<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Majalah Drise, Author at Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/author/admindrise/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Jul 2020 06:08:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Cara Menenangkan Hati</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2020 06:08:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konsul Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4615</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamu &#8216;alaikum Wr.Wb. Mbak, akhir-akhir ini hati saya galau, gelisah tidak tahu kenapa. Saya sudah coba refreshing dengan jalan-jalan, rekreasi, tapi tetap saya merasa gelisah. Gimana menghilangkan kegelisahan ini? (Wafa, Kalsel) Wa&#8217;alaikumussalam Wr.Wb. Dik Wafa yang baik, Hati merupakan karunia yang diberikan &#160;Allah SWT kepada setiap hamba-Nya. Dengannya Kita dapat merasa senang, bahagia, sedih, kecewa, &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Cara Menenangkan Hati</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum Wr.Wb.</em></p>



<p><em>Mbak, akhir-akhir ini hati saya galau, gelisah</em></p>



<p><em>tidak tahu kenapa. Saya sudah coba refreshing</em></p>



<p><em>dengan jalan-jalan, rekreasi, tapi tetap saya</em></p>



<p><em>merasa gelisah. Gimana menghilangkan</em></p>



<p><em>kegelisahan ini? (Wafa, Kalsel)</em></p>



<p>Wa&#8217;alaikumussalam Wr.Wb.</p>



<p>Dik Wafa yang baik, Hati merupakan karunia yang diberikan &nbsp;Allah SWT kepada setiap hamba-Nya. Dengannya Kita dapat merasa senang, bahagia, sedih, kecewa, bangga dan lain sebagainya. Dengannya pula kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.</p>



<p>Dalam kehidupan sehari hari kita sering dilanda rasa gelisah dan cemas akibat tekanan hidup dan berbagai masalah yang menimpa. Saat gelisah berarti hati Kita merasa tidak tentram, merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, dan cemas. Kegelisahan terjadi karena adanya keridaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang sesungguhnya. &nbsp;</p>



<p>Kadangkala seseorang dilanda kecemasan dan kekuatiran dengan penyebab yang tidak jelas, tidak diketahui atau tidak disadarinya. Kegelisahan yang meliputi seseorang sering mengganggu aktifitasnya.</p>



<p>Saat ia gelisah, akan menjadikannya tidak bisa konsentrasi sepenuh hati mengerjakan sesuatu, bahkan bisa jadi tugasnya terbengkalai.</p>



<p>&nbsp;Dik Wafa yang baik, Hal pertama ketika Kita mengalami &nbsp;kegelisahan adalah mencari tahu penyebab kegelisahan kita. Jika Kita telah menemukannya, maka hilangkanlah penyebab tersebut. Semisal, Kita gelisah sebab berkata kasar ke orang tua, maka setelah menyadari sebab kegelisahan Kita, segeralah untuk meminta maaf kepada mereka.</p>



<p>Terkadang Kita telah menyadari sebab kegelisahan Kita, akan tetapi terasa tidak kuasa untuk menghadapi dan menyelesaikan cobaan yang menjadi sebab kegelisahan.&nbsp;&nbsp; Dalam kondisi ini bersabarlah. <em>“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”</em> (Qs. Al-Baqarah 153).</p>



<p>Sabar dapat menenangkan hati, dan menstabilkan pikiran akibat beban yang berat. Adukan semua masalah hanya kepada Allah SWT, karena Dialah sebaik-baik penolong bagi hamba-Nya. &nbsp;Dik Wafa yang baik, &nbsp;Senantisalah berpikir positif (<em>positive </em>&nbsp;<em>thinking</em>).</p>



<p>Hal ini akan membantu Kita mengatasi rasa gelisah yang sedang melanda. Dengan berpikir positif, maka segala kesulitan dan masalah yang ada akan lebih mudah untuk dihadapi. Berpikirlah positif,&nbsp; akan selalu ada kemudahan di setiap kesulitan.</p>



<p>Yakinlah bahwa Allah SWT memberikan ujian pada Kita untuk menguji keimanan Kita, dan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, serta pasti dapat Kita lalui.</p>



<p>&nbsp;<em>“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” </em>(Qs Al-Insyirah 5-6). &nbsp;</p>



<p>Dik Wafa yang baik, Ketika kegelisahan menyelimuti hati, &nbsp;mendekat pada Allah SWT adalah cara yang paling tepat untuk mengatasinya. Mendekat kepada Allah SWT, yang menciptakan Kita dan mengurus seluruh keperluan hamba-Nya. Mendekat kepada-Nya yaitu dengan senantiasa mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, termasuk memperbanyak ibadah ruhiyah.</p>



<p>Bisa dengan meningkatkan kualitas shalat wajib Kita, menambah shalat sunah, membaca Al Qur&#8217;an, membasahi lisan, hati dan perbuatan dengan berdzikir.&nbsp;</p>



<p><em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram”</em> (Qs Ar-Ra&#8217;du 28).</p>



<p>Itulah beberapa hal yang bisa Kita lakukan untuk mengatasi kegelisahan. Semoga hati Kita selalu dalam ketenangan, karena sesungguhnya Allah bersama kita.  Allahumma aamiin.. []</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4615</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2020 06:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bukamata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4610</guid>

					<description><![CDATA[<p>Anak sekarang sibuk main gadget melulu, deh!” “Ngapain, sih, kamu tiap detik kerjaannya cuma ngecek chat sama media sosial?&#8221; Eits,,.jangan baper ya. Sebagai orangtua, saya sering dapat keluhan seperti di atas dari ortu yang punya &#160;anak remaja. Nggak cuman ayah dan ibunya, terkadang kakek-nenek, ortu, atau kakaknya juga ikut-ikutan ngomel. Gimana nggak, hari gini remaja &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Anak sekarang sibuk</em></strong></p>



<p><strong><em>main gadget melulu, deh!”</em></strong></p>



<p><strong><em>“Ngapain, sih, kamu tiap detik</em></strong></p>



<p><strong><em>kerjaannya cuma ngecek chat</em></strong></p>



<p><strong><em>sama media sosial?&#8221;</em></strong></p>



<p>Eits,,.jangan baper ya. Sebagai orangtua, saya sering dapat keluhan seperti di atas dari ortu yang punya &nbsp;anak remaja. Nggak cuman ayah dan ibunya, terkadang kakek-nenek, ortu, atau kakaknya juga ikut-ikutan ngomel.</p>



<p>Gimana nggak, hari gini remaja dan gadget itu ibarat dua sejoli. Kemana aja selalu barengan. Kalo udah gitu, yang lain dicuekin. Makanya kalo ortu pada bete.&nbsp; Lagi diajakin ngomong, kepalanya nunduk bukan lantaran hormat.</p>



<p>Tapi lagi asyik updet status. Hadeuuh..! Ya emang gitulah potret kecil ukuran 2 x 3 dari generasi millenial. Sebagian besar hidup mereka dihabiskan di dunia maya daripada dunia nyata. Eksistensi mereka begitu massif dengan mengupload puluhan <em>selfie</em>, foto makanan, dan lokasi liburan eksotis di sosmed mereka setiap minggu.</p>



<p>Eksis abis! <em>Btw, </em>udahtahu generasi millenial kan? Hah, belum?! Hadeuh&#8230;#tepokjidat. Kalo gitu kita kenalan dulu deh dengan generasi millenial. Biar bacanya nyambung. Yuk! <strong>Generasi</strong></p>



<p><strong>Millenial adalah&#8230;</strong></p>



<p>Ada banyak definisi tentang &nbsp;karakter Generasi Millenial yang biasa disebut millenials, tetapi yang dipakai dalam tulisan ini adalah definisi versi Strauss dan Howe (2004). Menurut definisi Strauss dan Howe, Generasi Millenial adalah mereka yang lahir tahun 1982-2004 (milenium), sehingga menjadi remaja dan dewasa di era 2000-an.</p>



<p>Termasuk kamu dong, ya? ± Pada tahun 2014, lembaga Crowd DNA mengadakan survei <em>online</em> terhadap 1,000 anak muda usia 13-24 tahun di Indonesia. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa teknologi benar-benar merevolusi cara anak muda saling terhubung. Sekitar 90% dari anak muda yang disurvei tersebut mengaku menggunakan teknologi untuk terhubung dengan teman-temannya dan 78% mengaku menggunakan media sosial tiap hari.</p>



<p>Pastinya! Anak-anak muda Indonesia terbukti memakai <em>smartphone</em> seharian dan 84% dari mereka mengaku nggak bisa keluar rumah tanpanya. Mereka lebih suka “nongkrong” di dunia maya (55%) daripada di mall (47%) atau kafe (42%) dan mereka punya rasa <em>Fear of Missing Out</em> (FOMO) alias takut nggak update atau ketinggalan &nbsp;informasi kalau nggak terhubung dengan internet. &nbsp;</p>



<p>Masih menurut sebuah studi yang dilakukan Crowd DNA untuk Facebook di 2014, pada 11.000 remaja dari 13 negara, termasuk Indonesia ditemukan bahwa remaja Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok Generasi Millenial yaitu <em>HyperConnected, Architects, dan Explorers</em>.</p>



<p>Kehidupan generasi <em>HyperConnected</em> (usia 13-15 tahun) berkisar antara keluarga dan teman-teman dan teknologi terjalin dalam setiap bidang tunggal kehidupan mereka. Kelompok ini menempatkan nilai tertinggi pada media sosial dan perannya dalam kehidupan&nbsp; mereka.</p>



<p>Sementara kelompok <em>Architects</em> (usia 16-19 tahun) adalah kelompok yang bergairah tentang pendidikan dan mulai berpikir tentang masa depan dan tujuan hidup mereka. Mereka adalah kelompok yang paling terbuka untuk berbagi rincian kehidupan sehari-hari mereka. Sedangkan Explorers (usia 20-24 tahun) yang menggunakan teknologi lebih dari sekedar sarana untuk tetap berhubungan dengan teman dan keluarga, tetapi juga sebagai jalan untuk belajar tentang penyebab dan budaya global saat mereka memasuki usia dewasa.</p>



<p>Mereka paling banyak terlibat dengan brand dan konten dari brand. Nggak heran kalo Millenials selalu dicari dan didambakan oleh para pemasar &nbsp;dan brand. Lantaran generasi ini selalu terhubung, berubah-ubah tetapi memberi pengaruh sebagai penentu tren yang dapat membuat atau menghancurkan brand. Kebayang kan kalo mereka udah pada nyerocos di dunia maya tentang pengalaman buruknya pakai sebuah brand, viral!</p>



<p><strong>Konsumtif, Digital, Anti Sosial</strong></p>



<p>Millenials hidup di era digital &nbsp;dengan segala kecanggihan teknologinya. Dari urusan pertemanan hingga pekerjaan, mereka sangat mengandalkan gadget dan internet untuk tetap terhubung satu sama lain. Sayangnya, generasi yang lebih tua sering mencap para millennials dengan <em>stereotype</em> yang sama, yaitu malas dan narsis! Benarkah? Mendingan kita intip yuk ciri-cirinya.</p>



