahan yang entah untuk apa itu terletak dengan menakutkan.
Sulur-sulur, tali, dan simpulsimpul menjulur dari langit-langit yang sederhana.
Ada tulang-tulang yang terikat dan tergantung di situ, ada juga simbolsimbol Heka
yang rumit. Sebuah patung Dewa Amun pun hadir tepat di atas perapian. </p>



<p>Suasana hening, lelaki bertampang merengut tetap duduk di
tempatnya, hampir tanpa bergerak. Pandangan matanya tertuju kepada gejolak api
di perapian. Mengapa tampangnya seburuk itu pastilah karena suatu alasan, dan
untuk alasan itulah dia hadir di tempat yang amat tidak menyenangkan itu.
Kobaran api dari perapian menari di wajahnya,&nbsp;
makin menambahkan kesuraman pada matanya yang hitam. </p>



<p>Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Sebuah suara daun
pintu membuka, ketika lelaki bertampang merengut itu menoleh ke pintu,
muncullah seorang lelaki yang tak kalah anehnya. Lelaki itu mengenakan pakaian
putih panjang, dan basah kuyup. </p>



<p>Tetes-tetes air berhamburan di kakinya yang telanjang, dan
matanya yang menyeramkan menatap kepada lelaki &nbsp;bertampang merengut. Rambut lelaki aneh itu
panjang hingga ke bahu, basah kuyup, seakan dia baru saja menceburkan dirinya ke
Sungai Nil pada malam yang dingin itu. Di waktu-waktu yang tidak masuk akal
bagi seseorang untuk mandi di sungai. </p>



<p>Atau mungkin dia benar-benar baru saja mandi di Sungai Nil? “Kalau
bukan karena tujuanmu juga amat penting bagiku, pasti aku takkan mau melakukan
semua ini,” kata lelaki aneh di ambang pintu. Dia melangkah pelan dengan
menggigil ke tengah ruangan. Tangannya terlihat gemetar karena kedinginan,
memang tidak masuk akal berendam di Sungai Nil pada waktu-waktu seperti itu. </p>



<p>“Air Sungai Nil dingin sekali, tetapi jika tidak
membersihkan diri, ritual Heka takkan bisa dijalankan.” “Terima kasih banyak,
Hekau , aku akan membayar banyak untuk bantuanmu,” kata lelaki bertampang
merengut. “Ada hal lain yang lebih berharga daripada uang,” sahut sang Hekau. “Apakah
itu? Aku akan memenuhinya.” “Nyawa,” Mata Hekau mendelik, memantulkan nyala api
yang kejam.[] </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-eps-01/">Heka Eps. 01</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/heka-eps-01/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4275</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai eps 6</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-6/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-6/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Oct 2019 22:30:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4112</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Sebenarnya aku masih cukup bingung dengan instruksi dari Khalifah,” kata Jabal bin Abdul&#8217;uzza. “Bagaimana kita menemukan Aswad kalau informasi tentang dia hanya segini?” “Kita harus tetap besyukur kepada Allah, semoga Dia memberikan petunjuk kepada kita untuk menemukan Aswad walau petunjuk hanya segini,” kata Mutsana bin Harits. Kedua agen rahasia yang dikirimkan oleh Khalifah Abu Bakar &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-6/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai eps 6</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-6/">Derap Rantai eps 6</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>“Sebenarnya aku masih cukup bingung dengan instruksi dari
Khalifah,” kata Jabal bin Abdul&#8217;uzza. “Bagaimana kita menemukan Aswad kalau
informasi tentang dia hanya segini?” “Kita harus tetap besyukur kepada Allah,
semoga Dia memberikan petunjuk kepada kita untuk menemukan Aswad walau petunjuk
hanya segini,” kata Mutsana bin Harits. </p>



<p>Kedua agen rahasia yang dikirimkan oleh Khalifah Abu Bakar
Shiddiq itu berada di tengah-tengah ramainya pasar di kota Ubullah. Mereka
berjalan bersisian sambil terus merapat dan bicara dengan amat hatihati, sekaligus
dengan mengatur seberapa&nbsp; kuat suara mereka.
Sebab pada misi ini Mutsana harus berpura-pura menjadi seorang yang bisu. </p>



<p>Hanya Jabal yang boleh mengeluarkan suara sebab hanya dialah
yang mengerti bahasa Persia. “Pasarnya seluas dan seramai ini, bagaimana cara
kita menemukan pedagang kain yang wajahnya paling jelek?” Jabal menyapukan
pandangannya, kepalanya menoleh kesana-kemari.</p>



<p>&nbsp;“Tampan atau jelek tergantung
mata siapa yang melihatnya, kalau di mataku ada banyak orang jelek di sini,
bagaimana cara kita menemukan orang jelek di tengah-tengah orang jelek?” Mutsana
tersenyum simpul mendengar kegalauan mitranya. “Tenang saja, Allah akan
memberikan petunjuk kepada kita, insya Allah. </p>



