Majalah Remaja Islam Drise

Bulan sabit di medan perang

islam punya orang-orang hebat yang  amat menakjubkan di sepanjang sejarahnya. Di bidang militer, sosok yang  paling menonjol adalah, tak lain dan tak bukan, Khalid bin Walid. Ia adalah seorang jenderal besar yang telah membawa pasukan Islam memenangkan berbagai pertempuran.

Sehingga Rasulullah menggelarinya “Pedang Allah yang Terhunus” (Sayfullah al-Maslul), dan gelar ini bukan gelar omong kosong.  Prestasi besar Khalid bin Walid bukan cuma dikagumi oleh kaum Muslim, tetapi juga oleh orang kafir. Zahid Ivan Salam, dalam sebuah karyanya, mengatakan bahwa seorang Jenderal Nazi Jerman, Erwin Rommel, mencontek strategi perang Khalid dan itu membuatnya selalu menang dalam pertempuran melawan sekutu di front Afrika.

Di edisi ini D’Rise pengen ngebahas salah satu strategi perang Khalid bin Walid yang diterapkannya di Perang Walaja melawan Persia. Strategi ini biasa disebut taktik ‘Bulan Sabit’. Perang Walaja terjadi pada bulan Mei 633 Masehi di sebuah daerah bernama Walaja (sekarang Irak). Waktu itu jumlah pasukan Islam hanya 15.000 prajurit, sementara jumlah pasukan Persia lebih banyak tiga kali lipatnya. Pasukan Persia dipimpin oleh seorang jenderal bernama Andarzaghar, pasukan Islam tentu saja dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Andarzaghar dengan pongah sesumbar bahwa dia akan mengalahkan pasukan Islam. Dia menetapkan sasaran  untuk tiba di Walaja lebih dahulu daripada pasukan Islam. Sayangnya, pasukan Persia bergerak amat lambat karena membawa peralatan perang yang berat. Pasukan Islam mendahului pasukan Persia tiba di Walaja.

Berdasar informasi dari agen rahasia yang disebar oleh Khalid bin walid, diketahuilah bahwa pasukan Persia berjumlah lebih banyak dari pasukan Islam, maka Khalid pun memasang strategi. Ia memerintahkan pasukannya berkemah di sekitar Walaja sambil terus mengawasi medan. Akhirnya terlihatlah pasukan Persia datang berduyun-duyun dengan seluruh peralatan perang mereka yang berat. Lokasi perang Walaja ini adalah sebuah padang rumput yang luas, yang berada di antara dua lereng bukit yang tingginya 20 sampai 30 kaki.

Saat Khalid melihat pasukan Persia sudah memasuki medan perang, ia menyaksikan bahwa kebanyakan pasukan Persia adalah infanteri (pasukan jalan kaki), dan jumlah kavaleri (pasukan berkuda) Persia jauh lebih sedikit daripada pasukan kavaleri Muslim. Jumlah kavaleri Muslim adalah 5.000 personil, dan Khalid membagi pasukan ini menjadi dua detasemen.  Pada malam sebelum pertempuran, Khalid memerintahkan kedua pasukan berkuda ini untuk bergerak ke belakang lereng bukit itu.

satu detasemen di belakang bukit sebelah kanan, dan sisanya di belakang lereng bukit sebelah kiri. Khalid menempatkan pasukan berkudanya di belakang barisan pasukan Persia tanpa sepengetahuan mereka. Khalid memerintahkan mereka untuk tetap bersembunyi di belakang kedua lereng bukit itu dan hanya menyerang jika diberi tanda. Pertempuran pun dimulai. Andarzhagar menerapkan strategi bertahan pada awal peperangan itu.

Dia amat percaya diri dengan kekuatan pasukannya, dan dia berharap pasukan Islam akan cepat kehabisan tenaga dan kelelahan. Barulah setelah itu dia akan melancarkan serangan balasan dan menghancurkan pasukan Islam sekaligus. Khalid memerintahkan pasukannya untuk berhadap-hadapan dengan pasukan Persia dan menyerang dengan sengit.

Mereka berjihad di jalan Allah dengan gigih. Benar saja, pasukan Persia punya pertahanan yang cukup kuat, walaupun pasukan Islam terus menekan, mereka tetap bisa bertahan. Maka tiba-tiba Khalid memerintahkan pasukannya untuk mundur perlahan-lahan.

Bagian tengah pasukan Islam pun mundur, dan terus mundur, hingga perlahan-lahan bentuk barisan pasukan Islam jadi melengkung seperti bulan sabit (karena yang diperintahkan mundur hanya bagian tengah saja, pasukan sayap diperintakan untuk tetap mempertahankan posisinya, dan bahkan meluaskan jangkauan). Andarzaghar melihat pasukan Islam mundur, dan dia seolah menyaksikan kesempatan emas. Dia melancarkan serangan umum untuk mengejar pasukan  Islam dan menghancurkannya sekaligus.

Pasukan Persia pun mengejar pasukan Islam. Saat itulah pasukan Persia masuk ke dalam jebakan pasukan Islam. Dengan semakin dalam mengejar pasukan Islam, Pasukan Persia makin terjebak di dalam lengkungan berbentuk bulan sabit yang dibuat pasukan Islam, sehingga mereka hampir terkepung oleh pasukan Islam. Saat itulah Khalid memberi tanda kepada pasukan kavaleri yang berada di balik kedua bukit itu.

Sekonyong-konyong pasukan kavaler Muslim bergerak dengan sangat cepat dari balik bukit dan memukul bagian belakang pasukan Persia. Formasi bulan sabit itu pun ditutup dengan datangnya pasukan kavaleri Muslim dari balik bukit, membuat pasukan Persia terjebak dalam lingkaran pasukan Muslim. Mereka dikelilingi pasukan Muslim dan tidak ada lagi tempat melarikan diri.

Saat itulah pasukan Persia digempur dan dihabisi. Dan kemenangan pun kembali diraih para kesatria Muslim. Khalid bin Walid kembali berhasil membawa pasukan Islam pada kemenangan, namun mereka yakin bahwa semua ini adalah karunia Allah ‘azza wajalla.[]