<p><em>Gaya Hidup Digital </em>Millenials memiliki karakteristik &nbsp;yang khas. Lahir di zaman TV sudah berwarna, flat, LED, dan memakai <em>remote </em>dengan sajian siaran tv berlangganan dengan bejibun channel informasi, olahraga dan hiburan. Sejak masa sekolah, mereka juga sudah terbiasa menggunakan <em>handphone</em>.</p>



<p>Bahkan tiap keluar edisi terbaru, mupeng pengen ganti <em>smartphone </em>yang super canggih dan mumpuni. &nbsp;Internet menjadi kebutuhan pokok Millenials. Mereka berusaha untuk selalu terkoneksi di manapun dan kapanpun. Eksistensi sosial ditentukan &#8216;prestasinya&#8217; di dunia maya. Mulai dari jumlah <em>follower</em> dan <em>like</em>, punya tokoh idola, hingga ikut latah cantumin <em>#hashstag</em> yang lagi viral.</p>



<p>Pokokya updet banget! Wajar kalo generasi <em>millennial</em> juga menghabiskan hidupnya hampir senantiasa <em>online</em> 24/7. Menurut riset Social Lab, 58 &nbsp;persen generasi <em>millennial</em> lebih rela &nbsp;kehilangan indra penciuman, dari pada akses terhadap teknologi. Generasi <em>millennial</em> lebih suka mendapat informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti untuk selalu <em>up-to-date</em> dengan keadaan sekitar.</p>



<p>Mereka akan lebih memilih tidak memiliki akses ke TV, dibandingkan akses ke ponsel. Komunikasi yang berjalan pada orang-orang generasi <em>millennial</em> sangatlah lancar. Namun, bukan berarti komunikasi itu selalu terjadi dengan tatap muka, tapi justru sebaliknya.</p>



<p>Banyak dari kalangan <em>millennial</em> melakukan semua komunikasinya melalui <em>text messaging </em>atau juga <em>chatting</em> di dunia maya, dengan membuat akun yang berisikan profil dirinya, seperti Twitter, Facebook, hingga Line. Akun media sosial juga dapat dijadikan tempat untuk aktualisasi diri dan ekspresi, karena apa yang ditulis tentang dirinya di situ adalah apa yang akan semua orang baca.</p>



<p>Jadi, hampir semua generasi <em>millennial</em> dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi. <em>Konsumtif </em>Kepercayaan yang &nbsp;amat tinggi terhadap tingkat keamanan bertransaksi di dunia maya—plus menjamurnya <em>online shop</em>—bikin Millenials lebih konsumtif. Kadang-kadang, konsumtif BANGET.</p>



<p>Apalagi dengan kemudahan pembayaran non tunai alias cashless, mereka makin terhanyut dalam gaya hidup sophaholic. Tinggal pilih barang yang mau dibeli, gesek di kasir, beres. Praktis! Terbukti, menurut survei CROWD DNA, metode pembayaran favorit Millenials adalah kartu debit (38%). Pokoknya kartu debit menjadi pilihan utama, dibandingkan <em>e-bankin</em>g (5%), <em>mobile banking</em> (7%), ataupun &nbsp;uang elektronik (4%). <em>Egosentris </em>Millenials terbiasa mengutarakan &nbsp;pendapatnya di publik dengan bebas, entah itu pendapat positif, negatif, mendukung, ataupun menyerang. Cek aja komen di akun sosial media artis yang lagi kena kasus.</p>



<p>Dijamin rame komentar pro dan kontra. Mereka memang nggak ragu untuk ngeluarin uneg-unegnya dengan memuji, mencela, termasuk spammer alias jualan di publik, hihihi. Millennials dinilai cenderung cuek pada keadaan sosial, mengejar kebanggaan akan merk/<em>brand</em> tertentu padahal orangtuanya makan dua kali sehari saja sudah bersyukur. Pulang kuliah/ kerja nongkrong di Starb*cks, padahal di kosan hanya makan mie instan. Cuek aja, yang penting gaya. Yang penting eksis di media sosial.</p>



<p>Yang penting <em>follower</em>-nya banyak. Sekolah atau kuliah cuma jadi ajang pamer harta orang tua (untuk yang berpunya), dan jadi perjuangan untuk yang tipe BPJS.</p>



<p>Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita! Generasi kita juga dikenal cenderung idealis, egosentris, terlampau optimis dan tidak realistis. Saat terbentur masalah cenderung berpikir pendek, cari &nbsp;jalan pintas dan lari dari kenyataan sambil bernyanyi “lumpuhkanlah ingatanku&#8230;”</p>



<p><strong>Kontribusi Millenials</strong></p>



<p>Internet tidak hanya mengubah &nbsp;gaya hidup, tapi juga peradaban dan generasi. Melalui teknologi digital, generasi <em>millennial </em>tumbuh kreatif, berinovasi, dan membentuk ekonomi Indonesia.</p>



<p>Apalagi saat ini segala aktivitas selalu bersentuhan dengan internet. Mereka menemukan caranya sendiri untuk terhubung dan terkoneksi dengan orang lain lewat media sosial, seperti Twitter, Facebook, Path dan sebagainya.</p>



<p>Tidak ada lagi jarak, dan semua saling terkoneksi. Mereka merubah tatanan nilai dan gaya hidup selama ini menjadi serba digital. Dengan adaptasi teknologi, ide kreatif dan orisinil untuk mengakomodir semua aktivitas mereka jadi lebih mudah.</p>



<p>Muncullah berbagai inovasi gaya hidup digital yang revolusioner dan melahirkan sejumlah <em>startup</em> di Indonesia. Nadiem Makarim, yang juga merupakan bagian dari generasi millenial, membangun <em>startup</em> ojek <em>online </em>yang menjadi sebuah solusi di tengah macetnya ibukota Jakarta.</p>



<p>Tidak hanya itu, Gojek yang juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan para supir ojek, telah menciptakan tren baru di Indonesia, yang mana para <em>millennial</em> berlomba-lomba untuk menciptakan karya yang berdampak bagi masyarakat luas.</p>



<p>William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia, adalah salah satu yang menggerakkan perubahan di dunia <em>ecommerce</em>. Dimulai dengan mendapatkan investasi sebesar 100 juta dolar Amerika dari Softbank dan Sequoia, perusahaan investasi yang telah mendukung sejumlah perusahaan teknologi dunia seperti Apple, Google, Whatsapp, lalu William memimpin pasukan <em>millennial</em> di Tokopedia, untuk menciptakan nilai tambah bagi para penjual dan pelanggan Tokopedia.</p>



<p>Tidak hanya di perekonomian. Banyak perubahan yang dibawa oleh <em>millennials</em> menggunakan <em>platform</em> digital. Kitabisa.com yang digagas oleh Alfatih Timur bersama Vikra Ijas, misalnya membawa perubahan di ranah sosial.</p>



<p>Peristiwa pembakaran Masjid Tolikara pada saat shalat berjamaah Idul Fitri 2015, banyak menimbulkan keprihatinan di berbagai lapisan masyarakat. Berkat <em>platform crowdfunding</em> untuk sosial Kitabisa ini, Pandji Pragiwaksono berhasil mengumpulkan dana untuk membangun kembali masjid tersebut sebanyak Rp 300 juta hanya dalam waktu tiga hari. Jadi, nggak ada salahnya &#8216;kan Millenials berkutat dengan Internet dan media sosial? Karena potensi Millenials memang bisa berkembang pesat di sana.<em> Hobi surfing</em> di dunia maya juga nggak bikin Millenials kehilangan &#8220;akar&#8221; di dunia nyata, kok. Setuju?</p>



<p><strong>Saatnya Berkarya dan Berkontribusi!</strong></p>



<p>Nggak bisa dipungkiri,&nbsp; tiap generasi ada plus minusnya. Senior kita yang hidup di era generasi X atau baby &nbsp;boomers, ngerasa &nbsp;generasi mereka yang terbaik dan memandang sebelah mata generasi millenial. Boleh jadi, kita pun bakal melakukan hal yang sama terhadap junior kita kelak. Podo wae! Sebenernya nggak penting generasi mana yang terbaik. Lantaran beda generasi, beda lingkungan dan sarana kehidupan.</p>



<p>Nggak bisa dipukul rata. Yang penting, setiap generasi wajib berkontribusi. Berlomba-lomba jadi pelaku kebangkitan umat Islam di seluruh dunia, bukan hanya jadi penonton yang rusuh berkomentar di dunia maya tanpa kerja nyata. &nbsp;</p>



<p>Dan kita selaku Millenials, nggak usah baper kalo dibilangin generasi malas bin narsis oleh para pendahulu kita. Boleh jadi banyak temen-temen kita yang kelakuannya kaya gitu sebagai bawaan era digital. Nggak perlu kita capek membela diri. Yang harus kita lakukan adalah tunjukkan dengan berkarya dan berkontribusi. <em>Show, dont tell!</em> Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang? &nbsp;</p>



<p><em>Pertama</em>, mengenal Islam lebih dalam. Buat apa? Ish&#8230;ini penting banget tahu. Biar kita nggak gampang tergoda oleh kemaksiatan digital yang merajalela. Mulai dari content porno yang mudah diakses, upload foto narsis, atau omongan semau gue di sosial media. Kalo lagi sendiri, bisikan setan menemani, dengan kekuatan akidah kita bisa jaga diri. &nbsp;</p>



<p>Terlebih, agar tetap bisa terus berkontribusi untuk kebaikan, perlu mencari dorongan kuat yang bikin kita pantang menyerah. Itu bisa kita dapat dari dorongan akidah. Berkontribusi sampai nanti, sampai mati. Rasul mengingatkan, &nbsp;<em>“..Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”</em> (HR. Thabrani dan Daruquthni).</p>



<p><em>Kedua</em>, aktif berdakwah di sosial media. Seperti halnya kita, teman-teman sebaya juga pada aktif di sosial media. Ada yang curcol di timeline, narsis, hingga bisnis. Biar aktifititas online mereka nggak sekedar buang waktu, sodorin deh content dakwah yang kita share. Jangan takut kehabisan bahan dakwah. Follow aja akun-akun dakwah yang oke punya. Selain kita dapat ilmu, juga insya Allah banjir pahala juga dengan membagikan nasihat mereka. Oke?</p>



<p><em>Ketiga</em>, gali potensi. Hari gini, gampang banget kita cari ilmu dengan bantuan om google atau kepoin akun-akun bermanfaat di sosial media. Selagi masih muda, banyak kegiatan yang bisa kasih kebaikan buat masa depan kamu. Mulai cari tahu apa yang menjadi <em>passion</em>-mu yang bisa memberikan manfat pada lingkunganmu dan pada orangtuamu. Cari tahu, pelajari ilmunya, pahami polanya, praktekin biar keliatan hasilnya. Kita muda, kita enerjik, dan kita punya banyak ide untuk diwujudkan.</p>



<p>Driser, survei Crowd DNA juga menunjukkan bahwa Millenials adalah anak muda yang optimis. 92% dari anak muda yang disurvei merasa mereka bisa melihat sisi positif dalam setiap situasi, dan 86% yakin generasinya akan mengubah dunia. Karena itu, stop jadi remaja muslim yang labil. Mari mulai berkarya dan berkontribusi! [@Hafidz341]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4610</post-id>	</item>
		<item>
		<title>#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2020 03:45:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Prelude]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4606</guid>