<p>Pedagang kain yang wajahnya jelek, kurasa itu adalah sebuah &nbsp;34 petunjuk yang cukup baik. Sebab jika seseorang
telah mengatakan bahwa wajah seseorang itu jelek, maka biasanya secara umum
orang-orang juga akan memandang wajahnya jelek. Petunjuk lain, Aswad adalah seorang
muslim yang saleh, yang harus kita lakukan adalah mencari cara bagaimana kita mengetahui
bahwa pedagang kain berwajah jelek itu adalah seorang muslim. Jika semua ciri
ada padanya, maka dialah Aswad.” Cuaca yang terik memayungi pasar di kota
Ubullah itu. </p>



<p>Kios-kios dan lapak-lapak pedagang berderet-deret diteduhkan
oleh tenda-tenda yang terbuat dari kain. Tiangtiang dari kayu dan
tambang-tambang terikat&nbsp; di sudut-sudut
tenda itu, kemudian diikatkan&nbsp; pada pancang
yang tertanam di tanah.&nbsp; Lapak-lapak dan
kios-kios itu membentuk&nbsp; lorong-lorong yang
berliku-liku. </p>



<p>Berbagai&nbsp; barang dijual
di pasar itu, biasanya pedagang&nbsp; yang menjual
satu jenis barang tertentu&nbsp; berkumpul di
suatu sudut dari pasar itu, &nbsp;sementara
pedagang-pedagang jenis barang &nbsp;yang lain
berkumpul di sudut pasar yang lain. Sudah beberapa lama Mutsana dan Jabal menyusuri
pasar itu, namun mereka belum juga menemukan pedagang kain. Mereka berada di tengah-tengah
pedagang emas. “Di mana pedagang kain?” Gumam Mutsana. </p>



<p>Dia berkacak pinggang sambil memandang ke sekitarnya. “Ini
pedagang emas.” “Setahuku, pedagang kain letaknya tidak jauh dari pedagang
emas,” sahut Jabal. “Tapi sepertinya para pedagang kain sudah &nbsp;dipindahkan entah kemana. Dari tadi sudah kita
susuri pedagang emas, tapi tidak bertemu juga pedagang kain.”</p>



<p>&nbsp;“Mungkin kau
sebaiknya bertanya pada seseorang,” usul Mutsana sambil menoleh pada Jabal.
“Tapi tetaplah hati-hati, dari tadi aku melihat prajurit Persia ada di mana-mana,
sepertinya mereka memang alergi dengan orang Islam, penjagaannya ketat sekali.”
Jabal mengangguk dengan penuh makna kepada mitranya. </p>



<p>Mereka tetap merapat di antara kerumunan pasar itu, Mutsana
mengikuti langkah Jabal. Mereka keluar dari kerumunan dan berjalan menuju pedagang
emas yang terdekat dengan mereka, seorang lelaki bertampang masam. Jabal segera
memerlihatkan kemampuannya berbahasa Persia, sementara Mutsana diam seribu
bahasa. “Hey tuan, di mana pedagang kain?” Tanya Jabal. </p>



<p>Pedagang emas itu menyahut dengan acuh tak acuh. “Di bagian
barat pasar.” Mutsana dan Jabal bergegas pergi tanpa berterimakasih sama sekali
kepada pedagang emas itu. Mereka memang amat terburu-buru, sebab waktu mereka
sangat sempit. Mereka cepat-cepat membelah kerumunan pasar itu menuju bagian
pasar yang tadi ditunjukkan pedagang emas. Setelah berbelok beberapa kali,
bertanya lagi beberapa kali, tersandung, tersenggol, saling dorong, dan
terinjak kakinya, sampailah mereka di wilayah pedagang kain. </p>



<p>Di &nbsp;hadapan mereka
telah membentang kioskios dan lapak-lapak pedagang kain pasar Ubullah. “Ayo
kita telusuri dengan saksama,” kata Mutsana. “Aku yakin wajah jelek yang dimaksud
bukanlah karena ras atau etnis. Jadi tentunya bukan selalu orang berkulit hitam
atau berbibir tebal. Aswad bisa jadi berasal dari ras mana saja, dan kemungkinan
ada semacam cacat atau penyakit tertentu di wajahnya yang karena itulah dia
disebut berwajah jelek.” </p>



<p>“Cukup masuk akal,” balas Jabal. “Agar lebih efektif
bagaimana kalau kita berpencar saja?” Mutsana menggeleng. “Itu bukan ide bagus.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, lebih baik kita terus bersama karena
akan selalu ada kemungkinan kita sulit berkumpul kembali nantinya.” </p>



<p>“Baiklah,” Jabal menerima keputusan komandannya itu. Mereka
melangkah pelan-pelan, menyusuri deretan toko-toko dan lapaklapak pedagang kain
itu. orang-orang ramai&nbsp; tawar-menawar harga,
hal itu membuat&nbsp; mereka kesulitan menjalankan
misi mereka.&nbsp; Sering kali mereka terombang-ambing&nbsp; karena kerumunan begitu ramai. </p>