					<description><![CDATA[<p>Isu yang menyangkut SARA alias Suku, Agama, Ras dan Antar golongan sensitif banget obrolannya di tengah &#160;masyarakat. Malah tak jarang, bisa memicu konfik saking sensitifnya. Makanya banyak yang sungkan ngomongin agama kalo udah dibawa isu SARA. Termasuk kampanye penolakan pemimpin kafir di ibukota negara, belakangan ini. &#160; Yup, tim sukses DKI 1 yang akan maju &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Isu yang menyangkut SARA alias Suku, Agama, Ras dan Antar golongan sensitif banget obrolannya di tengah &nbsp;masyarakat. Malah tak jarang, bisa memicu konfik saking sensitifnya. Makanya banyak yang sungkan ngomongin agama kalo udah dibawa isu SARA. Termasuk kampanye penolakan pemimpin kafir di ibukota negara, belakangan ini. &nbsp;</p>



<p>Yup, tim sukses DKI 1 yang akan maju lagi pada pilkada, gencar menghembuskan isu SARA guna mengerem dukungan umat Islam terhadap penolakan pemimpin kafir. Padahal jelas, selama ini isu SARA berkaitan dengan tindakan diskriminasi alias ketidakadilan terhadap pihak lain karena perbedaan SARA. Padahal jelas Islam melarang bersikap tidak adil kepada orang lain karena SARA. Allah swt berfirman:</p>



<p>&nbsp;<em>“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…”</em> [QS. Al Maa-idah 8]</p>



<p>Terkait penolakan terhadap pemimpin kafir kalo dikaitkan dengan isu SARA, ya salah alamat. Lantaran penolakan itu bagian dari keyakinan agama yang menjadi hak setiap warga. Dalam Islam, Allah mengharamkan kaum Muslim dipimpin oleh orang kafir, ini kesepakatan ulama, tanpa ada perselisihan, dalilnya jelas, penunjukannya pasti.</p>



<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, </em>&nbsp;<em>janganlah kamu menjadikan orang-orang Kafir sebagai pelindung [pemimpin] selain orang Mukmin” </em><strong>[QS. an-Nisa&#8217;: 144]</strong></p>



<p>Ketika Allah mengharamkan pemimpin kafir, Allah pasti juga memberi definisi, yaitu batasan dan penjelasan, tentang siapa dan kapan seseorang bisa menjadi kafir. Yang paling jelas, dalam surat Al-Bayyinah ayat 6, yang disebut Kafir yaitu 1) ahli kitab (yahudi, nasrani) dan 2) orang musyrik (selain ahli kitab, selain Muslim).</p>



<p>&nbsp;Jadi, isu tolak pemimpin kafir bukan didasari kebencian&nbsp; pada suku tertentu, ras tertentu, etnis tertentu atau bahkan agama tertentu. Menolak pemimpin kafir dasarnya adalah keterikatan seorang muslim kepada akidah Islam dan syariahnya, dimana Allah SWT telah melarang tegas kaum muslimin haram memilih pemimpim kafir. Setuju? &nbsp;</p>



<p>Ternyata Isu SARA ini diharapkan akan memalingkan kaum muslimin dari keterikatan pada syariah Islam dalam soal kepemimpinan, khususnya pemimpin bagi kaum muslimin harus seorang muslim. Dengan isu SARA, umat di takut-takuti seolah-olah jika memilih karena dorongan akidah dan ketaatan terhadap syariah dianggap rasis dan SARA. #TolakPemimpinKafir dianggap SARA? Yang Bener Aja..! [@Hafidz341]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4606</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pernikahan Dua Negara</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2020 07:36:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar dari Luar Negri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4602</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menikah dengan Bule, Dijamin Hidup Enak? &#160; Di zaman yang “katanya” sudah maju seperti ini, masih banyak orang yang berfikir kebelakang. Contohnya masih banyak yang berfikir menikah dengan bule dijamin akan hidup enak. Kadang suka gemes sama orang yang pola pikirnya seperti itu. Dulu pernah punya pengalaman pas di Pandeglang, suami berencana membelikan boneka kodok &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Pernikahan Dua Negara</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Menikah dengan Bule, Dijamin Hidup Enak? </strong>&nbsp;</p>



<p>Di zaman yang “katanya” sudah maju seperti ini, masih banyak orang yang berfikir kebelakang. Contohnya masih banyak yang berfikir menikah dengan bule dijamin akan hidup enak. Kadang suka gemes sama orang yang pola pikirnya seperti itu.</p>



<p>Dulu pernah punya pengalaman pas di Pandeglang, suami berencana membelikan boneka kodok untuk saya, tetapi menurut saya harganya masih bisa ditawar. Si abang penjual tiba-tiba nyeletuk “beli aja neng nggak usah ditawar, kan bule mah kaya-kaya”. Rasanya ingin saya colek pakai gegep. &nbsp;</p>



<p>Bule juga sama aja seperti kita, makanannya masih karbohidrat juga. Mereka fikir setiap harinya bule mengonsumsi emas. Mentang-mentang kulit putih, mata berwarna dan rambut pirang, jadi disamakan dengan bule Amerika yang gajinya pakai dollar. <em>But he is Turkish!</em></p>



<p>Dan orang Turki bukan orang Amerika! Lagian bule Amerika juga “enggak” semuanya kaya, ada gelandangan juga kok. Ini kok mikirnya semua bule kaya raya. &nbsp;Contoh lain, kalau si bule “pulang kampung” ke Indonesia. Nah rata-rata pada rame minta oleh-oleh.</p>



<p>Ini kebiasaan orang Indonesia banget! Pas suami ke Indonesia, yang ditanyain pertama kali “bawa oleh-oleh ga?” nanya kabar duluan ngapa. Lah suami juga belinya pake morat-marit, walaupun harga oleholehnya murah tapi kalo dibeli dalam jumlah banyak yaa tetep aja jatuhnya mahal. Kadang mikir kalo saya mudik nggak akan bawain oleh-oleh sekalian. &nbsp;Ini berbeda banget sama kebiasaan orang Turki kalau tahu kita mau berpergian.</p>



<p>Orang Turki biasanya mengucapkan “<em>iyi yolculuklar</em>”, kurang lebih artinya selamat&nbsp; menikmati perjalananmu. Dan sekedar info saja, orang Turki nggak pernah loh minta oleh-oleh sama yang berpergian (terutama di keluarga saya). Duh, <em>please</em> banget jangan terus menganggap bule itu hidup dengan gelimangan harta. Beberapa oknum iseng juga suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ketika si bule tidak tahu apaapa, mereka bisa nipu seenaknya.</p>



<p>Pas suami pertamakali ke Indonesia, ada porter &nbsp;yang nawarin bawain barang, suami kasih 50 ribu tapi dia minta 100 ribu. 50 ribu aja udah kebanyakan, kalo saya tahu, saya akan minta kembali uangnya dan cukup beri dia 5000 rupiah saja.</p>



<p>Bukannya saya pelit, saya hanya tidak bisa menerima “penipuan”. Kalo orangnya jujur, diberi 100 ribu juga kita “engga” rugi. Kalo nipu, simpatinya jadi hilang. Kalau dibiarkan terus nanti jadi kebiasaan. &nbsp;Di kampung juga masih banyak orang yang punya paham seperti itu. Ada beberapa tetangga yang nyeletuk <em>“enak dong Dea nikah sama bule, pasti banyak duitnya”</em>, duh pengen rasanya saya ajak <em>selfie</em> di puncak monas deh kayanya. &nbsp;</p>



<p>Beberapa cewek Indonesia juga ada yang <em>keukueuh sumekeuh</em> ingin menikah dengan bule. Alasannya biar hidup lebih makmur. Sampai-sampai tidak peduli si bule masih muda atau sudah kakek-kakek, yang penting berduit. Saya melihatnya miris. Jadi untuk mereka, harta adalah ukuran kebahagiaan. Padahal sejatinya belum tentu banyak harta menjamin kebahagiaan seseorang. Kalau iya, <em>Robbin William</em> nggak kan milih bunuh diri buat mengakhiri hidupnya. &nbsp;</p>



<p>Stop mikir semua bule kaya raya, itu pemikiran purba banget. Bule juga manusia, mereka makan nasi sama roti kayak kita &nbsp;juga. Roti dibikin dari gandum juga kan, bukan emas. Ya memang ada kok bule yang kaya raya, tapi tidak sedikit yang hidupnya biasa-biasa saja. Jadi intinya bule sama aja seperti orang Indonesia. Yang membedakan hanya fisik dan bahasanya.</p>



<p>Tidak semua orang kulit putih hidup serba mewah, tinggalkanlah warisan penjajahan dulu. Hanya karena bangsa Eropa yang pernah menjajah &nbsp;Indonesia adalah bangsa yang berduit jadi kita menyamaratakan mereka semua dengan generasi bule masa kini. &nbsp;Yang saya rasakan menikah sama bule ya begini. Saya jadi lebih mandiri karena semua dikerjakan sendiri. Orang Indonesia masih sanggup kan menyewa asisten rumah tangga.</p>



<p>Di sini sewa asisten rumah tangga mahal banget, hanya orangorang super tajir aja yang punya asisten rumah tangga. Menurut saya orang&nbsp; Indonesia malah&nbsp; lebih banyak yang kaya raya. Banyak yang punya mobil lebih dari satu, punya rumah pribadi, kontrakan&nbsp; menyebar dimana-mana, jalan-jalan ke mall terus, barang-barang di rumah <em>branded</em>&nbsp; semua, pakaian bagus dan lainnya. &nbsp;</p>



<p><strong>Pengalaman Mengajarkan suami Bahasa Indonesia </strong>&nbsp;</p>



<p>Alkhisah suami saya mengikuti tes untuk pendidikan master di salah satu universitas terkemuka di Ankara. Jurusan yang dia ambil adalah Pendidikan Bahasa Inggris dan Pelajaran Asia. Suami mengikuti tes untuk jurusan Pelajaran Asia.</p>



<p>Dia sangat optimis bisa lolos di jurusan ini. Karena dia bercerita ke semua penguji bahwa dia punya istri orang Indonesia. Indonesia dan Malaysia adalah negara Asia yang pernah dikunjungi. Ketika penguji bertanya bahasa Asia mana yang dikuasai, dengan mantap dia bilang Bahasa Indonesia.</p>



<p>Para penguji meminta sertifikat kemampuan berberbahasa Indonesia dari suami. <em>Jrengg..deg dag dur..!</em> Suami mengiyakan membawa sertifikat tersebut. &nbsp;Suami lalu meminta saya membuatkan sertifikat tersebut sesampainya di rumah.</p>



<p>Yaelah masbro, saya mana bisa buat sertifikat begitu. Harus dari lembaga resmi dengan tanda tangan penanggung jawab resmi pula. Akhirnya saya menawarkan alternatif mengikuti tes berbahasa Indonesia di kampus saya di Bandung.</p>