<p>Mereka&nbsp; mengamati pedagang
kain yang sedang sibuk melayani pembeli satu persatu. Ada yang berkulit hitam, cokelat,
dan kuning.&nbsp; Ada yang berasal dari Afrika
dan Asia. Namun sejauh ini wajah para pedagang kain&nbsp; itu normal-normal saja. Kawasan pedagang kain
di pasar Ubullah itu memang cukup luas. Selama &nbsp;sekitar setengah jam mereka menyusuri kawasan
pedagang kain itu. Kalau bukan karena sedang menjalankan misi penting dari Khalifah
kaum Muslim, pastilah mereka tidak akan mau dekat-dekat dengan tempat yang menyebalkan
itu. </p>



<p>Mereka lagi-lagi harus merasakan bagaimana
berhimpit-himpitan dengan kerumunan orang yang berbelanja, mereka terdorong,
kaki mereka terinjak, dan tentu saja mereka selalu berada di bawah ancaman dari
prajurit-prajurit Persia yang selalu waspada. Mutsana dan Jabal menyingkir menuju
sudut pasar yang lebih sepi, mereka masih berada di kawasan pedagang kain. Orang-orang
hilir-mudik di hadapan mereka, sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. </p>



<p>Napas mereka terengah-engah, keringat bercucuran di sekujur
tubuh mereka bercampur dengan debu-debu pasar. Lengkaplah sudah. “Sepertinya
kita dapat masalah,” kata Mutsana. “Inilah yang aku khawatirkan,” sahut Jabal.
“Kita menemukan dua orang pedagang kain berwajah jelek yang diduga adalah Aswad
bin Asadi. Bagaimana sekarang, waktu kita makin sempit.” Jabal melempar pandang
ke seberang, kepada seorang pedagang kain yang sedang bersemangat menjajakan dagangannya.
</p>



<p>Dia terus mengamati pedagang kain itu. Memang ada sesuatu di
wajah pedagang kain itu yang kurang enak &nbsp;dipandang, banyak kutil menggelantung di &nbsp;wajahnya. Pedagang kain itu memang selalu terlihat
tersenyum, namun senyum yang seharusnya terlihat manis itu tenggelam di bawah
kutil-kutil berbagai ukuran yang memenuhi wajahnya. Usia pedagang kain itu kira-kira
empat puluh tahun, tubuhnya kurus, kulitnya cokelat, berkumis dan berjenggot. </p>



<p>Sementara Mutsana menatap ke sisi lain, tak jauh dari situ,
ada seorang pedagang kain yang juga sedang sibuk menjual barang dagangannya.
Yang cukup menarik perhatian adalah, wajahnya juga ditumbuhi kutil. Pedagang
kain yang satu ini bertubuh gemuk, lehernya bergelambir, suaranya lantang. “Ada
dua orang pedagang kain berwajah jelek,” gumam Jabal.</p>



<p>&nbsp;“Bagaimana sekarang?
Kalau berpencar, kita bisa menemui dua orang itu sekaligus. Kita bisa tentukan
tempat kita berkumpul kembali di Rumah Kematian.” Mutsana menggeleng, “Aku
masih tetap cenderung pada keputusanku di awal tadi, kita tetap bersama untuk
menghadapi berbagai kemungkinan.” “Berarti siapa dulu yang akan kita datangi?
Yang kurus, atau yang gemuk?” Jabal menjadi agak gusar. Dia mengkhawatirkan sesuatu…
</p>



<p>Bersambung </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-6/">Derap Rantai eps 6</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-6/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4112</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-4/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-4/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2019 22:41:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3863</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seorang muslim memang seharusnya menjadikan malam sebagai teman Sebab di dalam malam itu ada waktu-waktu yang terbaik, di mana Allah azza wajalla menebarkan kedamaian kepada seluruh bumi dan mengabulkan doa-doa. Disanalah saatnya umat manusia bersimpuh dan mengiba, karena Tuhan berdiri tegak dihadapannya. Petiklah setangkai rahmat yangdimekarkan Tuhan di langit malam. Itulah yang sedang dilakukan oleh &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-4/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-4/">Derap Rantai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seorang muslim memang seharusnya menjadikan malam sebagai
teman Sebab di dalam malam itu ada waktu-waktu yang terbaik, di mana Allah <em>azza
wajalla</em> menebarkan kedamaian kepada seluruh bumi dan mengabulkan doa-doa.
Disanalah saatnya umat manusia bersimpuh dan mengiba, karena Tuhan berdiri
tegak dihadapannya. </p>



<p>Petiklah setangkai rahmat yangdimekarkan Tuhan di langit
malam. Itulah yang sedang dilakukan oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin
Abdul&#8217;uzza, tahajud.</p>



<p>Pada salah satu sudut kota Ubullah yang tak jauh dari tembok
kota, membentanglah sebuah reruntuhan rumah. Rumah itu telah lama diabaikan dan
terletak agak jauh dari rumah-rumah yang lain. Batu-batu dan sisa-sisa dinding berserakan
di sekitar reruntuhan rumah itu. Sebagian atapnya telah hancur, dan pintunya telah
hilang entah kemana. </p>