<p>Mungkin bisa saja sertifikat tersebut didapatkan secara <em>online</em>, tetapi ternyata tidak bisa saudara-saudara. Sertifikat tersebut harus didapatkan dengan datang ke tempat tes &nbsp;berbahasa Indonesia di &nbsp;negara Indonesia. Informasi tersebut didapatkan dari salah satu dosen saya yang sudah dekat sekali dengan saya. Kabar baiknya, sertifikat tersebut bisa didapatkan tanpa mengikuti kursus berbahasa Indonesia di lembaga resmi. &nbsp;</p>



<p>Akhirnya demi mempersiapkan diri dalam tes tersebut, suami meminta saya untuk menjadi guru pribadinya. Hari ini saya mulai mengajari suami bahasa Indonesia, beberapa menit berlangsung sangat menarik hingga akhirnya suami menanyakan beberapa pertanyaan yang saya sulit jawab karena terlanjur lupa alias karatan kelamaan banget nggak dipelari. Makin sadar, ternyata banyak ilmu yang sudah terlupakan.</p>



<p>Hampir setahun saya tidak belajar dan hampir setahun saya tidak mengajar juga. Rasanya ya malu, jelas-jelas pertanyaan tersebut jawabannya ada di bidang yang saya geluti selama kuliah 4 tahun. &nbsp;<em>Intermezzo</em>: Setelah belajar Bahasa Indonesia selama setahun penuh (<em>yang akhirnya saya harus ikhlas kembali membuka materi kuliah selama 4 tahun</em>), suami mencoba mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia yang diadakan oleh KBRI Ankara Turki.</p>



<p>Alhamdulillah keluar sebagai  juara. Hadiahnya adalah tiket pulang pergi ke Indonesia selama 5 hari, mengikuti upacara peringatan 17 agustus di Istana Negara serta kunjungan budaya ke Jakarta dan Jogjakarta bersama pemenang dari 19 negara lainnya. Alhamdulillah. Semoga pelajaran berharga ini, jadi bahan cerita kami kelak ke anak-cucu, aamiin. [Terima Kasih kepada Kak <strong><em>Dea Audia Kursun</em></strong> atas ceritanya kepada <strong>Majalah DRISE</strong>]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4602</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Muslimah Negarawan</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2020 07:59:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rekomended]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era modern ini makna kesuksesan seorang perempuan sangatlah sempit dan individual – ditentukan &#160;hanya oleh capaian materi, status atau sekedar gelar artifisial. Masyarakat semakin kehilangan gambaran bagaimana berdayanya peran perempuan dalam merangkai kesuksesan dan kemajuan kolektif masyarakat dan peradabannya. Wajar jika peran domestik perempuan sering dianggap peran yang biasa &#8211; bukanlah prestasi dan kesuksesan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Menjadi Muslimah Negarawan</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di era modern ini makna kesuksesan seorang perempuan sangatlah sempit dan individual – ditentukan &nbsp;hanya oleh capaian materi, status atau sekedar gelar artifisial. Masyarakat semakin kehilangan gambaran bagaimana berdayanya peran perempuan dalam merangkai kesuksesan dan kemajuan kolektif masyarakat dan peradabannya.</p>



<p>Wajar jika peran domestik perempuan sering dianggap peran yang biasa &#8211; bukanlah prestasi dan kesuksesan perempuan, karena lensa yang dipakai adalah lensa yang mikro individual.</p>



<p>Pernahkah anda membayangkan bahwa Islam sebagai sebuah tatanan nilai atau ideologi telah&nbsp; menjamin perempuan mencapai kesuksesan pribadinya sekaligus kesuksesan masyarakatnya secara bersamaan? Islam memberikan lensa unik dan sangat agung terhadap bagaimana sosok Muslimah yang berdaya itu, bagaimana kesuksesan sejati perempuan itu adalah juga kesuksesan generasi dan masyarakatnya. &nbsp;</p>



<p>Menjadi Muslimah Negarawan &#8211; adalah bentuk puncak kesuksesan yang tertinggi yang seharusnya memuncaki setiap cita-cita dalam setiap peran kaum Muslimah. Menjadi Muslimah negarawan juga bermakna berpegang teguh pada identitas sebagai Muslimah dan komitmen terhadap kewajiban utamanya sebagai <em>ummu wa robbatul bait, </em>kewajibannya dalam menuntut ilmu dan kewajibannya dalam &nbsp;melakukan dakwah serta perbaikan di tengah masyarakat. &nbsp;</p>



<p>Namun betulkah Muslimah bisa menjadi negarawan? Bukankah perempuan tidak boleh menjabat sebagai penguasa? Sesungguhnya anugerah akal pikiran yang sama dengan kaum laki-laki, akan menjadikan perempuan juga mampu memiliki kapasitas berfikir yang tinggi, bahkan yang tertinggi yakni pemikiran politik.</p>



<p>Meski Syariah Islam membatasi peran perempuan dalam politik &nbsp;pemerintahan bukan berarti kapasitas pemikiran dan kenegarawanannya dihambat dan dibatasi, lihatlah sosok bunda Aisyah ra dan sosok Khaizuran &#8211; wanita di antara tiga Khalifah.&nbsp; &nbsp;Penulisnya adalah</p>



<p><strong>Fika Monika Komara,</strong> seorang aktivis Muslimah, pegiat media, penulis, pemerhati geopolitik kawasan dan peneliti isu-isu Muslim di Timur Jauh. Ia bekerja di Kantor Media Pusat<strong> Hizb-ut Tahrir </strong>dan saat ini mengelola fanpage bernama</p>



<p><strong><em>Fareastern Muslimah </em>(Muslimah Timur Jauh) </strong>bersama akhwat lainnya dari Asia Tenggara yang didedikasikan menjadi <em>opinion maker</em> isu-isu Muslimah Asia Tenggara dan kawasan Timur Jauh.</p>



<p>&nbsp;Pernah menjadi staf peneliti di Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) dan staf pengajar lepas Hubungan Internasional di salah satu kampus di Jakarta, istri dari <strong>Ibnu Qasim</strong> ini adalah juga seorang blogger &nbsp;bernama</p>



<p><strong>Geospasial Muslimah </strong>(geostrategicpassion.blogs pot.com) &nbsp;yang concern pada isu geopolitik menjelajahi penjuru ruang spasial demi visi peradaban yang lebih baik untuk kaum Muslimah. Untuk mendalami <em>passion-</em>nya di bidang geostrategi dan cita-cita keilmuannya demi masa depan penerapan Islam di kawasan Asia Tenggara, saat ini ia tengah menempuh studi doktoralnya di UGM dalam bidang geografi maritim. &nbsp;</p>



<p>Walhasil buku ini akan menghidupkan visi politik dan memberi ruh dalam setiap peran Muslimah, berdasarkan refleksi dan pengalaman penulisnya baik sebagai penuntut ilmu, pegiat media dan ibu generasi dalam bingkai tanggungjawab terhadap umat dan dakwah.</p>



<p>Butir-butir pemikiran penulis diramu menjadi 3 kata kunci yang mewakili upayanya menerjemahkan profil Muslimah negarawan dalam visi keilmuan, visi pergerakan opini dan visi pembentukan generasi yang kemudian diolah menjadi trilogi visi bagi Muslimah.</p>



<p><strong>Trilogi ini akan memotivasi pembaca khususnya kalangan aktivis Muslimah yang ingin memuncaki setiap perannya dengan citacita tertinggi Islam dan kiprah terbaik bagi umat Muhammad Saw. Selamat membaca! []</strong>  </p>



<p>Profil Buku<br>Judul: Menjadi Muslimah Negarawan<br>Penulis : Fika Monika Komara<br>Penerbit : Granada Publisher<br>Dimensi: 15 X 23 cm, 165 halaman</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4599</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2020 05:09:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4596</guid>

					<description><![CDATA[<p>Drise jika naskah-naskahmu sering &#160;dikembaliin alias gagal total masuk ke penerbit, sedangkan kamu &#160;begitu ngebet bukumu pengen ada yang terbit, kagak ada salahnya nyoba jasa penerbit indie label alias indie publishing. Walah, apaan neh, ya? &#160;Indie publishing sebenernya kayak jasa penerbitan buku pada umumnya, tapi ga pake label alias kagak di bawah payung industri penerbitan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/">Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Drise jika naskah-naskahmu sering &nbsp;dikembaliin alias gagal total masuk ke penerbit, sedangkan kamu &nbsp;begitu ngebet bukumu pengen ada yang terbit, kagak ada salahnya nyoba jasa penerbit indie label alias indie publishing. Walah, apaan neh, ya?</p>



<p>&nbsp;Indie publishing sebenernya kayak jasa penerbitan buku pada umumnya, tapi ga pake label alias kagak di bawah payung industri penerbitan gede (perusahaan penerbitan mayor).</p>



<p>Trus juga, kamu bakal diminta ikutan berkontribusi extra dalam penerbitan bukumu itu, bisa berupa duit ataupun jasa. Pokoknya, kamu bakal dibikin ngerasa sibuk dengan bukumu yang terbit itu…secara kamu sendiri yang ngebet bukumu itu terbit, kan? Jadi, wajar dunk, ada perhatian lebih gitu lho, tapi “jadi baper”, ya?</p>



<p>Woles aja, dah! Penerbit indie beda banget sama penerbit mayor yang dimiliki oleh perusahaan penerbitan besar. Penerbit indie ga punya nama dan modal gede yang jadi magnet para penulis berlomba ngirim naskahnya.</p>



<p>Trus kalo penerbit mayor, bukubukunya juga pasti berISBN and berISSN, pegawainya aja punya spesialisasi masingmasing, ada editor, proofreader, layouter, designer cover, tim produksi, tim distribusi, tim promosi, tim marketing, etc yang semuanya bekerjasama bikin bukumu layak baca, layak terbit, layak mejeng di semua toko buku, and so pasti bikin performa penjualan bukunya terdongkrak.</p>



<p>Orangorang kreatif di penerbitan itulah yang mikir and ngerjain bukumu sampe ke para&nbsp; pembacanya. Kamu tinggal senyum aja nerima royaltynya tiap kwartal ato semester. Sedangkan penerbit indie, kamu harus ikutan kerja&#8230; eR I satu bilang, ”ayo kerja, kerja dan kerja?!” peace..</p>



<p>Selain itu, kalo bukumu diterbitkan penerbit mayor, bukumu bisa dicetak ribuan eksemplar agar dapat mensupply ratusan toko buku dalam jaringannya, bahkan bisa memasok hingga ribuan kios buku mungil di pelosok daerah karena mereka punya tim distribusi and sirkulasi yang tepercaya, plus bisa mejeng pula di website toko buku online.</p>



<p>Apalagi, kalo penerbit mayor itu bermain pula di website digitalbooks, mereka bisa jualan buku versi digitalnya. Waouw! Kalo di penerbit indie, jangan ngarep! Kecuali kalo kamu emang niat banget full kerja demi penerbitan bukumu itu, Brouw?!</p>