<p>Jika reruntuhan rumah itu diperhatikan lebih saksama, sepertinya
rumah itu cukup besar sebelum diruntuhkan. Beberapa bagian dari rumah itu ternyata
luput dari penghancuran, Mutsana dan Jabal bersembunyi pada bagian rumah yang
pada awalnya, sepertinya, adalah sebuah kamar. </p>



<p>Mereka berdiri dan bersujud kepada Tuhannya, di tengah
kegelapan malam dan kegelapan reruntuhan rumah itu. Bintangbintang beredar, dan
waktu pun berlalu, ketika mereka mengucapkan salam, malam masih menghitam. Doa-doa
mereka pun menguap ke udara, seiring hasrat yang murni akan keberhasilan misi.
Siapakah yang&nbsp; menentukan gagal atau berhasilnya
sesuatu,&nbsp; hanyalah Allah <em>subhanahu wa
ta&#8217;ala</em>. Mereka&nbsp; paham betul hal itu.
Setelah semuanya&nbsp; selesai, mereka menyandarkan
diri ke&nbsp; tembok reruntuhan rumah yang gelap
itu.</p>



<p>&nbsp;“Ada sedikit waktu
untuk beristirahat, mungkin waktu subuh sebentar &nbsp;lagi datang,” kata Mutsana dengan memelankan
suaranya. </p>



<p>Dia memandang wajah Jabal, namun yang terlihat hanyalah siluet
gelap.</p>



<p>&nbsp;“Tidurlah, aku yang
akan berjaga.” </p>



<p>“Kalau sedang menjalankan misi seperti ini, aku jadi sulit
tidur,” sahut Jabal. Mereka sengaja tidak menyalakan api untuk penerangan,
sebab persembunyian mereka bisa segera diketahui. </p>



<p>“Kita akan menyamar seperti orang Persia dengan cara
berpakaian mereka ketika pagi menjelang. Kemudian kita segera bergerak ke pasar
Ubullah dan mencari Aswad sampai dapat. Setelah misi selesai, saat malam tiba
kita akan bergerak lagi ke tempat ini dan keluar melintasi tembok.” </p>



<p>“Siap!” kata Jabal. </p>



<p>Keheningan kemudian menjalar, &nbsp;hingga desau angin saja yang terdengar. Mereka
merapatkan mantel tebal ke tubuh mereka untuk mencari kehangatan. Pujipujian kepada
Allah tak henti mereka&nbsp; gumamkan. Allah-lah
yang akan melindungi dan menjaga mereka.</p>



<p>&nbsp;“Sebenarnya ini rumah
siapa?” Tanya Mutsana.</p>



<p>&nbsp;“Kenapa diruntuhkan
dan dibiarkan terlantar seperti ini?” Hembusan napas mengabut di depan hidung
Jabal. Sebenarnya dia tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan Mutsana, hanya
saja gelap menyembunyikannya.</p>



<p>&nbsp;“Aku sangat yakin, insya
Allah tempat inilah yang paling aman sebagai tempat persembunyian kita.</p>



<p>” “Sepertinya kau yakin sekali!” Mutsana penasaran.</p>



<p>&nbsp;“Benar, sangat yakin.
Takkan ada seorang pun yang berani mendekati rumah ini.”</p>



<p>&nbsp;“Kenapa begitu?” “Karena
rumah ini berhantu! Semua &nbsp;orang di kota
ini&nbsp; memercayai hal itu.” “Berhantu?” “Ya,
berhantu!” </p>



<p>“Masih ada saja orang berpikiran &nbsp;primitif seperti itu,” kata Mutsana. “Seluruh
kota telah mengenal &nbsp;keangkeran rumah
ini,” Jabal berkisah. Dia tetap memelankan suaranya. </p>



<p>Mereka harus tetap berhati-hati. “Orang-orang menjuluki rumah
ini dengan julukan yang tidak enak.” “Julukan apa?” Mutsana penasaran. Kisah-kisah
hantu selalu saja membuat penasaran. </p>



<p>“Rumah Kematian! Julukannya memang seram sekali, seseram
peristiwa yang pernah terjadi di rumah ini.”</p>



<p>&nbsp;“Bagaimana
ceritanya?” </p>



<p>“Aku mengobrol dengan seorang &nbsp;penduduk asli kota ini, cerita ini dia dapat dari
bapaknya, sepuluh tahun yang lalu ada sebuah keluarga yang tinggal di rumah
ini, keluarga seorang saudagar yang bernama Kourosh. </p>



<p>Dia memiliki sebuah keluarga yang bahagia, dengan seorang
anak lelaki yang tampan. Anak lelaki itu tumbuh dengan baik, tangkas dan
pintar, namun di usianya yang ke-16, pada suatu malam, dia membunuh kedua
orangtuanya, dan seluruh pelayan di rumah ini dengan alasan yang tidak jelas. </p>



<p>Dia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun apa alasan dia
melakukan perbuatan keji itu hingga dia dijebloskan ke dalam penjara. Akhirnya
dia sendiri bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke jeruji penjara.</p>



<p>” Mutsana mengernyitkan alisnya kemudian mendecakkan
lidahnya. Jabal melanjutkan. “Setelah penguasa kota ini mengambil seluruh
harta, rumah ini &nbsp;dibiarkan kosong. Sejak
saat itulah orang-orang &nbsp;mulai banyak
bercerita bahwa mereka melihat hantu dan hal-hal semacam itu ketika berada
dekat dengan rumah ini. Terdengar jeritan-jeritan, terlihat hantu tanpa kepala,
sebab anak itu memenggal kepala kedua orangtuanya, dah hal-hal semacam itu.
Penguasa kota ini kemudian menghancurkan rumah ini, dan hal itu tidak membuat
orang-orang berhenti membicarakan hantu yang katanya ada di rumah ini.”</p>



<p>&nbsp;“Begitulah orang-orang
primitif, masih saja berpikir seperti itu,” timpal Mutsana.</p>



<p>&nbsp;“Allah-lah yang
menguasai segala sesuatu. Dialah yang mengetahui semua hal gaib. Kepada Dia
kita memohon perlindungan atas kejahatan makhluk. Setan akan selalu menggoda
manusia, memang itulah pekerjaannya, mereka akan selalu berusaha
menggelincirkan kita dari jalan keimanan. Kepada Allah-lah kita mohon perlindungan.”</p>



<p>&nbsp;“Mahasuci Allah yang
telah menurunkan Islam kepada kita, yang dengannya hidup kita ditunjuki. <em>Subhanallah
walhamdulillah</em>.” Kata Jabal. “Tapi sepertinya kita harus berterimakasih
kepada hantu-hantu itu,” Mutsana tergelak. </p>



<p>“Mereka telah menyediakan persembunyian yang aman untuk
kita.” Pagi pun menjelang, mereka melaksanakan solat subuh dalam persembunyian.
Sudah semalaman mereka berada di rumah yang terbengkalai itu, tak ada sesuatu
pun yang disebut sebagai hantu. </p>



<p>000 </p>



<p>Bersambung Follow @sayfmuhammadisa </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-4/">Derap Rantai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-4/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3863</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai eps 04</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-04/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-04/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jul 2019 20:29:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3792</guid>

					<description><![CDATA[<p>langkah-langkah cepat berpijak kepada butir-butir pasir yang beku, dingin, keras dan misterius. Bukit-bukit karang tertancap pada butiran pasir itu, menyaksikan peradaban manusia. Purnama akhirnya keluar juga, diselimuti selendang angin yang rawan. Mereka akan melihat sebuah aksi keteguhan dan keikhlasan prajurit Khilafah Islamiyah saat melaksanakan misinya. Kedua prajurit itu adalah Mutsana bin Harits dan Jabal bin &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-04/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai eps 04</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-04/">Derap Rantai eps 04</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>langkah-langkah cepat berpijak kepada butir-butir pasir yang
beku, dingin, keras dan misterius. Bukit-bukit karang tertancap pada butiran
pasir itu, menyaksikan peradaban manusia. Purnama akhirnya keluar juga,
diselimuti selendang angin yang rawan. </p>



<p>Mereka akan melihat sebuah aksi keteguhan dan keikhlasan prajurit
Khilafah Islamiyah saat melaksanakan misinya. Kedua prajurit itu adalah Mutsana
bin Harits dan Jabal bin Abdul&#8217;uzza. Mereka melangkah cepat di tengah-tengah
kegelapan gurun pasir, berlari menyusuri tembok kota Ubullah yang menjulang
tinggi. </p>



<p>Mereka menjaga jarak dari tembok itu sejauh kira-kira lima
belas meter. Mereka sedang mencari tempat yang tepat untuk menjalankan aksi
mereka. Sebuah sisi tembok yang paling gelap dan paling sedikit penjagaannya.
Di setiap jarak lima belas meter, terdapat menara pengawas yang di puncaknya
dihuni oleh seorang prajurit Persia. Terdapat semacam ruang di puncak menara
pengawas itu, sehingga setidaknya seorang prajurit bisa berjaga di sana. </p>



<p>Menara-menara pengawas itu juga dilengkapi dengan obor-obor
yang menyala terang. Satu demi satu menara pengawas dilintasi oleh Jabal dan
Mutsana tanpa diketahui oleh prajurit Persia. Mereka terus menjaga jarak aman
agar cahaya obor-obor yang tertempel di sepanjang tembok tidak menjangkau
mereka. Kalau mereka sampai salah melangkah, bisa-bisa keberadaan mereka
diketahui oleh para prajurit Persia di menara. Tibalah mereka pada sebuah sisi tembok
yang berbatasan dengan tanah yang landai dan menurun. </p>



<p>Batu-batu cadas yang beringas bermunculan di permukaan tanah
yang landai itu. Pada bagian tembok di sana, cahaya obor-obor tidak begitu
rapat. Jarak antarmenara pengawas pun lebih jauh, &nbsp;sehingga pada sisi tembok bagian itu ditelan kegelapan
pekat, yang meneranginya hanya cahaya bulan. Mutsana dan Jabal terus berlari
sampai ke sana. Sesampainya di sana, mereka segera mencari tempat persembunyian
di balik sebongkah batu besar. Napas mereka menderu, menyisakan uap-uap air di
depan hidung mereka sebab udara begitu dingin. </p>