<p>Nah, ketauan kan, gimana kalo nerbitin buku di penerbit indie tersebut? Kamu pasti diminta untuk ikut berkontribusi. Lantaran penerbit indie modalnya kecil, minim tenaga redaksional, bahkan ga punya tim marketing yang benar-benar profesional. Mereka biasanya menerbitkan buku dengan oplag sedikit &nbsp;dan dipasarkan di komunitas terbatas pula.</p>



<p>Simpelnya, indie publishing lebih pada menyediakan jasa untuk menerbitkan naskahmu jadi buku. Mereka menerbitkan buku berdasarkan apa yang kamu pesan. Kalo kamu minta produknya lebih berkelas, tentu nilai jasanya juga akan ikutan naik.</p>



<p>Nah, disitulah kamu harus ikut berkontribusi extra, duit dan jasa! &nbsp;Tapi, kamu jangan berkecil hati dulu. D&#8217;riser tentu orang-orang cerdas and kreatif, kan? Kamu-kamu kudu tau juga, nerbitin buku di penerbit indie ada nilai positifnya juga lho.</p>



<p>Selain ngajarin kamu bekerja keras, ikut bertanggungjawab penuh sama kualitas performa bukumu, kamu juga bisa belajar mengelola penerbitan, secara kamu emang mantengin terus proses penerbitannya.</p>



<p>Kamu bisa belajar ngurus ISBN ke perpusnas, kamu bisa ikut ngitung hapepe alias harga pokok produksi, terus kalo kamu ngerasa mampu untuk ngedit, ngelayout, ngedesain, nyetak atopun ikutan ngejual bukunya&#8230;hayo jangan ragu ambil peranmu di situ biar bea produknya bisa kamu tekan and kamu bisa maenin harga jualnya di pasar. Mo contoh hebat soal indie publishing ini, ga Bro and Sist?</p>



<p>Kamu tahu Sayf Muhammad Isa, kan? Kalo ga kenal kebangetan dah, secara dia emang redaktur majalah ini juga! Nah, Bang Isa yang kondang dengan dwilogi Sabil yang diterbitin Mizan ini, mengawali karier kepenulisannya dengan menerbitkan buku secara indie label hingga penerbit mayor seperti Mizan dan Al-Fatih Press pun tertarik untuk minta tanda tangan Bang Isa agar naskahnya bisa di.re-publish sama mereka. Congrat&#8217;s!&nbsp;</p>



<p>&nbsp;<strong>Tips bekerjasama dengan indi Label</strong></p>



<p>Nah kini, saya mo berbagi tips bagi &nbsp;D&#8217;Riser, gimana kalo mo kerjasama nerbitin buku secara indie label: &nbsp;</p>



<p>1._ Kamu emang niat banget nerbitin buku, sedangkan naskahmu ga bisa diterbitin sama penerbit mayor; &nbsp;</p>



<p>2._ Pastiin juga, kamu punya modal lebih untuk itu, mulai duit, jasa atopun sdm yang bisa kamu kerahin untuk optimalisasi bukumu itu; &nbsp;</p>



<p>3._ Kamu juga kudu siap mempertanggungjawabkan performa bukumu itu, baik soal kemasan sampe pemasarannya; &nbsp;</p>



<p>4._ Siap-siap aja, jika penerbit mayor tibatiba ada yang tertarik me-republish&nbsp; atau bahkan mengakuisisi buku indie labelmu itu, bahkan bukan hanya penerbit yang tertarik, bisa jadi bukumu difilmkan oleh para sineas, why not gitu lho?; &nbsp;</p>



<p>5._ Jangan nekad nerbitin buku doang, tapi kamu juga harus punya tekad kuat buat nulis lagi, lebih kreatif and lebih produktif. Hayo, ah, nulis?!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/">Melek Dunia Penerbitan #5 : Mengenal Indie Publising</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/melek-dunia-penerbitan-5-mengenal-indie-publising/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4596</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lelah Mengingatkan solusinya? (Promosi Kebaikan)</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/lelah-mengingatkan-solusinya-promosi-kebaikan/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/lelah-mengingatkan-solusinya-promosi-kebaikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 03:42:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konsul Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4592</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamu “alaikum Wr.Wb. Kak, teman-teman banyak yang pergaulannya campur baur. Sudah saya ingatkan tapi tetap &#160;saja, hingga kadang jadi putus asa “promosi &#160;kebaikan” coz tidak ngefek. Gimana ya? (Fiesta, Timika). Wa&#8217;alaikumussalam Wr.Wb. &#160; Dik Fiesta yang baik, Subhanallah, Alhamdulillah dik Fiesta &#160;menjadi generasai Islam yang peduli terhadap kondisi umat dan tidak tinggal diam. Fenomena di &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/lelah-mengingatkan-solusinya-promosi-kebaikan/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Lelah Mengingatkan solusinya? (Promosi Kebaikan)</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/lelah-mengingatkan-solusinya-promosi-kebaikan/">Lelah Mengingatkan solusinya? (Promosi Kebaikan)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>Assalamu “alaikum Wr.Wb. Kak, teman-teman banyak yang pergaulannya campur baur. Sudah saya ingatkan tapi tetap </em>&nbsp;<em>saja, hingga kadang jadi putus asa “promosi </em>&nbsp;<em>kebaikan” coz tidak ngefek. Gimana ya? (Fiesta, Timika).</em></p>



<p>Wa&#8217;alaikumussalam Wr.Wb. &nbsp;</p>



<p>Dik Fiesta yang baik, <em>Subhanallah, Alhamdulillah</em> dik Fiesta &nbsp;menjadi generasai Islam yang peduli terhadap kondisi umat dan tidak tinggal diam. Fenomena di sekeliling kita memang sangat memprihatikan. Mengapa demikian?</p>



<p>karena mengajak kebaikan sungguh lebih sulit daripada mengajak pada kejelekan. Ketika saudara-saudara kita mendengar ada konser tanpa diperintahpun secara spontanitas merespon dan mereka rela pergi ke tempat yang jauh dan sudah mempersiapkan segalanya termasuk bekal dan harga tiket ratusan, bahkan jutaan rupiah jauh hari sebelumnya.</p>



<p>Sebaliknya ketika ada ajakan untuk suatu kebaikan begitu berat merespon. Hanya orang yang Allah SWT pahamkan dalam urusan agamalah yang mampu dengan mudah melakukan suatu kebaikan. “<em>Barangsiapa yang dikehendaki Allah SWT kebaikan pada dirinya, maka Allah SWT akan memahamkan dia dalam urusan agama</em> “ (HR. Bukhari dan Muslim). &nbsp;</p>



<p>Dik Fiesta yang baik, “Promosi kebaikan”, mengajak dan &nbsp;menunjukkan kebaikan pada saudara kita merupakan amal kebaikan yang bermanfaat ganda, yaitu bagi kita sendiri dan juga orang lain. Yang mengajak dapat pahala dan yang diajak pun dapat pahala kebaikan ketika dia melakukannya.</p>



<p>“<em>Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala mereka yang </em>&nbsp;<em>mengikutinya, tanpa mengurangi pahala yang </em>&nbsp;<em>melakukan, sedang barangsiapa yang mengajak e arah keburukan, maka ia memperoleh dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang yang melakukannya” (HR Muslim). &nbsp;</em></p>



<p><em>Dik Fiesta yang baik, “Promosi Kebaikan” memang tidak &nbsp;mudah. Akan ada tantangan, dan hambatan yang menghadang. Di balik tantangan, Allah SWT menyiapkan pahala yang juga luar biasa sebagai bonus dari Allah SWT bagi orang yang mau mengajak saudaranya menuju kebaikan. Siapa yang menanam, dia yang akan menuai. Barangsiapa yang menanam kebaikan, maka ia kelak akan memetik buah kebaikan tersebut.</em></p>



<p><em>&nbsp;Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kebaikan tersebut tidak berhenti dengan apa yang bisa dilakukan diri sendiri secara pribadi, tapi bagaimana kebaikan tersebut juga bisa menebar dan bisa dirasakan oleh orang lain. Ketika suatu kebaikan kita promosikan kepada orang lain, maka akan menuai banyak manfaat khususnya bagi diri kita sendiri dan umumnya bagi orang lain. &nbsp;</em></p>



<p><em>Dik Fiesta yang baik, Allah SWT –lah yang membuka hati &nbsp;tiap hamba-Nya. Kita manusia diserukan untuk “promosi kebaikan” mengajak saudara- saudara kita pada kebaikan, hasilnya Kita serahkan kepada Allah SWT semata.&nbsp;</em></p>



<p><em>Optimis dan teruslah mempromosikan kebaikan, mengajak berbuat ketaatan. “Segeralah dan berlomba-lombalah dalam kebaikan melakukan dakwah, karena kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tentram, sedangkan keburukan adalah sesuatu yang menggelisahkan hati dan menyesakkan dadamu “. (HR Ahmad dan Ad-Darimi).&nbsp; [] </em>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/lelah-mengingatkan-solusinya-promosi-kebaikan/">Lelah Mengingatkan solusinya? (Promosi Kebaikan)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/lelah-mengingatkan-solusinya-promosi-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4592</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Heka Episode 07 : Anak yang Retak</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2020 04:02:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4589</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belum pernah terjadi, Thebes didatangi oleh &#160;para Hekau sebanyak itu. Alis Bakhoum mengernyit saat menyaksikan apa yang &#160;ada di hadapannya. Dia dan rombongannya tiba juga di Thebes, ibukota negeri Mesir, tepat tiga hari sebelum Hari Raya Sed. Dia terpana dengan para Hekau yang berkeliaran di jalan-jalan. Ada yang membawa ular berbisa; ada yang mengalungkan daun &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Heka Episode 07 : Anak yang Retak</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/">Heka Episode 07 : Anak yang Retak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belum pernah terjadi, Thebes didatangi oleh &nbsp;para Hekau sebanyak itu. Alis Bakhoum mengernyit saat menyaksikan apa yang &nbsp;ada di hadapannya. Dia dan rombongannya tiba juga di Thebes, ibukota negeri Mesir, tepat tiga hari sebelum Hari Raya Sed. Dia terpana dengan para Hekau yang berkeliaran di jalan-jalan.</p>



<p>Ada yang membawa ular berbisa; ada yang mengalungkan daun telinga di lehernya; ada juga yang berkulit hitam legam tetapi bersarung sutra putih; Ada juga yang lehernya panjang dan kurus, tetapi leher ringkih itu digelantungi banyak sekali kalung manik-manik. Bermacam ragam penampilan para Hekau itu. Setiap Hekau yang melihat rombongan Bakhoum melintas, maka mereka akan berlutut dengan penuh pemujaan.</p>



<p>Mereka paham seberapa mulianya derajat Hekau yang ada di hadapan mereka, walaupun hampir semuanya belum pernah melihat Bakhoum sebelumnya. Entah bagaimana caranya, seorang Menkheperesseneb pasti akan langsung dikenali seorang Hekau, walau mereka belum pernah bertemu. Maka, pada hari itu, jalan-jalan di Thebes dipenuhi oleh para Hekau dari penjuru Mesir, dan di jalan-jalan yang dilintasi oleh rombongan Bakhoum, para ahli sihir itu berlutut di pinggirpinggir jalan.</p>