<p>Namun karena mereka adalah prajuritprajurit terlatih, dengan
cepat mereka dapat&nbsp; menormalkan kembali deru
napas mereka.&nbsp; Hanya dalam beberapa detik
saja mereka&nbsp; bersandar pada batu besar
itu untuk&nbsp; beristirahat. Dengan hanya
diterangi cahaya bulan, Mutsana menatap Jabal lekat-lekat. Sorot matanya
menyiratkan sejuta makna. Dia mengacungkan tangan kanannya dan membuat isyarat
kepada Jabal. Tanpa suara, Jabal mengangguk saja. Jabal segera bersiap, sambil berlutut
dengan amat hati-hati, dia mengambil benda berbentuk panjang yang diselimuti
kain tebal di punggungnya. </p>



<p>Dia letakkan benda itu di hadapannya kemudian dia buka
selimut kain pada benda itu. Terhamparlah beberapa bentuk logam panjang dengan
ukuran yang berbeda-benda yang entah apa di depan Jabal. Mutsana memerhatikan
dengan saksama. Tangan Jabal yang besar merakit potongan-potongan logam itu
dengan amat cekatan bahkan hanya dengan berpenerangan cahaya bulan. Dia menyambungkan
bagian-bagian logam itu, mengaitkannya, memutarnya, menariknya, hingga setelah
semua bagian logam itu menyatu, baru bisa diketahui benda apakah itu. Ternyata
sebuah crossbow besi berukuran besar. </p>



<p>Crossbow kokoh itu berkilauan ditimpa cahaya bulan, dan
Jabal langsung saja mengarahkan moncong &nbsp;crossbow
itu ke dinding kota Ubullah. Crossbow itu berdiri di atas sebuah &nbsp;pilar besi yang bisa diputar, sehingga Jabal dengan
mudah bisa menentukan sasaran. Setelah Jabal memasang sebuah anak panah besi
berukuran panjang dan setelah semuanya siap, Mutsana melompat keluar dari batu
besar itu dan berlari cepat menuju tembok. </p>



<p>Dia segera merapatkan punggungnya pada tembok itu dan
menyatu dengan bayang-bayang pada sisi gelap tembok. Jabal mengarahkan moncong crossbow-nya
pada satu titik yang tak jauh dari Mutsana kemudian melesatkan anak pahanya.
Anak panah itu melesat secepat kilat dan menancap amat dalam di tembok kota
Ubullah tak jauh dari Mutsana. Jabal memasang lagi anak panahnya kemudian menembakkannya
lagi ke tembok. Anak panah yang kedua menancap dalam tak jauh dari anak panah
yang pertama. Mutsana meraih anak panah pada tembok itu kemudian menaikinya.
Dia mendaki tembok kota Ubullah yang tinggi itu dengan menggunakan anak panah
yang dijajarkan Jabal sebagai anak tangga. </p>



<p>Setiap kali Mutsana menaiki sebatang anak panah, Jabal
menembakkan anak panah lagi yang menancap di atasnya, kemudian Mutsana meraih
anak panah itu untuk mendaki tembok. Tak perlu banyak menghabiskan waktu,
Mutsana segera menjejak puncak tembok. Dia segera berlutut untuk menyamarkan
keberadaannya. Dia membuka tas kain di punggungnya untuk mengambil sesuatu. Jabal
dengan cepat membongkar crossbow itu menjadi bagian-bagian terpisah sebagaimana
semula dan melapisinya lagi dengan kain tebal. </p>



<p>Diikatnya crossbow itu dan disandangnya melintang di
bahunya. Cepatcepat dia berlari menuju tembok dan mendaki tembok melewati barisan
anak panah yang dia tancapkan di tembok seperti tangga. Tak perlu menghabiskan banyak&nbsp; waktu, Jabal telah hadir di dekat Mutsana di puncak
tembok. “Kau turun duluan,” bisik Mutsana, yang ternyata telah menyiapkan
seutar tali yang dia ulurkan ke bawah. </p>



<p>Dia mengikatkan tali itu kepada anak panah yang tertancap paling
atas dan memeganginya agar Jabal bisa turun lebih dulu. Jabal menaati perintah
Mutsana dan dengan hati-hati dia menggenggam tali itu erat-erat, kemudian
menyusuri tembok sambil berpegangan kepada tali. Setelah Jabal tiba di bawah,
giliran Mutsana menyusul. Mereka sudah berada di bagian dalam kota Ubullah. Bayang-bayang
tembok menyamarkan keberadaan mereka. Apa yang mereka lihat di hadapan mereka
adalah salah satu sudut kota Ubullah. Rumah-rumah penduduk berderet-deret di
sana, sepi dan lengang, sebab malam telah cukup larut. </p>



<p>Mereka cepat-cepat membuka tas kain yang merek sandang dan
mengeluarkan sehelai jubah serta serban. Mereka melapisi pakaian mereka yang
hitam-hitam dengan jubah. Mutsana berjubah warna merah, Jabal mengenakan jubah
warna putih. Mereka melepas bandana hitam mereka dan menggantinya dengan
serban. “Sekarang kita cari tempat persembunyian,” bisik Mutsana. “Kau kenal kota
ini, di mana baiknya kita bersembunyi?” </p>