<p>Haman terheran saat memerhatikan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Sedari tadi tatapan matanya menyapu orang-orang yang sedang bersujud di tepian jalan itu. Sesekali dia melirik kepada Bakhoum yang tetap gagah dan menatap lurus ke depan, seolah orang-orang yang bersujud itu tak ada saja. Kenyataan ini lagi-lagi mendorong Haman untuk melemparkan pertanyaan yang sebenarnya masih banyak bersemayam di batinnya.</p>



<p>“Yang Mulia, ada beberapa hal yang &nbsp;hendak aku tanyakan.” Bakhoum hanya mengangguk sambil &nbsp;tetap menatap ke depan. “Jika Yang Mulia berkenan menceritakan, &nbsp;apakah alasan Yang Mulia pergi dari Thebes sepuluh tahun yang lalu?” Tentu saja Bakhoum tidak langsung menjawab. Dia tetap membatu dengan tatapan kosong ke depan.</p>



<p>Haman menjadi ragu, apakah tadi Bakhoum mendengar kata-katanya? Tetapi Haman tetap diam. Dia tidak mengulangi pertanyaannya. Jika dia mendapatkan jawaban, maka mujur baginya. Jika dia tidak mendapat jawaban apa-apa, tidak ada ruginya. Satu hal yang cukup sering disaksikan Haman adalah Bakhoum yang selalu diam, seolah membeku.</p>



<p>Kejadian itu berulang berkali-kali, hingga Haman menyadari bahwa sikap itu sudah menjadi bagian dari diri sang Menkheperesseneb. Banyak bergaul dengan setan tentunya akan mempengaruhi kondisi jiwa dan raga, itulan konsekuensi yang harus diterima seluruh Hekau. Perlahan kembali Bakhoum menoleh kepada Haman yang berkuda di sisinya. Dia selalu begitu ketika dia hendak bicara kepada Haman. “Aku dan Ramesses berbeda pendapat.”</p>



<p>&nbsp;“Maaf, Yang Mulia, berbeda pendapat?” Alis Haman mengernyit. Bakhoum mengangguk pelan. “Kami berbeda pendapat dan aku tidak bisa menerimanya.” “Kalau boleh tahu, berbeda pendapat tentang apa, Yang Mulia?” “Ramesses tidak mau mendengar katakataku tentang Asiyah.” Haman tertunduk sambil membelalak.</p>



<p>Dia tidak tahu sama sekali tentang apa alasan perginya Menkheperesseneb sepuluh tahun yang lalu. Bahkan semua orang pun tidak tahu, sebab tiba-tiba saja peristiwa itu terjadi dan alasannya hanya diketahui Ramesses. Dan sekarang, dia akan mendapatkan sebuah kehormatan besar untuk menjadi orang pertama, dari semua orang di Mesir, yang akan mengetahui alasan sebenarnya tentang menghilangnya Menkheperesseneb.</p>



<p>Bakhoum melanjutkan. “Berkali-kali sudah aku katakan padanya, Asiyah akan jadi bencana pada pemerintahan dan kekuasaannya. Tapi Ramesses tidak mau mendengar. Dia tergila-gila pada Asiyah, padahal putra Anubis berbisik bahwa Asiyah akan menyemaikan kekacauan.” “Dan ramalan itu benar-benar terjadi, Yang Mulia,” kata Haman sambil menerawang.</p>



<p>&nbsp;“Asiyahlah yang menemukan bayi itu di dalam sebuah peti di Sungai Nil, dan Asiyah pulalah yang membujuk Yang Mulia Fir&#8217;aun untuk memelihara bayi itu karena sudah sedemikian lama mereka tidak dikaruniai anak. Bayi itu pun tumbuh besar, dan sekarang dia datang hendak mengacaukan segalanya. Dialah Musa.”</p>



<p>“Sekarang aku yang diperintahkan untuk membereskan semua kekacauan ini?! Dari dulu Ramesses memang begitu, selalu aku yang tertimpa masalah karena dia.” Naik-turun pelan tubuh Bakhoum dibuaikan angin pagi. Punggung kuda yang kokoh menopangnya di atas pelana, jajaran orang-orang yang bersujud kepada Bakhoum masih sangat panjang. “Aku pun memberi peringatan kepada Ramesses tentang bayi itu,” kata Bakhoum.</p>



<p>&nbsp;“Tetapi, lagi-lagi, dia tidak mau mendengarnya. Dia seperti binatang ternak yang sedang dibawa ke tukang jagal, dan Asiyah yang menuntunnya kepada kematiannya. Lalu apa gunanya kehadiranku kalau kata-kataku tidak didengar?” Haman mengangguk pelan dan mengembuskan napas perlahan. Dia merasakan keprihatinan yang dalam. Orang-orang masih saja berjajar dalam sujud kepada Menkheperesseneb.</p>



<p>000</p>



<p>Istana Fir&#8217;aun di Thebes terangbenderang. Ratusan lilin dan obor mengusir kegelapan di sana dan menguarkan keagungan.&nbsp; Dinding-dindingnya yang kokoh dengan emas dan pualam menyempurnakan kemegahan&nbsp; seorang Fir&#8217;aun, Ramesses. Dia duduk di tas singgasananya yang mentereng di ruang &nbsp;singgasana luas.</p>



<p>&nbsp;Pada sisi kanan dan kiri singgasana itu ada budak-budak yang memegang kipas-kipas besar, mengembuskan hawa sejuk kepada Ramesses. Kipas-kipas itu bergagang panjang, terbuat dari bulu-bulu burung merak. Ramesses bertopang dagu pada lengan kursi singgasana. Memang benar bahwa dia bisa duduk dengan nyaman di sana, tetapi kenyamanan kursi singgasana itu tidak bisa menyamankan hatinya yang bergemuruh.</p>



<p>Seluruh bagian kursi singgasana itu terbuat dari emas. Besar dan megah, yang dipercantik dengan kristal-kristal dan batu berlian. Bungabunga yang indah menghias setiap sisinya, dan bunga-bunga itu diganti setiap hari oleh para&nbsp; pelayan istana.</p>



<p>&nbsp;Tetapi, sekali lagi, kemewahan itu tidak bisa menyelamatkannya dari segala kekhawatiran. Ramesses tetap bertopang dagu dalam diam. Matanya menatap kosong ke kejauhan, kepada sesuatu yang tidak kelihatan, masa depan.</p>



<p>Dia bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi setelah malam pertaruhannya dengan Musa? Dialah yang menantang Musa untuk beradu ilmu Heka, dan dia tidak bisa lari darinya. Dia mengetahui bahwa ibukotanya telah dipenuhi oleh para Hekau, tetapi tetap saja hatinya waswas. Sebuah kesadaran hinggap dalam hatinya bahwa Musa bukanlah orang sembarangan. Dalam diam itu pulalah Ramesses memperhitungkan berbagai kemungkinan.</p>



<p>Kalau ribuan penyihir yang dipanggilnya ke Thebes itu bisa mengalahkan Musa, berarti tak ada masalah. Ramesses tidak pernah peduli bagaimana caranya memenangkan sesuatu, apakah adil atau tidak adil, dia tidak pernah pertimbangkan hal itu. Yang penting dia menang. Yang jadi masalah adalah, bagaimana jadinya kalau ternyata dia kalah? Sudah pasti kemuliaannya akan hancur, dan kekalahan itu akan membuat semua orang melihat bahwa kekuatan dan kekuasaannya tak ada apa-apanya, sebab Musa seorang diri saja sanggup mengalahkannya.</p>



<p>Dan kenyataan bahwa dia akan kalah itulah yang membuatnya duduk dalam gundah di singgasananya yang mentereng. Tiba-tiba lamunan Ramesses terpecah karena seorang prajurit datang menghadap sambil bersujud kepadanya. “Yang Mulia, rombongan Haman telah datang, dan Menkheperesseneb ada bersamanya.” “Kalau begitu cepatlah bawa mereka menghadapku.”[]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/">Heka Episode 07 : Anak yang Retak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/heka-episode-07-anak-yang-retak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4589</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Rayah di tanah Suriah</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/rayah-di-tanah-suriah/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/rayah-di-tanah-suriah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2020 06:55:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4586</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langit masih memerah. Perang masih berdarah-darah. Berkecamuk meski matahari sudah di ufuk. Ledakan, &#160;jeritan, desingan, dan rentetan peluru masih membayang-bayang. Hari kian senja ketika sang surya berada di peraduannya. Dan langit timur sudah membiru hampir manghitam seluruhnya. &#160;“Allaahu Akbar..! Allaahu Akbar&#8230;!!”, pekik seruan itu masih menggantung di telingaku. Disamping suara bom yang menggelegar, menghantam, menghancurkan. &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/rayah-di-tanah-suriah/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Rayah di tanah Suriah</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/rayah-di-tanah-suriah/">Rayah di tanah Suriah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Langit masih memerah. Perang masih berdarah-darah. Berkecamuk meski matahari sudah di ufuk. Ledakan, &nbsp;jeritan, desingan, dan rentetan peluru masih membayang-bayang. Hari kian senja ketika sang surya berada di peraduannya.</p>



<p>Dan langit timur sudah membiru hampir manghitam seluruhnya. &nbsp;“Allaahu Akbar..! Allaahu Akbar&#8230;!!”, pekik seruan itu masih menggantung di telingaku. Disamping suara bom yang menggelegar, menghantam, menghancurkan. Meskipun begitu, aku masih berada di pos jagaku, di garda belakang. &nbsp;</p>



<p>“Tapi.., oh tidak.”, seorang teman yang berbicara dari jauh sana meninggalkan suara seperti kaset rusak, malang, lantas diiringi suara ledakan yang jelas kami dengarkan. &nbsp;Salim menggeleng. Melepas tombol handytalknya. Dia menelungkup-kan muka di tangan, menyedihkan. Kami menatap wajahnya, muram.</p>



<p>Ternyata posisi kami dalam kepungan. Di garda depan, satu regu mungkin sudah diledakan oleh para serdadu. &nbsp;“Tak ada pilihan&#8230;”, Salim mengadah, wajahnya dikeruhkan. “kita harus maju ke depan. Tak ada pilihan selain menyerang.”ia mengangkat senapan.</p>



<p>Lantas berpaling. “dan bukankah di sini,, kita mencari kesyahidan?” Bulu kuduku bergetar. Tapi, ia benar. Walaupun aku ragu ketika mendengar ledakan-ledakan menggelegar. Sniper Hatclif yang kupegang serasa ikut bergidik. Entah, apakah nanti ia diam saat membidik.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>&nbsp;“Jadi, kita keluar?”, tanyaku ragu. Semua terdiam. Salim mengangguk yakin mengiyakan. Sebagai pimpinan, dia memang penuh keberanian. “Tapi Salim, bukankah kita kita ditugaskan di bagian berta..,” “Diam!!”, bentaknya keras.</p>



<p>Dengan wajah menatap tajam. “Tidakkah cukup keadaan disana sebagai sirine untuk menyerang? Itu sama saja dalam perang!”. Matanya melotot, nafasnya ngos-ngosan, jarinya menunjukku tajam. “Kita harus tetap maju, dan terus bertahan.”,dia menjelaskan, lagi-lagi wajahnya muram. Kami mengambil langkah dalam ragu dan bimbang tak menentu. Meskipun kami dari garda belakang.</p>



<p>Para pengecut yang tak hafal Al-Qur&#8217;an. &nbsp;Aku menelan ludah. Yang benar saja, kami harus berhadapan langsung dengan mesin pembunuh milik bangsa babi dan kera. Tak ada pilihan lain, suasana sudah genting. Maka kami mempercepat langkah dengan setengah berlari. Belum jauh meninggalkan pos kami, aku mengadah, melihat langit yang benar-benar terparuh setengah, hitam dan merah. Kupicingkan mataku, aku seakan melihat sesuatu. Tidak, jangan lagi, itu si burung besi! &nbsp;&nbsp;“Salim, cepat lari!! Sebuah jet menuju kemari!!”, mereka sigap menanggapi.&nbsp;</p>



<p>Berlari. Mengambil langkah panjang dan cepat. &nbsp;Sayang, tak kuperkirakan ada pesawat yang lebih dekat. Roket diluncurkan. Mendesing menciptakan kengerian. Kami masih cepat dalam pelarian. Roket itu meledak di belakang. Bumm!!, bangunan di sampingku hancur berantakan. Bumm!!, bukan hanya satu, kaum terlaknat tak akan puas dengan itu. Bumm!!, kami berusaha menghindari bangunan rubuh dari kanan dan kiri. Bumm!! Sekarang dia meledak 5 meter di belakang kami. Masih bertahan. Entah, apa yang akan terjadi nanti. Terakhir..</p>



<p>Bumm!! 2 meter dari belakang. Aku dan Salim terjungkal ke depan. Kepalaku membentur palang,&nbsp; pelipis mengucurkan darah segar. Salim? Entah, aku tak tahu. Batang hidungnya tak terlihat olehku. Aku tengkurap terluka. Pelipis kembang kempis.senapan terlempar jauh tak bisa kuraih. Teman-temanku mungkin tewas sebagai syahid. Tapi , selain itu semua, &nbsp;aku malihat sebuah bendera. Lafadz suci &#8216;Laa ilaaha illallaah&#8217; berwarna putih terlukis disana. Dengan warna dasar hitam dan menandakan, itu rayah, panji Rasulullah saw.</p>



<p>Dia jatuh terhempas di tanah. Tanganku tak mampu menjangkaunya, apalagi menegakannya. Parahnya, mataku sayu, jantungku cepat memacu,darah masih mengucur deras dari pelipisku. Entah, apa yang akan menimpaku, apakah hidup, atau meninggal-kan hidup dan jasadku, Syahid.</p>



<p>&nbsp;***</p>



<p>“Allaahu Akbar..!!”, suara itu &nbsp;menggema. Merasuki telinga membuatku bangun tiba-tiba. Aku kalap seperti orang yang&nbsp; tenggelam saja. Lantas ku usap-usap muka dan mengucek mata. Kulihat sekitar, tubuhku terselimuti, dan kepalaku diperban melingkar. Apa? Dimana ini? Tenda? “Ahmad?”, seorang yang berseragam putih, dengan surban dan sabuk yang mengikat pedang. Dia? “Salim?”, aku bertanya, heran saja dengan apa yang dipakainya. Apalagi dengan pedang, tapi, mana senapan yang biasa ia pegang dan gunakan? “Tentu saja,”, dia menatap tak biasa, lantas menghampiriku yang bingung dan linglung. “hey, kau kenapa? Ah&#8230;, mungkin karena lukamu yang diperban. Apa itu terlalu erat, kawan?”, ia bergurau, tersenyum.</p>



<p>“Allaahu Akbar..!!!”, untuk kedua kali, pekik itu terdengar lagi. Seperti ribuan pasukan muslimin yang mengaum laksana singa-singa kelaparan. Gema menembus langityang menjulang. Salim menoleh ke tenda, memperhatikan hal yamg tak biasa.</p>



<p>&nbsp;“Sudahlah, jika kau benar-benar sehat, ayo, pasukan menunggumu.”, seraya menyerahkan seragamku dan bilah pedang untukku. Dia melangkah keluar. Selangkah sebelum itu, dia kembali menoleh kepadaku, tersenyum simpul sinis, “Dan aku tahu, ini yang selalu menjadi angan-anganmu. Ya, saat kita berada di barisan Khalid bin Walid melawan serdadu.” Aku terhenyak. Ditinggal peryataan Salim yang membuat mataku kian membelak. Khalid bin Walid? Tapi, dimana ini? Kapan ini terjadi? Ah, sudahlah, aku mesti mempersiapkan diri. Kupakai seragam putih itu rapi, dengan kepala yang tersemat topeng&nbsp; besi.</p>



<p>Bilah pedang pun menemaniku di pinggang kiri. Tersarung dan siap menebas lawan yang aku tak tahu, siapa yang kuhadapi kini. Dan setelah tirai tersingkap, diriku terkejut. Apa?! Padang pasir! Matahari kian menyengat, memancar dan melelehkan batuan arab. Tiupan angin berhembus hangat. Batuan dan cadas melepuh karena sinar surya yang ampuh. Aku melangkah seolah dalam keadaan sadar setangah. Benarkah? Tempat ini, berbukit-bukit, dengan lembah di belakang dan sungai di sebelah kanan.</p>



<p>Aku tak salah lagi, ini medan Yarmuk! “Allaahu Akbar..!”, pekik itu kembali terdengar, hatiku bergetar. Di belakang, aku bergabung sengan sebuah barisan. Seregu dengan Salim yang tersenyum di sampingku. Matanya nanar berkaca-kca melihat pemandangan itu. Khalid bin Walid berorasi di hadapan pasukan.</p>



<p>Mengangkat tinggitinggi pedang, menunggang kuda dan memegang tali kekang. Terkesima, aku masih tak percaya juga. Selain itu, bukan hanya para rijal disana, para muslimat pun ada. Ketika kutanya seorang di sampingku, “Mereka ditugaskan untuk melempar kayu dan batu”, jawabannya mengagetkanku, “untuk memukul para pasukan muslim yang mundur dari medan perang lantaran besarnya kekuatan musuh kita itu.” Sekali lagi, aku dibuat terkesima dengan ucapannya. Tak lama setelah itu, genderang perang ditabuh bergemuruh.</p>



<p>“Allaahu Akbar..!”, pekik Khalid selaku panglima pasukan. Aba- aba untuk maju dan menyerang. Serentak, pasukan menyerbu bagai air bah yang membandang. Pasukan Romawi bersenjata lengkap, penunggang kuda, bahkan berbaju besi semua menghantam pasukan ini.</p>



<p>Tentu saja, Heraklius tak tanggung-tanggug mengirim pasukannya. 240.000 pasukan dikirimkan dari negeri adidaya dari sana, Romawi. Aku mengenali ciri mereka berbaju dan berhelm besi yang menutupi hidung dan pipi, dengan celana seperti rok mini juga dari besi. Sedangkan kami, hanya terdiri dari 12.000 pasukan. Bayangkan. 1 banding 20 Dan tentu saja, senjata tak sepadan dengan lawannya. Ada 38 batalion dalam pasukan Islam. Beberapa termasuk veteran Badr, ksatria muslim, dan pasa sahabat nabi saw.</p>



<p>&nbsp;Aku pun tak mau ketinggalan. Pedang berdentingan, kapak beraduan, tameng memercikkan api menahan gempuran, panah menembus tubuh mematikan. Korban-korban berjatuhan. Angin gurun berhembus, meniup sakaratul maut. Aku tenteng pedang di kanan dan tameng di kiri. Mencoba menghadapi musuh seorang diri. Tapi, tatkala aku mengadah ke depan, aku terperangah. Seorang yang lincah. Menebas, memenggal, menangkis, menyerang. Cepat dan tanggap. Sigap dengan lawan. Dia menari bersama pedang.</p>



<p>Mengayun, banyak musuh yang dibuatnya terembab jatuh tewas tak &nbsp;terhitung. Belum saja yang lain menembus &nbsp;dinding tebal Romawi, dia sudah tiba di ujung lain seorang diri. Lantas kembali dan muncul di sisi lain, kembali dan muncul di sisi lain. &nbsp;Ganas seganas ayahnya saat memusuhi Nabinya, Muhammad. Abu Jahal nama ayahanda. Tapi tidak untuknya, dia berjihad membela agama Muhammad Al Mushthofa.</p>



<p>Ikrimah bin Abu Jahal namanya. Sungguh ketika melihat kepiawaiannya itu, aku terus ingin maju dan maju. Berdiri di garda depan bersama para sahabat yang dimuliakan. Kerena itu, pedang kuayunkan lebih tajam, tameng kuhadapkan. Walau memang, luka tak bisa dihindarkan. Tapi darah pejuang di jalan Allah, adalah tetes misk yang mengantarnya ke surga.</p>



<p>Syahdan, gelora takbir selalu dipekikkan. Membuat para kafir Romawi lari &nbsp;ketakutan. Pasukan Islam terus maju tak gentar. Bahkan, setengah pasukan Romawi jatuh ke jurang lembah. Lantaran terdesak hanya oleh 12.000 pasukan Islam. “Allaahu Akbar..!”, untuk kesekian kali, lafadz ini membumbung ke langit yang tinggi. Aku berada di pusat ketegangan. Tak ada waktu untuk diam. Semangat jihad semakin berkobaran.</p>



<p>Menyala di sela-sela bayangan ayunan pedang. Beberapa musuh, meski dengan keringat darah dan peluh, berhasil kutumbangkan. Itu belum seberapa dibanding dengan para veteran Badar maupun ksatria muslim yang mengaum bagai singa. Diantara mereka, para sahabat, yang mulia, aku memang bukan bandingannya. Aku tak ragu tentang perang ini. Benar-benar pertempuran Yarmuk yang menakjubkan. Lebih dari apa yang diceritakan. Menunjukan keberanian, kegagahan, kemuliaan pasukan Islam. Dimana jumlah bukan ukuan kemenangan, tapi niat yang menurunkan pertolongan Allah berupa kemenangan.</p>



<p>Perang ini adalah gerbang bagi futuhat Islam di Romawi dan Persia, kedua negara adidaya yang waktu akan membalik mereka, menjadi bagian dari Islam suatu saat nanti. Akan tetapi, tepat sebelum aku menyaksikan kemenangan dan auman takbir yang dipekikkan, sebuah anak panah bersarang di badan. Tepat di dada, menembus punggung di belakang. Entah dari mana. Panah itu membuatku jatuh tak berdaya. Mataku sayup memandang, tubuhku lemah lemas sekarang. Di luar, telinga masih sempat mendengar Salim yang berteriak kencang. “Ahmad.. !!”. Hey, apa yang kau lakukan, sama saja, hidup dan mati tak bisa kita tentukan. Percuma. Jika datang kematian, biarkan surga jadi ganjaran.</p>