<p>“Di dekat sini ada puing-puing sebuah ramai yang sudah lama
diabaikan, lebih baik kita bersembunyi di sana,” kata Jabal. Mereka berjalan
cepat dan sebisa mungkin menghindari cahaya dan keramaian. Tak lama kemudian
mereka telah tiba di tempat yang mereka tuju. Sebuah tempat persembunyian yang
amat tepat untuk menyusun langkah selanjutnya. Bersambung </p>



<p>Follow @sayfmuhammadisa </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-04/">Derap Rantai eps 04</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-eps-04/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3792</post-id>	</item>
		<item>
		<title>DERAP RANTAI [EPISODE 1]</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-1/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-1/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 May 2018 22:34:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=3606</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah fiksi-sejarah Matahari terik memanggang Semenanjung Arabia. Pada masa itu, ada sebuah negara yang baru saja&#160; berkembang di sana, Khilafah Islamiyah. Dia yang pertama kali mendirikan negara itu adalah seorang nabi, Muhammad saw. Ketika dia wafat dengan berkalang kemuliaan, para sahabatnya melanjutkan kepemimpinan negara itu dengan penuh kemuliaan. Zaman dan sejarah kelak akan mencatat semua &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-1/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">DERAP RANTAI [EPISODE 1]</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-1/">DERAP RANTAI [EPISODE 1]</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah fiksi-sejarah</p>
<p>Matahari terik memanggang Semenanjung Arabia. Pada masa itu, ada sebuah negara yang baru saja&nbsp; berkembang di sana, Khilafah Islamiyah. Dia yang pertama kali mendirikan negara itu adalah seorang nabi, Muhammad saw. Ketika dia wafat dengan berkalang kemuliaan, para sahabatnya melanjutkan kepemimpinan negara itu dengan penuh kemuliaan. Zaman dan sejarah kelak akan mencatat semua jejak yang telah mereka buat. Milyaran umat manusia di dunia akan mengikuti langkah yang mereka ambil. Penerus kepemimpinan sang Nabi di dalam negara yang diberkahi itu adalah sahabatnya sendiri, Abu Bakar.</p>
<p>Hari itu Abu Bakar sedang memimpin sebuah sidang yang dihadiri oleh para penasihatnya, para sahabat Nabi. Siang itu hadir pula Umar bin Khathab, orang yang selalu berseberangan dengan setan; Abdurrahmah bin Auf, saudagar tawadhu dengan sentuhan tangan emas; Usman bin Affan, lelaki pemilik dua cahaya mata; dan Ali bin Abi Thalib, gerbang ilmu sang Nabi. Mereka semua berkumpul di Saqifah bani Saidah.</p>
<p>Sidang berjalan agak alot hari itu, sebab banyak masalah yang harus mereka bicarakan.</p>
<p>“Orang-orang murtad ini memang merepotkan,” kata Abu Bakar, kegundahan menyelubungi hatinya, “belum lagi semua ini selesai, sudah muncul nabi-nabi palsu.”</p>
<p>“Insyaallah Khalid akan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik,” Umar menatap wajah Abu Bakar, “Khalifah jangan khawatir, Allah akan menolong, insyaallah.”</p>
<p>“Insyaallah,” sahut Abu Bakar.</p>
<p>“Kecepatan dan kesigapan Khalid dalam memimpin angkatan perang sudah sama-sama kita lihat, dengan modal itu aku rasa Khalid akan mampu menyelesaikan semuanya dengan baik.”</p>
<p>Tak aneh jika munculnya kalangan orang-orang murtad dan makin menggilanya orang-orang yang mengaku nabi sangat menggusarkan hati Khalifah Abu Bakar. Sebab dialah yang paling bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada umat ini. Khalifah laksana penggembala bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai petanggungjawaban oleh Allah atas gembalaannya itu. Dan Abu Bakar paham betul semua itu.</p>
<p>Di tengah-tengah sidang yang hangat di Saqifah bani Saidah itu datanglah seorang lelaki yang menunggang seekor kuda yang gagah, dia adalah Mutsana bin Harits. Mutsana dikawal oleh prajurit berkuda sebanyak dua puluh orang. Debu padang pasir beterbangan karena derap langkah kedatangan rombongan berkuda itu. Di hadapan gerbang Saqifah bani Saidah Mutsana menarik kuat-kuat tali kekang kudanya untuk menghentikan langkah kuda yang terpacu cepat itu. Dengan pedang masih tersemat di pinggang dia melompat turun dari punggung kudanya dan bergegas masuk.</p>
<p>“Assalamualaikum,” kata Mutsana, tangannya terangkat ketika dia mengucapkan salam.</p>