<p>***</p>



<p>&nbsp;Aku terbaring terlentang. Luka di &nbsp;pelipis masih kembang kempis. Kucoba bangkit. Memegang dahi, pening sekali. Apa? Dimana ini? Ah.., ternyata tadi hanya mimpi. Bukan mimpi biasa (Q.S. Ali Imron : 154). Aku &nbsp;coba berdiri, walau masih sedikit lemah &nbsp;tubuh ini. Di luar, masih saja ter dengar teriakan mengerikan setelah ledakan. &nbsp;Aku melangkah di reruntuhan puing bangunan. Salim? Dimana ia? Entahlah, mungkin sudah mendahuluiku ke surga. Di puing-puing bangunan yang berserakan, aku masih dapat mengambil senapan.</p>



<p>Hatclif. Juga &#8216;sesuatu&#8217; yang jatuh lalu kuambil dan kulipat. Lalu ku masukan ke kantung jaketku. Lantas ku gantung sniper di punggung. Berjalan menuju gedung. “Hei Bashar Asad, kembalilah kepada Allah segera. Sebelum nereka menjadi tempat kembalimu yang menyiksa.”, bisikku lirih. Aku teguhkan langkah seperti Ikrimah meneguhkan janjinya. Aku tegaskan azam seperti Georgius yang mengikrarkan syahadatnya di tengah kecamuk perang. Aku berdzikir selalu seperti pekikan kalimat langit bagiku.</p>



<p>Aku pimpim tubuhku seperti Abu Ayyub Al-Anshari yang membawa dirimya terjun kedalam syahid ketika itu. Aku eratkan kepalan seerat ingatan Muhammad Al-Fatih tentang bisyarah Nabinya. Aku tiba di atap. Semilir angin menelisik membasuh hati. Aku tak ingin jadi pasukan terbelakang lagi. Di balik laras panjang, aku membidik seraya tidur terlentang. Kuarahkan pucuk senapan ke langit yang hitam menunggu sasaran.</p>



<p>Berharap seperti Sa&#8217;ad bin Waqqash yang tak pernah meleset setelah dido&#8217;akan Nabi Muhammad saw. Dan ketika benda berkelip itu datang, kutarik pelatuk, dan sebuah peluru meluncur dari magasinku. Dia memburu. Lalu.., Ka-Bomm.. pesawat itu meledak berkeping- keping. “Allahu akbar..”. Hatiku bergetar. Jiwaku terbakar. Dan Rayah akan segera berkibar&#8230;[]</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/rayah-di-tanah-suriah/">Rayah di tanah Suriah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/rayah-di-tanah-suriah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4586</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Klik Bait : Jebakan judul Berita Online !</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/klik-bait-jebakan-judul-berita-online/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/klik-bait-jebakan-judul-berita-online/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2020 16:07:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngoprek Dunia Maya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=4582</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semakin ramainya persaingan konten di ranah digital menjadikan beberapa pembuat konten mengambil jalan &#160;pintas demi meraup traffic dan page view dari situs yang mereka miliki. Salah satu upaya mereka adalah membuat artikel dengan judul yang bernuansa clickbait alias pancingan buat nge-klik. Pernah ngalamin? &#160; Apa Itu Click Bait The Oxford English Dictionary &#160;mendefinisikan clickbait sebagai &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/klik-bait-jebakan-judul-berita-online/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Klik Bait : Jebakan judul Berita Online !</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/klik-bait-jebakan-judul-berita-online/">Klik Bait : Jebakan judul Berita Online !</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Semakin ramainya persaingan konten di ranah digital menjadikan beberapa pembuat konten mengambil jalan &nbsp;pintas demi meraup traffic dan page view dari situs yang mereka miliki. Salah satu upaya mereka adalah membuat artikel dengan judul yang bernuansa <em>clickbait</em> alias pancingan buat nge-klik. Pernah ngalamin? &nbsp;</p>



<p><strong>Apa Itu Click Bait</strong></p>



<p><em>The Oxford English Dictionary</em> &nbsp;mendefinisikan clickbait sebagai &#8220;konten di internet (media online) yang bertujuan utama menarik perhatian dan mendorong pengunjung untuk mengklik sebuah link halaman situs tertentu&#8221;. Berikut ini contoh-contoh berita media online berupa clickbait:</p>



<ul><li><em>Ditetapkan Jadi Tersangka Pembangunan Stadion, YAS <strong>Berkomentar Begini</strong> (Tribun Jabar)</em></li><li><em>Jadi Tersangka Korupsi Stadion Gede Bage, <strong>Ini Komentar </strong>Sekretaris Dinas (Kompas)</em></li><li><em>Ridwan Kamil Copot <strong>Pejabat Ini</strong> karena Tersangkut Korupsi (Harian Aceh)</em></li><li><strong><em>Ini Setumpuk Izin</em></strong><em> yang Dilanggar PT Summarecon (Inilah Koran)</em></li><li><em>Dituding Buruk Layani Pasien BPJS, <strong>Ini Jawaban</strong> RS Imanuel Lampung (Kompas</em></li></ul>



<p><em>Isi berita dengan judul berupa clikbait umumnya berita yang tidak begitu penting, bahkan sudah basi, tidak aktual lagi, kurang menarik. Dengan cara dijadikan judul yang menjebak itulah isi berita terkesan menarik dan update! Sebenarnya clickbait bukan hal baru.</em></p>



<p><em>Click bait berasal dari media lama, bukan website, yaitu dari gaya penyiaran berita dan televisi yang disebut <strong>Tease</strong>.</em></p>



<p><em>Tease adalah ungkapan kalimat yang disampaikan presenter sebelum jeda iklan agar penonton/pendengar stay tune alias &#8220;tidak ke mana-mana&#8221;. Misalnya, &#8220;usai jeda iklan berikut ini, sejumlah informasi menarik lain akan hadir untuk Anda, jadi tetaplah bersama kami!&#8221;. <strong>Jangan Terjebak!</strong></em></p>



<p><strong><em>&nbsp;</em></strong><em>Berselancar di dunia maya, pastinya &nbsp;memakan waktu kita dan tentunya kuota. Pengennya, setiap waktu yang kita pakai untuk cari informasi online, sebanding dengan hasil yang didapat. Nggak buang waktu. Tapi gara-gara clickbait, banyak waktu kita tercuri. Apalagi kalo kitanya punya radar kepo yang sensitif. Alamat jadi bulan-bulanan judul clickbait.</em></p>



<p><em>Capek deh! Biar nggak jadi korban, sebaiknya kita tahu tahu beberapa hal terkait clickbait berikut: &nbsp;</em></p>



<ul><li><em>Judul heboh bin bombastis clickbait itu adalah &#8220;modus&#8221; media online untuk meningkatkan traffic atau pengunjung websitenya. Buat apa? Eits..bagi internet mareket traffic alias &nbsp;kunjungan ke web itu ladang emas. Jumlah kunjungan adalah sumber utama pendapatan (income). Kalo webnya kebanjiran traffic, berarti bakal banyak yang tertarik untuk pasang iklan di webnya. Itu berarti, kebanjiran order juga. Tajir bro!</em></li><li><em>Clickbait biasanya digunakan untuk berita yang tidak menarik, basi, bukan hal baru, dan isi beritanya &#8220;biasa-biasa saja&#8221;, bahkan tidak ada info baru dalam berita itu. Nggak penting isi beritanya, yang penting judulnya bikin pembaca kepo. Itu!</em></li><li><em>Clickbait merupakan polusi di internet khususnya media sosial. Nyampah banget di timeline kita. &nbsp;</em></li><li><em>Clickbait merusak masa depan jurnalistik karena menganiaya pembaca -manipulasi, bahkan &#8220;menipu&#8221;.</em></li><li><em>Jurnalistik yang baik menyampaikan informasi, bukan meminta (baca: mengemis) pembaca untuk mengklik link judul berita.</em></li><li><em>Clickbait menjadikan jurnalisme sebagai &#8220;tricking people into pushing buttons&#8221;.</em></li><li><em>Clickbait adalah persuasive headlines dan &#8220;judul iklan&#8221;. Setelah memahami clickbait yang merupakan praktik buruk jurnalistik tersebut, maka agar tidak berkembang, kita harus mengabaikannya. Jangan Klik Link Judul Berita yang Menjebak (Clickbait)!</em></li></ul>



<p><em>. Jadi, bijaklah dalam berselancar di sosial media. Jaga waktu hemat kuota. Jangan sampai waktu dan kuota habis karena kepancing clickbait. [@Hafidz341] &nbsp;</em></p>



<p><strong><em>Ciri-Ciri Clickbait</em></strong></p>



<p><em>Secara teknis, ada beberapa ciri yang bisa dikenali ketika judul tulisan Anda, atau media yang Anda baca, bisa jadi &nbsp;merupakan jebakan klik:</em></p>



<p><em>· Menggunakan judul &nbsp;mencengangkan/sensasional. Cara ini biasa ditempuh dengan memelintir judul sedemikian rupa semata-mata agar terkesan heboh, padahal kontennya biasa saja. &nbsp;</em></p>



<p><em>· Judul yang tidak sesuai isi (misleading).</em></p>



<p><em>&nbsp;·Ketika ada berita berjudul “Begini Cara Memuaskan Wanita” yang memanfaatkan dorongan orientasi seksual pembaca, meski isinya hanya membahas tas, bioskop, dan gadget. Kena deh! · Menggunakan kata-kata bombastis.</em></p>



<p><em>Penggunaan kata-kata atau frasa tertentu seperti &#8216;Wow!&#8217;, &#8216;Heboh!&#8217;, atau &#8216;Jangan Baca Ini!&#8217; termasuk kategori jebakan klik. Tidak jarang berita-berita “wow” tersebut sebenarnya berisi informasi yang biasa saja, tidak berdasar fakta, bahkan pandangan pribadi.</em></p>



<p><em>&nbsp;· Mengundang minat segmen pembaca tertentu. Pernah membaca judul-judul artikel dengan bubuhan tanda-tanda ini: (18+), (Khusus Dewasa), atau (Yang Merokok Jangan Baca!)? Pada kenyataannya, artikel-artikel publik semacam ini tidak bisa mengatur siapa yang membaca dan apa yang dibacanya.</em></p>



<p><em> · Judul dilebih-lebihkan. Cara ini termasuk yang paling sering digunakan; biasanya akrab dengan kata-kata seperti &#8216;tercantik&#8217;, &#8216;terkaya&#8217;, &#8216;paling&#8217;, semua kata superlatif. Di dalam isi artikelnya, “orang itu” tidak benar-benar paling cantik/kaya. </em> </p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a href="https://majalahdrise.my.id/cara-menenangkan-hati/">Cara Menenangkan Hati</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/plus-minus-generasi-milenial/">Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/tolakpemimpinkafir-dianggap-sara/">#TolakPemimpinKafir dianggap SARA?</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/pernikahan-dua-negara/">Pernikahan Dua Negara</a></li>
<li><a href="https://majalahdrise.my.id/menjadi-muslimah-negarawan/">Menjadi Muslimah Negarawan</a></li>
</ul><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/klik-bait-jebakan-judul-berita-online/">Klik Bait : Jebakan judul Berita Online !</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/klik-bait-jebakan-judul-berita-online/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4582</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