<p>Seluruh orang penting yang sedang duduk di dalam menyahut salam Mutsana. Dengan hampir bersamaan mereka bangkit dan menghampiri kedatangan lelaki gagah itu.</p>
<p>“Mutsana saudaraku,” Khalifah Abu Bakar merentangkan tangannya dan segera memeluk erat tubuh Mutsana. Seluruh sahabat pun tersenyum dan memeluk Mutsana bergiliran. Sebuah ikatan persaudaraan yang indah yang hanya ada di dalam Islam.</p>
<p>“Duduklah, duduk,” Abu Bakar memersilakan, “perintahkan juga seluruh prajuritmu masuk agar dihidangkan minuman untuk kalian semua.”</p>
<p>Mereka semua duduk dalam perasaan hati yang sedikit terobati karena kehadiran Mutsana bin Harits. Mereka telah mengetahui, kedatangan Mutsana adalah juga kedatangan sebuah kabar gembira.</p>
<p>“Alhamdulillah aku bisa kembali ke Madinah dengan selamat dan tidak kurang suatu apa,” kata Mutsana. “Ini semua berkat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan juga karena kebijaksanaan Khalifah serta para sahabat semua.”</p>
<p>“Alhamdulillah wallahu akbar,” Umar memuji sambil mengangkat tangannya lalu mengusapkannya ke wajahnya.</p>
<p>Senyum menghiasi seluruh wajah sahabat nabi yang teduh itu. Hati mereka berzikir kepada Allah dan lidah mereka selalu basah dengan kalimat-kalimat tayyibah. Merekalah generasi yang diridhoi dan meridhoi Allah.</p>
<p>“Bagaimana kabar yang kau bawa, wahai saudaraku Mutsana?” Abu Bakar sudah tidak sabar.</p>
<p>“Alhamdulillah, Khalifah,” jawab Mutsana, “pasukan kaum muslim telah berhasil merebut kota-kota di daratan Iraq, di sekitar perbatasan Khilafah Islam dengan Persia. Kota-kota itu kini telah berada di bawah kekuasaan Islam dan seluruh penduduknya telah berada di bawah perlindungan Islam.”</p>
<p>“Kota-kota apa saja yang telah berhasil kita rebut itu?” Tanya Usman.</p>
<p>“Seluruh kota yang terletak di selatan al Hirah telah berhasil kita taklukkan, Khalifah. Pasukan Persia tidak sanggup menghadapi gempuran kami yang cepat dan mematikan.”</p>
<p>“Alhamdulillah, semoga Allah merahmati dan memberikan kebaikan yang banyak kepadamu dan seluruh pasukan kaum muslim.” Doa Abu Bakar. Raut wajahnya yang semula keruh kemudian berubah menjadi bening dan segar, senyuman menghiasinya.</p>
<p>“Bagaimana pendapat sahabat sekalian dengan kabar yang dibawa Mutsana ini? Semoga Allah memudahkan semua urusan kita.” Abu Bakar melayangkan pandangannya kepada para sahabat yang hadir di Saqifah bani Saidah.</p>
<p>“Allah telah memudahkan kita untuk meluaskan kekuasaan Islam, dan Allah pasti akan memenangkan kita,” kata Ali bin Abi Thalib. “Kurasa saat inilah waktu yang tepat untuk menghantam Persia. Persia adalah salah satu penghalang utama dakwah Islam di dunia ini. Insyaallah kita akan meraih kemenangan karena Rasulullah telah menjanjikan bahwa Persia akan tercabik-cabik karena dahulu Kisra pernah mencabik-cabik surat Rasulullah.”</p>
<p>“Insyaallah,” Usman menimpali, “kabar dari Rasulullah adalah kabar kemenangan bagi kita. Khilafah Islam akan menguasai apa yang dahulu pernah dikuasai oleh Kisra.”</p>
<p>“Walaupun begitu tetaplah kita tidak boleh meremehkan kekuatan musuh,” pendapat Abdurrahman bin Auf, “Persia tetaplah sebuah negara besar, jika kita salah melangkah nanti merekalah yang mengambil keuntungan dari itu semua. Aku ingin menyampaikan agar kita mempersiapkan penaklukan ini dengan matang. Tahap persiapan amatlah penting, wahai Khalifah.”</p>
<p>“Aku sependapat dengan sahabat sekalian,” terkandung semangat yang menggebu di dalam suara Abu Bakar. “Insyaallah kemenangan kita sudah disabdakan oleh Rasulullah dahulu, hanya saja untuk meraih semua itu persiapan kita mestilah matang. Baiklah, kita semua sepakat untuk memfutuhat Iraq dan menghadapi Persia. Semoga Allah memudahkan kemenangan kita, insyaallah. Sebagai langkah pertama, aku tugaskan kepadamu Mutsana, untuk menyusup ke wilayah Persia yang terdekat dengan pebatasan kita, terutama ke al Hirah. Perintah detil untuk misimu ini akan kau dapatkan dalam bentuk surat yang akan kau terima nanti sore.”</p>
<p>“Siap!” Mutsana mengangguk dengan penuh semangat. Adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan menerima misi dari Khalifah kaum muslim. [sayf]</p>
<p>Bersambung…</p>
<p>Follow @sayfmuhammadisa</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-1/">DERAP RANTAI [EPISODE 1]</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3606</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
